Masygul

Ini apaan sih?

http://nalayeghie.wordpress.com/2008/10/21/misteri-batu-hajar-aswad/

“Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.”

Kenapa merasa perlu sekali menyebar klaim-klaim aneh yang tak dapat dipertanggungjawabkan seperti ini? This is wrong in so many levels.

Pertama, ia berangkat dari hoax yang (entah kenapa) sangat populer kalau Neil Armstrong mendengar adzan di bulan. Entah bagaimana berita semacam ini muncul — yang bersangkutan sendiri sudah menolak mentah-mentah berita itu secara publik (contoh paling akhir adalah tahun 2005, pada wawancara dengan surat kabar Malaysia [link]). Kedua, klaim “penelitian ilmiah” yang dipergunakan sangat tidak kredibel, karena tidak menyertakan referensi pada karya ilmiah yang sudah matang dan melalui sistem penilaian sejawat. Lalu ketika dikritik, katanya ada konspirasi. Cara jurnalisme yang pengecut.

Saya gemas sekali melihatnya. Kenapa merasa perlu “membela” agama sendiri dengan kebohongan? Efeknya justru bisa menjadi detrimental, sebab sewaktu nanti ketahuan omong kosongnya, justru agama tersebut jadi “terluka”. Itu juga saya dapatkan dari BOTD. BOTD memang ga mutu.

Kalau Anda mengimani suatu agama atau paham, maka jagalah nama baiknya. Jangan malah mempromosikan hoax demi promosi dan proselitisasi.😐

79 thoughts on “Masygul

  1. dan sudah lebih dari 30 orang (di entry komen) yg jadi terdongkrak imannya dari hoax tersebut. Masih bisa bertambah banyak. Kasihan…😐

  2. Salam kenal:mrgreen: .

    What makes you so sure it comes from muslims in the first place?
    Have you traced the news up to its first source?
    We’re in the middle of a slander-vs-counter-slander, muslims-vs-everyone-else war here dude; nothing’s for sure. There’s always something more than meets the eye.

    Anyway I share your concern. Nice post.

  3. @ jensen99

    Semestinya iman bisa didongkrak dari yang hal positif; bukan hoax.

    @ fritzter

    Salam kenal juga.

    I beg to differ for I was not being “so sure”. I merely deducted a proper (potentially ephemeral) conlusion by examining the trends and the evidence, without going further by assuming what is beyond necessity.

    I can always assume that the hoax was made by aliens for pranks, but that would transgress the proper scientific method.

    Terima kasih kritiknya.

  4. Sebenarnya malah justru lebih pas secara ilmiah (CMIIW) kalau bilang Mekkah adalah pusat alam semesta. But it’s as meaningless as saying Pelacuran Dolly adalah pusat alam semesta.😆

    What makes you so sure it comes from muslims in the first place?
    Have you traced the news up to its first source?
    We’re in the middle of a slander-vs-counter-slander, muslims-vs-everyone-else war here dude; nothing’s for sure. There’s always something more than meets the eye.

    Yes, I’m sure it’s a disinformation propaganda from the Illuminati Freemason Vatican secret agents Zionist Jews. Damned them all to hell!🙄

  5. @ Catshade

    Sebenarnya malah justru lebih pas secara ilmiah (CMIIW) kalau bilang Mekkah adalah pusat alam semesta. But it’s as meaningless as saying Pelacuran Dolly adalah pusat alam semesta.😆

    But of course. The Universe is fucking huge. God knows (just an expression) where the hell is the center.😆 The observable Universe, however, is centered on Earth. So yes, Mecca is the center of the Universe. And so is Akihabara, The Onion’s headquarter, Apple’s Infinite Loop, Googleplex, and Keira Knightley’s delicious flat chest.

    Yes, I’m sure it’s a disinformation propaganda from the Illuminati Freemason Vatican secret agents Zionist Jews. Damned them all to hell!

    That’s silly! Of course it’s from one of Xenu’s programming movies!😮

  6. Anyways I do believe this hoax brings enlightenment only to retards on one hand, speechless shame to more thinking muslims on the other.
    I know it brings the later to me .
    Although I must confess a tiny forgotten part of me wishes it wasn’t a hoax…

  7. I think many posts there are about urban legends and conspiracy theories, no? Alien in Area 51, John Titor, Indian UFO, etc…
    Interesting topics actually for me, but I still think that there is an urgency to tell readers not to really believe the informations as the truth.
    Except if the author intends to to so.

