Hikmah Bermalas-malasan

Saya kira bermalas-malasan, menunda-nunda pekerjaan, dan berprokrastinasi itu selama ini dipandang secara tidak adil. Ternyata ada manfaatnya. Besar sekali.πŸ˜›

Bermanfaatnya adalah kalau berhadapan dengan kemarahan. Kalau sedang berjalan-jalan di sekitar dunia maya, saya sering tiba-tiba marah. Bukan marah, sih, tepatnya mungkin gemas. Sebab terkadang, terselip di antara materi-materi yang saya baca dan amati, ada segelintir gagasan-gagasan yang kok kayaknya perlu diluruskan. Lurusnya tentu lurus menurut saya, yang bisa saja bengkok-bengkok-melintir-lintir kalau dipandang pakai kacamata Anda. Jadi walau saya bukanlah Maha Lurus, tapi mestinya itu ‘kan reaksi yang manusiawi, toh? Menyatakan keberatan ketika ada gagasan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang kita pegang.

Nah, berhubung saya senang menunda-nunda pekerjaan, waktu itu saya berpikir; mungkin menanggapi komentarnya nanti saja. Saya mau tidur/makan/jalan-jalan/apalah dulu. Otak mesti disegarkan dulu, supaya argumentasinya sehat.

Ketika saya bangun/selesai makan/pulang/apalah, gemasnya sudah hilang.

Ya sudahlah. Toh Anda rasanya tidak bisa meluruskan apa-apa dari internet. Kalau ditantang argumentasinya pun, orang biasanya malah tambah defensif.

*komik (jenius) di atas dari xkcd.

23 thoughts on “Hikmah Bermalas-malasan

  1. kenapa kegemasan itu ga dituangkan?
    ranah blog makin sepi diskusi antarblog yg kalo dilakukan dengan baik malah bikin blogernya makin tajam kan?

  2. Terlalu banyak perbedaan di internet…
    Butuh waktu lama dan mungkin tak terbatas untuk berargumen dengan mereka, dan belum tentu juga opini mereka berubah…
    Jadi….yang sabar ya nak ya…
    Inilah dunia, perbedaannya tiada tara…
    (dan seringkali menyebalkan)

    *sok tua*

  3. Ya sudahlah. Toh Anda rasanya tidak bisa meluruskan apa-apa dari internet. Kalau ditantang argumentasinya pun, orang biasanya malah tambah defensif.

    Blogging itu ilmu sosial, masbro. “Meluruskan” orang itu ada seninya.πŸ˜†

    *beneran lho*πŸ˜‰

  4. @ edy

    Hahaha, mungkin juga. Tapi saya bukan crusader, kadang terlalu malas untuk ribut-ribut. Lagipula secara strategis kadang ribut-ribut malah kontraproduktif—ya itu tadi, yang ada di seberang akan semakin defensif. Argumennya malah akan semakin bias.

    @ Nenda Fadhilah

    Saya cuma bilang “ada manfaatnya” ‘kan.

    @ lambrtz

    Hohoho! Makasih, pak guru.:mrgreen:

    @ omoshiroi_

    Saya tidak menghargai perbedaan, sebab menurut saya yang benar adalah menghargai orang-orang yang berbeda itu sendiri.πŸ™‚

    Kalau ide, ide itu seringkali hampa. Saya tidak merasa wajib menghargainya.πŸ˜›

    @ dana

    Saya ‘kan ngeblognya udah platonikβ„’.:mrgreen:

    @ sora9n

    Betul memang. Itu makanya, main brutal juga kadang menyusahkan.

    @ C4ndra

    Kalau betul-betul gawatlah. Self defense.πŸ™‚

  5. hehhehehhehehe… kalo enggak males jadi nya perang kayak kata mas c4ndra ya om.. kalo di tulisan ku ada yang perlu njenengan lurusin nggak om??

  6. *ngelirik blog catharsis corner*

    Kalau lagi malas meluruskan, bung Geddoe, you can simply point and laugh…and share the hilarity. Let your blog readers do your jobπŸ˜€

  7. @ dnial

    Hehehe, sayangnya banyak yang kalau diperangi pakai argumen, diperangi balik dengan pelabelan sosial dan doa-doa, mas.

    @ ulan

    Kayaknya nggak ada, Mbak.πŸ™‚

    @ Catshade

    Wah, betul juga, ada cara seperti itu, ya?πŸ˜€ Tapi kalau sukses menggerakkan massa begitu, berarti blog saya betul-betul preaching to the choir, dong?

  8. jadi penasaran, apa yg bikin kamu gemas ged? tapi bukan gara2 abis liat video klipnya aura kasih di youtube kan? heheheπŸ˜€

    *dibalang hp*

  9. Err, apa kegemasan ini karena kasus yang masuk BoTD belakangan?πŸ˜• Atau muncul kehebohan seperti salafi dulu?πŸ™‚

    Kalau saya menunda jadi kehilangan semangat buat komen/nulis, tapi bisa dibilang positif juga untuk beberapa hal.πŸ˜›

  10. Wah, betul juga, ada cara seperti itu, ya?πŸ˜€ Tapi kalau sukses menggerakkan massa begitu, berarti blog saya betul-betul preaching to the choir, dong?

    Nggak perlu sampe punya koor kok. Tiga anak buah tenor (sora, gentole, ama xaliber? :D) juga sudah cukup. Biarkan mereka yang mengumandangkan himne akal budi untuk massa yang belum tercerahkan. Anda sendiri tinggal cuci tangan deh…πŸ˜›

  11. @ Catshade

    Hei, kalau nggak ada mereka, Anda bakal capek sendiri menanggapi troll di Catharsis Corner. Berterimakasihlah sedikit.πŸ˜†

    *sambil ngecek posting ybs*

    *yah, sayang kasusnya udah mau selesai*😐

  12. …ada segelintir gagasan-gagasan yang kok kayaknya perlu diluruskan

    Jadi inget waktu kamu ‘rame’ dengan bang Yari soal tongue piercing… Yang debat ‘lurus’, (saya) yg baca jadi bengkok…πŸ˜†

Comments are closed.