Iman dan Bahasa

Belakangan ini saya mengikuti perkembangan entri Mas Gentole mengenai ekaristi, yang lantas melebar pula ke pembahasan tentang iman dan keyakinan.

Iman

Yang menarik adalah beberapa peserta diskusi terkesan tidak menerima konsep iman secara murni yang menurut pemahaman saya adalah semacam leap of faith—yaitu mempercayai sesuatu walaupun tidak ada bukti empiris. Menurut pandangan yang diadvokasikan;

Saya menchallenge teman2 disini utk membedakan doktrin denga <b<iman.
Dari tulisan2 yang terasa bhw teman2 (maaf) belum bisa membedakan doktrin dg iman. Semua2 yg kita percayai tanpa proses penerimaan oleh akal itu dinamakan doktrin. Nahh, sedang iman sendiri adalah doktrin yang telah melalui proses akal.

[link]

Saya kira Tuhan, apalagi agama, tidak mungkin bisa dibuktikan dengan argumentasi ilmiah, sebab kitab suci sendiri sangat lemah kedudukannya di mata sains. Ya, ya, Bible Code-nya Alkitab, klaim prediksi sains modern serta kode nomor 19-nya Al-Qur’an, saya sudah baca (dan sempat jadi evangelisnya). Sangat lemah. Belum lagi pendapat bahwa pada dasarnya monoteistik ialah pelanggaran pada belati Ockham. Jadi buat saya iman dan religiusitas itu memang sesuatu yang spiritual dan terlepas dari daerah empirisisme.

Kalau empirisisme dipaksakan untuk dimasukkan ke konsep agama, yang terjadi biasanya adalah inkonsistensi. Retorika semacam ini lama-lama suaranya semakin sumbang: katanya mencari Tuhan mesti pakai akal, tapi begitu kontradiksi-kontradiksi ditemukan di konsep ketuhanan, berarti itu tanda akal tidak sampai. Ini bukan masalah sampai atau tidak sampai, ini masalah metode. Kalau pencarian tersebut memang akan terbentur dengan keterbatasan akal, berarti metode akal memang bukan pendekatan yang mesti dipergunakan. Ujung-ujungnya tetap adalah “iman”. Saya tidak melihat ada alasan untuk memaksakannya memasuki daerah empirisisme selain disonansi kognitif. Beberapa orang bersikap sangat defensif soal nasibnya sesudah mati.

Bahasa

Kemudian saya berpikir, jangan-jangan ini perkara linguistik. Dalam bahasa Indonesia, “iman” adalah sebuah loanword. Diserap utuh. Sehingga konotasi yang dibawanya pun tidak paralel dengan konteks alternatif manapun—asosiasinya murni agama.

Sebagai perbandingan mungkin bisa menggunakan bahasa Inggris; di sini “iman” adalah “faith“. Kata yang ini memiliki konteks non-religiusnya, sehingga “rasa”-nya juga bisa dipahami dengan lebih dalam. “Faith” adalah konfirmasi kepercayaan yang independen terhadap empirisisme. Faith in friends, faith in one’s luck, faith in God. Saya kira perbedaan ini mencolok—padanan bahasa Inggrisnya jauh lebih humble.

*masih agak bingung*

24 thoughts on “Iman dan Bahasa

  1. @ danalingga

    Logika di sini yang saya tangkap adalah lebih diatributkan pada jiwa zaman dari sains. Saya tetap berpendapat bahwa iman adalah hal yang spiritual.

    @ Manusia Super

    Kayaknya, ya.😀

    @ Nenda Fadhilah

    “I have faith in you.” dengan “Saya memiliki keyakinan pada dirimu.” ‘kan esensinya sama?

    Justru “Saya memiliki iman pada dirimu” yang terkesan janggal—ini yang saya maksudkan dengan perkara bahasa. Penyerapan kata “iman” ke bahasa Indonesia itu yang agak kurang pas penerapannya.

    @ Amed

    Ya. Lebih “jumawa” bukan secara inheren, melainkan karena itu adalah loanword. Karena status itu ia tidak memiliki penerapan di atas konteks lain, yang seharusnya memungkinkan perbandingan.

