Wawancara Eksklusif dengan Kopral Geddoe

*format dijiplak dari sebuah entri milik Mas Joe*

Selamat malam, Pak Presiden.

Selamat malam juga. Ah, tapi tidak usah panggil Pak Presiden. Kopral saja. Selain itu terlalu formal, saya juga bukan presiden. Hanya blogger (pengecring?) biasa.

Ehm…

Gambar di atas jangan dipedulikan.

Baiklah. Saya dengar belakangan ada kritik mengenai cara blogger seperti Anda berkomunikasi dengan masyarakat. Anda sudah mendengar tentang kabar ini?

Ya. Itu saya sudah dengar.

Menurut beberapa pihak, cara yang selama ini digunakan terkesan setengah-setengah dalam “berdakwah”, dan cenderung menahan diri dari menyebarkan hasil pemikiran ke masyarakat luas. Impresinya, lebih suka stay underground.

Betul, sentimen ini dikaitkan dengan keberadaan internet yang belum merupakan media yang merakyat dalam masyarakat kita. Katanya, saya ini macam orang yang mengeluh akan misinformasi tapi tidak mau menyuarakan pendapat dan koreksi saya ke masyarakat banyak. Maunya di internet saja.

Nah, lalu kok begitu?

Pertama, saya mau klarifikasi dulu. Ini ngomongin saya atau siapa? Kalau blogger secara keseluruhan, saya tidak tahu. Mungkin ada yang menahan-nahan jangkauannya sendiri demi kepentingan pribadi. Dan ini bisa saja akan jadi kritikan penting. Mungkin supaya blogger semakin bersemangat menyebarkan berita.

Kalau saya, ini saya bingung. Kalau saya cuma bisa nulis di internet, itu ya bukan maunya saya. Itu keterbatasan keadaan. Kalau bukan internet, di mana lagi? Di Kompas? Republika? Koran Tempo? Saya ini mahasiswa dungu yang cuma punya ijazah SMA. Hidup di dunia belum dua dasawarsa, dan pacar pun tak punya. Kalau saya bisa dengan gampang menulis di yang sebangsa Kompas, mungkin saya sudah bikin itu sejak dulu-dulu.

Memang pernah sesekali saya menyumbang pikiran yang lantas gol ke sebuah surat kabar—itupun jadi narsum yang tak jelas moralnyaโ„ข. Surat kabar ibukota dan pakai bahasa bule. Ya, ya, ya, saya memang bajingan, sebab justru menyumbang ke surat kabar yang bahasa pengantarnya tak fasih dipergunakan sebagian besar masyarakat, tapi mau bagaimana lagi?

Masa sih Anda tidak punya koneksi ke production house?

Walah, Anda betul-betul serius menganggap saya punya?

*garuk-garuk peci*

*apa itu production house?*

Anda disinyalir menghindari persaingan terbuka dengan pers…

Lha tuduhan semacam ini ‘kan dibikin dengan berasumsi bahwa saya bisa bersaing terbuka dengan pers, tapi tidak mau. Padahal saya ‘kan sudah bilang, saya itu tidak ada kemampuan untuk menulis di media besar.

Eh, tapi itu saya, lho. Setidaknya.

Tapi bukannya saya mau menghindari tanggung jawab untuk “melawan tirani” atau apa, tapi ya mbok realistis sedikit. Lagian menulis di media besar itu tidak gampang. Media itu ‘kan juga ada kepentingan politik dan ekonomi juga.

Anda dikritik karena selalu menyalahkan media yang dituduh “berkepentingan”.

Ya mau bagaimana lagi? Kenyataannya begitu?

Tapi kalau begitu ‘kan tidak ada bedanya dengan grafiti? Manja dan tak bertanggungjawab.

Nah, ini saya juga agak bingung. Kenapa tiba-tiba ditodong seperti ini? Kalau prinsip saya sih, blogging itu ya kelebihannya ialah ia bisa dilakukan siapa saja. Tidak perlu jadi wartawan senior, juga bisa menulis. Bisa diakses siapa saja kalau ada koneksi ke internet. Semua berbagi tanpa beban. Visi saya ya seperti itu.

Jadi kalau tiba-tiba seenaknya menunjuk kaum tertentu sebagai “pejuang” yang mesti mengikuti kode tertentu, saya kira tidak efektiflah. “Wah, kamu banyak menulis! Ayo, sebarkan! Jangan di situ-situ melulu! Apa? Tak mau? Dasar manja!” Ya jangan begitu caranya dong, siapa yang mau ngeblog kalau begitu? Mendingan ikut LSM, toh jadi sama saja.

Tapi itu berarti blogger tidak seserius itu menanggulangi misinformasi?

Saya pribadi, dengan tidak mewakili semua blogger, mengaku tidak sepeduli itu dengan sekeliling. Saya menulis itu platonik kok (haiyah). Ada misinformasi yang bisa saya luruskan (melalui kacamata saya tentu), ya saya luruskan. Tapi kalau disuruh mengabdikan hidup saya demi “pelurusan” ya saya akui saya tidak semulia itu.

Menurut saya cara blog bekerja memang semacam itu. Dan biarlah seperti itu. Toh blogger itu ada juga karena itu. Kalau ingin mencari sumber berita independen yang punya komitmen, ya sepertinya salah sasaran. Sebab blogger tidak punya tanggung jawab sosial untuk mengabdikan hidupnya demi jurnalisme.

Rasanya itu alami; equivalent trade. Anda mau sarana jurnalisme yang bebas dan bisa ditulis siapa saja? Silakan ke blog. Bayarannya adalah, tidak semuanya adalah crusader jurnalisme yang rela mengorbankan hidupnya demi tulisan.

Jadi jurnalisme blogging-melawan-misinformasi yang selama ini didengungkan?

Itu juga berjalan di bawah hukum yang saya sebutkan barusan. Saya kira cukup efektif, walau, ya itu, tidak bisa dipaksakan bahwa penulisnya berkomitmen penuh.

Berarti lebih ke perbedaan persepsi dalam memandang blogging dan citizen journalism pada umumnya?

Lebih kurang seperti itu.

Baik, waktu kita sudah hampir habis. Rekapitulasi dari pendapat Anda?

Saya menyambut baik semangat untuk memperluas jangkauan tulisan-tulisan di blog, tapi mesti diingat bahwa blogging tidak bisa dipaksakan untuk menjadi ajang perang all-out. Kewajiban seorang blogger hanyalah mempertahankan kredibilitas tulisannya, sisanya adalah hak. Tidak bisa memaksakan dan jadi bossy. That’s asking too much. Bukan utopia memang.

Jadi, buat yang memiliki pendapat senada dengan kritik yang beredar, hal ini mesti diingat. Metode blogging seperti yang digagaskan itu terkesan lebih melihat blogger seperti tentara ketimbang sukarelawan.

Buat blogger sendiri juga, ya, mungkin bisa dijadikan sarana memperbaiki diri? Saya tidak tahu juga.

Kita sudah ada di penghujung acara, Pak, ada pesan terakhir?

Sebentar.

*mengambil cat dan wig*

Pak?

Why so serious?

…err…

Why so serious.

Ahem. Euh, ya, selamat malam dan terima kasih.

Selamat malam dan terima kasih.

* * *

99 thoughts on “Wawancara Eksklusif dengan Kopral Geddoe

  1. Umm, tambahan: Udah gw jelaskan di komentar yang ada postingannya Jensen kalau mau ke media enggak segampang yang dikira. Lagipula, kebanyakan blogger bukan pengangguran jadinya enggak punya waktu buat melakukan apa yang diidealkan ama fritzter.

