Mengapa Memberi Link ke Wikipedia?

Cara menulis saya seringkali dikritik karena terlampau sering memberi link ke Wikipedia. Memang seringkali dalam menulis, beberapa jargon atau informasi lainnya perlu “dijelaskan”, beberapa punya signifikansi dan/atau obskuritas yang cukup tinggi untuk diberikan suatu link menuju informasi lebih lanjut.

Ah, Anda pasti sudah familiar. Contohnya ya seperti ini:

Kemarin saya dan istri menikmati hidangan boeuf bourguignon dan cassoulet bebek, ditutup dengan semangkuk semla tradisional dengan siraman susu panas.

Ini tentu levelnya berbeda dengan, misalnya;

Kemarin saya dan istri menikmati nasi Padang dan gado-gado, ditutup dengan tiga belas porsi es serut.

Maksudnya tentu bukan dari level konten, prestise, atau harga, melainkan familiaritas. Kadang beberapa istilah, nama, atau elemen apapun di tulisan, tidak terlalu familiar di telinga pembaca. Oleh sebab itu, penulis semestinya (dan biasanya), menyediakan link menuju suatu halaman web lain yang menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk mencerna tulisan tersebut secara keseluruhan.

Secara umumnya sih seperti itu; walau secara praktek memang penerapannya bervariasi. Sulit diformulasikan, tapi rasa-rasanya kita, apabila menulis, akan langsung bisa membedakan bagian mana yang mesti diberi link.

Nah, masalahnya, link ke mana?๐Ÿ™‚

Ada banyak pilihan. Misalnya, saya menulis sesuatu tentang serial animasi komedi-romantis-lesbian-sedap-asoy Maria Holic. Beberapa metode yang bisa saya pikirkan adalah;

Saya bisa memberi link ke:

…mesin pencari: [Maria Holic]
…situs resmi: [Maria Holic]
…suatu artikel yang dianggap komprehensif: [Maria Holic]
…suatu database spesifik (IMDB, dsb.): [Maria Holic]
…Wikipedia. [Maria Holic]:mrgreen:

Nah, perkaranya, Wikipedia seringkali diragukan keabsahannya oleh beberapa orang. Sifat Wikipedia yang terbuka dan sukarela, membuat kontennya tidak memiliki kredibilitas yang terlalu tinggi. Jelas, proyek ini juga masuk ke dalam daftar hitam situs yang tak boleh dijadikan referensi dalam karya ilmiah. Bukannya berarti isinya salah, cuma tindakan preventif, hanya jaga-jaga.

Tapi saya selalu memberi link ke Wikipedia.

Nah, ini bisa merepotkan, biasanya kalau sedang berdiskusi โ€” apalagi diskusi yang panas. Lawan bisa menembak: “ah, pakai Wikipedia!” Jderr!๐Ÿ˜€ Kesan yang timbul ya bisa saja kita dianggap naif dan superfisial. Belakangan, lewat sebuah diskusi (di mana ini terjadi), saya jadi teringat, bahwa saya dan beberapa kawan kerap disulitkan oleh yang seperti ini; seorang sahabat seingat saya pernah diteriaki menuhankan Wikipedia. Ada-ada saja.

BTW, namanya Wikipedia,
bukan 'Wiki'.

Ya, sebenarnya bukannya saya tak mampu menyajikan link yang lebih “berkelas”, tapi ini masalah konsistensi. Saya nyaris selalu memberi link ke Wikipedia. Saya meyakini (halah) bahwa Wikipedia itu starting point yang paling afdhol dalam memperkenalkan suatu konsep. Memang tak terlalu ilmiah dan akademis, tapi ‘kan pembaca tak perlu menguasai bidang yang bersangkutan?

Memberi link ke mesin pencari terlalu abstrak (dan ujung-ujungnya, biasanya entri teratas adalah Wikipedia), ini menurut saya menyulitkan pembaca. Situs resmi biasanya terlampau berat, dan pun belum tentu jelas dan to the point. Menge-link ke “artikel yang spesifik” tidak berpola, inkonsisten, dan rawan broken link. Alternatif yang menurut saya cukup baik adalah link ke suatu database (seperti layaknya Internet Movie Database), tapi tak semua topik punya database yang relevan.

Ergo, hidup Wikipedia!๐Ÿ˜› Sebab kalau menggunakan Wikipedia, biasanya semuanya bisa lebih efisien. Misalnya beef bourguignon di atas, bukankah lebih bijak apabila disambungkan ke halaman dengan penjelasan padat;

Beef Bourguignon (French: Bล“uf bourguignon) is a well-known, traditional French recipe. It is essentially a stew prepared with beef braised in red wine (preferably an assertive wine such as Burgundy, for which the dish is often known as beef burgundy) and beef broth, generally flavoured with garlic, onions, carrots, and a bouquet garni, and garnished with pearl onions and mushrooms.

