Biografi Nabi Muhammad?

Katanya, jadi seorang selebritas itu tidak enak. Sangat mengganggu bahkan. Ia menjadi seperti penyakit, yang penderita akutnya pun banyak jumlahnya; Kurt Cobain, misalnya, akhirnya bunuh diri. Kompatriotnya, Eddie Vedder, walau masih segar bugar, pun banyak menulis lagu tentang loss of privacy. Contohnya seperti di “Pry. To”, dari album Vitalogy: “P-R-I-V-A-C-Y / is priceless to me“. Memang kadang keluh kesah para orang sukses ini juga bisa memuakkan buat orang biasa seperti saya, (tengok saja rengekan Kid Rock di lagu “Only God Knows Why”: “I guess that’s the price you pay / To be some big shot like I am“, WTH?) toh memang sepertinya golongan selebritas juga bukannya tak punya hal untuk dipusingkan.

Tapi tentunya label selebritas bukan eksklusif buat disematkan di nama para figur budaya pop yang sukses secara komersial, walau dewasa ini sedikit banyak identik. Politikus dan tokoh-tokoh sejarah pun demikian — selama nama mereka dikenal luas, tentu statusnya selebritas. Tokoh-tokoh agama juga seperti itu. Sri Paus, Rumi, sampai para nabi.

Jadi sewaktu orang tengah kasak-kusuk soal pelecehan agama lagi, pikiran saya justru terbang ke sana. Saya jadi tertarik dengan biografi Nabi Muhammad. Entah kenapa. Muhammad tentunya juga merupakan selebritas; di eranya, dan era setelah ia meninggal. Ergo, mestinya ia juga mengalami kepelikan a la selebritas; misalnya, gosip. Kabar burung. Kabar burung seperti ini tentu temanya berbeda-beda pula — beberapa tentunya politis, sebab beliau seorang politikus.

Saya kira inilah susahnya menyusun biografi. Informasi yang dikumpulkan bisa saja tidak semuanya benar. Ada yang berupa fakta, namun ada pula yang berupa misinformasi. Misinformasi ini bisa disengaja, bisa pula tidak; dan maksudnya pun bisa baik maupun buruk.

Biografi Muhammad sendiri bagi saya masih kabur. Secara garis besar tentu sumber-sumber yang berbeda cenderung setuju: ia mendirikan sebuah agama di wilayah timteng sekitar lima belas abad silam, dan memiliki kepemimpinan militer yang baik. Nah, di luar garis besar ini, ada banyak sekali detail yang kebenarannya masih simpang siur.

Apabila mengikuti pemahaman Islam yang umum dan awam, detail ini kebanyakan tidak ada. Biografinya singkat saja, dan cenderung menggambarkan beliau sebagai pemuka agama yang luhur dan berbakat di pelbagai bidang. Versi yang ini tentunya merupakan intisari dari biografi yang dianut oleh kaum agamawan tradisional. Masalahnya baru muncul di sini. Versi tradisional umumnya memuat detail-detail yang asing dan bombastis apabila dibandingkan dengan versi “ringkas”-nya. Detail ini memang tidak bisa dibilang rahasia, tapi tetap cenderung diacuhkan oleh kaum non-agamawan. Misalnya penuturan di mana sang Rasul memiliki “segel” berupa semacam tanda lahir besar di bagian punggung beliau. Atau di mana beliau bersabda bahwa, apabila dalam hubungan intim sang suami mencapai klimaks terlebih dahulu, sang anak akan menyerupai ayahnya, dan sebaliknya (sangat bertentangan dengan biologi modern). Ada pula kisah yang lebih populer di mana sang Rasul “dibedah” dadanya dan “dikeluarkan sisi jeleknya” oleh malaikat Jibril. Singkatnya, beberapa detail yang tak populer dari biografi sang nabi besar terkesan menyudutkan beliau; baik secara ilmiah atau sosial-politis. Tak jarang, detail-detail ini saling bertentangan satu dengan lainnya, dan malah kontradiktif dengan garis besar yang populer tadi.

Sepengetahuan saya, apabila ini digandengkan dengan faktor yang sudah saya sebutkan di atas; kabar burung, maka yang ada ialah masalah. Kebingungan. Sebab, “lubang” dalam biografi Muhammad, apabila digabungkan dengan kemungkinan distorsi dan misinformasi, akan melahirkan metode yang berbeda-beda dalam menyusun biografi yang bersangkutan.

