Wanita, Tuhan, dan Kuda

Mas Dana (yang sekarang sedang liburan) pernah bertanya-tanya; Nabi kok cuma laki-laki?

Saya sendiri tidak terlalu mengikuti jalur diskusi yang berkembang sesudah beliau melontarkan pertanyaan tersebut, namun barusan ini saya menemukan sebuah tulisan di kotak masuk e-mail saya. Konon hasil tembusan dari Facebook.

Isinya? Wanita, Tuhan, dan kuda.

Masih juga mempertanyakan kuasa tuhan atas dirimu ??

Assalamu’alaikum,

Mencermati beberapa diskusi ttg peran wanita, maka saya mencoba untuk mendudukkan ke persoalannya berdasarkan Alquran dan sunnah, sehingga para sahabat dapat melihat dan memetakan persoalan tsb secara lebih haq dan proporsional.

Dalam Al-quran disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Dalam makna bathin bisa ditafsirkan sebagai kedudukan jiwa terhadap jasad, bahwa jiwa adalah imam bagi jasad.

[…]

Dan jika suatu ketika para wanita (pejalan) mempertanyakan: Mengapa Nabi harus seorang laki-laki? Mengapa Rasul-rasul atau para wali harus seorang laki-laki? Mengapa warisan bagi wanita adalah setengah daripada laki-laki ?

Maka seekor kuda pun tidak pernah mempertanyakan kepada Tuhan mengapa saya harus bekerja untuk manusia dengan menarik beban yang seringkali sangat memayahkan. Mungkin orang bisa saja berseloroh bahwa manusia bukan kuda, tapi dalam berserah diri sang kuda bisa jadi lebih berserah diri daripada manusia, maka siapa yang lebih baik dimata Tuhan?

Jika seseorang sudah mempertanyakan tentang keadilan Tuhan, maka bayarlah setiap udara yang kita hirup ataupun semua air yang telah kita minum. Jika tidak dapat membayarnya, maka berhentilah menghujat Tuhan, walaupun dibungkus dalam sebuah pertanyaan yang tampaknya logis, padahal hanya sebuah jeritan hawa nafsu:

‘Mengapa Tuhan Engkau memperlakukan aku seperti ini ?’

Itulah manusia, terkadang menganggap dirinya lebih cerdas dan lebih bijaksana daripada Tuhannya.

Wassalam,
Rahmat Sudarsono

*garuk-garuk kepala*

Kalau menurut pemahaman saya, logika yang dipergunakan oleh analogi ini cukup cacat. Ignoratio elenchi. Ketimbang membahas dengan komprehensif alasan-alasan di balik bias gender yang ada pada suatu pemahaman agama, penulis lebih memilih untuk mengalihkan perhatian pembaca ke bagaimana tidak sopannya bila manusia yang rendah mempertanyakan kebijakan Tuhan. Padahal semestinya ketika seseorang mempertanyakan hal yang serius seperti ini, yang diharapkan adalah supaya mereka diyakinkan dengan argumentasi, bukan ditakut-takuti.

X: Kenapa aturan agama terkesan lebih memberatkan wanita? Misalnya, kesaksian wanita adalah separuh kesaksian pria.
Y: Kalau wanita boleh protes soal itu, tentu kuda juga mesti protes karena terus diperbudak manusia. Kalau mau mempertanyakan keadilan-Nya, bayar dulu setiap napas yang kalian hirup. Jangan merasa lebih pintar dari Sang Pencipta.

Saya kira ini bukan argumentasi yang baik. Seperti yang saya katakan, ignoratio elenchi. Jadi ini semacam red herring dalam berlogika; mengalihkan perhatian penanya dari permasalahan yang sebenarnya.

‘Kan sebenarnya sama saja dengan;

Anak tiri: Kenapa aturan di rumah ini terkesan lebih memberatkan saya? Misalnya, jatah makanan saya adalah separuh jatah anak kandung Bapak.
Ayah tiri: Kalau kamu boleh protes soal itu, tentu anjing peliharaan kita juga mesti protes karena makanannya lebih sedikit. Kalau mau mempertanyakan keadilan saya, bayar dulu setiap butir nasi yang kamu telan. Jangan merasa lebih pintar dari orang dewasa.

Tentunya dengan memakai logika tulisan di atas, argumentasi si ayah tiri adalah seratus persen valid. Si anak dipersilakan untuk menangis di pojokan.

