Penjahat Apologi dan Kemurungan Eksistensial

Seorang teman, yang sedang masygul, punya istilah sendiri untuk para apolog yang dalam karya-karyanya gemar mengumbar logika cacat dan non sequitur: penjahat apologi. Terdengar sedikit pedas memang, tapi toh istilah yang dia buat tidak langsung menyerang konsep apologi itu sendiri. Berbeda dengan sebagian pihak di sayap kanan yang bahkan menggunakan nama paham yang berseberangan sebagai bentuk insult.

Saya ingin membahas evolusi lagi! Tapi tidak dari segi teknis atau sejenisnya—sebab saya sendiri tidak mahir😀 —saya mau membicarakan efek sosial yang ia timbulkan. Gagasan yang hendak saya kemukakan adalah bahwa sebenarnya agama mungkin tidak perlu dipersalahkan atas penolakan-penolakan yang ada.

Religionis yang ngeyel

Latar belakang penolakan atas evolusi, hampir di seluruh kasus, adalah religius. Agama. Beberapa penentang evolusi mendasarkan penolakannya murni karena iman dan tidak menggunakan bukti empiris—yang paling tersohor di beberapa tahun terakhir adalah Kurt Wise, paleontolog dari Universitas Harvard yang mengakui bahwa semua bukti mengarah ke evolusi, tapi akan tetap mengimani Penciptaan sebab ia “percaya” dengan interpretasi harafiah dari Kitab Kejadian.

Penolakan atas dasar seperti itu boleh dikatakan memang tidak bisa diapa-apakan lagi; itu masalah prinsip. Yang penting untuk diingat adalah bahwa dengan begitu apologi tidak akan menimbulkan ilmu semu. Namun sebagian besar apolog memilih untuk menghadapi evolusi dengan metode ilmiah, bukan iman murni seperti Wise. Hasilnya tidak terlalu menggembirakan.

Mungkin dari sinilah ilmu-ilmu semu itu bermunculan. Apolog-apolog seperti Harun Yahya menyajikan materi yang cukup berbau ilmiah untuk meyakinkan orang awam, dan membangkitkan semangan Pro-Penciptaan yang tertidur. Padahal karya ilmiah semacam ini biasanya tidak pernah melalui proses peer review, sehingga bukanlah karya ilmiah yang kredibel. Orang awam tidak tahu. Yang mereka bayangkan adalah orang seperti Yahya merupakan primadona baru dalam sains yang berhasil membuat biologis-biologis kawakan terbata-bata.

Sementara, somewhere a biologist is crying.😛

Penolakan atas evolusi: penyimpangan tren apologi

Sejauh ini memang gampang untuk melihat bahwa agama sebagai pendorong apologi-apologi bersifat detrimental terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, tapi saya kira perlu juga memperhatikan bahwa penolakan semacam ini sebenarnya merupakan penyimpangan dari tren apologi-apologi yang ada selama ini.

Apologi-apologi kacangan adalah the champion of non sequiturs. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau pasar utama apologi pop adalah memberi gagasan bahwa pencapaian sains modern ternyata telah termaktub dalam kitab-kitab suci—terselip secara implisit di antara ayat-ayat yang sudah ada sejak zaman perunggu. Saya kira sebagian besar dari kita sudah melihat yang semacam ini; mungkin inilah yang dimaksud dengan “penjahat apologi” oleh teman saya di atas.🙂 “Dikit-dikit nyambung aja, langsung dijadikan ‘bukti kebesaran’“. Sebab memang penarikan kesimpulan yang digunakan seringkali didasarkan oleh metode dan logika yang patut dipertanyakan. Layman’s term-nya, mekso!

Nah, kesan yang timbul adalah apologi memiliki kecenderungan untuk menerima sains, lalu menyelaraskannya dengan kitab suci. Ah, tidak. Menyelaraskan kitab suci dengannya!😀 Apologi sampai tahap ini ternyata tidak bersifat merusak bagi sains—sebab formula yang digunakan adalah menemukan ayat-ayat skriptural yang dianggap memuat revelasi saintifik melalui metafora.

Dan itu dilakukan dengan sangat bersemangat sekali. Sekeping bukti yang masih kabur pun seringkali langsung disambar dan dibuat sebagai keajaiban kitab suci. Hasilnya tentu seringkali menjadi mekso dan setengah matang. Saya akan menggunakan Islam sebagai contoh. Misalnya Cat’s Eye Nebula yang dihubung-hubungkan dengan Surah Ar-Rahman ayat 37. Ayat yang bersangkutan menyebutkan sesuatu tentang “langit menjadi merah”, dan kebetulan foto populer dari nebula terkenal tersebut berwarna merah menyala. Padahal, selain ayatnya tidak seperti sedang membicarakan langit jauh (di luar konteks?), gambar nebula berwarna merah itu setahu saya adalah foto warna semu.😀 Ada foto lain yang berwarna pastel, namun toh diabaikan. Contoh lain adalah klaim bahwa Al-Qur’an membicarakan tentang piring terbang. Ah, di luar masalah non sequitur yang ada, bentuk piring sudah sejak lama dianggap tidak sesuai untuk penjelajahan antariksa.🙂

Nah, pertanyaan satu milyarnya adalah: kalau memang apologetika selama ini kesannya begitu desperate, mengapa tidak menggunakannya untuk mengklaim evolusi? Padahal beberapa ayat lumayan bisa dijadikan bahan untuk diinterpretasikan secara figuratif, misalnya kalau dalam Islam, Surah Al-Anbiya ayat 30; “we made every living thing of water“. Ini ‘kan bisa dipergunakan untuk mendukung bahwa kitab suci memprediksi teori evolusi dari jauh-jauh hari?🙂 Sebab bisa dihubung-hubungkan dengan awal kehidupan di lautan.