Pihak yang lebih tradisional dan konservatif, misalnya, memilih untuk mempertahankan semua informasi tambahan yang terkumpul. Apa-apa yang kemudian dianggap sebagai bad science dan semacamnya mesti diabaikan. Basisnya bisa jadi mirip dengan basis kanonisasi kitab-kitab dalam Gereja; bahwasanya proses pengumpulan informasi pada saat itu melibatkan intervensi Tuhan, sehingga ineran. Metode semacam ini tentunya cepat dan tidak repot (selain meningkatkan integritas dan konsistensi Islam sebagai institusi), namun cenderung menyudutkan di atas meja debat. Gawatnya lagi, umat awam seringkali tidak familiar dengan beberapa elemen di dalamnya: beberapa kenalan saya pernah menganggap sejumlah klaim (yang secara tradisi punya posisi yang solid) tersebut sebagai fitnah dan pelecehan.

Sebaliknya, pihak yang lebih liberal dan terbuka, sering berpihak pada gagasan untuk merekonstruksi biografi sang Rasul — caranya adalah dengan memutuskan bahwa klaim ineransi yang ada sebagai invalid. Pada pemahaman ini, ada kemungkinan bahwa kisah-kisah “aneh” tentang Nabi Muhammad, adalah misinformasi. Baca: itu bohong. Jadi, dengan pendekatan ini, nabi terakhir dalam tradisi Islam tersebut bisa melepaskan diri dari citra negatif yang mungkin dimunculkan oleh “detail-detail” biografinya tersebut. Walau tentu selalu ada sisi jeleknya: yaitu kriteria yang dipakai untuk menentukan keotentikan suatu elemen melulu didasarkan pada asumsi bahwa sang Rasul adalah maksum. Bebas dari cela. Memang tidak masalah untuk dibawakan dalam koridor agama, tapi untuk membuat biografi yang baik, tentunya pendekatan ini tidak obyektif dan sangat bias.

Sampai di sini sebenarnya masih sederhana. Yang betul-betul bikin susah itu adalah bahwa pihak-pihak dengan pendekatan berbeda, biasanya punya motif sendiri pula. Jadi bias. Penyusun dari pihak anti-Islam, misalnya, cenderung mengamini apa-apa yang dianggap jelek dari pribadi sang Rasul, mengabaikan sama sekali kemungkinan bahwa telah terjadi distorsi. Penyusun dari pihak Islam sayap kiri lebih kritis dengan mengakui kemungkinan misinformasi — tapi juga memiliki kecenderungan yang kuat, kali ini kecenderungan untuk mengecap “palsu” segala apa yang negatif.

Secara pribadi, saya kira distorsi dan misinformasi itu memang punya efek sendiri. Tapi kriteria untuk menentukan mana yang misinformasi dan mana yang bukan, itu yang saya sendiri, yang buta sejarah, tidak paham. Kalau didasarkan pada moralitas, klaim ilmiah, atau reputasi sang Rasul, tentunya wacana ini akan menjadi teologis — dan karyanya akan jadi semacam karya apologetika.

Makanya saya penasaran juga; biografinya yang tidak bias, ada tidak sih?

42 thoughts on “Biografi Nabi Muhammad?

  1. Susah untuk tidak bias. Bahkan karya orientalis yang semestinya bisa dianggap lebih obyektif seperti Watt pun tak luput dari tuduhan bias. Karen Armstrong sudah dua kali menulis biografi Muhammad dan ia masih dikritik baik oleh mereka yang anti-Muhammad maupun yang sangat menghormatinya. Ini semua karena sumber-sumber itu sudah terlanjur campur aduk. Ibn Ishaq, Ibnu Hisyam dan para mudawwin, sekalipun mereka bersikap kritis, tetap tidak menjamin informasi yang mereka terima semuanya valid. Bisa dibilang, sumbernya aja sudah bias, apalagi penafsirnya (penulis biografinya). Saya pun punya teologi sendiri untuk memahami Sirah Nabawiyah.

  2. Is this thing unique to Muhammad? Buddha kayaknya nggak kedengaran ada kontroversi kisah hidupnya, sementara Yesus paling-paling cuma diributkan apakah dia kawin atau nggak.😕

  3. Masalahnya, distorsi informasi ini tidak bisa diselesaikan begitu saja. Banyak kendala…

    1. Minimnya catatan tertulis
    2. Pengaruh politis
    3. Keengganan mengakui kesalahan

  4. @ gentole

    Ujung-ujungnya mencari periwayatan yang mengkorporasi semua sudut pandang? Tapi, belajar dari kontroversi ID di Amerika, nampaknya keinginan saya itu juga kena middle ground fallacy.😕

    @ Catshade

    What’s unique to Muhammad? The historical obscurity, no; but the rage in response to the controversy, a resounding yes.😀

    @ ManusiaSuper

    Mungkin minimal semua sudut pandang mesti disebarkan?

