Quote of the Millenium

Langsung saja, ya.🙂 Saya baru saja membaca-baca soal kisah dunia seks raja Jawa, yang mempertanyakan kesahihan legenda “nilai ketimuran” dan supremasi moralitas yang ada di masyarakat. Kemudian, dengan bersemangat, saya memperbincangkan topik tersebut dengan Mas Catshade lewat perantara instant messaging. Saya bingung, polarisasi moral seperti datangnya dari mana? Apa asal-usulnya. Sebab setahu saya umat manusia memang pornonya tidak pandang bulu atau zaman.

Lalu kemudian Mas yang bersangkutan sibuk meng-Google soal wacana tersebut, dan menemukan sesuatu yang luar biasa.

Nilai-nilai yang ditawarkan film Memoirs of a Geisha ini sebenarnya dari sudut pandang ketimuran memang tidak sepenuhnya dapat diterima sebab nilai-nilai yang ada adalah nilai orang Jepang dan oleh karena itu sudut pandangnya pun harus melihat dari sudut pandang orang Jepang.

http://indonesiancommunity.multiply.com/reviews/item/8

*terpana*

Catshade (11/2/2008 01:21:21): …um…I…wha-…
Catshade (11/2/2008 01:23:02): I’M NOT MAKING THIS UP

Akhirnya kami pun semakin bingung. Bingung sejadi-jadinya. Sebenarnya apa itu nilai ketimuran? Kok kayaknya tidak ada hubungannya pula dengan lokasi geografis?😯

87 thoughts on “Quote of the Millenium

  1. As I said earlier, mungkin orang-orang yang memuja keluhuran ‘budaya timur’ itu sebenarnya secara bawah sadar ingin merujuk ke ‘budaya timur tengah’😛

  2. (Ada panggilan masuk ke blog ini via RSS Reader…dia berfungsi sekarang…hohoho)

    @K. geddoe
    Adat ketimuran. Smells hypocrite, eh?:mrgreen:
    Hehe…I have started to avoid using the term “adat ketimuran” since my SMA times.

    Ikutan bingung. Sejak kapan ya hipokrisi itu ada? Apakah sejak diajari PMP/PPKn (“menjunjung tinggi budaya timur”)?

    Jadi inget. Di kampus saya beberapa minggu yang lalu ada pertunjukan theater dengan judul “Vagina” (duh masuk akismet ga ya). Didukung universitas, walaupun untuk nonton harus di atas usia tertentu. Kok “adat timur” seperti itu ga ada ya?:mrgreen:
    Jadi, WTH with adat ketimuran😈
    (Singapore itu negara timur juga kan?😛 )

    BTW tolong jelasin quotenya dari multiply itu dong, saya agak bingung bacanya…korelasinya “dari sudut pandang ketimuran memang tidak sepenuhnya dapat diterima” dan “sudut pandangnya pun harus melihat dari sudut pandang orang Jepang” bagaimana ya? Bukannya Jepang (yang terkenal dengan JAVnya, kalau ini ada hubungannya:mrgreen: ) negara timur juga?

    @Catshade
    Adat timur tengah? Masa sih?
    Saya dari dulu mikirnya kok ke budaya Jawa ya (karena saya dulu tinggal di Jogja)? Atau saya yang salah paham?😕
    Dan salah satu komen di sana bilang:

    Padahal agama seperti Islam misalnya, tidak tabu membicarakan hal tersebut.

    Atau ini pendapat alternatif saja, bukan mainstream?😕

    @K. geddoe (lagi)
    Barusan googling. You may want to read this.

  3. Kayaknya ‘nilai ketimuran’ lebih cocok dipake org2 di Jepang. Negara mereka dikenal dengan julukan negeri ‘matahari terbit’, matahari kan terbitnya di timur Om..😀

  4. KAFIR KAMU!!!™
    mau nilai ketimuran, mau nilai kebaratan. yang benar adalah nilai yang sesuai dengan kitab kami yang maha suci, sesuai dengan pemahaman sahabat, dan para salafus shalih. (baca ayat yang menyatakan bahwa kitab suci nya terjamin kesuciannya)

    Sudahlah kalian2 ini hanya mau memprotes UU yang baru disahkan itu kan? Dasar antek kapitalis pemuja kebebasan yang keblinger. YAHUDI, KAFIR!!

    *acungkan pedang, meneriakkan nama tuhan*

    *provokatif mode OFF*:mrgreen:

  5. Ah, memang tidak jelas nilai ketimuran itu apa. Saya juga pernah menanyakan “apa dan dimana Timur itu?” waktu Xaliber membicarakan entry yang mirip disini, dan dijawab secara tak langsung oleh bang fertob dibawahnya.

    Kalo berdasarkan pengertian saya, biasanya mereka yang berbicara mengenai “nilai ketimuran” itu biasanya membicarakan tentang nilai2 (yang bernafaskan) Islam. CMIIW
    Well, mungkin juga sih Timur=Islam, walaupun saya lebih milih Timur=Onsen Geisha.:mrgreen:

  6. Sebenarnya sih, yang seharusnya dipertanyakan (atau hanya saya yang tidak tahu?), sejak kapan istilah budaya timur dan barat itu dipakai?

    Terus terang saya agak bingung lho, kenapa ada pemisahan barat dan timur? Padahal bumi itu bulat (elips, sih), bisa saja USA yang tadinya disebut barat menjadi timur, tidak salah kan?😕

    @lambrtz

    Jadi, WTH with adat ketimuran😈
    (Singapore itu negara timur juga kan?😛

    Well, dulu sewaktu penyuluhan sih, dibilangnya Singapore itu adalah negara dimana East meet West, tapi saya rasa sekarang disini malah budaya barat yang mendominasi.😛

    Haduh, kok sekarang saya malah jadi pakai istilah yang saya pertanyakan sih?😐

    @agiek

    Sudahlah kalian2 ini hanya mau memprotes UU yang baru disahkan itu kan?

    *angkat tangan*

  7. Akhirnya kami pun semakin bingung. Bingung sejadi-jadinya. Sebenarnya apa itu nilai ketimuran? Kok kayaknya tidak ada hubungannya pula dengan lokasi geografis?😯

    *bongkar rak buku*

    *nemu*

    “Jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan namanya yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya—kehebatan dalam kekosongan? Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu dan pengetahuannya…”

    ~Nyai Ontosoroh

    That.😆

  8. Contrary to most people here, saya kok gak ngerasa ‘ketimuran’ itu identik dengan islam ya? Padahal saya sendiri muslim.
    Apa karena saya selama ini antisosial, gak gaul jadi gak merasakan perluasan makna ‘ketimuran’ itu kali yah.
    Soale sampe sekarang kalau dengar orang Indonesia bilang ‘timur’ atau ‘ketimuran’, maka entri-entri utama yang pertama keluar dari otak saya adalah ‘jawa’ dan ‘kraton’.
    Entah jawa islam, jawa hindu, jawa katholik, poko’e jowo lah.

    Kalau istilah ‘ketimuran’ itu disuarakan dalam konteks yg berhub dgn Islam, saya tetap saja nyambungnya ke ‘Islam Jawa’, dan bukan ‘syiah’, maupun ‘sunni’ atau islam mainstream timur tengah.
    Ya islamnya sunan kalijaga itu, yang kalo tahlilan selalu bawa-bawa kemenyan, yang ajarannya sudah berkompromi dengan budaya jawa-hindu-kuno.

    Yang jelas masih susah sekali saya mengusahakan ‘timur’ itu untuk terdengar identik dengan ‘islam’ di kepala saya.

    But that’s just me.

  9. Eh lupa :

    @Agiek

    Sudahlah kalian2 ini hanya mau memprotes UU yang baru disahkan itu kan?

    *ikut angkat tangan*:mrgreen:

    Dasar antek kapitalis pemuja kebebasan yang keblinger. YAHUDI, KAFIR!!

    I’m the muslim version of the above😆 .

  10. Gw pernah baca yang soal oral seks itu di buku yang membahas konsep kekuasaan di dunia keraton Jawa. Keknya bisa nyari di perpus. Pake bahasa Inggris kalau g salah.
    Btw, kata “power” dalam bahasa Jawa itu disebut “Dipo”.

    Kalau soal budaya timur, gimana ya. Sampai sekarang yang namanya Pan-Asianism itu g pernah terjadi karena Asia itu amat sangat terpolarisasi (agama dan budayanya antara negara satu dan lainnya beda banget) beda dengan Eropa yang relatif homogen sehingga bisa ada Uni-Eropa.

  11. Ini nilai ketimuran berdasarkan apakah?😕 Kalau menyoal seks dan semacamnya itu, kalau menurut saya dikotomi barat dan timur itu justru ngga ada… masing-masing sama-sama ada ‘bejat’nya.

    IMO sih, pembagian barat dan timur itu lebih ke norma dan perilaku. Kalau masyarakat Timur itu rasanya lebih identik ke hubungan kekerabatan/bergerombol, sementara Barat lebih individualistis.