  2. Saya ini mahasiswa dungu yang cuma punya ijazah SMA. Hidup di dunia belum dua dasawarsa, dan pacar pun tak punya.

    D’awwww…

    *hugs geddoe*

    *apa itu production house?*

    Webcam + YouTube๐Ÿ˜€

    Yah, di satu sisi saya sependapat tentang kekuatan blog sebagai medium perubahan masyarakat, tapi definisi tanggungjawab yang semacam itu, IMHO, menuntut idealisme yang terlalu tinggi dari blogger, padahal supaya bisa efektif ia juga harus diimbangi oleh idealisme yang tinggi dari media arus utama dan masyarakat pencari informasi itu sendiri.

  3. @ Nenda Fadhilah

    Easter eggnya cuma iseng. Maaf kalau malah mengganggu.

    ke media enggak segampang yang dikira. Lagipula, kebanyakan blogger bukan pengangguran jadinya enggak punya waktu buat melakukan apa yang diidealkan ama fritzter.

    Makanya perbedaan persepsi. Blogger itu di mata saya sih tidak terikat kewajiban seperti itu.

    @ ryosaeba

    strangely quite similar to mine.

    Saya nyontek Great minds think alike.:mrgreen:

    @ Catshade

    *hugs geddoe*

    Duh, hentikanlah meme ini.๐Ÿ˜†

    Webcam + YouTube

    Kalau bikin semacam ini nanti tambah diomeli dong? ‘Kan selain butuh internet, perlu koneksi yang bagus pula? Tidak memasyarakat.๐Ÿ˜›

    Yah, di satu sisi saya sependapat tentang kekuatan blog sebagai medium perubahan masyarakat, tapi definisi tanggungjawab yang semacam itu, IMHO, menuntut idealisme yang terlalu tinggi dari blogger

    Saya juga berpikir begituโ„ข.

  4. *hugs geddoe*

    Geddoe is heeeereeeee!๐Ÿ˜ฎ

    *hugs geddoe*

    ~mau komen juga
    ~ternyata udah di-cover duluan, sudahlah
    ~hugs aja deh:mrgreen:

  5. Ah, tampaknya memang ada kesalahan dalam memaknai apa itu blogger. Dan apa itu ngeblog.

    *pegalaman dipaksa menulis apa yang tidak ingin ditulis di blog. Dengan ancaman jika tidak maka anda berat sebelah.*

    Lah, padahal saya kan ngeblog.๐Ÿ˜†

  6. From (hxxp://treespotter.blogspot.com/2008/08/blogging-manifesto.html) let me quote :

    This is not a story. This is not a report. This is not a journal. This is not news. This is blogging.

    This IS BLOOOOGGG!!!!!!!!!!!!
    *kicking around*

    This just blog, why so serious?

  7. Lha? Ente pakai kacamata sekarang?๐Ÿ˜•

    *lospokus*

    *ahem, serius*

    IMHO, bagaimanapun blogging itu sendiri punya nilai lebih dibandingkan jurnalisme konvensional… terlepas dari demografinya yang cenderung kecil di Indonesia (i.e. kalangan melek internet).

     

    1) Tidak terkekang visi/misi media konvensional (e.g. koran, majalah, dan sebangsanya)

    Seperti sudah disinggung di atas. You know whatlike, lah.๐Ÿ˜›

    2) Tidak terkekang otoritas editor

    Jurnalis setangguh apapun, sia-sia saja kalau atasannya rotten editor. Bisa-bisa beritanya dipangkas di sana-sini, atau malah nggak dimunculkan sama sekali. >_>

    *this reminds me of some rumor concerning Indonesian Airlines investigation and EU flight-ban fiasco. but that’s another story*

    3) Interaktivitas tinggi

    Salah satu hal yang dibutuhkan penulis adalah feedback. Apakah ide saya ada cacatnya, atau tidak?

    Sebagai blogger, mudah sekali mendapatkan ini. Pembaca tinggal menulis komentar — atau, jika tidak, bisa dibahas di blog pribadi si pembaca. Pertukaran ide pun jadi lebih mengalir.

    Beda dengan majalah, TV, dan koran yang cenderung satu arah. Untuk menanggapi pun belum tentu dimuat!:mrgreen:

    4) Tanpa tekanan dan tenggat

    Blogging itu sendiri kegiatan sukarela (ini juga sudah disebut di atas๐Ÿ˜› ). Asalkan tulisan Anda berkualitas dan bisa dipertanggungjawabkan, there’s nothing to be ashamed of.

    Jadi, asalkan suka menulis dan berbagi, tak ada masalah. Tak ada deadline apalagi paksaan. ^^

     
    Saya sendiri percaya bahwa sistem seperti blogosphere cukup kondusif sebagai tempat beropini. Benar bahwa aksesibilitasnya masih rendah — tetapi, ini sifatnya lebih ke arah nonteknis.

    Orang mungkin bilang lebih baik ‘bersuara’ lewat TV dan koran. Mereka umumnya memuji aksesibilitas, tapi melupakan birokrasinya. Dan penyaringannya. Dan regulasinya. Dan lain-lain sebagainya.

    Jika kelak internet sudah sama accessible-nya dengan TV dan koran, apakah orang masih memandang TV dan koran untuk berburu opini. Saya kok kurang yakin.๐Ÿ˜•

     

    Ps:

    This reminds me of people’s respond in some Arsenal blogs during last transfer period.

    “Those media suck! I won’t believe until Arsenal.com announced it right away.”

  8. *baca entry*

    hmm….

    *baca komen2 yg bertebaran*

    hmm….

    *pusing, kembali mengerjakan assignment*

    saya sebagai seorang blogger yg mempunyai status hai-gwa-blogger-gaul-yg-punya-blogspot-lho! jadi merasa minder begitu baca entry dan komen2 disini ;D

  9. @Disc-co
    Sedikit banyak saya mirip situ…postingan saya ndak mutu babar blas…isinya curhat sama katarsis sama narsisme sama ide ndak mutu…Jadi minder lihat yang lain di sini…๐Ÿ˜ฆ

    Ah saya kan pengikut Bang Aip, sukanya refleksi:mrgreen:
    *ngaku-ngaku*

  10. Ehm…menurut saya sih apa yang Anda (kita?) pikir mengenai bagaimana blogger seharusnya itu beda dengan mereka yang ga ngeblog. Blogger berpikir, blog ya…blog…sesuatu yang barangkali bisa dibuat seenak udel pikiran empunya blog. Tapi barangkali buat beberapa pembaca, si blogger ini punya potensi yang seharusnya ga ditaruh di bawah tanah.

    Dan saya berpikir, apa yang akan terjadi kalau jaman dulu sudah ada internet, dan filsuf seperti Plato dan Socrates “cuma” ngeblog.

    Ah ya tentu saja mereka tetap di permukaan, dan justru banyak terlahir filsuf-filsuf lain yang “underground”๐Ÿ˜›

    Diganti deh…saya berpikir, apa yang terjadi kalau Isaac Newton terus menyimpan Principia, sebab konon katanya dia baru mau mempublikasikan setelah didorong Edmond Halley. Apakah Anda-Anda (tentunya bukan saya๐Ÿ˜› ) tidak merasa seperti dalam posisi Isaac Newton ini? Walaupun pendapat seorang blogger mungkin tidak se-state-of-the-art Principia, bisa jadi itu tetap menjadi ide yang cemerlang.

    Saya cuma mencoba jadi pengacaranya setan:mrgreen:

    (Kalau saya salah dalam menerapkan posisi ini, tolong beritahu ya)

    Mmm…sepertinya lebih bagus lagi kalau bisa mengundang Bang Fritzer, temennya Bang Jensen99 itu kemari…

    BTW, saya kok merasa dua pendapat (isi blog sebaiknya dipublikasi lebih luas kalau memang bagus, dan blogger tidak bertanggung jawab atas publikasi lebih luas) itu benar ya?๐Ÿ˜•
    Apa perlu ada pihak ketiga untuk mempublikasikan blog tersebut? Atau tidak?

