Bahasa Menunjukkan Bangsa(t)

Entri singkat saja.

Ini cuma hasil pemikiran saya sendiri tentang seni-seni berdiskusi (saya tak mau menyebut “beretorika” sebab konotasinya tak secerah dulu). Dan ini juga sebenarnya sepele, dan malah lebih bersifat presentatif. Perkara “pakaian“. Jadi begini, kadang saya merasa tak nyaman dengan pilihan kosa kata yang dipergunakan dalam melontarkan argumen.

Umpamanya saya disuruh untuk menilai suatu film. Berangkat dari situ, bukankah “jelek” itu sebenarnya ekuivalen dengan “tak sesuai dengan selera saya”? “Tak jelas” itu “saya kesulitan mengikuti alurnya”? Rasa-rasanya tiap kata-kata yang bernada “obyektif” dalam argumen-argumen bisa dicarikan versi lebih rendah hatinya. Dan yang semacam itu sepertinya lebih nyaman didengar.

Bah! Wahai orang dungu, peduli setan, buat apa pula kau mengatur-atur kalau substansinya toh sama? Secara implisit, pernyataan-pernyataan semacam itu ‘kan memang dinyatakan sebagai opini saja, tak sama dengan sabda nabi. Apa pula gunanya?

Gunanya ya tetap ada juga, yaitu supaya lawan bicara tak terpancing menggunakan emosi dan perasaan dalam menanggapinya. Ia lebih menjamin kelangsungan dialog yang sehat. Nah kalau Anda yang “kena”, biasanya jadi terasa: bahwa bahasa menunjukkan bangsat! Saya pernah terperanjat dibuat oleh respon seorang kawan yang rasanya terlalu pongah dan berlebihan; tak proporsional. Mungkin saya pernah juga bertingkah seperti itu, ada baiknya saya perbaiki dari diri sendiri dululah.

Cuma jeleknya, dengan menjadi “beradab” seperti itu, argumentasi pun jadi berkurang “keperkasaannya”. Apalagi buat tukang kritik seni, yang memang dapat duit menjadi kuli sumpah: saban hari dapat sesuap nasi dari mencari-cari keburukan seniman. Tak seru jadinya. Kata-kata macam “sampah” lebih enak dipakai kalau dalam diskusi hendak jadi “pemenang”; sila tanya bajindal-bajindal macam Bapak Harold Bloom. Ahli biologi Bapak Richard Dawkins dulu pernah bilang kalau dia terheran-heran melihat riviu-riviu rumah makan di surat kabar yang menggunakan kata-kata seperti “tak bisa dimakan” dan “lebih menjijikkan dari makan cacing”. Ya ujung-ujungnya itu tergantung niat juga; kalau ingin menang ya lebih baik gunakan teknik yang lebih intimidatif (e.g. appeal to ridicule). Tapi rasanya kalau semua orang lebih melunak dan jujur dalam berpendapat, lebih enaklah.

Sayang baru sekarang terpikir. Kalau tiga bulan lalu, bisa jadi resolusi tahun baru.

p.s. Ini terinspirasi dari dialog dunia nyata, tak ada hubungannya dengan huru-hara yang ‘itu’.

22 thoughts on “Bahasa Menunjukkan Bangsa(t)

  1. Namanya juga silat lidah; kadang ofensif, kadang defensif. Kadang ngeles juga!! Tergantung sikon. Dan juga mood. Akhirnya memang masalah enak dan tidak enak juga sih — gak ada hubungannya dengan kejelasan. Karena kita bukan cuma tidak pernah bisa tahu apakah lawan bicara kita itu mengerti apa yang kita bicarakan, kita juga sebenarnya tidak tahu betul apa yang kita bicarakan. It’s like: do you really think what you think you think? Do you really say what you say? Jadi, yah, etiket dulu sih didahulukan. Masalah dialognya produktif atau tidak sih itu nasib-nasiban aja.

    Kasus kemarin, kah?

  2. Mas Geddoe, itu, “bahasa menunjukkan bangsa” ada dalam gurindam 12, fasal 5-nya Raja Ali Haji. Redaksi utuhnya adalah:

    jika hendak mengenal orang berbangsa
    lihat kepada budi dan bahasa

    sekedar info🙂

  3. @ bodrox

    Wah, terima kasih informasinya.

    Apa Beliau mengutip peribahasa, ataukah peribahasa yang mengutip Beliau? Apa Gurindam 12 itu sumber peribahasa yang saya gunakan di atas? Menarik juga ini, sebab saya menghabiskan masa kanak-kanak di Kepulauan Riau.😀

  4. Dalam kelas ilmu bahasa dan komunikasi, kalo gak salah memang ad pembahasan soal it.

    pilihan kata yg kita gunakan mencerminkan cara berfikir kita sndr.

    Tp yang jelas, kata2 yg santun memang lebih enak d telinga dan d hati.