    Karena link yang dikasih mas jensen ada komen yang agak menarik… sekilas saya jadi kepikiran. Apa nilai Timur yang sering dimaksud orang itu beneran jadi muncul karena Islam yang masuk ke Indonesia ya?😕 Pengaruh kerajaan Islam selama beberapa abad juga secara langsung mempengaruhi nilai-nilai yang berlaku saat itu. Hence the east value developed.

  12. Mungkin istilah ketimuran itu istilah yang bersifat historis. Awalnya istilah ini timbul sebagai self defense orang indo terhadap penetrasi budaya-budaya asing yang “disebut” sebagai “budaya barat”. Mungkin sih
    *bingung juga*

  13. Asalnya mungkin dari zaman kolonial dulu, ketika orang2 Eropah pada terpesona dengan mistisisme kebudayaan yang baru mereka temukan di sebelah timur benua mereka… see Orientalism dan Eastern culture.

    Jadi “nilai-nilai ketimuran” itu sebenarnya konstruksi Barat juga ya😕

    And as I said earlier too, orang-orang yang mengagungkan kesucian “nilai ketimuran” dan mengkontraskannya dengan kenajisan “budaya barat” bisa jadi lebih memahami budaya barat ketimbang kemajemukan budaya negeri mereka sendiri😛

  14. Ah iya. Di kuliah antropologi saya kemarin juga dijelaskan soal orang Eropa yang merasa budaya ‘Timur’ itu lebih primitif dan lebih mistis daripada yang ada di Barat pas mereka mengadakan ekspansi dulu. Katanya masyarakat Eropa dirasa lebih civilized dan beradab dibanding masyarakat Timur yang waktu itu masih pakai pakaian tradisional dan teknologinya pun terbatas.

    Kayaknya ini ada hubungan sama industrialisasi barat dan timur juga ya? Berhubung Eropa mengalami ledakan industri lebih dulu dibanding masyarakat timur jadi muncul dikotomi begini.

    IMO sih setiap budaya itu akan selalu aneh dan dirasa nggak cocok kalo kita ngeliat pakai kacamata budaya sendiri. Nilainya saja sudah beda.:mrgreen: Relativisme budaya itu.😛

  15. Kalau soal budaya timur, gimana ya. Sampai sekarang yang namanya Pan-Asianism itu g pernah terjadi karena Asia itu amat sangat terpolarisasi (agama dan budayanya antara negara satu dan lainnya beda banget) beda dengan Eropa yang relatif homogen sehingga bisa ada Uni-Eropa.

    Ralat “terpolarisasi” dengan “majemuk”.

    @Xaliber
    Relativisme budaya adalah hal yang pelik dalam dunia hukum apalagi hukum HAM. Di Amerika, anak sekte Amish boleh tidak bersekolah setelah kelas 8 dengan alasan freedom of religion (culture and religion defense) namun kalau seperti Female Genital Mutilation yang suka dipraktekan di Afrika alasan budaya dan agama tidak dapat dipakai.

    http://en.wikipedia.org/wiki/Human_Rights#Universalism_vs._cultural_relativism

  16. Terlepas dari kontroversi yang disebut oleh mas zen sebagai “Oral sex cum nekrofilia” itu timur atau bukan, latar belakang kisahnya sendiri Indonesia banget. Setidaknya konsep kekuasaan dalam sejarah Jawa saja sudah unik sekali. Apa Pakubuwana I tidak mendapat legitimasi karena tidak membuktikan diri lebih sakti dari Amangkurat III? (tapi dibantu Belanda)😛

    Eh, ini OOT?

  17. Kalau orang bicara TIMUR maka pembandingnya adalah BARAT. Sementara timur dan barat sendiri masih jauh dari sebuah definisi kecuali definisi untuk arah mata angin.😆

    Kemudian larinya ke “NILAI”. Timur dan Barat diberikan ciri-ciri berdasarkan nilai-nilai yang dianut. Sementara definisi saja masih belum jelas, ini sudah lari ke pemberian ciri berdasarkan nilai. Makin jauh dah….

    Di psikologi lintas budaya juga begitu. Mereka sering juga menggolongkan Timur dan Barat dengan terlalu gampang. Padahal lebih mudah kalau langsung disebutkan saja daerahnya, misalnya : Iran, Arab Saudi, China, Jepang, Thailand, Philipina, Myanmar, India, Tamil, dll. Nah, apakah nilai-nilai “ketimuran” di negara-negara itu sama ?😆

    OOT :

    sekedar iseng, dulu waktu saya masih SD dikasih tahu sama guru kalau timur itu disebelah kanan (tangan kanan) dan barat itu disebelah kiri (tangan kiri). trus, kalau pakai tangan kanan itu namanya sopan, beda dengan tangan kiri yang tidak sopan. makanya orang “timur” itu sopan dan santun, sementara orang barat itu nggak tau sopan santun.🙂

    *tertawa menggelepar*😆

  18. @Nenda Fadhilah:
    Saya kan cuma memakai relativisme budaya buat masalah penilaian budaya lain secara sosiologis (atau antropologis?) aja.😛

    Tapi kalau menyoal hukum itu saya pernah dengar bahwa dalam hal tertentu hukum/norma daerah bisa lebih kuat daripada hukum negara. Terkait dengan isu HAM itu apa hukum daerah juga ngga diberi kekuatan yang sama?😕

  19. @ Catshade

    Tapi bukankah budaya timur tengah sendiri bukannya masih ada elemen-elemen yang secara seksual, permisif? Memangnya timur tengah tidak ada sejarah pederasti? Ada pula budaya-budaya “aneh” lain seperti köçek, misalnya.

    Saya sendiri apabila mendengar istilah seperti itu, pikirannya tidak langsung ke timteng atau Islam, melainkan Indonesia. Walau memang “avatar” yang muncul adalah seorang Indonesia Muslim kebanyakan.🙂

    @ lambrtz

    Itu juga yang saya pertanyakan. Ini adanya sejak kapan? Tentunya ada spekulasi-spekulasi di pikiran, tapi kurang jelas yang mananya.

    Mengenai quote di Multiply yang saya sertakan tersebut, maknanya tentu, in a nutshell, “Ini budaya Jepang, jadi mungkin kurang bisa diterima dalam nilai-nilai ketimuran”. Ini jelas lucu, sebab Jepang sendiri ada di timur—kalau tidak mau dikatakan lebih identik dengan timur-timuran. Jadi saya curiga itu istilah cuma facade saja, sebuah eufemisme yang aneh untuk superioritas moral (secara konservatif tentunya).

    @ tempo

    Kalau diaplikasikan ke Jepang, mungkin definisinya bisa lain lagi. Penekanannya bakal lebih ke disiplin dan kerja keras?

    @ agiek

    Lha…😆

    Eh, ini tidak ada hubungannya dengan UU Pornografi, lho; walau saya agak kurang menyetujuinya dan tidak keberatan kalau wacananya diperlebar ke situ.

    @ jensen99

    Mungkin juga, tapi saya sendiri, seperti yang sudah saya nyatakan lewat respon ke Mas Catshade, lebih melihat jargon “nilai ketimuran” itu sebagai jargon yang Indonesia sekali. Kesukuan, superioritas moral, dst.

    @ Disc-Co

    Secara murni memang demikian, tapi menurut [Mas yang ini], konvensi pemetaan memang menetapkan bahwa benua Amerika ada di barat, dan Asia ada di timur.😕

    Mungkin ada hubungannya dengan batas penanggalan internasional (IDL), tapi menurut saya sih ini akibat sejarah. Jadi, ini akibat bangsa Eropa, yang suka atau tidak suka merupakan bangsa yang dominan dalam sejarah modern. Dulu ‘kan mereka menjelajahi Asia dengan rute timur (rute darat).🙂 Jadi asumsinya ya Asia itu di timur. Lalu penjelajahan benua Amerika itu ke barat, jadi asumsinya Amerika itu di barat. Dan seterusnya.

    *sotoy*

    @ sora9n

    BTW ente sudah khatam itu tetralogi?😕

    @ Fritzter

    Contrary to most people here, saya kok gak ngerasa ‘ketimuran’ itu identik dengan islam ya? Padahal saya sendiri muslim.

    Saya juga tidak. Sekali lagi saya nyatakan, buat saya disposisi istilah itu sudah Indonesia sekali—walau Indonesianya memang corak Indonesia Islam. Bukan Arab atau Islam secara murni.

    Kalau istilah ‘ketimuran’ itu disuarakan dalam konteks yg berhub dgn Islam, saya tetap saja nyambungnya ke ‘Islam Jawa’, dan bukan ’syiah’, maupun ’sunni’ atau islam mainstream timur tengah.

    Islam Indonesia pada umumnya. Mirip, tapi saya juga mengikutkan Sunni. Pokoknya Islam Indonesia—Islam a la tanah air yang Sunni, agak konservatif, dan menghalalkan tapai.😆

    Tidak apa juga. Impresi orang berbeda-beda. Justru kalau berbeda ini yang menarik; sebab konsepnya semakin lemah dan penggunaannya semakin rancu.🙂

    @ Nenda Fadhilah

    Yup, Asia memang cenderung majemuk—sangat ekstrim kalau dibandingkan dengan benua-benua lainnya.

