Death Magnetic

Death Magnetic, n.
death.mag.ne.tic. [deth-mag-ne-tik]
— the ninth studio album of Metallica, released in September 2008.

Mari membahas sejarah singkatnya terlebih dahulu.:mrgreen:

Metallica: Bekas Dewa

Di era 80-an, Metallica adalah dewa. Waktu itu, sewaktu rock yang ada adalah yang berbunga-bunga seperti Mötley Crüe, Metallica tampil dengan lebih sangar. Penampilannya gelap, dan citra yang muncul dari karya-karyanya lebih garang. Hasil kerja awal mereka disanjung sebagai salah satu penopang berdirinya thrash, yang merupakan bapak dari segala subgenre metal yang sangar-sangar semacam death metal atau black metal.


Silakan bandingkan sendiri.

Singkatnya, waktu itu Metallica adalah ikon musik-musik gahar, untuk ditandingkan dengan ikon-ikon pop di era yang sama seperti Madonna atau Michael Jackson.

Tapi kenapa “bekas”?😯 Ini ada ceritanya.

Metallica Episode #1: Debut


Kill ‘Em All

Perkenalkan Kill ‘Em All (1983)—hasil kerja resmi pertama yang dirilis setelah formasi band ini akhirnya stabil. Di sini, James Hetfield bertugas sebagai vokalis-gitaris, Kirk Hammett sebagai gitaris utama, Lars Ulrich sebagai penggebuk drum, dan bassis legendaris Cliff Burton sebagai, euh, tentunya, bassis. Sebelumnya, formasi yang dimiliki Metallica cukup labil. Gitaris lama Dave Mustaine dipecat dari band setelah berkelahi dengan Hetfield (selanjutnya yang bersangkutan ikut sukses dengan bandnya sendiri, Megadeth).


Ki-ka: Hetfield, Hammett, Ulrich, Burton, dan si terpecat Mustaine.

Sebagaimana layaknya album debut, Metallica versi Kill ‘Em All memang agak berbeda dengan Metallica selanjutnya. Pengaruh speed metal-nya lebih kental, dan masih sedikit berbau metal-metal “biasa”, dibanding dengan karya mereka yang lebih terkenal. Tapi, kedewaan Metallica tetap mulai tercium dari sini.

Lalu, periode legendaris pun dimulai.

Metallica Episode #2: Dewa Setengah Manusia


Ki-ka: Ride the Lightning, Master of Puppets, …And Justice for All

Trilogi Ride the Lightning, Master of Puppets, dan …And Justice for All adalah trilogi yang paling tersohor dalam sejarah metal, rock, dan bahkan mungkin secara universal sepanjang sejarah musik populer. Memang ketiganya sama sekali tidak behubungan secara resmi, tapi tiga album beruntun inilah yang diakui sebagai Metallica yang golden age. Metal at its finest. Materi yang ditawarkan adalah lagu-lagu yang keras, megah, dan berteknik tinggi.

Ride (1984) adalah album kedua para dewa yang bersangkutan. Metallica yang legendaris (THE Metallica) terlahir di sini. Lagunya megah dan epik, serta liriknya bermuatan sosial dan politis, dengan sering mengutip karya-karya sastra terkenal (Ernest Hemingway, H.P. Lovecraft, dan sebagainya). Yang paling diingat dari album ini mungkin adalah lagu “For Whom the Bell Tolls“, yang memiliki intro bass legendaris milik Burton. Intro yang aneh; tidak ada yang sadar kalau itu adalah bunyi bass kecuali diberitahu sebelumnya. Ride adalah album yang sangat berpengaruh—salah satu album yang mendefinisikan thrash.

Master (1986) adalah penerus Ride. Tidak ada terobosan apa-apa di sini, Metallica tetap memakai formula yang serupa dengan apa yang mereka lakukan di album sebelumnya, namun dengan musikalitas lebih—Master adalah versi enhanced dari Ride. Album berisi delapan lagu inilah yang berhasil melejitkan Metallica, menaikkan pangkat mereka dari pahlawan menjadi dewa. Master secara konsisten terus dipuji sebagai magnum opus musik metal. Hingga saat ini, kalau ada daftar album-album metal terbaik sepanjang masa, biasanya gampang menebak apa yang nangkring di puncak. Pasti Master of Puppets.

Nah, masalahnya muncul di sini. Tahun 1986, Cliff Burton mampus tertimpa bus (hei, berima!).


Perlu DUA KALI timpaan bus untuk
membunuh pria sejati seperti Burton.

Setelah tragedi ini, tiga personil sisa Metallica, tidak bisa berpikir sejernih sebelumnya (karena mungkin memang Burton yang paling waras di antara mereka). Posisi Burton lalu digantikan oleh Mr. Nice Guy merangkap headbanger profesional, Jason Newsted.


Mr. Nice Guy: Murah senyum,
tidak banyak tingkah.

Kemudian, bersama Newsted, Metallica merilis Justice (1988). Album keempat ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan karya Metallica yang lain—para personilnya sendiri sering mengeluh sangat kesulitan dan kecapekan memainkannya secara live. Sejauh ini, tidak ada yang mengecewakan; tapi ada masalah kecil di mana suara bass di Justice hampir tidak terdengar. Konon ketiga personil senior Metallica memang tidak mengakui Newsted sebagai personil seutuhnya di Metallica.

Selain bassnya dikecilkan, Newsted juga tidak diberi kebebasan menciptakan lagu, namun, karena memang berupa Mr. Nice Guy, Newsted sendiri tidak banyak protes. Asal bisa headbang sepuasnya di konser, dia sudah senang.


Syarat yang mudah.

Metallica Episode #3: Mulai Bertingkah

Lalu kalau Metallica ternyata sehebat itu, kenapa cuma jadi “bekas” dewa?😕

Ceritanya bermula di sini. Di kala thrash semakin cepat dan kompleks, Metallica (setidaknya dua bos besar Metallica, Hetfield dan Ulrich) mengambil keputusan mengejutkan. Album selanjutnya mesti lebih sederhana. Lebih rock-n-roll. Tidak usah yang susah-susah.


The Black Album

Hasilnya adalah The Black Album (1991) adalah album Metallica yang paling sukses. Album ini laris manis, terjual sampai 22 juta keping. Namun sayangnya, kesuksesan itu dibuntuti oleh kontroversi. Metallica dituduh menjual integritasnya demi uang dan popularitas, dengan memainkan musik yang lebih menghasilkan uang. The Black Album tetap dianggap sampai sekarang sebagai album yang sangat berpengaruh, namun cenderung divisif, dengan tanggapan yang terpolarisasi.

Apakah Hetfield dan Ulrich memang berniat memperkaya musikalitas, ataukah hanya ingin uang, hanya mereka yang tahu.

