Pinokio

Mari berprokrastinasi. Menulis yang panjang agar tugas pun terlupakan.🙂

Bolehkah manusia berdusta?

Ini pertanyaan yang intimidatif, kecuali bagi yang congkak. Hari Jumat kemarin, Bung Gun menyempatkan menulis tentang Yabu no Naka (藪の中 “Di Dalam Belukar“), sebuah cerita pendek klasik milik Ryuunosuke Akutagawa. Menurut interpretasi yang dituliskan oleh Bung Gun ini, tokoh-tokoh sentral yang ada pada akhirnya dihadapkan pada suatu pilihan; kejujuran atau kehormatan. Tidak jelas siapa yang berkata jujur dan siapa yang berdusta, namun tidak mungkin semuanya benar — di sini kebohongan dipakai demi menyelamatkan harga diri. Adapun sambutan-sambutan yang muncul kebanyakan tak bersimpati dengan kebijakan tersebut. Sebagian besar cenderung berpendapat bahwa berbohong adalah sesuatu yang tak terpuji dan tak terhormat.

Jadi, bolehkah manusia berdusta? Sampai di sini tentu saja belum menarik; nyaris semua aliran pemikiran memang tidak bersimpati pada kegiatan dusta-mendustai. Yang membuatnya sedikit sulit (dan menarik) adalah ketika pengecualian dari peraturan tersebut dipertanyakan. Apakah ada saat-saat di mana kita diperbolehkah secara moral untuk berbohong? Kalau ada, kapan?

Di sini, aliran-aliran pemikiran di atas banyak berselisih paham.

Apabila dilihat melalui sudut pandang religius, memang jadi lebih sederhana. Pada Perjanjian Lama, misalnya, perintah untuk tidak berbohong tertera dengan jelas pada Dekalogi — Sepuluh Perintah Allah. Tradisi Abrahamik tidak ambigu untuk yang ini: berbohong itu tidak diperbolehkan. Dalam sistem religi Timur pun demikian; menghindari kebohongan adalah salah satu dari panca sikkhapada yang terkenal itu. Tapi apabila diperhatikan lebih dekat lagi, ajaran-ajaran ini pun tidak menjelaskan tentang konsep “pengecualian” yang elusif tadi.

Meski demikian, sebenarnya kesalahan yang sering diperbuat adalah, contoh-contoh kebohongan yang dijadikan “obyek penelitian” seringkali tidak terlampau sukar. Terlalu naif dan hitam-putih. Tentu tak sulit menentukan apakah berbohong demi mencuri orang miskin itu moral atau imoral; tapi mari kita perhatikan contoh klasik seperti “menyembunyikan orang tak bersalah dari tentara Nazi”. Ini lebih abu-abu. Saya kurang familiar dengan apologetika Kekristenan, namun dalam agama Islam, Muhammad pernah dihadapkan ke dilema serupa, dan Beliau berhasil dengan cerdik menyembunyikan “calon korban” tanpa berbohong. Apakah kisah itu sahih atau tidak, entahlah; tapi menariknya, di sini anekdot tersebut sebenarnya tidak menjawab pertanyaanya: jadi sebenarnya kapan kita diperbolehkan berbohong? Filsuf Inggris Peter Geach dulu ngeles dengan mengklaim bahwa kasus-kasus pelik di atas hanya teori, dan Tuhan tidak akan membiarkannya benar-benar terjadi — tapi ini jelas absurd. Memang kita dapat memakai retorika lainnya dengan menganggap sistem dosa-amal yang ada pada agama sebagai semacam mekanisme zero-sum: berbohong di sini lebih baik. Ini memuaskan. Tapi ujung-ujungnya ini berbau Utilitarian, jadi ada baiknya kita amati pula pemikiran-pemikiran sekular yang ada.