    Tapi hubungannya?😕

    @ Xaliber von Reginhild

    Sepakat. Saya kira sama saja—di seluruh penjuru dunia apa yang dirasa sebagai “dekadensi” (dalam tanda kutip, mari bermain relativisme😀 ) itu ada. Saya tidak merasa “timur” itu lebih bersih dari barat atau sebaliknya.

    Karena link yang dikasih mas jensen ada komen yang agak menarik… sekilas saya jadi kepikiran. Apa nilai Timur yang sering dimaksud orang itu beneran jadi muncul karena Islam yang masuk ke Indonesia ya?😕

    Bisa jadi. Budaya agama Abrahamik memang cenderung menekan (terlepas dari apakah ini bagus atau tidak)—misalnya Kristenisasi di Skandinavia atau, contoh lebih dekatnya, Perang Paderi di Sumatera Barat.

    Tapi saya bukan ahli sejarah, jadi itu sekadar pendapat saja.

    @ secondprince

    Ah, ini menarik. Bisa saja awalnya istilah tersebut muncul sebagai perbandingan dengan “budaya barat”.

    i) Kolonialisme Eropa datang ke Indonesia.
    ii) Terjadi benturan budaya, yang secara defensif dilabeli sebagai “pengaruh buruk dari barat” oleh para pribumi. Mesti diingat bahwa bangsa Eropa datang ke Nusantara pada abad ke-16, sangat dekat dengan Era Renaisans dan Pencerahan. Jadi mungkin pengaruh liberalisme sudah terasa dan para kolonialis waktu itu juga menawarkan gaya hidup yang lebih permisif.😕
    iii) Stigmatisasi ini melekat pada “nilai-nilai kebaratan”, dan lalu sebagai tandingannya dibuatkan “nilai-nilai ketimuran”, dengan mengabaikan nilai-nilai di “timur” (dan bahkan Nusantara) itu sendiri.

    *sotoy lagi*

    @ Catshade (2)

    Itu juga mungkin. Coba periksa gagasan saya ke Mas Secondprice, dan padukan dengan “bantuan” bangsa Oksidental untuk memistiskan bangsa Oriental. Barangkali begitu fenomena aslinya.

    @ goldfriend

    Ya, saya memang tertarik dengan hipotesis yang menyatakan bahwa istilah ini lahir sebagai “tandingan” buat “nilai kebaratan”, dengan mengabaikan level kemajemukan dua dunia yang berbeda. Barat cenderung seragam. Timur, ya, itu…

    sekedar iseng, dulu waktu saya masih SD dikasih tahu sama guru kalau timur itu disebelah kanan (tangan kanan) dan barat itu disebelah kiri (tangan kiri). trus, kalau pakai tangan kanan itu namanya sopan, beda dengan tangan kiri yang tidak sopan. makanya orang “timur” itu sopan dan santun, sementara orang barat itu nggak tau sopan santun.

    Bagaimana kalau pakai south-up map?:mrgreen:

    @ sitijenang

    He?😕

  20. Kalo kata Edward Said, “Timur” adalah apa yang bukan “Barat”. Dan betul, ini tidak ada kaitannya dengan lokasi geografis. Ini soal politik. Dari dulu sampai sekarang juga masih begitu. Dulunya pun bukan dulu-dulu banget. Paska pencerahan Eropa lah.😀

  21. Saya sih mikirnya, soal Timur dan Barat itu memang awalnya pas orang Eropa datang dari arah barat. Saat sudah sampai di sini, ternyata mereka tetap menerapkan pola hidup mereka seperti di Eropa, meski bukan melulu soal seks. Para pribumi, yang merasa tidak sesuai dengan kebiasaan mereka, menyebut itu sebagai budaya ‘orang-orang dari Barat’. Lama-kelamaan, segala budaya ‘orang-orang dari Barat’ itu, terutama yang berbeda dengan budaya asli pribumi, dikelompokkan dan disebut sebagai budaya Barat, sementara budaya asli pribumi, disebut sebagai budaya Timur, sebagai pembanding. Berhubung, banyak dari kebudayaan ‘Barat’ itu bertentangan dengan ajaran Islam yang kala itu tengah berasimilasi (cmiiw) dengan budaya ‘Timur’, maka muncullah anggapan bahwa budaya Barat itu sesat, barbar, buruk, negatif, dll.

    *wah panjang juga ya..*

  22. “Imaginative geography”, itu istilah Marshal G Hodgson –penulis dwilogi “The Venture of Islam”– mengenai kategorisasi “timur” dan “barat” ini. Timur dari mana? Dilihat dari Eropa. Timur jauh, jauh dari mana? Timur dekat, dekat dari mana? Semua diukur dari kacamata orang yang tinggal di Eropa, yang melihat ke arah Timur. Sesuatu yang imaginative itu menjadi kosa kata yang akhirnya seperti (mudah)diterima oleh banyak orang karena “imaginative geography” itu lantas dikukuhkan dalam waktu berabad-abad lamanya, melalui serangkaian karya tulis, novel, fiksi, puisi, laporan perjalanan hingga kolonialisme berikut pelbagai perangkatnya.

    Bicara tentang “adat, etika atau sopan santum KETIMURAN”, sadar atau tidak, masih berkutat pada cara pandang lama itu. See, bahkan akhirnya kita pun mengakui bahwa kita “berada di timur” atau “orang-orang timur”, etc.

    Saya kira sia-sia saja bicara tentang “adat-adat ketimuran” yang penuh sopan santun dan adab, apalagi jika dihadapkan dengan “adat-adat barat” yang danggap liberal dan menghalalkan freesex.

    Eropa yang liberal dan free itu baru benar-benar muncul belum lama, kok, belum sampe dua abad. Kemaharajaan Inggris, sampai awal abad-19, masih sangat amat konservatif dalam soal selangkangan dan perayaan libido. Periode konservatif itu lazim disebut “Abad Victorian”. (itu hampir bersamaan waktunya dengan prilaku seks gila-gilaan bangsawan Jawa). Novel “Lady Chatterley’s Lover” yang didakwa porno bahkan baru dicabut larangannya pada tahun 50-an di Amrik, puluhan tahun setelah penerbitan pertamanya.

    Barulah setelah memasuki abad-19, seiring munculnya industrialisasi, Eropa yang liberal dan free –termasuk dalam soal seks– muncul. Itu sebabnya Foucoult menyebut abad 19 sbg “abad pelipatgandaan” wacana seks di Eropa.

    Jika kita mau pakai ukuran “ketimuran”, mana saja yang masuk “timur” itu? harusnya juga termasuk timur tengah, timur dekat, timur jauh, termasuk –misalnya- Jepang. Geisha sukar diukur dari standar dari apa yang disebut “adat ketimuran” itu, juga fenomena JAV yang bahkan dilegalkan sekarang. Jika bicara ketimuran, ini berarti juga termasuk Papua yang di mana-mana masih mudah dijumpai perempuan-perempuannya telanjang dada. Mereka gak di barat loh. Mereka di Asia, di Indonesia, bahkan jauh lebih timur –secara geografis– dibandingkan Jawa, misalnya. Dan mereka harusnya masuk juga kategori ketimuran, kalo kt konsisten dg rumusan itu.

    Bisa saja akan ada orang yang bilang bahwa di Papua itu contoh dari kebudayaan primitif. Tapi itu hanya akan membuat kita mengulangi kesalahan yang sudah diperbuat Eropa sewaktu memandang dan melecehkan kita sbg bangsa primitif selama berabad-abad. Jika kita masih keukeuh bicara tentang “adat-adat ketimuran”, pasti bakalan banyak lubang-lubangnya, kita bakal menemukan banyak sekali perkecualian.

    Saya sih masih oke-oke saja dengan istilah “ketimuran/timur”, tapi jika sudah dilekati dengan “adat ketimuran”, ini lebih banyak problematisnya daripada jernihnya. Sebab, tidak ada standar yang sama soal adat isitadat, dari Turki (timur dekat), Jepang (timur jauh), Arab (timur tengah) hingga Indonesia (Timur jauh banget) apalagi Timor (yang memang namanya Timor), termasuk dalam soal seksualitas.

    “Timur” itu bukan satu keutuhan yang bulat, utuh dan mampat, dan tidak ada itu “timur” yang seragam, satu warna dan satu peradatan. Lha wong Timur itu awalnya sebuah konsep kok dan memang tak lebih dari sebuah konsepsi, bahkan hingga hari ini sekali pun. Konsep –di mana2– hanya ada di dalam kepala, bukan tumbuh di atas tanah layaknya pohon atau terbang di udara layaknya burung atau berenang layaknya ikan.

    Satu-satunya kesamaan dari geografi-geografi (yang katanya ) di timur itu dalam soal seksulitas adalah para bangsawan lama di tempat2 itu sama2 berhak memiliki istri lebih dari satu, belasan atau puluhan jika memang sanggup dan kuat!

    hehehehehe….