…lengkap dengan gambar hidangan yang bersangkutan? Segala hal yang mungkin diperdebatkan dalam akurasi artikel tersebut terlalu akademik dan sepele dalam konteks yang kita gunakan. Memangnya kenapa kalau Wikipedia menyebutkan bahwa seorang penyanyi memiliki tinggi badan 170 cm, dan beberapa sumber lain menyebutkan kalau tinggi yang sahih adalah 172? Peduli setan, sebab seringkali yang diperlukan hanyalah supaya mengetahui garis besarnya saja.

Dan, tentunya, membiasakan memberi link ke Wikipedia mempromosikan konsistensi, URL yang “bersahabat”, serta, loading-nya biasanya tidak pakai lama.

Makanya saya selalu link ke Wikipedia. Kalaupun Anda ingin akurasi yang lebih tinggi, saya kira bisa menyertakan link tambahan.

Gitu aja kok repot.

* * *

p.s. Saya bukan ahli makanan. Semua makanan aneh di atas saya pilih secara acak dari daftar makanan-makanan gedongan yang saya dapat dari… Wikipedia.

29 thoughts on “Mengapa Memberi Link ke Wikipedia?

  1. Saya, kalau di forum langganan, kalau bikin username baru selalu dikenali karena tiap kali merujuk ke wikipedia๐Ÿ˜›

    Tetapi saya selalu bisa mencari sumber lain. Hanya saja, biasanya starting point pertama memang wikipedia.

  2. @ kunderemp

    Dikenali? Mungkin kemampuan Masbro masih perlu diasah.:mrgreen:

    *dilempari*

    Tetapi saya selalu bisa mencari sumber lain. Hanya saja, biasanya starting point pertama memang wikipedia.

    Wikipedia memang fungsinya starting point. Dan itulah yang dibutuhkan buat link-link seperti itu. Efisiensi lebih perlu ketimbang komprehensi.

  3. *manggut-manggut*
    *mengelus jenggot*

    Mungkin lain kali nge-link ke knol.๐Ÿ˜€

    Tapi bro, mungkin beliau2 yang memfitnah menuhankan wikipedia tidak bisa melihat sumber yang obyektif.

    Mungkin, mungkin ya… kalau ngelinknya ke eramuslim atau sabili (dan entah mana lagi) mereka lebih percaya. Kan wikipedia itu buatannya orang barat, kafir!! Sementara situs mereka buatannya saudara sendiri gitu, bro. Sekalian meningkatkan pagerank di Google.

    Harusnya dibikin standarisasi penulisan link. Kalau informasi umum ke wikipedia, kalau hoax ke snope, kalau film ke imdb, kalau lirik ke sing365, dlsb. trus ntar kita bikin ISO 9001 : Blogging and Linking untuk mensertifikasi blog yang konsisten dalam linking.

  4. Saya pernah punya masalah dengan Wikipedia.๐Ÿ˜ฆ Tapi yah namanya juga informasi, yah harus disaring, tapi kadang kecolongan juga. Saat ini hanya Wikipedia yang bisa diandalkan untuk memberikan informasi tambahan. Bukan karena wikipedia “terpecaya”, tetapi karena Wikipedia itu lengkap dan cukup komprehensif, apalagi untuk urusan yang kecil-kecil/umum kayak nama makanan atau tempat. Untuk isu2 berat macam teologi, sejarah dan politik kayaknya susah.

  5. @ dnial

    Eh, tapi tulisan ini sama sekali tak menyerang kaum sayap kanan, lho, Masbro. Kebetulan saja kasus-kasusnya sering menyangkut mereka.

    Harusnya dibikin standarisasi penulisan link. Kalau informasi umum ke wikipedia, kalau hoax ke snope, kalau film ke imdb, kalau lirik ke sing365, dlsb. trus ntar kita bikin ISO 9001 : Blogging and Linking untuk mensertifikasi blog yang konsisten dalam linking.

    *ngakak koprol*

    Ada kepentingan tersendiri dalam standardisasi ini…๐Ÿ™„

    Terutama sing365! Promosi terselubung!๐Ÿ‘ฟ

    @ gentole

    Tergantung kegunaan, Masbro. Apabila kita memperkenalkan konsep x, kadang yang dibutuhkan hanyalah jawaban dari pertanyaan “apa sih x?”, dan kadang lebih berat, “apa sebenarnya detail dari x?”.