    (Damn…writing long sentences in English is so hard and I wonder how I can come to Singapore…)

    Keira Knightley’s delicious flat chest.

    BTW, have you already started to write what Ms Rima Fauzi tagged you?:mrgreen:

  8. @ Nenda Fadhilah

    Ah…

    *terpana, kecewa pada dunia*

    @ fritzter

    Although I must confess a tiny forgotten part of me wishes it wasn’t a hoax…

    Well a string that connects the planet with some distant cosmological architecture like an enormous pendulum is rather awesome indeed.

    @ lambrtz

    Yes, indeed. BOTD teems with posts about things that are “beyond mainstream scientific media coverage”.

    BTW, have you already started to write what Ms Rima Fauzi tagged you?:mrgreen:

    Not yet, but I maybe will.

    But this is a family blog! Get out of town. It’s hard to blog about boobs without explicit, tasteless sexual innuendos.😦

  9. Lha, salah satu rukun agama mereka adalah mengunjungi (plus lari mengelilingi) satu tempat, tempat yang posisinya jadi arah orang bersujud sembahyang, dimanapun mereka di bumi ini.

    Saya rasa wajar kalau mereka ingin menaikkan status ‘pusat’ tempat itu lebih dari sekedar alegori dan dogma. Facts, man..cold, hard facts.😛

  10. @ Catshade

    Tapi maksudnya pusat seperti apa? Secara geometris tidak mungkin, sebab ia ada di permukaan. Secara topografis pun, bahkan konvensi umum bahwa utara itu “atas” pun mulai ditentang dengan peta-peta novelty dengan selatan sebagai “atas”, jadi, yang namanya “pusat” itu sendiri rasanya hanyalah inti bumi.😕

  11. Saya rasa wajar kalau mereka ingin menaikkan status ‘pusat’ tempat itu lebih dari sekedar alegori dan dogma.

    ~Catshade
    IMO having a place as a global center of prayer like this is already cool and glorious. Why needs more? Why wants more?😕

  12. Pusat planet Bumi?

    Bukannya itu ada di dalam inti Bumi?

    Atau..
    Bumi itu memang datar dan Mekkah memang ada di tengah-tengah lempeng planet??

  13. *baca judul*

    *deja vu*😆

    Kalau Anda mengimani suatu agama atau paham, maka jagalah nama baiknya. Jangan malah mempromosikan hoax demi promosi dan proselitisasi.😐

    Sekarang ente tahu betapa masygulnya saya waktu menulis post yang dulu itu. Truth is, they are of the same vein. (-_-)

    Belum lagi kalau ada zealot yang maksain diri menanggapi. God knows how mentally-battering it was.🙄

    * * *

    BTW, soal Ka’bah sebagai pusat bumi. Setahu saya pertimbangannya bersifat landmass-wise, deh. (o_0)”\

    Jadi Amerika di kiri, Eurasia tengah, dan kanannya timur jauh.
    Samudra Pasifik kan *bisa dibilang* kosong blong. Jadi, kalau dilihat sekilas, pusatnya memang di timur tengah.

    Hanya saja, apa benar pusat landmass itu *tepat* di Ka’bah… ini yang — IMHO — terasa maksa. Belum menghitung kalau dulunya ada Atlantis!😄

    @ Nenda Fadhilah

    Coba kamu kerja di bidang saya, pasti banyak menemukan teori konspirasi berseliweran.

    Somehow, it feels understandable for me. ^^;;

  14. @ Catshade

    Whyyyyy~!!111eleven???

    @ Nazieb

    Wah, sayangnya, kalau di tulisan tersebut, sepertinya yang didukung adalah model geometris bumi yang seperti bola.

    @ sora9n

    Dari waktu itu juga saya sudah merasakan masygulnya, kok, Masbro.😕 Rasa gemasnya itu, lho. Dan ya, yang paling menyebalkan adalah yang ngeyel dan mempertahankan hoax tersebut.

    BTW, soal Ka’bah sebagai pusat bumi. Setahu saya pertimbangannya bersifat landmass-wise, deh. (o_0)”\

    Jadi Amerika di kiri, Eurasia tengah, dan kanannya timur jauh.
    Samudra Pasifik kan *bisa dibilang* kosong blong. Jadi, kalau dilihat sekilas, pusatnya memang di timur tengah.

    Lha, “Amerika di kiri” itu ‘kan konvensi yang tidak resmi sekali. Bahkan walau memang ada IDL di situ, benua itu juga sering digambarkan di kanan. Bagaimanapun, IDL ‘kan murni hasil rekaan manusia? Peradaban barat pula, yang mestinya tak punya sangkut paut dengan spiritualitas Islam?