Metallica Episode #4: Eeh Lha Kok Ya™…

Era selanjutnya adalah ketidakkaruanisme yang akut.😆


Ki-ka:Load, ReLoad

1996-1997
Album selanjutnya adalah saudara kembar Load dan ReLoad (1996-1997). Di album ini, Metallica betul-betul jadi band hard rock. Jejak thrashnya lenyap, dan walhasil dihujat oleh fans. Berhubung penjualannya masih cukup lumayan, fans pun makin curiga dengan nafsu Hetfield dan Ulrich untuk mengeruk uang. Sindiran yang terkenal pada era ini adalah menyebut Metallica sebagai “Lica”, “karena sudah tidak Metal lagi”. Kalau Anda dengar musik di era ini, memang sangat berbeda. Saya tidak bilang jelek, tapi kok terlalu biasa untuk band sekaliber Metallica. Metallica memang mungkin masih berupa band yang bagus, tapi kelihatannya sudah tidak pantas disebut dewa.

2000
Tahun 2000, Metallica yang semakin tua ini tidak berhenti berbuat dungu. Ulrich, sang wakil kapten, ribut dengan Napster menyoal pembajakan (Napster adalah jasa file sharing). Buntutnya Napster pun gulung tikar. Terlepas dari perkara hukum, ini membuat fans murka. Metallica yang pada tahun 80-an menjadi simbol gerakan bawah tanah, di dekade selanjutnya menjadi rocker-rocker komersil kaya-raya berperut buncit. Buat fans, Metallica sudah mati.

2003


St. Anger

Tiga tahun sesudahnya, Metallica bertingkah lagi. Proyek yang dibikin adalah St. Anger. Sang kapten (Hetfield) berencana membuat album dengan gaya nu metal yang sedang tren, tanpa solo gitar sama sekali. Wakil kapten (Ulrich) setuju, tapi dua personil lainnya tidak terima. Ajudan (Hammett) merasa dikebiri karena tidak boleh bersolo, dan mulai uring-uringan, ditandai dengan mengeluarkan carut marut lebih sering dari biasanya. Kacung (Newsted) malah mengundurkan diri. Fans pun geleng-geleng.

Hasilnya? Ternyata tidak terlalu bagus. Secara umum biasa-biasa saja, dan dengan standar Metallica, luar biasa rusak. St. Anger (2003) gagal total. Menurut orang, Metallica sebaiknya pensiun saja. Sudah kepala empat, dan sudah kehilangan touch-nya.

Metallica Episode #5: Death Magnetic

Metallica sudah semakin tua. Satu dekade terakhir gagal total. Era keemasannya sudah usai. Daripada membuat malu lagi, lebih baik pensiun, mungkin? Tapi Metallica belum selesai. Mengisi kekosongan Newsted, Metallica merekrut Rob Trujillo setelah sesi St. Anger, dan mulai bekerja.


Anak baru.

Hasilnya adalah Death Magnetic. Di sini duo Hetfield-Ulrich sudah lebih mawas diri, dan mulai kembali ke akar thrash metal mereka. Entah motivasinya apa. Apakah memang selama ini sengaja membuat musik komersil lalu tobat? Atau memang sedang mood mencoba hal-hal lama?

Yang jelas, Death Magnetic memang menyajikan materi thrash a la Metallica era trilogi Ride-Master-Justice.😛

Mari kita lihat dulu track listing-nya;

  1. “That Was Just Your Life” — 7:08
  2. “The End of the Line” — 7:52
  3. “Broken, Beat & Scarred” — 6:25
  4. “The Day That Never Comes” — 7:56
  5. “All Nightmare Long” — 7:57
  6. “Cyanide” — 6:39
  7. “The Unforgiven III” — 7:46
  8. “The Judas Kiss” — 8:00
  9. “Suicide & Redemption” — 9:57
  10. “My Apocalypse” — 5:01

Menurut Metallica, album ini adalah semacam hybrid dari Metallica era bawah tanah yang legendaris (episode 2), dan Metallica yang tersohor di mata publik mainstream (episode 3). Atau, lebih dramatisnya, “missing link between Justice and the Black Album“, or so they say.

Lalu, sudah mendengarkan musiknya?

Ya. Saya sudah download albumnya. Ilegal, tentu. *bersembunyi dari Lars Ulrich*

Betulkah “kembali ke akar”?

Memang betul; terkesan seperti campuran antara Metallica era bawah tanah dan Black Album, dengan elemen dari Load/ReLoad juga. Musiknya cadas, dengan riff yang menyerupai gaya dari Black Album, namun kompleks seperti pada trilogi legendaris mereka. Sedangkan vokal, memang sangat Load-ish. Vokal Hetfield terus berevolusi sejauh ini, dan rasanya (termasuk faktor umur juga) mustahil untuk kembali ke gaya teriakan khasnya tahun 80-an. Nyanyian Hetfield yang dipakai adalah era 90-an; suara bapak-bapak galak yang lebih merdu dan melodik.

Beberapa lagu seperti “All Nightmare Long” dan “The Unforgiven III” memang bunyinya sangat Load, tapi di lagu-lagu lain, “That Was Just Your Life” atau “My Apocalypse” misalnya, memang mesti diakui tidak komersil—sangat thrash. Betul-betul seperti lagu Metallica tempoe doeloe.

Ha. Track pick?

“Suicide & Redemption”.

Jadi, Metallica is back?

Saya tidak tahu. Secara kasar mestinya iya. Tapi kadang musik itu menurut saya sangat tergantung pada citra. Pada imagery. Secara musik Metallica bisa saja kembali ke era 80-an, tapi secara citra, tidak akan pernah.

Metallica pada tahun 80-an dipandang sebagai para jenius yang mendobrak musik populer dan turut menciptakan thrash. Metallica yang sekarang dipandang sebagai dewa yang menghabiskan satu dekade lebih membuat musik yang tidak konsisten dengan “etika bawah tanah”, dan sempat jadi lebih radio-friendly. Terkadang, pendengar tidak bisa melepaskan pikiran mereka dari catatan kecil itu ketika mendengarkan Metallica.

Jadi secara pribadi, saya kira ada tiga penghalang atas “kembalinya Metallica yang lama” ini;

Pertama, suara yang dihasilkan sudah berbeda. Sudah tidak se”kotor” album-album yang lama. Vokal Hetfield pun sudah lain; ini penting, sebab sulit menganggap bahwa “ini Metallica lama” kalau dibawakan dengan suara Hetfield “baru” yang sudah akrab disandingkan dengan lagu-lagu era kemerosotan Metallica tersebut. Silakan dengar lagu-lagu lama Metallica yang dinyanyikan oleh mereka di konser-konser tahun 90-an. Feel-nya tidak sepenuhnya sama, walau lagunya ya jelas tidak berbeda sedikitpun. Ini makanya, kalau sekalipun mereka bisa membuat materi gaya lama, tetap akan “terdengar seperti lagu dari era 90-an”.

Elitis-elitis metal boleh berkoar-koar tentang kemurnian musik dan segala macam, tapi kayaknya tidak sesederhana itu.

