Top 10 Tipe Komentator Paling Menyebalkan

Almarhum Douglas Adams dahulu pernah bersabda; tidak semua pendapat itu sama bobotnya. Sebagian dari pendapat-pendapat ialah lebih matang, lebih maknyus, dan lebih logis apabila dibandingkan dengan pendapat lainnya.

Ternyata dalam dunia perblogan pun mirip-mirip seperti itu. Beberapa komentar memang bagus adanya, dan beberapa lainnya terkesan asal nyablak dan kurang bermutu. Tentunya dengan menggunakan standar yang saya bikin sendiri.๐Ÿ™‚

Jadi, berikut sepuluh tipe komentator yang paling tidak saya suka, hasil mengamati blog-blog yang ada sedari beberapa tahun lalu.

* * *

10. Sang Pengembara

Tipe menyebalkan pertama adalah para Pengembara. Ini adalah jenis tukang komentar yang komentarnya arif dan menarik, tapi tidak punya blog. Jadi kadang mengesalkan—kalau ada suatu wacana yang menarik, yang bersangkutan hanya akan berkomentar satu-satu saja ke penjuru negeri, padahal kalau ditulis di blog sendiri bisa lebih bagus.

Menyebalkan-o-meter: Rhoma Irama

Cara mengatasi: Kalau Anda beruntung, bisa jadi Sang Pengembara hanya lupa membubuhkan alamat blognya supaya dapat diklik melalui username. Ini sering terjadi kalau opsi yang ada belum diutak-atik, jadi coba saja mengetikkan username yang ada sebagai nama domain. Kalau gagal ya berarti yang bersangkutan memang Pengembara sejati. Silakan dibujuk.

9. Sang Pelantur

Sang pelantur ini biasanya berkomentar yang tidak sesuai dengan isi wacana. Karena memang hanya melantur, bobotnya pun biasanya tidak bermutu, dan topiknya hanya sekaliber menagih utang pada empunya blog. Atau, misalnya, mengucapkan selamat ulang tahun. Sang Pelantur ini bisa jadi lebih berbahaya kalau ia berhasil merusak irama diskusi. Jadi kebawahnya semua ikut melantur.

Menyebalkan-o-meter: Rudy Choirudin

Cara mengatasi: Adapun menurut norma yang ada, menegur orang yang OOT biasanya tidak akan dianggap tidak sopan. Jadi, bentak saja, tapi ingat untuk menggunakan emoticon supaya tidak terkesan terlalu dingin.

8. Sang Promotor

Promotor ada bermacam-macam, namun ulahnya tetap sama; menyebar link-link yang tidak terlalu kita butuhkan melalui kolom komentar. Ada yang spam sejati, berisi puluhan link mentah yang tak dibubuhi komentar apapun yang relevan, namun ada pula pakai yang berbasa-basi dulu sebelum berpromosi (“Wah, artikel yang menarik! Kunjungi juga http://alamat-blog-jablay/”).

Menyebalkan-o-meter: Jeffry Al Buchori

Cara mengatasi: Hapus. Bisa dengan atau tanpa pemberitahuan. Kecuali kalau dia pakai basa-basi, yang tinggal dibalas sekenanya atau diabaikan saja.

7. Sang Toa

Beberapa komentar sengaja dikirim dengan berupa sepenuhnya huruf kapital, sehingga kesannya kalap, berapi-api, dan berbusa-busa. Kualitasnya jangan ditanya; sebab rasanya ada korelasi yang besar sekali antara netiquette sederhana seperti itu dengan kemampuan berdiskusi. Kebanyakan komentator model begini juga gemar menggunakan tanda seru lebih dari lima sekaligus, dan titik-titik yang sampai banyak sekali, to infinity and beyond.

Biasanya muncul di topik-topik yang sensitif saja; misalnya agama atau ST12.

Menyebalkan-o-meter: Mama Lauren

Cara mengatasi: Ini tergantung Anda juga. Bisa dihapus, bisa diabaikan, atau ditanggapi dengan sopan. Yang pasti jangan terlalu menyibukkan diri meladeni, sebab biasanya yang macam ini tidak akan membalas lagi, kecuali dia juga merupakan seorang Jin Penunggu (lihat di bawah).

6. Sang Remaja

sANg RemAja, TeRLepas dAri PerKara usIa, MenUlis Seperti layAkNYa seorang abeGeh,,, mEmBacAnya tEramATLaH sulit…… DaN seteLAH SelesAi dibaCa n mATa BerkUnanG-kunaNg, sErINgkAli isINYA tidAk tErLalu woRTh it bwt dIbACa,,,

Menyebalkan-o-meter: Ahmad Dhani

Cara mengatasi: Siapkan minuman dingin favorit Anda dan bacalah pelan-pelan. Atau kalau niat, gunakan word processor atau sejenisnya untuk mengubahnya semua ke cara tulis yang lebih beradab.