Dan, tentunya, kita bisa kembali memakai rumus sederhana untuk mengetes setiap klaim religius: ganti setiap identitas agama yang ada di atas dengan agama zaman baheula yang sudah jelas-jelas ngawur, atau agama-agama aneh yang Anda bisa bikin-bikin sendiri.

Saya akan memberi contoh. Misalnya ada sebuah agama rasis yang memberikan status superior pada bangsa berkulit putih.

X: Kenapa aturan agama kita terkesan lebih memberatkan ras selain kulit putih?
Y: Kalau kalian boleh protes soal itu, tentu kuda juga mesti protes karena terus diperbudak manusia. Kalau mau mempertanyakan keadilan-Nya, bayar dulu setiap napas yang kalian hirup. Jangan merasa lebih pintar dari Sang Pencipta.

Kalau masih terdengar absurd, maka argumentasi yang dipakai adalah salah. Dan, ya, argumentasinya memang lemah.

* * *

Saya tidak mengatakan bahwa pandangan Pak Rahmat Sudarsono ini adalah salah, namun argumentasi yang dipakai untuk mendukungnya sangat lemah dan tidak sesuai prosedur.

Anda sendiri? Punya argumentasi sendiri?πŸ™‚

57 thoughts on “Wanita, Tuhan, dan Kuda

  1. Duh sayang banget, di akhirnya begitu. Padahal pada:

    Dalam Al-quran disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Dalam makna bathin bisa ditafsirkan sebagai kedudukan jiwa terhadap jasad, bahwa jiwa adalah imam bagi jasad.

    Sudah sangat sejalan dengan tujuan dari pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan terhadap keadilan Tuhan atau agama. Yang saya kutip ini merupakan salah satu pencerahan yang didapat dari mempertanyakan ayat-ayat AQ.

    Namun sayangnya, setelah itu pertanyaan-pertanyaan kemudian dibungkam dengan alasan “ketidak sopanan” atau “ketidak tahu dirian” . Sayang sekali.

  2. Saya paling benci ketika seseorang mulai mengeluarkan analogi dan metafora untuk mendukung argumennya. Sepintas terdengar valid, padahal ketika ditelaah lebih jauh ternyata bobot dan nilai antara keduanya tidak sama.

    Misalnya adalah satu argumen serupa yang pernah saya dengar mengenai jilbab dan aturan-aturan khusus wanita lainnya dalam Islam: Bahwa itu justru menunjukkan bahwa Islam ‘menghargai’ wanita layaknya porselen atawa keramik mahal. Yang terawat dan mulus tak bercacat cela akan bernilai mulia sementara yang usang dan rompal tidak ada harganya.

    Terlepas dari benar/salah argumen aslinya (jilbab dan aturan-aturan itu baik bagi wanita), saya bingung kenapa wanita sebagai makhluk hidup dipersamakan dengan barang mati yang nggak punya akal budi dan kehendak pribadi. Dan herannya lagi, banyak wanita yang setuju dengan analogi itu.

  3. Dalam Al-quran disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Dalam makna bathin bisa ditafsirkan sebagai kedudukan jiwa terhadap jasad, bahwa jiwa adalah imam bagi jasad.

    He, apa ini berarti pria = jiwa yang statusnya lebih mulia, sementara wanita = jasad yang derajatnya lebih hina, penuh hawa nafsu kedagingan, dan berpotensi mengundang dosa?πŸ™„

  4. ^

    jasad tanpa jiwa mati, jiwa tanpa jasad lumpuh.

    saling melengkapi, saling memahami, saling mendukung. mungkin itu makna bagusnya.πŸ˜‰

    ~walaupun masih kurang paham juga
    ~’makna batin’ itu inferensinya dari mana

  5. @ dana

    Ya soalnya ‘kan selain ayat yang itu, masih ada aturan-aturan lain seperti bagaimana kesaksian wanita hanya setengah dari pria, dan sebagainya.πŸ˜•

    @ Catshade | yud1

    Sebenarnya analogi bisa saja bekerja untuk perkara-perkara yang sederhana, namun error margin-nya untuk yang sudah pelik memang terlalu besar.

    Yang mengenai porselen, rasanya mirip dengan analogi donat Ustadz Jeffy Al-Buchory yang terkenal itu.

    Soal benar atau tidaknya ajaran-ajaran syariat yang ditawarkan sendiri saya tidak terlalu ambil pusing, yang dipermasalahkan adalah pengambilan keputusannya yang memang janggal.