Tapi kenapa tren seperti itu sangat jarang ditemukan? Padahal, melirik pola sebelumnya, seharusnya para apolog akan melakukan hal yang sama dengan evolusi: menerima lalu menyelaraskan dua elemen ini; sains dan eksegesis. Evolusi adalah elemen yang sangat vital buat sains modern, mestinya apologetika akan berpacu dan berlomba-lomba untuk mengklaim konsep ini dalam ajaran mereka. Namun itu tidak terjadi.

Ini adalah penyimpangan. Sehingga, boleh jadi, sebenarnya motifnya tetap berupa kemurungan eksistensial.

Motivasi buat tesis-tesis “keajaiban kitab suci” sendiri cenderung ke insecurity. Rasionalitas manusia memang akan selalu berpihak pada metode ilmiah—entahlah apa ini perkara jiwa zaman atau apa—namun kemurungan eksistensial hampir selalu berujung keberpihakan pada konsep kekekalan arwah. Kekekalan individu. Kekekalan ego. Ya, sekalipun mesti menumpang pada doktrin mortalitas semu yang ada pada agama. Ini adalah semacam disonansi kognitif. Saya kira dari sinilah tesis-tesis semacam itu lahir: itu, atau tribalisme. Atau keduanya.😀 “Dosa” terbesar sains adalah melahirkan naturalisme yang dingin itu; ia mampu sedikit demi sedikit menjelaskan mekanisme alam semesta di mana intervensi supranatural semakin memudar necessity-nya. Kemudian barulah kebutuhan untuk secara berkala mengungkap superioritas doktrin itu muncul.

Dulu teologi tidak menyebutkan kosmologi skala besar.
Sekarang sudah di-update.

Dulu teologi tidak menyebutkan biologi pop.
Sekarang sudah di-update.

Dulu teologi tidak menyebutkan asal-usul alam semesta secara fisika.
Sekarang sudah di-update.

Dulu teologi tidak menyebutkan piring terbang.
Sekarang sudah di-update.

Dulu teologi tidak menyebutkan evolusi.
Sekarang sudah di-update?

Ini misterinya. Ada apa dengan evolusi? Kalau hanya sekadar “mengecilkan”, kosmologi juga memberi efek yang sama—apologi lalu biasanya mengalihkannya ke kebesaran Tuhan. Mengapa evolusi tidak demikian? Apa tidak bisa dialihkan saja ke kebesaran Tuhan, sebab evolusi adalah the ultimate algorithm? Doktrin Penciptaan sendiri menyebutkan bahwa manusia tercipta dari tanah, jadi rasanya bukan lompatan yang terlalu besar. Bukankah konsep “sebaik-baiknya makhluk” bisa diterjemahkan menjadi “puncak evolusi”? Ini membingungkan, sebab, ya itu tadi, one would expect that the apologists would grab a vague verse, claim it to predict evolution, and trumpet it to the skies.🙂

Memang ada yang melakukan hal demikian, tapi kok jumlahnya sedikit sekali. Saya jadi bingung. Ada apa dengan evolusi? Sesuatu yang betul-betul menyinggung harga diri manusiakah? Ini penyimpangan. Mungkin ini bukan masalah agama? Mungkin kalau tidak ada agama pun, akan terjadi penolakan a la ID yang murni “ilmiah”, seperti penolakan atas pemanasan global saat ini atau efek merusak tembakau di beberapa dekade silam?

Jadi… Mengapa para penjahat apologi tidak berani menyentuh evolusi?

.

.

.

p.s. Waktu membuka-buka Wikipedia sambil menulis ini, saya menemukan vandalisme. Bisa dilihat di [sini]. Hohoho, sumpah, itu bukan dibikin-bikin. Sudah saya perbaiki, sih.

45 thoughts on “Penjahat Apologi dan Kemurungan Eksistensial

  1. Membaca post ini mengingatkan saya akan konferensi di Vatikan terkait Teori Evolusi (tahun depan atau tahun ini ya ?) Mudah-mudahan bukan sekadar membuat apologi baru, tapi juga memberi dimensi baru dalam TE.

  2. @ oddworld

    Setahu saya statemen terakhir dari Vatikan adalah pengakuan bahwa Evolusi tidak bertentangan dengan Alkitab [link], namun mereka tidak akan membuat pernyataan maaf posthumous buat Darwin seperti yang dilakukan Church of England.

