House of Cards

Mencoba menerapkan hipotesis yang kemarin, hari ini, waktu mood sedang mendung, saya mencoba untuk memecahkan masalah tersebut dengan situasi dan kondisi sekeliling yang sekondusif mungkin.

Sekitar pukul 11 malam, sehabis mandi, saya nyalakan AC sedingin-dinginnya, lalu tiduran sambil makan anggur tanpa biji dan minum sebotol Schweppes. Musik yang dinyalakan adalah yang agak teduh, Radiohead, dan didengarkan sambil membaca-baca skrip Macbeth.

Saya coba memecahkan masalah yang ada di tengah-tengah kondisi yang nyaman tersebut, dan pemikiran pun berusaha menginterpretasi segala yang ada dengan lebih positif. Masalah pun selesai.

Otak manusia itu benar-benar rapuh. Tapi peduli apa?

67 thoughts on “House of Cards

  1. Macbeth, “to do or not to do that is the question” things?
    I prefer more… err… contemporer.
    Try Scott Adams books, Religious War or God’s Debris.

  2. Otak manusia itu benar-benar rapuh. Tapi peduli apa?

    Itu artinya, manusia bukan cuma akal masbro.😀

    *teringat posting lama mas fertob*

  3. @ cK

    Lha?

    @ ManusiaSuper

    Sepertinya begitu.😉

    @ dnial

    God’s Debris saya sudah lama ingin baca, kayaknya menarik.😀

    @ sora9n

    Kok begitu? Bukannya berarti pemikiran manusia itu lebih moldable?😕

  4. @ K. geddoe

    Kok begitu? Bukannya berarti pemikiran manusia itu lebih moldable?😕

    Maksud saya, kasus ente di atas itu menunjukkan bahwa analisis/keputusan yang dibuat manusia dipengaruhi tidak hanya oleh rasio. Ada faculty-faculty lain yang juga punya pengaruh dalam cara kerja pikiran.

    Misalnya dalam kasus di atas. Lingkungan yang kondusif mempengaruhi keputusan, ini larinya ke mana? Emosi, berkaitan dengan “rasa”. Kecenderungan untuk jadi teis/ateis, larinya ke mana? Pengalaman batin, yang ujungnya ke spiritualisme. Memilih pacar (baca: romansa) pun belum tentu logis — bisa jadi ada faktor seksualitas yang berperan di situ. Just to name some.😉

    Jadi, wajar saja kalau lingkungan yang berbeda menghasilkan cara berpikir yang berbeda. IMO itu terjadi karena kita (manusia) memang dibekali sense yang lebar dalam memindai dunia.🙂

  5. @ gentole

    Itu mungkin karena masbro agak alergi dengan nihilisme.:mrgreen:

    @ sora9n

    Ya, di satu sisi mungkin bisa dideskripsikan dengan indah seperti yang masbro terangkan…

    Di sisi lain itu namanya bias…😆

  6. Hihihi saya sudah dua kali membaca komentar Sora9n tentang “faculty-faculty” lain ini. Saya sih kuatir, faculty-faculty yang dimaksud itu — obscure as they are — adanya di otak juga dan, seperti kata beberapa ilmuwan, bisa jadi emosi dan nalar bekerja di tempat yang sama. So…hopeless, hopeless.

    *evangelist mode on*

    God is the answer my son.
    :mrgreen:

  7. Saya sih kuatir, faculty-faculty yang dimaksud itu — obscure as they are — adanya di otak juga dan, seperti kata beberapa ilmuwan, bisa jadi emosi dan nalar bekerja di tempat yang sama. So…hopeless, hopeless.

    Seperti yang dibahas di buku yang baru saya baca itu.🙂

    [naturalist-nihilist]Nothing is beyond matter!😈 [/naturalist-nihilist]

  8. @ K. geddoe

    …dan bias itu pasti punya penyebab, brother. Di antaranya seperti yang sudah saya sebut di atas.:mrgreen:

    Hwehehe, hwehehe…:mrgreen:

    [/ketawaAneh]

    @ gentole

    Saya sih kuatir, faculty-faculty yang dimaksud itu — obscure as they are — adanya di otak juga dan, seperti kata beberapa ilmuwan, bisa jadi emosi dan nalar bekerja di tempat yang sama.

    Lah… memangnya kenapa kalau semua itu asalnya di otak?😕

    IMHO sih, nggak masalah juga seandainya emosi, nalar, dan kawan-kawannya berasal dari otak. Lihat praktisnya saja: nyatanya benak manusia memang punya area2 tersendiri. ^^

    Apakah sumbernya sama-sama dari otak, atau yang satu dari “jiwa” sementara yang lain dari otak, atau dua2nya dari dengkul sih peduli amat. Itu nggak mengubah kenyataan bahwa “logika”, “rasa”, “emosi”, dan “seksualitas” itu (cenderung) berdiri sendiri.😛

    * * *

    *evangelist mode on*

    God is the answer my son.

    [naturalist-nihilist]Nothing is beyond matter!😈 [/naturalist-nihilist]

    [agnostic mode]

    Err… gentlemen… let’s verify our claims first. Shall we?🙂

    [/agnostic mode]

  9. Lah… memangnya kenapa kalau semua itu asalnya di otak?😕

    Implikasinya tentu pada pembahasan nilai-nilai, masbro. Nilai itu menjadi begitu subyektif, dan, bahkan kalau bisa diargumentasikan sebaliknya pun, paling jauh akan menjadi paham yang antroposentrik.😕

    [agnostic mode]

    Err… gentlemen… let’s verify our claims first. Shall we?

    [/agnostic mode]🙂

    j/k

  10. Implikasinya tentu pada pembahasan nilai-nilai, masbro. Nilai itu menjadi begitu subyektif, dan, bahkan kalau bisa diargumentasikan sebaliknya pun, paling jauh akan menjadi paham yang antroposentrik.😕

    Maksudnya, subyektivitas terjadi karena susunan fisis/kimiawi setiap otak itu berbeda? Itu bukan? ^^;

    *elaborate please*

    j/k

    Saya pun tahu bahwa itu cuma bercanda.😈

    *wallbanging*

  11. Maksudnya, subyektivitas terjadi karena susunan fisis/kimiawi setiap otak itu berbeda? Itu bukan? ^^;

    *elaborate please*

    Maksudnya, kalau memang semua rasa itu hasil kerja otak belaka, maka karya seni yang “bagus karena memang dari sananya bagus” itu tidak ada, dan akan lumayan merusak disposisi indah dari sastra, musik, dan lainnya. Bisa dipaksakan, namun paling jauh kita hanya akan sampai pada rumusan antroposentrik. Bagus karena struktur pemikiran manusia (pada zaman tertentu pula) mengasosiasikannya dengan keindahan.

    Saya pun tahu bahwa itu cuma bercanda.😈

    *wallbanging*

    Saya tahu kalau Anda tahu kalau saya cuma bercanda…😕

    (Ah, tapi jangan-jangan Anda juga tahu kalau saya tahu kalau Anda tahu kalau saya cuma bercanda?😛 )

    //kokJadiMumet

  12. Yes, it’s all in our mind…but do you know that your mind is plugged into fusion reactors operated by sentient machines to generate power?

    *puts on sunglasses*

  13. Maksudnya, kalau memang semua rasa itu hasil kerja otak belaka, maka karya seni yang “bagus karena memang dari sananya bagus” itu tidak ada, dan akan lumayan merusak disposisi indah dari sastra, musik, dan lainnya.

    Term “bagus dari sananya bagus” ini juga masih tanda tanya, lho. Otak bisa saja mensintesis konsep “ide” yang universal, i.e. bereaksi dengan cara yang mirip, dari satu individu ke individu lain, untuk stimulan tertentu.

    Contohnya mungkin insting berhadapan dengan bahaya. Ini nyaris universal, bahkan di dunia hewan sekalipun. Apakah ini pekerjaan “jiwa” ? Nyatanya, sejauh ini disinyalir bahwa “rasa” bahaya itu merupakan pekerjaan hormon, i.e. adrenalin.

    [Fight or Flight Response]

    IMHO, sebenarnya “rasa” yang universal itu bukannya mustahil dibentuk dengan mekanisme natural. Asumsikan bahwa apresiasi seni berkembang dari sebentuk insting, maka keberadaan seni yang “bagus secara universal” bisa muncul dari mekanisme fisiologi semata. ^^

    Bagus karena struktur pemikiran manusia (pada zaman tertentu pula) mengasosiasikannya dengan keindahan.

    Kalau yang ini kayaknya larinya ke zeitgeist. Terlepas dari mekanisme natural atau tidaknya, maksud saya.😕

    Well, setidaknya kita masih mengakui bahwa produk renaissance itu berkualitas tinggi. Jadi mungkin seni yang universal itu memang benar ada.😆

  14. //kokJadiMumet

    System.out.print(“Saya” )

    while (true){

    System.out.print(“tahu bahwa Anda tahu bahwa saya” ) ;
    sudahCapek = getInfo.Kondisi() ;

    if (sudahCapek == true) {
    break;
    }
    }

    System.out.print(“cuma bercanda.” )

     

    //sintaksnya bener gak ya?😛

  15. Ah…
    Seperti analogi kodok… *sorry for using analogy*
    Kodok rasanya menarik kalau dilihat, melompat, dll. Tapi saat dibedah, hanya para ilmuwan yang tertarik. Kalau dimasak lain lagi.

    Maksudnya, cara kerja otak, manusia, jiwa itu menarik kalau tetap misteri. Kalau dibedah secara ilmiah, untuk orang awam, cuman wow sekali, tapi setelah itu hilang ketertarikannya.

    Ignorance is a bliss.😀

  16. *terstimulasi untuk komentar panjang*

    @geddoe

    Maksudnya, kalau memang semua rasa itu hasil kerja otak belaka, maka karya seni yang “bagus karena memang dari sananya bagus” itu tidak ada, dan akan lumayan merusak disposisi indah dari sastra, musik, dan lainnya.