Apabila diperhatikan, pemikiran-pemikiran yang berbasis logika sekular (di dalamnya termasuk juga apologetika agama) ternyata lebih memiliki keberanian untuk bermain-main dengan contoh-contoh yang ambigu. Oleh sebab itu, perkaranya lebih pelik. Mari mulai dari Kant, salah satu tokoh yang paling gigih mencari asas moralitas sekular. Kalau menurut Kant (yang Kristen, setidaknya di KTP), berbohong itu tak diperbolehkan dalam situasi dan kondisi apapun. Walau umpamanya ada seorang baik-baik yang bersembunyi di rumah Anda dan serdadu-serdadu Nazi (atau FPI) mulai berkumpul di depan pintu; tetap, bagi Kant, berbohong tidak diperbolehkan. Kalaupun dusta Anda bisa menyelamatkan satu juta jiwa, tetap tidak diperbolehkan. Ini berdasarkan atas apa yang disebut oleh Beliau categorical imperative (entah apa terjemahannya): kalau tidak bisa diaplikasikan secara universal, maka tidak bisa diaplikasikan secara khusus. Berbohong tidak mungkin diaplikasikan secara universal, maka tidak diperbolehkan untuk situasi apapun.

Sepengetahuan saya ide Kant sendiri bukannya tanpa kritik, sebab toh interpretasi atas “peraturan” atau imperatif yang kita lakukan sangat subyektif. Barangkali menyelamatkan pengungsi di rumah kita itu bukan “berbohong”, melainkan “berbohong demi menyelamatkan nyawa”. Apabila diinterpretasikan bahwa pilihan kedua adalah turunan dari yang pertama dan tetap melanggar ide Kant, maka otomatis pertanyaan yang muncul adalah; bagaimana kalau ada dua imperatif yang bertubrukan? Menyelamatkan nyawa mestinya ada pada jajaran yang setara dengan kejujuran sebagai imperatif, dan dalam kasus di atas sepertinya kita mesti memilih salah satu. Tentunya tidak mungkin bersembunyi di balik pembelaan a la Geach, sebab kalau demikian, semuanya percuma — Kant bisa langsung merujuk ke Sepuluh Perintah Allah.

Pada akhirnya, seperti yang mungkin telah diduga, kubu pertama yang mampu menjelaskan “pengecualian” dengan baik adalah ajaran yang konsekuensialis, Utilitarianisme. Manakah yang lebih baik, menahan diri dari mengucapkan dusta kecil, atau membiarkan seorang yang tak bersalah mati diberondong peluru? Sampai di sini Utilitarianisme ortodoks seperti diatas sepertinya mampu menghadirkan jawaban yang manusiawi dan tidak kaku. Tapi tentu ada lubangnya pula: umpamanya, sebagaimana contoh yang umum dikemukakan, ada massa rasis yang mengamuk dan membantai sebuah ghetto kulit hijau (hijau demi political correctness), gara-gara ada kriminal kulit hijau ganas yang belum tertangkap. Saya bisa menjebak seorang kulit hijau (yang tak bersalah) dan menyerahkannya ke massa yang mengamuk. Ini akan menyelesaikan masalah, dan kebohongan saya adalah sah; toh dengan satu korban saya menghindarkan genosida. Namun tentunya ada yang tidak beres di sini: Utilitarianisme ortodoks gagal menjawab pertanyaan itu.

Walau demikian, kaum Utilitarian memiliki solusi: saya belum memiliki keluhan untuk “Utilitarianisme-aturan”, versi kontemporer yang mengklaim bahwa mesti terdapat middleman berupa “aturan”. Versi ini cenderung ruwet namun masuk akal, di mana setiap kasus dianalisis dengan mengamati prinsip-prinsip yang berlaku di dalamnya, secara umum. Singkat kata, menurut paham ini, berbohong diperbolehkan asal tidak melanggar asas-asas lain yang dianggap lebih penting (nyawa, keadilan, privasi, dst.). Utilitarianisme-aturan adalah perang asas, bukan case study.

Paham pragmatis lain, Kontrak Sosial-nya Thomas Hobbes, juga memiliki pembelaan serupa dengan Utilitarianisme kontemporer. Karena menurut paham Hobbesian moralitas adalah semacam moderasi antara bertindak demi kebaikan sendiri dan kebaikan publik, maka orientasinya juga cenderung ke faktor benefit ketimbang prinsip-prinsip. Manusia tidak mungkin mengadakan kontrak bahwa “kita akan berbohong”, sebab larangan atas berbohong tidak akan menguntungkan komunitas maupun individu (lihat prisoner’s dilemma). Namun, menurut Hobbes, parameter terbesar dari kontrak sosial adalah nyawa, sehingga kebohongan pun dapat ditoleransi apabila nyawa yang jadi taruhan.