Kedua, ya itu tadi. Citranya sudah lain. Auranya tidak sama. Saya percaya kalau disposisi musisinya itu berperan besar dalam musiknya sendiri—musik akan jadi “lain” kalau dinyanyikan oleh vokalis biasa dan oleh gadis kecil tunanetra yang imut-imut, misalnya. Aura seperti ini sering “meresap” ke musik, jadi jangan heran kalau musisi-musisi yang legendaris semuanya punya karisma yang kuat. Itu bukan kebetulan. Pada kasus Metallica, sulit untuk mendapatkan feel “dewa bawah tanah” itu lagi dengan semua yang telah terjadi. Bukan berarti catatan itu jelek, tapi ya, tidak sesuai lagi dengan aura “Metallica klasik” yang hendak ditampilkan.

Nah, yang ketiga, elitisme itu sendiri. Komunitas metal (juga komunitas lain seperti punk) dikenal elitis dan cenderung anti dengan kesuksesan material dan popularitas mainstream. Dari banyak audiens yang mengaku sebagai “penggemar Metallica, tapi yang 80-an saja”, saya yakin cukup banyak yang (sadar atau tidak sadar) bersikap demikian karena Metallica klasik tersebut lebih obscure. Lebih tidak komersil. Lebih hardcore. Mereka tidak menyukai Metallica yang muncul di MTV, mungkin karena itu adalah MTV. So, mungkin tidak terlalu realistis untuk berharap mereka menganggap “Metallica telah kembali” kalau Metallica yang sekarang masih merupakan top tier di musik mainstream.

Kesimpulannya, menurut pendapat saya, secara keseluruhan Metallica sepertinya tidak akan pernah bisa kembali ke era 80-an. Secara bunyi mungkin bisa mendekati, tapi musik mestinya lebih luas dari itu.

Jadi, tidak bagus?

Saya tidak bilang tidak bagus. Saya bilang, Metallica tidak bisa “kembali” seutuhnya.

Apa mereka memang mesti “kembali”?

Saya sendiri bukan pendukung paham “Metallica harus yang era klasik”—walau saya memang lebih suka Metallica versi trilogi + The Black Album. Yang era hancur-hancurannya pun saya kira tetap bagus-bagus saja. Yang malapetaka seperti St. Anger pun saya masih ada yang suka. Termasuk Death Magnetic ini; terlepas dari apakah mirip Metallica kuno atau modern, atau di tengah-tengah, saya rasa album yang bagus. Lebih bagus dari album-album terakhirnya, walau belum sebagus empat album favorit saya yang saya sebutkan.

So, Death Magnetic is…

A good album. Decent to relive the old days.🙂

Saya belum dengar cukup lama, mungkin belum terbiasa. Namun sejauh ini, cukup memuaskan. Tidak jelek untuk bapak-bapak kepala empat, mengingat pemuda-pemuda di dunia musik populer Indonesia pun rasanya tidak sekeras ini.

Rating? Out of five.

Rating bisa berubah-ubah sesuai mood. Tapi saat ini, 3,5.

Kesimpulannya, Death Magnetic bukanlah karya yang mengecewakan seperti St. Anger. Kalau Anda belum pernah mencoba Metallica dan menyukai musik cadas, rasanya mesti dicoba. Kalau meyukai yang lebih pelan (atau hanya menyukai balada mereka seperti “Nothing Else Matters”), di sini ada lagu-lagu yang lebih lembut seperti “The Day That Never Comes” atau “The Unforgiven III”.

Seterusnya, kalau Anda fan lama yang menyukai Metallica secara konstan, maka pastinya tidak akan kecewa. Nah, kalau tergolong fan Metallica spesialis versi 80-an (ini banyak sekali), mungkin bisalah menangkap feel yang hilang selama 17 tahun itu. Tapi jangan mengharap sama persis, karena masa lalu tetap masa lalu.😀


Graaaaa~

Salam.

62 thoughts on “Death Magnetic

  1. maaf jika isi pesan berikut mengganggu aktivitas kamu.. aku cuma mau kasih tau aja, ada sebuah situs social bookmarking yang berisi kumpulan berita-berita menarik yang paling update diseluruh indonesia,dan memang situs ini berbasis bahasa indonesia… klo nggak keberatan tolong cek situs ini yah.. semoga bermanfaat..

    >>> http://www.lintasberita.com

    coba di share aja semua tulisan km di situs itu ,mudah2an bisa membantu naikkan traffic blog ini ,keep up the good post ok.. btw.. ever thought bout adding lintasberita’s widget?? cek disini aja yah

    >>> http://www.lintasberita.com/tools.php

    thanks…. sory klo keliatannya spamming.. but seriously… im just helping you out here…

  2. Dalam situasi yang hampir mirip, oleh sebagian “elitis”, U2 juga kerap dipandang tidak lagi mengusung musik “seperti dulu”… Utamanya sejak Achtung Baby dirilis… Banyak juga yang mengaku fans U2 tapi hanya sampai With or Without You dan Sunday Bloody Sunday, dan tidak mengenal lagu-lagu dari Zooropa yang dianggap gagal itu…

    Parahnya, ketika U2 memutuskan berhenti ber-elektronika, dan kembali ke jalur Rock&Roll, sebagian kalangan justru mencibir dengan mengatakan mereka bersikap konformis dan hanya membuat “Joshua Tree baru”… Hwehehe…

  3. Entah kenapa IMO album ini masih kalah dibandingin jaman 80an…
    Mungkin aku masih terkena euforia waktu jaman muda dulu (emang aku lahir tahun berapa :P)

    Aku kemarin denger beberapa lagu dari album ini dan kesannya masih 90an…barangkali karena terlalu terpaku dengan vokal Pakde Hetfield…seperti yang kamu tulis🙂

    Nah, kalau tergolong fan Metallica spesialis versi 80-an (ini banyak sekali)

    I am one of those😀

    *setel One*
    *setel Motorbreath*

    Hail Kliff Burton!!!!

    Hmm…kalo ga salah ada juga yang lebih parah, dengan hanya menyukai Metallica era Mustaine (nah lo..)

    BTW tahu band Sunn O))? Mereka mengcover From Whom The Bell Tolls dengan judul “F.W.T.B.T (I Dream of Lars Ulrich Being Thrown Through the Bus Window instead of My Master Mystikall Kliff Burton)”😆

  4. Ralat dari yang atas :

    Sunn O))), bukan Sunn O)) (kurung tutupnya kurang 1)

    @p4ndu_454kura®
    Aku kemarin cek di Imeem ada banyak lagu dari album ini.