  5. @ danalingga

    Itu sama susahnya, kalau bukan lebih susah lagi. Soalnya penafsiran alternatif dari hasil mengolah misinformasinya lebih radikal dari Muhammad. Tentu Masbro sudah dengar hipotesis-hipotesis bahwa Yesus tak pernah mengaku sebagai orang suci (ini sering dipakai sebagai kritik atas Kekristenan oleh umat Islam dan Pemikir Bebas)? Belum lagi hipotesis bahwa Yesus tak pernah ada, atau sebagian besar kisahnya hanya legenda.

    Jadi biasnya bakal lebih parah lagi.😆

  6. Gimana kalo biografi beliau ditanyakan kepada anak-cucu beliau? bukankah keluarga –apalagi yg dekat– tentu lebih dapat dipercaya?

    Persoalan agama semacam ini sebagian besar menggunakan kepercayaan sehingga verifikasi secara objektif bisa dikatakan (hampir) mustahil.

  7. Ah, mengenai biografi Nabi Muhammad ini… saya kembali penasaran, apakah pernah ada upaya atau inisiatif dari kalangan muslim untuk menulis (biografi) Muhammad (secara) “kontekstual”? Selama ini toko-toko buku kita lebih dijejali karya-karya biografi Muhammad (secara) “historis” (sebab yang melulu dibahas adalah person pengembang risalah kenabian yang bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib saja). Membuat saya ingin tanya, apa manfaat biografi seperti demikian itu bagi kita yang sedang ketiban setumpuk masalah kontemporer seperti sekarang ini? Atau dengan kata lain, bisakah kita menciptakan citra Muhammad yang lebih tampak kontekstual dengan tradisi Bali, misalnya, sekaligus memahami bagaimana tindakan dan ucapan Muhammad supaya nyambung dengan konteks Bali.
    .
    Tambahan pula (maaf, ini sedikit OOT), seandainya (ini hanya seandainya), tokoh par excellence seperti Nabi Muhammad atau Yesus hidup di zaman sekarang, kira-kira bagaimana keduanya mengatasi segenap permasalahan saat ini seperti fenomena kemacetan di Jakarta, atau konflik beda-paham, korupsi, banjir tiap tahun, kelangkaan BBM, dan lain hal memusingkan lainnya. Mungkin ini bisa jadi bahan lelucon. Tapi apabila penulisan biografi bisa lebih menekankan pada aspek utilitaris (manfaat, kegunaan) dalam kehidupan praksis/kontekstual, apakah mustahil terwujud ya?
    .
    *berharap ada yang berkenan menulis sirah nabi lebih dari sisi historis*

  8. @ spasisatu

    “Anak cucu” yang ada sekarang ‘kan hanya “keturunan jauh”. Kredibilitasnya sama saja lemahnya.😕

    Persoalan agama semacam ini sebagian besar menggunakan kepercayaan sehingga verifikasi secara objektif bisa dikatakan (hampir) mustahil.

    Tapi saya tak ingin mendekatinya sebagai kepercayaan. Sebagai sejarah saja.

  9. frozen

    Saya kurang begitu paham. Secara kontekstual maksudnya?😕

    Dan tentu, susah mencari alasan pragmatis buat menjustifikasi masalah seperti ini. Murni akademis soalnya.

  10. History was written by the winner?

    Maka untuk melakukannya (membuat sejarah lengkap dan tepat) mungkin perlu diambil informasi dari pihak yang kira kira hidup sejaman, namun berstatus kalah (baca: yang kontra Islam/yang dianggap jelek seperti para orang orang yang dicap kafir).

    Dengan catatan bahwasanya jika ‘mereka’ dipertemukan, akan terjadi diskusi sehat dan keterbukaan. Jangan lupa campurkan ilmu pasti supaya bisa melakukan cross check terhadap informasi yang berseberangan dan bertentangan.

    Serta yang tak boleh ketinggalan adalah mencari literatur yang minim pendistorsian informasi yaitu catatan! Sayangnya untuk point terakhir ini-seperti yang dikatakan Mansup-sangat minim dan mungkin teramat sukar untuk didapatkan, kalaupun dapat, sukar pula melakukan check dan rechecknya.

    Pendistorsian informasi dan bombasme cerita dari sejarah Nabi Muhammad memang saling berkaitan dan mendukung satu sama lain sehingga terkadang banyak hal yang menjadi berlebihan, bahkan berubah menjadi sebuah dongeng.