    Sebenarnya sedikit kecewa juga, soalnya “ulah” COE itu betul-betul bikin saya senang. Kudos buat Rowan Williams.🙂

  3. Benar juga ini penyimpangan. Dari dulu apara apolog itu dalam tulisan mereka selalu bertolak dari keyakinan bahwa kebenaran ilmiah dan kebenaran kitab suci itu pasti sesuai. Saya juga tidak tahu mengapa untuk evolusi kasusnya berbeda. Kenapa yah?

  4. Btw, saya ragu penjahat apologi itu menolak evolusi karena alasan-alasan eksistensial. Saya sangat ragu kalau mereka pernah mengalami yang namanya krisis eksistensial. Dugaan sementara saya sih, ini semua bermula dari semangat sola scriptura Protestantisme yang kemudian merembet ke dunia Islam juga lewat Harun Yahya. Literalisme dalam membaca kitab suci, itulah musuh utama evolusi. Yang menjadi pertanyaan, mengapa dalam kasus yang lain, para penjahat apologi itu bisa melihat kitab suci sebagai buku metafora? Politikkah? Liberalisme [evolusi] versus fundamentalisme [anti-evolusi]? Masyarakat terbuka versus masyarakat tertutup? Ada yang tahu mengapa HY suka mengaitkan teori evolusi dengan ideologi politik?

  5. Dari dulu apara apolog itu dalam tulisan mereka selalu bertolak dari keyakinan bahwa kebenaran ilmiah dan kebenaran kitab suci itu pasti sesuai.

    Betul, sampai ada yang mengkritik (saya lupa siapa) bahwa fleksibilitas sains bisa membunuh kitab suci kalau klaim seperti itu dibuat. Kalau “amandemen” terjadi pada sains, misalnya, ‘kan bakal gawat.

    Ah, tapi saya baca itu di situs JIL. Sedikitlah yang mau menggubris. Stigmatisasi sosial gitu lho.😀

    Btw, saya ragu penjahat apologi itu menolak evolusi karena alasan-alasan eksistensial. Saya sangat ragu kalau mereka pernah mengalami yang namanya krisis eksistensial. Dugaan sementara saya sih, ini semua bermula dari semangat sola scriptura Protestantisme yang kemudian merembet ke dunia Islam juga lewat Harun Yahya.

    Sola scriptura? Sola scriptura kalau diaplikasikan ke Islam bukannya heretik jadinya (i.e. inkarus sunnah)? CMIIW.

    Atau mungkin hanya masalah supremasi saja? Entahlah. Mungkin ada hubungannya dengan memetika (halah, lagi-lagi:mrgreen: ). Kalau “aroma” evolusi di agama sudah sama dengan kosmologi, misalnya, toh semua akan mengikuti saja. Tidak ada yang menentang.

    Ada yang tahu mengapa HY suka mengaitkan teori evolusi dengan ideologi politik?

    Meneketehe.😀

    [ad hominem busuk]Mungkin ada hubungannya dengan teori desain interior.[/ad hominem busuk]

  6. Sola scriptura? Sola scriptura kalau diaplikasikan ke Islam bukannya heretik jadinya (i.e. inkarus sunnah)? CMIIW.

    Bisa juga begitu sih. Rancu yah? Maksud saya sih semangat kembali kepada skriptur yang sering diartikan sebagai penolakan terhadap berbagai bentuk penafsiran yang melompat jauh dari arti literal ayat-ayat dalam kitab suci, misalnya traktat filsafat atau teologi yang njlimet. Tapi gak tau juga sih.

    Nunggu komen selanjutnya ajalah saya.

  7. “Betul, sampai ada yang mengkritik (saya lupa siapa) bahwa fleksibilitas sains bisa membunuh kitab suci kalau klaim seperti itu dibuat. Kalau “amandemen” terjadi pada sains, misalnya, ‘kan bakal gawat.” Geddoe (sori, blom tau cara nge-quote😛 )

    hmm, menanggapi kalimat diatas, berarti sains = dosa?

    saya jadi bingung, padahal katanya menuntut ilmu itu adalah pahala😕

  8. @ gentole

    Ah, tapi itu bisa dipakai buat memasarkan paham quraniyah. “Semacam semangat sola scriptura dalam Islam”.😀 Boleh juga, sebab semuanya itu soal label, ‘kan? Lagipula saya lumayan bersimpati pada gerakan ini.

    Dan ya, bisa saja seperti itu. Ilusi-ilusi dekadensi yang ada juga bisa membawa pemahaman-pemahaman anti modernitas dan anti jiwa zaman dan sebagainya.

    Saya juga nunggu ajalah.

    @ Disc-Co

    Oh, bukan. Yang dimaksudkan dalam pemahaman yang saya baca waktu itu adalah tidak bijak untuk mengaitkan seenaknya antara kitab suci dan sains. Sebab teks itu secara inheren adalah ambigu.