  11. @ dana

    Blogger juga manusia?

    @ dnial

    Why. So. Serrriousss?

    @ sora9n

    Tidak, itu kacamata supaya lebih berwibawa.๐Ÿ˜†

    Ah, tapi saya setuju dengan kata-kata Masbro. Maksud saya juga seperti itu—cuma Masbro bisa menyatakannya dengan lebih baik.

    Bagian ini rasanya yang betul-betul concise:

    Orang mungkin bilang lebih baik โ€˜bersuaraโ€™ lewat TV dan koran. Mereka umumnya memuji aksesibilitas, tapi melupakan birokrasinya. Dan penyaringannya. Dan regulasinya. Dan lain-lain sebagainya.

    @ Disc-Co

    Ya udah, bikin assignment sana.๐Ÿ˜†

    @ lambrtz

    Tapi sentimen blog == underground ini dari mana, sih?๐Ÿ˜•

    Saya sendiri menganggap, bahwa blog ya blog. Kalau dipublikasikan di luar internet, namanya ya bukan blog. Jadi pertanyaan seperti “blog kok cuma underground” itu ya lucu. Blog cuma ada di internet.

    Kalau tulisannya mau dipublikasikan ulang ke media lain, ya silakan, dan sejak dulu saya tak berkeberatan. Asal pakai izin. Tapi apanya yang underground kalau begitu?

  12. *baru nyadar*

    Saya mungkin gak begitu sejalan dengan ‘idealisme’ Geddoe dkk., soalnya saya sendiri sebenarnya juga berangan-angan untuk menerbitkan blog saya (not in its raw form) dalam bentuk buku kelak (dengan alasan supaya bisa berguna untuk lebih banyak orang lalu saya terkenal dan jadi seleb ). Tapi itu cerita lain untuk saat ini.๐Ÿ˜›

    Diganti dehโ€ฆsaya berpikir, apa yang terjadi kalau Isaac Newton terus menyimpan Principia, sebab konon katanya dia baru mau mempublikasikan setelah didorong Edmond Halley. Apakah Anda-Anda (tentunya bukan saya๐Ÿ˜› ) tidak merasa seperti dalam posisi Isaac Newton ini? Walaupun pendapat seorang blogger mungkin tidak se-state-of-the-art Principia, bisa jadi itu tetap menjadi ide yang cemerlang.

    The first part to do is knowing if the blogger’s writing is really Principia-worthy; then convince them that the hassle to get their writing published is worth it.

    BTW, saya kok merasa dua pendapat (isi blog sebaiknya dipublikasi lebih luas kalau memang bagus, dan blogger tidak bertanggung jawab atas publikasi lebih luas) itu benar ya?๐Ÿ˜•
    Apa perlu ada pihak ketiga untuk mempublikasikan blog tersebut? Atau tidak?

    Yup, saya kira memang perlu ada pihak ketiga. Pertanyaannya sekarang: Siapa? Media arus utama? Dari topik sebelah kita sudah tahu gimana mereka lebih memilih Roy Suryo sensasi dan kontroversi ketimbang kejelasan dan kebenaran. Going indie? Jangkauannya malah lebih kecil dari internet; useless dalam skala nasional, tapi bisa jalan di tingkat lokal, apalagi di daerah yang penetrasi internetnya masih sangat rendah. Belum lagi ngomongin model bisnisnya…

  13. @geddoe:

    Mungkin istilah “underground” dipake sebagai kontra dari “mainstream media”? Mengingat di Indonesia internet as a whole belum punya jangkauan (dan reputasi) yang semasif MSM…๐Ÿ˜•

  14. kata kata terakhirnya yang menarik

    “why so serious?”

    memang kadang-kadang ada orang yang terlalu menganggap serius๐Ÿ˜€

  15. @ Catshade

    Lha, bukan seperti itu.

    Kalau Masbro ingin menerbitkan blog secara cetak, pertama, seperti yang saya bilang, itu bukan blog lagi, dan hak-dan-kewajiban yang mengikutinya juga bukan hak-dan-kewajiban blogger. Kedua, saya kira blogger juga tidak ada yang membatasi tulisannya supaya hanya ada dalam bentuk digital. Hanya kebanyakan memang mentok di situ.

    Dan ketiga, toh kalau Masbro mau menerbitkan yang semacam itu, hal tersebut menurut saya belumlah berupa kewajiban.

    @ joesatch yang legendaris

    Terima kasih, guru…

    *terima keris pusaka*

  16. @ lambrtz

    pihak ketiga ya? mungkin juga bisa, djo. semacam penerbit buku gitu, kali… yang mau membukukan blog kita.

    cuma kalo aku pribadi, blogku terserah aja kalo ada yang mau membukukan. tapi aku ga mau kalo disuruh ikut2an tanggung jawab kalo misalnya nanti ada yang tersesat (ke jalan yang benar) gara2 baca tulisanku.

    dan aku juga minta jaminan keselamatan buat aku, seluruh anggota keluargaku, dan teman2ku dari si penerbit kalo misalnya aku dan sekelilingku nanti bakal dirajam sama makhluk-makhluk yang merasa boroknya kutelanjangi.

    egois, ya?:mrgreen:

    tapi ya itulah kekurangannya kalo blogger mengubah arah ke media publik yang umum diakses seluruh kalangan. idealisme kita jadi harus berbenturan dengan birokrasi dan tata-krama yang sebenernya boleh jadi malah membatasi kita dan tidak kita suka

  17. @K. geddoe

    Tapi sentimen blog == underground ini dari mana, sih?๐Ÿ˜•

    Makanya tadi saya pake tanda kutip waktu menulis “cuma” dan “underground”. Saya sih cuma membaca tulisannya Mas Fritzter di blognya Mas Jensen yang kaya gini :

    cuma memilih utk stay underground

    , dan mencoba mengambil posisi beliau. Barangkali itu karena coverage blog lebih kecil daripada koran dan TV. Tapi ya…sepertinya beliau yang mencetuskan argumen lebih baik dalam menjelaskan hal ini.

    Cuma ya itu, poin yang bisa saya tarik dari pendapat beliau adalah bahwa banyak postingan yang penting tapi si penulis ogah/enggan/tidak berniat/apalah mempublikasikannya untuk skala yang lebih luas.

    Dan IMO pernyataannya bukan “blog kok cuma underground”, tapi “kok cuma memilih ngeblog yang notabene cuma underground”. CMIIW though.

    Pendapat saya pribadi sementara ini ada di kalimat pertama paragraf paling bawah komentar saya sebelumnya…

    @Catshade

    The first part to do is knowing if the bloggerโ€™s writing is really Principia-worthy; then convince them that the hassle to get their writing published is worth it.

    Is it like this?

    Geddoe! Oh my gosh! Your post is awesome! Nobody thought like this before! This is a breakthrough! B-R-E-A-K-T-H-R-O-U-G-H!! This means far beyond 42! You should publish this! The world must know about this! This will solve all problems on Earth!! Get this published!

    :mrgreen:๐Ÿ˜†
    *joke*

  18. @geddoe:

    Ah, saya memang sepakat soal itu (dan rasanya sudah saya singgung di komentar saya thd fritzer di post-nya jensen…pusing deh diskusi hal yang serupa secara paralel); tanggung jawab blogger as a blogger memang ya cuma sebatas di blognya. Maksud saya yang ‘gak begitu sejalan’ itu: anda tampaknya tidak punya ambisi me-MSM-kan blog anda (kalo bisa ya syukur, kalo ndak ya gak papa), sementar saya punya.๐Ÿ˜€ Saya setuju kalau itu bukan kewajiban sama sekali.

