Clothes Make the Man

Demikian sabda sang maestro, Mark Twain. Menurut beliau, pakaian itu krusial; orang bugil tak akan memiliki pengaruh apapun dalam masyarakat. Tentunya ini bukannya melulu persoalan baju, celana dan sepatu, malah melebar ke seluruh atribut seorang manusia. Tata bicara, status sosial, alma mater, merk tas, gaya potongan rambut, kumis, ukuran dada, table manner, sampai entah apa lagi. Obyektifitas itu memang semu (kecuali Anda berbicara tentang matematika), sebab pada akhirnya penilaian selalu berupa hasil campur aduk subyektif dari bubur kebudayaan. Para ahli biologi menyebutnya mimetika — barangnya sama saja.

Sebuah termometer, konon, tidak akan mampu mengukur dengan ketepatan tanpa cela. Sebab termometer itu sendiri mesti dicemplungkan ke material yang hendak diukur, dan bakal mengintervensi suhu yang ada di dalamnya. Tapi siapa yang butuh ketepatan tanpa cela? Mungkin tak banyak, bahkan mungkin tak ada. Namun itu tak mengubah kenyataan bahwa ada semacam keterbatasan dalam pengukuran.

Dalam konteks diskusi (atau debat, dialektika, dan sebagainya) pun seperti itu. Argumen itu tidak diletakkan di atas meja secara telanjang; ada bahasa, cara penyampaian, dan segudang atribut berbeda. Penilaian akan selalu dibengkok-bengkokkan oleh “pakaian” yang dikenakan oleh orang di sekitar kita. Saya terkadang takjub memperhatikan bahwa orang-orang yang cerdas dan ahli dalam bidang yang mereka geluti, kadang tak begitu piawai bersilat lidah dan merangkai kata-kata. Sebaliknya, saya bisa menyebutkan, di luar kepala, beberapa orang-orang yang saya kenal memiliki gaya berdiskusi yang berbunga-bunga, namun substansinya tak jelas. Tapi tentunya ini juga dilihat melalui kacamata saya saja. Anda tak wajib percaya. Yang pasti diskusi itu memang ujung-ujungnya hanya aproksimasi. Pendekatan saja, tidak terlalu akurat.

Beberapa cabang ilmu beruntung apabila apa yang diperdebatkan ternyata mampu dibuatkan eksperimennya, sehingga setidaknya membuat subyektivitas semakin menipis. Saya bisa mengklaim bahwa saya dapat terbang seperti kelelawar, lalu menghiasi argumentasi tersebut dengan kata-kata yang manis dan intelek; namun apabila setelah itu saya terjun bebas dari lantai dua puluh dan akhirnya gepeng dengan sukses ketika menghujam bumi, perdebatan bakal berhenti. Menyangkalnya akan amat sulit. Namun cabang yang lain kadang tak memungkinkan adanya eksperimen — arena yang tersedia hanyalah pertukaran kata-kata. Padahal kata-kata itu sangat gampang disusupi “sindrom pakaian” yang disebutkan Twain di atas. Saya memang seringkali sangat sinis dengan ilmu-ilmu humaniora: terlalu gampang dijangkiti omong kosong! Buat saya bias kultural, strata sosial, dan gaya bahasa yang intimidatif bisa dengan mudah mendikte arus pemikiran manusia. Memang betul, saya tak punya otoritas apa-apa, jadi pandangan saya tak wajib untuk diimani. Namun bukankah berpendapat itu gratis?

Saya dulu sempat mabuk memikirkan ini. Ketika tersadar, memang mesti menerima bahwa pakaian memang penting! Presentasi itu kadang bisa mendongkrak derajat substansi menjadi jauh lebih tinggi. Jadi apabila Anda ingin memberi sebuah argumentasi, sebaiknya Anda hiasi dulu dengan berbagai bumbu. Apalagi kalau disposisi dan aura Anda berjalan selaras dengan apa yang direstui praktek social climbing. Dijamin akan sukses.

* * *

Entri ini tidak saya beri gambar apapun. Sebab gambar tersebut akan ikut mempengaruhi esensi apa yang saya tulis. Biarlah esensi tersebut hanya dikotori oleh gaya bahasa, header, sejarah blog ini, entri-entri sebelumnya, dan, ya memang masih banyak. Paling tidak berkurang satu, bukan begitu?

Saya bisa memberi artikel ini gambar seorang guru. Saya bisa memberi gambar [ini], misalnya. Gambar yang lain, [ini], misalnya, sudah akan memberi “rasa” yang berbeda. Umpamanya, apabila menjadi pembaca, saya sendiri akan memberi penilaian bahwa tulisan ini lebih akademik, tidak berdasarkan isu tertentu, dan tidak politis — ketimbang bila gambar pertama yang dipajang. Gambar lain, [ini] misalnya, mungkin cenderung tak dianggapi serius; saya akan mulai menerka-nerka usia penulis. Saya juga bingung dibuatnya; padahal gambar-gambar itu hanya distempel saja di atas tulisan dan tak mengubah sepatah katapun, niatnya hanya sebagai dekorasi saja. Tapi saya mampu memberi prasangka sejauh itu. Damn you, social construct!

Omong-omong, ini hanya katarsis. Ada baiknya tak usah terlalu serius.

53 thoughts on “Clothes Make the Man

  1. he pertamina lagi xD
    sebentar fo, itu gambar yang ketiga itu kok sama dengan gambar pertama? soalnya disebut ‘gambar lain’, jadi harusnya berbeda dong.
    salah uplod atau gimana?😕

    hm..iya juga..klo membaca tulisan ini lalu membayangkan dengan gambar yang pertama, sang guru yang bersahaja di depan para murid..rasanya lebih sederhana dan adem ya, berimbang dengan isi tulisannya yang berat, hehe
    tapi klo gambar kedua dipajang, itu lebih kompleks lagi. Soalnya walau sama -sama guru, tapi yang kedua ini lebih filosofis

    tapi kadang, ada pakaian yang ga mencerminkan isi, iya kan?

  2. @ Emina

    Memang salah upload, dan sudah diperbaiki. Tadinya saya kira bisa segera ditukar sebelum dibaca, tapi ternyata masih ada yang “dikerjai”. Mohon maaf.

    hm..iya juga..klo membaca tulisan ini lalu membayangkan dengan gambar yang pertama, sang guru yang bersahaja di depan para murid..rasanya lebih sederhana dan adem ya, berimbang dengan isi tulisannya yang berat, hehe
    tapi klo gambar kedua dipajang, itu lebih kompleks lagi. Soalnya walau sama -sama guru, tapi yang kedua ini lebih filosofis

    Silakan lihat gambar ketiga.

    *kedip-kedip*

  3. Hihihihi…lucu juga nih. Dulu waktu kuliah saya selalu mengutip judul buku, itu aja udah bikin orang deg2an. Hehehe…padahal saya cuma baca pengantarnya aja, atau bahkan hanya baca judulnya saja berdasarkan sebuah artikel lepas, atau kata orang. Pakaian memang penting; dan itu hanya bisa saya lakukan di blogpost. Kalo di kolom komentar, saya sih berantakan.😀 Sebenarnya bloger yang saya kenal yang paling sering beretorik, bahkan di kolom komentar, itu yah kau Ged — which makes you sound older than your age.