    Misalnya, katakanlah di Al-Qur’an atau Alkitab ada ayat yang mendukung teori bahwa atom adalah komponen penyusun alam semesta yang terkecil. Teori ini valid sampai akhir abad 19 (penemuan elektron, partikel subatomik: ternyata ada yang lebih kecil dari atom). Nah, bagaimana kalau sebelum penemuan itu para apolog menyebarkan berita bahwa kitab suci telah memprediksi bahwa atom adalah komponen terkecil? Setelah penemuan elektron, teori atom-adalah-yang-terkecil menjadi basi, dan kitab suci jadi dipermalukan. Ini yang berabe.😀 Ulama besar Syaikh Abdul Azis bin Abdullah Bin Baz pernah terkena jebakan ini. Dia pernah menggunakan Al-Qur’an untuk membuktikan bahwa bumi itu datar. Saat ini, malah Al-Qur’an dipakai untuk membuktikan bahwa bumi itu bulat (bulat pepat™). See? Teks itu ambigu. Tidak bisa dipakai seenaknya.

    BTW, cara nge-quote adalah dengan tag “<blockquote>blablabla</blockquote>”.

  9. Lagipula saya lumayan bersimpati pada gerakan ini.

    Saya juga.😀 Di Indonesia kalo enggak salah nama situs gerakan ini Allah-Semata. Mereka menerjemahkan artikel dari Free-minds.org dan situs God-alone. Boleh juga sih dipasarin di Indonesia. Mereka orangnya kritis. Sekalipun paham mereka sulit diterima, setidaknya punya pertanyaan dan kritik yang bagus atas inkoherensi kitab hadist yang sembilan itu. Sepertinya kelompok ini pun bisa lebih terbuka pada klaim-klaim keilmuan, termasuk evolusi. Tapi sayang, al-Qur’an mereka terjemahkan secara harfiah. Agak aneh. Sulit dicerna bagi orang awam yang tidak tahu konteks, yang ironisnya hanya bisa ditemukan dalam hadist.😀

    Sori kalo OOT.

  10. Hohoho, ya, namanya Allah-Semata (wah, political framing😀 ). Saya dulu sering berkunjung ke situ, tapi kelihatannya tidak banyak yang baru. Sepertinya hanya translasi dari situs-situs wajib Quraniyah macam Free-Minds. Waktu awal-awal ngeblog, saya sempat jadi anggotanya situs yang terakhir. Jadi Shabbir’s Bulldog.😀 Itu sebelum jadi Tom Paine wannabe tahun lalu.

    Tapi ini menarik, soalnya argumentasi hadist-hadist yang memberatkan nabi itu bisa sangat menarik buat orang awam. Saya sih mendukung saja, soalnya sangat progresif sekali.

  11. Gimana kalau seperti ini. Kebenaran Sains tidak dijadikan sebagai bukti akan kebenaran Kitab Suci tetapi sebagai suatu alat interpretasi akan teks-teks kitab suci. Tentu sebagai sebuah penafsiran, ia dapat dibicarakan dan diupdate sesuai dengan perkembangan sains. Apakah ini termasuk ke dalam penjahat apologi juga?:mrgreen:

  12. Evolusi mungkin unik dibanding dengan sains lainnya dalam hubungan dengan agama. Evolusi sudah lama sekali dihadap-hadapkan secara berlawanan dengan agama. Dimana dianggap bahwa evolusi itu mengebiri peran Tuhan atau malah meniadakannya sama sekali.

    Padahal seperti yang bro bilang dalam artikel ini, bisa saja evolusi dimanfaatkan sebagai bukti kebesaran Tuhan.

  13. Saya setuju ama @dana. Mungkin di masa sekarang science dan agama terlihat bersebrangan. Tapi, teks kitab agama terbuka untuk penafsiran dan intrepertasi sementara science juga berkembang dari masa ke masa.
    Contohnya, pada zaman Aristoteles, bumi dipercaya dikelilingi oleh matahari tapi sekarang yang dipercaya kan sebaliknya.

  14. Siyal, mau jawab yang seperti dana juga…

    Darwin kayaknya memang sudah apes dapet cap ‘mark of cain’ di antara ilmuwan-ilmuwan seprofesinya ^^; Padahal kalau menurut Wikipedia, Pasteur dan Newton sebelumnya aman-aman saja. Tapi “On the Origin of Species” sejak awal diterbitkan sudah mengundang kontroversi. Kalo saya baca entri itu, justru tampaknya orang-orang ateis yang ‘membajak’ teori Darwin dan menggunakannya sebagai amunisi untuk menenggelamkan kapal agama. Anti-apologist?😀

  15. @ dana | Nenda Fadhilah | Catshade

    Ah, jadi perkaranya memang sedikit banyak mengarah ke budaya?😀 Kesan dan atmosfer dari Evolusi sejak awal karena suatu hal (mungkin ‘pembajakan’ dari pada antiteis, seperti yang digagaskan oleh Mas Catshade) menjadi ‘garang’ dan tak bersahabat buat agama?