  19. gambarnya bagus.. (halah..)

    btw, anda pernah tidak mencoba mengirimkan karya anda ke media massa, macam Kompas, Republika etc? (yah mungkin hanya sekali… lalu ditolak,… ?)
    sorry, OOT lagi๐Ÿ˜‰

  20. Ah, saya terlambat datang!๐Ÿ˜ฏ

    Okay, ged, makasih banyak dah komentar pake artikel sendiri.

    *bakar menyan ke geddoe*

    @ lambrtz

    Mmmโ€ฆsepertinya lebih bagus lagi kalau bisa mengundang Bang Fritzer, temennya Bang Jensen99 itu kemariโ€ฆ

    Dia pasti datang nanti, lagian mas dah kasi link kesini di post-ku.

  21. Eniwei… an aggregator might do the trick. Such as Planet.Terasi.Net or maybe digg-like.

    Taaaapppiiii……….
    Penetrasi internet di Indonesia berapa persen sih? Dan dari sekian persen itu berapa banyak sih yang sudah melewati fase Friendster-addict dan mulai blog-addict?

    Belum lagi yang blog keseharian, dan hanya curahan hati dalam bentuk blog dan mengundang ribuan komentar gara2 ada kata ITB.

    Dan lagi blog yang pro(macam Huffington Post) malah jadi seperti media konvensional dengan squadron of pro writers.

    Intinya… let we stick in our “indie label”
    Band Indie kalo masuk Major label bakalan terpaksa ngikut pasar, ya to?

    Sementara kita Indie.. let us rock and roll, baybeh!!!

  22. *baru nyadar*
    *OOT*
    Itu tangan pewawancaranya kok bisa nunjuk ke kiri gimana caranya ya? Seingat saya ga ada pilihan untuk itu?๐Ÿ˜•
    Diedit sendiri kah?

  23. Saya ini mahasiswa dungu yang cuma punya ijazah SMA. Hidup di dunia belum dua dasawarsa, dan pacar pun tak punya.

    *melirik yang dicoret…*

    Saya kira Nenda itu pacarmu…

    *menghembuskan gosip gak jelas*

    *dihajar*

  24. Intinyaโ€ฆ let we stick in our โ€œindie labelโ€
    Band Indie kalo masuk Major label bakalan terpaksa ngikut pasar, ya to?

    Sementara kita Indie.. let us rock and roll, baybeh!!!

    Ah, musisi yang nyaman di jalur indie itu kan nggak bertanggung jawab, mas dnial. Mereka cuma genjrang-genjreng demi kenikmatan mereka sendiri, bukan demi masyarakat luas. Coba kalau mereka mau berusaha menembus label mayor dengan idealisme selera mereka, saya yakin dunia musik Indonesia akan lebih baik.

    *ngumpet dari fritzer*

    *nggak yakin apa ini analogi yang baik*๐Ÿ˜•

  25. Ah saya baru nyadar maksudnya “Why so serious…?” di postingan ini…yaya…๐Ÿ˜€

    Dan saya sepertinya tahu kenapa Bambang Pamungkas jadi VP:mrgreen:

  26. Pingback: Doh… « sora-kun.weblog()

  27. ๐Ÿ‘ฟ
    The culprit is here.

    INI BARU TULISAN!!!!
    Gak kaya Jensen yang cuma tau quote & copy-paste๐Ÿ˜ˆ๐Ÿ˜†๐Ÿ‘ฟ
    Pantes aja lebih rame dari blog yang “thread-starter”๐Ÿ˜†

    Tapi dalam tulisan sampeyan saya gak nemu poin yang belum tercover dalam komen2 di agenminyaktanah.wordpress.com, yang notabene sudah saya tanggapi.

    Anyway perlu digarisbawahi, intisari premis yang mengawali topik ini adalah :
    (Jensen) Banyak blogger pakar IT yang merasa Roy Suryo tidak layak jadi satu-satunya rujukan nasional telematika & IT. Banyak yang lebih baik dari dia.
    (Fritzter) Terus kenapa cuma bisik-bisk?

    Tapi seperti biasa dalam debat2 usil-sambil-ngupil kami, topik selalu melebar kemana-mana (hajar dagu, ditangkis, hajar perut, ditangkis, tendang selangkangan, ditangkis…dst).
    Sehingga yang lebih terasa “Blogger wajib/tidak wajib memperluas cakupan tulisannya (bukan cuma ttg RS saja) ke dunia nyata”.

    Tapi ya gak masalah. Namanya aja ngupil๐Ÿ˜† .

    Oke, ta’ layani fans dulu๐Ÿ˜Ž

  28. waduh, yang lainnya sabar dulu ya?
    Tiba-tiba ada yang nagih job yang belum mulai dikerjakan sama sekali belum selesai.
    Be back in 30 mins.

  29. @ joesatch yang legendaris

    Sepakat. Saya juga sama egoisnya.

    @ lambrtz

    Kalau saya pribadi tentu karena media yang bersedia mempublikasikan tulisan saya secara konstan sejauh ini hanya blog. Kalau saya diberi keleluasaan lebih, mungkin akan saya pertimbangkan untuk ikut serta, tapi itu ‘kan rasanya terlalu mengawang-awang.

    Saya juga kuliahnya bukan jurnalisme atau apa.

    @ Catshade

    Ah, ya. Maaf kesalahpahamannya. Yup, memang sedikit berbeda. Saya memang lebih ke arah bisa-MSM-ya-syukur-ga-ya-ga-papa itu.

    @ knp eh knp

    Kebetulan saya tidak punya ambisi ke arah situ.

    @ jensen99

    Sudah ditunggu.๐Ÿ™‚

    @ dnial

    Agregator saya lumayan tertarik. Kalau ada yang mau buat semacam itu mungkin saja saya ingin berpartisipasi. Mungkin, lho. Tidak janji.

    @ lambrtz (2)

    Itu diedit sendiri dengan kasarnya.๐Ÿ™‚

    @ Amed | jensen99 (2)

    Dapat gagasan dari mana pula itu?

    @ gentole

    Eh, Masbro ‘kan dua-duanya, ya? Di atas dan di bawah tanah?๐Ÿ˜›

    @ Catshade (2)

    Wah, saya agak berprinsip ars gratia artis nih.๐Ÿ˜•

    @ lambrtz (3)

    Memangnya agak susah ditangkap ya maknanya? Maaf kalau begitu.

    “Bambang Pamungkas” itu cuma asal-asalan saja.

    @ fritzer

    Selamat datang.๐Ÿ˜€

    Saya sendiri tidak terlalu setuju dengan kebijakan yang tiba-tiba membebankan blogger dengan kewajiban seperti itu (“Wah, kamu banyak menulis! Ayo, sebarkan! Jangan di situ-situ melulu! Apa? Tak mau? Dasar manja!โ„ข), tapi saya siap untuk sepakat-untuk-tidak-sepakat.

  30. agenminyaktanah.wordpress.com

    Mana blognya?๐Ÿ˜•

    (Jensen) Banyak blogger pakar IT yang merasa Roy Suryo tidak layak jadi satu-satunya rujukan nasional telematika & IT. Banyak yang lebih baik dari dia.
    (Fritzter) Terus kenapa cuma bisik-bisk?

    Kalau melihat prestasi Roy Suryo selama ini, saya rasa biarlah dia jadi satu-satunya rujukan nasional mengenai foto bugil artis. Tidak ada yang lebih baik dari dia.๐Ÿ˜›

    Lalu kalau mengenai masalah kenapa jarang ada pakar IT lain yang dijadikan rujukan nasional, saya sudah berkomentar mengenai kemungkinan penyebabnya di blognya Jansen.