    Ini juga sepertinya hanya satu contoh saja. Masih banyak analogi-analogi yang bagi saya patut dipertanyakan, berkeliaran di sekitar Koran Beltβ„’ Indonesia. Misalnya yang seperti [ini].

    Seperti yang saya bilang, untuk soal syariat (atau, di contoh kedua, eksistensi Tuhan) sendiri saya berprinsip “tidak tahu dan terus belajar”. Ini berlaku untuk semua perkara-perkara metafisis. Jadi esai-esai yang cenderung mempergampang persoalan dengan logika cacat seperti ini yang saya permasalahkan.πŸ˜€

  6. IMHO sih, masalahnya memang rada pelik. Apologis harus mengapologikan dalil-dalil tertentu (dengan rasio), tapi di sisi lain mereka menetapkan bahwa hasil akhirnya harus sesuai dengan keyakinan (belief).

    Repotnya, belief meminta bahwa aturan Tuhan pasti berlaku. Sementara rasio — paling bagus — cuma bisa mengantar sampai agnostisisme saja.πŸ˜•

    Alhasil, diambillah jalan lain. Manusia-lah yang harus memaknai sendiri semua aturan Tuhan itu. Mungkin kasarnya, jika sebagai eksistensialis manusia harus memberi makna pada hidupnya sendiri, maka sebagai apologis manusia harus memberi makna pada agamanya sendiri.:mrgreen:

    Jadi, ya… IMO, nggak mengherankan kalau jadi banyak fallacy dalam upaya pemaknaan itu.πŸ˜† Kalau pemaknaan itu tidak bisa dibentuk, si apologis harus mengakui bahwa konsep yang dibelanya tidak bermakna. Sementara belief-nya tidak mengizinkan hal itu terjadi.πŸ˜‰

  7. @Catshade

    He, apa ini berarti pria = jiwa yang statusnya lebih mulia, sementara wanita = jasad yang derajatnya lebih hina, penuh hawa nafsu kedagingan, dan berpotensi mengundang dosa?

    Bukan begitu. Baik pria dan wanita kan sama sama mempunyai jiwa dan jasad. Jadi potensi mereka jadi sama dalam hal ini. Semoga bisa dimengerti.πŸ˜‰

  8. @ K. geddoe

    Nah, itu dia. Kan seharusnya di pertanyakan lagi. Dalam hal warisan itu, ketika dipretanyakan terus maka bisa jadi maksudnya itu bagian jiwa lebih banyak dibanding bagian jasad. Atau bisa juga bahwa itu adil dalam konteks jaman ayat itu turun, tapi untuk jaman sekarang bisa jadi 1:1 lah yang adil.

    Eh, itu ngubah-ngubah ayat sesuai hawa nafsu nggak ya?πŸ˜†

  9. Nah, itu dia. Kan seharusnya di pertanyakan lagi. Dalam hal warisan itu, ketika dipretanyakan terus maka bisa jadi maksudnya itu bagian jiwa lebih banyak dibanding bagian jasad. Atau bisa juga bahwa itu adil dalam konteks jaman ayat itu turun, tapi untuk jaman sekarang bisa jadi 1:1 lah yang adil.

    Kalau yang pernah gw baca sih, logika di belakang warisan 2:1 itu adalah karena cowok itu punya ‘tugas ekstra’ buat bayar mas kawin saat menikah. Kalau mengingat besarnya mas kawin di Arab sih jadi masuk akal juga.

  10. Jawaban yang paling sederhana untuk pertanyaan “Nabi kok cuma laki-laki?” adalah :
    1. Kebudayaan manusia adalah kebudayaan patriarki, dengan begitu laki2 lebih didengar daripada perempuan.
    2. Atau nabi wanita ada, tapi suaranya tidak terdengar karena menurut kebudayaan manusia, suara wanita tidak sekredibel suara laki2.

    Intinya, cari praktisnya saja. Nabi laki2 lebih efektif pada msa itu (dan pada masa sekarang juga).

    Jawaban di atas meski sederhana dan praktis akan sangat jarang digunakan oleh kalangan agamawan.
    Kenapa ya?

  11. Eh, ada ayat atau hadist yang menyatakan nabi itu semua laki-laki da? Saya benar-benar tidak tau. Kalo misalnya tidak ada pernyataan resmi bahwa nabi itu semua laki, maka berarti pernyataan tidak ada nabi perempuan itu belum tentu benar kan? Bukankah kita tidak bisa membuktikan ketidak adaan po?