  2. Kalau dalam istilah Katolik, iman kami itu “supra-rasional”. It’s rational… and so much more if you wanna take that leap (benar-benar doublethink sekali😀 ).

    Belum lagi pendapat bahwa pada dasarnya monoteistik ialah pelanggaran pada belati Ockham.

    Saya jadi inget sebuah kutipan ateisme: “Monotheists reject all other gods but their own. I just happen to believe in one less god than they do.”

  3. Hmm, kalau menilik KBBI,

    kb.kepercayaan (yg berkenaan dng agama); keyakinan dan kepercayaan kpd Allah, nabi, kitab, dsb; ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin;

    kayaknya istilah ‘iman’ memang cenderung ke arah yang berbau agama. Mungkin karena bahasa Indonesia menyerap langsung dari bahasa Arab (iman) daripada bahasa Inggris yang menyerap dari bahasa Latin (fide)?😕

    @Catshade:

    “Monotheists reject all other gods but their own. I just happen to believe in one less god than they do.”

    Kayaknya pernah baca… God Delusion-nya Richard Dawkins?😛

  4. @ Catshade

    Yang pasti ‘kan ada leap of faith-nya.😀 Ya sah-sah saja, sih, namanya juga ideologi. Terlalu realis ya pikiran pasti mati lah. Yang naturalis pun selalu berasumsi.

    @ Xaliber von Reginhild

    Ya, seperti itu yang saya maksudkan.😛

    Kayaknya pernah baca… God Delusion-nya Richard Dawkins?😛

    Kalau yang versi Richard Dawkins; “We are all atheists about most of the gods that societies have ever believed in. Some of us just go one god further.” Mirip-mirip, sih.

  5. Masalahnya adalah, semua penjelasan awal tentang semuanya ya lewat bahasa. Jadi mau bagaimana? Menerima bahwa multitafsir adalah sebuah keharusan?

    Atau percaya bahwa memang ada yang ‘ditiupkan ke dalam dada’ untuk segala sesuatu yang tidak terjelaskan oleh bahasa?

  6. Saya ‘kan sebenarnya setengah bertanya dan setengah mengeluh tentang kebahasaan, bukan memberi tesis soal bahasa dan keimanan. Jadi juga tak tahu jawabannya.😀

  7. Masalah bahasa ini memang pelik. Hampir semua agama mapan di dunia ini adalah agama yang memuja “Kata”. Saya juga belum menemukan solusi untuk masalah ini, masih sangat remang-remang. Kata “iman” dan “Tuhan” mungkin levelnya sudah agak berat, apalagi dikaitkan dengan “rasa bahasa”. Masalah referensi aja udah ribet. Umberto Eco, misalnya, mengambil contoh bagaimana Marco Polo yang lugu itu dengan bangganya mengatakan kepada bangsa Eropa bahwa unicorn itu binatang yang jelek, kakinya besar katak gajah, badannya seperti kerbau, tidak langsing dan cantik bercahaya.😀 Si Marco tentu pernah melihat unicorn itu di Nusantara. Ya, yang dia lihat sebenarnya badak!:mrgreen: Ini ilustrasi bahwa pra-pengalaman itu mempengaruhi proses kognisi dan persepsi. Tentu jadi persoalan, kalo Anda mencoba untuk mengkomunikasikan gagasan Anda kepada orang yang tidak berbagi “pengalaman” dengan Anda. Jadi inget ribut-ribut agnostisisme dulu. Saya kira intinya kudu sabar kalau mendiskusikan yang berat-berat; atau terima saja perbedaan pandangan itu, karena kita memang mungkin berada dalam ruang wacana yang berbeda.

  8. IMHO sih, kalau mau jelas, harusnya menyepakati dulu definisinya “akal” itu apa. ^^

    Ingat, kalau dalam dunia apologi — entah itu apologi berbau sains, sosial, ataupun sebagainya — istilah “akal” tidak mengacu pada keterbuktian empiris-obyektif. Melainkan pada analisis, sintesis, dan koherensi pada dogma inti.