5. Sang Dalang

Sang Dalang ini layaknya ventriloquist, mampu mengendalikan berbagai karakter sekaligus. Jadi kadang-kadang hal seperti ini terjadi; beberapa komentar yang ada di blog Anda ternyata tidak serupa tapi sama. Namanya beda, identitasnya sok beda, tapi juru ketiknya hanya satu orang saja. Maksudnya seringkali, tentu saja, tidak terlalu bagus. Misalnya untuk memanggil bala bantuan virtual kala kewalahan berdiskusi.

Menyebalkan-o-meter: Cinta Laura

Cara mengatasi: Terkadang para Dalang tidaklah terlalu computer-literate, jadi namanya saja yang beda, IP address-nya, bahkan e-mailnya, bisa saja sama persis. Jadi kalau ketahuan, sebenarnya mudah saja. Umumkan langsung di kolom komentar bahwa yang bersangkutan telah jadi tersangka sockpuppetting. Akan jadi PWNage yang murah meriah.

4. Sang Jin Penunggu

Sejumlah komentator ada yang betah nongkrong abadi di post-post tertentu. Komentator jenis ini secara sukarela mengambil alih tugas empu blog untuk membalas satu demi satu komentar yang masuk. Biasanya sih mereka memiliki pendapat yang bertolak belakang dengan post terkait, dan dengan bersemangat melakukan usaha debunking atas komentar-komentar pro-post yang terbit. Jadi kalau Anda suatu saat menemukan orang asing yang tidak setuju dengan apa yang Anda tulis, lalu “menguasai” kolom komentar, selamat, Anda telah dihantui oleh seorang Jin Penunggu.

Sayangnya kebanyakan Jin Penunggu komentarnya terlalu bloated, tidak tentu arah, dan terkesan nyampah saja.

Menyebalkan-o-meter: Habib Rizieq Shihab

Cara mengatasi: Ini saya tidak terlalu tahu. Susah sekali mengusirnya. Kalau Anda tulis sesuatu, pastinya dia akan membalas. Kalau tulisannya Anda hapus, dia bakal datang lagi mempertanyakan kebijakan tersebut. Cara terbaik mungkin hanya ladeni sampai bahan diskusinya semakin ringan dan mengarah ke “setuju untuk tidak setuju”, lalu abaikan.

3. Sang Killjoy

Tidak semua tulisan yang ada di blog adalah serius. Beberapa tidak terlalu serius, dan tidak terlalu enak untuk ditanggapi serius. Para Killjoy melanggar prinsip ini. Hobinya adalah mengubah percakapan ringan menjadi berat dan murung. Contohnya seperti ini; bayangkan ada post lucu-lucuan yang membahas seorang banci crossdresser yang betul-betul seksi dan bohay. Apabila di antara komentar-komentar nakal yang masuk ada sebutir yang mengaitkannya dengan kiamat (pakai ayat-ayat pula), berarti itulah Sang Killjoy. Kalau mereka sudah menyerang, sulit mengembalikan atmosfer post ke arah yang menyenangkan lagi.

Menyebalkan-o-meter: Baim Wong

Cara mengatasi: Saran saya sih bersikap tegas saja. Katakan, “Jangan terlalu serius!” Jangan malah diladeni, misalnya dengan menyatakan bahwa komentarnya adalah fallacy dan lalu menganalisisnya secara logis. Itu berarti ‘kan Anda membantu dia merusak kaldu.

2. Sang Vandal

Dulu saya punya sahabat yang pernah terlibat vandalisme. Modus operandinya sederhana; pagi-pagi buta selepas sahur, naik motor, ambil sebongkah bata, dan arahkan ke jendela terdekat. Hilarity ensues, dan pelakunya lenyap bersama angin malam (halah).

Vandal-vandal di blog juga mirip. Biasanya datang dengan kata-kata pedas, tapi tanpa argumentasi. Jadi terkadang setelah Anda menulis panjang-panjang untuk meyakinkan publik bahwa semangka itu jamaknya adalah bulat, Anda bakal menjumpai seorang Vandal yang berkomentar nyelekit; “Ngakunya cerdas, masa semangka dibilang bulat?” Sayangnya berargumen balik tidak mujarab, sebab Sang Vandal biasanya memang tidak berniat berdiskusi. Seringkali malah tidak kembali lagi.

Ah, tapi Vandal tidak mesti anonim, lho.

Menyebalkan-o-meter: Soetrisno Bachir

Cara mengatasi: Jari tengah.

1. Sang Medium

Anda tahu medium? Pasti Anda sudah pernah dengar. Menurut dunia klenik dan mistisisme, roh-roh halus kalau ingin berbicara kepada yang hidup mesti pakai perantara dulu. Jadilah dukun-dukun yang berkomat-kamit, lalu kesurupan secara sukarela.

Naah, di blog juga ada yang mirip. Kalau si dukun ingin menghubungkan dunia Anda dan dunia ‘sana’, Medium pada blog ingin menghubungan blog Anda dengan blog ‘sana’. Tapi dia tidak pakai link. Jadi itu artikel yang panjang-panjang dicopy-paste ke kolom komentar. Hasilnya adalah komentar yang panjang, bikin mengantuk, norak, amit-amit, tidak pernah dibaca, dan membuat desbor WP Anda tidak nyaman karena kepanjangan. Jadi, menurut saya pribadi, komentator macam inilah yang paling bajingan. Sebab ‘kan bisa pakai link—dan kalaupun takut tersaring penangkal spam, bisa memakai metode hxxp.