  5. @ C4ndra

    Yang berbau-bau kematian rasanya paling kental di era trilogi itu dulu. Beberapa lagu punya tema kematian yang unik dan tidak klise, misalnya “One” (euthanasia), “Ride the Lightning” (etika hukuman mati), atau “Blackened” (kepunahan umat manusia).😀

    @ p4ndu_454kura®

    Silakan search nama-nama album yang hendak dijajal melalui FilesTube. Semuanya ada.🙂

    Kalau tergolong tidak terbiasa dengan musik seperti ini, mungkin bisa mencoba lagu-lagu yang lebih punya hook;

    + “For Whom the Bell Tolls
    + “Sanitarium

    @ admin_math

    Saya juga mau tutup warung, jadi silakan lah.😕

    @ Amed

    Sebenarnya serba salah, mas.😀

    Tidak berubah-ubah: Mentok.
    Ganti gaya: Sellout.
    Ganti gaya, lalu kembali: Mencoba merintis kejayaan lagi (sellout juga).

    Saya tidak tahu kalau itu juga terjadi pada U2. Tapi bukannya semua yang aneh-aneh itu akhirnya ditebus dengan All That You Can’t Leave Behind?😛

    @ dnial

    Fans yang tidak pernah puas.😀

    @ spidolhitam

    Metal is King.:mrgreen:

    @ lambrtz

    Entah kenapa IMO album ini masih kalah dibandingin jaman 80an…

    Buat saya juga begitu. Bukan masalah suaranya (lagu-lagu lama yang dibawakan ulang saya kira masih epik, misalnya S&M), tapi memang lagunya tidak sekuat dulu. Bagus memang, tapi tidak sekuat dulu.

    Aku kemarin denger beberapa lagu dari album ini dan kesannya masih 90an…barangkali karena terlalu terpaku dengan vokal Pakde Hetfield…

    Ya soalnya kalau mendengar raungan yang seperti itu, yang terbayang langsung lagu-lagu era pertengahan 90-an seperti “Ain’t My Bitch” atau “Fuel”.:mrgreen:

    I am one of those😀

    *setel One*
    *setel Motorbreath*

    Saya bukan spesialis sih, tapi memang lebih suka itu.😀

    *setel “Leper Messiah”*
    *setel “Dyer’s Eve”*

    Hail Kliff Burton!!!!

    Hail Kliff Burton!

    Personil favorit saya memang Burton dan Newsted.😀

    Hmm…kalo ga salah ada juga yang lebih parah, dengan hanya menyukai Metallica era Mustaine (nah lo..)

    Era demo tape, ya?😕

    BTW tahu band Sunn O))? Mereka mengcover From Whom The Bell Tolls dengan judul “F.W.T.B.T (I Dream of Lars Ulrich Being Thrown Through the Bus Window instead of My Master Mystikall Kliff Burton)”😆

    Tentu.😆

    Memang akan lebih baik kalau Ulrich yang tertimpa bus (ini sekali saja cukup, soalnya kerdil), tapi tidak tahu juga—soalnya Ulrich ini yang banyak mencipta lagu bersama sang Komandan (Hetfield).😕

  6. Review yang bagus, nak. Metallica tobat dan kembali ke jalan yang benar.😀 Dan kita kembali mempersoalkan benturan selera pasar dan apa yang dikononkan sebagai idealisme bermusik. Kenapa sih, semua artis hebat yang mengambil karir middle-of-the-road diejek habis-habisan? Seni di tangan publik awam pun ternyata bisa sangat elitis dan eksklusif. Dan lebih parahnya lagi, kok sebenarnya fans dari band tertentu itu mirip-mirip fundies yang anti-perubahan yah.

    Kalo menurut saya sih, sebenarnya band-band macam Metalica, U2 dan Aerosmith itu memang harus berubah, lentur dan korformis pada pasar, karena musik mereka dari awal memang sudah musik pasar, musik anak SMP.:mrgreen: Kalo selera musik berubah, misalnya orang mulai suka Pearl Jam, Nirvana, Guns N Roses, Duran Duran atau the Cure, mengapa Metallica masih sok metal? Lah wong mereka udah memasarkan diri. Pasar berubah, mereka berubah dong. Aerosmith aja pernah ngehip-hop.

    Beda misalnya dengan band-band progrock atau gitaris platonik macam Steve Vai dan Satriani yang memang biasa melakukan eksplorasi dalam bermusik, dan tidak dibatasi oleh genre. Fasnya malah protes kalo mereka gitu-gitu aja. Kita emang biasa pigeonhole musisi dalam industri musik, tetapi sebenarnya kebiasaan ini gak berlaku di ranah seni yang sesungguhnya. Kalo kita lihat band-band macam Discus yang tampilnya di GKJ atau teater kecil TIM, bukan di Senayan, maka musik mereka bisa jauh lebih eksploratif, dalam artian lintas genre. Jadi seni itu soal pengalaman estetis, bukan ideologi yang mengekang gituloh. Haryo Wisanggeni, misalnya, suatu kali merasa perlu bikin musik dari keramik dan nanti lumpur Lapindo. Dia kerjain aja dan nggak ada yang nonton.😀

    *mulai ngelantur*

    Yah pokoknya begitulah, pokoknya saya lebih suka metallica yang lebih middle-of-the-road.:mrgreen:

  7. Saya tidak tahu kalau itu juga terjadi pada U2. Tapi bukannya semua yang aneh-aneh itu akhirnya ditebus dengan All That You Can’t Leave Behind?😛

    Sayangnya, justru All That You Can’t Leave Behind inilah yang dianggap sebagai Joshua Tree baru itu…👿

    [link]

  8. @ lambrtz

    @ gentole

    Dari atas sampai bawah saya setuju.😀

    Betul. Ini kadang membuat saya bingung. Musik itu sering terlalu scene-oriented; yang terjun ke scene punk dituntut konsisten nge-punk, yang ke metal dituntut konsisten membawakan metal, dan seterusnya. Jadi, ya, dibikinkan semacam pigeonhole.

    Nah, kalau ada yang berani berselingkuh dengan mencoba genre baru, maka musisi tersebut akan dicap sebagai Judas (bahkan Bob Dylan pernah literally diteriaki demikian).

    Lho, kenapa demikian? Pembelaan yang umum adalah bahwa mengkhianati scene berarti menukarkan integritas musik dengan keuntungan finansial. Ya, memang benar, mungkin ada band-band yang seperti itu (susah untuk mencari alasan lain atas berubah drastisnya musik A.F.I., misalnya), tapi ini ‘kan berarti membunuh kebebasan bereksplorasi musisi itu sendiri?

    Jadi, sebenarnya yang patut dipersalahkan di sini adalah fans, yang entah kenapa merasa memiliki si musisi dan berhak menentukan arah karya-karyanya. Silakan gonta-ganti. Silakan bikin musik yang seidealis mungkin, atau yang sekomersil mungkin—terserah. Kalau suka, dengarkan. Kalau tidak, tidak usah. Sederhana, tho?

    Pearl Jam tidak pernah menjual album yang laku setelah Vs. tahun 1993. Toh Eddie Vedder jalan terus. Radiohead membuat frustrasi pihak rekaman dengan membikin album yang aneh pada tahun 1997 (Kid A), kebetulan aja laku.

