Waduh

Pertama-tama, mari berbicara sains pop. Jadi begini, fungsi “rasa gelisah” dalam otak manusia itu konon tidak memiliki fokus. Dia ini semacam hantu yang berkeliaran di kepala, menunggu ada wacana tertentu yang bisa ia hinggapi. Itu sebabnya manusia itu sering tidak tenteram. Ada saja yang dipikirkan; kalau tidak ada uang, uanglah yang dipikirkan. Kalau uang sudah dapat, barangkali kesehatan. Kalaupun semuanya sudah aman, masih perlu memikirkan kematian. Jadi stres semacam ini wajar (saya pun punya banyak). Menyusahkan memang.

Saya punya kebiasaan. Setiap ada persoalan macam-macam yang menjadi pikiran, maka akan saya tuliskan. Lalu saya tuliskan pula pemecahan logisnya. Singkatnya, saya perlakukan seperti soal ujian. Lalu biasanya saya tuliskan pula poin-poinnya; apa-apa yang mesti saya lakukan untuk memecahkannya. Kemudia menjalani kehidupan seperti biasa. Ini juga proses katartik yang menurut saya ampuh. Ada pula keunggulan lainnya: ini jadi semacam kitab suci.🙂 Jadi kalau sewaktu-waktu saya ada sedikit rasa masygul dalam suatu perkara, tinggal membuka “kitab” ini, dan melihat apa yang saya tulis sebelumnya. Praktis.

Tapi ada satu kejelekannya: tulisannya betul-betul payah. Cakar ayam.

Sebetulnya tulisan saya tidak jelek. Apabila dibandingkan dengan kebanyakan rekan-rekan, rasanya malah cenderung sangat rapih. Hanya saja menulis yang seperti di atas, tidak boleh rapih-rapih. Soalnya risih juga kalau terbaca orang. Lebih baik dengan tulisan sejelek mungkin.🙂

Nah, barusan ini saya mencari sesuatu di dalamnya.

Dan susah dibaca.

Waduh. My sacred teachings! Lost forever!

11 thoughts on “Waduh

  1. Waduh. My sacred teachings! Lost forever!

    ..Dan pengikut geddoe pun bersimbah air mata demi mendengar tragedi ini!😯

    Btw, saya juga begitu, bedanya, krna excited ato buru2, saya sering singkat2 dengan menulis inisial atau huruf pertama nya saja, atau kebiasaan pake tanda panah untuk apapun (contoh :structuralist–> IO –> UN –> aid organ).
    Pas di tinggal dan mau dibaca ulang, malah ga bisa recall itu maksudnya apaan😕

  2. Iya waktu kuliah dulu saya menulis di buku. Jelek. Parah. Lebih parah dari cakar ayam. Chaotic. Kayak lalu lintas di Jakarta.😀 Dan akhirnya saya melakukan apa yang disarankan Nenda. Masih ada sampe sekarang. Masih bisa dibaca juga.

  3. Waduh. My sacred teachings! Lost forever!

    Dan ukiran sejarahpun hilang beberapa lembar, karena insiden ini.

    *geleng2 kepala*

    Saya paling jarang menulis, karena tulisan saya seperti cakar kuda (faktor lainnya: malas). Biasanya hanya mengetik, dan fotocopy catatan teman.

  4. Buku catatanku isinya 10 halaman rumus-rumus Pattern Recognition, dan berlembar2 catatan rumus transformasi Z. Saat dibaca, “WTF is this !?”

    Kalau buku nggak mau dibaca, disimpen yang baik. Di laci dikunci, kuncinya ditelen…😛

  5. Tulisan tangan saya konon (menurut teman2) termasuk yang paling susah dibaca sepanjang sejarah saya sekelas dengan mereka, tapi buat saya, itu kesalahan guru (& kurikulum?) kelas 1 SD saya yang mengajarkan “tulisan tegak bersambung” itu.😐

    Etapi saya sendiri masih mampu membacanya kok.:mrgreen:

    Tapi ada satu kejelekannya: tulisannya betul-betul payah. Cakar ayam.

    Sebetulnya tulisan saya tidak jelek. […]

    Ada skrinsyut, ged?😛

  6. tulisanku termasuk rapi dan bagus. Bukannya nyombong, tapi emang bener-bener bagus. jeleknya adalah, butuh waktu lama untuk menuliskannya😐

    tapi meskipun rapi dan bagus, tulisanku hampir nggak bisa dibaca karena selalu menuliskan dengan pensil yang kalo dibaca bikin sakit mata layaknya baca dari kertas lux di bawah lampu😐 <<< terstimoni temen waktu daku berbaik hati meminjamkan catatan kuliah.

Comments are closed.