  4. @ ahgentole

    Jangankan judul buku, sebetulnya nama penulis pun sudah bisa bikin gemetar. Kalau dengar nama-nama macam Maimonides, Kierkegaard, Wittgenstein, Husserl, itu saya langsung silau. Padahal belum baca argumen yang disodorkan. Ya bukannya itu thok “pakaian” sih, tapi ya minimal, itu dia, bisa menyilaukan.

    @ lambrtz

    Eh, itu ga NSFW kok. Serius.

  5. Ilmu humaniora memang terkadang penuh omong kosong, tapi terkadang mempelajari fenomena2 sosial dan elemen2nya punya manfaat, kita bisa meramalkan bahkan mengendalikan peristiwa sampai batas2 tertentu. Saya justru melihatnya sebagai hal yg menarik (atau mungkin karna saya dibesarkan di dalamnya jadi berpendapat seperti itu ya?!)

    *saya pilih gambar 3*

  6. @lollipop

    Wah Anda harus membaca The Black Swan-nya Nassem Muhammad Thaleb dan, tentu, The Open Society-nya Karl Popper. Prediksi dalam bidang ilmu sosial itu ilusi; loh, buktinya krisis ekonomi terjadi juga; WTC hancur juga; mahasiswa NTU, bukan Universitas Bung Karno, bisa juga melakukan hal gila. Black Swan ada di mana. Ilmu sosial dan humaniora itu hanya bisa mejelaskan yang sudah terjadi, yang membuat seolah-olah semuanya “bisa dijelaskan”. Padahal enggak. Itu sih ilmu seolah-olah. Ilmu sosial, kalo kata Geertz, itu tidak beda dengan sastra. Pintar2 menulis sajalah.

    *langsung praktek saran Geddoe*
    :mrgreen:

  7. ya itu…Itu…hehe, black swan tu kalo g salah yg teorinya popper itu ya, ‘bila ada satu aja angsa item, asumsi bahwa semua angsa itu putih ambruk’

    Tapi ntah ya, bukannya struktur masyarakat tuh ibarat grammar, ada aturan2, ada variabel2 yg bisa dianalisis *nyontek teori strukturalisme*, yah meski belakangan ada post-strukturalisme, dekonstruksi, dsb, itu bukannya lebih ke parole masyarakat? tentu ada langue-nya yg bisa diteliti. Dan tentu saja, bias tetap ada.

    *ikut saran ahgentole, nyari buku yg dimaksut*

  8. @ lollipop

    Hahaha, ya nggaklah, saya bukannya menyuruh ilmu-ilmu humaniora buat dibumihanguskan (lagipula saya tak punya kuasa apa-apa). Cuma kadang gemas dengan beberapa pemikirannya.

    @ ahgentole

    *silau*

    Ini dia teknik yang dimaksud!

  9. Hohoho nama penulisnya Nassim Nicholas Taleb, bukan Nassem Muhamhad Thaleb! Gak apa salah; buat yang enggak tahu, efeknya sama aja. Saya beneran sengaja salah itu.

  10. Ga NSFW dari Hongkong!😯

    *untung dah di kamar*

    Ehem…

    Pemetaan gambar – bidang ilmu.

    Gambar 1 –> Sosiologi
    Gambar 2 –> Filsafat, Sejarah
    Gambar 3 –>😯 Hentai Ecchi!😯

  11. @ lambrtz

    Eh, segitu udah NSFW?😯

    Gambar 1 –> Sosiologi
    Gambar 2 –> Filsafat, Sejarah
    Gambar 3 –>😯 Hentai Ecchi!😯

    Makanya. Jadi ga murni.

  12. Jadi kesimpulannya “pakaian” itu termasuk berbahasa canggih, keren, ilmiah, penuh istilah, dengan kutipan-kutipan brilian?:mrgreen:

    Saya kalo ngadepin yang “berpakaian” begitu sih biasanya mencengir dulu. Sudah pernah di posisi yang sama soalnya😛

    Hehehe… menariknya ilmu-ilmu sosial ya ini, Ged. Abstrak. Absurd. Ndak sepasti perhitungan matematis (dan lagi, memang perhitungan matematis benar di dunia yang relatif dan ndak pasti ini?)

    Heliosentris saja bisa hidup lagi dengan bingkai agama belakangan, karena retorika yang cuma diajarkan di ilmu sosial, bukan?😀

  13. seperti masakan ya. padahal isinya sih MSG juga, tapi tampilan dan penyajiannya bisa macem-macem untuk mengundang selera. alhasil, yg dikejar yg rasanya enak dan bisa bikin enak aja…😎

  14. ah, retorika itu : penggunaan kata2 muluk untuk menyamarkan ketiadaan isi??😕

    btw, black swan itu mirip2 hukum murphy ngga? di mana sesuatu yg bisa rusak, pasti suatu saat akan rusak entah gimana caranya..😕

    yah, pakaian emang bisa merubah kesan sih:mrgreen:
    *contohnya gambar no 3🙄 *😛

  15. tulisan anda yang kali ini pun juga tidak lepas dari subyektifitas. apa yang anda sampaikan inkonsisten dengan cara anda menyampaikan. lagi2 saya seperti melihat tai teriak tai di sini.

    *dibalang sepatu*

  16. @ Abuya Tgk. Alex© Al-Hidayat

    Sepakat seluruhnya.

    @ sitijenang

    Memang betul. Es teh yang disajikan di atas pispot yang bersih, bisa jadi membuat muntah.

    @ Arm

    ah, retorika itu : penggunaan kata2 muluk untuk menyamarkan ketiadaan isi??😕

    Setahu saya “retorika” pada makna sebenarnya berarti ya teknik dan seni berargumen. Tapi “berargumen” di sini bukan apologetika, melainkan berbau persuasi.

    Penggunaan kasualnya ya seperti yang Masbro jabarkan di atas. Ambigu memang. Mirip kata “sophistry“.

    @ agiek

    *keselek*

    *ngakak*

    @ dnial

    Hmm?

  17. @ cK

    Saya masih lebih suka guru seksi yang dipajang di atas (guru2.jpg). 8)

    @ jamel virgiawan

    Terima kasih berkunjung.

    @ Abuya Tgk. Alex©

    Perhatikan apa yang dibicarakan, ini blog keluarga!™👿

  18. –difo–
    bah! iiiih difo kedip -kedip gitu, centil amat.
    difo sejak kapan jadi centil😯

    klo kedip2 curiga gambarnya aneh…hm ternyata emang iya.
    ituuuuu..klo guru kayak ce itu, muridnya pasti laki2 semua ya?
    cocoknya ituh sama onizuka eikichi itu.
    btw, kenapa ga ada contoh onizuka sebagai salah satu ‘guru’ di gambar itu, fo? keknya cocok juga, guru yang nyeleneh banget kan dia itu:mrgreen:

    hm..
    gambar satu, itu jelas guru teladan yang bersahaja
    gambar dua, itu kayak semacam sufi kan? tapi knp murid2nya ga pke baju ya😕
    gambar tiga, itu guru cabul:mrgreen:

  19. Perhatikan apa yang dibicarakan, ini blog keluarga!™👿

    ~geddoe

    Tapi

    Saya masih lebih suka guru seksi yang dipajang di atas (guru2.jpg).😎

    ~geddoe

    Jadi

    lagi2 saya seperti melihat tai teriak tai di sini.

    ~agiek

    :-“

  20. @ Abu Geddoe

    Jangankan judul buku, sebetulnya nama penulis pun sudah bisa bikin gemetar. Kalau dengar nama-nama macam Maimonides, Kierkegaard, Wittgenstein, Husserl, itu saya langsung silau. Padahal belum baca argumen yang disodorkan. Ya bukannya itu thok “pakaian” sih, tapi ya minimal, itu dia, bisa menyilaukan.

