Plin Plan

Saya ini boleh dikatakan sedikit nihilis. Nilai-nilai itu buat saya hasil campur aduk sup peradaban, di mana semua orang adalah koki. Ini berlaku buat ide-ide atau karya-karya, termasuk di dalamnya seni, gagasan, karisma, dan banyak lagi. Saya tidak percaya meritokrasi; tidak ada itu yang namanya test of time. Itu ‘kan mitos saja. Saya percaya pada prinsip asosiasi-nya guru-guru besar empirisisme Inggris. Dunia pemasaran sudah lama membuktikan ini dengan memanfaatkan efek halo.

Manusia juga demikian. Apabila kita membayangkan suatu individu, maka pemikiran kita akan menggambarkan suatu citra; lalu semuanya bergulir dari situ. Hidup itu ‘kan intinya reputasi. Social climbing! Tak usah pura-puralah. Kita ingin semua orang tahu kalau kita tidak suka Jonas Brothers, melainkan musik-musik yang secara sosial lebih bonafit. Buku pun demikian β€” teman kita mesti tahu kalau kita baca Orwell, bukan Rowling! Supaya mereka mengerti; buku yang kita beli itu Herzog-nya Bellow loh, bukan Naruto seperti mereka ini, unwashed kitschmen! Memangnya apa lagi guna bagian “buku favorit” atau “musik favorit” di Facebook?πŸ™‚ Tidak lain dan tidak bukan, supaya kita bisa meneriaki teman SMA kita: you plebs can kiss my royal highbrow ass!

Nah, masalahnya citra ini biasanya ‘kan still image. Ini yang menyusahkan.

Bapak Albert Einstein ini bisa jadi lebih plin plan dari yang kita kira.

Mari kita ambil suatu contoh dulu. Bapak Albert Einstein itu boleh dikata orang yang paling diributkan tentang posisi religiusnya. Semua kubu ingin mengklaim Einstein sebagai milik mereka. Nama Einstein itu dipuja-puji di gereja, sinagoga, sampai rohis SMA. Tapi beliau itu sebenarnya kepercayaanya apa toh? Peliknya, ini pun tak terlalu jelas. Yang dilakukan biasanya lalu memeriksa tulisan-tulisan beliau. Surat-surat, buku-buku, semuanya diperiksa. Tapi masih ada yang bingung juga; kadang kelihatannya beliau ini memang pemeluk Yudaisme. Kadang ateis. Kadang deis. Perdebatan pun semakin panas β€” menurut para ateis, referensi “Tuhan” milik Pak Einstein itu cuma kiasan saja. Sebaliknya, menurut kubu yang lain, walau ambigu, sebetulnya Einstein itu betul-betul teman mereka kok!

Ah, peduli setanlah apa yang Einstein percayai. Yang menarik adalah kebanyakan tidak bisa mengambil kesimpulan alternatif bahwasanya Pak Einstein ini plin plan. Sebab citra itu statik. Susah melihat suatu individu sebagai variabel, lebih gampang sebagai konstanta saja. Jadi kasus perang kutipan seperti ini buat saya semacam wahyu juga; saya jadi menyadari adanya keterbatasan itu. Budi itu Sunni. Bejo gemar sepakbola. Bayu suka Takako Kitahara.

Internet lalu membuat perkara ini lebih ruwet. Ia tidak pernah lupa (ya, walau secara teknis tidak juga). Saya pakai internet sudah lima tahunan. Lalu baru-baru ini saya baca tulisan saya yang sudah lawas. Memalukan betul! Apa jadinya kalau ada yang membaca? Bencana itu namanya! Apalagi tidak perlu usang untuk jadi memalukan: tulisan saya tahun lalu pun bagi saya cukup bikin malu. Dan tentunya, audiens biasanya tak akan berbaik hati dengan berasumsi bahwa itu sudah obsolete. Sistem berpikir manusia sudah begitu dari sananya.

Padahal, saya memang plin plan. Seperti Einstein. Ah, tapi bisa jadi Einstein memang tidak plin plan. Mungkin Wittgenstein lebih tepat, sebab konon beliau orang yang plin plannya paling spektakuler. Tidak apa. Plin plan itu bisa jadi bagus, kata Bapak Richard Dawkins. Konsistensi itu setali tiga uang dengan infleksibilitas. Itu tempatnya pada arena kotor politik, bukan sains, kata beliau. Boleh jadi ada benarnya.

Hari ini saya membaca tulisan bodoh di internet. Tertanggal beberapa waktu lalu. Mari berbuat baik saja, dan berasumsi yang menulis sudah tidak berpikir sebodoh itu lagi.

p.s.
Ya, ya, ya, bodohnya itu hanya menurut kacamata saya saja.