    Ah ya, dan mau menambahkan; harus diakui kalau RS bisa populer di kalangan awam sedikit banyak juga karena kemauannya berkubang dalam ‘masalah awam’ (a.k.a foto bugil artis). Aksesnya ke media juga kuat karena pengaruh politiknya yang kental (jadi pengurus + caleg parpolnya Presiden). Para pakar IT yang saya tahu tipenya akademisi, serius, dan low-profile, jadi saya tidak yakin apa mereka mau menggadaikan idealismenya demi bisa menyamai ketenarannya RS.๐Ÿ˜›

  31. @Catshade

    Mana blognya?๐Ÿ˜•

    Doh itu kayanya plesetan deh, yang dimaksud kayanya Mas-Mas yang blognya di agenmossad.*๐Ÿ˜›

  32. Duh jadi sedih liat tulisan disini. membuat saya seperti terlempar ke dasar samudra. coz masih dalam tahap belajar ne nge-blognya.
    Kalian semua ini da berapa taon sih jadi blogger? dalem banget kayaknya.

    Lam kenal ya kopral Gaddoe, eh salah Mr. President
    main2 ke kuchiki99.wordpress.com. Ini blog mnasih baru jadi maaf kalo tulisannya baru dikit dan kasih komentar tentang tulisan2 saya, coz perlu banget untuk meningkatkan kemampuan biar bisa kayak kalian semua.

    oya kumasukin ke blogroll ya๐Ÿ™‚

  33. @Joe (ga rela nyebut dia pake si t*m**n…)
    Hehe jadi inget masa-masa itu๐Ÿ˜€
    Sama-sama seruangan dan baru mulai ngeblog tapi hasilnya kok beda ya…

    Situ banyak dimaki-maki, saya ndak:mrgreen:

  34. @K.geddoe

    Eh, Masbro โ€˜kan dua-duanya, ya? Di atas dan di bawah tanah?๐Ÿ˜›

    Iya dan saya mulai merasa letih berada di dua ranah itu. Kepribadian saya semakin terbelah kayaknya.:mrgreen: Ada yang perlu dicatat memang dari wacana tanggung-jawab blogger ini.

    Wartawan memang harus bertanggungjawab setidaknya kepada salah satu dari dua pihak ini: pertama, masyarakat, dan kedua, orang yang memperkerjakan dia. Karena itu, wartawan harus rela mengorbankan kepentingannya sendiri untuk mepertanggungjawabkan perkerjaannya kepada salah satu atau kedua pihak itu. Ini adalah kutukan bagi wartawan. Sekalipun pekerjaan wartawan bisa sangat platonik, proses terbitnya sebuah tulisan itu harus melibatkan kedua pihak itu. Anda tidak bisa menulis tentang pacar Anda, atau menerbitkan tulisan yang dianggap tabu oleh pemilik media. Resikonya? Koran [atau Anda] tidak laku atau Anda dipecat.

    Kewajiban seorang blogger hanyalah mempertahankan kredibilitas tulisannya, sisanya adalah hak.

    Iya, saya setuju. Masyarakat tidak membayar untuk membaca blog Anda dan seorang blogger tidak dipekerjakan oleh siapa-siapa kecuali dirinya sendiri. Blog kan, kalo ada yang baca ya sukur, kalo Anda mau bikin tulisan jelek juga enggak yang akan memecat Anda. Kalau ada yang mau membasmi kejahatan dan membela keadilan dengan blog, itu statusnya sukarela ajah, menurut saya. Kecuali kalo Anda penganut paham yang mengatakan bahwa seorang intelektual itu harus bertanggungjawab kepada masyarakat.

    Tapi, yah, apakah blogger itu intelektual!!?

    Kalau bukan internet, di mana lagi? Di Kompas? Republika? Koran Tempo?

    Biarpun Anda belum 20 dan tidak punya pacar, saya yakin kalau tulisan Anda bisa dimuat di International Herald Tribune.๐Ÿ˜€

  35. Saya sendiri tidak terlalu setuju dengan kebijakan yang tiba-tiba membebankan blogger dengan kewajiban seperti itu (โ€Wah, kamu banyak menulis! Ayo, sebarkan! Jangan di situ-situ melulu! Apa? Tak mau? Dasar manja!โ„ข), tapi saya siap untuk sepakat-untuk-tidak-sepakat.

    Okelah kita sepakat-untuk-tidak-sepakat saja.
    Toh kesepakatan-untuk-tidak-sepakat itu lebih baik daripada ketidak-sepakatan-untuk-sepakat.
    Anda sekarat keparat sepakat?๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

  36. @Catshade

    agenminyaktanah.wordpress.com

    Mana blognya?๐Ÿ˜•

    :mrgreen:

    @lambrtz

    Doh itu kayanya plesetan deh, yang dimaksud kayanya Mas-Mas yang blognya di agenmossad.*๐Ÿ˜›

    Tul๐Ÿ˜† .

  37. gentole
    Salam kenal om๐Ÿ˜€ .

    Biarpun Anda belum 20 dan tidak punya pacar, saya yakin kalau tulisan Anda bisa dimuat di International Herald Tribune.๐Ÿ˜€

    Tul. Tul.

  38. @Rukia: Saya juga sama, baru. Seperti Si Tampan Supermi Selatan itu diatas.๐Ÿ™‚ Sebelumnya ngeblog pun hanya menulis soal kuda. Jadi tenang saja. Jangan melemparkan diri ke dasar samudra. Ayo terus menulis..๐Ÿ™‚

    (Fritzter) Terus kenapa cuma bisik-bisk?

    Kalau definisi Bung Fritz bisik-bisik adalah bicara dari satu mulut ke satu kuping soal RS, hmhh, nampaknya tidak juga yaa.

    Sudah ada sosialisasi pada rekan-rekan media konvensional. Dua tahun lalu, setahu saya ada beberapa teman yang sempat datang ke sebuah harian di JKT, corong rezim yang berkuasa saat ini. Rezim yang juga di dukung RS.

    Mereka mengeluhkan soal pernyataan yang dikeluarkan RS. Sayang sekali, suara mereka, yaa terbungkam. Artinya, tidak pernah muncul sebagai bagian klarifikasi dari sebuah artikel yang bernarasumber RS.

    Tapi, jelas saja saya bisa salah mengartikan maksud Bung Fritz. Maka itu, definisi bisik-bisiknya apa yaa?๐Ÿ™‚

    Tapi nggak dijawab juga nggak masalah. Seperti definisi anda, toh ini kan cuma ‘upil’. Hehe.

    @Kopral: Ini mau nyaingin Libya yang sejak kepala negaranya kolonel, tidak ada pangkat yang lebih tinggi? Maksud saya, apabila anda berhasil maju dan dipilih rakyat. Maka para jenderal RI akan jadi sersan semua. Hehe

  39. Semuanya serba sah orang mengeluarkan pendapatnya… terlepas dia sakit hati atau tidak…. I think just give for other the best… saing memberikan barokah… kemanfaatan… insya Allah.. hidup lebih damai dan bahagia…..

  40. Pingback: Lambrtz’ Blog :: Don’t Panic! Why so Serious? :: October :: 2008

  41. Avatar saya sekarang dah lebih jelas gak ya…?๐Ÿ™„
    *berusaha pengen dikomentari setelah ngedit semalaman*
    *padahal noone notices*

    bangaip

    Tapi nggak dijawab juga nggak masalah. Seperti definisi anda, toh ini kan cuma โ€˜upilโ€™. Hehe.

    Yo.

    *nose fancy cannon*

  42. @ Catshade

    Yaa, bagaimanapun ‘kan RS itu lebih menjual.