Saya cuma bisa berharap saja. Semoga kita selalu terhindar dari komentator yang terakhir ini. Amin.

Menyebalkan-o-meter: Roy Suryo

Cara mengatasi: Pistol.

* * *

Anda sendiri bagaimana? Punya jenis komentator yang kurang disukai kah? Atau menemukan kombinasi maut dari tipe-tipe di atas? Ah, sebagai disclaimer, saya tak mengklaim bersih dari sepuluh stereotipe di atas, tentu.

98 thoughts on “Top 10 Tipe Komentator Paling Menyebalkan

  1. Hwahahaakakaa… Layak masuk podium de.icio.us saya.:mrgreen:
    Sudah lama menunggu posting beginian.

    Oh, fast-read! Menyebalkan memang. Tapi ya. Ah sudahlah.๐Ÿ˜›
    Menyebalkan-o-meternya keren…:mrgreen:

  2. Sang promotor, toa, jin, vandal, dan medium adalah lima paling menyebalkan, kalau buat saya.๐Ÿ˜›

    Yang mengombinasikan fas-rid, caps lock, dan hit-and-run posting itu yang sangat menyebalkan; sudah direspon tapi nggak dibaca juga. Sudah nyulut api malah kabur.๐Ÿ˜

    Btw, saved. Buat bacaan.๐Ÿ˜€

  3. Hehe…

    Di blog saya dulu, ada komentator yang tiba-tiba menulis satu komentar isinya postingan-postingan saya yang tidak berhuibungan sama sekali dengan postingan yang dikomentari.

    Mungkin gabungan dari pelantur, promotor dan jin penunggu. Hehe.

    Nah ini yang mau saya tanya, kalau menyebalkan-o-meter nya multi hybrid, bagaimana cara mendefinisikannya yaa?
    ๐Ÿ™‚

  4. Ada HRS di bawah CL ;))

    Blog saya sepi sih, jadi ga ada yang dibenci…

    (Tukang tawur mode is activated)

    Kalau saya sebagai penonton sih justru daftar di atas menjadi daftar komentator favorit =))

    *dilempar pizza*

  5. @ Nenda Fadhilah

    Tapi speed reading ‘kan ga berhubungan langsung sama komentarnya sendiri. Yang ada ya karena speed reading jadi OOT, karena speed reading jadi vandal, karena speed reading jadi medium, dan seterusnya.๐Ÿ™‚

    @ dana

    Memang menyebalkan.๐Ÿ˜€

    Ah, tapi kalau no. 5, itu ‘kan bisa atasi. Networking dan kawan-kawan bukannya bidangnya Masbro?:mrgreen:

    @ Goenawan Lee

    Hehehe. Sudah lama saya tidak menulis sesuatu yang bikin diri sendiri puas.

    Menyebalkan-o-meternya kerenโ€ฆ:mrgreen:

    Bisa jadi meme kah?:mrgreen:

    @ Xaliber von Reginhild

    Kombinasi yang itu lumayan umum, sayangnya.๐Ÿ™‚ Komentator toa yang nyolot memang kalau tidak jadi jin penunggu, ya cuma numpang sebentar alias vandal.

    @ ManusiaSuper

    tapi saya penasaran dengan o-meternya.. Ada penjabaran?

    Tanya Gunawan.๐Ÿ˜€

    @ bangaip

    Tapi jumlah komentator yang semacam itu bisa digunakan buat mengukur popularitas, ‘kan.๐Ÿ˜› Kayaknya troll sebaiknya dipelihara buat gaya-gayaan, walau tetap jangan dikasih makan.

    Nah ini yang mau saya tanya, kalau menyebalkan-o-meter nya multi hybrid, bagaimana cara mendefinisikannya yaa?

    Saya ndak tahu. Mungkin pakai sistem “gerombolan”?

    Misalnya “gerombolan yang terdiri dari Roy Suryo, Ahmad Dhani, dan Baim Wong”.

    *membayangkan*

    *merasa ngeri*

    @ lambrtz

    *lempar Cinta Laura*

  6. Tapi jumlah komentator yang semacam itu bisa digunakan buat mengukur popularitas, โ€˜kan.

    Saya baru saja bilang, resiko seleb… Tapi takut ente sujud sukur…

  7. jari tengah tuh buat orang yang komentar dengan gaya nyindir dan subjektif. kalo komen bukannya ngomentarin konteks tulisan, lha ini malah ngomentarin si penulis . aduh dasar anak manusia gak sekolah๐Ÿ˜€

  8. @ ManusiaSuper

    *nyengir*

    @ ardi** | sitijenang

    Posisi pertama masih kukuh dipegang oleh sang Baginda.๐Ÿ˜›

    @ ershad

    Yang itu memang tidak bisa diapa-apakan kecuali diberi jari tengah dan diabaikan.๐Ÿ˜€