    Contoh (semoga kali ini ingatan saya tidak salah): Dalam suatu ceramah, saya pernah mendengar bahwasanya penceramahnya berkata “bukan hanya Nabi Isa yang bisa menghidupkan manusia, Nabi Muhammad juga bisa, bla bla bla, dan seterusnya menyambung cerita”.

    Ada pendengar yang bisik bisik protes, mungkin ada juga yang terkagum kagum. Hal itu sangat mungkin adalah warisan cerita yang memang berlebihan, atau murni kebodohan penceramahanya, atau bagimana????

    *bingung membaca komentar sendiri yang sok pintar*

  11. Problemnya adalah, kisah Rasulullah itu baru mulai ditulis abad 2-3 H. Penulis paling awalnya pun (Ibn Ishaq) dituding pembohong oleh ulama saat itu (Imam Malik). Sementara sejarawan seperti Tabari pun juga mengakui ada kejanggalan dari kisah-kisah yang ia dengarkan dan riwayatkan kembali. Imam Hanbali pun juga tidak mempercayai kisah-kisah perang yang diriwayatkan orang.

    Dan lebih susahnya lagi, tidak ada versi lain. Bahkan dari khulafur Rasyidin pun, hanya Umar ibn Khattab yang memiliki versi lain (Kristen, Zoroaster Yahudi — lihat dokumen-dokumen yang dikumpulkan para sejarawan seperti Robert Hoyland). Utsman ibn Affan disinggung sekilas khutbahnya oleh musafir Cina.

    Kisah persaingan Ali Ibn Thalib dan Muawiyah versi non-Muslim agak berbeda dengan versi muslim (baik Sunni maupun Syiah) di mana di versi Muslim, selalu Ali yang lebih dahulu memerintah kemudian Muawiyah menolak, sementara di versi non-muslim, keduanya memang memerintah bersamaan dan seimbang (malah mungkin lebih masuk akal versi non-muslim karena di versi muslim, persaingan diakhiri arbitrasi).

    Untuk Muhammad ibn Abdullah sendiri, tidak ada versi lain. Bahkan kisah Abrahah pun, versi non-muslim berbeda dengan versi muslim.

  12. Kalo ngomongin pendekatan sejarah, saya jadi ingat buku ‘Dari Saqifah sampai Imamah.’ Disitu pembahasannya dilakukan melalui kajian pustaka.

    Saya suka bab pertamanya, dimana pengarangnya memaparkan referensi yang digunakan, dengan kelebihan dan kekurangannya. Misalnya bahwa dalam analisisnya, membandingkan dengan referensi2 yg ada, Tabari memiliki tendensi kepada orang tertentu. sumting like det lah.

    Kalo pendekatannya mau dilakukan dengan wawancara, bagi saya narasumber terbaik yang dimiliki untuk menyusun biografi itu, ya orang-orang terdekat/keluarga, walaupun dipisahkan oleh waktu.

    salam kenal.

  13. Makanya saya penasaran juga; biografinya yang tidak bias, ada tidak sih?

    Dude, you need a time machine to do that… Watch his life, and take a note. But don’t touch anything…

  14. saya sendiri dibanding baca shirah2 nabi karangan timteng malah lebih suka baca shirah yang karangan penulis barat; kesannya malah justru jauh lebih manusiawi. dan ternyata nabi saya memang sama2 manusia kayak saya😀

  15. Saya baca versi Jack Chick saja:mrgreen:

    *dipancung geddoe*

    …dan memiliki kepemimpinan militer yang baik.

    Ah, ya, Karena bukan umat beliau, saya cuma tertarik pada kampanye2 militernya saja. Ini ada bias juga?

  16. @ Mr. Fortynine

    Tapi kisah-kisah seperti “menghidupkan manusia” itu, misalnya, pastinya tidak bisa diterima semua pihak — bahkan apabila diamini oleh “pihak yang kalah” sekalipun. Ini yang saya sebut sebagai “gosip yang menerpa selebritas”.🙂 Kalau mengikuti prosedur yang lebih ilmiah tentunya frasanya bakal menjadi “mengklaim telah menghidupkan orang mati” yang lebih skeptis. Nah, yang macam ini kadang dianggap kurang sopan oleh umat Islamnya sendiri (“Kamu meragukan nabi?”).

    @ kunderemp

    Problemnya adalah, kisah Rasulullah itu baru mulai ditulis abad 2-3 H.

    Akhirnya ada yang menyebutkan ini juga.😀

    Betul.