27 thoughts on “Plin Plan

  1. Eh, di lemari saya buku Orwell berdampingan dgn manisnya dgn Bergdorf Blondes.
    Btw, kemaren gw foto depan patung kakek Einstein di Institut Sains atau apaa gt.

    Soal malu baca tulisan lama, well gw sih menganggapnya proses pembelajaran. People changes-lah. Tp anehnya gw g begitu geli baca tulisan lama, pdhl gw dulu suka geli kalo baca tulisan lama gw.

  2. Hah! Pas betul dengan apa yang saya pikirkan.πŸ˜€

    Saya ini boleh dikatakan sedikit nihilis. Nilai-nilai itu buat saya hasil campur aduk sup peradaban, di mana semua orang adalah koki.

    *membaca keterangan*

    Bukan sedikit kali. Emang udah nihilis.:mrgreen:

    Memangnya apa lagi guna bagian β€œbuku favorit” atau β€œmusik favorit” di Facebook?πŸ™‚ Tidak lain dan tidak bukan, supaya kita bisa meneriaki teman SMA kita: you plebs can kiss my royal highbrow ass!

    Kalo saya Soekarno atau Kim Jong Il, saya akan ban Facebook. Dekaden!πŸ˜€

    Internet lalu membuat perkara ini lebih ruwet. Ia tidak pernah lupa (ya, walau secara teknis tidak juga). Saya pakai internet sudah lima tahunan. Lalu baru-baru ini saya baca tulisan saya yang sudah lawas. Memalukan betul!

    Ini memang bikin masalah. Karena memang mau tidak mau posisi [juga pendekatan dan gaya bahasa] kita dalam sebuah diskusi seringkali ditentukan oleh mood. Misal, suatu kali saya membaca berita tentang bonus karyawan AIG. Dalam hati saya berteriak karena kesal: kapitalisme brengsek! Tapi ketika saya melihat negara sosialis yang protektif dan anakronis, saya malah bilang: geblek, keran investasi harus dibuka! Saya pun ingat Dawam Rahardjo dan banyak pemikir Muslim tahun 1990an. Kayaknya semuanya plin-plan; seolah-olah ingin bilang Islam itu kapitalis sekaligus sosialis. Dalam wacana politik pun orang sudah menciptakan istilah-istilah yang bikin orang bulak-balik-mondar-mandir: kiri, kiri-tengah, kanan, ekstrim kanan. Yah jelaslah orang gak statik. Saya bisa punya pandangan berbeda pada setiap isu; pastinya terkesan inkonsisten, dan akhirnya dituduh menerapkan standar ganda. Di sini saya liberal, di sana saya konservatif, di sini saya neo-lib, di sana neo-kon. Semua orang sepertinya melakukan ini; dalam bidang seni, misalnya, sekalipun saya menduga seni adalah kebudayaan dan persepsi keindahan itu socially-constructed dan kemudian genetically-inherited, tetap saja saya berpendapat musik klasik “lebih baik” dari musik dangdut; dan saya mau orang lain suka musik klasik; dan berharap negara mau mendukung musik semacam itu. Akhirnya memang tidak ada dasarnya juga. Saya pikir; well, I’m still part of the society I live in.πŸ˜•

    Apalagi soal agama dan Tuhan; saya dicerahkan Zizek. Kita tuh sebenarnya tidak menanggapi serius persoalan sekalipun kita mati-matian berdiskusi secara rasional untuk mengatakan Tuhan itu ada atau tidak ada. Karena memang Tuhan, ada atau tidak, bagaimanapun tidak tampak di mata, and life goes on! Akhirnya yang kita lihat yah itu; seorang ateis yang diam-dam berfikir: “Tuhan mungkin ada, bagaimana kalau Dia ada” dan seorang teis yang berfikit: “Tuhan mungkin tidak ada, tidak apalah berbuat dosa”. Kalo kata Nabi sih, sebagaimana diriwayatkan Abu Daud,”…manusia bisa jadi adalah seorang mukmin di pagi hari dan menjadi seorang kafir di sore hari.” Hehehe itu tanda-tanda kiamat sudah dekat, btw.

  3. plin-plan…

    …atau evolving?:mrgreen:

    btw, plin-plan itu kan terkait pendirian, bukan pencitraan (walaupun definisi soal ini debatable sih). lagipula itu namanya proses berpikir dan berkembang. secara realistis, semua manusia juga pasti punya perubahan pola pikir sepanjang hidupnya.

    hal ini inevitable, walaupun biasanya proses ini nggak bolak-balik, sih.