    Dibahas lebih dalam lagi dong.😀

  16. @K.geddoe
    Saya bingung.
    Dari link yang dikasih, dikatakan bahwa Vatikan tidak meminta maaf karena teori-teorinya “never condemned by the Catholic Church nor was his book ever banned.” Tapi kok di kalimat sebelumnya “But Ravasi said the Vatican had no intention of apologizing for earlier negative views.”? Kok sepertinya berlawanan, atau ada sebab lain yang dulunya menimbulkan pandangan negatif Vatikan atas teori Darwin?

    *sambil ndengerin Knights of Cydonia*

    Oh iya, apa hubungan postingan ini dengan lukisan The Scream? Penasaran:mrgreen:

  17. @ lambrtz

    Yang saya tangkap sih; Vatikan tidak pernah menentang teori Darwin secara resmi, oleh karena itu permintaan maaf resmi pun dirasa tidak perlu dibuat.

    Oh iya, apa hubungan postingan ini dengan lukisan The Scream? Penasaran:mrgreen:

    Tidak ada, hanya rasanya cocok buat melambangkan kemurungan eksistensial yang membuat pemikirnya cemas.

  18. Nah, pertanyaan satu milyarnya adalah: kalau memang apologetika selama ini kesannya begitu desperate, mengapa tidak menggunakannya untuk mengklaim evolusi?

    Mungkin karena evolusi punya ‘sejarah’ buruk dengan agama pada umumnya. Dia itu sering dipakai buat propaganda ateisme. ^^;;

    Penciptaan manusia secara khusus, di-refute lewat seleksi alam. Klaim kekuasaan Tuhan yang menciptakan semua makhluk sekali jadi dijelaskan mekanisme adaptasi. Belum lagi yang salah kaprah, mencampurkan evolusi dengan abiogenesis. Ya sudah, lancar jaya dipakai buat men-debunk agama.😆

    Saya rasa ini lebih ke arah psikologi. Selama bertahun-tahun evolusi dicitrakan hostile terhadap agama dan identik dengan ateisme. Mungkin butuh waktu sebelum kaum religius bisa menerima ide theistic evo, yang notabene lebih kompromistis. ^^

     
    Ps:

    Dan ingat juga, ateis paling populer saat ini kan — presumably — Richard Dawkins. Tahu sendiri dia ngomongin evolusi kayak apa. xD

    Sementara, somewhere a biologist is crying.😛

    No. You fail biology forever.:mrgreen:

  19. Beuh, sial. Harusnya komen di atas itu masuk sebelum post-nya mas Catshade… x(

    *jadi numpuk deh*

    *gara2 kelamaan bales komen di blog sendiri nih* ^^;;

  20. Ya itu dia yang saya bilang tadi. Psikologi dan budaya lah. Lebih ke “rasa”-nya.😛

    No. You fail biology forever.:mrgreen:

    Jadi ingat Jack Chick…😆

  21. @Gentole

    Dugaan sementara saya sih, ini semua bermula dari semangat sola scriptura Protestantisme yang kemudian merembet ke dunia Islam juga lewat Harun Yahya. Literalisme dalam membaca kitab suci, itulah musuh utama evolusi.

    Hei, hei… Sola scriptura bukan berarti menafsirkan Alkitab secara harafiah, tapi membuang tradisi yang nggak ada dalam Alkitab. Misal di abad pertengahan ada surat pengampunan dosa, nah itu karena nggak sesuai dengan Alkitab ya ditolak. Akibatnya Protestanisme menjadi lebih sederhana dari Katolik, karena tradisi Katolik banyak yang nggak dipakai (that’s the fun I guess). Jangan menyeret sesuatu ke luar konteks dong.

    Penerapannya lebih ke konteks ritual agama dan prinsip kehidupan, bukan sains.

    Yang harafiah kayaknya fundamentalisme deh atau harafiahisme…
    *telat njawab yak?😛 *

    @geddoe

    Aku jadi inget kalimat dari Religious War-nya Scott Adams, “If God so smart, why do we fart?”😆

  22. Ah, jadi begitu.🙂

    membuang tradisi yang nggak ada dalam Alkitab

    BTW ini semakin mirip dengan Quraniyah. Hohoho, ada kadernyakah di sini?

    *clingak clinguk*

    “If God so smart, why do we fart?”

    Saya sudah punya bukunya, tapi belum baca. Kayaknya menarik, ya.🙂

  23. @denial

    Hei, hei… Sola scriptura bukan berarti menafsirkan Alkitab secara harafiah, tapi membuang tradisi yang nggak ada dalam Alkitab.

    Ah, saya mau menanggapi sekaligus menuangkan pikiran saya tentang Prostentanisme yang menurut saya bertanggungjawab atas lahirnya fundamentalisme dalam Kekristenan, terutama di Amerika, negara di mana orang Kristen anti-evolusi sepertinya paling banyak dan yang militan. Kan bosen, ngritik Islam terus.😀

    CMIIW, “sola scriptura” itukan berangkat dari asumsi bahwa skriptur itu infallible/inerrant, tidak seperti doktrin ortodoks gereja, yang menurut mereka “subject to human error”. Karena itu, selain melahirkan teolog-teolog besar semacam Karl Barth, “sola scriptura” tetapi juga fundamentalis semacam Pat Robertson. Kalo enggak salah, Katolikisme tidak pernah melawan teori evolusi, teori “young earth” berdasarkan Genesis itu bukannya tafsir modern, dan sangat Protestan?