    @ lambrtz

    Ada-ada saja.๐Ÿ˜†

    @ Rukia

    Lha. Blogger ‘kan macam-macam, ada yang serius, ada yang tulisannya ringan, ada yang tak jelas seperti saya. Tidak semuanya berminat nyemplung ke yang beginian kok, saya misalnya.

    @ sitampandarimipaselatan | lambrtz (2)

    Saya juga dari tahun 2006.:mrgreen:

    @ gentole

    Makanya saya bilang tidak bisa terlalu idealis, sebab dalam prosesnya penerbitan dari media umum memang pakai proses dan tetek bengek yang mungkin tidak terlalu disukai oleh blogger.

    Saya kira blogger itu semacam sukarelawan, bukan abdi masyarakat. Jadi ya itu, tanggung jawabnya hanya pada tulisannya sendiri.

    @ fritzter

    Hehehe. Saya tunggu argumen lebih lanjut saja, deh.๐Ÿ™‚

    @ bangaip

    Mungkin tidak, hanya posisi Kopral ditukar dengan Jenderal. Jadi Jenderal itu jadi anak buah, dan bisa naik pangkat jadi Sersan, hehehe.

    *ngelindur*

    BTW, saya sepakat dengan komentarnya tentang media.

    @ tehthe

    Monggo juga.

  43. Edan rek… Jadi Presiden dari Partai apa, Mas?

    What’s the point? I just can’t get it…
    Sebenarnya kenapa banyak yang menganggap serius bahwa blogger itu goblok. Anggap saja mereka cuma ngoceh sendiri. Kalau kuping panas lha itu pertanyaan buat Anda sendiri, kenapa bisa panas. Toh, blogger juga menulis ada sebabnya kan.

    *nengok masa lalu*

  44. Ada benarnya si Lemon S. Sile. Bukankah dengan tulisan diatas, Kopral Geddoe sebenarnya telah menunjukkan sikap tanggung jawab, dengan menjelaskan keterbatasan dirinya sendiri kepada khalayak umum?

    Betul, terkadang ekspekstasi berlebihan itu ada, saya pribadi juga sering diharapkan harus begini begitu. Bahkan untuk bersikap (sok) tidak bertanggung jawab saja mungkin sudah ekspektasi tersendiri. Lagipula tanggung jawab sosial itu tidak ada hubungannya dengan status blogger. Itu hati nurani. Panggilan hidup. Idealisme. Atau kepepet.

    Blog itu sekedar media. Lagipula, manusia itu bukankah makhluk sosial? Maka dari demikianlah bahwasanya rasa tanggung jawab sosial akan tumbuh dengan sendirinya. Manifestasinya yang berbeda-beda.

    Lihat sisi baiknya. Kalau diharapkan melakukan ini dan itu, berarti masyarakat menaruh kepercayaan pada blogger pada umumnya, ya toh? Asik doms kalau dipercaya masyarakat. Jadi kalau suatu saat bokek, minjem duit, cukup bilang kita blogger.. pasti dikasih. (percaya atau tidak, kejadian in pernah terjadi dan sempat menghebohkan blogsfer lokal)

    Apapun itu, suatu ide (yang bertujuan positif) tidak bisa dimatikan begitu saja hanya karena tidak sesuai realita seorang perseorangan.

    So frizter, Catshade, I fully support your ideas!
    Keep the faith! Keep cool! Peace, love and gaul!

    Kalau soal RS, duh bosen.

  45. Marisa

    Salam kenal๐Ÿ˜€ .

    ….kepada khalayak umum?

    Khalayak blogger kali.
    Khalayak umum yang mana? Coba aja tanya sepuluh orang mahasiswa semester akhir di bekas kampus saya (UNCEN nan terbelakang), kalau satu saja ada yang pernah baca tulisan kopral disini, sampeyan ta’kasih hadiah deh.
    Hadiahnya, ta’surati shit syekh Puji utk ngelamar sampeyan:mrgreen: .

    Lihat sisi baiknya. Kalau diharapkan melakukan ini dan itu, berarti masyarakat menaruh kepercayaan pada blogger pada umumnya, ya toh?

    Exactly. Yang jelas saya menaruh kepercayaan.
    I wouldn’t expect something from someone if I didn’t think they have what it takes to do it.

    *belagak terharu*

    *fingers crossed*

    So frizter, Catshade, I fully support your ideas!
    Keep the faith! Keep cool! Peace, love and gaul!

    Rock on sisterrrrrr!!!

  46. wawancara eksklusif?
    tapi, meskipun ‘why so serious’ kayaknya menilik potensi dirimu itu, sebaiknya dicoba aja dunia tulis menulis secara nyata, maksudnya di media lain itu. ga ada salahnya kan?
    itu tantangan lho, dan hal-hal baru itu sangat menyenangkan buat dicoba.
    klo ga berhasil, ya coba terus.

  47. wkwkkw, “why so serious”?

    bukankah lebih enak kalo blogger itu cukup dianggap mewakili 1 orang (kecuali yang memang jelas-jelas mewakili 1 instansi) dan seluruh jagat blogosphere ini dianggap seperti sebuah warung kopi raksasa…

    di warung kopi anda tidak selalu harus kenal dengan lawan bicara anda kan? yang penting ngobrolnya asik, fakta ataupun bukan. Kalau ada sesuatu yang dirasa menarik untuk jadi fakta ya silakan diklarifikasi ke”fakta”annya. Kalau tidak ya anggap aja obrolan lalu

    jadi “why so serious”?๐Ÿ˜›

  48. Khalayak blogger kali.
    Khalayak umum yang mana? Coba aja tanya sepuluh orang mahasiswa semester akhir di bekas kampus saya (UNCEN nan terbelakang), kalau satu saja ada yang pernah baca tulisan kopral disini, sampeyan taโ€™kasih hadiah deh.

    Melihat begitu pedulinya anda dengan melek-blog-nya masyarakat di Papua, kenapa anda tidak mencoba beraksi dulu? Ada banyak cara cepa untuk melakukan ini, misalnya dengan mengeprint beberapa artikel geddoe dan menyebarkannya ke kenalan anda, atau bekerja sama dengan senat di bekas kampus anda untuk memuat printout artikel geddoe di mading atau majalah kampus (kalau ada).

    Obviously geddoe, saya, atau mayoritas blogger lain tinggal jauh dari papua (dan mungkin tidak punya kenalan di sana) sehingga tidak bisa melakukannya secara langsung. Kalau anda (yang tinggal di sana dan saya asumsikan punya akses) bisa secara proaktif ‘me-nyata-kan’ blog bagi masyarakat papua, kan itu lebih baik dan mudah.

    Ah ya, setahu saya blogger ini sedang berdomisili di Sorong. Anda mungkin bisa coba menghubungi dia…

  49. @ frizter

    Eh, di Papua. Lalu objektif dari menulis di media massa itu sendiri sebenarnya apa, kalau boleh tanya?

    Saran:
    1. Anda bisa hubungi LSM-LSM yang terkait.
    2. Kenapa harus terbatas pada ranah blogosfer lokal? Tidak tertarik menjadi citizen journalist skala internasional? Ada situs-situs seperti: NowPublic.com, You Witness News (Yahoo/Reuters), iReport (CNN), etc.
    3. Kalau di dunia internasional, topik seputar Papua setahu saya dianggap cukup newsworthy. Jadi kenapa tidak langsung mengirim ke media massa berbasis di, uhm.. Australia mungkin?
    4. Mengikuti saran dari Catshade.
    5. Komunikasikan aspirasi Anda kepada mereka yang sudah profesional dalam bidangnya. Sepertinya Kopral Geddoe dan blogger lainnya disini masih kuliah, bukan begitu? Mereka juga harus konsen ke studi masing-masing. That also explains the why so serious? attitude. I’d say the same thing when I was in college.