    ~kalau flip-flopping, bukannya itu baru namanya ‘plin-plan’?:mrgreen:

  4. @ almascatie

    Hehehe, betul, evolusi, tapi saya lebih suka pakai istilah “plin plan”. Lebih terkesan menertawakan diri sendiri.πŸ˜›

    @ Nenda Fadhilah

    Ah, tapi dulu ‘kan ente sudah bikin meme.

    Einstein is suck!β„’

    *dilempari kerikil*

    @ ahgentole

    Bukan sedikit kali. Emang udah nihilis.:mrgreen:

    Memang itu political correctness saja.πŸ˜›

    Kalo saya Soekarno atau Kim Jong Il, saya akan ban Facebook.

    Hahahaha. Kalau diban saya juga tak tega. Tapi ya itu, sindroma seperti di atas itu, tak tahan. Saya pun tak bisa cuci tangan.

    * * *

    Soal paragraf yang panjang itu, memang betul rasanya seperti itulah pemikiran yang sehat. Biasa saja itu, bukan hipokrit atau apa. Kecuali Anda mau jadi politikus β€” katanya konsistensi itu nomor satu. Salah juga jangan diakui. Saya pun demikian; baik dalam politik maupun seni. Membingungkan memang. Ujung-ujungnya ya kembali ke rule of thumb masing-masing bidang. Misalnya kalau politik, buat saya intinya ya jangan sampai orang lapar dan/atau ditindas tirani intelektual. Kalau seni, buat bahwa yang penting to each his/her own, seni itu experience, dan segala yang di luar itu, social climbing.πŸ˜€ Pokoknya mumetlah. Standar ganda mungkin, hipokrit mungkin, plin plan mungkin. Tapi bisa jadi cuma not commited.

    Soal Tuhan, bagi saya karena bagi beberapa individu, perdebatan Tuhan itu adalah semacam raison d’Γͺtre β€” makanya ngotot. Sama saja dengan elitis seni, atau penginjil Linux. Manusia kadang menjadikan suatu properti dari luar sebagai bagian identitas mereka. Buat saya ini masalah sebenarnya. Manusia itu bagusnya mesti golput; tidak terikat pada apapun.

    BTW, soal Tuhan saya dicerahkan Diderot: tidak penting itu.:mrgreen:

    @ yud1

    Memang. Coba baca respon saya ke Masbro Almascatie.πŸ˜›

    Cuma ya umpamanya saya menulis tulisan bodoh di jauh hari, lalu ada yang membaca. Seringkali yang membaca ini tidak memperhitungkan bahwa saya itu boleh jadi sudah “berevolusi”.

    Tak usah jauh-jauh. ‘Kan dulu saya sempat menulis interpretasi agama yang pariah dan tidak umum. Sekarang saya sudah tak terlalu percaya lagi, tapi kadang reply-reply baru muncul dan mengutuk. Ini ‘kan menyusahkan.

  5. Trus kenapa kalau plin-plan?

    Sayangnya nggak semua ngeliat dengan cara yang sama. Orang cenderung berharap setiap manusia itu predictable dan nggak berubah. Di dasar hati mereka, mereka ingin kepastian. Kalau aku ngomong A si Budi bakal bereaksi B, kalau C reaksinya D.

    People change… sometimes better, sometimes worse, sometimes just change…

    Manusia yang ingin mengerti dunia dengan otaknya yang kecil, dan mengubah dunia dengan tangan-tangannya yang pendek.

    *damn! jadi nihilis gini…*

  6. Tidak masalah kalo plin-plan, ged, yang penting sebisanya ada masterpiecenya..

    Einstein, misalnya, yang diingat adalah teori relativitasnya kan? Selebihnya soal Yudaisme, Kristen atau ateis itu tak lebih dari adu klaim orang lain untuk membesar-besarkan kaum sendiri saja. Karena E=MC2 itu maka orang2 memperebutkannya, tapi adikaryanya sendiri tak terpengaruh. CMIIW

    Kopral masterpiece-nya apa? Saat bergabung dengan Peleton 2007 kah? Lalu reply-reply kutukan baru di post tua, apakah evolusi kopral sekarang membuat kopral berada di sisi yang sama dengan mereka? Kalo tidak ya gak ngaruh kan? Einstein, atau mungkin pemikir2 besar lainnya, pasti ada saat dimana pikiran2 mereka juga “masih ngambang” atau “belum final”.

    Sebaliknya, menurut kubu yang lain, walau ambigu, sebetulnya Einstein itu betul-betul teman mereka kok!

