Alamak

Children of BodomHate Me!.

Musik rakyat yang kontemporer itu bisa dibilang amalgamasi dari berbagai segi budaya. Tidak sama dengan musik klasik yang titik beratnya bisa dikatakan hanya pada nadanya. Musik rakyat juga menekankan bunyi, syair, dan konsep-konsep lainnya: terkadang performance art, sampai subkultur-subkultur tertentu. Ujung-ujungnya memang variasi spektrum itu tak ada maknanya, sebab memang ini sudah menyangkut soal selera. Musik klasik secara kultural lebih superior dalam perkara musik murni, dalam artian “perkara komposisi nada”. Musik rakyat berbeda. Misalnya “Street Fighting Man“-nya the Rolling Stones. Walau komposisinya tak terlalu kompleks dan repetitif, toh ia bukan murni kumpulan nada saja; ada syair, nilai historis, bahkan attitude-nya di situ — sehingga kalau mendengar lagu ini, yang terbayang adalah lagu yang dikumandangkan di berbagai unjuk rasa. Belum lagi citra yang dibawakan sosok Mick Jagger yang slenge’an, Brian Jones yang bermain sambil mabuk, Keith Richards yang beringas, dan Charlie Watts yang culun. Musik rakyat itu semacam fusi berbagai budaya modern. Jadi kalau dibilang “musik” juga sebenarnya misnomer.

Nah, kadangkala ini bisa jadi merugikan juga. Sebab unsur-unsur yang dibawakan seringkali tak seimbang. Yang gemar musik metal ekstrim misalnya (seperti [Mas yang ini]), seringkali dihadapkan pada bobot (ya, ya, memang subyektif) yang timpang pada unsur penyusun suatu karya. Metal ekstrim itu aneh. Memang ini genre yang idiosinkratik; musiknya unik dan gampang dibedakan dari genre lain, tapi ia bukan sekadar genre, melainkan subkultur. Jadi, banyak cultural baggage yang mesti terbawa. Dandanan yang nyeleneh, syair yang sok gelap, dan sebagainya. Seringkali jadinya malah lucu.

Contohnya ya Children of Bodom di atas. Waktu didengar memang mantap: megah dan lebih terkesan simfonik ketimbang “berat”. Nah, kebetulan suaranya meraung-raung tak jelas; jadi liriknya pun susah dikenali kecuali membaca buklet.

Dan ternyata…

[lirik]

Waduh, corny sekali ini. Mengutipnya pun saya sudah meringis! Jadi kalau saya mendengarkan Children of Bodom, ya itu karena musiknya saja. Kalau mengabaikan suaranya, sangat mirip dengan komposisi-komposisi Motoi Sakuraba. Citranya saya tak terlalu suka. Kok kekanak-kanakan ya?

Ya jadi pokoknya begitu. Waktu membaca liriknya, tanggapan saya ya singkat-padat.

Alamak.

17 thoughts on “Alamak

  1. hwaduh… liriknya serem betul… bukan lagu satanic kan ya… saya a mudeng kalo lagu macam beginian…

  2. @ khofia

    Hah? Liriknya sih ya iyalah satanik, walau cuma gaya-gayaan doang. Kalo pengen yang menyembah setan beneran itu ya band yang kayak Venom atau Emperor.😕

  3. @ Abu Geddoe

    BTW, menurut Masbro Lambrtz dan Masbro Jensen, saat ini entry-entry musik via YouTube adalah the way.:mrgreen:

    Amen to that…:mrgreen:

    @ frozen

    sebagai orang yang tinggal di dua negeri melayu, mestinya masbro posting entry musik Rama Aiphama dong

    *ngakak*

    Ternyata Syaikh Aris Al-Esensiyah selaen suka Meggy Z juga fans Rama Aiphama…

    Hmm.. Hm.. mudah2an sakit giginya sembuh😆

  4. @ Disc-Co

    Kalo dua Big Four sisanya; Slayer/Anthrax?😛

    IMO Metallica > Anthrax > Slayer > Megadeth. Walau yang komplit didenger cuma Metallica.😀

    @ Buya Alex©

    Hehehe, Masbro mau ikutan posting beginian?

    @ jensen99

    Makanya saya bilang corny. Kalau mau terdengar satanik, juga ada seninya. Misalnya [NIN].:mrgreen: Itu mah kacangan.

  5. @ Catshade

    BETUL!

    Punk itu AFAIK betul-betul kabur batasannya antara musik dan subkultur. Di satu sisi punk bisa diartikan sebagai musik stripped down yang super-sederhana, dulunya berupa respon terhadap prog rock yang kelewat kompleks. Di sisi lain sering diartikan sebagai attitude. Etika DIY dan semacamnya.😕

    Band-band pop punk MTV seperti Simple Plan ya tersandungnya di sini; dilihat musiknya ya memang punk, tapi citranya tidak. Lalu anak-anak punk “sejati” pun berang, katanya itu tidak punk. Maksudnya mereka ya punk sebagai gaya hidup tadi. Di sisi lain juga ada yang kelakuannya punk, tapi musiknya tidak. Tapi susah ya, “pemberontak” itu ‘kan subyektif. Buat saya Ed Ved itu “pemberontak”, tapi buat yang lain ‘kan tidak.

  6. IMO Metallica > Anthrax > Slayer > Megadeth. Walau yang komplit didenger cuma Metallica.

    Hmm, dalam masalah apa nih? Skill-aransemen-lirik-atau lainnya?😕

    Saya Anthrax baru pernah dengar 1 lagu, Slayer hanya 1 album, yang lengkap itu yah Metallica dan Megadeth. Kalau masalah aransemen sih saya rasa Metallica dan Megadeth berada di dalam garis yang sama.

    Tapi kalau lirik, entah kenapa Slayer itu menurut saya liriknya terkesan mewah, sementara Anthrax belum tau banyak.

    Intinya, saya agak setuju sama sampean, gitu.:mrgreen:

  7. @ Disc-Co

    Mewah gimana Masbro? Kalo saya denger sih lirik-lirik Slayer malah agak pasaran, tuh? Yaa walau mungkin di zamannya mereka terhitung orisinil.

    Saya lebih suka liriknya Bang James.:mrgreen:

    @ Irene

    Hah? Masa? Wah, padahal ini Melodic Death Metal doang, mirip banget sama Power Metal. Upbeat ini.

    Kalo gitu, Mbak mesti coba denger Doom Metal… Terutama subgenre Funeral Doom Metal… Ini kebalikannya metal brutal; temponya pelan. Gelap. Serem banget.:mrgreen:

    [Skepticism – “Aether]

  8. Mewah gimana Masbro? Kalo saya denger sih lirik-lirik Slayer malah agak pasaran, tuh? Yaa walau mungkin di zamannya mereka terhitung orisinil.

    Saya lebih suka liriknya Bang James.

    Iya yah? Saya malah bilang lirik mereka di album “Reign in Blood” itu termasuk keren punya lho.😕

    Atau jangan-jangan, terlihat keren karena suara saat nyanyi itu serak sama kayak COB?😯

    Btw, saya sih juga paling seneng sama liriknya Kangmas Hetfield.:mrgreen:

  9. wew..jelengeng ke kuping ini, bikin sakit telinga:mrgreen:
    btw, ndak ada video klipnya? pas saya klik cuma suaranya aja yang keluar.
    soalnya, ngeliat liriknya, membayangkan video klip yang akan dibuat seperti apa ya??? pengen tau

Comments are closed.