    Ini naturalisme. Dan ini mengerikan. Dan sudah saya protes di blog saya. Persoalannya adalah, naturalisme itu seperti tidak terbendung, karena setiap saintis yang lahir itu selalu berdiri di atas pundak para raksasa. Ini niscaya, dan yang bisa kita lakukan hanyalah berharap cemas bahwa penemuan dan kesimpulan terbaru dari para ilmuwan yang saat ini sedang meneliti — bukan ilmuwan gagal yang ganti profesi jadi filsuf atau dosen dan cuma bisa nulis artikel di media massa — itu tidak melumat esensi kemanusiaan kita.

    Kalo kita baca sejarah Eropa, dan sejarah dunia abad ke-20, sebenarnya yang terjadi adalah pelenyapan/penghapusan berbagai entitas yang mendefinisikan kemanusiaan kita. Sekarang Tuhan, besok mungkin kebaikan universal, terus keindahan, terus kasih sayang, terus rasa benci, terus rasa bosan, terus berlanjut sampai akhirnya kita bisa membuktikan secara ilmiah bahwa kita ini sebenarnya TIDAK ADA. Kita cuma kumpulan materi yang berpikir bahwa dirinya adalah monad, pribadi tunggal yang berpikir, sadar-diri dan mempunyai kebebasan berkehendak. Pada saat ini, nilai-nilai runtuh, kemanusiaan runtuh, semuanya runtuh. Ini jauh lebih disastrous dari kiamat! Ironis, bisa jadi kita adalah materi yang berevolusi untuk menemukan kehancurannya sendiri.😦 Ini menakutkan buat saya.

    @sora9n

    IMHO, sebenarnya “rasa” yang universal itu bukannya mustahil dibentuk dengan mekanisme natural. Asumsikan bahwa apresiasi seni berkembang dari sebentuk insting, maka keberadaan seni yang “bagus secara universal” bisa muncul dari mekanisme fisiologi semata. ^^

    Aduh Sora, kau masih menggunakan paradigma yang sama, yakni paradigma naturalis. Ini malah jadi tambah absurd deh.

  17. @ gentole

    Aduh Sora, kau masih menggunakan paradigma yang sama, yakni paradigma naturalis. Ini malah jadi tambah absurd deh.

    Sebenarnya masbro, saya bukannya hendak mengadvokasi pandangan naturalis ataupun metafisis. Sedikit sudah saya siratkan di komen saya yang sebelumnya:

    IMHO sih, nggak masalah juga seandainya emosi, nalar, dan kawan-kawannya berasal dari otak. Lihat praktisnya saja […]

    Apakah sumbernya sama-sama dari otak, atau yang satu dari “jiwa” sementara yang lain dari otak, atau dua2nya dari dengkul sih peduli amat. Itu nggak mengubah kenyataan bahwa “logika”, “rasa”, “emosi”, dan “seksualitas” itu (cenderung) berdiri sendiri.😛

    Saya sendiri berprinsip bahwa metafisis ataupun naturalis bukan masalah. Yang terpenting, kenyataannya bagaimana?:mrgreen:

    You go with naturalism, I explain the possibility. You go with metaphysics, I offer my view on it. Yang mana yang benar, dua-duanya mungkin. Saya cuma memberikan insight saja.😉

    “If you understand, things are like they are. If you don’t understand, things are also like they are.”

    –Zen teaching

    😀

  18. @ sora9n

    Term “bagus dari sananya bagus” ini juga masih tanda tanya, lho. Otak bisa saja mensintesis konsep “ide” yang universal, i.e. bereaksi dengan cara yang mirip, dari satu individu ke individu lain, untuk stimulan tertentu.

    […]

    IMHO, sebenarnya “rasa” yang universal itu bukannya mustahil dibentuk dengan mekanisme natural. Asumsikan bahwa apresiasi seni berkembang dari sebentuk insting, maka keberadaan seni yang “bagus secara universal” bisa muncul dari mekanisme fisiologi semata. ^^

    Ya ini yang saya katakan sebagai pembelaan yang antroposentrik. Memang bisa dibawa ke arah itu, tapi ujung-ujungnya sangat subyektif secara spesies.😕 Sebab kita sebagai manusia tidak memiliki peradaban lain untuk dijadikan perbandingan.

    Misalnya, seandainya berkembang peradaban lain di bawah laut, mungkin mereka akan menganggap pemandangan matahari itu sebagai betul-betul sublime, jauh melebihi kita (presumably karena mereka jarang ke permukaan). Bagi kita mungkin tidak sespektakuler itu. Sebaliknya, mungkin bagi mereka terumbu karang yang eksotis itu tidak jauh beda dengan aspal dalam perspektif kita. Lantas atas dasar apa kita akan berargumen bahwa nilai versi kita lebih valid dari mereka?

    Walau pemikiran saya sendiri soal nilai mirip seperti itu juga sebenarnya.🙂

    Kalau yang ini kayaknya larinya ke zeitgeist. Terlepas dari mekanisme natural atau tidaknya, maksud saya.

    Well, setidaknya kita masih mengakui bahwa produk renaissance itu berkualitas tinggi. Jadi mungkin seni yang universal itu memang benar ada.😆

    Jangan lupa, era Renaissance adalah era yang benar-benar baru. AFAIK lebih dari 99% sejarah manusia dihabiskan di era palaeolitik yang primitif dan hanya berisi batu, pohon, dan kambing hutan. Berakhirnya era inipun masih ribuan tahun sebelum masehi, jadi Renaissance itu betul-betul modern age, masih kemarin sore. Jangka waktunya terlalu kecil untuk dijadikan argumen keuniversalan suatu nilai.😕

    //sintaksnya bener gak ya?

    Ya salah lah, kok ada “while (true)“…? ^^;

    Mungkin benernya kayak begini;

    System.out.print(”Saya”);

    while (sudahCapek==false){

    System.out.print(”tahu bahwa Anda tahu bahwa saya” );
    sudahCapek = getInfo.Kondisi();
    }

    System.out.print(“j/k”);

    Bener ga ya?😕

    //gaPenting

    @ dnial

    Ini mirip dengan protes legendaris John Keats pada Isaac Newton; konon Keats menuduh Newton merusak keindahan pelangi dengan menjelaskan asal-usulnya (hanya partikel air, tidak ada pot of gold yang romantis).😛

    @ gentole

    Hohoho! Sepertinya Anda ketakutan sekali?😀

    Pertama, saya kira naturalisme memang posisinya sangat kuat; sulit untuk dibantah. Kalaupun ada entitas yang disebut-sebut sebagai supranatural, rasanya tidak mungkin kalau tidak bisa dijelaskan dengan naturalisme. Misalnya pikiran/psyche, benda misterius yang akhirnya ditemukan memang secara esensial berupa materi. Saya kira saya juga sudah terhitung sebagai seorang naturalis—kalaupun Tuhan, sihir, dan segala hal-hal magis itu ada, maka rasanya pun dapat dijelaskan secara materi.

    Kedua, mungkin Anda terlalu paranoid. Jangan meremehkan manusia lah, we are powerful beings. Sampai saat ini kita masih terpana dengan pelangi, samudera, dan lautan bintang, sama seperti ratusan tahun yang lalu ketika semuanya masih begitu mistis.🙂 Saya kira kita tidak pernah betul-betul bergerak—secara genetik maupun memetik—ke arah yang cenderung merugikan. Untuk setiap degenerasi moral yang diklaim di sana-sini (revolusi seksual, rusaknya nilai kekeluargaan), ada puluhan kemajuan moral yang telah dicapai (penghapusan rasisme dan seksisme, dihancurkannya gap antara kaum bangsawan dan rakyat jelata, dan banyak lagi). We forget our joys, we remember our sufferings.

    Ketiga, mungkin Anda perlu mengikuti gerakan transhumanisme. They do precisely that, compromising between human values and the rapid progress of science.😛

  19. @sora9n

    You go with naturalism, I explain the possibility. You go with metaphysics, I offer my view on it. Yang mana yang benar, dua-duanya mungkin. Saya cuma memberikan insight saja.

    Oke-oke, sip. Dan kutipan Zen-nya bagus. Soothing.😀

    @geddoe

    Hohoho! Sepertinya Anda ketakutan sekali?

    Yes…I…am.

    Saya kira saya juga sudah terhitung sebagai seorang naturalis—kalaupun Tuhan, sihir, dan segala hal-hal magis itu ada, maka rasanya pun dapat dijelaskan secara materi.

    Saya memang sudah menduganya. Sebenarnya salah satu alasan mengapa saya rajin ke blog Anda atau Sora9n itu karena saya mau terus update pergerakan kaum naturalis.:mrgreen:

    Anda benar saya memang paranoid dan saya tidak bisa melihat kemajuan masyarakat modern sebagai sesuatu yang melegakan. Romantisme proyek pencerahan tentang kemanusiaan buat saya sudah gagal. Tapi, ah, mungkin emang manusia begitukan?

    whatever can go wrong, will go wrong;
    whatever can’t go wrong, will go rong!

  20. Can anyone explains to me what this naturalism fuss is all about? Dari apa yang saya baca di wiki-tan, pada dasarnya itu adalah gagasan bahwa segala yang ada adalah natural, tidak ada yang namanya supranatural, dan tampaknya ini ada kaitannya juga dengan metode ilmiah. Apakah ini hal yang setali-tiga-uang dengan materialisme?

    Lantas, kenapa naturalisme ini kemudian bisa menghilangkan kemanusiaan kita? Apa karena dunia akan jadi membosankan (seperti analoginya dnial itu) dan ‘kosong tanpa makna’ ketika segala sesuatunya dijelaskan dalam ranah natural?

