Sebab Rating Selalu Berat di Angka 1 dan 5

Jadi begini, beberapa waktu lalu ada sahabat yang memprotes Fesbuk di depan saya (padahal tidak bakal ada efeknya), lantaran jejaring sosial yang disebut tidak memiliki fitur dislike. Pasalnya Fesbuk sudah menyediakan fitur untuk menyukai postingan yang dibikin penggunanya. Menurut yang bersangkutan, tentu untuk membenci juga mesti ada, atas nama simetri.

Oh tidak bisa. Memang ini perkara selera, tapi ini sudah mengganggu sekali dan uneg-unegnya perlu disemburkan ke khalayak ramai; saya benci fitur me-rating konten! Ini tahi-tahi web 2.0 yang perlu dimusnahkan. Kalau saya bisa men-dislike fitur men-dislike seperti itu, akan saya lakukan.๐Ÿ™‚

Dan fitur seperti ini memang ada di mana-mana, dan dapat diaplikasikan ke entri, komentar, atau keduanya. Kadang hanya rating bagus dan jelek, kadang pakai skala satu sampai lima. Seringkali hanya masturbasi developer web saja, sebab Anda hanya perlu berkeliaran di sekitar kawasan kumuh web 2.0 (e.g. komen Detik dan apapun yang berbau sepakbola) untuk menyadari bahwa fitur ini miskin mam’paat.

Gambar untuk mewakili seribu kata (hasil manipulasi):

Memang ini paling menyebalkan di sepakbola. Ya, betul, setelah agak separoh dasawarsa berkeliaran rutin di forum-forum sepakbola, lama-lama terbiasa juga. Tapi tetap membikin dongkol.

Oleh sebab itu, biarkan saja tak usah pakai dislike di Fesbuk! Tak usah ditambah-tambah fitur seperti ini. I rest my case.

20 thoughts on “Sebab Rating Selalu Berat di Angka 1 dan 5

  1. *lirik screenshot*

    oh the irony.๐Ÿ˜†

    btw, in a more serious note, kadang-kadang sistem rating itu bisa membantu, kok. kalau di Slashdot kan gak ada moderasi tuh, tapi diskusinya masih lancar karena sistem rating-nya terintegrasi dengan bagaimana sebuah thread ditampilkan. (informative/interesting/redundant/troll/etc…)

    tapi yaa perlu kedewasaan berkomentar juga sih. hal yang susah ditemukan di jaman Web 2.0 ini, apalagi di Goal, detik, atau Youtube.:mrgreen:

  2. @ yud1

    Slashdot itu situs bangkotan, demografinya juga lebih dewasa dan tertiblah dibandingkan dengan Goal, Detik, YouTube, dan sebangsanya. Jadi kayaknya memang bener itu sistem bisa efektif di sana.

    Ada juga web baru (sebut saja Bunga :P) yang mengintegrasi rating ke visibilitas komentar. Yang ada tetap opinionated lah.

    Tapi kita kayaknya sama-sama suka ke Goal.com, jadi sama-sama tahulah hancur leburnya.

  3. Tapi.. tapi..โ„ข, saya viewer biasa, nggak biasa komen panjang lebar, lebih suka jadi silent reader, tak punya kemampuan mengemukakan pendapat sebaik anggota DPR, pemalu, introvert, bahkan di depan layar monitor dan troll-troll di seberang benua sekalipun…

    Dan tombol itu, baik yang berbintang lima maupun yang berjempol ke atas (juga ke bawah kalau ada), toh bisa mewakili isi hati saya tanpa saya harus berkata-kata… Tombol itu tersedia, dan hanya perlu sedetik untuk memberi kontribusi positif pada dunia, jadi…

    *klik*

  4. Hmm, gimana ya? Saya bisa paham kenapa banyak orang pingin fitur dislike. Namanya iklim free speech, maunya pasti keberimbangan pendapat. Kalau boleh menyuarakan “like”, mesti ada “dislike”, etc.:-/

    Tapi saya sendiri kurang sreg pada fitur rating ybs. Alasannya sederhana: cenderung bikin preemptive bias. Belum baca argumen sudah disuguhi angka (-20) atau (+100), sedikit banyak pasti ada sugesti. Gak bagus buat kelancaran diskusi.๐Ÿ˜› apalagi kalau temanya sensitif

    BTW…

    kawasan kumuh web 2.0 (e.g. komen Detik dan apapun yang berbau sepakbola)

    Good goodness, very much THIS.๐Ÿ˜†

  5. Sesungguhnya aku tak paham apa itu maksud dari skrinsutnya ‘_’

    ini:

    Ini tahi-tahi web 2.0

    pisuhan apa ini?๐Ÿ˜†

    Sesuungguhnya aku ingin tahu bagaimana kalau model rating seperti di Politikana atau semacamnya juga. *duduk diam*

  6. @ sora9n

    Saya juga mengerti dengan alasan yang sama, dan keberatan dengan alasan yang lebih kurang sama.

    Dan! Itu menyemangati troll mobs.

    “Woooo ada suporter Arse-nal! AYO SEMUAA THUMB DOOOOWNNN”

    @ Annasophia

    Apa memang perlu seorang pemerhati bola buat memahaminya?

    pisuhan apa ini?

    Itu pisuhan?๐Ÿ˜•

  7. Ahoy kisanak!:mrgreen:

    Ya ya… sepaham.
    Kalo pro tapi sungkan/ogah/males komen, fitur like itu solusi praktis.
    Tapi kalo kontra, maka wajib untuk bersusah payah komentar negatif – otherwise buang muka saja.
    Silent approval is acceptable, silent disapproval isn’t.

  8. @ Fritzter

    Silent approval is acceptable, silent disapproval isnโ€™t.

    Menarik! Saya belajar sesuatu hari ini.

    @ Nenda Fadhilah

    Saya tidak pernah baca komentar di situ. Kalau tidak salah ada yang dikutip ke artikel utama? Atau itu koran lain?

  9. Coba ke stackoverflow.
    Tapi to be fair, di situ komentar atau answer dari pertanyaan jadi backbone situs stackoverflow.

    Intinya sharing expertise.

  10. @ dnial

    Kalau model seperti itu mestinya memang bisa berhasil. Sebab komentar ditulis untuk memenuhi kebutuhan yang logis dan matematis. Jadi sedikit banyak obyektif.

    @ Disc-Co

    Udah, sana apdet.๐Ÿ˜›

  11. Oleh sebab itu, biarkan saja tak usah pakai dislike di Fesbuk!

    Setuju sih, kawasan kumuh 2.0 itu memang ‘pasar rakyat’, kalopun ada 300 jempol turun di satu komen goaldotkom, tak tau kita itu dari siapa saja. Tapi kalo di jejaring sosial macam fesbuk itu kan ‘rumah pribadi’, yang datang teman2/ orang yang (mestinya) kita kenal. Kalo ada dislike dari temen pas lagi curhat menye2, kan bisa menyulut rasa gak dihargai itu. Bisa jadi masalah.๐Ÿ˜›

Comments are closed.