    Efek “sola scriptura” menurut saya hampir mirip dengan Wahabisme dan salafisme, yakni penolakan atas tradisi. Itu sebabnya fundamentalisme lebih mudah ditemukan di Muhammadiyah ketimbang di NU. Karena “sola scriptura” dan semangat kembali pada Qur’an dan Sunnah, memberi lampu hijau kepada siapa saja, termasuk fundamentalis untuk membaca skriptur secara a-historis, thus literalisme.

    Iyalah, saya gak menyamakan “sola scriptura” dengan literalisme dan fundamentalisme, tetapi menurut saya jargon itu menyumbang banyak atas lahirnya fundamentalisme/literalisme. Saya dulu bertanya-tanya, mengapa saya jarang sekali ketemu Katolik fundamentalis di blogosfer, dan malah sering sekali bertemu dengan Protestan fundamentalis. Yah, ternyata itu, banyak penganut protestanisme dan Islam salafi/wahabi/modern yang menggunakan pendekatan yang sama atas Alkitab/al-Qur’an.

    Disclaimer: Ya tentu banyak orang Protestan dan Islam yang terbuka, seperti Mas Denial dan Mas Dana, dan tidak semua orang Katolik ramah seperti Mas Catshade. Dan saya, tentunya, adalah seorang Muslim Protestan. Just my two cents.😀

  24. Koreksi biar jelas.

    Karena itu, selain melahirkan teolog-teolog besar semacam Karl Barth, “sola scriptura” tetapi juga fundamentalis semacam Pat Robertson.

    Maksudnya:

    Karena itu, selain melahirkan teolog-teolog besar semacam Karl Barth, “sola scriptura” juga melahirkan fundamentalis semacam Pat Robertson.

  25. @gentole

    Protestanisme pada dasarnya bukan menolak tradisi, tapi menolak tafsir tunggal atas Alkitab. Karena itulah jumlah gereja protestan sangat banyak jenisnya, saking bebasnya di awal2 berdirinya ada berbagai aliran: Lutheran, Calvinis, Puritan, Anglikan, dll. Sampai sekarang masih juga banyak.

    Hal ini juga memancing tafsir fundamentalisme dan juga tafsir liberalisme. Belum lagi munculnya orang2 yang mengaku Mesias.

    *masih bingung perbedaan fundamentalisme dengan kristen konservatif*

    Karena itulah, banyak pendeta yang menyarankan melupakan Protestan sebagai agama dan menjalaninya sebagai prinsip hidup. Agar nggak terjebak pada tafsir yang nggak penting – misal mana cara baptis yang benar selam atau percik? – dan lebih terfokus pada menerapkan prinsip2 Alkitab dalam kehidupan.

    Saya memilih aliran kayak gini saja, lebih simpel😛

  26. Kenapa ya saya tidak begitu senang Katolikisme saya dibandingkan (implicitly) dengan NU? Ya, memang sama-sama tradisionalis sih, tapi… *melirik ilfil pada gus dur*😕

    Btw, bung gentole, kalo mau cari fundamentalis katolik Indonesia di internet, silakan tengok ke forumnya ekaristi.org. Setelah dilihat-lihat lagi, menakjubkan juga gimana orang bisa sebegitu fundamentalisnya di situ tanpa harus bersandar pada literalisme Alkitab😀

  27. @ dana | gentole | dnial | Catshade

    Saya tidak punya pengetahuan yang cukup kalau menyangkut Kekristenan, jadi cuma bisa nonton.😀

    Tapi, BTW, soal “Islam Protestan” itu sendiri, sebenarnya cukup menarik, sebab ditanggapi dengan begitu defensif. Saya pernah mengutarakan pendapat bahwa gerakan protestanisme sedang menjangkit Islam, sebagaimana Katolikisme di abad ke-16. Waktu itu di sebuah forum budaya pop, namun pada bagian yang lebih seriusnya. Respon yang dibuat oleh beberapa anggota (yang sebagian memang terlibat the new wave of fundamentalism) terkesan begitu defensif; begitu sewot, protes bahwa tidak boleh ada gerakan seperti itu. Hahaha, padahal saya tidak merekomendasikannya atau apa, hanya menyebut saja, malah dimarahi.😀

  28. @dnial:

    Anda baru menyadarkan saya, kalau tafsir-tafsir paling liberal dari kekristenan juga mbrojolnya dari protestantisme, seperti pendeta wanita, boleh berkeluarganya pendeta, atau diterimanya perkawinan gay/lesbian secara sah pada beberapa denominasi.