  21. @ K. geddoe

    Misalnya, seandainya berkembang peradaban lain di bawah laut, mungkin mereka akan menganggap pemandangan matahari itu sebagai betul-betul sublime, jauh melebihi kita (presumably karena mereka jarang ke permukaan). Bagi kita mungkin tidak sespektakuler itu. Sebaliknya, mungkin bagi mereka terumbu karang yang eksotis itu tidak jauh beda dengan aspal dalam perspektif kita. Lantas atas dasar apa kita akan berargumen bahwa nilai versi kita lebih valid dari mereka?

    Tapi… masalah ini akan selalu terjadi, regardless apakah “pikiran” itu bekerja secara natural atau dengan bantuan “jiwa”.😕

    “Jiwa” (dalam konteks ini saya memandangnya sebagai kecerdasan inheren) pun bekerja dengan persepsi. Ergo, jiwa yang dibesarkan dengan cara/lingkungan yang berbeda akan menilai sesuatu dengan cara yang berbeda juga.🙂

    Jangan lupa, era Renaissance adalah era yang benar-benar baru. AFAIK lebih dari 99% sejarah manusia dihabiskan di era palaeolitik yang primitif dan hanya berisi batu, pohon, dan kambing hutan.

    Well, bagaimanapun, itu menunjukkan bahwa ada potensi suatu seni bisa menjadi obyek apresiasi yang tak lekang dimakan waktu. Setidaknya, hingga melampaui banyak generasi.😉

    Soal “baru” yang ente singgung, saya rasa itu bisa diatributkan pada evolusi seni itu sendiri. Seperti seleksi alam, yang kuno/lebih sederhana tergusur dan dilupakan. Yang lebih baru dan sempurna (i.e. in term of invoking emotions & complex technique) yang diambil.

    Makanya kita kurang menghargai seni palaeolitik di zaman sekarang. Sebab terlalu sederhana dan kurang mengundang emosi.😕

    Pertanyaannya sekarang: apakah karya seperti Simfoni Beethoven akan bertahan di tengah “seleksi” ini berabad-abad lagi? Ini menarik untuk dibayangkan.😀

    Ya salah lah, kok ada “while (true)“…? ^^;

    Itu bukan infinite loop, masbro. Kan saya kirim assignment ke variabel “sudahCapek” di setiap iterasi. Jadi ada kemungkinan bahwa variabel sudahCapek akan bernilai true/false, tergantung output dari Kondisi().

    Jika sudahCapek == true, maka iterasi pun akan berhenti.😀

    *malah ngomongin Java* xD

    BTW saya lupa menyertakan beberapa semicolon dan spasi x(

  22. @ gentole

    Sori, ada yang kelewatan. ^^;

    […] sebenarnya yang terjadi adalah pelenyapan/penghapusan berbagai entitas yang mendefinisikan kemanusiaan kita. Sekarang Tuhan, besok mungkin kebaikan universal, terus keindahan, terus kasih sayang, terus rasa benci, terus rasa bosan, terus berlanjut sampai akhirnya kita bisa membuktikan secara ilmiah bahwa kita ini sebenarnya TIDAK ADA. […] Ini menakutkan buat saya.

    Masbro… IMO kebaikan tetaplah kebaikan sekalipun asalnya dari mekanisme natural *dengan asumsi naturalisme itu benar, lho, ya*. Cobalah diambil nilai praktisnya dulu. ^^;

    Seandainyapun pada akhirnya kita hanyalah sekumpulan materi, kita tetap manusia. Yang bisa merasa, mencintai, dan hidup dengan pilihan. Kuncinya adalah “pilihan”, i.e. free will.

    Pertimbangan kita selalu dipengaruhi oleh logika, rasa, anfsudan kawan-kawannya. Tapi IMO, itu tidak mutlak. Kita dibekali kemampuan untuk memilih antara mengikuti atau melawan semua itu.

    Contohnya mungkin begini. Jika saya berhadapan dengan singa lapar, misalnya, bisa saja logika (otak kiri) saya menyuruh untuk lari; banjir adrenalin membuat saya ingin kabur, dan lain sebagainya. Tapi saya bisa memutuskan untuk berdiri diam dan bertahan di situ.

    For what? Simply because I WANT it!😆

    Dan itu baru asumsi naturalisme. Bagaimana kalau ternyata salah, i.e. “jiwa” itu benar ada?

    Jadi, janganlah segitu pesimisnya, IMHO. Manusia itu aslinya makhluk yang kompleks — seperti yang dijelaskan oleh Geddoe di atas itu. ^^

    :::::

    @ Catshade

    Lantas, kenapa naturalisme ini kemudian bisa menghilangkan kemanusiaan kita?

    Kekhawatirannya adalah, bahwa pada akhirnya semua pikiran dan kehendak manusia (e.g. free will, rasa, seni, dsb.) merupakan akibat dari susunan materi semata. Apabila ini benar, maka “manusia” (dan benaknya) hanyalah produk susun-rangkai atom dan gejala kimia.

    Kasarnya, kehendak bukan lagi sesuatu yang bebas, melainkan didikte oleh materi. Topik ini pernah dibahas di salah satu post-nya mas gentole [yang ini]. ^^

  23. @ gentole

    Apa mungkin karena persepsi saya akan manusia memang sejak dulu tidak seindah persepsi Masbro?:mrgreen: Saya kira demikian.

    @ Catshade

    Saya tidak tahu perbedaan tepat antara keduanya, namun kesan yang muncul adalah naturalisme lebih mengarah kepada metode dan worldview yang tidak bersifat final; sementara materialisme bisa dibilang sebuah posisi metafisis.

    Kaitannya akan “kemanusiaan” sendiri, saya belum bisa menemukan intisarinya. Oleh karena itu belum bisa berkomentar banyak.

    @ sora9n

    Tapi… masalah ini akan selalu terjadi, regardless apakah “pikiran” itu bekerja secara natural atau dengan bantuan “jiwa”.😕

    “Jiwa” (dalam konteks ini saya memandangnya sebagai kecerdasan inheren) pun bekerja dengan persepsi. Ergo, jiwa yang dibesarkan dengan cara/lingkungan yang berbeda akan menilai sesuatu dengan cara yang berbeda juga.🙂

    Ah, benar juga.😕

    Mungkin yang jadi masalah adalah konsep “jiwa” sebagai model universal yang dilengkapi dengan “rasa” untuk mengenali nilai universal. Seperti konsep “made in God’s image“. Di sini keberadaan jiwa dikaitkan dengan Tuhan, yang secara implisit mengarah pada obyektivitas nilai.

    Suka atau tidak suka, Tuhan memang kadang dikaitkan dengan estetika universal semacam ini (see argument from beauty).

    Susahnya, ini bisa menjadi variasi dilema Euthyphro: apakah sesuatu indah karena Tuhan (in his presumably infinite wisdom) menganggapnya indah, atau Tuhan (in his presumably infinite wisdom) menganggap sesuatu indah karena itu memang indah secara intrinsik?

    Well, bagaimanapun, itu menunjukkan bahwa ada potensi suatu seni bisa menjadi obyek apresiasi yang tak lekang dimakan waktu. Setidaknya, hingga melampaui banyak generasi.😉

    Soal “baru” yang ente singgung, saya rasa itu bisa diatributkan pada evolusi seni itu sendiri. Seperti seleksi alam, yang kuno/lebih sederhana tergusur dan dilupakan. Yang lebih baru dan sempurna (i.e. in term of invoking emotions & complex technique) yang diambil.

    Yup. Itulah konsep memetics.🙂

    Lagipula, bukankah pada dasarnya proses evolusi adalah sesuatu yang lebih kurang berjalan dengan irama yang serupa? Maksudnya, kalaupun ada peradaban di pojok antariksa sana, wujudnya pun mestinya tidak jauh beda dengan di sini? Perbedaannya paling hanya pada detail wujud tumbuhan dan binatang di sekeliling, dan mungkin aspek alam seperti barangkali ada lebih dari satu bulan di langit malam.

    Jadi, betul, masbro, saya kira mungkin saja nilai yang universal itu ada. Bahkan dengan berasumsi bahwa secara sains murni itu tidak ada, bila semua peradaban di dunia memiliki selera yang sama, itu menjadi universal, bukan?

    *semakin lama saya semakin panteistik*

    Itu bukan infinite loop, masbro. Kan saya kirim assignment ke variabel “sudahCapek” di setiap iterasi. Jadi ada kemungkinan bahwa variabel sudahCapek akan bernilai true/false, tergantung output dari Kondisi().

    Ah, ya, ada break-nya di situ, tapi kenapa ga langsung dipake di while-nya?😕

    //gaPentingTapiDibahasTerus

    Masbro… IMO kebaikan tetaplah kebaikan sekalipun asalnya dari mekanisme natural *dengan asumsi naturalisme itu benar, lho, ya*. Cobalah diambil nilai praktisnya dulu. ^^;

    Seandainyapun pada akhirnya kita hanyalah sekumpulan materi, kita tetap manusia. Yang bisa merasa, mencintai, dan hidup dengan pilihan. Kuncinya adalah “pilihan”, i.e. free will.

    Rasanya ketakutan yang dimaksudkan itu mirip menyadari bahwa manusia adalah mesin yang self-replicating. Citra yang muncul adalah robot-robot yang dilepas di suatu tempat lalu ditinggalkan jauh-jauh.

    Tentunya ada kesan sunyi dan hampa di situ.

  24. Kekhawatirannya adalah, bahwa pada akhirnya semua pikiran dan kehendak manusia (e.g. free will, rasa, seni, dsb.) merupakan akibat dari susunan materi semata. Apabila ini benar, maka “manusia” (dan benaknya) hanyalah produk susun-rangkai atom dan gejala kimia.