    Well, terkadang ini menyebalkan. Yang sering mengganggu saya adalah…

    …kalau ada orang ngoceh bawa-bawa Sartre, Derrida, dan sebangsanya. Begitu meyakinkan! Saya jadi gentar!!😯

    Tapi ketika ngomongin Tuhan, ternyata tahunya cuma ateisme vs, teisme (agnostisisme enggak paham). Dasar gemblung.😆

  21. @ Emina

    Itu adalah guru seksi yang polos dan clumsy, jangan seenaknya dikatai cabul.👿:mrgreen:

    @ lambrtz

    Kok tahiTeriakTahi™? Bukannya lebih pas yang andaInkonsisten™?😛

    @ Abuya Tgk. Alex©

    Blog untuk dinikmati seluruh anggota keluarga.🙄

    @ ahgentole

    Bentar.

    @ sora9n

    Teknik yang paten itu memang kalau menggabungkan referensi yang mentereng dengan nada sinis yang memberi sugesti bahwa lawan diskusi itu lebih “hijau”. Ini ada penjelasan ilmiahnya, tapi saya lupa. Sesuatu tentang reptilian complex?

    Mas Gentole sudah bisa menerapkannya dengan fasih di [sini]. Beliau sudah dapat diturunkan ke medan perang sebagai mesin retorika (halah).😆

  22. @ sora9n

    Well, terkadang ini menyebalkan. Yang sering mengganggu saya adalah…

    …kalau ada orang ngoceh bawa-bawa Sartre, Derrida, dan sebangsanya. Begitu meyakinkan! Saya jadi gentar!!😯

    😆

    Itu kan memang teknik bagus buat menggentarkan, memang. Beretorika dengan banyak istilah dan kutipan orang2 keren cukup mumpuni buat bikin orang gentar. Tambahkan kemampuan berbahasa asing, dan sisipkan gaya sarkastis, maka akan lebih kredibel, insya Allah😆

    Tapi ketika ngomongin Tuhan, ternyata tahunya cuma ateisme vs, teisme (agnostisisme enggak paham). Dasar gemblung.😆

    Nah… ini…
    Apakah kalo membahasa satu cakupan yang begitu luas mesti memahami semua? Batas-batas pemahaman itu seperti apa, ini saya sendiri masih bingung😕

    Taruh contoh: mungkin kita tak begitu paham benar evolusi itu jalurnya seperti apa secara detil dan “betul-betul paham”, tapi cuma paham secara garis besar saja dan itu jadi patokan bahwa evolusi eksis. Di saat kita berdiskusi dalam hal penciptaan, setidaknya punya argumen utk menjadi rival kreasionis. Itu kira-kira memahami juga atau bukan sih? Dan apakah yang di pihak kreasionis harus memahami benar apa itu evolusionis? Lha… itu kan membuat dianya jadi sia-sia bersikukuh melawan evolusi:mrgreen:

    Dan kalo ngomongin Tuhan cuma tahunya ateisme versus teisme, ya mungkin berarti pemahamannya/pembahasannya cuma sebatas “ateisme versus teisme”. Ndak ada sangkut paut mutlak dengan nama-nama besar yang dibawa itu😆

  23. @ Geddoe

    Blog untuk dinikmati seluruh anggota keluarga.🙄

    Oh… begitu…🙄

    Teknik yang paten itu memang kalau menggabungkan referensi yang mentereng dengan nada sinis yang memberi sugesti bahwa lawan diskusi itu lebih “hijau”.

    :mrgreen:

    Teknik itu sekarang jadi trend juga lho dalam dunia politik Indonesia. Caleg-caleg dan partai yang pintar majang statistik dan berbahasa sinis dengan referensi ilmiah lebih memukau. Cak cek sesekali di tipi😆

    Ini ada penjelasan ilmiahnya, tapi saya lupa. Sesuatu tentang reptilian complex?

    Komen ini dan komen saya yang panjang lebar diatas juga termasuk contoh agaknya:mrgreen:

  24. @ Abuya Tgk. Alex©

    Dan kalo ngomongin Tuhan cuma tahunya ateisme versus teisme, ya mungkin berarti pemahamannya/pembahasannya cuma sebatas “ateisme versus teisme”. Ndak ada sangkut paut mutlak dengan nama-nama besar yang dibawa itu😆

    Yaaa… namanya juga “pakaian”.:mrgreen:

    Tapi tetap saja bikin geli. Ibaratnya orang ngomong relativitas Einstein sampai berbusa, sementara pas ditanya Hukum Newton… bingung.😆

    Apakah kalo membahasa satu cakupan yang begitu luas mesti memahami semua? Batas-batas pemahaman itu seperti apa, ini saya sendiri masih bingung😕

    IMHO sih, intinya: “jangan berpakaian lebih mewah daripada seharusnya”. ^^

    Saya sendiri ngerti filsafat cuma seujung kuku. But c’mon… kalau orang berani menyitir Derrida (yang *katanya* mengutuk logika), atau Kierkegaard (yang *katanya* dedengkot eksistensialime teistik)… masa epistemologi aja nggak ngerti. Itu kan dasar sekali!😄

    (“God can’t be proven nor disproven, hence agnosticism”. apa susahnya?😐 )

    Taruh contoh: mungkin kita tak begitu paham benar evolusi itu jalurnya seperti apa secara detil dan “betul-betul paham”, tapi cuma paham secara garis besar saja dan itu jadi patokan bahwa evolusi eksis. Di saat kita berdiskusi dalam hal penciptaan, setidaknya punya argumen utk menjadi rival kreasionis. Itu kira-kira memahami juga atau bukan sih?

    Kalau kata dosen saya sih,

    “Mahasiswa bisa dibilang paham suatu materi jika dia bisa menjelaskan dengan benar, dan bertanya dengan relevan, dalam kata-katanya sendiri.”

    Soal paham evolusi atau nggak, lihat saja cara diskusinya.😛 Kalau bisa menjelaskan homologi, berarti level sekian… kalau udah menyebut gene pool, berarti level sekian…:mrgreen:

  25. @ Abuya Tgk. Alex©

    Oh… begitu…🙄

    :mrgreen:

    Komen ini dan komen saya yang panjang lebar diatas juga termasuk contoh agaknya:mrgreen:

    Tapi takarannya; yaitu sejumlah mana yang bisa membuat orang mulai tersinggung, nampaknya juga berbeda-beda tergantung manusianya.😛 Buat saya masih aman-aman sajalah itu.

    @ sora9n

    Ini menarik juga. Coba dibahas.🙂

  26. Pingback: Bahasa Menunjukkan Bangsa(t) « RQC.

  27. @arm

    ah, retorika itu : penggunaan kata2 muluk untuk menyamarkan ketiadaan isi??

    Tunggu, kata-kata yang berisi itu kayak apa yah?

    Kayak combro?:mrgreen:

  28. @ ahgentole

    Mungkin itu maksudnya mempergunakan lebih banyak kata dari yang diperlukan. Ini sebenarnya berguna buat tugas kuliah.