  12. @ sora9n

    Mesti diakui bahwa pada dasarnya cara berpikirnya memang tidak terlalu ilmiah. Setengah-setengah. Kasarnya, ketimbang “These are the evidence, what’s the conclusion?”, polanya adalah, “This is the conclusion, what would the evidence be?”.

    Tapi, mesti diingat bahwa terdapat banyak apologi-apologi yang lumayan bermutu… Yang ini terlihat betul-betul mentah.πŸ˜•

    *Bagaimanapun, saya tidak melihat bagaimana dogma diatas bisa dirasionalisasikan kecuali melalui disteisme dan/atau reinterpretasi*

    @ dana

    Kalau tidak salah memang secara bahasa, kata-kata ganti feminin banyak disangkut pautkan dengan yang jelek-jelek? Saya pernah dengar kalau dalam berbagai bahasa, “kiri” itu feminin, dan “kanan” itu maskulin. Dan kita tahu sendiri konotasi “kiri” di zaman ini (walau politik kiri semakin mendapat tempat).

    Nah, itu dia. Kan seharusnya di pertanyakan lagi. Dalam hal warisan itu, ketika dipretanyakan terus maka bisa jadi maksudnya itu bagian jiwa lebih banyak dibanding bagian jasad.

    Yang seperti ini menarik.πŸ™‚

    Eh, itu ngubah-ngubah ayat sesuai hawa nafsu nggak ya?πŸ˜€

    Yaah, biasanya sih apa-apapun yang diinterpretasikan ulang dituduh mengikuti hawa nafsu.πŸ˜›

    @ Nenda Fadhilah

    Dari sini tepatnya: http://www.new.facebook.com/note.php?note_id=46547000864&id=548262857&index=2

    Oke, makasih.

    Pas gw baca, kayak β€œYou do not really answer the question, agent.”

    Itulah esensi ignoratio elenchi.

    Btw, gambar paling kiri itu Lady Godiva ya?

    Ya. Dari kiri ke kanan, Lady Godiva, The Creation of the Sun and Moon, dan The Battle of Anghiari.πŸ™‚

    @ dnial

    Betul, jawaban seperti itu lebih membumi dan tidak mengada-ada ketimbang analogi dengan kuda. Kenapa jarang dipakai, saya juga bingung.πŸ˜•

    @ ManusiaSuper

    Soal kenabian, tidak ada ayat yang secara eksplisit mengatakan demikian. Sebaliknya, tradisi agama Yahudi (Judaisme) menyatakan dengan jelas bahwa terdapat 600.000 nabi laki-laki dan 600.000 nabi perempuan ([link]).

    Pada tradisi Islam, jumlah nabi dipotong dari 1.200.000 menjadi 124.000, tapi saya tidak tahu bagaimana dengan proporsi gendernya.πŸ˜•

    Soal nabi sendiri sebenarnya tergolong minor, masbro. Sebab selain bagaimanapun nabi yang disebutkan di kitab hanyalah yang laki-laki, pertanyaan soal kenabian itu sendiri tidaklah terlalu “bermasalah” dibandingkan dengan masalah-masalah lain seperti kesaksian wanita di pengadilan, dress code, dan jumlah warisan.

  13. Dan, tentunya, kita bisa kembali memakai rumus sederhana untuk mengetes setiap klaim religius: ganti setiap identitas agama yang ada di atas dengan agama zaman baheula yang sudah jelas-jelas ngawur, atau agama-agama aneh yang Anda bisa bikin-bikin sendiri. >>>

    ya, tentu saja, permasalahannya pertanyaan yang diangkat juga masuk ke ranah ‘keyakinan’ soal nabi, dan tuhan tentu saja, bagaimana bisa memasukkan arguentasi yang sehat untuk menjawab pertanyaan semacam ini.

    kalau sains tidak boleh dihantam dengan keyakinan, mungkin persoalan keyakinan juga tidak boleh dihantm dengan sains, piye ini?