Tapi sebentar, bagaimana dengan “kehormatan”? Urgensi dari menyelamatkan “kehormatan” itu sebesar apa? Boleh jadi ini luput dari pemikiran filsafat Barat, sebab didasarkan dari budaya Timur — di mana para samurai rela menebus malu dengan nyawa. Jangan-jangan terdapat perbedaan prioritas di sini. Lalu sebenarnya tindakan pada pelakon di cerita tersebut moral atau tidak? Mungkin jawabannya ada di paham-paham yang lain? Kok jadi semakin membingungkan?

Ah, hidup memang susah dan menyusahkan. Mari kita seruput kopi panas dulu. Santai saja.

22 thoughts on “Pinokio

  1. Kematian Begawan Drona (Durna; Dorna) adalah salah satu contoh klasik “kebohongan”.

    Dorna yang saat itu menjadi Senapati Agung Kurawa hampir meluluhlantakkan pasukan Pandawa dengan ajian saktinya. Kresna menyuruh Bima membunuh seekor gajah yang bernama Aswatama, nama yang serupa dengan nama putra Dorna. Setelah itu prajurit Pandawa langsung meneriakkan “Aswatama mati! Aswatama mati!”

    Mendengar itu tentu Dorna langsung kalap dan kehilangan konsentrasinya, ajian saktinya urung dikeluarkan. Bertanya ia pada Nakula, Sadewa, bahkan Arjuna. Namun jawaban yang keluar tetap sama: “Aswatama mati.”

    Prabu Yudistira terkenal karena selalu berkata jujur dan tak pernah berbohong. Maka Dorna bertanya padanya. Dengan lirih Yudistira berkata, “Ya, Aswatama mati…” sehingga langsung membuat Dorna serta-merta kehilangan semangat hidupnya. ucapan lanjutan Yudistira “…yang gajah itu” tidak sempat terdengar karena begitu pelan. Dorna yang kehilangan semangat hidup tersebut langsung ditebas lehernya oleh Drestajumena tanpa ada perlawanan.

    Roda kereta perang Yudistira yang selalu melayang pun jatuh menyentuh tanah. Kelima Pandawa menyesalkan tindakan itu, namun Kresna menenangkan mereka bahwa Dorna adalah manusia yang bijak serta banyak jasanya, tetapi tak lepas dari kesalahan yang telah diperbuatnya sehingga “dihukum” dengan kejadian tadi.

    Hahahaa..

    Bagaimana pendapat sinuwun?

  2. akhir alurnya sama, “mengapa bertanya?” Semua ini akhirnya sia – sia belaka. “sia – sia belaka!”. Berbohong ato tidak sama saja!membunuh atau dibunuh sama saja! cuman lakon yang harus dimainkan….. ghuu, hu hu… sedih!

  3. @ Ken Arok

    Itu serupa dengan anekdot Muhammad di atas; yaitu “mengakali” dan mencari celah supaya dapat “berbohong”. Berbohong itu tujuannya supaya lawan bicara mendapat informasi yang (menurut kita, setidaknya) salah. Ada cara lain selain berbohong, yaitu berupaya agar lawan salah mengerti. Ini yang dilakukan Krisna.

    Jadi Krisna tidak berdusta. Kasus itu tidak menjawab pertanyaan “apa boleh berdusta, dan kalau boleh, kapan?”, karena bukan contoh kebohongan.🙂

    * * *

    Dan kalau memakai pemahaman semacam Utilitarian, justru masih lebih baik (walau belum tentu baik) kalau Krisna berbohong — sebab dengan trik di atas ia menyebabkan penderitaan pada seekor gajah.:mrgreen:

  4. wah, saya kemaren2 baru belajar ethics begini nih..baca postingan geddoe jadi bermanfaat banget!
    Btw, AFAIK, di islam sendiri, untuk menentukan apakah satu tindakan ethical atau tidak, seseorang haruslah melihat 4 kriteria..
    motives, means, rules (ini saya lupa2 inget), and consequence.
    suatu perbuatan akan dikatakan benar jika sudah memenuhi dan tidak melanggar 4 kriteria tersebut.
    kalo kasusnya berbohong untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang dikejar pembunuh,
    kalo saya menempatkan posisi saya dengan melihat 4 kriteria tersebut, saya mungkin akan berbohong,
    karena niat saya adalah baik, menghindari adanya pertumpahan darah, karena perbuatan membunuh sendiri adalah dosa dan tidak diperbolehkan kecuali dengan adanya hak dan hukum syariah yang jelas.
    dilihat dari segi konsekuensi nya sendiri juga bohong kecil demi menyelamatkan nyawa seseorang (buat saya) lebih menjadi pilihan.
    sementara untuk rules dan means, berbohong memang tidak boleh, tapi membiarkan orang baik dan tak bersalah dari kawanan pembunuh bukankah lebih buruk?kita tahu apa yang akan terjadi pada si org tersebut (akan dibunuh), rasanya (buat saya)kalau kita tidak berbohong demi menyelamatkan nyawa dia, sama saja kita ikut berpatisipasi dalam kegiatan membunuh itu.
    Eh tapi ini sih menurut saya saja, cmiiw.😛
    *pulang untuk nyari bahan2 kuliah ttg ini*

  5. *menyesap kopi panas*

    masalah mempertahankan kehormatan kayanya lebih populer di masa lalu deh. di masa sekarang kayanya orang lebih suka bohong asal selamat kalo urusannya menyangkut hidup-mati.
    IMHO orang2, apalagi orang2 jaman sekarang, lebih mikir “yg penting hidup dulu”, jadi mau metode bohong ato kehilangan kehormatan sekalipun ga masalah. bahkan strategi terakhir dan paling terkenal dari 36 Strategi-nya China klasik adalah kabur untuk bertempur kembali di lain waktu:mrgreen:

    just my Rp 2,- btw😉

  6. Dan kalau memakai pemahaman semacam Utilitarian, justru masih lebih baik (walau belum tentu baik) kalau Krisna berbohong — sebab dengan trik di atas ia menyebabkan penderitaan pada seekor gajah.

    Nah ini juga yang selalu saya sindir dalam kisah kematian Dorna, nggak ber-perikehewanan sekali. Tentu saja di luar versi yang menyebutkan gajah tersebut adalah gajah pihak Kurawa.:mrgreen:

    Ahsudahlah™…

    Politik praktis membuat kepala saya pening akhir-akhir ini. Ya karena kasus semacam itulah, banyak bertebaran.

    *lagi istirahat menulis*

  7. grrr kukira bakal ada sambungannya ama cerita pinokio…. ya ini nih contohnya judul yang berbohong😛

    cuma kepikiran.. kalau yang disinggung adalah soal berbohong untuk menyelamatkan orang yang dikejer tentara NAZI… bukankah sebetulnya ada pilihan ketiga selain berbohong atau tidak….

    kan bisa aja kalau itu tentra tentra nazi bertanya kita menolak untuk menjawab….. kita tidak berbohong kan?… walaupun resikonya ya sudah pasti dan jelas (kepala kita yang bakal dibolongin😛 ) …….

    yang ingin saya garis bawahi, kita jangan terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa kita hanya punya 2 pilihan, berbohong atau tidak… sebenarnya kalau dicermati bisa jadi akan ada banyak peluang pilihan lain selalin sekedar berbohong atau tidak😀 hehehe

  8. Wahaha… menarik sekali ini…
    ¬ Andaikan-misalkan-umpama, kita memiliki rahasia-rahasia (taruhlah rahasia perusahaan) yang penting dan mesti dijaga. Untuk mencegah orang lain bisa mengakses rahasia tersebut, kebohongan, sepertinya–tidak bisa tidak–adalah satu-satunya cara untuk melindungi rahasia kita tetap terlindungi. Di situ, saya pikir kebohongan adalah satu-satunya cara alami yang bisa kita gunakan untuk melindungi apapun (dalam kasus lain, melindungi nyawa seseorang seperti ilustrasi white-lie Nabi yang ente sebut). Ente setuju nggak Gedd? Jika tidak, kira-kira adakah cara “alami” lain yang bisa kita tempuh untuk menghadapi situasi seperti di atas? Dan kalau bisa, rahasia kita aman, dan kita tidak perlu melakukan kebohongan? Mustahil? Jika mustahil, apakah dengan begitu kita selamanya akan berasumsi, bahwa–seperti kata seorang wartawan–“Hidup memang begitu, kadang harus memilih yang terbaik di antara yang terburuk”?
    ¬ Gedd, “boleh” dan “benar” itu beda ‘kan?🙂 Kalau demikian, bagaimana kalau kita mengamini Grotius yang menawarkan diferensiasi, bahwa ada yang namanya “penipuan yang tidak dibenarkan” yang kita sebut kebohongan, dan ada “penipuan yang dibenarkan” yang biasa dinamai falsiloquium. Omong soal boleh atau tidak, berbagai norma banyak berbicara; ti-dak. Tapi tindakan yang diwanti-wanti untuk tidak dilakukan itu, bisa di”benar”kan dalam situasi temporal tertentu, agree?🙂
    ¬ Dan terakhir, pendirian ente soal ini apa, bro? (kali aja bisa saya jadikan preseden)😆