    Ya..ya… walaupun plin-plan, sebetulnya Geddoe itu betul-betul teman kami kok!:mrgreen:

    BtW, apa orang yang baca Naruto minder dari orang yang baca Herzog?πŸ˜•

  7. yeah… sometimes pas gw browsing tulisan2 gw di berbagai forum, blog, etc ada yg bikin malu, ada jg yg bikin bangga… ya pokoknya grafiknya naik turun deh (meski gw ngarepin konsisten naik terus).

    tp tulisan2 kita di masa lalu.. bisa jadi bahan analisis yg mantap untuk mengenal strength-weakness kita sendiri… dan kadang2 kita bisa terkejut dan merasa bahwa selama ini diri kita tidaklah seperti yg kita kenal selama ini..

  8. @ jensen99

    Betul. Saya juga berpikir begitu. Citra itu datangnya dari “masterpiece” itu tadi memang. Tidak bisa menambah apa-apa lagi, nih, sepakat saya. Tapi bingung juga, saya kira-kira lebih dikenal sebagai orang yang bagaimana. Sewaktu ngapain? Semoga bukan yang memalukan yah.πŸ˜†

    BtW, apa orang yang baca Naruto minder dari orang yang baca Herzog?

    Wah, tak tahu saya.πŸ˜•

    @ godless

    Emang naik turun.:mrgreen: Tapi secara keseluruhan saya lebih puas dengan diri saya yang sekarang.

    Lucunya, kalau baca tulisan yang lama itu, kadang kaget; “lha, kita pernah menulis yang seperti ini, ya? Bagus/jelek banget!”πŸ˜€

  9. *baca soal Einstein*

    AFAIK, CMIIW, Einstein itu termasuk ilmuwan yang sulit dimengerti filsafatnya. “God or not” cuma salah satunya saja.πŸ˜•

    Beberapa orang — termasuk saya — menilai bahwa dia percaya realisme ilmiah. Tapi, konon, Einstein sendiri menolak kepercayaannya digolongkan seperti itu. ^^;

    [an elaborate link about that I only half understand]

    Walaupun memang filsafatnya berkembang. Dulunya dia positivis; kemudian jadi lebih idealis + ekstrapolatif IMHO. (o_0)”\

    Jiah, kalimat saya jadi bertaburan kata2 aneh. Kutukan filsafat, ini.😐 you can hardly tell an idea without sounding cocky at all…

    Tapi bingung juga, saya kira-kira lebih dikenal sebagai orang yang bagaimana. Sewaktu ngapain? Semoga bukan yang memalukan yah.πŸ˜†

    Watch. Your. Plurk.😎

    Ingatlah tentang plurk yang tak pernah lupa™. (u_u)

    *disambit*

  10. @ ahgentole

    Saya bisa punya pandangan berbeda pada setiap isu; pastinya terkesan inkonsisten, dan akhirnya dituduh menerapkan standar ganda. Di sini saya liberal, di sana saya konservatif, di sini saya neo-lib, di sana neo-kon.

    Apa!? Kok begitu? ANDA INKONSISTEN!!™πŸ˜ˆ

    Pokoknya™ Anda inkonsisten! Wuakaka… fallacy apa namanya ini™, Geddoe?πŸ˜€

     
    *menabur garam di luka yang hampir kering*

    *dilempar misil*

  11. baca judulnya..saya sempat kesindir..plin plan? karena saya jg ngerasa klo sya ini plin plan..angin-anginan..gampang berubah dan dipengaruhi.

    eh, itu..tulisan bodoh nya yang seperti apa? tulisan sendiri atau tulisan orang lain ?

  12. Hmmm,, Kalo dipikir pikir, emang banyak kok perubahan yang ada di Ma sekitar 1-2 tahun ini, karena banyak pengalaman dan pelajaran baru yang di dapet, kan namanya belajar. ^^

    Jadinya Ma inget terus kalo apa yang Ma tau/pikir/anggap hari ini belom tentu bakal Ma setujui besok, atau besoknya lagi, atau mungkin akhirnya balik lagi ke pikiran pertama itu.πŸ˜›

    dan Ma lumayan suka Ma yang kaya gitu,,πŸ˜€

  13. Kalo mau sedikit pakai pembenaran, sebenernya kita engga plin plan juga sih, tapi “berkembang”. Istilahnya apa sih itu.. tapi seiring waktu berjalan, perubahan kondisi dan segalanya, pemikiran kita juga ikut berubah.

    Dan saya juga jadi ingat tulisan-tulisan saya beberapa tahun lalu yang memang sangat memalukan kalau ada yang membacanya.. heheheπŸ˜€

Comments are closed.