    Dan yang menyulitkannya memang karena tak ada versi lain (CMIIW). Kisah-kisah alternatif yang saya baca pun kebanyakan bukan disimpulkan dengan menambah informasi baru, melainkan menghapus informasi yang sudah ada (e.g. pemahaman Quran-alone).

    @ rani

    Wah, linknya Amazon pula. Bajakannya ada tidak?:mrgreen:

    Vitalogy? Hehe, inget baris keduanya Not For You
    “Like muhammad hits the truth…”

    Hahaha, ya, kebetulan ada di album yang sama. BTW saya tidak paham maksud dari potongan lirik itu, kira-kira apa? Sebab lagu itu sendiri soal privasi dan invasi media (dikonfirmasi oleh Vedder sendiri).

    @ spasisatu

    Pendekatan yang menarik. Salam juga.

    @ dnial

    don’t touch anything

    Kalau pakai model multiverse ‘kan tak masalah.😀

    @ ManusiaSuper

    BTW, ada penulis Rusia (saya lupa namanya) yang menerbitkan “sejarah alternatif” beberapa waktu yang lalu. Pokoknya betul-betul berbeda dengan yang diajarkan saat ini; teori konspirasi sekali baunya.😛

    Walau memang tak diakui sih.

    @ setanmipaselatan

    Maksudnya lebih membumi begitu? Ya mungkin kalau dibawakan oleh orang luar yang tak berkepentingan, lebih adil, ya.

    @ jensen99

    Rasanya belum bisa dibilang bias, tuh?😕

  17. makanya selain dalam agama itu ada cerita juga disertai keyakinan..
    Kalo keyakinan kita kurang terhadap agama kadang kita akan selalu mempertanyakan suatu hal😀

  18. masalahnya kadang apakah kita mau menerima seseorang karena pengharapan kita, atau bisakah kita menerima seseorang apa adanya?

    biografi bahkan apabila ditulis oleh orangnya sendiri tetap tidak bisa lepas dari bias.

    bagi saya lepas dari semuanya beliau tentu saja manusia besar, manusia hebat lah, ya gak?

    this goes to non follower too, can you look for a good of a man? or you just wanna mess people?

  19. @arul:
    Ada dua orang yang mengaku sama-sama punya keyakinan, sama-sama meyakini Muhammad ibn Abdullah sebagai nabi. Yang satu mempercayai kisah-kisah anehnya dan membenarkan tindakannya karena yakin bahwa Muhammad ibn Abdullah adalah nabi. Yang satu lagi, membuang kisah-kisah aneh karena yakin Muhammad ibn Abdullah sebagai nabi tidak akan berbuat hal-hal tersebut.

    Kedua-duanya sama-sama beriman dan sama-sama bias.

    buat siapapun yang menyarankan bertanya pada keluarga
    Kalau yang kalian maksud adalah orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai keturunan nabi padahal berasal dari Hadramaut (Yaman), maaf, saya meragukan keaslian mereka. Saya masih tak bisa membayangkan keturunan Ali ibn Thalib (yang lebih populer di Kufah [Irak]) bisa tiba-tiba berada di Hadramaut.

    Selain itu, bahkan bila benar memang keturunan nabi, tidak menjamin bahwa ia tahu persis kecuali melalui jalur yang yang sama seperti yang ditempuh para sejarawan lain. Saya yang keturunan Raden Mas Rangsang (Sultan Agung Hanyokrokusumo) saja tidak tahu sepak terjang nenek moyang saya. Padahal jarak saya dengan Raden Mas Rangsang lebih pendek daripada jarak para ‘habib’ dengan Muhammad ibn Abdullah.

  20. @ aRuL

    Tapi saya tidak berniat mendekatinya secara agama, tapi lewat sudut pandang sejarah saja.🙂

    BTW, selalu mempertanyakan sesuatu itu ‘kan sesuatu yang bagus? Ajaran yang benar mestinya tak usah gentar tak mampu menjawab pertanyaan dong.😀

    @ spidolhitam

    masalahnya kadang apakah kita mau menerima seseorang karena pengharapan kita, atau bisakah kita menerima seseorang apa adanya?

    Betul sekali; ini dia masalahnya. Menyusun biografi Muhammad bin Abdullah itu berbeda dengan menyusun biografi hidup Thomas Edison atau Chairil Anwar, misalnya. Sebab kalau (seandainya) buktinya menuju ke arah yang memberatkan citra beliau, banyak yang bakal menganggapnya ofensif.