    @ Catshade

    Tergantung. Kalau link yang dikasih memang relevan, walau mungkin mengesalkan, tetap tidak terlalu menyebalkan. Kalau linknya tidka terlalu bagus, lalu dia tidak kembali-kembali lagi, ya troll.๐Ÿ˜€

  9. How do you define menyebalkan-o-meter itu hah!? hah!?
    Metode anda sangat tidak ilmiah dan relevan!

    *Mencoba menjadi Baim Wong*

    btw… apakah sortingnya random? Kok rasanya aneh kalau Baim Wong lebih menyebalkan dari Habib Rizieq?
    Apalagi Cinta Laura lebih menyebalkan dari Rhoma Irama.

    *masih tidak terima*

  10. APA-APAAN INI HAH??!!

    lancang sEKali anda mEngelompokKan orAng sepeRti itu? memAnGnya andA pikir aNdA siApa, hAh?? mEmAngnya anda Tidak tahu kalau maNusiA di MatA tuhan itu saMA DerAJaTnYA?? daN aNDa iTu buKaN tUHan!!

    God is the principal or sole deity in religions and other belief systems that worship one deity.[1] The singular, capitalized God of monotheistic religions is commonly contrasted with the gods of polytheistic religions.

    God is most often conceived of as the supernatural creator and overseer of the universe. Theologians have ascribed a variety of attributes to the many different conceptions of God. The most common among these include omniscience, omnipotence, omnipresence, omnibenevolence (perfect goodness), divine simplicity, jealousy, and eternal and necessary existence. God has also been conceived as being incorporeal, a personal being, the source of all moral obligation, and the “greatest conceivable existent”.[1] These attributes were all supported to varying degrees by the early Jewish, Christian and Muslim theologian philosophers, including Maimonides,[2] Augustine of Hippo,[2] and Al-Ghazali,[3] respectively. Many notable medieval philosophers developed arguments for the existence of God,[4] attempting to wrestle with the apparent contradictions implied by many of these attributes.

    Silakan kunjungi http://nazieb.com/

    *mencoba untuk menjadi orang-orang terkenal..

  11. @ dnial

    Saya lebih suka HRS.๐Ÿ˜† Kalau Oma Irama, itu supaya pembukaannya langsung seger.๐Ÿ˜›

    *kipas-kipas*

    @ Nazieb

    Wah, situ menabrak empat rambu-rambu sekaligus.๐Ÿ˜ฏ ๐Ÿ˜†

  12. *terpana dengan komentar Nazieb*

    – tidak pake link blog tapi malah promosi di bawahnya
    – pake CAPSLOCK
    – Pake bahasa ABG padahal sudah tua
    – Kupipas padahal pinter

    Ah, saya jadi masuk tipe 4, anak buah Habib..

    “BAKKAARRRR!!!!”

  13. Aku masih kurang mengerti soal menyebalkan-on-meter itu. Jelaskan, dong. Coba ada di paragraf pertama..:mrgreen:

    Hooo…rasanya ada satu lagi, untuk versi saya, komentator yang rusak binasa. Kalau diterawang, sih, namanya :

    – “Sang Pendendam”

    Tipikal yang seperti ini biasanya sudah kena sulut oleh satu postingan yang maha-kontroversial. Seperti contohnya postingan yang mengejek – ngejek satu kubu. Karena kesal dengan sang penulis, dia lantas “menghajar” seluruh postingan yang nada – nadanya mirip. Sialnya, seringkali kerabat – kerabat yang terpampang dalam blogroll terkena imbas, atau orang – orang yang memberi trackback kepada postingan penulis. Tak ada angin tak ada hujan, tiba – tiba nyolot nggak jelas di guestbook orang. Membawa nama orang yang dia blacklist sambil teriak – teriak.

    Biasanya orang seperti ini tidak punya identitas, dan biasanya hanya menjadi komentar musiman sehingga jarang menempelkan alamat web.

    Begitu.:mrgreen:

  14. kenapa salah satu topik sensitifnya ST 12?
    *lirik mansup*

    setelah membaca semuanya… ternyata level menyebalkan saya cuma seharga Rudy Hoiruddin๐Ÿ˜†

  15. @ ManusiaSuper

    Nazieb jangan ditiru…๐Ÿ˜›

    @ gentole

    Memangnya kenapa? Jangan-jangan Masbro adalah Baim Wong?๐Ÿ˜ฏ

    @ Mihael “D.B.” Ellinsworth

    Aku masih kurang mengerti soal menyebalkan-on-meter itu. Jelaskan, dong.

    Tanya Gunawan.:mrgreen:

    โ€œSang Pendendamโ€

    Pengalaman, ya?๐Ÿ˜€

    @ itikkecil

    kenapa salah satu topik sensitifnya ST 12?

