Merespon dengan Mengedit Komentar

Ada blog, tentu ada komentar — minimal menyediakan fasilitas komentar. Kalau tidak, itu blog menyebalkan. Nah, selama ini setahu saya ada tiga cara untuk menganggapi komentar.

  1. Ditanggapi dengan berkomentar seperti biasa.
  2. Ditanggapi dengan mengedit komentar-komentar yang masuk.
  3. Tidak ditanggapi.


Ini gambar pisang. Tidak ada
hubungannya dengan tulisan ini.

Cara yang agak nyeleneh adalah yang kedua. Metodenya memang agak resmi dan perfeksionis. Komentar yang masuk diedit satu persatu dengan membubuhkan balasan di bawahnya.

Jadi kalau awalnya seperti ini;

Bambang
31 Februari, 08 pukul 2:00 pm

Ah, postnya ndak mutu.

Akan diedit menjadi;

Bambang
31 Februari, 08 pukul 2:00 pm

Ah, postnya ndak mutu.

————————

@ Bambang

Biarin.

Metode yang satu ini memang rasanya sopan dan resmi. Tapi saya tidak pernah pakai. Alasannya ada beberapa;

  • Lama dan merepotkan, sebab komentar mesti diedit satu per satu. Buka desbor dulu, lalu diedit. Lama dan merepotkan. Lama dan merepotkan. Lama dan merepotkan.
  • Update komentar tidak muncul di halaman My Comments. Jadi sang komentator tidak bisa mengikuti perkembangan diskusi yang berlangsung.
  • Tidak bisa merespon dua (atau lebih) komentar sekaligus. Kadang nada komentar yang tersaji adalah sama saja. Yang seperti ini bisa (dan lebih efektif) kalau dibalas sekaligus. Nah kalau pakai sistem merespon-dengan-mengedit tentunya tidak bisa.
  • Merusak ritme diskusi. Diskusi jadi tidak berjalan secara alami. Soalnya ini bukan fan mail; seringkali para komentator juga berinteraksi satu sama lain. Kalau menggunakan sistem merespon-dengan-mengedit, interaksi antar komentator itu jadinya bakal dipotong oleh sang empunya blog. Akhirnya jadi anakronistik. Membacanya juga jadi pusing — page up, page down, page up, page down…
  • Sering susah dibaca. Format yang digunakan oleh empunya blog untuk membubuhi tanggapannya tidak selalu rapi. Kadang pembatasnya tidak jelas: ada yang tidak pakai batas, ada yang pakai formatting seperti bold atau blockquote. Padahal sang komentator juga bisa menggunakan format seperti itu, sehingga rancu.
  • Avatar empunya blog jadi tidak terlihat.:mrgreen:
  • Potensi jumlah reply menurun.:mrgreen:
  • *Ada yang bisa ditambahkan…?*

Tentunya ini hanya pendapat saya saja. Kebetulan saya tidak Maha Benar. Kalau merasa lebih baik pakai format ini silakan. Tapi jangan harap akan saya puji.😀

38 thoughts on “Merespon dengan Mengedit Komentar

  1. Ada yang kurang…
    Ada juga yang ditanggapi dengan edit komentar, lalu lama kelamaan komentar-komentarnya dihapus😈

  2. Gimana kalau model youtube, yang nyediain reply to comment?
    Sepertinya gabungan tipe 1 dan 2.
    Teman saya ada yang blognya seperti itu.😀

  3. @Nenda Fadhilah
    Ya seperti itu.
    Kalau teman saya itu pake WordPress juga sih😀
    (setidaknya tulisannya di bawahnya “is powered by WordPress”)

    (sebenarnya senior saya, kalau dia baca ini dan tidak setuju😛 )

  4. *Masih betanya-tanya kenapa ada gambar pisang di sana*😛

    Cara mengedit komen memang cara paling merepotkan yang pernah ada…
    Dan yang saya heran, kok mau ya capek-capek ngeditin komentar satu-satu…

  5. 100.000 HITS!!!!!!! Hmwahahahahahah~
    *pelukpeluk difo*
    (Klaim masih ga jelas, tapi gapapa deh)

    Eh, blog saya yang lama pake ngedit komeng satu2. Emang lama sih jadinya😛

  6. @ omoshiroi_
    Saya juga pernah ngalamin, berkomentar di blog orang lalu lalu dibalas komentar di posting saya yang ndak ada hubungan sama sekali dengan postingannya (OOT deh…)…
    Kalau tidak salah itu budaya testimoni FS…

  7. @mansup
    bener-bener kurang kerjaan

    @Geddoe
    saya juga kadang mengomentari dengan mengedit komentar. biasanya kalau yang komen terlalu banyak dan takut kelewatan.
    tapi saya lebih suka berkomentar di kolom tersendiri😀

  8. Terkadang jadi kayak signature di forum-forum…:mrgreen:

    Kalau diskusi memang jadi susah buat si komentator; kalo komennya yang sudah dilengkapi reply ketiban orang lain dia mesti ngeliat komen yang lamanya dulu untuk ngeliat reply dari sang empu.😛

  9. @ManusiaSuper & Disc-Co
    Kayanya yang punya blog lagi jalan-jalan ke blog sebelah…

    @K.geddoe
    *OOT*
    Om kapan mulai jualan Bakso Super?
    Laper nih…

  10. perut sudah lapar, disajikan gambar pisang pula

    makin lapar

    btw, ada alasan lain knp memakai komentar spt itu

    ikut2an saja😀

  11. Kalau merasa lebih baik pakai format ini silakan. Tapi jangan harap akan saya puji.😀

    Meminjam kalimatnya adek saya sih…

    “Yeee… emangnya siapa elo??”😮 😆

  12. mana ini reply komennya? pasti difo lagi mikir, mau bales pake cara apa komen sebanyak ini…😆

    *sedikit tersindir karena membalas dengan cara edit komentar*

    *tapi…cueklah*:mrgreen:

  13. Pingback: Hugeass boobs rules? (a bit about previous entry’s figurine picture) « JenSen99’s Weblog

Comments are closed.