    Kasarnya, kehendak bukan lagi sesuatu yang bebas, melainkan didikte oleh materi. Topik ini pernah dibahas di salah satu post-nya mas gentole [yang ini]. ^^

    Ah, begitu…saya kira saya bisa memahami perasaan mas gentole. Di psikologi, salah satu cabang yang sekarang lagi angot-angotnya adalah psikologi evolusioner, dan saya merasa tidak nyaman dengannya. Entahlah, saya bahkan baik-baik saja dengan premis behaviorisme yang memandang perilaku manusia sebatas aksi-reaksi, tapi ngeri rasanya ketika mendapati bahwa semua perilaku kita didikte oleh gen egois yang ingin meneruskan pelestarian dirinya sejak jaman purba dulu.

    *tiba-tiba membayangkan skenario ala Parasite Eve ketika mitokondria mengambil alih kendali tubuh kita*

    Dari post-nya gentole (atau tepatnya, komentarnya sora di sana), naturalisme itu dikuatirkan karena ia memekanisasi dunia…tapi bukankah perkembangan ilmu pasti masa kini (seperti mekanika kuantum) justru malah mulai menerima ketidakpastian dan probabilitas sebagai bagian dari dunia natural? Note that I only understand the ‘for-dummies-version’ of quantum mechanics, so maybe I’m pulling this out of my ass.😛

  25. Entahlah, saya bahkan baik-baik saja dengan premis behaviorisme yang memandang perilaku manusia sebatas aksi-reaksi, tapi ngeri rasanya ketika mendapati bahwa semua perilaku kita didikte oleh gen egois yang ingin meneruskan pelestarian dirinya sejak jaman purba dulu.

    Kalau buat saya yang bidangnya adalah komputer, rasa ngeri semacam itu didapat dari perkembangan A.I.:mrgreen:

    Merinding juga dengan prospek membangun kecerdasan—pada titik apa kecerdasan itu bisa dianggap punya kesadaran sendiri? Kalau lantas A.I. bisa bersosialisasi, lantas posisi kita sebagai manusia ini sebenarnya di mana, sih? Sefana itukah?

    Saat ini saya masih berpikir bahwa kesadaran bisa dibangun secara artifisial (mas Gentole pasti tidak nyaman dengan gagasan ini.😀 )—dengan syarat dibuat dari level yang paling-paling-paling primitif. Misalnya, insting untuk bertahan hidup dan insting menghindari bahaya. Bukan dari fungsi kelas tinggi seperti memberi salam—itu jelas palsu. Mungkin setelah beberapa lama mereka bisa mengenali bahasa…

    Semacam holy grail buat dunia digital memang.

  26. Saya coba memecahkan masalah yang ada di tengah-tengah kondisi yang nyaman tersebut, dan pemikiran pun berusaha menginterpretasi segala yang ada dengan lebih positif. Masalah pun selesai.

    Selamat….🙂

  27. @sora9n

    Cobalah diambil nilai praktisnya dulu. ^^;

    Anda ini ultra-utilitarian.😀

    Seandainyapun pada akhirnya kita hanyalah sekumpulan materi, kita tetap manusia. Yang bisa merasa, mencintai, dan hidup dengan pilihan. Kuncinya adalah “pilihan”, i.e. free will.

    Begini Sora9n, pengetahuan itu bukan cuma pengetahuan. Ia mengubah cara kita mengada. Saya kira hampir tidak ada revolusi pengetahuan yang tidak diikuti oleh penemuan-penemuan dalam teknologi, yang pada gilirannya mengubah cara kita hidup. Di sini, Mas Catshade, kemanusiaan kita terancam. Ah, Anda bisa baca filsafat teknologinya Heidegger untuk melacak akar kecemasan saya.

    For what? Simply because I WANT it!

    I’m afraid free will is nothing but illusion. You see, we may never make up our mind, the universe does. Get it?

    @catshade

    (seperti mekanika kuantum) justru malah mulai menerima ketidakpastian dan probabilitas sebagai bagian dari dunia natural? Note that I only understand the ‘for-dummies-version’ of quantum mechanics, so maybe I’m pulling this out of my ass.

    Iya Capra advokat paling depan dalam pemahaman ‘holistik’ ini, yakni munculnya ‘fisika baru’, seperti mekanika kuantum dan teori relativitas, yang sepertinya kovergen dengan pandangan kaum mistik. Sumpah, saya masih bingung bacanya.

  28. @Geddoe

    Saat ini saya masih berpikir bahwa kesadaran bisa dibangun secara artifisial (mas Gentole pasti tidak nyaman dengan gagasan ini. )—dengan syarat dibuat dari level yang paling-paling-paling primitif. Misalnya, insting untuk bertahan hidup dan insting menghindari bahaya. Bukan dari fungsi kelas tinggi seperti memberi salam—itu jelas palsu. Mungkin setelah beberapa lama mereka bisa mengenali bahasa…

    Jreng!!

    *gak konsen kerja*

  29. Kalau buat saya yang bidangnya adalah komputer, rasa ngeri semacam itu didapat dari perkembangan A.I.:mrgreen:

    Merinding juga dengan prospek membangun kecerdasan—pada titik apa kecerdasan itu bisa dianggap punya kesadaran sendiri? Kalau lantas A.I. bisa bersosialisasi, lantas posisi kita sebagai manusia ini sebenarnya di mana, sih? Sefana itukah?

    Semacam holy grail buat dunia digital memang.

    Throw it to the cloud!

    Soal mengenali bahasa, Google sudah mengembangkan translator dari satu bahasa ke bahasa lain. Hanya dengan membuat sebuah sistem yang bisa belajar (learning sistem).

    Asumsinya adalah dengan amount data yang sangat besar, dan pemrosesan komputasi yang dahsyat, given enough time, komputer (dengan berbagai algoritma belajar termasuk neural network, bayesian network, fuzzy logic, dll) dapat belajar melakukan apa saja. Termasuk salah satunya belajar bahasa, berpikir dan merasa. Kecuali memahami wanita tentunya.😛

    Now, let’s us wait for SkyNET to eradicate human being.

    “I’ll be back!”
    “Astalavista Baby!”

  30. @ K. geddoe

    Ah, ya, ada break-nya di situ, tapi kenapa ga langsung dipake di while-nya?😕

    //gaPentingTapiDibahasTerus

    Sudahlah, tak usah dibahas lagi. ^^;

    *lagipula saya terakhir bikin program Java pas tingkat 2*😛

    :::::

    @ Catshade

    tapi bukankah perkembangan ilmu pasti masa kini (seperti mekanika kuantum) justru malah mulai menerima ketidakpastian dan probabilitas sebagai bagian dari dunia natural? Note that I only understand the ‘for-dummies-version’ of quantum mechanics, so maybe I’m pulling this out of my ass.😛

    Betul, kok. ^^;;

    QM memang dasarnya di probabilitas. Bahkan yang hal pasti-pasti aja pun dinyatakan dengan probabilitas. =_=!

    “mobil bergerak dengan kecepatan 80 km/jam menuju tembok. maka terdapat kemungkinan 99.9999999999% bahwa mobil akan gagal menembus tembok”

    *BTW, saya dapat kuliah itu pas tingkat 3* x(

    :::::

    @ gentole

    Anda ini ultra-utilitarian.😀

    Well… saya sih mikirnya bahwa mengejar hakikat terlalu jauh itu agak kurang feasible. IMO masalah terdekat kita sekarang adalah bagaimana baiknya manusia menjalani hidup yang sudah ‘dibebankan dengan tiba-tiba’ ini. Dari sisi ini, pemikiran yang terlalu dalam ke arah hakikat justru berpotensi jadi red herring akan objective tersebut.🙂

    Kasarnya, untuk apa juga ada orang yang menguasai hakikat tapi kehidupan praktisnya awut-awutan? Ya, bukannya saya kontra membahas hakikat, sih. OK saja, tapi jangan terlalu “mengawang” dan “melupakan bumi”, lah. ^^

    [OOT]

    Mungkin ini berhubungan dengan background saya sebagai mahasiswa teknik. Pada dasarnya sih, boleh saja belajar hakikat-hakikat alam (baca: sains MIPA) sesuka kita — tetapi fokusnya adalah memanfaatkan gejala yang sudah ada untuk kepentingan manusia (baca: teknik/engineering).😀

    Begini Sora9n, pengetahuan itu bukan cuma pengetahuan. Ia mengubah cara kita mengada. Saya kira hampir tidak ada revolusi pengetahuan yang tidak diikuti oleh penemuan-penemuan dalam teknologi, yang pada gilirannya mengubah cara kita hidup. Di sini, Mas Catshade, kemanusiaan kita terancam.

    Definisinya “kemanusiaan” adalah…?😕

    *menurut mas gentole, maksudnya. definisi saya bisa saja beda*

    I’m afraid free will is nothing but illusion. You see, we may never make up our mind, the universe does. Get it?

    That’s not the point. Maksud saya, selalu ada kemungkinan bahwa, ketika berhadapan dengan singa lapar itu, saya bisa lari atau diam saja.

    Anda mungkin melihat seolah-olah apapun pilihan saya nantinya, itu sudah predestined by nature. Ide ini nggak verifiable maupun falsifiable — sebab saya cuma akan menjalani hidup ini satu kali. Padahal ada dua kemungkinan yang sama besarnya untuk terjadi, tergantung saya pilih yang mana.

    Jika saya memilih diam, Anda mungkin bilang bahwa “the universe makes you stay”. Tapi jika saya memilih kabur, Anda juga akan bilang bahwa “the universe makes you run”. Get it?😉

    BTW, sekadar info, di mekanika kuantum ada pembahasan yang menyinggung free-will juga. Konsepnya sendiri lebih bebas/optimistik dibandingkan idenya mas Gentole — jadi, untuk setiap probabilitas kejadian, terdapat semacam split yang menghasilkan percabangan dimensi/realitas. Termasuk yang *diasumsikan* mengakibatkan split ini adalah free-will dan keputusan yang diambil seseorang.🙂

    Silakan dibaca sbb.:

    [Many-minds Interpretation]

    [Many-worlds Interpretation]

    :::::

    @ K. geddoe (lagi)

    Saat ini saya masih berpikir bahwa kesadaran bisa dibangun secara artifisial (mas Gentole pasti tidak nyaman dengan gagasan ini.😀 )—dengan syarat dibuat dari level yang paling-paling-paling primitif.