    Soalnya ingat postingan Mas 49 dulu.๐Ÿ™‚

    setelah membaca semuanyaโ€ฆ ternyata level menyebalkan saya cuma seharga Rudy Hoiruddin๐Ÿ˜†

    Rudy Choiruddin ‘kan ndak terlalu menyebalkan.๐Ÿ˜›

  16. Ada satu jenis komentator lagi yang menyebalkan, masbro…:mrgreen:

    Dengan petantang-petenteng beliau datang dan bertanya di post evolusi. “Teori Evolusi itu sudah hampir runtuh. Pernah nggak baca buku Dr. Behe? Dr. Denton? Buku Origin of Species yang asli? Darwin saja mengakui kok kalau teorinya itu cacat.”

    Tapi, anehnya, argumen beliau kok terkesan salin ulang dari karya seorang penulis kreasionis Turki.

    Mendadak saya merasa dikerjai. Jangan-jangan, orang yang sama ini belum pernah membaca buku-buku yang dia anjurkan…

    [/prosaicLicense]

    Ini baiknya diberi nama apa, ya? ^^;

  17. Saya kurang paham konteksnya, tapi kayaknya itu Sang Vandal.๐Ÿ˜›

    Tapi betul juga. Yang macam itu itu sedikit khas, kalau inside jokenya BBM—Bapak-bapak menyebalkan. Sebab biasanya berupa bapak-bapak yang disposisinya intelektual, cara menyampaikannya fasih, tapi isinya kok ga berbobot bener. Bodoh rasanya tidak, tapi pintar juga kok agak susah diterima. Bingung, ‘kan.๐Ÿ˜†

    (Disclaimer lagi, semuanya diukur pakai standar saya pribadi.)

  18. Masih menunggu penjelasan soal o-meter.

    *duduk sambil ngasah golok.*
    *bosan*
    *merakit RPG*

    Kapan ini dijelaskan o-meternya?

    *mengisi RPG dengan mortir*

  19. hallo (mas/mbak) yg punya blog, bagaimana dengan tipe yg suka OOT, merusak suasana blog yg tadinya riang gembira menjadi penuh fallacy dan per ayat ayatan, lalu anonim terus juga menulis dengan huruf gaul besar kecil? rankingnya apa tuh?

  20. @ gentole

    Roy… Suryo…

    *standing in awe*

    @ juno aggy

    Yang itu adalah gabungan dari pelantur, killjoy, vandal, dan remaja. Rankingnya adalah sama menyebalkannya dengan ditinggal di suatu pulau bersama Rudy Choirudin, Ahmad Dhani, Baim Wong, dan Soetrisno Bachir.๐Ÿ™‚

  21. KoMenTaR ApaPuN biaSaNya saYa TerImA dEnGaN lApaNg dAda kArEnA MemAng bEgiTu siFaT sAya.๐Ÿ˜† (fuih… aneh juga nulis gaya abg).

    *manggut-manggut ngelus jenggot*

    Ah, sepertinya saya harus banyak belajar lagi untuk memberikan sedikit komentar yang cukup bermutu.๐Ÿ™‚

  22. BTW, nanya masbro. Saya bisa membayangkan bahwa Roy Suryo, Ahmad Dhani, dan Cinta Laura punya derajat ke-menyebalkan-annya™ sendiri-sendiri. Tapi…

    …memangnya Rudi Choerudin menyebalkannya di mana?๐Ÿ˜•

    *garuk-garuk kepala*

  23. Ha! Good one.
    Dalam seminggu ini saya periksa milis, isinya berantem. Blogwalking, berantem lagi. Chat conference, eh berantem juga. Bused deh. Kemana-mana makan hati. Tulisan Anda memberikan senyuman pertama saya minggu ini. Jieh.

    Berhubung blog lumayan adem dan sepi, jadi selama ini belum pernah bermasalah dengan komentator, kecuali satu: tipe pengeluh yang berbudaya senang orang susah, susah orang senang. Baru berhenti mengeluh hanya ketika kita pura-pura bernasib sama sialnya, atau sial beneran.

    I’m the telepathic Killjoy myself, it happens even when I’m not commenting on anything. Dan seharusnya ada tipe satu lagi: yang kalau komentar pakai saya-Anda, Mas-Mbak, Pak-Bu, dengan EYD yang baik dan benar, padahal aslinya kalau ngomong bruangsakan. That’s so irritatingly me.

    Salam kenal, and happy blogging!

  24. Dan seharusnya ada tipe satu lagi: yang kalau komentar pakai saya-Anda, Mas-Mbak, Pak-Bu, dengan EYD yang baik dan benar, padahal aslinya kalau ngomong bruangsakan. Thatโ€™s so irritatingly me.