  23. Kelupaan.😛

    Secara murni memang demikian, tapi menurut [Mas yang ini], konvensi pemetaan memang menetapkan bahwa benua Amerika ada di barat, dan Asia ada di timur.😕

    Mungkin ada hubungannya dengan batas penanggalan internasional (IDL), tapi menurut saya sih ini akibat sejarah.

    AFAIK, CMIIW, memang ada sejarahnya. Di pelajaran SMP kan ada: Perjanjian Tordesillas. Waktu itu Portugis & Spanyol membagi dunia jadi dua, barat dan timur.

    Nah, garis batasnya itu sekitar Samudra Atlantik. Jadinya, ya, Amerika kenanya di barat lagi.😆

  24. BTW, kayaknya dikotomi timur-barat ini lebih mengacu ke Eropa-Non Eropa, deh. IMO. Soalnya setiap kali kita menyebut “Barat”, pasti asosiasinya ke orang kulit putih. Entah itu kulit putih Eropa atau US.

    Sementara orang Indian nggak pernah disebut “barat” ? Padahal mereka kan penduduk asli benua Amerika.😕

  25. Wheeehehehehe….
    IMHO, budaya timur itu akan merujuk ke nilai-nilai ideal dari bangsa Timur, Religius.
    Tapi bukankah barat juga religius?
    Di Barat, IMHO, religius adalah nilai praktis dan politis (see McCain, Konservatisme dll) sementara di timur lebih ke pencarian individu.

    Di barat budayanya adalah living in the fast lane, di timur lebih santai.

    Kalau orang barat bilang budaya timur, biasanya sih maksudnya Zen, Confusius, Buddhisme, Yoga, atau segala sesuatu yang berhubungan dengan mistisme (bukan Islam) .

    Dan setahuku, orang-orang yang memandang kebudayaan sendiri itu cenderung rabun dekat, dan untuk kebudayaan lain cenderung rabun jauh, ada yang total chauvinis POKOKNYA kebudayaan saya yang paling baik, ada yang minder dan mengagung-agungkan kebudayaan lain.

    Kalau barat ya melihatnya, umumnya timur itu alon2, ramah(teroris not included surely), kolaboratif dan religius. sedang barat lebih kompetitif, dll.

    Ah… pikiranku tidak terstruktur.

  26. @sora9n

    AFAIK, CMIIW, memang ada sejarahnya. Di pelajaran SMP kan ada: Perjanjian Tordesillas. Waktu itu Portugis & Spanyol membagi dunia jadi dua, barat dan timur.

    Ah, betul, saya jadi ingat kembali. Terima kasih atas pencerahannya.:mrgreen:

    Sementara orang Indian nggak pernah disebut “barat” ? Padahal mereka kan penduduk asli benua Amerika.😕

    Mungkin karena mereka bukanlah yang berpengaruh terhadap “adat kebaratan”? Yah, hanya dugaan.😕

    (PS: mungkin bisa juga karena Columbus berpikir bahwa mereka orang Asia😆 )

    @dnial

    Di barat budayanya adalah living in the fast lane, di timur lebih santai.

    Bukankah di timur ada Jepang, yang termasuk negara “living in the fast lane”? Haduh, jadi Jepang itu timur atau barat sih?😆

  27. @Disc-Co

    Bukankah di timur ada Jepang, yang termasuk negara “living in the fast lane”?

    Mari kita bilang kata kuncinya…
    Rata-rata, kebanyakan, dan sebagian besar.😛

    Lagipula Jepang itu yang kelihatan cuman Tokyo-nya aja… Yang di desa-desa terlihat santai2 saja. *kebanyakan nonton Dorama*

  28. @sora9n

    Sementara orang Indian nggak pernah disebut “barat” ? Padahal mereka kan penduduk asli benua Amerika.😕

    Dan kenapa orang Australia dan Selandia Baru disebut barat? Padahal mereka jelas2 di Timur.😛
    Trus gimana dengan orang Russia yang hidup di bagian Asia?

    Mari kita sepakati bahwa pembagian barat dan timur itu sangat rancu😛

  29. @zen

    The Venture of Islam bukannya Trilogi?

    The Venture of Islam, Volume 3: The Gunpowder Empires and Modern Times (Venture of Islam Vol. 3) (Paperback)

    *iseng*

    @sora9n

    Kamu ini kok kerjanya malah main-main sih. Mana itu kelanjutan artikel QM? Ayo, cepat selesaikan. Besok itu tulisan sudah harus ada di meja bapak paling lambat jam sepuluh. Nanti saya kasih nilai F kamu.

    [dosen gendeng mode off]

  30. mungkin sosialisasinya perda dulu kali yah, perda RT atau RW, kan enak yang gak suka tinggal pindah atau diem, biasanya kan terutama kalau di desa orangnya tipikal, di desa dekat pesantren misal mungkin ga susah nerapin aturan semacam ini. toh kalaupun ada pendatang biasanya mudah adapt dengan aturan setempat. wong pangeran charles aja ngerti kok berpakaian sopan masuk mesjid.

    *ngajeni*

  31. @gentole: Versi yang saya punya masih dwilogi. Di kata pengantar jilid satu memang disebutin kalo ada kemungkinan jilid ketiga keluar, jilid ini disusun berdasar catatan-catatan Hodgson yang berserakan dan belum utuh bahkan sampai ia keburu wafat. Nah, saya blm punya yang jilid ketiga itu. gitu, bos.🙂

  32. @ Amed

    Betul. Rasanya memang mulai mengental dari Era Penjelajahan.😕

    @ gentole

    Lebih ke arah budaya barangkali? Soal “bukan dulu-dulu banget”, saya punya pengalaman sendiri. Waktu saya SMP, justru sepertinya dari indoktrinasi gagasan yang saya dapat, bisa jadi dikotomi timur-barat di mata beberapa orang tidak se-“baru” itu. Guru saya dulu berkoar-koar tentang dikotomi itu dengan memasukkan zaman Kekaisaran Roma. Bisa ditebak, Zaman Emas Islam juga dimasukkan ke cerita supaya seru.:mrgreen:

    @ Nazieb

    Ya. Mirip dengan gagasan yang ada di respon saya buat Mas Secondprince.

    @ BUNYU ONLINE

    Silakan.

    @ zen

    *ada sang Pejalan Jauh himself😯 *

    *gelar karpet merah*

    Saya bukan ahli sejarah, tapi rasa-rasanya rangkumannya memang seperti itu;

    1) Fenomena liberalisme di “Barat” itu sendiri tidaklah “tradisional” dan cenderung baru. Akar-akarnya sendiri ada di Era Pencerahan yang terjadi lumayan jauh juga setelah kaum kolonial menyentuh tanah Nusantara?😕

    2) Konsep “timur” itu sendiri kurang jelas. “Timur” di dalam kepala “Barat” sendiri lebih ke timur jauh—bangsa kulit kuning yang dianggap mistis dan bijak, yang nilai-nilainya juga bisa dibilang berbeda dengan Nusantara.

    Jadi istilah ini apa memang mesti dihentikan penggunaannya?

    @ sora9n

    Ya soalnya bangsa Eropa itu ‘kan aktor utama Era Penjelajahan, jadi secara tidak langsung konsep-konsep yang berkenaan dengan dunia secara global bakal sedikit Eurosentris.

    Nah, yang nge-hip itu ‘kan awalnya memang mistisisme “timur” (e.g. Marco Polo). Jadi mungkin, ya, karena “timur” itu sudah identik secara budaya dengan suatu negeri nun jauh di sana, posisi pengamat ya jadi “barat”.😛 Dunia Baru (i.e. Amerika dan Australia) ‘kan baru dikenal belakangan, hence the name. Amerika sendiri malah lama dianggap sebagai India oleh Columbus.

    *lagi-lagi sotoy*

    @ dana

    Yup, impresinya seperti itu.

    @ dnial

    Intinya ya itu, kok bisa jadi ada semacam supremasi moral? Sebab ya setelah melihat ke belakang, tidak jauh beda.😕 Kalau nilai-nilai yang ada sekarang (“nilai praktis dan politis”, dsb.), kayaknya tidak terlalu berpengaruh. “Nilai ketimuran” yang dikisahkan di sini ‘kan sepertinya lebih ke nilai-nilai tradisional yang mestinya ada sejak zaman sebelum Masehi.😛

    @ joesatch yang legendaris

    Tadinya ndak diniatkan jadi serame ini.😆

    @ Disc-Co

    Kalau menurut saya, sepertinya, itu ya bisa jadi karena Columbus sendiri tidak menyadari kalau itu adalah benua baru. Namanya juga ‘kan “Dunia Baru” dan datang belakangan. Sewaktu itu ditemukan, orang sudah terbiasa dengan konsep tradisional barat-adalah-Eropa-timur-adalah-China-dan-India.😕

    @ dnial

    Dan kenapa orang Australia dan Selandia Baru disebut barat? Padahal mereka jelas2 di Timur.😛
    Trus gimana dengan orang Russia yang hidup di bagian Asia?