    Masalah tulisan Kopral Geddoe terbaca pemuda Papua atau tidak,
    Rasanya materi tulisan Kopral Geddoe tidak sepenuhnya relevan dengan kebutuhan perjuangan pemuda Papua saat ini, meskipun memang bisa dinikmati sambil sruput-sruput kopi.

    Sementara Jakarta sedang memikirkan bagaimana caranya mengembalikan semangat nasionalisme, nasionalisme itu sendirilah yang dimanfaatkan sebagai alasan untuk menindas hak indigenousity masyarakat Papua. Jadi ini kembali pada objektif Anda sendiri.

    Tapi yang penting suatu ide itu tidak mati sia-sia, ya?
    Love and hugs for Papua!

  50. @ Marisa | fritzer

    Ah, kenapa bisa bosan dengan beliau? Apa sih kurangnya?๐Ÿ˜†

    @ the secong

    Lha ‘kan saya sudah bilang, kalaupun itu saya coba, itu bukan sebagai blogger. Saya-yang-blogger ya, ngeblog. Di dunia maya.

    @ mardun

    Menarik juga falsafah warung kopinya. Bisa dijadikan postingan?

    Ah, tapi, why-so-serious lah, terserah mau dibikin atau tidak.๐Ÿ˜€

    @ Catshade

    Mungkin bisa dimulai dengan blog Hoax-nya mas Sandynata—rasanya ini yang formatnya lebih optimal untuk niat seperti itu.

    Dan saya masih iri dengan domain name sebagus itu.

    @ Marisa (2)

    Memang seperti itu—maaf kalau saya terlalu ga pedulian. Saya memang agak pragmatis.๐Ÿ˜€

    *belajar buat exam*

  51. @Catshade

    wacana “mencerdaskan orang papua” – alih-alih “memelek-blog-kan” – itu bakal jadi dialog yang lebih panjang lagi daripada topik awal kita.
    Percayalah, misi itu amat sulit dan melelahkan.
    Kalau targetnya “penduduk intelektual papua” yang terdiri dari “orang Indonesia + Papua” ya bisa-bisa saja.
    Tapi tau gak apa jawaban sebagian besar mahasiswa Papua asli kalau diajak diskusi topik berskala nasional yang lakonnya “orang-orang Indonesia” ?

    “Biar Indonesia urus urusan mereka sendiri, kita mau merdeka.” :

    Disini, orang Papua yang berani say-no-to-freedom akan dikucilkan oleh keluarga dan lingkungan Papua-nya.

    Padahal di Papua ini, khususnya paska reformasi dan Otsus, “penggunaan” ikon orang asli Papua dalam segala bentuk misi penyebaran informasi adalah mutlak.
    Noone listens to a non-Papuan.

    Lagipula secara pribadi saya punya personal issues regarding Papuans in general. Ini membuat saya enggan terlibat secara amatir dalam misi-misi memajukan Papua. Kalau secara profesional ya jelas mau saja.

    Tapi setelah ini (mungkin juga besok, sudah mendekati curvew) saya akan kunjungi blognya fertob itu. Sekilas saya lihat fotonya, dia bukan anak asli Papua, tapi siapa tau dia bisa ngasih saya link anak Papua yang punya blog. As far as the new mission is concerned, that just might do the trick.

  52. @Marisa

    Eh, di Papua. Lalu objektif dari menulis di media massa itu sendiri sebenarnya apa, kalau boleh tanya?

    Out-reaching a more general audience.

    3. Kalau di dunia internasional, topik seputar Papua setahu saya dianggap cukup newsworthy. Jadi kenapa tidak langsung mengirim ke media massa berbasis di, uhm.. Australia mungkin?

    Menurut pandangan picik saya, alasan terbesar dunia internasional tertarik dengan Papua adalah demi mengantri utk menggantikan uncle Sam & Freeport tanpa harus menunggu kontrak kerja Freeport (yang di-ttd Suharto, 1997) berakhir 21 tahun lagi. Pembatalan kontrak itu paling mudah dilakukan jika Papua merdeka. That’s why it’s newsworthy.
    Australia? Ya, mereka kandidat paling napsu utk misi ini.
    My chauvinist thought is always telling me that those human rights activists are also instruments to this grand mission.

    *stop typing, fritz!! This is OOT*

    Sementara Jakarta sedang memikirkan bagaimana caranya mengembalikan semangat nasionalisme, nasionalisme itu sendirilah yang dimanfaatkan sebagai alasan untuk menindas hak indigenousity masyarakat Papua.

    *can’t….control….my fingers….*

    Kalau sampeyan hidup di Papua sejak umur 3 tahun, seperti saya, sampeyan akan sadar bahwa presentase kasar penganak-tirian masyarakat pendatang di Papua justru lebih besar daripada “penindasan” pemerintah terhadap orang Papua.

    *I said stop typing, fritz!!*

    Love and hugs for Papua!

    Yes, it’s always nice seeing things from outside the frame๐Ÿ™‚ .

    *bites own fingers off*

  53. @fritzer:

    Dood, what you just revealed up there is VERY blog-worthy๐Ÿ˜ฏ (newsworthy juga sih, tapi anda mungkin tahu susahnya mengangkat fenomena sesensitif itu di media massa arus utama). Bikin blog gih sana (ini saya sudah menuntut, bukan lagi menghimbau atau mengajak)… saya yakin situ bakal sangat berpengaruh di blogosfir sini, soalnya rasanya jarang ada orang yang ngeblog soal papua.

    Lagipula secara pribadi saya punya personal issues regarding Papuans in general. Ini membuat saya enggan terlibat secara amatir dalam misi-misi memajukan Papua.

    You…you demanded us bloggers to have a more active, altruistic role in real-life society, but you yourself are hesitant to help a particular society because of ‘personal issues’? I…I’m thoroughly confused by the paradoxical nature of your position.๐Ÿ˜•

  54. Bikin blog gih sana

    ~Catshade

    Mantaaaab, Anda makanya ngeblog, dong.

    ~K. geddoe
    *Proselytism mode on*:mrgreen:

    *peace, joke*

    Tapi bukannya Mas Fritzter memang ada rencana bikin blog walaupun “kapan-kapan”?

    (dari blognya Mas Jensen)

  55. Lol, it’s okay, fritzter. Was expecting that anyways.. *ngeles.
    Makanya tergantung objektif.

    Terlepas dari realita politik di Papua, pastinya diskriminasi bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan kepada siapa saja. People wants to know the truth, then give them the truth. Buktikan kalau Anda tidak sekedar memiliki personal issues atau sentimen rasial belaka. Mungkin Anda harus mengadakan riset yang dapat menyokong pandangan picik tersebut? Atau kalau sudah ada risetnya, tinggal dikembangkan saja.

    Kalau urusan keberpihakan antara masyarakat pribumi dan masyarakat pendatang, siapa yang benar dan yang salah, anggap di luar konteks.

    Karena konteks yang dimaksud:
    Nyah itu. Blogging responsibly, etc.๐Ÿ˜€

    Disclaimer. Saya bukan jurnalis atau reporter straight news. Saya lebih memilih kesusasteraan (as in literature writing) daripada pemberitaan (as in journalistic writing). Setelah itu beres. Baru saya menulis ke media massa.

    No pain, no gain.
    Doesn’t take to be in or out one’s frame to realize such simple thing.

  56. Bikin blog…

    *drooling*

    Bukan ide yang buruk.

    Tapi bukannya Mas Fritzter memang ada rencana bikin blog walaupun โ€œkapan-kapanโ€?