    Discus

    Ini band dari dulu saya cari lagunya kok nggak dapet-dapet, ya?😦

    @ Amed

    Album-album U2 yang saya dengar sepenuhnya semuanya dari era pra-eksperimen mereka (War, Unforgettable Fire, Joshua Tree, dst.), jadi, tidak tahu juga.😕

    Album modern yang saya dengar cuma Dismantle, jadi era eksperimen itu tidak pernah saya rasai (kecuali beberapa lagu saja).

  9. Ini band dari dulu saya cari lagunya kok nggak dapet-dapet, ya?😦

    Discus kan band indie, jadi emang susah didapet. Di Indo paling di Aksara atau ada tuh toko digital music di Grand Indonesia. Mungkin disana ada.

  10. Apa hubungannya? ^^;;

    Hetfield sudah 45 tahun. Apa mau dikata? Band ini sudah berusia 27 tahun.😆 Mereka boleh dikatakan adalah dewa metal murni yang pertama, 20 tahun setelah proto-metal-nya Black Sabbath.🙂

    Waktu mereka jadi “dewa”, itu sudah 25 tahun yang lalu…

  11. Hmmm.. dari sisi Slank sebagai band yang paling saya ikuti, baik itu track musiknya maupun yang perjalanan Hidup.

    Banyak Slankers yang mentok sampai album: Minoritas (contohnya Bang Arifkurniawan dan Whitegun) Karena setelah Album itu, Slank buat Slankers ga minoritas lagi musiknya meski masih menyuarakan suara para kaum kecil.

    Buat saya Metallica adalah formasi dari album: And Justice for All – Black. Karenanya buat saya lagu barat terbaru adalah Enter Sandman. atau sekarang malah maju jadi Father and Son😀

    Sementara 3 album sebelumnya adalah masa masa pencarian jatidiri mereka: Setelahnya? Load dan Reload adalah proyek komersil berbumbu idealisme dalam bermusik, sama seperti Slank Songo (Black+Blue), Virus, Satu Satu, Road to Peace, PLUR, hingga Slankkisme. Slow but Sure sampai yang terkahir mulai kembali, meski tentunya juga ga 100 persen seperti halnya Metallica. Apalagi di Album keenambelas Slank suara keyboard kembali, membuat musiknya seakan bernostalgia dengan Slank dengan formasi ketika masih ada Indra Qadarsih.

    Dari sisa sisa spiritnya pada album 90’an Metallica, saya suka lagu slownya macam Mama Said dan The Unforgiven II.

    Konser S&M menurut saya adalah prestasi puncak secara musikalitas buat Metallica, sementara Slank pada Rockhestranya Erwin Gutawa ketika Slank main barang Gigi dan Dewa 19. Meski demikian Slank masih bergeliat pada setiap konser ultahnya. Metallica dalam MTV icon juga merasakan lagu lagunya dibawakan musisi lain.

    Intinya, saya masih ga tertarik untuk mengikuti lagi Metallica setelah S&M. atau mungkin 10 tahun lagi baru saya dengarkan St. Anger. tapi untuk album baru ini, bolehlah saya coba…..

    *ngumpulin duit buat beli CD originalnya*

  12. Eh iya, kelupaan: katanya Megadeth itu ada dua. Megadeth-nya David Mustaine dan Megadeth yang gitarisnya bukan David. Bener ga sih? Kamu tau soal ini?

    Secara perbandingan: Mustaine emang lebih jelek daripada Hammet kok. Menurut saya setelah membandingkan sound sound dan style gitar lagu lagu Metallica maksudnya. *just my own opinion*

  13. @ Mr. Fortynine

    Sepertinya setiap band yang karirnya panjang mengalami hal seperti ini, ya? Lumrah ternyata.

    Saya sendiri suka dengan album S&M, tapi entah kenapa tidak terlalu populer di kalangan fans.

    Eh iya, kelupaan: katanya Megadeth itu ada dua. Megadeth-nya David Mustaine dan Megadeth yang gitarisnya bukan David. Bener ga sih? Kamu tau soal ini?

    Tidak.😕

    Secara perbandingan: Mustaine emang lebih jelek daripada Hammet kok. Menurut saya setelah membandingkan sound sound dan style gitar lagu lagu Metallica maksudnya. *just my own opinion*

    IMO memang Hammet ada di atas Mustaine (walau kemampuan menulis lagunya tidak bisa diremehkan), tapi Marty Friedman? Nanti dulu…😉

    @ lambrtz

    Motörhead hanya punya Ace of Spades di daftar masterpiece, dan saya tidak terlalu suka Venom.

    *ngotot*

  14. wah analisisnya tepat bgt. trilogy+black secara komersial juga paling sukses, empat2 nya dalam 17 thn terakhir ga pernah keluar dr billboard catalogue album (chart album lama yg masih terjual terus) dan platinumnya juga plg banyak.(5,6,8 dan 14).Load/Reload tidak jelek, malah bisa dibilang houses of the holly nya metallica, karena di sini mreka masukin unsur country, alternatif dan blues.Sebagai eksperimen nu metal, St anger boleh aja, tp keliatannya mereka mengcopy style system of a down, jadinya ya terdengar membosankan,krn system of a down,punya kelebihan yaitu refrein2 lagunnya yg ear catchy,sementar di St Anger, datar semua lagunya (mungkin klo rubin saat itu udah produser, hasilnya lebih baik).Lebih tepat klo tadinya mereka (just suggestion) bereksperimen dengan effect seperti KORN atau RATM.
    Kalo dibilang kualitas musik menurun, rasanya wajar aja, seandainya beatles dan zeppelin masih ada pun, rasanya mustahil menghasilkan karya2 besar seperti th 70 an. Contoh paling tepat mungkin rolling stones, yg konsernya masih dipadati penonton, tp byk kritisi bilang secara recording mreka udah tamat sejak 1 dekade lalu. Lagipula memaksakan metallica menghasilkan puppet lagi ya ga rasional, jaman udah berubah, musik berubah, dan secara umur, impossible mreka punya rebellion spirit yg sama seperti 20 thn lalu, saat ini mereka sudah mapan, punya anak2, fase kemarahan itu udah lewat, ini pengakuan ulrich sendiri dalam sebuah interview.Vokal james sendiri keliatannya sudah tererosi, mungkin karena tour black yg 3 thn nonstop, dan hammet juga menggunakan sound yg apa ya, tidak terlalu metal mungkin,pola drum ulrich juga berubah, jadi ya ga mungkin sama dengan 20 thn lalu.
    Album metallica lebih tepat disebut vintage, kaya anggur, yang makin lama makin nikmat, pada awalnya tidak terlalu berkesan, makin lama makin terasa. Ini pengalaman pribadi, sewaktu awal2 jadi fans, setelah denger black, mulai beli kill, ride sampai and justice, pertama denger terus puyeng,”apaan nih, apa ini band yg sama dengan yg bikin black?” tapi makin ketagihan, waktu denger load, juga “knp metallica jadi begini???”tapi ternyata itu album yg bagus juga, mudah2 an album baru ini juga bisa berkesan.