    Mari kita sepakati bahwa pembagian barat dan timur itu sangat rancu😛

    Touché.:mrgreen:

    @ spidolhitam

    Ya?😕

    *agak ga nyambung*

  33. ada yang total chauvinis POKOKNYA kebudayaan saya yang paling baik,

    ~dnial
    Berarti…berarti…para dosen di cerita di blog zen, terus gurunya bang goldfriend, itu mengajarkan chauvinisme?
    Hlah…di mana itu katanya “mengambil yang baik dari budaya lain dan menjauhi yang buruk”?😕

    *OOT*
    CMIIW, tapi sepertinya murid di Indonesia cenderung diajarkan untuk condong ke yang kedua. Benar ga ya?
    */OOT*

    @K. geddoe

    Jadi istilah ini apa memang mesti dihentikan penggunaannya?

    Yap, that’s it. Sudah tidak relevan…emangnya dulu relevan?😛
    IMO masih lebih baik pake embel-embel budaya Indonesia daripada budaya timur. Ya tentu saja bukan dengan model chauvinisme.
    Kalau penghentian tidak bisa dilakukan secara massal, ya individu dulu aja.

    BTW Mbak Rima mana ya, biasanya beliau yang getol membahas masalah timur-barat ini😛

    @sora9n
    <blockquote<blockquoteBTW ente sudah khatam itu tetralogi?😕
    Udah. Sekitar 1-2 minggu lalu, sih. (o_0)”\
    Astaga…😯
    Akang…kembali kuliah atuh…😛
    Hehe…
    Saya sudah lupa ini cerita, padahal dulu waktu SMA sudah baca tetralogi ini…

    @joe
    KAFIR KAMU™!!😆

  34. budaya timur ama barat mang lebih banyak merujuk pada keislaman setahu sayah.. tapi kalo dipake untuk membedakan budaya melayu dan bukan melayu ga tau juga….*bingun*

  35. saya malah merasa aneh dengan tulisan anda yang singkat itu ^
    dimana-mana prostitusi (yg anda contohkan dg ‘geisha’) ada di-mana mana, di barat, daerah timur maupun timur tengah.. dar9i dulu kemarin sekarang dan akan datang…hal itu tak bisa di hindarkan
    memang nilai-nilai sekarang yg dianut kebanyakan bangsa Indonesia adalah nilai Islam (yg mungkin anada maksud nilai timur tengah)
    tapi cobalah anda dan para pembaca merenungi,,Indonesia bukan cuma Jawa, Bung!!
    ada daerah sumatra dan kalimantan bagian barat yg Islamnya kuat..mereka tak menganut nilai timur-tengah tapi nilai Islam. nah,setelah Islam masuk dan sampai sekarang ini 80% orang Indonesia adalah orang Islam, orang jawa yg dulu menganut kejawen yg kuat, sedikit demi sedikit bergesre kepada Islam..dan contohnya banyak aktifis Islam dari tanah Jawa.
    kalau digeneralisasikan, nilai ketimuran yg kita anut memang banyak dipengaruhi oleh Islam. nilai ketimuran adalah nilai-nilai yg menganut azaz “MALU”, tidak mengumbar sex maupun hal-hal porno secara eksplisit seperti yg dilakukan orang barat..itu intinya.
    jadi nggak ada hubungannya sama timur-tengah..
    masalah raja-raja Jawa, cobalah dipelajari lagi..saya malah balik bertanya apakah mereka (raja-raja jawa) mempertontnkan perilaku sex di muka umum??
    Intinya…nilai ketimuran ala Indonesia masa kini jangan disamakan dg ketimuran negara lain dan jgn disamakan dg masa lalu

  36. @ lambrtz

    Hahaha, saya juga makin lama memperhatikan jargon seperti itu, makin merasa tidak enak.😀 Coba kita substitusi bangsa “timur” dan “barat” dengan suku-suku, yang jangkauannya lebih kecil;

    “Nilai-nilai yang ditawarkan film ini sebenarnya dari sudut pandang adat Jawa yang luhur memang tidak sepenuhnya dapat diterima, sebab nilai-nilai yang ada adalah nilai orang Sunda.”

    Kalau jadinya seperti ini, pasti banyak kuping yang jadi panas. Padahal buat saya tidak ada perbedaan yang substansial antara sentimen ini dan sentimen oksidental-oriental yang lebih luas.😆

    @ almascatie

    Mungkin memang sering dipergunakan untuk merujuk pada norma-norma keislaman? Tapi yang jelas, saya baru mendengar dikotomi seperti itu di Indonesia saja.😕

    @ Vandeput

    Ah, terima kasih sudah mengutip!🙂

    @ Kunderemp An-Narkaulipsiy

    Eh, itu bisa saja terjadi…😦

    *mengingat nasib Patung Buddha Raksasa di Bamyan*

    *takut*

    @ merasa aneh

    memang nilai-nilai sekarang yg dianut kebanyakan bangsa Indonesia adalah nilai Islam (yg mungkin anada maksud nilai timur tengah)

    Tidak, seperti yang saya nyatakan di atas, saya kira nilai yang dianut oleh bangsa di Timteng dan Nusantara ialah berbeda, walau tetap memakai facade agama Islam.

    tapi cobalah anda dan para pembaca merenungi,,Indonesia bukan cuma Jawa, Bung!!
    ada daerah sumatra dan kalimantan bagian barat yg Islamnya kuat..mereka tak menganut nilai timur-tengah tapi nilai Islam.

    Bagaimana dengan Sultan Iskandar Muda yang dulu meminta dua wanita kulit putih dari saudagar Eropa (yang rasanya tidak mungkin hanya untuk dijadikan tukang giling cabe)?

    Tapi, bagaimanapun, jadi Anda barusan mengorbankan orang Jawa demi mempertahankan kebanggaan nilai ketimuran™ Anda?🙂 Orang Sumatera dan Kalimantan lebih “timur” dari orang Jawa?

    Kalau “nilai ketimuran” itu benar ada, mestinya ia bekerja secara universal, dong. Kalau hanya ada di luar Jawa, lalu baru ada sejak Islam datang ke Nusantara, dan sedang “bergeser sedikit demi sedikit”, itu menurut saya belum pantas diberi label “nilai” dari suatu peradaban. Liberalisme yang ada di “barat” itu juga belum lama, kok. Malah usianya lebih muda ketimbang nilai ketimuran™ di Indonesia (kalau memakai gagasan Anda).

    Anda mengatakan bahwa nilai ketimuran™ sekarang tidak bisa disamakan dengan nilai masa lalu dan nilai negara lain, tapi kalau begitu, itu namanya nilai Indonesia, bukan nilai “timur”. Masa Anda tidak sadar kalau negara timur lain seperti Jepang dan Rusia itu sama permisifnya dengan negara-negara Eropa?

    (BTW, Anda memberi kesan bahwa nilai ketimuran™ ini adalah nilai bangsa Indonesia, yang lalu secara tidak menggambarkan superioritas moral orang Indonesia menurut kacamata Islam pemahaman Anda. Silakan lihat peta penyebaran majalah Playboy di dunia.:mrgreen: )

    nilai ketimuran adalah nilai-nilai yg menganut azaz “MALU”, tidak mengumbar sex maupun hal-hal porno secara eksplisit seperti yg dilakukan orang barat..itu intinya.

    Wah, mengerikan sekali supremasi moral Anda.😐 Saya yang pribumi saja mendengarnya sedikit merasa tidak enak.

    Salam.

  37. K.geddoe

    Lebih ke arah budaya barangkali?

    Bukan, bukan budaya an sich. Ketika seseorang berbicaya tentang nilai ketimuran vis a vis kebudayaan Barat, maka konteksnya politik. Nilai-nilai itu diciptakan dan direproduksi sebagai sebuah negasi terhadap dominasi/supremasi kebudayaan Barat. Karena itu, sikap anti-Barat dan pengagungan terhadap nilai ketimuran hanya bisa dimengerti dalam konteks relasi kekuasaan, atau konteks politik, dari dua pihak yang berseteru. Pemikir kiri Slavoj Zizek ngebahas soal ini juga. Dia bilang, setelah Huntington ngoceh soal benturan peradaban, orang cenderung melakukan politisasi kebudayaan atau, sebaliknya, kulturalisasi politik. Batas-batas antara yang kultural dan yang politis menjadi semakin kabur. Jilbab itu bukan lagi semata-mata “perintah Allah”, tetapi juga sebuah pernyataan politis bahwa sang pemakai bahwa dia bukan bagian dari “Barat yang kafir”.

    Ini memang persoalan. Karena dengan kulturalisasi politik, maka konflik antar-peradaban dilihat sebagai persoalan toleransi/intoleransi belaka, bukan masalah ketidakadilan, eksploitasi dan distribusi kekuasaan yang timpang. Coba lihat perjuangan orang Palestina melawan Israel, atau Hugo Chavez dan Ahmadinejad melawan Amerika, apakah itu semata-mata persoalan toleransi? Apakah tindakan mereka harus dilihat sebagai “class struggle”? Ah, nanti saya tulis sendiri deh di blog saya.