  14. Jadi, memang tidak mungkin memakai argumentasi yang sehat untuk masalah-masalah agama?πŸ˜•

    Ini membingungkan, sebab, seringkali aturan itu hanya diterapkan ke agama sendiri. Ke agama orang lain, biasanya argumentasi-argumentasi logis langsung diluncurkan ke segala penjuru.πŸ™‚

  15. Jawaban di atas meski sederhana dan praktis akan sangat jarang digunakan oleh kalangan agamawan.
    Kenapa ya?

    Because…God’s will and actions are supposed to be cryptic to the masses unless you spent 10 years studying theology?πŸ˜›

  16. Kalo menurut saya sih, Mas Rahmat itu cuma mau bilang; emang udah dari sananya begitu, gak usah banyak nanya. Kalo itu dibilang kesalahan dalam berlogika, yah wajar. Lah, wong, eksistensi Tuhan aja bisa dipermasalahkan secara logis, apalagi masalah-masalah turunannya, seperti keadilan Tuhan atau absennya nabi perempuan. Sepakat sama Sora9n, logika tidak bisa digunakan untuk menjustifikasi keyakinan/teologi. Makanya ‘role model’ dalam tradisi agama Abrahamik adalah para mistik, bukan filsuf.

    Nah, soal perempuan yang dikelasduakan dalam syari’ah, hukum Taurat atau aturan gereja (women cannot be ordained), ini tentu bisa diakali, karena Kitab Suci itu bisa ditafsirkan macam-macam. Saya kira selalu ada ruang bagi jiwa zaman untuk mewarnai yang namanya Hukum Allah. Konsekuensinya, agama tidak lagi ortodoks. Tapi, yah, mau bagaimana lagi.

  17. @ K. geddoe

    Jadi, memang tidak mungkin memakai argumentasi yang sehat untuk masalah-masalah agama?πŸ˜•

    Sebenarnya bukannya nggak mungkin juga sih. Apologi2nya Jeffrey Lang, misalnya, relatif bisa meng-cover beberapa citra negatif Islam di US tanpa terjebak fallacy.

    IMHO, inti masalahnya sendiri lebih ke arah koherensi — yakni bagaimana caranya menyusun apologi yang runtut, tidak self-refuting, dan sejalan dengan belief yang dipertahankan. Nah, skill macam ini yang kebanyakan kurang dimiliki oleh para apologis; kebanyakan lebih suka main hantam dengan argumen sekenanya. ^^

    @ gentole

    Saya kira selalu ada ruang bagi jiwa zaman untuk mewarnai yang namanya Hukum Allah. Konsekuensinya, agama tidak lagi ortodoks. Tapi, yah, mau bagaimana lagi.

    Sayangnya ada cap sakti di lingkungan umat, terutama aktivis dakwah…

    “Kamu bicara begitu, pasti kamu ini antek liberal ya!?”πŸ‘Ώ

    *geleng-geleng kepala*

    *cape deh* (-_-)

  18. @ gentole

    Kalau dalam perkara-perkara yang pengaruh sosialnya tidak terlalu banyak, saya kira memang tidak apa dibiarkan, namun kalau yang ini kelihatannya lumayan mengganggu.πŸ˜•

    ini tentu bisa diakali, karena Kitab Suci itu bisa ditafsirkan macam-macam.

    Benar, saya sendiri lebih menyukai modernisasi seperti itu dalam agama-agama. Namun, seperti yang kita tahu, penafsiran ulang akan selalu diekori oleh kontroversi.

    @ sora9n

    Saya hanya menyambung dari gagasan Mas Isnan.πŸ™‚

    Sayangnya ada cap sakti di lingkungan umat, terutama aktivis dakwah…

    “Kamu bicara begitu, pasti kamu ini antek liberal ya!?”πŸ‘Ώ

    *geleng-geleng kepala*
    *cape deh* (-_-)

    Mau bagaimana lagi?πŸ˜†

  19. Soal benar atau tidaknya ajaran-ajaran syariat yang ditawarkan sendiri saya tidak terlalu ambil pusing, yang dipermasalahkan adalah pengambilan keputusannya yang memang janggal.

    seconded. di sini memang ada masalah soal inferensi, walaupun secara substansi mungkin bisa diterima. saya sendiri sih terbuka saja, walaupun kadang-kadang berlogika bisa jadi agak susah untuk urusan pelik seperti ini.:mrgreen:

    Ini juga sepertinya hanya satu contoh saja. Masih banyak analogi-analogi yang bagi saya patut dipertanyakan, berkeliaran di sekitar Koran Beltβ„’ Indonesia. Misalnya yang seperti [ini].

    kalau nggak salah, ini salah satu contoh klasik juga sih.