  9. Jadi Krisna tidak berdusta. Kasus itu tidak menjawab pertanyaan “apa boleh berdusta, dan kalau boleh, kapan?”, karena bukan contoh kebohongan.🙂

    .
    Hei, Nazi and Dorna case are a freakin war! All fair in war and love!
    .
    Nggak bohong nyawa melayang. Bohong, nyawa juga bisa melayang.
    .

    kalau tidak bisa diaplikasikan secara universal, maka tidak bisa diaplikasikan secara khusus. Berbohong tidak mungkin diaplikasikan secara universal, maka tidak diperbolehkan untuk situasi apapun.

    .
    Kant harus dijebloskan ke dalam perang dimana dia harus mengalami berbohong, mislead, information distortion, dll. Ada situasi ekstrem dimana berbohong itu adalah opsi terbaik, ketakutan apakah itu dosa, apakah itu etis hanya membuat kita lumpuh dalam beraksi.
    .
    Di sisi lain, jika Kant yang memerintah mungkin nggak bakal ada perang.😛

  10. @ grace

    Nah, itu menarik, tapi ujung-ujungnya berupa pemikiran sekular juga. Jadi sebenarnya tak mesti religius. Tapi lucunya di sini teori tersebut mencampurkan deontologi dan konsekuensialisme.😛 Memuaskan juga, itu.

    @ Arm

    Bukankah 36 Strategem itu sendiri dari zaman dahulu?

    @ Disc-Co

    Anon?

    @ ahgentole

    Berbau Utilitarian itu.

    @ Ken Arok

    Moral of the Story: Jangan memberi nama anak dengan nama gajah.

    BTW, “istirahat” melulu?

    @ mardun

    Ya itu ‘kan tergolong “tidak berbohong”. Intinya tentu “hanya dengan berbohong nyawa pengungsi tersebut dapat diselamatkan”.

    @ impromtu

    ”Hidup memang begitu, kadang harus memilih yang terbaik di antara yang terburuk”

    Sepertinya intinya memang begitu. Tidak bisa terus berharap semuanya sempurna; kadang untuk melakukan yang benar, cara “busuk” juga bisa ditempuh.

    Gedd, “boleh” dan “benar” itu beda ‘kan?

    Mestinya berbeda.

    Kalau demikian, bagaimana kalau kita mengamini Grotius yang menawarkan diferensiasi, bahwa ada yang namanya “penipuan yang tidak dibenarkan” yang kita sebut kebohongan, dan ada “penipuan yang dibenarkan” yang biasa dinamai falsiloquium

    Saya sepakat dengan itu, tapi kriteria yang dipakai untuk membenarkannya itu apa? Kalau dengan mengukur konsekuensinya, itu apa bukan sama saja dengan Utilitarianisme?