    @merasa aneh

    Terima kasih untuk datang memberi komentas blog ini dan membuat K.geddoe merasa berguna bagi nusa dan bangsa.:mrgreen:

  38. Bukan, bukan budaya an sich. Ketika seseorang berbicaya tentang nilai ketimuran vis a vis kebudayaan Barat, maka konteksnya politik. Nilai-nilai itu diciptakan dan direproduksi sebagai sebuah negasi terhadap dominasi/supremasi kebudayaan Barat. […]
    Jilbab itu bukan lagi semata-mata “perintah Allah”, tetapi juga sebuah pernyataan politis bahwa sang pemakai bahwa dia bukan bagian dari “Barat yang kafir”.

    Fallacy Overgeneralisasi barangkali?
    Timur dan Barat sepenerawangan saya nggak sehomogen itu.

    Orang Madura punya stereotip kasar, orang Jakarta cuek dan semaunya, orang Jawa alon-alon asal kelakon, dan orang China ulet dan terkadang licik, to mention some. (stereotyping is overgeneralization of course)

    “Timur” dan “Barat” juga begitu. Maybe It’s just hasty generalization.🙄

    Btw… menyangkut topik ini, Chavez itu Barat atau Timur?
    Wuakakakakaka………..😆

  39. Beberapa tahun lalu (sampai sekarang sepertinya) ada dikotomi politik Utara – Selatan. Utara mewakili negara maju (AS, sebagian besar Eropa Barat, Jepang, Korsel) sedang Selatan mewakili negara berkembang yang memang sebagian besar berada di selatan khatulistiwa.

    Di koran-koran ada wacana kerjasama Utara- Selatan, atau kerjasama Utara-Utara untuk menggambarkan G-8.

    Mungkin mirip2 itu yak?

  40. @ gentole

    Weleh weleh, ujung-ujungnya ke politik kita-dan-mereka lagikah?😆

    Kalo gitu saya nunggu ajalah; mohon trekbeknya nanti.:mrgreen:

    @ dnial

    Timur dan Barat sepenerawangan saya nggak sehomogen itu.

    Makanya saya bingung. Kalau menurut Bu/Bung Merasa Aneh di atas, “budaya timur itu jangan disangkut pautkan dengan luar negeri”. Mungkin maksudnya Indonesia saja, terkecuali Jawa. Spesifiknya sih, kata beliau, yang timur itu adalah Sumatera dan Kalimantan bagian barat. Saya jadi makin bingung, Mas bisa kasih pencerahan?🙂

  41. Spesifiknya sih, kata beliau, yang timur itu adalah Sumatera dan Kalimantan bagian barat. Saya jadi makin bingung, Mas bisa kasih pencerahan?🙂

    Saya juga bingung…
    Jadi orang Batak itu kebudayaannya Islam semua?
    Trus kenapa sebagian dari mereka gemar makan binatang kesayangan saya (baca:anjing)?🙄

    @merasa aneh

    kalau digeneralisasikan, nilai ketimuran yg kita anut memang banyak dipengaruhi oleh Islam. nilai ketimuran adalah nilai-nilai yg menganut azaz “MALU”, tidak mengumbar sex maupun hal-hal porno secara eksplisit seperti yg dilakukan orang barat..itu intinya.

    This is somewhat questionable.

    Mungkin sedikit jump to conclusion, tapi bukankah hal ini berarti budaya timur tidak mengumbar sex secara eksplisit tapi sembunyi2 karena budaya malu?

    Contoh kasus :
    Dan di budaya barat ada aturan untuk distribusi barang2 p0rn0, ada batasan usia untuk akses ke barang2 p0rn0, bahkan untuk menonton film ada yang namanya rating (bukan sensor) sehingga anak di bawah umur nggak boleh lihat James Bond atau Wanted karena ratingnya R.

    Di Indonesia karena budaya malu (malu mau) regulasi barang p0rn0 menjadi susah. Terbentur stigma “kalau meregulasi peredaran material p0rn0grafi berarti kita menyetujui p0rn0grafi.” padahal tanpa regulasi materi p0rn0grafi diperdagangkan secara sembunyi2 dan anak SD pun bisa mengaksesnya.

    Sebenarnya saya bingung, budaya malu “orang timur” itu konstruktif atau destruktif sih?

  42. kalau digeneralisasikan, nilai ketimuran yg kita anut memang banyak dipengaruhi oleh Islam. nilai ketimuran adalah nilai-nilai yg menganut azaz “MALU”, tidak mengumbar sex maupun hal-hal porno secara eksplisit seperti yg dilakukan orang barat..itu intinya.

    Kalau masalahnya memang hanya malu mengumbar secara terang-terangan di muka umum, bisakah saya bilang kalau nilai-nilai ini mendukung kemunafikan?🙄

    *sapu debu dan kotoran ke bawah karpet*

    Intinya…nilai ketimuran ala Indonesia masa kini jangan disamakan dg ketimuran negara lain dan jgn disamakan dg masa lalu

    Anda menolak ‘nilai ketimuran Islam Indonesia abad ke-20’ diserupakan dengan nilai ketimuran negara lain atau nilai di masa lalu, tapi di sisi lain anda dengan gampangnya (dan tanpa penjelasan) mengelompokkan hampir separuh penduduk dunia ke dalam satu kategori ‘orang barat’?

    Sebelum saya menuduh anda hipokrit atawa mencla-mencle, coba tolong jelaskan apa pengertian dan batasan anda mengenai ‘budaya barat’ itu sendiri.😛

  43. Btw, ini cuma perasaan saya saja, atau memang setiap kali ‘nilai ketimuran’ disebut sebagai pembelaan, masalah yang dimaksud hampir selalu berkaitan dengan seksualitas?😕

  44. Jadi gimana? Terbuka atau tertutup nih?

    Btw, di AS ada fenomena serupa, hal ini disebut kembali ke nilai2 keluarga kalau di sini paralel dengan adat ketimuran.

    List of family values via wikipedia :
    * Promotion of traditional marriage and opposition to adultery
    * Opposition to same-sex marriage
    * Support for traditional education and parental involvement in that education
    * Support for policies that encourage “adoption over abortion”
    * Support for behavior identified as traditional or moral such as respect, discipline, attentiveness, religious commitment
    * Support for healthy choices such as a nutritious diet, medical screenings, and physical activity
    * Support for “abstinence education” exclusively regarding risks associated with early sexual activity such as teen pregnancies and sexually transmitted diseases while not teaching such topics of sex education as human sexual behavior, safe sex and birth control.
    * Support for policies that are said to protect children from obscenity and exploitation via censorship, among other methods.

    Mirip dengan “nilai timur” kan?

  45. @ lambrtz
    Berhubung saya setengah timur (indonesia) seperempat barat (belanda) seperempat timur tengah (arab) namun memilih utk menjadi warga dunia dibanding negara tertentu yg otomatis membuat saya saya memilih menjadi pengamat saja kali ini..

  46. @ Catshade

    Bukan perasaan masbro, fakta itu. Secara seluruh masalah seksual selain daripada ‘hubungan suami istri posisi misionari’ pasti dianggap budaya barat dengan konotasi negatif. IMO

  47. Koreksi kalau aku salah, seingatku, ketika tentara Inggris datang di Sumatera Barat, salah satu perawat nekat mandi di sungai. Hasilnya? Perawat tersebut diperkosa oleh pemuda-pemuda lokal (yang bisa disimpulkan adalah pemuda Minang). Satu serdadu Inggris yang berada di TKP terbunuh.

    –sumber: Kahin, Audrey. Rebellion to Integration: West Sumatra and Indonesian Polity

    Kalau benar, berarti cukup ironis..😛

    PS:
    Chavez itu Selatan… jadi gimana kalau kita bagi bumi sebagai utara-selatan? Indonesia di tengah-tengah alias setengah2..😛

  48. @ dnial

    Saya ikut menunggu jawaban yang disiapkan Bu/Bung Merasa Aneh.🙂

    @ Catshade | jensen99

    Entah kenapa memang menjurus ke subyek seksualitas. Saya juga heran kenapa; apa memang kecenderungan bawah sadar? Mas Catshade tentunya lebih ahli masalah beginian.😀

    Atau bisa juga karena hanya itu yang bisa “dibanggakan” dari “budaya timur”? Dari segi kebebasan pers, kemajuan sains, dan bidang lainnya, “timur” memang tertinggal. Memang bangsa seperti bangsa Asia Timur bisa jadi pengecualian, tapi “nilai” mereka pun berbeda dengan “timur” yang sedang dibicarakan. Jangan-jangan kasus inferiority complex?😕

    Anda menolak ‘nilai ketimuran Islam Indonesia abad ke-20′ diserupakan dengan nilai ketimuran negara lain atau nilai di masa lalu, tapi di sisi lain anda dengan gampangnya (dan tanpa penjelasan) mengelompokkan hampir separuh penduduk dunia ke dalam satu kategori ‘orang barat’?