    Tak semudah membalik tapak tangan lho…:mrgreen:

    BTT, mungkin OK kalau kita mengasumsikan akal manusia berkembang dengan cara yang sama. Tapi ingat: manusia diasumsikan berevolusi. Hardware (baca: otak) maupun software (benak) kita berevolusi dari masa ke masa sesuai kebutuhan.

    Apakah konsep2 ini bisa diejawantahkan untuk pengembangan AI? IMO ini salah satu pertanyaan cukup krusial terkait “membangun kesadaran” dari fungsi primitif.😉

    ~dudukMengamatiDiPojokan

  31. @ Snowie
    🙂 ?

    @ gentole

    Heidegger?

    *terlalu tinggi*

    *kepala berputar-putar*

    @ dnial

    Saya jadi ingat tokoh A.I. antagonis di I, Robot-nya Will Smith. Komputernya sebesar gedung.😆

    Buat menghindari tragedi macam SkyNET, mungkin bisa pakai Three Laws?

    @ sora9n

    Mungkin memang mesti pakai nanomachine yang self-replicating dan capable of learning.😕

    Lalu kita sebar di suatu planet yang lumayan memadai…😕

    …😕

    …😕

    …😕

    …Lho, jangan-jangan kita…?😯

    //annunakiTheoryRules😆

  32. Tentang robotics:
    Kayaknya selama ini kita sudah salah prioritas. Persetan dengan AI yang realistis dan sentient! All we need is a feminine stupid, subservient AI, covered with synthetic flesh in anatomically-correct body but with cat ears!😀

    Begini Sora9n, pengetahuan itu bukan cuma pengetahuan. Ia mengubah cara kita mengada. Saya kira hampir tidak ada revolusi pengetahuan yang tidak diikuti oleh penemuan-penemuan dalam teknologi, yang pada gilirannya mengubah cara kita hidup. Di sini, Mas Catshade, kemanusiaan kita terancam.

    Ok, jadi revolusi pengetahuan menyebabkan penemuan-penemuan teknologi baru, dan penemuan-penemuan ini akan mengubah cara kita hidup. Dengan berubahnya cara kita hidup (assuming for the worse), kemanusiaan kita terancam.

    1. Where does ‘naturalism’ fit in this scenario? Apakah naturalisme yang selalu menyebabkan revolusi pengetahuan itu (dan sebaliknya, apakah revolusi pengetahuan itu selalu disebabkan oleh naturalisme)?

    2. Saya juga sama penasarannya dengan sora, apa yang anda maksud dengan ‘kemanusiaan’? Tidakkah mungkin kalau seiring evolusi pengetahuan, kemanusiaan tidak bertambah baik atau buruk…they just change the standards (ini tentu agak nyrempet2 ke wilayah relativisme)? Dengan cara anda mengatakannya, saya kok merasa anda menganggap kemanusiaan manusia purba lebih baik daripada kemanusiaan manusia modern…apa saya benar?

    3. Jadi…untuk 100% menghentikan ancaman terhadap kemanusiaan kita, sebaiknya kita menyetop semua potensi penemuan teknologi dan revolusi pengetahuan yang mungkin timbul, begitu?

    4. Oh. My. God. I’VE BEEN SECRETLY CONVERTED INTO A NATURALIST!!!

    *menjura dalam-dalam ke arah sora dan geddoe*

    Yes, master. I’m awaiting your next command.

  33. Kayaknya selama ini kita sudah salah prioritas. Persetan dengan AI yang realistis dan sentient! All we need is a feminine stupid, subservient AI, covered with synthetic flesh in anatomically-correct body but with cat ears!😀

    But I dig the stoic, intelligent type.😕

    * * *

    Soal pertanyaannya, saya ga bisa jawab, tapi menarik, jadi saya tunggu jawabannya dari masbro Sora dan Gentole.

    *gelar kacang*

    *rebus tikar*

  34. …😕

    …😕

    …😕

    …Lho, jangan-jangan kita…?😯

    //annunakiTheoryRules😆

    *ngakak terguling-guling*😆 😆 😆

  35. *ahem, serius* (u_u)

    @ Catshade

    IMO sih, kekhawatiran yang disampaikan oleh mas gentole bukan pada perubahan cara hidup, tetapi cara memaknai hidup seiring terbukanya pengetahuan-pengetahuan baru. Jadi sejalan juga dengan konsep “mengubah cara kita mengada” yang beliau sampaikan di atas.😕

    Yang saya tangkap, ‘revolusi pengetahuan’ ini mendekonstruksi konsep-konsep humanisme (yang tadinya kita anggap murni metafisik) menjadi variabel yang diatur oleh naturalisme. Saya rasa ini yang dimaksud oleh mas Gentole sebagai “ancaman terhadap kemanusiaan” — yakni ketika hal-hal yang tadinya ‘menandakan’ manusia ternyata bisa direduksi jadi sekumpulan gejala fisis. (o_0)”\

    Seolah-olah tiada lagi free-will, “rasa”, dan sebagainya, selain yang diatur oleh alam, i.e. gen, otak, hormon, dsb.-nya (=naturalisme yang jadi pokok pembicaraan).

    (mungkin comparable dengan pendapat mas Catshade mengenai psikologi evolusioner)

    Tapi apa benar begitu, ya, saya rasa kita harus menunggu penjelasan langsung dari orangnya. ^^

  36. Sori lama jawabnya. Saya sebenarnya tidak begitu paham juga soal beginian. Bisa jadi saya ngawur. Pertanyaanya Mas Catshade saya bawa pulang.😀

    @Catshade

    Dari post-nya gentole (atau tepatnya, komentarnya sora di sana), naturalisme itu dikuatirkan karena ia memekanisasi dunia…

    Lebih tepatnya dikuatirkan karena cara pandang naturalistik cenderung memekanisasi kehidupan. Kehidupan yang mana? Jangan berpikir tentang populasi dunia atau bundarnya planet biru bernama bumi ini; coba bayangkan kehidupan sehari-hari Anda. Kehidupan itu, bagi saya, adalah keseharian. Filsuf fenomenologi Jerman menyebutnya lebenswelt.

    @sora9n

    Definisinya “kemanusiaan” adalah…?😕

    Well, dalam benak saya, kemanusiaan itu berbagai kualitas/atribut yang mendefinisikan kita sebagai manusia, misalnya kebebasan berkehendak, kesadaran yang otonom, kasih-sayang, kesetiaan, penghargaan yang teramat tinggi terhadap kehidupan dan lingkungan karena keduanya kita nilai agung, sebuah konsep yang tak dikenal kaum naturalis. Di sini saya memang mengandaikan, tentunya secara arbitrer, bahwa kualitas-kualitas itu terberi atau given, seperti kehidupan kita ini aja. Kapan kesadaran ini muncul? Saya menduganya sih setelah budaya tulis berkembang atau pada masa Axial; Plato, Konfusius, Zoroaster, para nabi agama Abrahamik dan para rishi di tepi sungai Indus. Gak tau juga sih. Pokoknya given lah.

    @Catshade lagi

    1. Where does ‘naturalism’ fit in this scenario? Apakah naturalisme yang selalu menyebabkan revolusi pengetahuan itu (dan sebaliknya, apakah revolusi pengetahuan itu selalu disebabkan oleh naturalisme)?

    Iya dong. Saya pernah bahas ini di blog Sora [dan kita berdua berselisih dan salah paham]. Bagi saya, naturalisme itu sebuah cara pandang yang menegasikan entitas non-fisik dalam upaya memahami atau menjelaskan fenomena alam. Ini syarat mutlak dalam kerja ilmu alam. Saya cenderung tidak membedakan naturalisme, materialisme dan saintisme [tapi saya membedakan istilah ‘saintisme’ dengan ‘sains’ yang lebih netral]. Perbedaannya menurut saya sih cuma pada konotasinya saja. Kalo mendengar istilah materialisme yang terbayang Fichte dan Marx, kalo mendengar naturalisme yang terbayang Newton dan Dawkins.

    2. Saya juga sama penasarannya dengan sora, apa yang anda maksud dengan ‘kemanusiaan’?

    Sudah dijawab pada pertanyaan Sora.

    Tidakkah mungkin kalau seiring evolusi pengetahuan, kemanusiaan tidak bertambah baik atau buruk…they just change the standards (ini tentu agak nyrempet2 ke wilayah relativisme)?

    Yang saya khawatirkan adalah musnahnya nilai, Mas Catshade, bukan pergeseran nilai. Sulit untuk menjelaskan ini memang. Karena saya hanya menduga-duga. Saya ini curiga betul bahwa nilai-nilai kemanusiaan akan hilang ketika naturalisme mendominasi kehidupan. Nihil. Hilangnya doang sih gak apa-apa. Konsekuensinya itu loh. Nihilisme dan senjata pemusnah masal sepertinya bukan duet yang menghibur buat saya.

    Dengan cara anda mengatakannya, saya kok merasa anda menganggap kemanusiaan manusia purba lebih baik daripada kemanusiaan manusia modern…apa saya benar?

    Mungkin pencerahan tidak sepenuhnya buruk. Nilai itu berkembang, dan tidak selalu diakibatkan oleh berubahnya kesimpulan sains. Ingat, saya tidak mendakwa modernitas, dan apa yang saya khawatirkan saya saat ini belum benar-benar terjadi, bukan? Revolusi Perancis dan munculnya humanisme-sekuler merupakan suatu pencapaian yang luar biasa bagi kemanusiaan dan tentu membuat zaman modern lebih baik dari zaman purba. Tapi kalo saya diminta memilih antara kehidupan abad pertengahan yang penuh mitos atau kehidupan paska-pencerahan yang ultra-nihilistik, saya kira saya akan memilih yang pertama.