    Sebagai contoh apologi Islam. Beberapa menekankan pada so-called “bukti-bukti sains Qur’an” (analisis), tafsir/ijtihad (sintesis), dan kekonsistenan ayat (koherensi). Sementara dogma intinya (Ketuhanan, Kitab Suci, Syahadat) dibiarkan apa adanya.

    Saya rasa Kristen pun demikian. E.g. dalam melogikakan Trinitas, pasti larinya juga ke tiga hal tersebut: analisis skriptur, sintesis ide, dan memastikan koherensinya. Nah, ini yang umumnya dianggap “peran akal” oleh para apologis. ^^

    Di sini “akal” dipandang bukan sebagai logika dan rasionalitas per se, melainkan sebagai sarana mengolah dogma. Ingat, sedang berbicara apologi, bukan hakikat Tuhan.😛

    * * *

    Kalau berangkatnya dari ide di atas, komentar ybs. nggak jadi terasa aneh juga IMHO:

    Semua2 yg kita percayai tanpa proses penerimaan oleh akal itu dinamakan doktrin. Nahh, sedang iman sendiri adalah doktrin yang telah melalui proses akal.

    IMHO beliau menyatakan bahwa “iman sejati” adalah dogma yang sudah ‘dicerna’ oleh akal… bukan dogma yang ditelan mentah-mentah.😕

    Dogma yang ditelan mentah-mentah berpotensi jadi doktrin yang menyesatkan: fundie mentality, bigotry, penolakan sains, etc. Tapi, sebaliknya, dengan mempertimbangkan “akal” (dalam konteks apologis) kemungkinan ini terminimalisir. Seseorang bisa beriman secara sejuk dan positif untuk kemanusiaan. (one may be tempted to say “sebaik-baiknya iman”, though😛 )

    (compare with: mythos & logos)

    Saya rasa ini yang beliau maksud “beda antara iman dan doktrin”? CMIIW.

  9. @ gentole

    Sepertinya begitu. Analogi badaknya sangat menarik.

    BTW entri ini sebenarnya cuma mengeluh soal bahasa itu tadi, kok. Bagian “Iman” itu cuma pengantar. Maaf kalo kepanjangan.

    @ sora9n

    Kalau itu tentu saya mengerti. Itu ‘kan menurut saya sudah posisi yang derajat liberalismenya sudah tinggi.

    Hanya saya ya sedikit skeptis saja. Sebab menurut pengalaman, ada pemahaman agama di mana posisi akal pada agama itu lebih sakral dari yang masbro gambarkan. Tidak ada sekat-sekat seperti tiga serangkai analisis, sintesis dan koherensi itu. Pokoknya agama saya masuk akal. Neil Armstrong mendengar adzan di bulan. Di jamban ada setan. Wali Sanga bisa terbang.

    Saya tidak bilang itu ada di diskusi di blog mas Gentole itu, tidak. Cuma teringat saja. Lalu jadi depresi.

  10. @ K. geddoe

    Kalau itu tentu saya mengerti. Itu ‘kan menurut saya sudah posisi yang derajat liberalismenya sudah tinggi.

    Ya… saya kan mengomentari komentar yang dikutip. Di situ beliau bilang “akal bisa membantu mencapai iman”.😛

    Memangnya derajat liberalisme beliau setinggi apa? Saya kok merasa beliau itu lebih ke arah progresif.:mrgreen:

    Hanya saya ya sedikit skeptis saja. Sebab menurut pengalaman, ada pemahaman agama di mana posisi akal pada agama itu lebih sakral dari yang masbro gambarkan. Tidak ada sekat-sekat seperti tiga serangkai analisis, sintesis dan koherensi itu. Pokoknya agama saya masuk akal.

    Kalau main “pokoknya agama saya masuk akal”, itu sih bukan apologi. Itu namanya indoktrinasi. ^^;

    Itu memang nggak perlu pakai akal. Sekalian saja tambahin hoax tak berdasar seperti “suara dari dalam bumi”, “Armstrong mendengar azan”, “teori evolusi runtuh”.😉

    Uh, sebenarnya bukan ini poin yang saya maksud dengan komen sebelumnya.😄

    Poin saya sebenarnya cuma satu: set definisi yang dipakai oleh kedua belah pihak, dalam diskusi di entri tersebut, berbeda.