    Dan lagi, lupakan Atlantis, bagaimana dengan continental drift?😈

    @ Kunderemp An-Narkaulipsiy

    That would not be easy, my friend, but I pray for you. Beware of the cops.🙂

    @ person_a

    Tapinya caranya itu, lho.😆

  15. @ Catshade

    WHY is it that people even BELIEVE an OBSCURE scientific “breakthrough” that changed NOTHING in the world, and is not reported in ANY major news source?

    Had that shit research really happened, we would have heard of it already.😐

    *eats self*

  16. Saya baru sadar…

    Dalam cerita-cerita semacam itu (terlebih lagi cerita baru yang saya link di atas), para ilmuwan non-Islam yang terlibat pada awalnya entah skeptis atau bingung. Begitu diperlihatkan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan ‘fenomena misterius’ itu oleh si protagonis (baca: Ilmuwan Islam), mereka serta-merta langsung tercerahkan dan masuk Islam. And they live happily ever after

    Di satu sisi terlihat keinginan si pencerita untuk menempatkan Islam di atas sains, menunjukkan bahwa ilmu begitu ‘immature’ (dan sombong pula) sementara ayat-ayat suci sudah ‘diam-diam’ menunjukkan ‘faktanya’ ribuan tahun yang lampau. Tapi entah kenapa, saya juga menangkap hal lain yang tersirat: Mereka ingin diterima oleh dunia ilmiah, mereka ingin diakui oleh orang-orang pintar itu. So, actually those batshit insane wacky creationists are just want to be loved…😦

    …or an unconscious inferiority complex.😛

  17. Ah, that is a verily eloquent, touching, and generous assumption of their nature. A feeling of being left behind and alone in a cruel, cold world…

    But I still think they’re just batshit insane.🙂

  18. “Kalo kamu belum bisa membuktikan sesuatu itu adalah salah, maka itu adalah benar…” *dikutip semena-mena dari omongannya Lovegood di Harry Potter 7*

  19. Barusan dari sana
    itu cerita lama yang dimodifikasi
    Agak semena-mena jadinya😦

    Itu juga saya dapatkan dari BOTD. BOTD memang ga mutu.

    Tapi gak seluruhnya kan Masbro
    secara saya juga pernah lihat blogmu di BOTD:mrgreen:

  20. Armstrong, 75, also denied he had heard the Muslim call to prayer on the moon and had converted to Islam.

    Hmm… I remembered when I used to hardly believe that he does heard it but well, from time to time I’m beginning to get used to hoax thinging… It’s ironic, and I don’t even know what ironic really means but it just sounds cool so I use it. lmao*

  21. @ K. geddoe

    Lha, “Amerika di kiri” itu ‘kan konvensi yang tidak resmi sekali.

    Euh… itu salah satu kesepakatan para geolog terkait teori pangaea. ^^;;

    Animasi di wikipe: [link]

    Jadi, konon Samudra Pasifik itu sisa-sisa “laut besar” waktu daratan masih bergabung. Benua Amerika menjauh ke barat, Cina-Mongol dkk. ke timur. Sedang Eurasia dan Timteng posisinya tetap di tengah — tapi lempengnya saling bergerak (membentuk danau, selat, dsb).

    Tapi tetep aja: WHAT’S THE POINT. Tel Aviv dan Beirut pun bisa “diduga” sebagai pusat bumi kalau begitu!😄

    Dan lagi, lupakan Atlantis, bagaimana dengan continental drift?😈

    Itu dihitungnya dengan (prediksi) model pangaea, jadi continental drift nggak masuk hitungan. Benuanya kan masih menyatu. ^^

    @ Catshade

    Dalam cerita-cerita semacam itu (terlebih lagi cerita baru yang saya link di atas), para ilmuwan non-Islam yang terlibat pada awalnya entah skeptis atau bingung. Begitu diperlihatkan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan ‘fenomena misterius’ itu oleh si protagonis (baca: Ilmuwan Islam), mereka serta-merta langsung tercerahkan dan masuk Islam. And they live happily ever after

    Well… saya pribadi sebenarnya nggak masalah dengan pengisahan macam itu. Syaratnya cuma satu: kisahnya harus benar dan bukan hoax.😛

    Seorang Niels Bohr pun (no less!) pernah tertarik mistisisme timur karena menemukan paralel dengan QM. Apa bedanya dengan ilmuwan tertarik pada Islam setelah baca “ayat-ayat MIPA”.😆

    Sayangnya, mengingat sejarah panjang umat dengan hoax… saya jadi skeptis duluan kalau mendengar kisah-kisah macam itu. Oh well. ^^;;

  22. @ ManusiaSuper

    Ya kalau begitu tolong Lovegood itu disuruh membaca soal teko Russell.😛

    @ abu bakar

    Hmm? Ini bercanda atau serius? Maaf, soalnya sudah banyak yang pura-pura mengutuk untuk bercanda.