    Saya lihat sih kebanyakan hanya ingin mengilustrasikan garis besarnya saja. Makanya saya lebih memilih Wikipedia. Sebab, it works. Kalau cuma garis besar, Wikipedia sudah efisien.

    @ Disc-Co

    *jahit plush doll Wikipe-tan*

  6. Terutama sing365! Promosi terselubung!๐Ÿ‘ฟ

    Itu… anu… kepencet.๐Ÿ˜€

    Tapi intinya, ntar dibikin komite standarisasi lah…
    ISO berapa ya?

  7. Yup, setuju kalau Wikipedia itu starting point kita. Tetapi yang sering saya lihat dari wikipedia itu pranala (link) yang diberikan di bagian bawah. Terkadang sumber luar, meskipun tertulis sebagai sumber tulisan di wikipedia, menjelaskan lebih baik daripada tulisan di wikipedia itu sendiri.

    Setuju juga dengan Gentole, bukan karena wikipedia itu terpercaya tetapi lebih melihat sisi praktis dan komprehensifnya saja.

    *masalahnya, tulisan saya ada yang dijadikan sumber di id.wikipedia*๐Ÿ˜†

  8. @ goldfriend

    Sepakat. Fungsikan sebagai starting point dan selanjutnya gunakan pranala luar. Makanya saya bilang, efisiensi kadang lebih perlu dibanding komprehensi.

    *Ah, tulisan yang itu…*:mrgreen:

  9. Betul ya Abu, janganlah terlalu terpaku pada Wikipedia. Sekali-sekali gunakanlah referensi yang lain, seperti Uncyclopedia atau Conservapedia…๐Ÿ˜†

  10. Kalo saya pribadi ada 2 alasan mengapa pake Wikipedia:
    1. Tak banyak waktu buat mencari tautan sejenis ensiklopedia lain di mesin pencari.
    2. Tautan lain terlalu minim muatan infonya.

    Sedapat mungkin saya lebih suka ke tautan resmi langsung. Misal, jika tentang Frank Sinatra, sedapatnya ya merujuk ke about di situs resmi tentang dia. Itu juga kalo sempat๐Ÿ˜€

    Selain dari itu, saya memilih tidak memberi link, apalagi kalo entry di wikipedianya ahem… terlalu menarik… Mau boso inggris atau indon ya sama saja๐Ÿ˜›

    Itu lho Ged… seperti entry tentang almarhum sidpisius:mrgreen:

    [OOT]
    saya lebih suka pake bhs Indonesia kalo bahasannya Indonesia. Setidaknya mungkin ada yg tertarik memperkaya entry di sana๐Ÿ˜•
    [/OOT]

  11. T_T
    Koneksi saya kampret, buka wikipedia bisa bikin gondok.
    Jadi kalaupun tautan-tautan yang masbro sertakan di atas mau di-klik juga, hasilnya ya saya disuruh nongkrongin monitor memelototi loading yang tak kunjung progres…

    *Padahal ingin sekali wikipedia dijadiken tautan buat blog, sesekali*

    [halah, malahCurhatPlusOOT]

  12. Uh… blog “teman2 segenggongblogmu” yang menuhankan Wikipedia?:mrgreen:

    Kalau dalam kasus “CS Adalah Propaganda AS” itu, barangkali butuh rujukan lebih. Definisi Wikipedia?:mrgreen:

    *digampar๐Ÿ˜† *

    Btw, di jurusan saya kayaknya Wikipedia itu tabu sekali. Bahkan untuk penjelasan-penjelasan sederhana saja, kalau ketahuan dari Wikipedia, akan dianggap tidak valid (padahal bukan buat karya ilmiah).๐Ÿ˜•

  13. @ Buya Alexยฉ

    Kalau Wikipedia Indonesia memang saya cenderung menghindari. Yaa, yaa, memang itu “tanggung jawab kita semua” buat memeliharanya, tapi ya, begitulah.๐Ÿ˜•

    @ frost

    Ente pake apaan?

    @ Xaliber von Reginhild

    Bukannya Wikipedia itu buah tangan Jim Wales, yang terkenal liberal dan anti-penyensoran? Jadi kayaknya *beliau* itu tak bakal bersimpati pada Yayasan Wikimedia deh.:mrgreen:

    *lirik kontroversi depiksi Nabi Muhammad*

    Btw, di jurusan saya kayaknya Wikipedia itu tabu sekali.