    Meski gaya bicara saya di dunia nyata juga cukup formal, harus saya akui kalau saya seringkali bersalah dalam hal ini.๐Ÿ˜€ Tapi bagaimana hal itu akan menjengkelkan anda kalau, misalnya, anda tidak tahu aslinya si komentator seperti apa?๐Ÿ˜‰

    Ah, lalu bagaimana pula dengan komentator yang bahasanya, sudah campur-aduk bahasa Inggris-Indonesia, salah pula grammar-nya?๐Ÿ™„

    OIYA, tambah satu tipe komentator lagi: GRAMMAR NAZI๐Ÿ˜†

  25. @ Marisa

    Kalau killjoy dalam pemikiran saja, saya juga ada kecenderungan seperti itu—namanya juga seorang pesimis—tapi itu tidak dihitung lah, ‘kan tidak sampai membuat orang sebal.๐Ÿ˜€

    Nah, kalau masalah gaya bahasa “asli” sang komentator, saya bingung juga, apa saya termasuk yang demikian. Sebab rasanya saya tidak punya bahasa default; selalu menyesuaikan dengan lawan bicara. Kalau belum kenal pun, menyesuaikan dengan penampilan lawan bicara, mengira-ngira gaya bahasa yang bakal dia pakai.๐Ÿ™‚ Jadi ya tergantung lawan bicara itu tadi, saya bisa berbahasa Indonesia baku, Indonesia jalanan, Bahasa Inggris, Bahasa Inggris-Singapura, Bahasa Melayu, atau Bahasa Minangkabau.๐Ÿ˜€ Anda sendiri bagaimana?

    Salam dan happy blogging juga.

    @ Catshade

    Ah, lalu bagaimana pula dengan komentator yang bahasanya, sudah campur-aduk bahasa Inggris-Indonesia, salah pula grammar-nya?๐Ÿ™„

    Itu ‘kan tidak menyebalkan. Laughingstock ituh.๐Ÿ˜€

    OIYA, tambah satu tipe komentator lagi: GRAMMAR NAZI๐Ÿ˜†

    Grammar Nazi kalau merusak suasana ya jadi killjoy, kalau menghina ya vandal, dan seterusnya. Kalau cuma membetulkan thok saya sih tidak terlalu sebal dengan yang namanya grammar Nazi.๐Ÿ™‚

    Mungkin karena saya tidak pernah salah.๐Ÿ™„

    *dibelah*

  26. @ Nenda Fadhilah

    Tapi speed reading โ€˜kan ga berhubungan langsung sama komentarnya sendiri. Yang ada ya karena speed reading jadi OOT, karena speed reading jadi vandal, karena speed reading jadi medium, dan seterusnya.๐Ÿ™‚
    Nah, ini maksud saya.

    Btw, di Polyvore; hampir enggak pernah ada troll. Paling banter sih spammer lol. Rata2 disana komentarnya:
    “Wonderful job”
    “I love your set”
    “Nice”
    “Cute”
    “The dress is so wonderful, OMG”

    Kalaupun ada yang dihujat paling banter gara2 dia ngopi set orang. Itu juga enggak parah ngomongnya.

  27. Ndak tau. Sebagian dari hasil menyebalkan-o-meter itu hasil survey.:mrgreen:

    Survey apa ini? Aku nggak percaya!
    Mana bkt Srvynya? g ada kn? g percaya!
    Asal ngomong ngaku2 survey. Survey harus pakai metode statistik yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan!

    Berarti benar kata Roy Suryo, 68% blog itu tidak bisa dipercaya.
    Dan,

    A new statistic proves that 73% of all statistics are pure inventions.
    – J.J.A. Weber

    Intinya, posting ini HOAX!!! HOAX!!!!
    Sekali lagi…
    HOAX!!!

    Yang di pojok sebelah kanan!
    HOAXX!!!

    Yang di ujung ikut bergoyang ya?
    HOAX!!!!

    Ini termasuk tipe komentator apa?

  28. Anonimitas survey ‘kan mesti dilindungi.:mrgreen:

    BTW, itu mungkin campuran berbagai model komentator juga.๐Ÿ˜› Agak mirip sama yang dibilang Mas Sora di atas.

  29. Hmm, sekarang saya jadi penasaran. Mungkinkah ada yang fast read dan kemudian meninggalkan komen yang cocok dengan salah satu dari kriteria-kriteria di atas?๐Ÿ˜›

    Btw,

    klw saiiah Sih, don’t agrEe sama soMetHiNg yaNg kayak gItU-Gitu Yah. hBis i Feel sumthing liKe THAt noT woRthed bngt gItu lOh buAT dIhargain… kyk Mcmnya not in my clAss gItUh.

    Yang kayak gitu masuk kategori mana ya?:mrgreen:
    *sekalian nyobain ABG text-gen*

  30. @ Nenda

    Situ jadi terobsesi sekali dengan Polyvore yak, saya jadi merasa bersalah. By the way, Libran girl, kapan ulang taon?

    @ Catshade

    Yes, I irritate myself. Maklum, anak Jakarta lagi belajar jadi anak Indonesia. Kalo salah ngomong, nanti dibilang anak Jakarta itu belagu. Jadi haros sopan nan ja’im gile hohoho..
    Grammar Nazi! Yep. Yang bisa kepikiran berhari-hari kalo bikin typo.