    “Maaf bagian survey lupa dibuat”

    ==

    It might be noted that in order illustrate the aforesaid point even better one could and should have made some sort of a questionnaire to be circulated in a relevant demographic before the report was written. However, upon closer observation, such luxury would be unnecessary at this point. We therefore would like to suggest that the attention that might have gone to the surveying department instead be used to examine in further details the provided argumentations. Please do refer to chapter 3 section 5 for details pertaining to this issue. Questions that might arise will be covered in section 7. Bla bla bla yadda yadda

  29. @ Soran :

    Well, terkadang ini menyebalkan. Yang sering mengganggu saya adalah…

    …kalau ada orang ngoceh bawa-bawa Sartre, Derrida, dan sebangsanya. Begitu meyakinkan! Saya jadi gentar!!😯

    Tapi ketika ngomongin Tuhan, ternyata tahunya cuma ateisme vs, teisme (agnostisisme enggak paham). Dasar gemblung.😆

    Hahahaha… ada juga orang yang pernah komentar begini sama saya “eh, tau Big Bang ? Itu kan mendukung banget kalau Tuhan itu benar-benar ada..!!!”

    Saya jawab, “eh, mas tau kalau Big Bang Theory itu punya banyak variasianya ? Tau juga kalau teori tentang alam semesta (kosmologi) bukan hanya big bang doang. Pernah dengar Quantum Cosmology? Kalau teori ini sahih, berarti alam semesta itu tidak terbatas”.
    🙂

    Terus terang saya sendiri cuma ngetes dia soal kosmologi. Seandainya dia profesor fisika yang sedang menyamar, maka resikonya sudah jelas : saya yang mampus.🙂 Eh, ternyata dia yang bertanya sama saya soal Quantum Cosmology. Bisa apa saya ?😉 Fisika aja cuma sebatas “konon katanya”…😆

    Betul, kalau saya ditanya soal Sartre, Derrida, dan eksistensialisme, masih lebih mudeng daripada ditanya soal politik.

    Soal paham evolusi atau nggak, lihat saja cara diskusinya.😛 Kalau bisa menjelaskan homologi, berarti level sekian… kalau udah menyebut gene pool, berarti level sekian…:mrgreen:

    Sama dengan Sartre, kalau masih menyebut Sartre adalah eksistensialis, maka level sekian. Kalau Sartre lahir dan apa karya-karyanya, maka levelnya sekian. Tapi kalau sudah berani mengulas being dan implikasinya, maka ada pada level sekian. Dan kalau sudah berani “menghajar” Sartre dengan argumen tertentu, maka ada di level sekian.🙂

    @ Geddoe :

    Saya jadi teringat salah satu filsuf (tcah…!!) tapi lupa namanya yang bilang : “manusia adalah binatang yang berpakaian”.😆

    Bagi saya, pakaian adalah topeng (persona). Apapun yang ditampilkan ke muka publik pada dasarnya adalah topeng. Seberapa tebal atau tipis topeng itulah yang membuat perbedaan.

  30. @ Abu Geddoe

    Ini menarik juga. Coba dibahas.🙂

    Yang mana? Soal “baju berlebihan” atau level pemahaman evolusi?😛

    :::::

    @ goldfriend

    Terus terang saya sendiri cuma ngetes dia soal kosmologi. Seandainya dia profesor fisika yang sedang menyamar, maka resikonya sudah jelas : saya yang mampus.🙂 Eh, ternyata dia yang bertanya sama saya soal Quantum Cosmology. Bisa apa saya ?😉 Fisika aja cuma sebatas “konon katanya”…😆

    Dipikir-pikir, ini menunjukkan bahwa mas Fertob pun tak lepas dari hobi “berpakaian mewah”. Jangan-jangan ini gejala umum di blogosphere. ^^a

    saya juga pernah melakukan😄

    Sama dengan Sartre, kalau masih menyebut Sartre adalah eksistensialis, maka level sekian. Kalau Sartre lahir dan apa karya-karyanya, maka levelnya sekian. Tapi kalau sudah berani mengulas being dan implikasinya, maka ada pada level sekian. Dan kalau sudah berani “menghajar” Sartre dengan argumen tertentu, maka ada di level sekian.🙂

    Yup, yup. =3

  31. @ Sora

    Tapi tetap saja bikin geli. Ibaratnya orang ngomong relativitas Einstein sampai berbusa, sementara pas ditanya Hukum Newton… bingung.😆

    Iya.. itu akan bikin geli, terutama bagi yang ngerti:mrgreen:
    Tapi… apa kegelian kita itu sendiri tidak menunjukkan bahwa kita sendiri sedang menganggap “hijau” yang sedang menganggap kita “hijau”?😀

    IMHO sih, intinya: “jangan berpakaian lebih mewah daripada seharusnya”. ^^

    Saran bagus. Iya juga itu😕

    Saya sendiri ngerti filsafat cuma seujung kuku. But c’mon… kalau orang berani menyitir Derrida (yang *katanya* mengutuk logika), atau Kierkegaard (yang *katanya* dedengkot eksistensialime teistik)… masa epistemologi aja nggak ngerti. Itu kan dasar sekali!😄

    :mrgreen:

    Wah, susah memang jika tak ada contoh kasusnya ini😕
    Tapi gini deh: misalnya kita bicara Sartre atau Kafka dalam perihal politik dan sosial kebudayaan dan postmodernism. Apa kita harus mutlak melibatkan pemikiran mereka yang berkenaan dengan theisme atau tidak, itu tergantung apa yang dibicarakan, bukan?😕

    (“God can’t be proven nor disproven, hence agnosticism”. apa susahnya?😐 )

    Ya, nggak susah itu. Ringkas dan jelas😐

    Soal paham evolusi atau nggak, lihat saja cara diskusinya.😛

    Menjadi sang pengamat? Sebagai pihak mana? Pro atau kontra? Atau diluar perdebatan itu sendiri? Posisi membuat subjektifitas tersendiri:mrgreen:

    Kalau bisa menjelaskan homologi, berarti level sekian… kalau udah menyebut gene pool, berarti level sekian…:mrgreen:

    Nah itu… itu yang susahnya. Agaknya benarlah pendapat teman saya, anak Teknik Mesin yang “murtad” dari akademi: Makin seseorang tahu banyak hal, makin akan tinggi egonya menentukan tingkat intelektualitas orang, seakan semua menjadi hijau di matanya.
    Don’t get me wrong, itu kata2 buat nyindir saya lho waktu debat2 di kampus dulu. Tapi lumayan itu jadi self-critic😀

    @ Abu Geddoe

    Tapi takarannya; yaitu sejumlah mana yang bisa membuat orang mulai tersinggung, nampaknya juga berbeda-beda tergantung manusianya.😛

    Nah… subjetifitas lagi kan jatuhnya?:mrgreen:

    Buat saya masih aman-aman sajalah itu.

    Hehehe… Masih aman memang (bagi awak berdua agaknya), karena itu kan cuma contoh saja, Ged😛

    @ Goldfriend

    Bagi saya, pakaian adalah topeng (persona). Apapun yang ditampilkan ke muka publik pada dasarnya adalah topeng. Seberapa tebal atau tipis topeng itulah yang membuat perbedaan.

    Ini dia!:mrgreen:

    Pepatah usang di internet bilang, “On the Internet, nobody knows you’re a dog”. Kebalikannya ada juga yang bilang, “Di internet semua sudah dianggap anjing duluan” .

    Pepatah pertama (agaknya) untuk yang optimis pada kamuflase dirinya.
    Pepatah kedua utk yang skeptis (atau sinis?) pada setiap kamuflase di net.