    Di Universitas saya juga. Saya rasa sih, kebijakan seperti ini rasanya lebih ke menghindari “kemalasan” dan menangkal sikap cari gampang ketimbang kredibilitas.๐Ÿ˜•

  14. Di Universitas saya juga. Saya rasa sih, kebijakan seperti ini rasanya lebih ke menghindari โ€œkemalasanโ€ dan menangkal sikap cari gampang ketimbang kredibilitas.๐Ÿ˜•

    Problemnya adalah :
    1. Wikipedia itu penulisnya anonymous (atau kolaboratif) sehingga nggak bisa dibilang kredibel. Belum lagi bisa diedit tangan-tangan nakal. Pernah di sebuah artikel tentang wikipedia “never wrong for long” lebih jelek daripada “never wrong”. Bandingkan dengan Encarta atau Encyclopedia Britannica yang lebih susah diedit. Mungkin ini soal Cathedral vs Bazaar.
    2. Web itu dinamis, sedang paper yang kita buat lebih statis. Untuk itu biasanya walau diambil di web bibliografi kita juga harus menunjukkan kapan waktu aksesnya. Karena bisa jadi situs itu berubah saat paper itu kita presentasikan/ dibaca orang.
    3. Untuk wikipedia biasanya kita harus milah2. Yang tingkat kredibilitasnya lebih tinggi biasanya masuk featured article.

    But that the case for research paper. If for blog, why so serious?
    Wekekekeke….

  15. well…dalam konteks ini gw menjadikan salah satu artikel di wikipedia sebagai sebuah landasan ^^;;

    tapi memang konteks dalam konteks ini adalah belum adanya landasan/artikel tertulis lainnya untuk subjek yang kubahas

    sama aja boong ya…wakakakaka

  16. Ah, saya juga pernah ditanyai link non-wikipedia waktu nulis2 masalah Operation Cast Lead itu.๐Ÿ˜›

    IMO sih, senangnya pake wiki selain karena relatif komprehensif dan netral, tetap ada tautan sumber referensi dibawahnya dan bersih dari iklan dan link2 ke non-related stuff. Juga ada pemberitahuan kalo keseluruhan atau sebagian artikel diragukan netralitasnya, atau perlu disunting, dan terutama karena di Opera Browser yang kupake, sudah ada default wikipedia search engine di Toolbarnya.:mrgreen:

    Tapi untuk wikipedia Indonesia, hmm…๐Ÿ˜•

  17. @ dnial

    Setuju sepenuhnya.

    @ Dead Snake

    Ya kalo ga masalah ya, bagus deh.:mrgreen:

    @ jensen99

    Ya itu. Seringkali ‘kan penggunaannya tidak perlu seakurat itu, jadi kecuali kasus-kasus tertentu, buat saya sah-sah saja pakai Wikipedia. Kalau cuma buat soto daging (lihat atas), why so serious?

  18. Btw, di jurusan saya kayaknya Wikipedia itu tabu sekali.

    Di Universitas saya juga.

    Jadi ingat pengalaman 1-2 tahun lalu di kampus.๐Ÿ˜•

    Seorang teman sedang merancang slide presentasi di laptopnya. Tanpa sengaja, pandangan saya kemudian terantuk pada salah satu slide buatannya:

    Sumber dan Referensi

    situs X
    situs Y
    http://www.wikipedia.com

    Oh dear.๐Ÿ˜†

  19. Nah, ini bisa merepotkan, biasanya kalau sedang berdiskusi โ€” apalagi diskusi yang panas. Lawan bisa menembak: โ€œah, pakai Wikipedia!โ€ Jderr!

    OHOHOHHHHOHOH…
    itu yg paling gw benci.bukannya fokus ama debat malah mempertanyakan
    sumber.ngehe.
    itu memang cara ampuh untuk bikin orang emosi.

    i suppose it is relevant, to some extent,untuk nanyain sumber info org kalo lagi diskusi, debat, dll. apalagi dengan dilema anonim dan kredibilitasnya wiki. but only to an extent.

    biasanya yg suka usil ngomong “dapet infonya dari wikipedia ya?” memang niatnya untuk disrupt the debate.

  20. @ sora9n

    Bukannya ini blunder pernah dibikin oleh, hmm, apa ya, Lifebuoy kalo ga salah?๐Ÿ˜•

    BTW, [link]:mrgreen:

    @ Irene

    Katanya sih, pernah baca di manaa gitu (ya, ya, ini ga pake referensi), salah satu taktik psikologi buat flaming emang mengaitkan lawan dengan “kehijauan”.

    Misalnya;

    Fallacy? Fallacy? Well, I’ve got a phallus you can see here, college boy.

    ๐Ÿ˜†

  21. Siip, memberi link kan tergantung tujuan. Kalau memang informasi yang diberikan itu harus akurat dan ilmiah ya silakan cari yang lebih berkelas tapi kalau cuma untuk menyajikan pengetahuan umum secara garis besar maka lebih enak pakai wikipedia. Semua ada tempat dan kadarnya:mrgreen:

Comments are closed.