  15. Hmmm, rasanya memang aneh bila band favorite tiba-tiba banting stir.. Saya kurang begitu tahu soal Metallica, tapi saya juga merasakan keanehan itu saat band favorite saya, Linkin Park, jadi lebih “mellow” di album terbarunya ini.

    Tapi, menurut saya, yang namanya nge-fans pada sebuah band itu ibarat memeluk sebuah agama *hiperbol*
    Tak hanya mengerjakan amalan-amalan yang mudah, tapi yang sulit pun harus ikut dijalani. Jadi, sehancur apa pun band favorit saya nanti, saya tetap mengakui bahwa itu adalah band favorit saya.. meski sesekali juga mengumpat-umpat..:mrgreen:

  16. @K.geddoe
    Sori OOT.
    Apa betul posisi Anda di Bandar Sunway, Kuala Lumpur?
    Wah bisa ketemu nih:mrgreen:

    @aldi

    seandainya beatles dan zeppelin masih ada pun, rasanya mustahil menghasilkan karya2 besar seperti th 70 an

    Lagu The Beatles (sebenarnya karangan John Lennon sih) yang dirilis 1990an (Real Love dan Free As A Bird) menurut saya masih mBeatles (atau ngLennon?) banget…ga tahu lah, mungkin saya bias…hehehe😀

    (OOT lagi…duh…)

  17. @ aldi

    Yup. Saya sendiri meskipun lebih menyukai Metallica “klasik”, merasa bahwa sedikit berlebihan kalau “trilogi hancur” Metallica itu (Load, ReLoad, St. Anger) dikatakan sebagai album yang jelek. Memang sangat jauh kalau dibandingkan dengan karya mereka sebelumnya, tapi rasanya apabila disejajarkan dengan metal/hard rock mainstream lainnya, masih bisa dikatakan bermutu.

    Saya sendiri tidak terlalu peduli sejelek apapun album yang akan Metallica buat setelahnya. Tugas seorang musisi bagi saya adalah menciptakan sebuah masterpiece. Kalau tugas itu sudah ditunaikan (di kasus Metallica, Master of Puppets), mau berbuat apapun terserah saja.😀

    Lagipula, Metallica sudah kepala empat. Tidak realistis mengharapkan insting muda mereka seperti dua puluh tahun yang lalu untuk datang lagi. Belakangan mereka tertangkap belanja di Armani. Fans pada ribut. Saya sih tidak keberatan.😆 Rasanya fans Metallica yang lama memang sedikit terlalu elitis. Tidak realistis kalau seorang ayah seperti Hetfield dan kawan-kawan dipaksa memakai gimmick blue-collar terus menerus dan tidak boleh menikmati hasil kerja mereka bersama keluarga.

    @ Nazieb

    Saya kok malah suka dengan lagu super ngepop-nya itu?:mrgreen:

    Lebih pas dibandingkan dengan lagu-lagu a la screamo yang dipakai sebelumnya.

    @ lambrtz

    Tidak. Sekarang saya ada di Nilai.🙂

  18. wah kl gt, saya bukan fans sejati metallica donk…br ngefans stlh album black-nya itu.
    yah emang, sebatas suka doang, secara aku sulit menerima genre trash.

    soal U2, iya nih, aku setuju ma amed. tp sampe album zooropa, masih oke lah. mulai basi setelah yg ngajak duet boyzone itu loh. secara umum, musik mrk masih enak, tp ‘getaran’ yg ditimbulkan hingga sampe menggetarkan jiwa, itu yg udah hilang.

    ged, gimana kl kamu review red hot ??:mrgreen:

    aku baru suka ma RHCP stlh album yg blood sugar sex magic je…yg seblm2nya kok gak ngeh, sulit diterima.

    *masih kuping populer*

  19. Boyzone di U2 itu bukannya cuma cameo?😕 *kurang paham U2*

    Yang di Video Klip Sweetest Thing? Yep cuma cameo alias model viode klip doang. Dulu pas pertama kali liat mikir, ngapain si Boyzone di VK U2 tapi enggak nyanyi.

  20. Wow… ternyata banyak banget fans Master of Puppets / Ride the lightning / And justice for all….

    Pilihan kata-katanya saya suka tuh untuk ketiga album tersebut, atau saya sebut juga “Megah”.

    Kalau mendengar “and justice for all”, kadang saya sampai terharu sendiri.
    Jarang saya menemukan paduan antara musik yang bagus dengan lirik yang peduli / sosial.

    OK, donlod….! (hey, dulu saya sudah beli album aslinya kok🙂 )

    Justice Is Lost
    Justice Is Raped
    Justice Is Gone
    Pulling Your Strings
    Justice Is Done
    Seeking No Truth
    Winning Is All
    Find it So Grim
    So True
    So Real

  21. Betul, memang kesan pertamanya memang “megah”. Auranya stadium rock sekali.🙂

    Kalau mendengar “and justice for all”, kadang saya sampai terharu sendiri.
    Jarang saya menemukan paduan antara musik yang bagus dengan lirik yang peduli / sosial.

    Hehehe, kalau sekarang Metallica tidak memainkan musik berbau sosial seperti itu lagi, sayangnya. Tapi Megadeth masih konsisten; mungkin Mas boleh mengecek ke sana (atau malah sudah koleksi?🙂 ).

    BTW saya sering merasa aneh dan déjà vu ketika mendengar Justice. Mungkin karena dulu pernah mendengarnya waktu kecil, tapi menurut orang tua saya, tidak ada kaset Metallica di rumah seaktu itu. Mungkin di sekolah? Entahlah.:mrgreen:

  22. album lebih laku = sell out??
    ride the lightning lebih laku dr kill em all = sell out??
    master of puppets lebih laku dr ride the lightning = sell out??
    and justice for all lebih laku dr master = sell out???

  23. Ikutan komen ttg Metallikatz….
    Ada satu yg terlupakan mas dan mbak… kalo besarnya Metallica bukan hanya dari sisi pendengar musiknya saja loh …. kalo dianalisa hanya dari sisi pendengarnya saja memang makin kemari … makin terjadi divergensi penilaian atas karya-karya musiknya…. dari speed, trash, hardrock, rock…sampai gak tahu lagi kasih label musiknya Hetifield dkk ini ……

    Tapi saya mau kasih tambahan penilaian bahwa terlepas dari para pendengar musiknya … ada komunitas yg ikut membesarkan mereka yaitu generasi para remaja yg menginjak dewasa saat tahun 80-90an yg tertarik musik bukan hanya sebagai pendengar tetapi juga PEMAIN MUSIK … banyak komunitas ini dr seluruh dunia yg BELAJAR dari METALLICA bagaimana bermain musik dengan memainkan LAGU-LAGU METALLICA…..