    Ini touché. You win the internet.

    *nunggu jawaban ybs*

    @ dnial

    AS memang sangat konservatif kalau dijajarkan dengan negara-negara dunia pertama lainnya. Misalnya dalam debat cawapres tempo hari, baik calon dari partai Republik maupun Demokrat semuanya memberi lip service pada konsep family value semacam ini (setidaknya yang saya tangkap begitu).

    Jadi, ya, bisa saja itu penyakit yang serupa.🙂 Menurut saya, lho. Pengetahuan saya ke topik beginian memang dangkal sekali, sih.

    @ rima fauzi

    Wah, sayang sekali. Padahal karena hidup di berbagai “dunia”, mungkin Mbak bisa memberi pencerahan.😀

    @ Kunderemp

    Ada sumbernya, jadi lumayan intimidating juga. Kayaknya meyakinkan—dan memang sangat ironis kalau benar-benar sahih. Saya penasaran apologi apa yang bakal dipergunakan. Saya tetap berpendapat bahwa nilai-nilai kesukuan adalah sesuatu yang tidak bisa diformulasikan dengan gampangnya; menegasikan klaim superioritas moral “timur”.

  49. @Catshade No.1
    Merujuk ke budaya Timur tengah?? Bukannya itu malah lebih sadis kadar seksualnya dibanding jawa??

    @Geddoe
    Kalo urusan bawah perut “Barat” di klaim lebih bejat, tapi urusan “penggal memenggal” Timur lebih sadis. Jadi kalo membahas “adat ketimuran” fokusnya jgn hanya urusan bawah perut aja, sehingga kalau disandingkan data2nya akan terlihat berimbang kadar negatifnya.
    India bukannya termasuk Timur juga?? Bagaimana dgn Kamasutra-nya?? hehehe…

  50. @CY

    Kalo urusan bawah perut “Barat” di klaim lebih bejat, tapi urusan “penggal memenggal” Timur lebih sadis. Jadi kalo membahas “adat ketimuran” fokusnya jgn hanya urusan bawah perut aja, sehingga kalau disandingkan data2nya akan terlihat berimbang kadar negatifnya.

    Aku kok malah ngerasa isu Timur-Barat ini adalah confirmation bias massal.

    Misalnya kalau barat diklaim lebih sedikit kepala terpenggal, lihat Yugoslavia, Holocaust, Georgia, Komunisme. Kalau kita bilang budaya Arab lebih santun soal sex, lihat TKW kita yang diperkosa di Arab.

    Karena kita selalu terkungkung dengan pandangan Arab = santun tapi kejam dan barat = bermoral tapi seronok maka kita cenderung mengabaikan fakta2 itu.

    Atau sebenarnya kita bicara soal nilai ideal?

    Maka nilai real yang dipersepsikan dari barat(free sex, juvenile deliquency, gang) harusnya diabaikan dan kita melihat nilai luhurnya, Kebebasan, demokrasi, HAM, berpikir kritis, dll. Begitu pula dengan Timur kita melihat nilai idealnya, Religius, Kolaborasi, Kesetiakwanan sosial, komunitas, dll.

    Well, Nilai ideal itu tentu saja terbuka untuk didebatkan karena aku cenderung melihat sekilas.😛

    So kalo kita bandingkan nilai ideal Timur dan nilai real barat tentu nggak cocok, karena nggak apple-to-apple.

  51. Well, apakah pada intinya, jangan merasa sebagai orang paling alim sedunia dan orang lain paling tidak alim sedunia, hanya karena memakai suatu label tertentu, seperti Suku, Agama, Ras, atau Negara😀

    *lihat peta Majalah Playboy*

    Terima kasih atas referensinya (worship)

  52. @ Ajaran

    Siapa yang dimaksud?

    @ CY | dnial

    Tepat, seperti itu. Ada semacam bias memang. Lagipula untungnya apa, sih? Kalaupun kita berasal dari bangsa timur atau bangsa barat, toh tidak lantas menghalalkan membunuh? Toh tidak menghalalkan memerkosa? Secara praktek saya tidak melihat ada keuntungan yang dihasilkan dari klaim superioritas, baik barat atau timur.

    @ Vandeput

    Ya, intinya demikian.😀

  53. @Dnial
    Itu sebabnya saya bilang data2nya perlu disandingkan sehingga akhirnya terlihat bahwa baik Timur maupun Barat sama bejat dan sadisnya hehehe…
    Dan kesimpulan akhir setelah itu, manusia memang bejat dan sadis. Ga terpolarisasi lagi kan?? 😆

  54. K.Geddoe:
    Sebetulnya ingin sih bisa memberi ‘pencerahan’ tapi sayangnya bagi banyak org sepertinya saya ini ‘gelap gulita’..

    Untuk saya pribadi sih adat timur barat sama saja dulunya. Kalau masalah pakaian, sex, dll negara2 ‘barat’ pun dulu memiliki nilai2 yang mirip dengan timur. Baju tertutup rapat, sex sebagai sesuatu yang tabu dan lain2nya. Namun setelah beberapa abad manusia terus menerus berevolusi dalam pikiran dan mengexplorasi seksualitasnya juga bermain2 dengan konsep nature dan kebebasan maka itu yg saya rasa banyak mengubah ‘budaya’ di barat dan akhirnya, timur juga ikut terubah, walaupun tertinggal beberapa dekade.

    Saya juga merasa bahwa kedua ‘budaya’ tersebut ada baik ada buruknya, tapi saya pribadi lebih cocok dengan budaya yang sekarang ini dibilang barat, karena (kalau orang islam bilang) lebih banyak manfaat dibanding mudarat.
    Budaya ‘timur'(tengah) adalah sebaliknya.

    Namun apabila kita membicarakan norma ketimuran a la Indonesia menurut saya yang asli adalah bukan yg sudah diperkosa oleh timur tengah. Misalnya jawa (dan kejawen-nyah), bali, kalimantan, toraja, batak, bugis, menado, sunda, padang bahkan aceh (aceh yang asli, yang wanita2nya dihormati dan sakti2, bukan aceh circa 8-10 thn belakangan ini yang sudah termutasi menjadi suatu hal yang ajaib) yang jaman dulu itulah nilai ketimuran a la Indonesia yang REAL dan yang indah. Sayangnya saking tidak pedenya manusia indonesia, maka segala sesuatunya, bahkan norma2 kehidupan pun mesti impor dari negara lain.

    Tuh kan, giliran saya nulis pasti ujung2nya ke topik ini lagi. Nanti saya dituduh rasis deh.. (padahal emang iya :p)

  55. Aneh, karena kalau yang dimaksud itu adalah nilai ke-arab-an, maka sebenarnya lebih pantas disebut nilai kebaratan (wong kita salat aja kiblat ke barat kok, Hehehehhe)

    Tapi bener kok, istilah nilai ketimuran itu sebenarnya rancu. Lebih ke kebanggaan yang ga jelas juntrungannya.😉

  56. Pingback: Cacat Lahir Gagasan Toleransi dan Multikulturalisme « Catatan Gentole

  57. Idem sama mas hariadhi

    Istilah nilai ketimuran itu memang rancu, dan ndak pernah terdefinisikan dengan jelas. Kalau saya sendiri melihatnya, sedikit banyak, ini warisan dari perang-perang yang pernah ada, ie. perang salib, yang mencari-cari pembenaran untuk melanjutkan benturan-benturan ke depan.

    Seperti karya Huntington yang lumayan jadi modal buat membuat dikotomi antara timur dan barat itu lho, Ged, yang saya dan Bang Fertob dulu cengiri karena cuma jadi pembenaran buat membelah-belah demikian.

    Atau istilah “nilai ketimuran” itu cuma kamuflase lain dari sentimen nasionalisme semu? Bukankah sering jadi alasan utk “mari kembali ke akar budaya kita” yang juga sering tidak peduli bahwa akar budaya dimanapun memiliki boroknya sendiri-sendiri?😕

    @ rimafauzi

    Namun apabila kita membicarakan norma ketimuran a la Indonesia menurut saya yang asli adalah bukan yg sudah diperkosa oleh timur tengah. Misalnya jawa (dan kejawen-nyah), bali, kalimantan, toraja, batak, bugis, menado, sunda, padang bahkan aceh (aceh yang asli, yang wanita2nya dihormati dan sakti2, bukan aceh circa 8-10 thn belakangan ini yang sudah termutasi menjadi suatu hal yang ajaib) yang jaman dulu itulah nilai ketimuran a la Indonesia yang REAL dan yang indah.

