Hai, Kunyuk!

“Hai, Mas, sudah lihat update dari blog saya?”
“Hai, Bro, sudah lihat update dari blog saya?”
“Hai, Masbro, sudah lihat update dari blog saya?”
“Hai, Kunyuk, sudah lihat update dari blog saya?”

Ya, ya, tentunya Anda tak sudi disapa “kunyuk”, tapi saya tetap penasaran. Anda suka dipanggil apa?

Ah, buat yang berkromosom XX pun ada:

Untuk identitas seksual yang lain, bisa memperhatikan kecenderungan di antara unsur anima atau animus Anda. Apabila imparsial, boleh isi keduanya.

Dan ini agak serius; bukan buat mengetes fasilitas poll. (Lagipula itu ‘kan sudah basi.😛 )

42 thoughts on “Hai, Kunyuk!

  1. Panggil nama saja😀

    BTW yang saya penasaran dari dulu itu, ide menggabungkan “mas” dan “bro” jadi “masbro” itu asalnya dari mana ya? Saya pertama kali tahu dulu di kaskus sih…

    Atau malah sebenarnya sudah jadi bahasa sehari-hari di sebuah tempat di Indonesia?

  2. Saya ingin dipanggil ‘Catshade-sama’ 8)

    *disambit*

    Mas/Mbak saja nggak masalah sebenarnya, toh saya juga sering memanggil orang lain dengan kata sapaan Mas/Mbak (kadang2 Bung, Pak/Bu juga).😛

    Dan saya tidak pernah bisa merasa nyaman menyebut orang lain ‘masbro’. Terdengar aneh.. dan lawannya apa? ‘Mbaksis’?😕

  3. @ edy

    “Yang bawah” itu yang mana?

    @ S. mcduck

    Bagaimana kalau istri Saudara?

    “Saudara mau makan apa malam ini?”

    Bukankah itu janggal?

    Sebentar… tapi itu… moe…

    @ lambrtz | jensen99 | Catshade

    Saya tidak tahu pasti asal “masbro” itu. Yang pasti kadang saya pakai soalnya merupakan middle ground dari “mas” yang kadang diasosiasikan ke panggilan untuk yang agak lebih tua, dan “bro” yang sering dipakai untuk yang sebaya. Jadi tak terlalu kaku, dan tak terlalu SKSD walau aneh.:mrgreen:

    Dan “mbaksis”… Saya pakai kata itu. Aneh sekali. Tapi kayaknya itu lebih tongue-in-cheek, ya. Aneh betul.

  4. Kayanya kita beda level yah, saya tidak pernah dipanggil seperti yang anda2 sekalian itu ..

    Saya seringnya dipanggil dengan, “Ya Tuhanku” atau bisa juga, “My God” dan kadang juga, “Mon Dieu”..

    :p

  5. Bung, mungkin?

    Kedengaran akrab dan nasionalis™ itu. Ndak ada jurang umur atau status lainnya. Tapi… tidak feminim ya?😕

    Ah, mending panggil nama saja lah.

    Idem sama Edy. Asal jangan yang paling bawah itu: (Lainnya). Ndak pernah dengar ada yang dipanggil “Eh, Lainnya…”😆

    *diusir*

  6. Ini emang agak ribet.

    Eh, Ged, bagaimana kalo “kisanak”.

    “Hai, Kisanak, sudah lihat update dari blog saya?”

    *menunggang kuda berlalu menerjang angin*

  7. Enakan dipanggil nama, jadi gak ketauan kalo masih belum cukup umur.

    Bung sebenarnya juga enak, tapi kesannya tuaaaa banget😛

  8. #goldfriend
    jadi saya ndak salah doms, manggil situ “Om”:mrgreen:

    hm… kalo saya sih, lebi suka dipanggil pake nama saya sendiri aja, asal ndak “Mas” aja deh… *baru kemaren ada yang manggil Mas ke saya😐 *

  9. mina sih lebih senang dipanggil nama saja. Pokoknya asalkan panggilan yang baik -baik saja.
    Kan ga boleh memanggil orang dengan panggilan yang jelek -jelek.
    Tapi kalau memanggil orang lain, saya lebih senang memanggil teteh dan akang

  10. Jadi inget pilihan jenis kelamin saat ndaftar di digg.com. Bukan cuman Male dan Female tapi ada Beau, Belle, Bird, Baron, Baronesse, dll..
    Banyak amat…

  11. Princesss….

    *dilempar sandal*
    [/GakPenting]

    *Serius*

    Mbak ato sis boleh, tapi serius ne lbh suka dipanggil Princes

    *dilempar sandal lagi*
    *kabur*

  12. Sobi… (asal nya dari kata “sobat”. supaya lebih asik jadi “sobi” haha, begitulah…)

    sobi difo, sobi rio, sobi alvin…

  13. gak lengkap pilihannya. gak seru. gak ada yang lebih islami soale.

    seharusnya ada akhi ato ukhti, biar tiap komen kita selalu dapet berkah karena menggunakan bahasa yang paling mulia sedunia akhirat
    :))

  14. saya pake sampeyan aja bagai mana?