    Saya lebih percaya yang kedua😛

  32. Catatan tambahan:

    Mungkin masih ingat pada pelecehan wikipedia sebagai referensi? Saya sendiri berada di pihak yang agak sinis pada penggunaan wikipedia. Tapi masalahnya, di internet adalah mudah memodifikasi kepribadian sebagai sosok cerdas dan intelek. Masukkan keyword ke Google dan Wikipedia, dan voila! Hampir semua ada di sana. Apa yang perlu dilakukan adalah modifikasi informasi dengan bahasa yang meyakinkan seolah paham belaka entry dari ensiklopedia online atau hasil pencarian tersebut.

    Ini membuat subjektifitas di internet itu jadi abstrak. Jadi susah diraba. Dalam hal begini, pilihan menjadi skeptis pada penampilan seseorang di net adalah pilihan logis kiranya, apakah terhadap seorang Alex, Geddoe, Fertob, Sora atau Mr. Gentole:mrgreen:

    Percayalah, agaknya beberapa blogger jenius, saya sendiri pernah praktek serupa itu XP

  33. @ Abuya Tgk. Alex©

    Iya.. itu akan bikin geli, terutama bagi yang ngerti:mrgreen:
    Tapi… apa kegelian kita itu sendiri tidak menunjukkan bahwa kita sendiri sedang menganggap “hijau” yang sedang menganggap kita “hijau”?😀

    Ada orang yang “menganggap hijau” dengan dasar yang kuat. Ada orang yang “menganggap hijau” dengan dasar yang lemah. Nah, dasar ini yang penting: dia membedakan antara ahli sungguhan dengan pakar tipu-tipu.

    Kalau astronom berdebat sama bigot tentang teori heliosentris-geosentris, barangtentu yang satu memandang yang lain lebih hijau. Mungkin sama-sama geli. But in the end, the astronomer will win. Kenapa? Karena pendapatnya diperkuat data dan fakta. Dasarnya benar, cara berpikirnya benar, dan seterusnya.

    Intinya adalah: go where evidence leads. Kalau saya dibilang “hijau” sama orang yang percaya bumi mengelilingi matahari, ya, saya bisa bilang apa?😆

    Bukti udah segerobak, dia masih ngeyel, dan saya dibilang hijau, itu nggak mengubah apa-apa. Orang tahu siapa yang argumennya lebih bermutu.😛

    Tapi gini deh: misalnya kita bicara Sartre atau Kafka dalam perihal politik dan sosial kebudayaan dan postmodernism. Apa kita harus mutlak melibatkan pemikiran mereka yang berkenaan dengan theisme atau tidak, itu tergantung apa yang dibicarakan, bukan?😕

    Ndak… maksud saya, ketika forum sedang membicarakan soal teisme to begin with, mendadak ada orang bawa2 nama besar tersebut. Kierkegaard, Sartre, dan siapalah itu, mendadak keluar dalam diskusi bertema: “what do you think of God?”

    Yang menjengkelkan, orang jenis ini menyerang seenaknya. Main kritik agnostisisme (“kalau tidak teis Anda ateis!”), terus sitir sini-sitir situ. Seolah-olah nama besar itu dipakai buat amunisi saja. Padahal dasar argumen lawan bicara nggak ngerti.😐

    Saya nggak mempermasalahkan kalau mereka mau bilang Jaspers, Eliade, dkk buat membela agama. Argumen mereka mungkin nggak salah — but they definitely missed something fundamental. Dan yang fundamental itu terlupakan gara2 semangat mau mengkritik lawan debat.

     
    Ini seperti orang melihat desain mesin bakar (fisika klasik), lalu memprotes: “Wah nggak bisa! Ini berdasarkan hukum Newton! Sementara relativitas Einstein sudah menghancurkan mekanika Newton!”

    Pernyataan itu nggak sepenuhnya salah. But there is something awfully amiss with that.

    Menjadi sang pengamat? Sebagai pihak mana? Pro atau kontra? Atau diluar perdebatan itu sendiri? Posisi membuat subjektifitas tersendiri:mrgreen:

    Ya elah… bandingkan saja dengan data dan fakta? Kan seperti saya bilang: go where the evidence leads. Atau literatur keilmuan yang tersedia. Apa susahnya?:mrgreen:

    Kalau ada orang mengkritik tentang evolusi begini-dan-begitu, ada banyak jalan untuk klarifikasi. Textbook, paper, atau referensi kasual seperti website kampus (MIT OpenCourseWare comes to mind) selalu bisa diandalkan. Dan mereka memberi contoh bukti yang bisa direplikasi.

    Seperti kata Geddoe di post, kelebihan ilmu alam adalah selalu menyertakan bukti yang verifiable. Orang bisa mereplikasi percobaan lalat buah, atau mengamati resistensi antibiotik, dllsb. Itu data dan fakta.

    Semakin orang berargumen dengan data dan fakta, barangtentu kualitas omongannya meningkat. Kan begitu?😀

    Nah itu… itu yang susahnya. Agaknya benarlah pendapat teman saya, anak Teknik Mesin yang “murtad” dari akademi: Makin seseorang tahu banyak hal, makin akan tinggi egonya menentukan tingkat intelektualitas orang, seakan semua menjadi hijau di matanya.

    Wah, mohon maaf, tapi… level pengetahuan itu nggak ada hubungannya dengan ego. It’s cold hard facts.😉

    Saya mau menilai atau tidak menilai sekalipun, yang namanya gap pengetahuan akan tetap ada. Ada orang yang paham fisika cuma sampai hukum Newton. Ada yang lebih jago, bisa menghitung dengan kalkulus. Yang kuliah MIPA mungkin paham berbagai topik fisika modern. Dan lain sebagainya.

    Pemahaman evolusi juga begitu. Ada orang yang bisa menjelaskan evolusi sekadar lewat homologi, sementara yang lain bisa menjelaskan sampai population genetics. Bukankah itu menunjukkan adanya perbedaan level pengetahuan?

    Sama halnya dengan mas Fertob membagi2 pemahaman tentang Sartre. Teman masbro yang kuliah teknik mesin, mungkin lebih paham tentang motor bakar daripada saya. Dan lain sebagainya.

    Jadi, ada ego atau tanpa ego, begitulah adanya. Orang yang berbeda memiliki pembelajaran yang berbeda, sumber informasi yang berbeda, dan semangat belajar yang berbeda. Mematok level bukan berarti mengatakan orang lain lebih bodoh atau lebih pintar — itu lebih ke arah praktis. Orang nggak bisa nyerocos tentang population genetics, kalau lawan bicaranya masih ngotot dengan “fosil peralihan”.😉

    Don’t get me wrong, itu kata2 buat nyindir saya lho waktu debat2 di kampus dulu. Tapi lumayan itu jadi self-critic😀

    Tapi tetap saja perbedaan itu ada. Suka atau tidak. Makanya ada sekolah, kampus, dan forum diskusi.😆

  34. Eh, keliwatan.😛

    Tapi masalahnya, di internet adalah mudah memodifikasi kepribadian sebagai sosok cerdas dan intelek. Masukkan keyword ke Google dan Wikipedia, dan voila! Hampir semua ada di sana. Apa yang perlu dilakukan adalah modifikasi informasi dengan bahasa yang meyakinkan seolah paham belaka entry dari ensiklopedia online atau hasil pencarian tersebut.