    Kenapa diskusinya membingungkan, sebab para pesertanya belum sepakat pada definisi “akal” dan “iman”. IMHO ini nggak beda dengan “pacaran = anjing”-nya mas Joe yang dulu.

    Pihak A menyatakan:

    “iman” == “dogma metafisis” (unverifiable)
    “akal” == “logika” (tool epistemologi)

    Masalah epistemologi: terpaku pada knowledge acquisition method

    Maka:
    “Akal” tak bisa menjangkau “iman”

     

    Pihak B menyatakan:

    “dogma” == “ajaran murni dari Tuhan” (absolut)
    “akal” == “rasio”, “alat bantu interpretasi”
    “iman” == “dogma yang sudah dicerna oleh akal”
    -> (opposite: doktrin)
    “doktrin == “dogma yang ditelan mentah-mentah”
    -> (c.f. fundies)

    Maka:
    “Akal” adalah alat bantu untuk mencapai “iman”
    “Dogma” tanpa “akal” adalah indoktrinasi

    Look, it’s just like that!😀

    Kalau definisi “akal”, “dogma”, dan “iman” bisa dikonsultasikan, harusnya nggak akan semembingungkan ini. Memang benar bahwa bahasa jadi masalah — tetapi, masalah ini jadi berlarut-larut karena perbedaan tsb. tidak secepatnya diklarifikasi.🙂

    IMHO, CMIIW. ^^

  11. @ gentole

    Saya kira intinya kudu sabar kalau mendiskusikan yang berat-berat; atau terima saja perbedaan pandangan itu, karena kita memang mungkin berada dalam ruang wacana yang berbeda.

    This.😛

  12. @ sora9n

    Sebentar, masbro kayaknya salah mengerti maksud dan tujuan dari entri ini. Mungkin memang saya tidak terlalu berbakat berkomunikasi.

    Saya tidak membahas iman, keyakinan, dan apologi; apalagi secara khusus ingin mengupas pendapat yang disajikan mas/mbak truthseeker di atas.🙂 Yang ada hanyalah hal tersebut mengingatkan saya akan kemungkinan pergeseran-pergeseran makna yang terjadi karena perkara linguistik.

    “Pacaran=Anjing”-nya Mas Joe dulu itu, juga contoh kasus seperti ini. Penggunaan kata-kata itu terkadang bisa mengubah disposisi dari definisinya.

    *jadi ga enak udah reply panjang-panjang*

    *gara-gara subbab pembukanya kepanjangan?*

  13. *masih ga enak udah reply panjang-panjang*

    *komentarin ajalah*

    Ya… saya kan mengomentari komentar yang dikutip. Di situ beliau bilang “akal bisa membantu mencapai iman”. 😛

    Memangnya derajat liberalisme beliau setinggi apa? Saya kok merasa beliau itu lebih ke arah progresif.:mrgreen:

    Lho, saya ‘kan nggak ngomongin beliau.😀 Hanya saja komentar tersebut memberi efifani, terlepas dari apa relevan atau tidak. Yang saya bahas itu ya ortodoksi yang hipotetikal itu tadi.

    Kalau main “pokoknya agama saya masuk akal”, itu sih bukan apologi. Itu namanya indoktrinasi. ^^;

    Itu memang nggak perlu pakai akal. Sekalian saja tambahin hoax tak berdasar seperti “suara dari dalam bumi”, “Armstrong mendengar azan”, “teori evolusi runtuh”.

    Sekali lagi, saya tidak membahas apologi.

    Uh, sebenarnya bukan ini poin yang saya maksud dengan komen sebelumnya.😄

    Poin saya sebenarnya cuma satu: set definisi yang dipakai oleh kedua belah pihak, dalam diskusi di entri tersebut, berbeda.

    Kenapa diskusinya membingungkan, sebab para pesertanya belum sepakat pada definisi “akal” dan “iman”. IMHO ini nggak beda dengan “pacaran = anjing”-nya mas Joe yang dulu.