    Kalau ternyata kutukan Anda serius dan ikhlas, saya ucapkan terima kasih.🙂

    @ sora9n

    Ah, saya tidak tahu soal konvensi itu. Soal resmi-tidak resmi, I stand corrected. Tapi tetap saja, itu adalah konvensi manusia yang tidak ada hubungannya dengan “testimoni alam” dan semacamnya.🙂

  23. “But this is a family blog! Get out of town. It’s hard to blog about boobs without explicit, tasteless sexual innuendos.”

    Hey.. my blog always has explicit and tasteless sexual innuendos, yet it is a friendly family blog. Who says the two can’t mix?😉

    Still waiting for the boobs post, you can do the manga anime cartoon style like suparman and ibab.. just anything with boobs.

    And do you really think flat chests are delicious? For real? *bingung*

  24. Hey.. my blog always has explicit and tasteless sexual innuendos, yet it is a friendly family blog. Who says the two can’t mix?😉

    The only appropriate context to put “explicit and tasteless sexual innuendo” and “family-friendly” in the same sentence is if you’re into incest.🙄

    /OOT

  25. @ therry

    Kalau nanti benua bergeser lagi, bagaimana, ya?

    @ rima fauzi

    I will.

    And do you really think flat chests are delicious? For real? *bingung*

    Firstly, we moeists and seasoned internet perverts, hardened from experience, are able to savor just nearly about every kind of attributes that can be worn in the context of beauty. Boobs, swimwear, ethnicity, plenty kinds of attire, and more. Have you heard of amputee fetishism?

    And second, what is this about size? Why is it that the bigger, the better? Have you ever seen some really hugeass boobs that are about five times bigger than the woman herself? Most of my friends thought that’s a turnoff, hence, we can deduce that it is not the size. That the graphic illustrating the relation between boob size and awesomeness is, properly, a CURVE. The holy grail is to find the amplitude, which then would explain the ultimate boob size.

    Wait, I can just write about that second subject. It’s in the bag, then. Kindly wait.🙂

    @ Catshade

    What if the innuendos are all very well camouflaged?😛

  26. Kopral Geddoe: It’s not that bigger is better, it’s just, if i were a lesbian, i’d go for the handful (ceplok telor tambah dikit), but most definitely not flat chested. If i want that, i’d be a man-dating lesbian. And fyi, amputee fetish, that just fucks me up in the mind, darn it, i’m gonna have nightmares tonight..

    Huge fun bags are overrated (and cause back-pains). Yes my friend, you’d just have to take my word for it.😉

    Catshade: Nah, not into incest at all. There are sexual innuendos in the blog, and sometimes quite explicit as well, but still, people from all walks of life seem to enjoy it quite a bit.

    If what you say is true, it means all my 3 faithful readers are incestuous..

  27. Sorry OOT berat tadi.

    Tapi, hal seperti ini sering sekali terjadi, terutama di kalngan agama2 tertentu yang mengklaim bahwa kebenarannya dapat terbukti dari banyaknya referensi2 yang bisa disambung2kan (secara maksa) dengan hasil penelitian ilmiah.

    Bapak saya dari kecil sering sekali memberi hal2 seperti ini ke saya, yang sering saya anggap lucu karena beliau seorang scientist, yang cukup handal, namun giliran beliau bicara mengenai ‘keajaiban’ agamanya (atau menguliahi saya akan betapa busuknya konspirasi zionis/freemason/amerika/naga/singa/mars/matahari) seperti sulap mindsetnya bisa dirubah dari scientist *klik* jadi ulama.

    Sungguh suatu fenomena membingungkan

  28. Agama itu kan candu.. wajar jika umat beragama, khususnya kita Muslim jadinya “maksa”
    Ada banyak miracle yang bisa kita angkat dari keislaman, jangan tutup mata

  29. Kurasa kita perlu bikin survei untuk blogger mengenai tipe boobs yang diinginkan. Mungkin berdasarkan rasio tubuh kali yah?