    Ya memang beliau itu jelas orang besar; politikus ulung dan tokoh yang berkarisma. Tapi ya standar yang diletakkan pada beliau oleh umat Islam ‘kan benar-benar tinggi? Thomas Jefferson yang jenius dan dipuja-puji di Amerika Serikat itu, misalnya, belakangan ‘kan buktinya jelas kalau dia pernah memiliki hubungan gelap dengan budak kulit hitamnya setelah ia menduda. Publik ya memaafkan dia walau kecewa. Namun, yang semacam ini tabu kalau diaplikasikan ke tokoh-tokoh agama.

    @ Kunderemp

    Komentar yang sangat bagus; terima kasih.

  21. Sebenarnya saya juga penasaran dengan hidup beliau juga, sih. Masa yang diceritakan cuman yang itu-itu saja?

    BTW, Muhammad pernah main game perang nggak, ya? Kok strategi perang yang dia lakukan sepertinya mematikan.:mrgreen:

    @ Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Kalau nggak salah buku itu pernaha dibahas di salah satu TV swasta, deh. Yang menempatkan Nabi Muhammad SAW di peringkat pertama itu, kan?

  22. @arul

    Kalo keyakinan kita kurang terhadap agama kadang kita akan selalu mempertanyakan suatu hal

    Banyak bertanya, kurang iman?

    *tidak setuju*

  23. hmmm… emangnya Anda sudah baca semua buku sejarah ato kitab sirah rasul ya?
    setahu saya, hampir semua kitab sirah yang ada saat ini itu sudah berdasarkan hadits-hadits yang shahih snadnya, sumbernya terpercaya, setiap sanadnya sudah ditarjih… kalopun ada cerita yang syubhat, biasanya dikasi tau tuh di bagian footnote nya bahwa kisah ini diambil dari hadits ini yg dho’if dst dst dst

  24. wah, malah saya mah belum pernah kepikiran ttg hal seperti ini ya.
    hm, dari sisi historisnya ya?
    saya sebenarnya kurang begitu ahli dalam masalah sejarah, pun itu sejarah Nabi.
    klo yang saya tau, sirah nabawiyah itu ditulis berdasarkan hadits, dan hadits itu diturunkan dari para ulama dan para ulama itu mewarisi kisah -kisah itu dari para sahabat yang pernah hidup pada jaman Rasululloh SAW.
    jadi sudah beralih beberapa generasi, baru biografinya sampai ke kita.
    Beda kepala, jadi kadang penafsirannya jgua berbeda -beda.
    Geddoe mungkin bisa coba baca sebuah novel berjudul “Dialah Muhammad” klo ga salah, tapi saya lupa pengarangya siapa😄

  25. @Geddoe
    Hmm kayaknya gak ada yang nggak bias. Selagi manusia yang buat maka bias itu akan selalu ada🙂
    Makanya saya malah memilih untuk mencari bias yang tidak bias
    Tumben nih menulis yang beginian

    @kamal

    setahu saya, hampir semua kitab sirah yang ada saat ini itu sudah berdasarkan hadits-hadits yang shahih snadnya, sumbernya terpercaya, setiap sanadnya sudah ditarjih… kalopun ada cerita yang syubhat, biasanya dikasi tau tuh di bagian footnote nya bahwa kisah ini diambil dari hadits ini yg dho’if dst dst dst

    Setahu saya tidak semua kitab sirah seperti yang anda bilang berdasarkan hadis shahih dan terpercaya. lagipula penentuan shahih, terpercaya dan tarjih itu sendiri juga memiliki masalah yang sama yaitu bias😛

  26. ahaa..kebetulan saya ada e-book tentang Nabi Mohammad, di tulis oleh Mohammad Husain Haekal, ia juga menulis beberapa biografi lainnya dari Kleopatra sampai kepada Mustafa Kamil di Timur, dari Shakespeare, Shelley, Anatole France, Taine sampai kepada Jean Jacques Rousseau. tapi e-book yang saya miliki hanya tentang Mohammad🙂 , klau Anda mau (tertarik) saya tak keberatan untuk berbagi..
    .
    oya, salam

  27. @ K Geddoe
    hehe, saya bacanya juga yg terjemahan bahasa indonesia, terbitan angkasa taun 1988

    lirik itu maksudnya apa ya? hmm… ga tau juga sampe sekarang

    @ peristiwa
    setau saya Haekal itu termasuk rujukan standar dan, seingat saya (krn bacanya dah lama bgt), salah satu yang paling ilmiah nulisnya. tapi bacanya kurang asik😀

  28. @ gentole

    ah, iya…
    saya jadi inget ‘aku beriman, maka aku bertanya’. jeffrey lang, ya, kalo ndak salah?😀

    ahaha, kalo banyak nanya berarti ndak beriman, boleh jadi saya juga termasuk dalam daftar ‘100 orang paling tidak beriman sedunia’

  29. @Kunderemp

    Ah, apakah anda pernah bertanya pada mereka, bagaimana ceritanya sampe bisa ada di Yaman? pernahkah anda berdialog/berdiskusi dengan mereka? akan sangat berharga kalau anda membagi pengalaman diskusi anda.

