Kopi

Barusan saya meneguk kopi. Tidak ada yang istimewa memang, hanya secawan kopi. Bisa Anda beli di warung-warung, tidaklah mahal, dan membuatnya pun mudah. Cukup dicampur dengan air panas dan mengaduknya beberapa saat saja. Apalagi kopi yang ini adalah kopi kemasan super instan; jadi ia langsung memiliki gelas sendiri, dan pengaduknya pun disediakan. Sayangnya ya karena sekali pakai, secara ekologis mungkin mengkonsumsinya tidak terlalu bermoral.

Dan kopinya tidak seenak kopi susu yang ada di warung-warung kopi.

Nah. Jadi begini, barusan ketika saya meneguk kopi, saya mengalami epiphany. Detik-detik Zen, saudara-saudara. Erleuchtung! Ya, pencerahan instan seperti ini memang seringkali tidak diundang dan munculnya di saat-saat yang tidak relevan, tapi itu pula yang membuatnya spesial. Sebab tentunya pencerahan yang unik seperti ini akan lebih menarik dan dramatis untuk biografi-biografi saya yang akan dibuat orang-orang nanti.😀

Mungkin kopi instan saya akan jadi seikonik apelnya Newton. Semoga. Namun tentunya kalau itu betul-betul terjadi, kopi saya tetaplah superior, sebab betul-betul terjadi, tidak seperti apel Newton yang hanya mitos—sama derajatnya dengan pohon ceri milik Washington.

*hilang fokus*

Pokoknya saya mengalami pencerahan.

*postingan tidak penting*

17 thoughts on “Kopi

  1. trus pencerahan apa yang abang dapat?
    ni cuma mau nyeritain bis minum kopi ye?haha…
    kalo gw,paling sering dapat pencerahan ketika gw melaksanakan ritual d kamar mandi..entah itu pas mandi ato yang lain..boleh jadi ruangan tersebut mang ruang ide gw..hoho,,

  2. Pokoknya saya mengalami pencerahan.

    Kang…bangun kang…
    Sudah siang….
    Matahari sudah di atas kepala…

    *diguyur kopi panas segalon*
    *tapi kabur duluan*

  3. Hmmmm….pencerahan dari kopi ya pasti mata melek!

    Tapi itu ga berlaku buat saya, saya bisa langsung tertidur setelah menenggak secangkir kopi. atau bisa begadang semalaman meskipun tidak minum kopi…

Comments are closed.