    *meng-aminkan*

    Jika itu yang disebut nilai Ketimuran, ada benarnya, Mbak. Meski sebenarnya saya sendiri lebih suka menyebut itu moral kebudayaan, yang berkembang karena peradaban suku-suku bangsa itu sendiri. Tapi dalam hal ini sendiri, tidak ada jaminan juga bahwa nilai-nilai itu bangkit dan berkembang sendiri. Karena penyebaran penduduk, sebut saja di Aceh, merupakan asimilasi dari banyak suku bangsa dan ras. Saya sendiri tidak pernah yakin ada entitas Aceh asli yang tidak tersentuh peradaban luar, selain suku Mante di Aceh Besar yang sudah punah, jauh sebelum orang2 Gujarat dan Timur Tengah mengimpor agama dan budaya dari sana😕

    Sayangnya saking tidak pedenya manusia indonesia, maka segala sesuatunya, bahkan norma2 kehidupan pun mesti impor dari negara lain.

    😆

    Benar. Tidak peduli diimpor darimanapun, kesannya seperti menduplikasi diri mati-matian sebagai produk dari negeri lain.😀

    Ah ya, saya jadi ingat tahun 1990-an, agar tidak dikatakan ketinggalan peradaban dan teknologi, Indonesia setengah mati membuat pesawat terbang, cuma buat ditukar dengan beras ketan dari Thailand, sementara beras ketan sendiri bisa diproduksi di negara agraris ini:mrgreen:

    *masih shock liat Ratu Adil di atas masih hidup*🙄

  58. Tapi, bagaimanapun, jadi Anda barusan mengorbankan orang Jawa demi mempertahankan kebanggaan nilai ketimuran™ Anda? Orang Sumatera dan Kalimantan lebih “timur” dari orang Jawa?

    maaf…saya merasa anda kok SARA banget…
    yg bilang org sumatera dan jawa ‘lebih timur’ itu anda BUKAN SAYA.
    saya cuma ingin menegaskan untuk tidak memandang indonesia sepotong-sepotong. karena selama ini secara tidak sadra maupun sadar banyak org atau blog yg memandang indonesia dari sisi satu atau beberapa pandangan budaya/ daerah saja.
    OK??

    apa anda lazim melihat org indonesia (dari sabang sampai merauke) berciuman di depan umum atau ditengah jalan???
    apa lazim??
    kalau di Inggris atau Spanyol atau negara eropa lainnya itu lazim, nah kalau di Indonesia bagaimana HAH??
    itu inti dari budaya timur: MALU titik
    peace lah….!!!

  59. Tapi, bagaimanapun, jadi Anda barusan mengorbankan orang Jawa demi mempertahankan kebanggaan nilai ketimuran™ Anda? Orang Sumatera dan Kalimantan lebih “timur” dari orang Jawa?

    maaf…saya merasa anda kok SARA banget…
    yg bilang org sumatera dan kalimantan ‘lebih timur’ itu anda, BUKAN SAYA.
    saya cuma ingin menegaskan untuk tidak memandang indonesia sepotong-sepotong. karena selama ini secara tidak sadar maupun sadar banyak org atau blog yg memandang indonesia dari sisi satu atau beberapa pandangan budaya/ daerah saja.
    OK??

    apa anda lazim melihat org indonesia (dari sabang sampai merauke) berciuman di depan umum atau ditengah jalan???
    apa lazim??
    kalau di Inggris atau Spanyol atau negara eropa lainnya itu lazim, nah kalau di Indonesia bagaimana HAH??
    itu inti dari budaya timur: MALU titik
    jangan bikin org2 yg baca blog anda jadi pusing,,terutama anak2 smp atau sma yg baca blog anda…jangan samapai mereka tambah bingung
    peace lah….!!!

  60. saya cuma ingin menegaskan untuk tidak memandang indonesia sepotong-sepotong. karena selama ini secara tidak sadar maupun sadar banyak org atau blog yg memandang indonesia dari sisi satu atau beberapa pandangan budaya/ daerah saja.

    OK, bisa diterima.

    itu inti dari budaya timur: MALU titik

    Wait, WHAT?!😯

    Dari himbauan untuk tidak memandang kebudayaan secara sepotong-sepotong, kemudian anda serta-merta beralih ke overgeneralisasi? 300 lebih suku di Indonesia dengan budayanya masing-masing yang unik (dan ribuan lainnya di negara-negara yang secara tradisional dikategorikan negara timur)… anda simpulkan dalam 1 kata: “Malu”. Selesai.

    I…I’m speechless. Dan lebih bingung dengan jawaban anda daripada pertanyaan Geddoe😕

  61. @masih merasa aneh

    apa anda lazim melihat org indonesia (dari sabang sampai merauke) berciuman di depan umum atau ditengah jalan???
    apa lazim??

    Ujung-ujungnya seks saja, bukan? Inipun debatable. Kalau orang “Timur” punya “budaya malu” yang lebih luas, mengapa pelacuran masih ada, mengapa viagra dijual di tengah jalan, kenapa terminal bis di Indonesia selalu bau pesing, kenapa tukang DVD bajakan ada di mall keren dan di pasar-pasar, kenapa pedagang kaki lima mengambil hak pejalan kaki, mengapa pemerintah melupakan pedagang kaki lima, mengapa di jalanan banyak calo, etc. Kecuali jualan viagra di jalanan, saya kira yang saya sebutkan di atas fenomena yang hampir merata di seluruh Indonesia.

  62. kalau kata dosen sayah…budaya timur itu lebih ke arah emosi sedangkan budaya barat itu rasio.

    tapi yah, siapa peduli.

    Mungkin sudah saatnya berhenti membagi dua hanya budaya timur dan budaya barat.😕

  63. @merasa aneh

    apa anda lazim melihat org indonesia (dari sabang sampai merauke) berciuman di depan umum atau ditengah jalan???
    apa lazim??
    kalau di Inggris atau Spanyol atau negara eropa lainnya itu lazim, nah kalau di Indonesia bagaimana HAH??

    Maybe ad hominem, but hey…

    Thus said the country that sells P0rn DVD in the street in open without worrying about legal consequences.

    Thus said the country that every little children can have access to p0rn material and people can rent or sell it to them without worrying about legal consquences.

    Thus said the country that every teens can go to teather that play movies with rate “Dewasa”.

    Di Barat (US, Europe, Japan, dll), itu semua hukumannya penjara bagi penjual.

    Jika UU P0rnografi mencakup masalah ini, maka setidaknya ada nilai bagusnya. Jika tidak, DPR itu ternyata nggak paham masalah bangsa.

  64. @merasa aneh
    Tambahan:
    Saya lebih merasa bangga kalau para (tersangka) koruptor itu menunjukkan budaya malu saat disangka korupsi bukannya menebar pesona dan menikmati ketenaran sesaat, daripada anak muda malu berciuman di depan umum.

    Saya lebih merasa bangga kalau (alm.) trio bomber itu menyesal dan merasa malu dengan perbuatannya bukannya menikmati reportase dan publisitas dan bersikap holier-than-thou.

    So, yeah…

  65. @dnial

    Jadi pengen ngulang komen kadalwarso saya di mas ryo saeba
    :mrgeen:

    @masih merasa aneh

    nenek moyangku Orang Jawa itu memang punya budaya malu yang aneh. Selalu malu thd hal2 yang gak penting, tapi pantang malu utk melakuken pelanggaran yang lebih esensial.
    Ketelanjangan dan eksploitasi sex dianggap lebih memalukan daripada maling terang-terangan.

    Entah apa karena orang Jawa sudah tersebar ke seantero pertiwi, sehingga budayanya jadi dianggap budaya ‘Indonesia’, atau memang karena budaya lokal suku2 lain juga gak beda jauh, yang jelas kebiasaan “terpaksa malu” ini sudah meracuni segenap bangsa kita yang lugu ini. Sudah gitu pake ngatas-namaken Agama pula. Puih.

    Turut berbela sungkawa atas matinya akal sehat:mrgreen: .

  66. lepas dari wacana tentang “timur dan barat”, dalam yakin saya (sorry) yang namanya ‘kemaluan’ (moga-moga ini bahasa paling ramah) tidak mengenal batasan geografis, ideologis, ras, warna kulit, agama (paling tidak saya tetep ‘nafsu’ dengan miyabi ato agnes monica meski berbeda keyakinan, hehe..), dll. Dengan kata lain, ‘kemaluan’ mah emang pluralis, hedonis, dan sedikit nazis..

  67. Timur dan Barat itu wujud “keakuan”, “egoisme tak sadar” dan juga “self defend mechanism”…
    Saya, anda, dan siapapun pasti juga “memiliki” walaupun dalam ketaksadaran (dan atau dalam kesadaran), hanya kalau di telusuri secara kognitif itu memang menggelikan…

    Adat Ketimuran jelas kontruksi kita… Jika Timur Tengah diadopsi (behavioristik dogmatik) secara tak sadar tiap hari, dari kecil sampai besari, nah inilah yang jadi Adat Ketimuran.

    Jika Jawa + Campuran Timur Tengah diadopsi ini yang jadi Adat Ketimuran

    Maka… Adat Ketimuran kita, satu dengan yang lain, pasti Berbeda. Tergantung pola didikan kita. Demikian pula dari masa, ke masa…

Comments are closed.