    Akhir bulan ini deh. Saya sebenarnya lagi disibukkan dgn tugas yang sebenarnya sudah jatuh tempo kemaren. Padahal baru 50% kelar. Soale pindah2 terus dari titik jenuh satu ke titik jenuh lain.. :mrgreen:
    Ya.. ta’usahain.

  57. @ Catshade

    Ah ya, setahu saya blogger ini sedang berdomisili di Sorong. Anda mungkin bisa coba menghubungi diaโ€ฆ

    Tapi justru karena lagi di Sorong, beliau malah jarang onlen dan jarang apdet. Smentara walo sama2 di Papua, Sorong-Jayapura itu sebanding dengan Anyer-Panarukan, minus jalan daratnya. Jauh.:mrgreen:
    Anyway, semoga beliau segera baca pesan Fritz di blognya๐Ÿ˜‰

    @ fritzter

    Sekilas saya lihat fotonya, dia bukan anak asli Papua

    Beliau etnis batak. Dengan kata lain, amber juga…:mrgreen:

    tapi siapa tau dia bisa ngasih saya link anak Papua yang punya blog.

    Blog anak Papua? Nih!:mrgreen:

    *dipancung fritz*

  58. Blog anak Papua? Nih!

    Wah Tentang-nya serem…
    Tapi itu mewakili mayoritas orang Papua atau sekelompok kecil saja?

    (Kok jadi OOT ya๐Ÿ˜› )

  59. @ Catshade

    Ah, musisi yang nyaman di jalur indie itu kan nggak bertanggung jawab, mas dnial. Mereka cuma genjrang-genjreng demi kenikmatan mereka sendiri, bukan demi masyarakat luas.

    La bukannya itu mirip blogger ya?
    Kebanyakan nulisnya demi kenikmatan pribadi

    (IMO)mau nulis lewat media massa atawa blog mah kagak ngaruh, yang penting tidak ngeposting tulisan yg menyesatkan pembaca. That’s it

    kalo mau repot ya monngo lewat media massa dengan segala aturan yang diterapkan. kalo mau yang lebih santai ya ngeblog aja.

    *peace*
    *kabur*

  60. @sora9n

    Jika kelak internet sudah sama accessible-nya dengan TV dan koran

    Yakin deh, pada saat itu si “tukang pangkas” pasti akan menjalankan “tugas2nya” seperti di TV dan Koran. Setidaknya menggunakan gunting psikologis hehehe…

  61. @ lambrtz

    Wah Tentang-nya seremโ€ฆ

    Coba bandingkan dengan halaman serupa disini dan disini.
    Itu blog2 WP juga…๐Ÿ˜›

    Tapi itu mewakili mayoritas orang Papua atau sekelompok kecil saja?

    AFAIK, mayoritas. Tentunya diluar minoritas elit politik yang kenyang dengan dana Otsus. CMIIW. *lagi malas panjang lebar*

  62. @ lambrtz

    *berpikir untuk akuisisi fritzter.wp.com lebih dulu*

    *jahat*

    @ Marisa | fritzter | Rukia | jensen99

    Soal politiknya, bagaimana kalau bahasan lanjutannya di blog Mas Fritzter saja?๐Ÿ˜›

    @ CY

    Makanya, saya juga berpikir begitu.๐Ÿ˜•

  63. walah…
    capek saya nontonnya…
    geddoe aja udh bilang dari kapan tau,
    why so serious, guys?
    *ditimpuk*

  64. Pingback: Siapa Yang Harus Bertanggung Jawab? « All That I Can’t Leave Behind

  65. –geddoe–
    berarti klo pun mencoba, tapi bukan sebagai bloger?
    ya ga masalah lah. sebagai bloger, sebagai gedoe, sebagai difo….atau sebagai orang lain. Yang penting kamu berkarya, dan karyamu bagus -mengandung ‘isi’ yang bermanfaat positif bagi orang lain.

    btw, makasih, sekarang udah ga suspend lagi blog saya itu. sekali lagi, makasih. maap sudah banyak mengganggu

  66. o iya, sori jadi posting dua kali,
    sesudah baca-caba komentar, kok rasanya komentar saya ga nyambung ya?
    ini tentang seseorang yang bilang ke kamu ‘kenapa ga nulis di media aja’, gitu bukan?
    atau bukan?

  67. @ fritzter :

    Tapi setelah ini (mungkin juga besok, sudah mendekati curvew) saya akan kunjungi blognya fertob itu. Sekilas saya lihat fotonya, dia bukan anak asli Papua, tapi siapa tau dia bisa ngasih saya link anak Papua yang punya blog. As far as the new mission is concerned, that just might do the trick.

    Hehehe….memang saya bukan orang asli Papua, karena saya orang Batak. Tapi kalau sudah lahir, besar, dan akhirnya kembali lagi ke Papua, apakah masih layak dipertimbangkan sebagai orang Papua ?

    Kalau sampeyan hidup di Papua sejak umur 3 tahun, seperti saya, sampeyan akan sadar bahwa presentase kasar penganak-tirian masyarakat pendatang di Papua justru lebih besar daripada โ€œpenindasanโ€ pemerintah terhadap orang Papua.

    Jujur saja saya juga merasakannya. Tetapi bukan itu masalahnya karena wajar sebagai “orang pendatang” mendapatkan perlakuan sebagai “warga negara kelas 2” meskipun saya sendiri lahir dan besar di Sorong-Papua.

    Saya merasakannya setelah reformasi, ketika hak-hak masyarakat Papua mulai diperbesar khususnya dalam pengelolaan sumber daya dan budaya. Setelah OTSUS mulai diberlakukan baru tren ketidakberpihakan kepada masyarakat pendatang mulai meningkat. Tetapi jujur saja, itu tidak menjadi masalah bagi saya, karena tergantung dari bagaimana saya mampu mendekati mereka dan bergaul dengan mereka tanpa batasan Papua atau non-Papua.

    Saya sendiri tetap tidak akan mengubah blog saya jadi corong suara “kegelisahan masyarakat pendatang di Papua”. Buat apa ? Kegelisahan itu selalu ada tetapi pembauran dan adaptasi sosial bisa membuat kegelisahan itu menghilang.

  68. @goldfriend
    *menghela napas*

    Saya butuh satu post utuh utk menanggapi ini.
    Ntar deh kapan-kapan ta’tulis tentang itu. Sekarang2 ini lagi belum mood.

  69. ini mungkin telat, tp gmn menurutmu dg bloger yg bilang : ini blog gw, terserah gw mo nulis apa aja di blog gw ?? (walo itu mungkin postingan provokasi dll)

    aku kok gelisah dg pernyataan itu.
    emang sih, bebas. tp kebebasan yg sejati justru membuat berhati2 dg memikirkan dampaknya kpd yg lain.
    misal nulis ttg fantasi seks individu yg sgt liar. emang sih, krn itu blog yb, bebas aja dia nulis apa aja. tp tdk kah terpikir, dampak dia menulis hal tersebut apa ??

    *tp ged, kamu ndak termasuk bloger tipe itu. mnrtku, dr pertama aku baca blogmu, gw sll dapet pencerahan di sini. i think its a great blog*

    soal tgg jawab bloger dan hubungannya dg media nyata, dulu aku juga mikir hal yg persis sama dg fritzer.
    tp barusan dpt ilham๐Ÿ˜€ bhw hal tsb ada baiknya (yg ada di blogsfer ini blm terakses oleh mayorita masyarakat indonesia).
    mengapa ??

    aku inget quote : guru akan datang dg sendirinya jika murid sudah siap.

    nah, mengamati kedewasaan masyarakat itu sendiri, kayaknya sih belum siap2 amat dg keragaman dan keliaran alur diskusi di dunia maya.
    jd jalan sajalah yg ada skrg, nanti jika sudah saatnya, akan terjadi juga kok.

Comments are closed.