Selera Humor yang Tinggi

Nah. Mas Gentole di [sini] sempat menyinggung tentang selera/rasa humor yang tinggi. Tiba-tiba saya jadi berpikir; saya memang paham maksud pesan yang disampaikan, tapi mari OOT. “Selera humor yang tinggi” itu apa?

  • Menganggap banyak hal sebagai sesuatu yang lucu. Yang biasanya tak dianggap lucu, juga dianggap lucu.
  • Atau sebaliknya: hanya menganggap lucu apa-apa yang berkelas dan benar-benar lucu. Lucu-lucuan yang jamak dianggap lucu oleh orang yang selera humornya rendah, tak lagi dianggap lucu.
  • Menganggap lucu apa-apa yang dianggap lucu oleh orang-orang yang berselera/berstatus sosial tinggi.
  • Atau ada lagi?

Bisa juga diterapkan ke “selera seni yang tinggi”, atau “selera musik yang tinggi”, atau apalah yang sejenis. “Selera yang tinggi” itu maksudnya semakin selektif atau semakin apresiatif?

19 thoughts on “Selera Humor yang Tinggi

  1. Hahaha…Geddoe lagi berusaha mendekosntruksi semua istilah nih. Oke, oke. Jadi begini, sebenernya bukan cuma selera seni dan selera humor saja, selera makan juga ada hirarkinya. Dan hirarki ini tentu tidak ada kaitannya dengan kenyataan obyektif bahwa sesuatu itu memang lebih tinggi dari yang lain. Kawan saya beberapa hari lalu masak sop akar lotus (bahasa Indonesianya apa yah?), dan rasanya tidak enak, tapi kata kawan saya: “this is an acquired taste”. Dan saya ingat kawan2 yang sok ngerti wine dan juga kutipan Ananda Sukarlan waktu saya wawancara dia. Musik klasik itu ibarat anggur, awalnya enggak enak, lama-lama ketagihan. Ada kesan memang bahwa “acquired taste” itu eksklusif, bahwa hanya orang-orang yang bergelut di bidangnya saja [yang sudah mencoba semuanya] yang bisa mengerti/merasakan yang dia bilang “selera humor tinggi” (baca: humor yang sangat garing) atau “seni tinggi” (baca: lagu yang kagak enak didengar, atau lukisan yang gak jelas) atau “anggur yang baik” (minuman sepet kampret, mending minum es kelapa😀 ). Jadi, ini sebenarnya hanya konstruksi sosial belaka. Persis seperti apa yang dikatakan para feminis ketika mereka merasa perempuan dilecehkan. “Siapa bilang perempuan kerjannya cuma bla bla la!”

    Nah, tapi saya kira dalam kasus “selera hunor tinggi”, frase itu bisa juga dinisbahkan kepada orang yang “pandai melucu”.” Kalo orang sering melucu dan gak bisa melucu, selera humornya rendah. Tapi yah saya juga bingung sih; apakah selera humor tinggi itu merujuk ke orang yang “kagak tersinggungan” atau ke orang yang menganggap semua lelucon itu lucu.😕 Ah, ini sih masalah bahasa. Agak ribet, karena bahasa itu konsensus, fakta sosial. Gak bisa direkayasa begitu aja.

  2. selera humor tinggi = ketawa hanya saat ketika humor yang memiliki tingkat paramater kelucuan yang tinggi pula, bukan begitu?

  3. @ ahgentole

    Wah langsung dibales.😀

    Saya bukan ngomongin soal kualitas inheren “barang”-nya, sih. Itu ‘kan memang semacam konstruksi sosial yang alami; budaya, meme (yang ada terlepas dari benar tidaknya mimetika) yang berseliweran. Walau kadang jadi membingungkan juga, sebab kalau suka karena dibiasakan, semua subkultur dari yang elit sampai yang lowbrow macam hardcore punk juga bisa bikin nagih. Mana yang lebih valid ‘kan bikin bingung.

    Tapi intinya ‘kan tetap “selera x tinggi” itu maksudnya menjadi lebih selektif atau lebih apresiatif? Misalnya “selera humor tinggi”, itu maksudnya mulai menganggap bahwa Warkop DKI itu garing, atau mulai menganggap lucu hal-hal yang betul-betul garing macam anekdot-anekdot klise? Senada dengan itu, “selera seni tinggi” itu maksudnya ganti bacaan menjadi Bellow dan mengkritik Rowling/King sebagai sampah, atau sebaliknya, jadi gemar melihat barang-barang remeh (packaging produk dsb.) sebagai seni yang elusif? Atau gampangnya lagi, “selera makan yang tinggi” itu maksudnya cuma mau makan kaviar, atau semakin rakus memakan segala jenis lauk pauk?

    Jadi sebenarnya tak terlalu menjadi perkara estetika atau artistic merit. Lebih ke menyelidiki makna istilah ini saja. Ambigu soalnya.

  4. @ aris

    Wah, welkam bro.🙂

    selera humor tinggi = ketawa hanya saat ketika humor yang memiliki tingkat paramater kelucuan yang tinggi pula, bukan begitu?