    Komunitas ini yg belajar meresapi perjalanan musik Metallica dengan pertama kali meniru memainkan musik-musiknya …. inilah yg sangat menarik …. cobalah tanya komunitas ini yg mungkin sekarang ini berumur sekitar 30-an juga sdh jd bapak2 spt Hetfield dkk … Komunitas ini BELAJAR dan BERKEMBANG bersama METALLICA …. so DOES METALLICA … METALLICA juga BELAJAR dan BERKEMBANG … sebagai kumpulan manusia mereka juga berhak TUMBUH dan BERKEMBANG termasuk karya musiknya …..

    Kill ’em All bg saya sangat luar biasa … bisa main riff gitarnya sambil nyanyi bak Hetfield di ahampur seluruh lagu … meski dengan menebak-nebak… itu sebuah pembelajaran yg berharga bg sy pribadi … dan saya yakin komunitas spt saya di seluruh dunia banyak .. sekali ….

    Belum lagi tantangan NGULIK riff-riff gitar di Ride The Lightning …. mulai “creeping death” … yg ampun susahnya main giar sambil nyanyi ini menjadi tantangan tersendiri … ‘for whom the bell…” bener2 menjadi magnet untuk nyari tahu bagaimana sih Burton main INTRO bassnya … sound yg dipakai kayak apa sih … kita semua saat itu belajar musik dengan menjadi PENIRU METALLICA …

    Proses ini hampir berjalan hingga 95-an sampai album SELF TITLE The Black Album … asih banyak yg menjadi peniru Metallica di studio2 musik, di panggung festival Band di seluruh dunia yg memainkan lagu-lagu mereka … bahkan Lagu kayak “My Friend of Musery ” ada yg mainin persis tapi tanpa vokal kyknya sih org Mandarin … (lihat di youtube.com…).. EDAN … masih ada yg NGULIK lagu Metallica …. di jaman kayak gini … di saat genre rock baru bermunculan ….

    Dan saya semenjk keluarnya LOAD-RELOAD sudah jarang bersentuhan dengan dunia studio musik, apalagi festival rock …. sejalan dengan bertambahnya usia … mulai kerja … memimpin keluarga … paling2 riff gitar lagu2 Metallica hanya dimainkan solo saja .. tanpa partner tdk seperti dulu saat remaja .. tp ini menjadi memori tak terlupakan … sampai umur menginjak 30-an …

    Dan memang sejak 2 album kembar itu … sdh jarang remaja jaman itu memainkan karya-karyanya … karena apa … pertama genre rock sekarang yg lbh menawarkan simplicity … tampang komersil … bandingkan dengan sang Master … tampang bapak2 … seremm … apalagi karyanya yg cenderung RUMIT (ini alasan kedua … karyanya menurut saya semakin rumit) kalau dimainkan di studio apalagi di atas panggung festival …. bandingkan dengan tahun 90-an jika ada yg bawain Master of Puppets di atas panggung … seluruh penonton dr berbagai genre SATU KATA ber HEADBAnger ikut goyang .. kecuali penggemar musik SKA kala itu ….

    Jadi dari kacamata saya, lagu2 METALLICA jaman dulu dulu lebih SIMPEL dibanding yg sekarang justru lebih RUMIT ….

    Lagu2 dulu bagus buat pemusik pemula untuk belajar …. sdgkan lagu2 sekarang mengeliminir komunitas PLAYER hingga hanya menjadi komunitas LISTENER dan tukang COMMENT saja … habis RUMIT dan MAKIN SUSAH dimainkan lagu2nya … jadi gak asik ….

    Ini berbeda dengan para tukang COMMENT yg cenderung menilai lagu2 dulu RUMIT sdgkan lagu2 sekarang SIMPEL itu SALAH besar ….

    Rumitnya lagu2 sekarang tidak terlepas bhw METALLICA juga BELAJAR untuk tumbuh dan berkembang menjadi apa yg diharapkannya … MEREKA PUNYA HAK ITU … so EVERYBODY LEARNS … itu saja …

    trims atas waktunya … ROVER WANDERER NOMAD VAGABONDS CALL ME WHAT YOU WILL …. WHEREEVER “THEY” MAY ROAM .. YEAH…

  24. Pingback: Entry #143 « RosenQueen, company.

  25. Tapi Megadeth masih konsisten; mungkin Mas boleh mengecek ke sana (atau malah sudah koleksi?).
    .
    Belum, nanti saya cek. Thanks rekomendasinya.
    .
    Selain Metallica klasik, saya juga koleksi beberapa album lama Sepultura. Lirik+musiknya juga sama, cukup menyentuh saya pribadi.
    .
    BTW saya sering merasa aneh dan déjà vu ketika mendengar Justice. Mungkin karena dulu pernah mendengarnya waktu kecil, tapi menurut orang tua saya, tidak ada kaset Metallica di rumah seaktu itu. Mungkin di sekolah? Entahlah.
    .
    Mungkin karena memang satu harmoni ia dengan nurani kita🙂

  26. jika ada yg bawain Master of Puppets di atas panggung … seluruh penonton dr berbagai genre SATU KATA ber HEADBAnger ikut goyang .. kecuali penggemar musik SKA kala itu ….
    .
    LOL….😀

  27. Oh Mas Harry malah tersentuh oleh Sepultura!!!??? Itu sih lagu-lagu abang saya yang kedua, dia sukanya yang keras-keras kayak Sepultura, Napalm Death, Slayer, Rotor, Tengkorak, Getah etc. Kalo kakak yang pertama sukanya yang nyekill, yang banyak showmanship model Yngwie, Joe, Vai, Extreme (Nuno) atau Van Halen (Eddy). Saya masih smp waktu itu, cuma bisa nerima Appetite-nya GNR dan Unplugged-nya Nirvana.😀 Karena lebih gaul.:mrgreen: Sekarang saya udah gak terlalu suka GNR dan malah lebih ngefans sama Extreme/Nuno. Sayang band ini gak terlalu laku. Padahal keren ini banget menurut saya. Agak intelektual.😀

  28. ulasannya komplit dan seru!

    saya inget pernah nonton video mereka jaman top2nya recorded tmn yg nyoba mempengaruhi saya sama musik mereka. prolog si hetfield panjaaaang banget!

    saya cuma bisa nikmatin master of puppets yang komplit. yang lainnya kapan nemu aja didengerin, tapi ga nyari. terlalu keras buat orang tua kayak saya.

    saya sih.. rock forever aja lah🙂

  29. Metallica with Newsted on vocal = metalgod

    Ah iya, jadi inget!
    Pernah nonton Metallica live yang bagian dinyanyiin Newsted.
    Kalo ga salah waktu Live Seattle 1989.
    Vokal growl, tampang bengis, urat menonjol, cocok banget dah!