    (I love flat chest… that’s why I love to see Chiasa Aonuma pictures😛 )

  30. @ rima fauzi

    In short, I was never a chest man, so I don’t really care. I do think that some sizes suit some people better than the others.

    Soal yang agama dan sains itu, NOMA?🙂

    @ Ajaran

    Mungkin saja ada miracle yang terdapat pada ajaran Islam—saya bukan orang suci, jadi tidak terlalu paham. Tapi yang pasti, yang ini bukan salah satunya.

    @ Kunderemp An-Narkaulipsiy

    Makanya, some sizes suit some people better than the others.😛 Kalau yang saya percaya sih kayak gitu.

  31. Catshade berkata:

    Lha, salah satu rukun agama mereka adalah mengunjungi (plus lari mengelilingi) satu tempat, tempat yang posisinya jadi arah orang bersujud sembahyang, dimanapun mereka di bumi ini. …

    Sungguh janggal kata ganti yang digunakan si Catshade. K. geddoe, itu agamanya Islam bukan? Atau hanya orang mengaku2 Islam? Kalau memang K. geddoe adalah orang Islam, maka, pernyataan catshade itu seperti orang yang baru pertama kali ke blog ini saja. Padahal saya tahu, ia sering mampir kemari.
    hmm… Ataukah anda, K. geddoe hanyalah orang yang bukan bagian dari agama itu.
    sorry bro.
    /OOT

  32. @ Knp mengkoreksi agama dlm nuasa mengolok2?

    Knp mengkoreksi agama dlm nuasa mengolok2?

    Saya tidak mengoreksi agama. Saya mengoreksi tulisan tak berdasar yang mengatasnamakan sains dan agama.

    Sungguh janggal kata ganti yang digunakan si Catshade. K. geddoe, itu agamanya Islam bukan? Atau hanya orang mengaku2 Islam? Kalau memang K. geddoe adalah orang Islam, maka, pernyataan catshade itu seperti orang yang baru pertama kali ke blog ini saja. Padahal saya tahu, ia sering mampir kemari.
    hmm… Ataukah anda, K. geddoe hanyalah orang yang bukan bagian dari agama itu.

    Kalau Anda mengikuti tulisan-tulisan saya, maka rasanya saya lebih condong ke arah naturalisme. Saya seorang naturalis, dan rasanya tidak pernah sok berpura-pura. Walau secara kultural saya memang menganggap diri sendiri sebagai Muslim kultural—seremonial saja, tapi saya menyukai identitas itu. Ada rasa keterikatan secara budaya.🙂

    Dan Mas Catshade setahu saya dari dulu adalah Katolik, walau kesan skeptisnya kental?😕

    sorry bro.
    /OOT

    Wah, kalau OOT di kandang saya sih nggak usah malu-malu, Mas/Mbak. Saya nggak pernah pakai akismet kecuali buat spam.🙂

    Salam.

  33. Sungguh janggal kata ganti yang digunakan si Catshade. K. geddoe, itu agamanya Islam bukan? Atau hanya orang mengaku2 Islam? Kalau memang K. geddoe adalah orang Islam, maka, pernyataan catshade itu seperti orang yang baru pertama kali ke blog ini saja. Padahal saya tahu, ia sering mampir kemari.

    Saya…agak kurang paham apa tujuan anda mengomentari komentar saya. Ingin kejelasan? Ya, saya bukan Islam dan tidak pernah mengaku-aku Islam. Saya Katolik sejak lahir, tapi secara spiritualitas keyakinan saya kurang lebih serupa seperti Geddoe meski saya sedikit lebih waras.

    Menuduh saya mengoreksi agama dengan mengolok2? Komentar saya yang anda kutip di atas itu, bung/bu anonimus, adalah sebuah rasionalisasi (the cognitive process of making something seem consistent with or based on reason) mengapa si oknum Islam yang disebut Geddoe di atas ingin paham kalau “Mekkah adalah pusat dunia” itu diangkat ke level yang lebih ilmiah. I actually (try to) defend their case there.

  34. @ Catshade

    Sabaaar… Tarik napaaas…

    @ spidolhitam

    Bukan. Kalau yang Mas/Mbak baca/tonton itu kampanye “kita-tidak-pernah-mendarat-di-bulan”-nya Bill Kaysing di FOX, silakan buka-buka rebuttal di situs resminya Phil Plait di BadAstronomy.com.