    *masih bingung perbedaan fundamentalisme dengan kristen konservatif*

    Huh? Emang ada yang membedakan dua hal ini? Saya tidak tahu dari segi bahasa, tapi dari segi historis/politisnya, biasanya dua hal itu sering diatributkan ke kelompok yang sama kan (at least setahu saya di AS begitu)? Nah, kalau “ortodoks”, meski artinya kurang lebih mirip-mirip juga, yang dilabelkan ke kelompok yang jauh berbeda.😕

  29. @denial

    Hal ini juga memancing tafsir fundamentalisme dan juga tafsir liberalisme.

    That’s the point I was trying to make. Those fundamentalists are probably small in number, but they are very noisy. BAV-nya HY dan Instute for Creation Research di US itu setali tiga uang. Ada artikel bagus di sini: http://www.guardian.co.uk/commentisfree/2007/may/29/theevolutionofdaftideas

    Saya menduga sih [ya, ini hanya dugaan] dua lembaga itu yang sebenarnya anti-evolusi, dan karena mereka militan, mereka membuat seolah-olah seluruh orang Islam dan Kristen anti-evolusi. Pada akhirnya, bagi mereka ini ibarat perang. Maksud saya, HY dan Kristen konservatif akan melakukan apa saja, termasuk meninggalkan literalisme dalam membaca kitab suci, untuk menjatuhkan evolusi. They have a cause. Kalo kata matriks, setiap program harus ada tujuannya, kalo gak ada dia harus dihapus.

    *masih bingung perbedaan fundamentalisme dengan kristen konservatif*

    Gak tau deh. Saya sih ngerasa yang pertama lebih agresif dari yang kedua.

    @catshade

    Kenapa ya saya tidak begitu senang Katolikisme saya dibandingkan (implicitly) dengan NU? Ya, memang sama-sama tradisionalis sih, tapi… *melirik ilfil pada gus dur*😕

    Hehehe…

  30. He, kita ini kan makhluk yang “lupa kacang akan kulitnya”, mentang-mentang sudah jadi makhluk sempurna, jadinya tidak mau mengakui kalau dulu aslinya monyet..

    Dasar makhluk durhaka.. Bisa-bisa nanti kita dikutuk para monyet menjadi batu, karena tidak mengakui mereka sebagai nenek moyang kita..😆

  31. @ Catshade | gentole

    *menonton*

    @ Nenda Fadhilah

    Kok Taiwan jadi dikambinghitamkan?😛

    @ Nazieb

    Hahahaha! Comment of the year!😀

    @ dana

    Mananya?😛

  32. @ dnial :

    @gentole

    Protestanisme pada dasarnya bukan menolak tradisi, tapi menolak tafsir tunggal atas Alkitab. Karena itulah jumlah gereja protestan sangat banyak jenisnya, saking bebasnya di awal2 berdirinya ada berbagai aliran: Lutheran, Calvinis, Puritan, Anglikan, dll. Sampai sekarang masih juga banyak.

    Setahu saya bukan seperti itu. Setahun saya, protestanisme menolak penyamaan [kewibawaan] tradisi dengan kitab suci. Sola scriptura menegaskan bahwa hanya Kitab Suci (Alkitab) yang mempunyai dasar bagi keimanan orang Kristen dan bukan yang lain-lain [tradisi, sentralitas gereja, dll]. Karena berangkat dari pemikiran itu makanya Luther berusaha menterjemahkan Alkitab kedalam bahasa Jerman, suatu hal yang amat-sangat luar biasa pada saat itu karena umat Kristen/Katolik terbiasa menggunakan Alkitab versi bahasa Latin.

    *masih bingung perbedaan fundamentalisme dengan kristen konservatif*

    Sama dengan Catshade, memang ada bedanya ?😆 Tapi istilah fundamentalisme sendiri justru lahir dari sejarah Kekristenan di AS. Ada di buku Battle for God Karen Armstrong.

    @ gentole :

    CMIIW, “sola scriptura” itukan berangkat dari asumsi bahwa skriptur itu infallible/inerrant, tidak seperti doktrin ortodoks gereja, yang menurut mereka “subject to human error”. Karena itu, selain melahirkan teolog-teolog besar semacam Karl Barth, “sola scriptura” tetapi juga fundamentalis semacam Pat Robertson. Kalo enggak salah, Katolikisme tidak pernah melawan teori evolusi, teori “young earth” berdasarkan Genesis itu bukannya tafsir modern, dan sangat Protestan?

    Yup, salah satu konteks utama dari slogan sola scriptura yang jadi dasar Protestanisme/Reformasi adalah kembali kepada kitab suci dan asumsinya adalah Kitab suci itu infallible. Sebagai Firman Tuhan, kitab suci (Alkitab) tidak bisa salah.

    Tapi ini seakan-akan menyamakan Alkitab dengan Al-Quran dalam Islam. Al-Quran dalam pemahaman keimanan umat muslim jelas-jelas adalah Firman/Wahyu yang langsung berasal dari Tuhan. Harusnya yang sejajar dengan Al-Quran dlm keimanan Kristen itu adalah Yesus dan bukan Alkitab, karena Yesus itu Firman/Wahyu dalam pemahaman keimanan Kristen.

    Selain Barth, ada juga teolog yang cukup “aneh” yang lahir dari semangat Protestanisme yaitu Rudolf Bultmann dengan proyek demitologisasi-nya. Semua hal-hal yang berbau mitos dlm kitab suci harus disingkirkan.