    @ dnial

    Hehehe, kok begitu? Apa dia politikus yang baik?🙂

  11. eh ged, ralat..pas saya baca2 ulang lagi, ternyata bagian ‘rules’ itu seharusnya lebih tepatnya adalah ‘Highest good or ultimate end of human conduct’, nah kalo di islam sendiri ultimate end nya adalah God, or attain God’s love (berbeda dgn utilitarian dimana ultimate end nya adalah happiness).
    Kalo menurut sepengetahuan saya, faktor inilah yang membuat teori ethics islam berbeda dengan yang sekuler..
    Tapi mgkin konsep ini reflected nya di mengikuti rules islam juga sih..
    *mikir lagi*

  12. salam kenal pak Geddoe🙂

    sebagai seorang nihilis sih saya cuma bisa bilang: bohong itu tidak baik dan tidak jahat…

    bohong bisa berguna dan bisa berbahaya… namun sebaiknya bohong lebih ditekankan sisi berbahayanya, agar hidup ini lebih indah.. supaya kita lebih tertarik dalam mengeksplorasi kebenaran (alias fakta)🙂

    http://godlessindonesian.wordpress.com/

  13. Saya sepakat dengan itu, tapi kriteria yang dipakai untuk membenarkannya itu apa? Kalau dengan mengukur konsekuensinya, itu apa bukan sama saja dengan Utilitarianisme?

    justru permasalahan dan gesekan justru munculnya kan dari hal ini. Selama tidak ada kriteria yang bisa disepakati oleh subjek, objek, maupun observernya…. berarti bohong belum bisa dikatan dibenarkan dong😀

  14. Bukankah 36 Strategem itu sendiri dari zaman dahulu?

    iya🙂
    maksud saya, lebih ke orang jepun sekarang yg lebih mementingkan hidup ketimbang “kehormatan” segala macem. sepertinya sih gara2 trauma kalah perang pas diperintah oleh rezim militeris
    btw, referensi saya cuma anime2 jaman sekarang aja, jangan terlalu dianggep serius🙂
    *sori telat ngerespon🙂 *

  15. @Abu Geddoe ……..

    “Sama saja” dalam konteks apa dulu?

    seperti yang sdr. bilang kebenaran bisa disuarakan oleh mulut anjing sekalipun”

    …saya sebenarnya tertarik dengan mengapa anda menuliskan cerita diatas… apa sih yang sebenarnya bergejolak pada pemikiran anda?

    ketika Darwin mengemukakan teorinya tentang evolusi, akan ada revolusi pemikiran dan pemahaman baru dan yang sangat besar tentang filsafat itu sendiri.

    revolusi pemikiran seharusnya dipahami bagi mereka yang memahami keidentikan manusia dan kera, bertulang belakang, berhidung yang sama (2 lubang), dan beralat kelamin yang mirip pula…

    ini mungkin yang akan menjadi “root” pemikirannya. Jika evolusi Darwin dinyatakan kebenarannya, maka logika berfikirnya menjadi: terjadi evolusi juga dari nilai yang dikandung oleh masyarakat.

    “jangan mengingini barang kepunyaan orang lain” mungkin itulah nilai yang pertama kali ditanamkan oleh manusia ketika mereka masih belum malu ketika bertelanjang ria.

    nilai – nilai itu berkembang dan semakin banyak, dan timbulah agama – agama. Nilai tentang bohong dan tidak telah hidup sebelum agama – agama itu datang..

    Manusia menciptakan Tuhannya setelah mereka menyadari sesuatu pastilah ada penciptanya…

    Bohong atau tidak bohong, adalah nilai yang diciptakan oleh komunitas manusia, dan sekarang yang saudara abu ingin sampaikan adalah “exception” pengecualian tentang kebohongan. Nilai – nilai ini yang menjadi dasar terbentuknya suatu produk hukum. Jika bohong dengan “exception” dibenarkan dan diamini oleh banyak masyarakat; nilai inilah yang akan dibuat dasar membuat aturan – aturan lainnya dibawahnya. JIka dari atas sudah salah trus gmana yang dibawahnya? pemikiran ini akan berkembang pula menjadi.. membunuh dengan exception diperbolehkan… menjatuhkan bom atom (membunuh ribuan orang yang tidak bersalah)untuk menghentikan perang dunia II juga akan dibenarkan… ?

    … nah kalau begitu b’gmana Bung ABu?

  16. Oh, ya tentang Kresna… Stelah Pandawa memenangkan perang akibat dukungan kresna. Kurawa tahu akan hal ini. akibatnya seluruh rakyat & keluarga kresna dibunuh habis.. (keliahatannya masih menyisakan 1 orang anak). Nah kalu sudah begitu Masihkah pandawa/kresna berbahagia? Semua ahkirnya kesia – siaan belaka…

Comments are closed.