    3. Jadi…untuk 100% menghentikan ancaman terhadap kemanusiaan kita, sebaiknya kita menyetop semua potensi penemuan teknologi dan revolusi pengetahuan yang mungkin timbul, begitu?

    Kan saya udah bilang, kemajuan ilmu pengetahuan berbasis naturalisme ini tak-terelakkan. Naturalisme tidak bisa dilarang-larang, ini kan worldview. Tidak mungkin kita mengekang rasa ingin tahu manusia. Saya tidak bisa melakukan apa-apa selain cemas atau mengabaikan ancaman itu untuk bisa hidup normal seperti biasa. Kompromi? Entahlah, saya pesimis.

    <b.@Sora lagi

    IMO sih, kekhawatiran yang disampaikan oleh mas gentole bukan pada perubahan cara hidup, tetapi cara memaknai hidup seiring terbukanya pengetahuan-pengetahuan baru. Jadi sejalan juga dengan konsep “mengubah cara kita mengada” yang beliau sampaikan di atas.😕

    Yang saya tangkap, ‘revolusi pengetahuan’ ini mendekonstruksi konsep-konsep humanisme (yang tadinya kita anggap murni metafisik) menjadi variabel yang diatur oleh naturalisme. Saya rasa ini yang dimaksud oleh mas Gentole sebagai “ancaman terhadap kemanusiaan” — yakni ketika hal-hal yang tadinya ‘menandakan’ manusia ternyata bisa direduksi jadi sekumpulan gejala fisis. (o_0)”\

    Yup. That’s what I mean. Tepat sekali. Saya lihat Anda makin jago filsafat saja.😀 Mungkin perlu saya tuliskan kekhawatiran saya dalam bentuk curhat. Saya tidak semahir Sora dalam menjelaskan ini.

    1). Naturalisme membuat saya merasa tak berarti. Kalo cuma bilang bumi itu bulat sih oke, atau sekedar bilang bahwa ternyata bumi yang ngiderin matahari juga tak masalah buat saya. Tapi kalo sudah bilang bahwa kita ini mungkin sendirian dan sangat tidak berarti ketimbang jagad raya yang mengembang, rasanya gimana gitu; nestapa. Gak salah, tapi gak nyaman.

    2). Naturalisme mulai rese kalo ia sudah mulai menyelidiki manusia. Kita, robot? Apakah mencintai itu artinya kita ditawan, dipesonakan oleh bau lawan jenis, infatuation belaka? Bukan karena jodoh, suratan takdir atau panah asmara Cupid? Apakah kasih ibu itu tidak lebih dari upaya mempertahankan spesies? Musa, Yesus, Muhammad, Santo Paulus, Rumi, semuanya kena penyakit epilepsi?

    3). Naturalisme menjadi menakutkan ketika nilai diberangus dan teknologi perang semakin canggih. Rasio-teknis atau teknologi pada hakikatnya bersifat destruktif. Alam yang direkayasa adalah alam yang dieksploitasi, alam yang tidak lagi natural; tidak lagi harmonis. Btw, Anda tahu anggaran belanja militer setiap negara itu berapa?

    *membayangkan Perang Dunia ke-20*

    *jadi refugee di Mars*

    4). Naturalisme itu menurut saya paling mengerikan ketika penyelidikan atas manusia melahirkan suatu revolusi teknologis yang tak terbayangkan sebelummnya; kesadaran dijital, etc. Saat ini teknologi baru merekayasa dan mengeksploitasi alam [lihat betapa rusaknya alam ini!], jadi kita tunggu saja saatnya teknologi merekayasa dan mengeksploitasi manusia. Saya tidak bicara dalam perpektif Marxian, seperti buruh pabrik yang teralienasi [walaupun ini serem juga], tapi dalam perspektif Heideggerian, yakni perubahan ‘mode of being’ yang sepenuhnya lain, yang misterius kayak apa. Buat Geddoe mungkin exciting, buat saya ini mencemaskan. Yang terbayang adalah nihilisme dan kehancuran.

    Kasarnya, untuk apa juga ada orang yang menguasai hakikat tapi kehidupan praktisnya awut-awutan? Ya, bukannya saya kontra membahas hakikat, sih. OK saja, tapi jangan terlalu “mengawang” dan “melupakan bumi”, lah. ^^

    Saya masih bekerja kok, untuk menyambung hidup.😀

  37. @Sora

    Jika saya memilih diam, Anda mungkin bilang bahwa “the universe makes you stay”. Tapi jika saya memilih kabur, Anda juga akan bilang bahwa “the universe makes you run”. Get it?

    Jadi itu maksudnya beda cara pandang aja? Free will tetap ada tetapi tidak bisa diverifikasi?

    BTW, sekadar info, di mekanika kuantum ada pembahasan yang menyinggung free-will juga. Konsepnya sendiri lebih bebas/optimistik dibandingkan idenya mas Gentole — jadi, untuk setiap probabilitas kejadian, terdapat semacam split yang menghasilkan percabangan dimensi/realitas. Termasuk yang *diasumsikan* mengakibatkan split ini adalah free-will dan keputusan yang diambil seseorang.

    *berkunang-kunang*

    *bingung*

    *sakit kepala*

  38. @ sora9n | gentole

    Mengenai bagaimana naturalisme memekanisasi kehidupan saya rasa memang tidak bisa dibantah lagi. Naturalisme, by definition, memang cenderung bersikap reduksionis terhadap kehidupan—prinsip naturalisme adalah tell it as it is. Di sini kesadaran pada akhirnya direduksi atas algoritma kimiawi, yang ujung-ujungnya akan direduksi pada fisika. Sejauh ini, memang itu yang jadi basis naturalisme. Saya, dunia, pelangi yang warna-warni, samudera yang misterius, supernova, lubang hitam supermasif, kelip bintang utara; semuanya sama. Fucking chunks of atoms!😆

    Jadi akar permasalahannya adalah itu; naturalisme membuat semuanya begitu fana.

    Ini bukan “fana” seperti yang di ajarkan di kelas agama. Bukan pseudo-mortality seperti itu, yang katanya mati namun sejatinya hanya berpindah alam. Ini betul-betul fana dalam arti yang sesungguhnya.

    E. g. Naturalisme percaya bahwa suatu saat bumi akan musnah tanpa jejak. Naturalisme percaya bahwa suatu saat peradaban manusia yang menakjubkan ini akan menjadi puing-puing (presumably would be preceded by a heartwrenching tragedy). Naturalisme percaya bahwa suatu saat alam semesta akan lenyap. Dan naturalisme enteng-enteng saja membahas semuanya; setahu saya para naturalis tetap antusias membahas semua kejadian di atas.

    Mungkin itulah yang mengkhawatirkan? Naturalism is BRUTALLY HONEST. Devastatingly so. Apakah nasib akhir kita semua? “Oblivion.” Apakah cinta itu ada? “Ya dan tidak, sebab hanya persepsi biologis.” Apakah kesadaran itu sakral? “Tidak juga, Anda mau coba lobotomi?”😆

    Saya kira kita semua belum siap untuk kefanaan itu. Itulah inti masalahnya. Saya belum setegar orang macam Russell (“The secret of happiness to to accept that the world is horrible” ) atau Dawkins (yang menyatakan bahwa semua protes diatas hanya akan membuat klaim-klaim spiritualitas “more desireable, but not more probable“).

    Sebenarnya naturalisme punya jawaban di balik semuanya; yaitu karena laju sains dan teknologi memang jauh melebihi laju otak manusia untuk beradaptasi.

    Tapi solusinya, naturalisme (dan saya juga) tidak tahu.😆

    * * *

    p.s. Tapi kemampuan adaptasi generasi-generasi baru juga lumayan menjanjikan, lho. Perbedaan polusi suara pada era sebelum dan sesudah abad ke-20 konon begitu kolosal. Boleh jadi di generasi depan kefanaan bukan lagi suatu momok. Mungkin boleh berharap?

  39. BTW, tapi saya kok tidak merasa calon induk skenario WMD itu mutlak nihilisme, ya? Rasanya “semangat Jihad” para fundamentalis jauh lebih mungkin untuk memicu perang dunia untuk beberapa dekade ke depan.😕

    *jadi kita ini macam pelanduk yang dikepung dua gajah*

  40. @gentole:

    As much as I want to agree with you, saya rasa mungkin naturalisme jugalah yang telah (dan nantinya) akan menyelamatkan kemanusiaan kita. Ada beberapa teori yang menyatakan bahwa kualitas-kualitas kemanusiaan yang anda sebutkan (seperti moralitas, cinta, kerja sama, dsb) adalah hasil (dan pemenang) dari evolusi jutaan tahun; it’s already imprinted in our genes.

    Mungkin memang terdengar reduksionistis, tapi itu juga berarti virtually kemanusiaan kita tidak bisa hilang. Sama seperti antibodi yang terus-menerus berjuang melawan strain virus flu terbaru, saya percaya antibodi kemanusiaan kita juga selalu melakukan ‘rebound’ ketika ada yang mencoba memusnahkannya. Ketika manusia mulai merasa kering akan makna dan agama yang ada tidak memadai, misalnya, selalu muncul revivalisme spiritual (Dari Buddha, Yesus, Muhammad, Luther, hingga Humanisme dan New Age) entah dari mana.

    Lalu ada sejarah. Perjuangan manusia melawan lupa; amnesia akan asal-usul kemanusiannya sendiri. Maka karya-karya Kong Fu Tze dan Kierkegaard masih dibaca dan direlevankan untuk zaman ini. Dewan-dewan etika yang pandangannya dibentuk oleh para filsuf Yunani masih tetap dipasang (dan rasanya tidak akan dibubarkan) sebagai pengawas di lembaga-lembaga iptek. Bahkan untuk urusan perang dan hukuman mati, manusia masih berikhtiar membuat aturan-aturan yang membuat urusan menghilangkan nyawa orang lain lebih ‘manusiawi’.