    Diajak chatting aja kalau begitu. Kalau nge-lag, berarti dia buka wikipedia dulu sebelum jawab.:mrgreen:

    *dipentung*

    Ini membuat subjektifitas di internet itu jadi abstrak. Jadi susah diraba. Dalam hal begini, pilihan menjadi skeptis pada penampilan seseorang di net adalah pilihan logis kiranya, apakah terhadap seorang Alex, Geddoe, Fertob, Sora atau Mr. Gentole:mrgreen:

    Masuk akal sih…😕

    Ini mengingatkan saya sama post lamanya DB: “In the internet, nobody knows you’re a God dog.”
    :mrgreen:

  35. Elah, typo. =_=!

    Kalimat yang inih:

    Kalau saya dibilang “hijau” sama orang yang percaya bumi mengelilingi matahari, ya, saya bisa bilang apa?😆

    Harusnya “matahari mengelilingi bumi”. Mohon maaf ketidaknyamanannya.😛

    *BTW ternyata komen saya panjang banget. harus belajar nulis lebih ringkas, ini*😕

  36. @ Sora

    Ada orang yang “menganggap hijau” dengan dasar yang kuat. Ada orang yang “menganggap hijau” dengan dasar yang lemah. Nah, dasar ini yang penting: dia membedakan antara ahli sungguhan dengan pakar tipu-tipu.

    Boleh jadi benar. Tapi itu berlaku dalam hal eksak, bukan? Kalo masalah filosofi dan teologi, mana yang sungguhan dan mana yang tidak itu sukar ditakar, jika bukan malah akhirnya berpulang pada subjektifitas masing-masing.

    Taroh contoh jaman awak ribut2 sama the so-called wahabi dan salafy pembaharu agama. Sama-sama membahas tuhan dan keagamaan, tapi punya dalil masing-masing. Saya bisa berikan belasan surat dalam kitab suci dengan penafsiran saya, tapi mereka juga bisa berikan puluhan kutipan ayat-ayat pembenaran. Sering bangedh malah😛

    Siapa yang ahli siapa yang tidak? Hehehe… masih ingat awak disuruh diam dengan sabda, “Yaa akhi… diamlah jika tidak mengerti™ “? Yang artinya awak jadi tidak ahli di depan matanya. Boleh jadi mereka benar, mereka ahli dalam hafalan ayat2, bukan?😛

    Kalau astronom berdebat sama bigot tentang teori heliosentris-geosentris, barangtentu yang satu memandang yang lain lebih hijau. Mungkin sama-sama geli. But in the end, the astronomer will win. Kenapa? Karena pendapatnya diperkuat data dan fakta. Dasarnya benar, cara berpikirnya benar, dan seterusnya.

    Saya sepakat. Itu benar. Tapi kesepakatan saya tentu karena bagi saya semua fakta itu masuk akal, kerangka acuan berpikirnya logis, dan ada fakta yang saya anggap benar. Bukan benar mutlak, tapi penerimaan saya pada apa itu “benar”. Benar apa betul?:mrgreen:

    Intinya adalah: go where evidence leads. Kalau saya dibilang “hijau” sama orang yang percaya bumi mengelilingi matahari, ya, saya bisa bilang apa?😆

    Idem. Awak juga, mungkin dengan rasa “kepala kebo juga ni orang” – akan diam dan tertawa diam-diam. Lha, mau apalagi?😆

    Bukti udah segerobak, dia masih ngeyel, dan saya dibilang hijau, itu nggak mengubah apa-apa. Orang tahu siapa yang argumennya lebih bermutu.😛

    Di mata yang sepaham, tentu. Misal, argumen2 Sora dan Geddoe dalam perihal evolusi dan beberapa permasalahan sains, tentu akan saya anggap lebih bermutu ketimbang sekedar kekeras-kepalaan pokoknya™ makhluk hidup sudah apa adanya dari jaman baheula atau pokoknya™ bumi pusat alam semesta😀

    Tapi benarkah bermutu itu tolok ukurnya adalah menurut saya? Di sini ego dan “diri” saya yang menentukan bukan?😕

    Ndak… maksud saya, ketika forum sedang membicarakan soal teisme to begin with, mendadak ada orang bawa2 nama besar tersebut. Kierkegaard, Sartre, dan siapalah itu, mendadak keluar dalam diskusi bertema: “what do you think of God?”

    Oh… begitu…😆
    Ya, ya. Sering diawali demikian, benar. Akan konyol memang jika justru menyimpang jauh dari cakupan yang (pernah) dibahas oleh mereka. Kalo cuma buat nebeng bergaya intelek… memboringkan memang😀

    Yang menjengkelkan, orang jenis ini menyerang seenaknya. Main kritik agnostisisme (”kalau tidak teis Anda ateis!”), terus sitir sini-sitir situ. Seolah-olah nama besar itu dipakai buat amunisi saja. Padahal dasar argumen lawan bicara nggak ngerti.😐

    Bisa dipahami😉
    Menjadikannya sebagai bahan buat nge-mob saja, bukan?😀

    Saya nggak mempermasalahkan kalau mereka mau bilang Jaspers, Eliade, dkk buat membela agama. Argumen mereka mungkin nggak salah — but they definitely missed something fundamental. Dan yang fundamental itu terlupakan gara2 semangat mau mengkritik lawan debat.

    Yang digaris-bawahi itu seringkali benar, dan memang seringkali merupakan trik dalam berdebat. Saya nggak tahu istilah ilmiahnya apa, tapi kalo dalam debat politis, itu mirip-mirip gaya mengelak staf Gedung Putih saat skandal Watergate yang membuat Nixon malu dulu. Menjawab/mengajukan pertanyaan yang justru bukan jawaban/pertanyaan fundamental😀

    Ini seperti orang melihat desain mesin bakar (fisika klasik), lalu memprotes: “Wah nggak bisa! Ini berdasarkan hukum Newton! Sementara relativitas Einstein sudah menghancurkan mekanika Newton!”

    Pernyataan itu nggak sepenuhnya salah. But there is something awfully amiss with that.

    Disepakati🙂

    Ya elah… bandingkan saja dengan data dan fakta? Kan seperti saya bilang: go where the evidence leads. Atau literatur keilmuan yang tersedia. Apa susahnya?:mrgreen:

    Benar, cara paling sederhana dan mudah adalah demikian. Tapi, justru data dan fakta itu nggak melulu bisa jadi acuan bagi semua orang. Ada masalah-masalah tersendiri, apakah penerimaan pada data dan fakta itu atau akses ke literatur keilmuan. Jelas kalo ini diskusi di net, memang agak menjemukan kalo nggak mau sedikit repot bertanya ke Mbah Gugel, misalnya. Tapi kalo dalam kehidupan di luar net…🙄

    Kalau ada orang mengkritik tentang evolusi begini-dan-begitu, ada banyak jalan untuk klarifikasi. Textbook, paper, atau referensi kasual seperti website kampus (MIT OpenCourseWare comes to mind) selalu bisa diandalkan. Dan mereka memberi contoh bukti yang bisa direplikasi.

    Akses ilmu, Sora. Akses ilmu… Itu salah satu kendala. Terkadang memang lebih baik ditinggalkan saja. Mengalah nggak akan bikin semua itu menjadi salah😛

    Seperti kata Geddoe di post, kelebihan ilmu alam adalah selalu menyertakan bukti yang verifiable. Orang bisa mereplikasi percobaan lalat buah, atau mengamati resistensi antibiotik, dllsb. Itu data dan fakta.