    @ K.geddoe

    Kalo blogging, saya default bahasa Inggris, sesuai tuntutan pasar. Sehari-harinya bahasa Indonesia + Jakarta acakadul. Nulis juga pakai bahasa Indonesia baku. Jauh lebih susah menulis dalam bahasa Indonesia baku daripada bahasa Inggris, menurut saya.
    Aslinya? Ya itu, bruangsakan. Nama orang juga diganti nyet, cob, cuy, cuk. Halah, masa ngga ngerti, kayak ngga tinggal di Jakarta aja lo. Nah gitu contohnya. Agak rusak. Mwahah.

  31. @Marisa

    @ Nenda

    Situ jadi terobsesi sekali dengan Polyvore yak, saya jadi merasa bersalah. By the way, Libran girl, kapan ulang taon?

    Hehehe, pernah 2x masuk daftar set paling populer lhooo๐Ÿ˜€

  32. @ Xaliber von Reginhild

    Gaya yang macam itu kayaknya memang sudah built-in di dalam dada para abegeh yang bersangkutan, deh. Tulisannya begitu, isinya juga sering begitu.๐Ÿ™‚

    @ Marisa

    Hahaha, kayaknya semua orang pasti begitu juga, ya, kecuali belajar Bahasa Indonesia yang bukan dari bahasa ibu.๐Ÿ˜€

    *belajar Esperanto*

    @ Amed

    Wah, bagus juga itu. Ternyata masih ada harapan.๐Ÿ˜ฎ

  33. Btw, bukannya si Xaliber emang masih AbeGeh?๐Ÿ˜†

    @Amed
    Nggak ada yang namanya setengah bercanda. Anda bercanda atau tidak bercanda! Jangan setengah-setengah! Bercanda itu yang serius!๐Ÿ˜€

    @Nenda

    Tapi speed reading โ€˜kan ga berhubungan langsung sama komentarnya sendiri. Yang ada ya karena speed reading jadi OOT, karena speed reading jadi vandal, karena speed reading jadi medium, dan seterusnya.๐Ÿ™‚

    Pernyataan di atas membingungkanku. Jadi kesimpulannya, speed reading itu berkorelasi sama komentar nggak?
    Kamu bilang speed reading nggak berhubungan langsung tapi di bawahnya ada hubungan kasual. Ya apa seh?๐Ÿ™„

    Di sinilah kenapa tata bahasa itu penting, biar nggak rancu dan ambigu.

  34. btw, kalo komentator yang mengkomentari komentar dari komentator lain termasuk apa?

    Pertanyaan bonus :
    Berapa kata komentar dalam komentar ini?

    *This is IMHO, pertanyaan paradoks :P*

  35. @dnial
    Btw, yang anda kutip itu pernyataan dari empunya blog bukan saya๐Ÿ˜›
    Maksudnya, karena seseorang speed reading cenderung melakukan hal-hal demikian. Tapi hubungan speed reading dengan isi komentar itu menurut saya tidak langsung. Soalnya ada orang yang bisa speed reading namun komentarnya tidak ngaco juga. Masalahnya kan gimana di otak informasi yang setengah-setengah itu diproses.
    My bad lupa ngequote.

    @K. geddoe
    Difo, komen saya yang dikomentari ama Dnial tolong diquotin dengan seharusnya, ya. Thanks.

  36. @Nenda
    Maaf.. salah sasaran๐Ÿ˜›
    Kalo aku speed reading seh biasanya komentarnya one-liner, seperti :
    “Wah bagus ya”, “Pusing juga” atau “Keren ya?” atau “Oh gitu ya?”

    @geddoe
    Saya sudah dapet jawabannya, HRS.:mrgreen:

  37. @ Isaz

    Itu tidak diragukan lagi.

    @ dnial | Nenda Fadhilah

    Note to self: Utilize the blockquote tag.

    @ aries

    Sebentar, Anda ini bercanda atau…?

  38. Sebentar, Anda ini bercanda atauโ€ฆ?

    Inikah salah satu contohnya?

    BTW jadi pingin praktek…

    Menyebalkan-o-meter: Baim Wong

    Alahhh,,,,yG pnYa bloG cUmA SIRIK ajE sm BaiM WonG!!!!
    dY tuH yA, bINtaNG fILm yAng pLg kWeeeeReN sEpanJAng Sjrah!!
    lOe sYapA?????
    PinGin Jd aRTiS gA keSMpyaN ye????????
    BwT bAIm woNg,, lam Knl yA….
    :mrgreen:

    Menyebalkan-o-meter: Habib Rizieq Shihab

    Alahhh,,,,yG pnYa bloG cUmA sIRik ajE sm HRS!!!!

    eh…
    kok ga masuk akal kayanya…:P

    (just for joke)
    (tapi kok jayus ya :S )

  39. Ah, betul juga! Saya lupa memasukkan singkatan-singkatan populer macam “dy” dan “bwt”. Juga penggunaan koma yang khas itu “,,,”.๐Ÿ˜›

    Alahhh,,,,yG pnYa bloG cUmA sIRik ajE sm HRS!!!!

    …memangnya ada simpatisan HRS yang seperti itu?

  40. Yang koma itu juga kepikirannya di detik-detik akhir:mrgreen:

    memangnya ada simpatisan HRS yang seperti itu?