    *hiperbola*

  30. @ oliverazaq

    Wah, terima kasih sudah berbagi.🙂

    Saya sepakat, memang kadang fanbase yang terlalu egois mengekang seniman-seniman tersebut. BTW Mike Portnoy dari Dream Theater (bos besar para drummer saat ini) ternyata menyukai album terbaru yang dibahas di atas, lho.😀

    @ harry | gentole

    Saya juga agak terkejut dengan selera Mas Harry ini.😀

    @ wyd

    Wah, itu tahun berapa, ya?😛

    @ Disc-Co

    Sepakat… Tapi belakangan justru jadi suka vokal Hetfield pasca Black Album, entah kenapa… Mungkin karena keras tanpa meraung?

    @ lambrtz

    Newsted di era-era awal 90-an memang sering dibagi jatah beberapa lagu untuk dia bawakan. Yang paling terkenal mungkin “Seek and Destroy”, yang memang jadi lagunya Newsted di awal 90-an.

    Yang jelas, kalau sudah dengar versi Newsted, versi aslinya langsung terkesan layu…😆

  31. Sedikit koreksi (mungkin aku juga salah)… justru masuknya Trujillo (yang notabene mantan basis Suicidal Tendencies, Infectious Grooves, Black Label Society) mengubah genre metallica (sebelum DM) ke arah nu-metal. trujillo masuk sebelum album ST.Anger dibuat…hal ini ditegaskan lagi dengan merekrut Rob Rock sebagai produser yang turut besar andil dalam mengubah genre Metallica.

    aku kurang setuju bila JAson Newsted disebut kacung, karena dalam beberapa konser live metallica, newsted justru tampak lebih bertenaga dibanding Burton.

    Mungkin kita sama-sama subjektif ya,hehe

  32. @ ershad

    Saya tetap lebih suka Suicide and Redemption.:mrgreen:

    @ exgelo

    justru masuknya Trujillo (yang notabene mantan basis Suicidal Tendencies, Infectious Grooves, Black Label Society) mengubah genre metallica (sebelum DM) ke arah nu-metal. trujillo masuk sebelum album ST.Anger dibuat…

    Trujillo direkrut setelah penulisan lagu St. Anger selesai. Bass di album tersebut dimainkan oleh Bob Rock.

    aku kurang setuju bila JAson Newsted disebut kacung, karena dalam beberapa konser live metallica, newsted justru tampak lebih bertenaga dibanding Burton.

    Saya menyebut Newsted “kacung” bukan karena kurang bertenaga atau apa, tapi karena memang beliau sering dikerjai dan direndahkan di belakang panggung oleh sesama personil Metallica (kecuali mungkin Hammett). Ini diakui sendiri oleh keempatnya di sebuah dokumenter (yang saya lupa namanya).

    Lucunya, alasan kenapa Newsted direkrut oleh Hetfield-Ulrich adalah itu; dia ‘bersemangat’ dan heboh di atas panggung.🙂

    Saya sendiri menganggap MacGovney < Trujillo < Newsted <= Burton.:mrgreen:

  33. *cek lagi*
    mana link donlotnya buat yang 1 album? masak saya harus dolan ke rapid library lagi?😀

    @ Mr. 49

    Secara perbandingan: Mustaine emang lebih jelek daripada Hammet kok. Menurut saya setelah membandingkan sound sound dan style gitar lagu lagu Metallica maksudnya. *just my own opinion*

    jelas! karena mustaine ndak meguru sama satrianto satriani. eh, tapi satriani akhir2 kok juga ngaco ya? ndak kayak jaman 80-90an:mrgreen:

  34. Review yg kesan nya : SOK TAU !!!!!

    * Jason Newsted keluar SEBELUM Metallica merencanakan buat album St.Anger.

    * Jason BUKAN kacung !!!! Kalo dia sering dikerjai & direndahkan, kenapa tidak keluar dari dulu ???? Dan kalo berita ini (dikerjai & direndahkan) pernah berhembus, kenapa pers (waktu itu sampai keluarnya Jason), TIDAK PERNAH mengangkatnya atau crosscek langsung ke Metallica. Jujur, aku baru tau nih ad berita ini (dikerjai & direndahkan) setelah sekian lama, hahaha.

    * Dan, kalo benar dia sering dikerjai & direndahkan, kenapa SETELAH dia keluar dari Metallica pun, dia TIDAK PERNAH ngomong kalo hal itu (dikerjai & direndahkan)pernah terjadi atau sebagai alasan dia keluar dr MetallicA. Skr, mana bukti dokumenter yg anda sebutkan ?????

    * Alasan utama Jason keluar dari Metallica adalah : dia SUDAH LAMA tidak bisa berekspresi diluar Metallica (boring), KARENA di Metallica, setiap member nya dilarang untuk membuat project musik diluar Metallica. Setiap member Metallica HARUS 100% di Metallica. Jason sendiri yg ngomong spt itu SETELAH keluar dr Metallica.(Source : DVD somekind of monster).

    So, better for u to enhance ur knowledge before u talk !!!!!

  35. @ Larz

    Tidak perlu mencak-mencak, saya bukan Lester Bangs.🙂

    1) Jason Newsted keluar sebelum St. Anger direkam. Nah kalau proses menulisnya, entahlah apa sudah dimulai. Lagipula dia jarang sekali terlibat proses menulis.

    2/3) Jason Newsted adalah kacung dan korban bully, setidaknya pada tahun-tahun awal. Semua orang juga tahu. Kenapa dia tidak keluar dari dulu? Mana saya tahu. Kenapa Anda baru tahu? Mana saya tahu juga.

    Coba lihat di [sini]. Saya tidak tahu itu dari dokumenter apa. Cuma itu link yang bisa saya ingat. Beberapa sisanya tersebar di YouTube juga.

    Kalau melihat video tribute Jason atau semacamnya juga keluhan tentang hal ini sering diungkit.

    4) Saya tidak pernah menyebutkan alasan Jason keluar. Pokoknya dia keluar. Alasannya menurut saya memang karena James dan Lars tidak mengizinkan personelnya mengikuti proyek lain.

    So, better for u to enhance ur knowledge before u talk !!!!!

    Terima kasih kembali.

  36. “Memang akan lebih baik kalau Ulrich yang tertimpa bus (ini sekali saja cukup, soalnya kerdil), tapi tidak tahu juga—soalnya Ulrich ini yang banyak mencipta lagu bersama sang Komandan (Hetfield).”

    * Kalo Lars yg mati, metallica bubar! Dia pendiri dan motor utama! Dia komandan utama.

    *”tapi tidak tahu juga—soalnya Ulrich ini yang banyak mencipta lagu bersama sang Komandan (Hetfield).”

    anda ini aneh, Lars Ulrich kan pendiri Metallica, bahkan dialah komandan UTAMA. Dan emg terbukti lagu ciptaanya bersama James lah yg membesarkan Metallica.

Comments are closed.