    Yah, mungkin memang ada manusia seperti Hitler yang ‘cacat kemanusiaan’ sejak lahir atau memutuskan untuk mengabaikan kemanusiaannya, tapi saya rasa pada umumnya setiap manusia memperjuangkan hal ini meski interpretasi dan ekspresinya beraneka ragam. I’m optimist that humanity will always find a way to survive…

    1). Naturalisme membuat saya merasa tak berarti.

    He…aneh, saya juga mengalami perasaan insignificant semacam itu juga, tapi saya malah bahagia karenanya. It just proves that THIS UNIVERSE (AND WHOEVER ITS CREATOR) IS FUCKIN’ AWESOME. Bayangkan: dengan kecepatan cahaya yang secepat kilat, sinar matahari perlu 8 menit untuk sampai ke bumi. Sinar dari galaksi-galaksi jauh perlu waktu milyaran tahun untuk sampai ke sini (jadi astronomi itu bisa dibilang adalah mesin waktu ke masa lalu). Dan kita butuh 35 tahun untuk sekedar mengirim wahana Pioneer ke tepi tata surya (dan menemukan anomali di sana yang mungkin kembali mengobrak-abrik sistem fisika kita). Lalu BIG BANG. Mencoba membayangkannya saja saya sudah merasakan ekstase transendental tersendiri…

    2). Naturalisme mulai rese kalo ia sudah mulai menyelidiki manusia.

    Can’t argue with this one.

    3). Naturalisme menjadi menakutkan ketika nilai diberangus dan teknologi perang semakin canggih.

    Kalau menimbang-nimbang konsep MAD (Mutually Assured Destruction) saya rasa trend kedepannya justru adalah penggunaan senjata non-fatal dalam perang. Beberapa sudah dikembangkan sekarang, seperti bom yang membuat anda jadi gay sementara, paparan gelombang mikro yang bisa membuat pingsan sekejap dari jarak jauh, dll. Humane warfare technology? Unthinkable, I know…😛

    Tentu dengan minimalnya risiko hilangnya nyawa, manusia juga makin sering dan mudah mengibarkan bendera perang. Saya pribadi lebih setuju menyelesaikan konflik antarnegara lewat pertandingan olahraga atau turnamen bela diri satu lawan satu seperti di kartun-kartun.

    4). Naturalisme itu menurut saya paling mengerikan ketika penyelidikan atas manusia melahirkan suatu revolusi teknologis yang tak terbayangkan sebelummnya; kesadaran dijital, etc. Buat Geddoe mungkin exciting, buat saya ini mencemaskan. Yang terbayang adalah nihilisme dan kehancuran.

    But think of all the robotic sexslave catgirls we can get!!!😀

    Kalau masalah kehancuran ala Terminator atau The Matrix, saya yakin anak-cucu kita bisa memikirkan fail-safe yang memadai (Murphy’s Law notwithstanding), toh leluhur kita saja (Isaac Asimov) sudah cukup cerdas untuk menelurkan 3 (atau 4, kalau 0 dihitung) hukum dasar robotika. Kalau masalah nihilisme dalam artian kesadaran kita kehilangan podium spesialnya, yah…saya bingung juga, mungkin mesti lihat dulu seperti apa kesadaran digital ini.

  41. @ gentole

    1). Naturalisme membuat saya merasa tak berarti.
    2). Naturalisme mulai rese kalo ia sudah mulai menyelidiki manusia.

    Tapi, terlepas dari itu…

    *copy paste komen yang sebelumnya*

    “If you understand, things are like they are. If you don’t understand, things are also like they are.”

    –Zen teaching

    :mrgreen:

    Masalahnya utamanya ada di pengetahuan/pengungkapan saja, IMHO. Terlepas dari apa yang ada behind the scene, dunia sih jalan terus.

    BTW saya jadi inget sama Mas Neo waktu baru paham soal Matrix.😕

    Alam yang direkayasa adalah alam yang dieksploitasi, alam yang tidak lagi natural; tidak lagi harmonis.

    AFAIK sih, nggak mesti “tidak harmonis” juga. “Rekayasa” (= teknik/engineering) itu sendiri sense-nya luas lho. Terasering sawah juga hasil rekayasa, tapi harmonis saja dengan alam. ^^

    Tapi yaa… kalau acuannya industri modern, kecenderungan eksploitatif & polutifnya memang tinggi sekali.😕

    Jadi itu maksudnya beda cara pandang aja? Free will tetap ada tetapi tidak bisa diverifikasi?

    Menurut saya sih begitu. Tapi benar atau tidaknya… tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya™.:mrgreen:

    BTW, setahu saya masalah ini tergolong klasik. Bukankah problem legendaris™ seperti predeterminasi dan predestinasi asalnya dari situ juga? Yakni apakah free-will itu ada — dan, kalau ada, sebesar apa derajatnya.

    *berkunang-kunang*

    *bingung*

    *sakit kepala*

    Tak mengapa, masbro. Saya juga mengalami kok. ^^;;;

    :::::

    @ K. geddoe

    Mengenai bagaimana naturalisme memekanisasi kehidupan saya rasa memang tidak bisa dibantah lagi.

    Wait… itu terlalu buru-buru. Sebab cara kerja alam itu sendiri, sejauh ini, justru makin terkesan ke arah probabilistik, bukannya deterministik. Nah, ini yang memberi ruang pada hipotesis2 eksotis yang kita sering dengar — e.g. kaitan dengan metafisika, dunia paralel, dsb.-nya.

    Term “memekanisasi” ini yang ingin saya garisbawahi, terutama dalam konteks pikiran/benak. Kalau memang pikiran itu produk dari aktivitas atom, maka larinya ke… mekanika kuantum. Yang mau tak mau larinya ke probabilitas lagi. (panjang kalau dijelaskan — tapi kata kuncinya “fungsi gelombang” dan “amplitudo probabilitas”). ^^;;

    Pada skala makro, alam terlihat deterministik. Tapi di skala atom tidak begitu. Bagaimana — atau apakah — ketidakpastian di skala atom ini berdampak pada dunia makro, nah ini masih diperdebatkan sampai sekarang.🙂

    Jadi akar permasalahannya adalah itu; naturalisme membuat semuanya begitu fana. […]

    Mungkin itulah yang mengkhawatirkan? Naturalism is BRUTALLY HONEST.

    IMO, itu semacam cost of objectivity. Kenyataan yang mengerikan dipandang (atau dipaksa dipandang) biasa, mengakibatkan rasa tidak nyaman untuk si pemikir. ^^

    Rasanya ini paralel dengan orang-orang yang ketakutan mendengar nama akhirat, neraka, dan hari kiamat — tetapi di sisi lain ada para filsuf dan ulama yang begitu getol mempelajarinya, lantas jadi menganggapnya “suatu kepastian yang biasa”.😛

    Sebenarnya naturalisme punya jawaban di balik semuanya; yaitu karena laju sains dan teknologi memang jauh melebihi laju otak manusia untuk beradaptasi.

    Ada benarnya juga.

    Tapi, sedikit tambahan: IMO semua ide yang terlalu ‘melampaui zaman’ memang akan menghasilkan penolakan sejenis. Jadi nggak eksklusif milik sains-teknologi saja.🙂

    Masbro mungkin ingat Baruch Spinoza. Dulu idenya terkesan radikal sekali — tetapi sekarang kita memandangnya biasa saja. Itu kan analog dengan “melebihi laju otak manusia untuk beradaptasi”. ^^

    :::::

    @ Catshade

    Saya pribadi lebih setuju menyelesaikan konflik antarnegara lewat pertandingan olahraga atau turnamen bela diri satu lawan satu seperti di kartun-kartun.

    Asal semangat sportivitasnya nggak hilang saja. Jangan sampai wujudnya olahraga, tapi suporter/pemainnya semangat perang dan tribalis.😆

  42. ^

    Eh, ada yang salah link. ^^;;

    Pada skala makro, alam terlihat deterministik. Tapi di skala atom tidak begitu. Bagaimana — atau apakah — ketidakpastian di skala atom ini berdampak pada dunia makro, nah ini masih diperdebatkan sampai sekarang.🙂

    Sebaiknya di-refer ke berbagai asumsi yg menghubungkan QM dengan dunia nyata/makroskopik, e.g.

    [Schrodinger’s Cat]
    [Wigner’s Friend Paradox]
    [Quantum mind]
    [Quantum suicide]

    Termasuk many-world dan many-minds yang sudah disinggung sebelumnya.😉

  43. @geddoe

    Saya memang melihatnya begitu, naturalisme itu brutal, as they tell things as they are. Masalahnya, otak manusia, apapun itu ‘jiwa’ atau ‘susunan atom maha kompleks’, tidak selalu bisa konform dengan kenyataan. Kalo kaum positivis bilang kura-kura gak bisa terbang, penyair dan saya juga bisa aja bilang kalo kura-kura bukan cuma bisa terbang, tapi bisa juga jualan nasi uduk. Kognisi dalam arti menalar realitas melalui bahasa itu memberi ruang pada berbagai bias, sehingga apa yang kita pikirkan dan inginkan tidak selalu selaras dengan “the world as it is.” Jadi, ada benturan antara dunia yang dipikirkan dan dunia sebagaimana adanya. Bahasa ini memang biang keladinya, karena bahasa tidak konsisten, seperti labirin, semua pertanyaan besar tentang ‘ada’ dan ‘nilai’ dilemparkan pada lingkaran setan, infinite regress. Kita tidak bisa mempercayai bahasa yang melahirkan Tuhan, tetapi tidak bisa percaya juga dengan realitas sebagaimana adanya, karena tanpa bahasa alam semesta tidak bisa dimengerti.