    Benar🙂

    Semakin orang berargumen dengan data dan fakta, barangtentu kualitas omongannya meningkat. Kan begitu?😀

    Setuju. Saya jelas lebih percaya pada sains in religius-nya Kang Agor daripada kecap-kecap nomor wahid dari sekedar pencatut ayat-ayat pembenaran😀

    Wah, mohon maaf, tapi… level pengetahuan itu nggak ada hubungannya dengan ego. It’s cold hard facts.😉

    Are you sure?🙂

    Saya memegang kukuh sesuatu fakta, apa yang saya yakini benar, tidak dapat tidak akan membawa serta ego saya yang merasa benar dengan apa yang saya anggap benar itu. Apakah itu fakta atau asumi namanya. Tapi… ya ini cuma pendapat saya pribadi sih😕

    Saya mau menilai atau tidak menilai sekalipun, yang namanya gap pengetahuan akan tetap ada. Ada orang yang paham fisika cuma sampai hukum Newton. Ada yang lebih jago, bisa menghitung dengan kalkulus. Yang kuliah MIPA mungkin paham berbagai topik fisika modern. Dan lain sebagainya.

    Waduh! Kalkulus saya cuma C, fismod cuma dapat B. Itu juga udah 1/2 mampus ngejar waktu😥

    Ah benar itu, gap pengetahuan itu memang akan selalu ada. Saya memahami Sartre dan Derrida mungkin lebih ke bidang sosial politik daripada ke urusan lainnya, sementara mungkin ada yang lebih paham pembahasan mereka lebih detil dalam perkara teologi.

    Dan saya percaya, bahwa gap itu ada dalam bentuk gap horizontal atau vertikal. Verikal, dalam artian seseorang lebih tinggi pemahamannya, dan horizontal dalam artian memiliki level pemahaman yang sama tapi fokus pada dua kajian yang berbeda (sebut saja Sartre yang selain politik juga membahas seni. Yang paham seni belum tentu fokus memahami politik).

    Pemahaman evolusi juga begitu. Ada orang yang bisa menjelaskan evolusi sekadar lewat homologi, sementara yang lain bisa menjelaskan sampai population genetics. Bukankah itu menunjukkan adanya perbedaan level pengetahuan?

    😕
    Saya condong pada jawaban “Ya”. Tapi masalahnya, saya lebih percaya utk sedikit sombong menilai kualitas seseorang jika sudah berhadapan secara nyata. Net hanya sarana alternatif😕

    Sama halnya dengan mas Fertob membagi2 pemahaman tentang Sartre. Teman masbro yang kuliah teknik mesin, mungkin lebih paham tentang motor bakar daripada saya. Dan lain sebagainya.

    Jelasnya dia lebih paham daripada saya. Lha itu orang buka bengkel besar😆

    Jadi, ada ego atau tanpa ego, begitulah adanya. Orang yang berbeda memiliki pembelajaran yang berbeda, sumber informasi yang berbeda, dan semangat belajar yang berbeda. Mematok level bukan berarti mengatakan orang lain lebih bodoh atau lebih pintar — itu lebih ke arah praktis. Orang nggak bisa nyerocos tentang population genetics, kalau lawan bicaranya masih ngotot dengan “fosil peralihan”.😉

    Ada ego dan tidak ego, fakta yang diyakini memang akan tetap begitulah adanya. Tidak berubah. Tapi menyingkirkan ego dalam diskusi itu… bukan perkara gampang agaknya. Ini macam sentilan bang fertob di postingan saya ini😉

    Tapi tetap saja perbedaan itu ada. Suka atau tidak. Makanya ada sekolah, kampus, dan forum diskusi.😆

    Ahahaha.. sepakat!

    Dunia yang homogen tidak menarik, bukan?😆

    Diajak chatting aja kalau begitu. Kalau nge-lag, berarti dia buka wikipedia dulu sebelum jawab.:mrgreen:

    Sudah pernah.
    Dalam posisi awak yang pake wikipedia: “Yeah right! Put your own entry in that shit (wikipedia) and you too shall be right!”😆

    Dalam posisi awak offline dari wikipedia: “Menurut wikipedia, Bang, bla bla bla…”

    Dan, “Tapi kamu memahaminya bahwa efek lorentz itu bla bla bla tidak?”

    Maka, “Pokoknya wikipedia sudah bilang begitu! Ini wikipedia, Bang!”

    Kesel nggak? Awak tanya pemahamannya dia, tapi dengan enaknya membentengi diri dengan “pokoknya ini entry dari sana!”😆

    *rakit pentungan*

    Masuk akal sih…😕

    Mungkin bukan perkara masuk akal saja, tapi juga menghindari keterpesonaan:mrgreen:

    Biasanya sih ada proses… dengan interaksi lewat Y!M atau bahkan semacam kopdar, atau diskusi begini, dan status “dog” itu dilenyapkan satu-satu.. Itu sebabnya saya jadi bisa lebih percaya sejumlah celoteh2 dalam diskusi komunitas Wp.com ini😎

    Ini mengingatkan saya sama post lamanya DB: “In the internet, nobody knows you’re a God dog.”
    :mrgreen:

    :mrgreen:

    Harusnya “matahari mengelilingi bumi”. Mohon maaf ketidaknyamanannya.😛

    😆

    Typo itu jemariwi (manusiawi itu absurd).

    *BTW ternyata komen saya panjang banget. harus belajar nulis lebih ringkas, ini*😕

    IMHO, saya lebih suka diskusi dengan komen panjang-lebar begini. Konstruksi sosial yang disumpahi Geddoe begini yang bikin saya lebih nyaman berdiskusi, serasa bicara langsung, daripada kata-kata yang ringkas dan mirip textbook.

    Tapi terserah kebijaksanaan empunya blog sih:mrgreen:

  37. @ goldfriend

    Jadi, topeng yang baik itu seperti apa? Semakin tebal semakin baik? Atau sebaliknya?🙂

    @ sora9n | Abuya Tgk. Alex©

    Ya yang mesti digarisbawahi ya itu tadi; kalau sudah banyak unsur humanioranya, pakaian itu semakin tebal. Semua diskusi Masbro-Masbro berdua ini yang mengarahnya ke situ.

    Saya tidak bilang itu jelek atau bagus. Cuma, itulah kenyataanya. Dan saya kadang kesal dibuatnya.

    * * * * *

    p.s.

    Yang mana? Soal “baju berlebihan” atau level pemahaman evolusi?😛

    Soal baju berlebihan.

  38. @ Geddoe :

    Jadi, topeng yang baik itu seperti apa? Semakin tebal semakin baik? Atau sebaliknya?🙂

    Hehehehe…. topeng itu tidak bisa dinilai dari tebal-tipisnya, sebenarnya. Tebal-tipisnya hanya membuat seberapa besar kita bisa “diintip” oleh orang lain.🙂 Yang lebih tepat adalah seberapa baik kita berganti-ganti topeng dalam berbagai situasi kondisi, dan seberapa baik kita memerankan peran yang dimaksud oleh topeng itu.😆

    Karena, pada dasarnya, kepribadian itu adalah topeng.

    *tapi seringkali saya menganalogikan agama dengan pakaian*:mrgreen:

    @ Alex | Sora :

    Sorry kalau digabung.😉

    Boleh jadi benar. Tapi itu berlaku dalam hal eksak, bukan? Kalo masalah filosofi dan teologi, mana yang sungguhan dan mana yang tidak itu sukar ditakar, jika bukan malah akhirnya berpulang pada subjektifitas masing-masing.