    Lha, jangan-jangan keimanan saya selama ini hanya mitos ?😆

    Saya menduga sih [ya, ini hanya dugaan] dua lembaga itu yang sebenarnya anti-evolusi, dan karena mereka militan, mereka membuat seolah-olah seluruh orang Islam dan Kristen anti-evolusi. Pada akhirnya, bagi mereka ini ibarat perang. Maksud saya, HY dan Kristen konservatif akan melakukan apa saja, termasuk meninggalkan literalisme dalam membaca kitab suci, untuk menjatuhkan evolusi. They have a cause. Kalo kata matriks, setiap program harus ada tujuannya, kalo gak ada dia harus dihapus.

    Saya cuma pengen bertanya, sampai kapan agama memandang teori evolusi bukan sebagai ancaman terhadap mereka ? Saya pikir evolusi hanya satu dari “sejuta” pertentangan yang belum selesai antara agama [kitab suci] dan sains. Misalnya, awal mula alam semesta, konsep manusia (tubuh, jiwa, roh), materi-antimateri, dan lain-lain. Tapi kenapa suara yang paling besar itu di evolusi ?😐

  33. @fertob
    Terimakasih telah disempurnakan. Maksudnya memang gitu.
    *mengeles*

    Selain Barth, ada juga teolog yang cukup “aneh” yang lahir dari semangat Protestanisme yaitu Rudolf Bultmann dengan proyek demitologisasi-nya. Semua hal-hal yang berbau mitos dlm kitab suci harus disingkirkan.

    Jadi inget Thomas Jefferson dengan Injil versi sendiri, Minus mujizat Yesus.

    Saya cuma pengen bertanya, sampai kapan agama memandang teori evolusi bukan sebagai ancaman terhadap mereka ?

    Sampai evolusi diperbaiki sesuai dengan kaidah yang mereka percaya.😛

    Intinya, pertama kali ketemu teori evolusi, kepercayaan satu nenek moyang dengan monyet cukup mengguncang harga diriku (padahal masih SD). Seperti kita kehilangan superioritas atas binatang. Asumsi bahwa kita lebih baik dari binatang hilang, kita hanyalah binatang pintar. Asumsi bahwa kita diciptakan serupa dengan Allah hilang.

    So scary…

  34. @fertob

    Tapi ini seakan-akan menyamakan Alkitab dengan Al-Quran dalam Islam. Al-Quran dalam pemahaman keimanan umat muslim jelas-jelas adalah Firman/Wahyu yang langsung berasal dari Tuhan. Harusnya yang sejajar dengan Al-Quran dlm keimanan Kristen itu adalah Yesus dan bukan Alkitab, karena Yesus itu Firman/Wahyu dalam pemahaman keimanan Kristen.

    Ya, betul, saya memang tidak menyamakan Alkitab dengan al-Qur’an. Saya mengerti bahwa Kristus itu dipahami sebagai Logos dalam tradisi Kristen, yang dalam al-Qur’an tampaknya diterjemahkan dengan kata “kalimah”. Karena itu, saya membandingkan Protestanisme dengan jargon kembali pada al-Qur’an dan Sunnah/Hadist. Dalam pandangan saya, posisi kitab selain Injil dalam Perjanjian Baru itu setara dengan Sunah/Hadist. Makanya Geddoe bingung, apakah penerapan “sola scriptura” dalam Islam adalah IS? Yah, tadinya mau ngejelasin begitu, tapi yah tambah OOT aja nih.😀

  35. @ Nenda Fadhilah

    Ah, nevermind deh.

    @ goldfriend | dnial | gentole

    *masih nonton*

    apakah penerapan “sola scriptura” dalam Islam adalah IS?

    Analogi tepatnya saya kira susah dicari, sebab konsepnya sendiri berbeda. Al-Qur’an itu sendiri klaimnya narasi dari orang pertama, berbeda dengan Alkitab yang “divinely inspired” (nama konsepnya di Bahasa Indonesia apaan sih?).

    Tapi dari segi seberapa radikalnya, saya kira ya. Protestanisme dulu itu ya sama revolusionernya dengan IS sekarang. Wong JIL aja udah bikin mencak-mencak.

    @ lambrtz

    Saya ga pernah menghapus komentar, kok. Spam pun saya biarkan, kecuali bot-generated. Tipe yang menyimpan-segala soalnya.🙂

    BTW, ya, dari Armageddon.

  36. Pingback: Tafsir Kitab Suci dan Kebebasan Kita « Catatan Gentole

  37. numpang menyela :priiiittt:

    is man ape? am i an ape? european are apes, african are not … atau kebalik yah?

    ujung-ujungnya politik, kekuasaan, minyak, emas, berlian, soal dalil, kitab suci, tukang pijit gus dur, suami megawati, atau menteri kaya yang membanjiri sidoarjo sama lumpur … boro-boro soal agama … it is all about the money … all about a dum dum dum dum dum dum ….

Comments are closed.