    Aduh, ya memang, apa yang saya bahas di sini ‘kan mencoba mengaitkan fenomena yang saya tebalkan di atas lewat hipotesis linguistik. ^^;;

    Pihak A menyatakan:

    “iman” == “dogma metafisis” (unverifiable)
    “akal” == “logika” (tool epistemologi)

    Masalah epistemologi: terpaku pada knowledge acquisition method

    Maka:
    “Akal” tak bisa menjangkau “iman”

    Pihak B menyatakan:

    “dogma” == “ajaran murni dari Tuhan” (absolut)
    “akal” == “rasio”, “alat bantu interpretasi”
    “iman” == “dogma yang sudah dicerna oleh akal”
    -> (opposite: doktrin)
    “doktrin == “dogma yang ditelan mentah-mentah”
    -> (c.f. fundies)

    Maka:
    “Akal” adalah alat bantu untuk mencapai “iman”
    “Dogma” tanpa “akal” adalah indoktrinasi

    Look, it’s just like that!

    Kalau definisi “akal”, “dogma”, dan “iman” bisa dikonsultasikan, harusnya nggak akan semembingungkan ini. Memang benar bahwa bahasa jadi masalah — tetapi, masalah ini jadi berlarut-larut karena perbedaan tsb. tidak secepatnya diklarifikasi.

    Ya, iya. Ini ‘kan pernah saya bahas di entri yang dulu.

    * * *

    Intinya, ya, agak aneh diskusi kita;

    Saya: “Makna jargon-jargon yang dipakai dalam diskusi teologis kadang kelihatannya berbeda. Mungkin ada hubungannya dengan bahasa?”
    Masbro: “Oh, kalau menurut saya set makna jargon-jargon yang dipakai dalam diskusi teologis itu berbeda. *menjelaskan panjang lebar* ”

    Kayaknya saya nulis memang kurang jelas, ya. Pembukaannya terlalu panjang. Maaf.:mrgreen:

    *makan pisang saus pedas™*

  14. Lost in definition, atau lost in translation?
    Itulah kenapa aku suka matematika, bahasanya sama. Dimana-mana 1+1=2, dan cos 90 = 0.

    Maybe we need, official debate language. Latin maybe, like good old days?
    And because, everything said in latin sound profound.😆

  15. @ K. geddoe

    *baca-baca*

    *gubraks* x(

    Intinya, ya, agak aneh diskusi kita;

    Saya: “Makna jargon-jargon yang dipakai dalam diskusi teologis kadang kelihatannya berbeda. Mungkin ada hubungannya dengan bahasa?”
    Masbro: “Oh, kalau menurut saya set makna jargon-jargon yang dipakai dalam diskusi teologis itu berbeda. *menjelaskan panjang lebar* ”

    Yaaa… kalau memang fokusnya di bahasa, ditekankan dong di bagian “Bahasa”-nya. Saya kira topik utamanya definisi “iman” — dan “Bahasa” itu cuma pertanyaan tambahan. Makanya saya omongin.😆

    Kayaknya saya nulis memang kurang jelas, ya. Pembukaannya terlalu panjang. Maaf.:mrgreen:

    That.😎

    :::::

    @ dnial

    Itulah kenapa aku suka matematika, bahasanya sama. Dimana-mana 1+1=2, dan cos 90 = 0.

    Wah, nggak bisa. Anda salah™!😈

    1+1 basis 2 itu 10, dan cos 90 radian itu -0.448. Hitung lagi yang benar!👿

    *bikin huru-hara*
    *dilempar kalkulator*

  16. @ Sora9n

    Eit.., eit… nanti dulu 1+1 itu belum tentu 10 dalam basis 2 dan 2 dalam basis 10 . Ya saya sepakat jika itu secara teoritis . Tapi dalam prakteknya itu bisa melenceng dan serba tak pasti.

    contohnya :

    1 laki + 1 perempuan hasilnya apa dan berapa coba. ..?🙄
    serba tak pasti kan…? 😆

    *nyulut perang*
    *kabur naik bajai*

  17. Pingback: Allah « f e r t o b

Comments are closed.