    Berarti lebih ke “pilih-pilih” / “susah dibikin ketawa” ketimbang “gampang menemukan humor dari berbagai sumber”?

    Pilihan ke-2, dong.😀

  5. Menurut saya, selera humor yang tinggi itu artinya gampang melihat apa-apa jadi sumber lelucon. Gempa jadi lelucon, sakit selesma jadi lelucon, bahkan Perang Teluk pun jadi lelucon. Jadi seninya adalah melihat sisi lucu dari segala situasi baik maupun buruk, dan itu ngga ada hubungannya dengan kelas sosial.

  6. selera humor tinggi….

    Hmmm…. apa ya?

    menurut saya kata “tinggi” itu berdasarkan kadarnya. Jadi gampang merasa lucu.

    beda sama selera seni yang tinggi. yang berarti menyukai seni-seni rumit dan dibuat oleh seniman terkemuka.

  7. Humour or humor is the tendency of particular cognitive experiences to provoke laughter and provide amusement. Many theories exist about what humour is and what social function it serves. People of most ages and cultures respond to humour. The majority of people are able to be amused, to laugh or smile at something funny, and thus they are considered to have a “sense of humour.”

    Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Humor

    lha tinggal dilihat apa saja yg membuat seseorang menjadi terhibut (hibur itu apa ya?). masalah “tinggi” dan “rendah” kayaknya bisa dikaitkan dengan tingkat intelektualitas atau kepribadian seseorang, sesuai sudut pandang orang yg menilai. kalo terhibur karena merasa lebih pintar/superior, berarti ketololan/kelemahan orang lain juga bisa menjadi hal yg lucu. kalo anak-anak itu kan biasanya juga dianggap lucu… berarti melihat tingkah anak kecil juga menghibur… *pusing*:mrgreen:

  8. saya lebih melihat yang kedua..selera humor tinggi itu waktu lelucon yang “biasa” didengar dan terlalu jelas dan gamblang itu jadi ga lagi lucu..
    tapi bukan berarti pilih-pilih sih..mungkin lebih ke “ah ini sih udah biasa, ga lucu”
    *itu pilih2 juga ya?*
    *garuk2 kepala*

  9. Bagaimana dengan humor yang sudah dicicipi duluan lalu begitu diceritakan ulang, dianggap Basbang adanya? Apa rentang waktu juga bikin sebuah humor jadi bermutu rendah atau cuma yang sudah duluan mungkin jadi (merasa) lebih tinggi dalam memandang humor yang dimatanya sudah kuno?😕

    Saya sering dikritik juga sih, kalo soal begini. Extravaganza, misalnya, yang di mata saya Luna Maya itu garing, gagal melucu, tapi di mata teman yang lain bisa jadi lucu. Entah karena melihat Luna Maya-nya, merasa ndak etis menertawakan kegagalan selebriti cantik idamannya melucu, atau karena memang lucu, entah. Dan… saya sendiri kalo sudah melihat Nona Luna Maya segaring itu, lalu menertawakan kegagalannya melucu, apa strata intelektual saya dalam berhumor otomatis jadi naik? Ini memang masalah yang subjektif, bukan?:mrgreen:

  10. @ S. mcduck

    *klik*
    .
    .
    .
    *ngakak*

    Benar-benar dunia yang lucu, bahkan utk humor bisa dibuat piramida ala statistik begitu. Bisa dipetakan abstraknya selera ini😆😆😆

  11. @ Snowie

    Wah, ini menarik. Sebab dua penerapan konsep “selera tinggi” diartikan secara berbeda; yang satu apresiatif (humor), yang satu lagi selektif (seni).

    @ p4ndu_454kura®

    Mestinya saya buatkan pollnya, ya.😕

    @ sitijenang

    Jadi, pilihan 1, 2…?

    @ grace

    Berarti bersifat selektif.

    @ Alex© | S. mcduck

    Nah, ini jawaban yang memuaskan. Jadi menurut Kerucut Humor Bebek™ ini, sebaiknya dibedakan antara yang selektif dan yang apresiatif. “Tinggi” itu sebaiknya dikaitkan dengan yang pertama, dan yang kedua, diberikan atribut “luas”. Bagus, bagus.

    (Di sini tentunya “kelas” yang dipakai berkaitan dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan relatif yang dibutuhkan untuk mencernanya, betul?)

    Apabila ada yang mengganjal, masalahnya tentu karena kosakata yang jamak itu adalah “tinggi”. Jadi kadangkala banyak yang maksud hati menyatakan “luas”, tapi menyebut “tinggi”.

  12. Kelihatannya termasuk “tinggi”. Sebab berbau otokritik, agak serius. Black humourlah.

    Tapi… kata saudara saya (dan saya “agak setuju”) penertawaan diri itu di depan khalayak justru bunuh diri karakter dengan tidak lucunya.

    Misal saja Tukul, atau pamer kebodohan dan cacat diri sendiri di lawakan Srimulat. Kesannya sih… memang norak…😕

    Tapi, ya… ini memang tak jauh2 dari selera penilai😀

Comments are closed.