  35. @catshade

    gini… gini…
    1!Anda pasti sudah mengetahui bahwa K.geddoe itu beragama Islam. Lantas mengapa anda menggunakan kata ganti “mereka”. penggunaan kata ganti di situ saya rasakan janggal. Karena seakan tidak mengetahui si pemilik blogger. apa anda sengaja mengelompokkan K.geddoe diluar dari orang-orang beragama agama itu ( yang , salah satu rukun agama mereka adalah mengunjungi (plus lari mengelilingi) satu tempat)?!
    2!Saya tidak pernah menulis anda sedang mengolok2.
    kalau ada kata “mengolok2” itu hanya ada pada nickname (yang saya gunakan untuk berkomentar). Dan saya tidak mengerti bagaimana anda menarik relasi bahwa mengolok2 itu berkaitan dengan (komentar) anda. Lagi pula saya juga tidak pernah meng-unjukkan komen saya untuk anda. dengan menggunakan @… misalnya @sianu. sebagaimana kebiasaan yang dilakukan para blogger.
    \
    -bila anda masih butuh kejelasan, bisalah kapan2 kita berjumpa di lapangan pacuan kuda PuloMas atau mungkin juga di danau MUI, UI Depok.

  36. Untuk no. 1… heh, now that you mentioned it, saya tidak pernah benar-benar memikirkan apa agama ‘resminya’ si Geddoe sebelum dia secara secara eksplisit mengungkapkannya di komentar barusan. So there you have it, saya sesungguhnya tidak tahu pasti tapi rasanya orang juga sulit percaya dia Islam kalau ngeliat tulisan2nya.😀

    Setelah saya lihat2 lagi, kayaknya saya waktu itu mau secara spesifik mengomentari komentarnya danalingga (yang agamanya juga gak jelas buat saya). Coba kalau dijejer, akan terasa nyambungnya. Yah, ini salah saya juga, nafsu pengen buru-buru komen tanpa sempat meng-quote atau menuliskan siapa yang mau dituju. Saya minta maaf atas ambiguitas yang telah ditimbulkan oleh komentar saya itu.

    But, then again…tujuan anda menyinggung ini apa sih? Is this such an important and significant matter to you?😕

    2!Saya tidak pernah menulis anda sedang mengolok2.
    kalau ada kata “mengolok2″ itu hanya ada pada nickname (yang saya gunakan untuk berkomentar). Dan saya tidak mengerti bagaimana anda menarik relasi bahwa mengolok2 itu berkaitan dengan (komentar) anda. Lagi pula saya juga tidak pernah meng-unjukkan komen saya untuk anda. dengan menggunakan @… misalnya @sianu. sebagaimana kebiasaan yang dilakukan para blogger.

    Lha ya itu makanya saya awalnya bingung: Pernyataan anda ditujukan ke geddoe atau saya sih? Saya juga jarang pake @sianu, tapi kalau saya meng-quote pernyataan orang, biasanya otomatis saya juga mengomentari orang itu (seperti sekarang ini). Ditambah lagi, karena saya jarang menemukan orang yang memakai nickname kalimat lengkap + tanya, jadi saya kira nickname anda itu juga sebuah bagian dari komentar. Begitu…

    Dan no offense, kalimat komentar pertama anda agak berantakan dari segi gramatikal, jadi saya juga bingung mencerna maksudnya. Tapi yang sekarang sudah lebih jelas kok.🙂

  37. oya, saya ini mas, rame2 soal identitas agama dan keyakinan, silahkan saja, kalau yang ini, gak perlu pelorot celana kan😀

    kalau hoax ya sudah, hoax, gak usah ngeyel

  38. @ knp eh knp

    Kalau Anda perhatikan lagi, kata-kata Mas Catshade itu kelihatannya ditujukan untuk Mas Danalingga, yang memang KTP-nya setahu saya bukan Islam.

    Jadi, damai tho?😀

    Walau seandainya ditujukan buat saya pun, ya, saya ragu ybs menganggap saya Islam.😆

    Tapi, senada dengan Mas Catshade, saya juga bingung. Tujuan Anda menyinggung ini apa sih?😕 Kita sedang membicarakan artikel ini, bukan? Memangnya benar-salah itu bisa berubah-ubah mengikuti kolom agama di kartu tanda penduduk masing-masing?

    @ Catshade

    Idem idem idem.

    @ spidolhitam

    Saya kira kalau suatu berita itu benar, siapapun yang menyampaikannya bahkan Roy Suryo sekalipun! tidak akan lantas menjadi salah.