    Saya belum pernah menemukan, makanya tadi saya tulis

    kok ga masuk akal kayanya

    Memang tidak masuk akal menggunakan argumen yang sama pada kasus itu๐Ÿ˜›

  41. @ Blog bintang

    Mungkin juga.๐Ÿ™‚ Walau lebih baik ada komentar dan bermutu, tentu.

    @ lambrtz

    Tulisannya saya edit sedikit. Terima kasih.

    @ Amed

    Saya suka quote itu.๐Ÿ˜€

  42. Hohoho!

    BTW, kebetulan saya baru menonton “Ayat-Ayat Cinta” yang diputar di rumah makan yang saya datangi. Hanya 15 menitan, sih.

    Islam pop sedang menjual, sepertinya. Yah, lebih baik dari Islam garis keras, jadi saya senang-senang saja.๐Ÿ˜€

  43. Ah, sebetulnya pengen ketawa ngakak-ngakak sambil komeng: “Fo, post mu satu ini pan cracked.com banget :lol:”
    Tapi situ sendiri sudah nyadar…
    Ah, komeng basikah ini?
    Btw, penjiwaaan komeng si remaja pan kurang didramatisir, harus tambah angka-angka sebagai pengganti alfabet dong:mrgreen:

  44. saya super setuju sama point ke-6 dan contoh tokohnya tepat banget menggambarkan itu… btw, saya tipe yang mana yah๐Ÿ™‚

  45. Ara…. kaya’nya yang nomor 5 mirip saya, tuch. Tapi saya pakai berbagai ID bukan sengaja apalagi tanpa sebab. Biasanya lupa antara komentar satu blog dengan blogs yang lain yang ID-nya suka kelupaan main ganti (soalnya kadang, saya suka ganti nama pena, jadi kepengaruh di ID). Bagi yang sudah pernah jadi korban saya, ya saya minta maaf. Biasanya, kalo ID beda, artinya, lagi nggak pake wordpress (kalo pake wordpress, ID pasti pake alamat wordpress). Mohon maaf sebesar-besarnya >.<

  46. @ wyd

    Sepertinya bukan komentar yang menyebalkan, tuh.๐Ÿ™‚

    @ nozomistory21

    Wah, kalau itu belum tergolong sockpuppeting, mas/mbak.๐Ÿ˜› Baru disebut demikian apabila perbedaan identitas itu dieksploitasi; misalnya berpura-pura menjadi dua orang secara sengaja.๐Ÿ˜€

  47. Rrr… semua hal di semesta ini bisa (baik dan) benar tergantung dari sudut mana si pengamat melihat, bukan begitu masbro?:mrgreen:
    *ramai2 ditimpuk, berani nggondol quote Mbah Wadehel dan menambahi seenaknya*

  48. gwa terkadang menjadi sang pelantur

    itu kalo emang cuman mau formalitas doank sih biasanya, seperti diminta sang empu blog lewat YM “Ada post baru! Komen yah!”๐Ÿ˜›

  49. hahaha, ada betulnya juga

    soalnya gak di komen pasti langsung YM lagi “kok loe blom komen?”, padahal saat itu gwa lagi ga ada napsu buat ngebaca. Alhasil jadinya tinggal speed reading dan komen apa adanya deh๐Ÿ˜›

    penyakit anak2 gaul blogspot memang, semakin bangga bila punya banyak komen๐Ÿ˜†

  50. hah… yang abg… tambahin sedikit…

    biasanya pake kosa-kata yang terkesan di”imut”kan…
    cth: “Hi, cLam KnL Yach”…

    aku menyebutnya… “imutisasi”

  51. Difo, bukannya huruf besar-kecil itu lebih ke Cinta Laura ya?๐Ÿ˜›

    btw, yang menakjubkan itu yang nomer 2, dan levelnya,, Berhubung Ma jugaudah cape sama iklannya dia,,๐Ÿ˜

    Btw. setuju sama ynag komen di atas,, somehow ada aura aura Wadehel, tapi dibumbuin dikit sama sisi Raditya Dika-nya,,

    *Kabur*

  52. @ Nenda Fadhilah

    Kalau shota bagaimana?๐Ÿ˜›

    @ joesatch yang legendaris

    Kok cuma dua yang dilanggar? Nazieb melanggar banyak sekaligus.:mrgreen:

    @ Rizma

    Ya kebetulan urutannya begitu; sang dalang lebih menyebalkan dari sang remaja, tapi Cinta Laura lebih menyebalkan dari Ahmad Dhani.

    Kok Wadehel? Raditya Dika pula? ‘Kan sudah saya bilang kalau ini mirip dengan Cracked.๐Ÿ˜€

  53. bwakakakakakakk… saya baru baca! *ketinggalan*

    ehm… memang komentator itu unik dan bermacam-macam. ada yang pipis trus langsung meninggalkan gitu aja, ada juga yang udah ceb0k dan rajin bolak-balik demi meramaikan postingan.

    asli, ngakak puoooolll…๐Ÿ˜†

    paling sebel kalo komentator super OOT. >_>

Comments are closed.