    Masalahnya IMO untuk bs bertutur santun d perlukan kebijaksanaan.

    Sy pikir itu alasan, suatu bangsa menyatakan bhw dirinya beradab simply dengan menunjukkan bahwa mereka memiliki bahasa, kata-kata yang santun dan bermartabat dalam penggunaannya.

  5. BtW, ada pengaruhnya gak pemilihan bahasa argumen pada lawan bicara? Maksudnya:
    1] lawan bicaranya teman (blogger) kita.
    2] lawan bicaranya bukan teman kita.
    Walaupun bahasa argumennya sama tajamnya, kalo yang ngomong teman, perasaan “keserang” itu gak terlalu bikin panas/bisa lebih dibawa santai. (dibanding kalo yang berpongah ria kita gak kenal) CMIIW😛

  6. Saya pernah terperanjat dibuat oleh respon seorang kawan yang rasanya terlalu pongah dan berlebihan; tak proporsional. Mungkin saya pernah juga bertingkah seperti itu, ada baiknya saya perbaiki dari diri sendiri dululah.

    Saya pernah mengalami… dan juga pernah melakukan. ^^;;

    *jadi merasa nggak enak*

    BTW, ini tergantung lawan bicara juga. Kalau lawan bicaranya nggak menunjukkan itikad baik (e.g. baru datang + langsung nyamber + bersikap ofensif), susah juga menjaga kesopanan. Pastilah inginnya membuat dia malu karena sudah nyari gara-gara.😐

     
    Tapi, biarpun begitu, kita harusnya tetap sabar. Seonggok debukaki di tengah perjalanan tak boleh membuat kita jadi marah, lantas merutuk dan kehilangan akal sehat. Bukan begitu masbro?😀

    //nyambung2in IRL ke dunia maya
    //mekso

    :::::

    @ jensen99

    Coba ditanya ke mas Fertob atau Catshade. Mungkin ada penjelasannya.😛

  7. Daripada pakai bahasa2 offensive sih, Gw lbI sk4 Pke BHas4 g403L s03PAya bsa lbI Dkn4l n Bk1n 0r4NG pS1NG n’B4cany.😆

  8. “appeal to ridicule” itu emang intimidatif sekali… saya sering jadi korbannya. Bahasa favorit orang culas tuh keknya😛

  9. saya pun sering diserang seenaknya kalau lagi diskusi, emang bikin sebel, apalagi yang nyerang pake bawa-bawa BEM segala😈

    Walaupun bahasa argumennya sama tajamnya, kalo yang ngomong teman, perasaan “keserang” itu gak terlalu bikin panas/bisa lebih dibawa santai. (dibanding kalo yang berpongah ria kita gak kenal) CMIIW😛

    Saya setuju yang ini, kalau temen yang ngomong dengan nada menyerang kok nggak terlalu bikin saya panas ya? tapi kalau nggak kenal, du ini nih yang bikin saya jadi pengen mentung tuh orang :p

  10. IMO sih tergantung niat juga, karena kata2 yg terdengar manis juga bisa dipake buat menyindir🙂 , dan tergantung apakah lawan bicaranya ngerasa kesindir ato ngga😛

  11. :: Arm

    Bener banget itu.

    Background pemikiran itu lah yang bikin saya tidak begitu suka dengan ‘tanggapan yg seperti memuji’ tapi rasanya gak proporsional.

    Bukan negative thinking, tapi pasti kita bisa mengukur standar kita sendiri.

    Tapi, enaknya buat nanggepin orang yang bermulut manis tp berbisa itu dengan cara menerima kata2 manisnya BENAR-BENAR sebagai pujian. Karena itu lbh bagus untuk kondisi suasana hati.:mrgreen:

    Palingan, efeknya si mulut manis yg sebel sendiri karena niatnya gak kesampaian😈

  12. Kalau belajar di kuliah Estetika dulu, kritikus itu sebenarnya bukan profesi yang menjual kejelekan karya orang lain untuk bisa dapat duit. Sebaliknya dia mengklasifikasi karya sesuai dengan selera tiap lapisan masyarakat. Jadi yang dia lakukan adalah memberitahu masyarakat apa yang bisa mereka harapkan dari suatu karya dan apa yang tidak.

    Karena itu lalu ada kebutuhan terhadap ilmu estetika, untuk mengetahui bagaimana definisi keindahan yang bisa diterima oleh kelompok orang.

  13. halah.. terlalu sepintas lalu. Kelihatannya jadi ga nyambung sama post.

    Maksudnya si kritikus pun akan diklafikasi oleh masyarakat. Siapa yang seleranya soal “jelek dan bagus” bisa dipercaya, siapa yang tidak. Mungkin awalnya kritik yang tajam dan berapi-api bisa jadi solusi mudah. Tapi lama-kelamaan selera masyarakat yang “beradab” akan menggiring kepada “selera bersama”. Jadi semacam sistem yang berjalan dengan sendirinya deh.

Comments are closed.