  39. Walau secara kultural saya memang menganggap diri sendiri sebagai Muslim kultural—seremonial saja, tapi saya menyukai identitas itu. Ada rasa keterikatan secara budaya.

    Quote of the Day!

  40. fenomena rasionalisasi-scientisasi agama memang trend nya jaman sekarang yaitu yang orang sebut new-age. pada jaman new age ini (age of aquarius) agama dan science bertendesi melebur;berbeda dengan jaman sebelumnya (pisces age) terjadi polarisasi agama-science. sudah banyak tumbalnya seperti mbah galileo dkk.

    apa yang terjadi saat jaman ‘menuntut’ meleburnya agama dan science tetapi bukti objektif tidak tersedia? sama tidak masuk akalnya seperti jaman pisces age saat SEMUA BUKTI EMPIRIK+OBJEKTIF terpampang nyata di depan mata dihadirkan oleh scientis+filsuf saat itu, tetapi jaman ‘memaksa’ agama harus versus science di sisi yang berseberangan: mereka dikatakan bidah dan dibakar.

    kesimpulan : islam saat ini gagap dan memakan mentah2 trend jaman, sedang pihak lain seperti katolik sudah pernah belajar dari masa lalu mereka dan tidak ingin menceburkan diri lagi dalam konyolnya megikuti trend jaman

    ps: ki geddoe kalo bukan aquarius, sagitarius. nice post, nice discussion

  41. Soal fenomena itu saya kira wajar saja. Agama, atau setidaknya tafsir agama, memang dibentuk oleh budaya yang terbelakang apabila dipandang lewat kacamata modern.

    Cuma itu bukan perkaranya. Asal pembelaannya benar, tentu kita juga tidak berhak menyalah-nyalahkan. Masalahnya ya pembelaan yang dibawakan memang kebetulan salah kaprah.

    ps: ki geddoe kalo bukan aquarius, sagitarius.

    Kok sering banget dibilangin begini, ya? Saya Leo, kok. Sumpah.

  42. @geddoe
    Kamu itu lahirnya rebo kliwon, jadi tidak cocok kerja di air!
    Makanya kamu itu gak laku-laku!

    *los pokus*

    *digorok*

  43. Jadi kesimpulannya yang merusak agama sebenarnya berasal dari perilaku pemeluknya sendiri dan bukan karena kesalahan agama.

  44. @ Lemon S. Sile

    “Menjual” memang.

    @ imcw

    Saya tidak sedang membicarakan kandungan agama itu sendiri—hanya memperhatikan suatu apologi atas nama agama, menemukan kesalahan di dalamnya, lalu melakukan debunking.

  45. Saya juga mau menulis sebuah “pembantaian” terhadap apologetika ngawur dlm Kekristenan yang, sialnya, ditulis oleh seorang Doktor di 3 bidang dan pernah mengajar di ITB. Tapi masih dalam bentuk draft dan agak panjang. Mungkin tantangannya lebih besar daripada Sora9n yang “membantai” seorang lulusan Teknik Nuklir.😆

    Yang bikin panjang adalah problem-problem seputar sains-agama yang tak kunjung selesai. Dan judulnya mungkin Masygul Ver. 3.0🙂

    Apologetika dalam agama memang bisa sangat menyesatkan kalau dilakukan dengan ngawur.

  46. @ ki geddoe
    halah mata saya siwer… saya udah keburu ngefans ama sampeyan sampai saya membaca slogannya = slogan nofx “separation between church and SKATE”😀 sorry kirain pake rumus nofx disini hehe

  47. Catshade
    Oktober 25, 08 pukul 4:09 pm
    Saya baru sadar…

    Dalam cerita-cerita semacam itu (terlebih lagi cerita baru yang saya link di atas), para ilmuwan non-Islam yang terlibat pada awalnya entah skeptis atau bingung. Begitu diperlihatkan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan ‘fenomena misterius’ itu oleh si protagonis (baca: Ilmuwan Islam), mereka serta-merta langsung tercerahkan dan masuk Islam. And they live happily ever after

    Polanya sama tapi bisa diterapkan untuk kasus lain ternyata -> seperti ini

    Jadi tambah apatis nih

  48. Assl wr wb.

    …….SEBAGAI SEORANG MUSLIM YANG MAWAHID DAN TAZIM KEPADA MUHAMMAD,……” HAJAR ASWAD ” ADALAH SALAH SATU YANG MASIH MENGGANJAL DALAM HATI DAN AQAL INI.