    Intinya adalah: go where evidence leads. Kalau saya dibilang “hijau” sama orang yang percaya matahari mengelilingi bumi, ya, saya bisa bilang apa?😆

    Jadi ingat serial CSI yang saya nonton.🙂

    Kalau soal evidence, yang membedakan ilmu-ilmu eksak dan humaniora adalah bagaimana mengartikan evidence itu. Pada ilmu eksak juga ada penafsiran-penafsiran berbeda atas suatu bukti yang pada dasarnya sama. Mekanika Kuantum juga seperti kan ? CMIIW. Teori tentang kosmologi juga begitu.

    Jikalau suatu evidence dalam ilmu eksak dikatakan “pasti”, “tepat” dan kata lainnya yang setara dengan itu, maka di ilmu humaniora, evidence tidaklah se-rigid itu. Metodenya berbeda dan pemahaman atas evidence juga berbeda. Kata yang sering dipakai misalnya adalah “adequate” dan bukan “fit” or “precise”.🙂

    Ilmu humaniora sering bermain dengan hipotesis yang longgar dan latar belakang teori yang “secara adekwat cocok”. Misalnya teori clash of civilization-nya Huntington didasarkan adanya suatu hipotesis dan pengambilan sampel dari beberapa kejadian yang arahnya mendukung kesana. Subyektivitas dan dasar-nilai peneliti memang lebih besar di ilmu humaniora daripada eksak. Dengan kata lain, ilmu humaniora itu lebih tidak bebas-nilai daripada ilmu eksak.

    Ilmu eksak bisa menjadi seperti humaniora, tetapi resikonya berat, karena yang dipermainkan adalah evidence-nya. Seperti kasus Piltdown Man di Evolusi.😆

    Dipikir-pikir, ini menunjukkan bahwa mas Fertob pun tak lepas dari hobi “berpakaian mewah”. Jangan-jangan ini gejala umum di blogosphere. ^^a

    Hahaha… kalau ada yang menghajar saya dengan pentungan yang saya juga punya, maka saya lebih senang pake pentungan yang sama untuk menghajarnya kembali. Jadi semacam adu pentungan.

    Dia hajar pake Big Bang, saya balas dengan Big Bang atau teori lain yang relevan. Dia hajar saya dengan Sartre, kan lebih enak pake Sartre untuk hajar balik, daripada saya pake Einstein yang tidak saya pahami.

    Kalau saya yang babak belur gara-gara itu, ya tinggal mengaku kalah.🙂 Atau bisa saya ajak dia pake pentungan lain yang saya lebih kuasai. Sama dengan pembukaan main catur, saya lebih senang Gambit Menteri daripada yang lain.🙂 Sori kalau lari kemana-mana.

  39. Sekedar tambahan tak penting.

    Saya lebih suka pakai celana jins dan kaus warna hitam. Dan sekarang setelah bergerak di bisnis pun masih kebawa-bawa. Sering lupa kalau pergi utk urusan bisnis masih pakai pakaian yang “anak muda banget”. Orang lain jadi nggak yakin kalau saya punya duit utk bisnis.

    Ya, saya cuma komentar, “jangan lihat pakaiannya, tapi lihat pembayaran pajaknya”.😆 Masalahnya, saya termasuk taat bayar pajak.

    Hidup Pajak…. Lho..???:mrgreen:

  40. @ Alex

    Seperti yang sudah disampaikan sama Geddoe, IMHO sebenarnya masalah “menerima benar atau salah” ini bisa dikerucutkan jadi problem: “ada bukti obyektif atau tidak?”.

    Saya rasa itu poin pentingnya. Kalau ada bukti tegas yang bisa disepakati semua orang, akan lebih mudah membangun kesamaan persepsi.

    Ini sebabnya saya lebih condong ke ilmu alam daripada filsafat/ilmu sosial pada umumnya (mengecualikan studi kualitatif dengan survei dsb.-nya). Sebab kalau tidak ada bukti atau pendekatan kualitatif, semua orang jadi berpotensi benar. Enggak salah sih, cuma rasanya kok rada gimanaaa gitu. ^^;

    Mungkin bukan perkara masuk akal saja, tapi juga menghindari keterpesonaan:mrgreen:

    Ah, masa. Setahu saya banyak kok wanita tertarik pada jenis cowok misterius…:mrgreen:

    *dipentung*

    :::::

    @ Abu Geddoe

    Soal baju berlebihan.

    Hoo, ini sempat saya mulai tulis dalam bentuk draft, tapi sampai sekarang belum lanjut. Kalau idenya lancar mungkin akan saya sempatkan. ^^

    :::::

    @ goldfriend

    Kalau soal evidence, yang membedakan ilmu-ilmu eksak dan humaniora adalah bagaimana mengartikan evidence itu. Pada ilmu eksak juga ada penafsiran-penafsiran berbeda atas suatu bukti yang pada dasarnya sama. Mekanika Kuantum juga seperti kan ? CMIIW. Teori tentang kosmologi juga begitu.

    Yup, begitulah. Saya sendiri asyik saja dengan ilmu sosial kualitatif semacam psikologi, antropologi, atau sejarah. Yang saya agak kurang sreg itu adalah kalau ilmu sosial terlalu bergantung pada analisis dan brainwork, tapi obyektivitasnya rendah (e.g. filsafat, teologi, politik).

    Misal: apakah Tuhan itu ada, tidak ada, atau ada banyak dewa di atas sana, semua orang boleh berpendapat. Ada begitu banyak pendapat tanpa petunjuk sedikitpun mana yang benar. Jadinya kok seperti dialog anak kecil.😆

    (i.e. “Papaku lebih jago daripada papamu!!”)

    Saya lebih suka pakai celana jins dan kaus warna hitam. Dan sekarang setelah bergerak di bisnis pun masih kebawa-bawa. Sering lupa kalau pergi utk urusan bisnis masih pakai pakaian yang “anak muda banget”. Orang lain jadi nggak yakin kalau saya punya duit utk bisnis.

    Bahhh… =_=!

    Jadi ingat tempo hari. Waktu itu saya lagi jalan sama saudara saya yang udah ngantor (umur gak beda jauh). Dia ini ke mana-mana selalu pakai hem dan sepatu.

    Nah, saya pakai kaos oblong dan celana bahan.

    Dan pas tante saya melihat…

    “Waah, kelihatan ya yang udah kerja. Gayanya dewasa gitu lho!”

    Dan sejak saat itu, saya memutuskan untuk selalu pakai kaos oblong buat jalan-jalan.:mrgreen:

    *jiwaPemberontak*

    *hedooppp*😎

  41. @ goldfriend

    Hehehe, betul juga. Tapi sebenarnya kepribadian yang tanpa topeng itu ada tidak sih?

    Saya lebih suka pakai celana jins dan kaus warna hitam. Dan sekarang setelah bergerak di bisnis pun masih kebawa-bawa. […] Orang lain jadi nggak yakin kalau saya punya duit utk bisnis.

    An ounce of image is worth a pound of performance.”
    — L. J. Peter:mrgreen:

    BTW itu kalau di psikologi bukannya, apa namanya, “kemiskinan kognitif”? Cognitive miserliness? Manusiawi ‘kan itu?😕

    *bukan orang psikologi*

    @ ahgentole

    …😕

    @ sora9n

    Hoo, ini sempat saya mulai tulis dalam bentuk draft, tapi sampai sekarang belum lanjut. Kalau idenya lancar mungkin akan saya sempatkan. ^^

    Ditunggu.🙂

    Dan sejak saat itu, saya memutuskan untuk selalu pakai kaos oblong buat jalan-jalan.:mrgreen:

    Saya bahkan tidak tahu bahwa di dunia ini ada tipe baju yang lain selain kaos oblong.

Comments are closed.