    “Hei, apakah sampeyan udah lihat update di blog saya”:mrgreen:

    *stess akut mode :on*

    saya suka dipanggil “sayang” aja deh.

    ….tapi sama orang tertentu aja.:mrgreen:

    Kalo yang manggil bukan orang yang diharapkan, saya tendang ke Black hole tuh orang. Biar nggak bisa balik lagi 😈

    :: Agiek

    Nggak ada hubungannya kali pake Akhi and Ukhti dengan komen yang berkah.

    *mencoba*

    “Akhi, kok komennya nggak penting banget sih?”

    gemana? berkah nggak komennya?😳

  15. Bagaimana kalau istri Saudara?

    “Saudara mau makan apa malam ini?”

    Bukankah itu janggal?

    Sayangnya saya belum beristri, jadi saya tak tahu.😛

    Sebentar… tapi itu… moe…

    Coba buat konsepnya.

  16. @ Rima Fauzi

    Saya seringnya dipanggil dengan, “Ya Tuhanku” atau bisa juga, “My God” dan kadang juga, “Mon Dieu”..

    Terdiam… Ternganga… Menetes,,,

  17. << pengalaman sehari tiga kali dipanggil, ‘mbak’, ‘neng’.
    Siyal..

    Lebih suka dipanggil nama sih, kalau dipanggil ‘Kak’ rasanya enggak pantas. Dipanggil ‘Mas’ jijik, apalagi ‘Om’.

    Ngomong-ngomong ga ada pilihan ‘Kunyuk’?

  18. @alex©

    Bung, mungkin?

    Kedengaran akrab dan nasionalis™ itu. Ndak ada jurang umur atau status lainnya. Tapi… tidak feminim ya?😕

    Di telinga saya kedengaran GOLKAR banget😈 .

  19. @ Fritzter

    Di telinga saya kedengaran GOLKAR banget😈 .

    *ngakak*😆

    Iya sih… di jaman Orba jadi sapaan akrab itu, dari ormas underbownya sampai ke DPP di Jakarta:mrgreen:

    Tapi, AFAIK, kata-kata itu sudah dipakai sejak jaman pra-kemerdekaan lho. Bung Tomo dan Bung Karno misalnya…?😕

  20. Ah, mungkin karena Kopral juga alergi GOLKAR, seperti saya?😆

    *banner anti golkar sudah disiapkan tapi belum sempat2 upload ke sidebar*

  21. @ gentole

    Ah iya! Nona…

    Hohoho…. saya suka kata yang satu itu. Lebih manis dan menggairahkan kedengarannya. Ndak kentara tua, tapi juga bukan abegeh™ rasanya😛

    @ Fritzter

    Ah, mungkin karena Kopral juga alergi GOLKAR, seperti saya?😆

    😆

    *nunggu reaksi Kopral*😆

  22. aku lebih enak dipanggil ‘bang’, udah biasa di telinga sejak sma…

    tapi ‘kisanak’ juga enak di dengar…

    kalau sama yang lebih tua lebih suka kalau dipanggil ‘hai anak muda’

  23. ‘Sayang’ atau ‘Cinta’ saja. itu cukup bgt:mrgreen:

    ohoooi, kok aku jd inget pas lg tugas di lampung / kalimantan sih.

    waktu itu, memanggil para lelaki2 yg sedang ikutan tes dengan sapaan ‘Mas’. tp sejurus kmd berpikir, tidakkah aku terlalu jawa ? bukannya ‘mas’ identik utk pangilan jawa (tengah).

    di bali aja, ‘bli’. di betawi dan medan, ‘bang’.

    dan lain2. jd waktu itu malah jd serba salah, mo manggil apa sama ‘mas-mas’ itu.

    @ lemon : ternyata bukan ‘mbak’ yaaaa😆 uppssttt….

    jijik kl dipanggil ‘mas’ ?? oh, semoga krn anda tidak mengasosiasikan panggilan tsb kepada jelata kelas ‘bawah’ macam tukang ojek, penjaga toko di mangga dua, penjaja nasgor, dsb.

  24. sepertinya panggilan dari jawa seperti mas/mbak lebih mengglobal dibandingkan dari daerah lain con: mpok, teteh, akang, abang, ncing dll😀

  25. saya rasa di Jakarta, panggilan “mas” atau “mbak” tidak hanya di kategorikan middle-low.. tapi dekat dengan isu rasial, jadi banyak orang kantoran minta dipanggil nama atau “pak” atau “ibu” walau masih muda.. apalagi bukan orang Jawa. Biasanya temen cewek saya panggilnya “kak” waktu saya minta panggil “mas” dia gak mau karena terbiasa menyapa tukang bakso dengan “mas” dia juga gak mau panggil “bang” karena itu panggilan buat kenek metromini. Saya terbuka terhadap semua istilah panggilan, namun kurang suka dipanggil dengan nama orang lain atau artis idola.. berlebihan dan kurang pantas.

Comments are closed.