    ISLAM SEBAGAI TAUHIDDULHAQ DAN TAK ADA KOMPROMI SETITIKPUN DENGAN KEMUSYRIKAN…SEHARUSNYA TELAH SEJAK LAMA “MEMBUANG” BATU INI DAN MEMUSNAHKANNYA DENGAN TANGAN MUHAMMAD SAW.TETAPI BELIAU JUSTRU MENGHORMATINYA DENGAN TATACARA TERTENTU…..DAN ALLAH SWT TAK MELARANGNYA.

    Ahaa…..ternyata hamba mempunyai seorang kawan dari kalangan Tabi’in, dialah Syaidina UMAR BIN CHATAB,..seorang mantan pembantai kaum Muslim pada jamannya, yang pernah memakan Tuhan nya yang terbuat dari roti, yang kemudian menjadi mualaf karena mendengar ayat suci Al Quran dibacakan……dan Umar Bin Chatab dengan kecerdasan aqalnya telah berkata dengan keras dan berat hati mengenai Batu Hajar Aswad ini (kurang lebih sbb):

    ” Hai Hajar Aswad…!!!, sesungguhnya engkau hanyalah sebuah BATU,..Jika sekiranya Rasulallah tidak melakukannya (mengecup hajar aswad),,,maka AKU TIDAK SUDI UNTUK MELAKUKANNYA “.

    …..apapun kisah hadis tentang Hajar Aswad ini, seharusnya tidaklah Nabi SAW menghormati sedemikian rupa.Lalu apakah maksud Allah SWT…? sebagaimana ajaibnya al Quran dengan ayat Alif lam mim, Ya sin, alif lam ra, toha,…yang tak ada artinya…Semua kasus ini adalah kasus mustasabihat dalam dunia Islam.

    Saya yakin suatu saat Allah SWT akan membukakan KEAJAIBAN ini kepada kita semua atau memberitahukanya setelah kita wafat……insyaallah

    waas wr wb

  49. @ mas Pandu
    …kisah masyhur sahabat nabi saw…

    @ faithfreedom
    …boleh ngintip dan catat, ..but Islam tak ada istilah Kartu Mati

  50. @ mas Pandu

    …..Dengan kecerdasan aqal Syaidina Umar Bin Chatab ra ini pula yang menganjurkan dan merayu dgn berbagai alasan yang tepat kepada Syaidina Abu Bakar Asshidiq ra (Kalifah saat itu) untuk segera membentuk tim yang diketua Said Bin Teshabit ra. (penghafal dan juru tulis Nabi SAW) guna membukukan Al Quran karena dikhawatirkan musnah seiring dengan banyak bergugurannya para penghafal Al Quran. Maka sampai saat ini DUNIA MASIH MEMILIKI KESAHIHAN AL QURAN DLM BENTUK AL QURAN MUSHAF HABSYAH yang masih terjaga keasliannya…….alhamdulillah hirabilalamin…

  51. Bilal Philips, in responding to Yusuf Ali’s “spiritualizing”

    Based on his mistaken interpretation, Yusef Ali was obliged to mistranslate all the obvious references to the physical pleasures of paradise. For example, in Soorah an-Naba (78) he translates verse 33 (wa kawaaiba atraaban) as companions of Equal Age, (The Holy Quran, (Trans.), p. 1676). Atraaban does mean of the same age according to Ibn Abbaas (Mukhtasar Tafseer Ibn Katheer, vol 3., pp 434 and 593), however Kawaaiba does not mean companion. Kawaaib is the plural of Kaaib which means a girl whose breasts are beginning to swell or one WHO HAS PROMINENT BREASTS (E. W. Lane, Arabic English Lexicon, vol. 2, p. 2616). Kawaaib means BUXOM GIRLS (J. Milton Cowan, ed., A Dictionary of Modern Written Arabic, (Beirut: Libraire Du Liban, 1980), p. 831).

    Hua.ha.ha.
    Teteknya sama GEDE
    Matanya sama BULAT
    Giginya sama TONGOS
    Bila tengok ke kiri sama NENGOK KIRI
    Kecing sama KECING
    SUMAHHHHH SAMA

    Hua.ha.ha.

  52. pelajari alquran, bandingkan dengan yang lain (tp yang asli loch, bukan yg edisi indonesian), akan kalian temukan jalan kebenaran sepertiku… allah al-haqq!

  53. Pingback: Masygul? « A Sort of Homecoming

  54. Pingback: Siapa Yang Harus Bertanggung Jawab? « A Sort of Homecoming

Comments are closed.