    *Maafken, tapi benarkah perasaan saya ada nada sinis dalam komentar anda ttg mereka (keturunan nabi dalam tanda kutip buat anda)*

  30. ….Kansudah jelas Selbritis,…pasti banyak trik isu demi daya tarik media masa termasuk media situs ini , bukan…?

    Yang dipelajari itu Al Qurannya dan kitab suci umat Islam itu bukan Sejarah Muhammad nya….ta iye.

    KEBURUKAN NABI SAW YANG KALIAN CARI2 JUGA DI “BEBERKAN” OLEH ALLAH SWT DALM AL QURAN ….nih :

    Qs Abasa 1- 10 :
    Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling (=mengacuhkan), karena telah datang seorang buta kepadanya . Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (beriman), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? . Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar Kuraysi yg kaya) . maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (manfaat) atasmu kalau dia (orang kaya) tidak membersihkan diri (tak beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (bersungguh-sunguh), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya.

    dah puas….

  31. Makanya saya penasaran juga; biografinya yang tidak bias, ada tidak sih?

    Sampai seumuran ini, saya melihat jawabannya cuma satu: TIDAK ADA.

    Yang mungkin sumber awalnya tidak bias, karena satu dan lain hal (seperti faktor fanatisme atau fobia) bisa jadi bias setelah melewati jalur sejarah, Ged.

    Lha, jangankan si tokohnya, yang menceritakan si tokoh sendiri atau dekat dengan si tokoh sendiri bisa dipandang secara bias karena faktor ketokohan dari yang dibiografikan. Misal saja, Heidegger yang dekat dengan Nazi, bukan?😕

  32. buset, definisi tidak bias itu sendiri bias😛 ada yang bisa kasih contoh biografi atau sejarah yang tidak bias gak?

  33. @Alex

    sampeyan bener kang…[menurut saya, moga moga gak bias]

    @mardun

    iya, dan saya rasa jawaban pertanyaan anda tidak bisa dijawab tanpa bias🙂

  34. Alo Ged what the fuck is up ma brotha?

    What? You don’t remember me? We met at Rima’s blog couple hours ago, discussing offensive animes.. or should I say cartoons. LOL.

    Anyway, I’ve left a response for you at Rima’s. Nothing special, just the usual crap of thanking you for complimenting me, and setting straight your misconceptions of me. ^_^’

    Unbiased biography of the Prophet Muhammad? I dunno if there is such a thing. But I think the next best thing is for you to do a research on what non-Muslim scholars have to say about him, historical facts, verses from the holy Qur’an (I never liked the term Koran. It’s a Holy Book not a goddamn newspaper.) and hadiths and then draw your own conclusion.

    Here’s some quote portraying him in a positive light:

    “I wanted to know the best of one who holds today undisputed sway over the hearts of millions of mankind… I became more than convinced that it was not the sword that won a place for Islam in those days in the scheme of life. It was the rigid simplicity, the utter self-effacement of the Prophet, the scrupulous regard for his pledges, his intense devotion to his friends and followers, his intrepidity, his fearlessness, his absolute trust in God and in his own mission. These and not the sword carried everything before them and surmounted every obstacle. When I closed the 2nd volume (of the prophet’s biography), I was sorry there was not more for me to read of the great life.” -Mahatma Gandhi, speaking on the character of Muhammad in Young India-

    “He must be called the Saviour of Humanity. I believe that if a man like him were to assume the dictatorship of the modern world, he would succeed in solving its problems in a way that would bring it much needed peace and happiness.” -George Bernard Shaw, The Genuine Islam, Singapore, Vol. 1, No. 8, 1936-

    “Head of the state as well as the Church, he was Caesar and Pope in one; but, he was pope without the pope’s claims, and Caesar without the legions of Caesar, without a standing army, without a bodyguard, without a palace, without a fixed revenue. If ever any man had the right to say that he ruled by a Right Divine, it was Mohammad, for he had all the power without instruments and without its support.” -Bosworth Smith, Mohammed & Mohammedanism, London, 1874, p. 92; quoted at IslamOnLine.net-