    Kita memang tidak siap atas berbagai hipotesa dan kesimpulan naturalisme. Bumi ini pasti akan hancur. Tapi, seperti kata Russel, kita bisa melupakannya karena itu tidak akan terjadi selama kita hidup, here and now. Saya pun memahami kefanaan eksistensi dalam perpektif naturalisme itu seperti Anda memahaminya. Loh, ternyata Anda kuatir juga.:mrgreen: Betul kata Heidegger, sains itu misterius dan ambigu. Saya tidak seoptimis Sora dan Catshade.

    @catshade

    I’m optimist that humanity will always find a way to survive…

    You see, Mas Catshade, you’re being optimistic because you presuppose, believe or take for granted that human beings are autonomous entities who are capable of deciding their own fate. You even believe there is such a sharp distinction between subject and object, the thinking-entity and the thought-entity. In Geddoe’s naturalistic mind, you and the tree you are looking at are one. Naturalism is atheistically pantheistic. Hihi… kalimat aneh.:mrgreen:

    Naturalists are fatalist. Sama seperti yang ditulis Geddoe, kehancuran itu inevitable. Tentu, mungkin kita bisa optimis dan pesimis. Ini mungkin soal perspektif, seperti kata Sora9n.

    @sora9n

    Wah saya banyak belajar dari Anda, saya baru tau tuh soal quantum immortality. Dan sepertinya saya sedikit lebih nyaman dengan pandangan Anda ketimbang pandangan si Geddoe. Bisa dielaborasi lagi? Mungkin di blog Mas Sora sendiri? Bukan cuma saya lho yang gelisah dan penasaran dengan masalah ini. saya kira sedikit tulisan berbahasa Indonesia yang membahas soal-soal ini. Eh, tapi, jangan sampe kuliahnya terganggu.😀

  44. @geddoe

    Rasanya “semangat Jihad” para fundamentalis jauh lebih mungkin untuk memicu perang dunia untuk beberapa dekade ke depan…*jadi kita ini macam pelanduk yang dikepung dua gajah*

    Anehnya, saya juga berpikir begitu. Para mujahid dan Kristen fanatik yang gak sabar sama kedatangan kedua Kristus bisa lebih dulu bikin dunia ini hancur.😀

  45. @ gentole

    Saya tidak seoptimis Sora dan Catshade.

    Sebenarnya, saya bukannya optimis. Saya cuma membuka diri pada kemungkinan yang lebih optimis.😆

    *sepintas membingungkan*

    Wah saya banyak belajar dari Anda, saya baru tau tuh soal quantum immortality. Dan sepertinya saya sedikit lebih nyaman dengan pandangan Anda ketimbang pandangan si Geddoe. Bisa dielaborasi lagi? Mungkin di blog Mas Sora sendiri?

    Mungkin akan saya tulis di blog sendiri untuk detailnya. Tapi lihat waktu/kesempatan dulu lah. ^^

    BTW, FYI, ide-ide eksotis yang diturunkan dari QM biasanya mengacu pada probabilistic nature-nya yang sangat kental. Many-world itu sendiri adalah salah satu solusi untuk mengatasi paradoks kucing Schrodinger (probabilitas mati-hidup) — dan AFAIK teori ini masih dipertimbangkan secara serius oleh ahli fisika kontemporer. (o_0)”\

    * * *

    Kembali ke kesadaran/kehendak yang jadi inti pembahasan. IMO kalau membicarakan kesadaran — dalam konteks naturalisme — masih ada beberapa hal yang perlu diperiksa sebelum menyatakan bahwa sifatnya deterministik/non-deterministik. Saya pernah dengar bahwa untuk membahas otak QM sebenarnya kurang favorable; lebih cocok menggunakan kimia kuantum (kimia kuantum utk. molekul, QM untuk atom).

    Tapi tetap saja larinya ke persamaan Schrodinger, dan itu artinya kembali lagi ke konsep probabilitas. ^^

    Probabilitas memang bisa diabaikan kalau sistemnya besar (i.e. banyak atom; e.g. meja, kursi, tembok dsb.). Hanya saja otak itu sistem molekuler. Jadi saya rasa probabilitas itu harus diperhitungkan juga di sini.🙂

  46. *terpana melihat perbincangan yang semakin menyeramkan*

    *reply seadanya, buru-buru*

    @ Catshade

    Rasanya saya sepakat dengan masbro.🙂

    I cannot improve on your chilling commentary

    He…aneh, saya juga mengalami perasaan insignificant semacam itu juga, tapi saya malah bahagia karenanya. It just proves that THIS UNIVERSE (AND WHOEVER ITS CREATOR) IS FUCKIN’ AWESOME.

    Kok mirip catchphrase-nya Discovery Channel?😛

    BTW, menurut Cracked, Hubble Deep Field itu menunjukkan;

    …approximately 10,000 galaxies. Each of those galaxies contains anywhere from ten million to one trillion stars. The average star is roughly a million times the size of Earth. And yet, with all that junk, the Universe is more than 90 percent empty space. All of that, in this tiny photo. A photo that took 400 orbits and 800 exposures to take. And the kicker? The photo covers one thirteen-millionth of the entire night sky.

    So all that shit we just said about how big the universe is (at least 90 billion light years)? Forget it. That’s small beans. The Cosmological Horizon is here to make your day a whole lot more complicated. Since we can only observe stellar bodies that have had some effect on us (usually bombarding us with light), there is an outer limit to what we can see of the universe. Hence, the “observable universe.” What about the rest? The parts of the universe beyond our Starcraft-style fog of war? Well, according to some math we have no interest in going into, the size of the “actual” universe is so large that if the universe we just described (the impossibly, mind-bogglingly large one) were the size of a quarter, the actual universe would be the size of the Earth. Daaaaaaaamn.

    *merasa ekstatik*

    But think of all the robotic sexslave catgirls we can get!!!😀

    *menjura*

    @ sora9n

    Kalau dari sudut pandang Murphyism, “We want the truth to be pure and simple. The truth is rarely pure, and never simple.”

    Memang begitu. Such is the price of knowledge. Pada akhirnya bisa dilemparkan sepenuhnya ke jiwa zaman: seperti yang saya gagaskan, generasi saat ini sudah lebih terbiasa dengan persoalan eksistensial yang mungkin mengganggu untuk generasi sebelumnya. Misalnya tentang proporsi bumi dengan “langit”, atau kemisteriusan bumi (bumi, lho) yang semakin menyurut (tidak ada air terjun raksasa di tepi samudera).

    Saya sendiri optimis generasi mendatang bisa menerima kefanaan dengan jauh lebih baik dibanding kita. Kalau bisa seberani Socrates.😉

    Masbro mungkin ingat Baruch Spinoza. Dulu idenya terkesan radikal sekali — tetapi sekarang kita memandangnya biasa saja.

    Ah, kebetulan saya semakin hari semakin menyukai pemikiran beliau…🙂

    @ gentole

    Masalahnya apa memang benturan itu bisa terelakkan? Saya kira mustahil memandang sesuatu secara “as it is” kecuali dengan cara pandang naturalis yang dingin dan tanpa emosi. Di sini naturalisme berfungsi sebagai aproksimasi terdekat. Sulit menjelaskannya, tapi saya selalu merasa bahwa pada segala apa-apa yang saya cintai/benci/berikan emosi apapun, yang saya pandang selalu merupakan proyeksi, dan bukan murni “apa adanya”/“as it is”.

    Bahasa termasuk yang membuat proyeksi tersebut; tapi saya suka memasukkan jalur-jalur lain seperti citra, bentuk fisik, dan interaksi kita terhadap substansi yang dimaksud sebagai faktor juga.

    Saya pun memahami kefanaan eksistensi dalam perpektif naturalisme itu seperti Anda memahaminya. Loh, ternyata Anda kuatir juga.:mrgreen:

    Kalau perasaan itu datang, saya tinggal mengusirnya dengan menipu pikiran saya. Ya seperti yang diceritakan di atas; suasana yang nyaman, musik yang bagus… Memanfaatkan kerapuhan jiwa manusia.

    Wah saya banyak belajar dari Anda, saya baru tau tuh soal quantum immortality.

    Hehehe, waktu iman saya pada keabadian yang ditawarkan agama meredup, saya sempat menggantungkan harapan dengan yang semacam ini.:mrgreen:

    Anehnya, saya juga berpikir begitu. Para mujahid dan Kristen fanatik yang gak sabar sama kedatangan kedua Kristus bisa lebih dulu bikin dunia ini hancur.😀

    Itu sebabnya saya yang tergolong irreligius ini juga lebih mendukung liberalisasi (one is tempted to say humanization) dari paham-paham agama fundamental yang ada saat ini.

    Sejauh ini saya rasa naturalisme masih lebih masuk akal, tapi, agama yang liberal secara pragmatis adalah pilihan yang jauh lebih baik. Susah mengharapkan semua orang setegar dan setabah Diderot atau Schopenhauer, tapi minimal tidak ada yang setipe dengan bin Laden.😆

  47. Pingback: Fitter Happier « RosenQueen, company.

  48. Pingback: Sedikit Tentang Mekanika Kuantum dan Filosofinya (1/5) « sora-kun.weblog()

  49. Pingback: Sedikit tentang Mekanika Kuantum dan Filosofinya (2/5) « sora-kun.weblog()

  50. Pingback: Sedikit tentang Mekanika Kuantum dan Filosofinya (3/5) « sora-kun.weblog()

  51. Pingback: Sedikit Tentang Mekanika Kuantum dan Filosofinya (4a/5) « sora-kun.weblog()

  52. Pingback: Sedikit tentang Mekanika Kuantum dan Filosofinya (4b/5) « sora-kun.weblog()

  53. Pingback: Sedikit tentang Mekanika Kuantum dan Filosofinya (4c/5) « sora-kun.weblog()

Comments are closed.