    “If greatness of purpose, smallness of means, and astounding results are the three criteria of human genius, who could dare to compare any great man in modern history with Muhammad? The most famous men created arms, laws and empires only. They founded, if anything at all, no more than material powers which often crumbled away before their eyes. This man moved not only armies, legislations, empires, peoples and dynasties, but millions of men in one-third of the then inhabited world; and more than that, he moved the altars, the gods, the religions, the ideas, the beliefs and souls. . . his forbearance in victory, his ambition, which was entirely devoted to one idea and in no manner striving for an empire; his endless prayers, his mystic conversations with God, his death and his triumph after death; all these attest not to an imposture but to a firm conviction which gave him the power to restore a dogma. This dogma was twofold, the unity of God and the immateriality of God; the former telling what God is, the latter telling what God is not; the one overthrowing false gods with the sword, the other starting an idea with words.

    Philosopher, orator, apostle, legislator, warrior, conqueror of ideas, restorer of rational dogmas, of a cult without images; the founder of twenty terrestrial empires and of one spiritual empire, that is Muhammad. As regards all standards by which human greatness may be measured, we may well ask, is there any man greater than he?” -Alphonse de Lamartine, Histoire de la Turquie, Paris, 1854, Vol. II, pp. 276-277.-
    ————

    Too long of a post for you? Well get used to it coz there’s a lot more where that came from.

    Later dude….

  35. @ Ary

    Why, thanks for stopping by.🙂

    Unfortunately I have read all of those quotes you’ve written — no matter how staunch a skeptic I have become, I was a believer, and such praises have long made their way to reach me. Kind of helped the credibility along, you know.

    But Ary, those are not biographies, those are praises and approvals. Besides, I can find just as many approvals for the moral supremacy of Thomas Jefferson (the two-timing widower) or the genius of Sir Isaac Newton (who believed in quackeries and alchemy). There is a #1 rule for historians, and that is to judge relative to the zeitgeist. The time. And that, my friend, is beside the issue. To paraphrase Wikipedia, I want to be shown, not told, of these great minds.

    I never liked the term Koran. It’s a Holy Book not a goddamn newspaper.

    It’s just the transliteration, don’t take it too seriously. I prefer “Qur’an” myself, but that really has less impact than one-sided terms like “nasrani” or “majusi”.

  36. Well I did say that I wasn’t sure whether or not ‘the unbiased biography of the Prophet’ even existed. If that’s indeed the case, then what’s the next best thing? The quotes I’ve written here serve only as a reminder of what some famous non-Muslim intellectuals had to say about the Prophet. Biased? Maybe. But don’t you think the words of Gandhi hold some weight?

    For instance, we Muslims almost always utilize the hadiths to gain insights to the life of the Prophet, and if you’re familiar with how Islamic societies work, you’d know that Muslim Scholars are in constant debate in deciding wich hadiths are shahih and which are not. For someone to say “Bukhari (or anyone else for that matter) recorded a certain hadith” can be extremely misleading. Since it may imply that Bukhari was present taking notes (verbatim) whilst the Prophet was supposedly uttering certain words.

    No, the correct way to put it should be “Bukhari claims to have traced the following saying to the Prophet, 250 years after it was said.”

    Hadiths are open to manifest errors, subjection, corruption, fabrication and interference. In short, the science of hadith (tracing a chain of sayings to a particular person over a period of 250 years) is NOT flawless.

    That is precisely the reason why I think the words of non-Muslim intellectuals who have studied the life of the Prophet, the Qur’an, the hadiths, history of Islam and in turn praised the Prophet, for me, are valid sources of information and cannot be simply ignored.

    Of course it’s easier for me to say this because I’m a believer.

  37. wah.. banyak sebenarnya buku yang jadi reverensi.
    Mau Buku tentang nabi muhammad dari segi apanya?
    Dari segi fisik
    Ada buku Imam At-Trimidzi tentang penampakan fisik beliau SAW, walaupun tanpa karikatur apalagi foto
    ini resensi bukunya

    penghormatan dari tokoh-tokoh dunia
    Banyak orang-orang non-muslim yang mengagumi nabi SAW
    atau disini

    Kalo buku lengkapnya dalam format ebook saya memang belum nemu.
    Cuma sekarang, pemahaman saya terhadap hamba ALlah yang paling saya cintai SAW ini sudah sangat mendalam. Saya sangat berharap bisa berjumpa dengan beliau.

    Ketika ditanya nama antum siapa? maka saya jawab:”Saya Muhammad…”
    “saya muhammad Ilham”

Comments are closed.