    (1a) ‘perahu tidak mungkin jadi tanpa ada yang membuat’
    (1b) ‘dunia tidak mungkin jadi tanpa ada yang membuat’

    (2a) ‘rasa sakit itu tidak terlihat, tapi ada’
    (2b) ‘Tuhan itu tidak terlihat, tapi ada’

    masalahnya? antara (a) dan (b), tidak ada syarat cukup bahwa terdapat atribut-atribut yang menghubungkan dan mengimplikasikan bahwa (a -> a’) maka (b -> b’). mungkin saja memang berlaku (a -> a’) -> (b -> b’)… tapi inferensinya bagaimana?πŸ˜‰

    tapi sebagaimana kita ketahui bersama, hal ini sudah jadi klasik, tampaknya.

    […] Ini berlaku untuk semua perkara-perkara metafisis. Jadi esai-esai yang cenderung mempergampang persoalan dengan logika cacat seperti ini yang saya permasalahkan.πŸ˜€

    substansinya (metaphysics stuffs), atau kulit luarnya (logical inference)?:mrgreen:

  20. *baca komen sendiri*

    ..lha? kok di-convert jadi emoticon?

    masalahnya? antara (a) dan (b), tidak ada syarat cukup bahwa terdapat atribut-atribut yang menghubungkan dan mengimplikasikan bahwa (a -> a’ ) maka (b -> b’ ). mungkin saja memang berlaku (a -> a’ ) -> (b -> b’ )… tapi inferensinya bagaimana?πŸ˜‰

    (hopefully) fixed.

  21. Benar. Singkatnya, seringkali non sequitur. Apalagi cara menyampaikannya seringkali dengan anekdot-anekdot yang terkesan mempergampang masalah dan arogan (seperti tokoh Profesor Ateisβ„’ yang akhirnya dipermalukan pada sebuah seminarπŸ˜› ).

    Pada contoh masbro, dalam contoh 1 masih bisa di-challenge dengan konsep self-refuting (konklusi yang menyisakan Tuhan akan mengkontradiksi preposisi 1), dan dalam contoh 2, betul-betul non sequitur. (Jin botol berkepala pisang itu tidak terlihat, tapi…)πŸ˜•

    Buat saya akan lebih baik kalau dalam berapologi, memakai pakem lompatan iman dan/atau probabilitas, ketimbang memaksakan untuk menge-PWN paham yang berseberangan.

  22. Err.. kenapa tidak ada Nabi wanita?

    Sebab Tuhan itu pemalu.. Selalu gugup kalo ketemu wanita, makanya sampe sekarang Dia jadi Maha Jomblo..

  23. Buat saya akan lebih baik kalau dalam berapologi, memakai pakem lompatan iman dan/atau probabilitas, ketimbang memaksakan untuk menge-PWN paham yang berseberangan.

    Susahnya, kedua belah pihak (baik yang apologis maupun yang debunker) sering jumawa bahwa akal deterministik itu cukup untuk mem-prove/disprove konsep Tuhan dan agama.πŸ˜›

    *OOT: saya dulu sempat begitu juga soale*πŸ˜†

  24. *melhat komentar yud1 lagi*
    *masih kagum*
    *teringat derrida*

    Masalahnya di bahasa kali mas yah. Logika itu boleh saja lempang kayak jalan tol, bahasa itu berkelok-kelok kayak labirin di pemukiman kumuh Jakarta.πŸ˜€ Kata abang saya, Derrida sudah tidak percaya logika, beserta inferensi nir-fallacy lainnya, karena bahasanya sudah bermasalah. Pendeknya, dengan segala hormat pada Mas Geddoe sebagai kader Bertrand Russel yang nati-fallacy, logika itu sudah by nature fallcious.:mrgreen:

  25. @ gentole

    Logika itu boleh saja lempang kayak jalan tol, bahasa itu berkelok-kelok kayak labirin di pemukiman kumuh Jakarta.πŸ˜€ Kata abang saya, Derrida sudah tidak percaya logika, beserta inferensi nir-fallacy lainnya, karena bahasanya sudah bermasalah.

    Kok saya jadi deja vu sama omongan beberapa orang, ya…

    Aturan Tuhan itu sempurna. Hanya saja, tafsir manusia mustahil menangkap semua esensinya.

    Lost in translation itu mah.πŸ˜†

  26. @ gentole

    Saya tidak pernah mempelajari dekonstruksionisme, mungkin kapan-kapan. Ada saran mulai dari mana? Buat pemula, tentunya.

    Dan yup, sepertinya pemikir yang disiplin berlogika macam Russell memang berasumsi bahasanya tidak bermasalah dulu sebelum memprosesnya. Mungkin karena mereka dan antek-anteknya (seperti saya) tidak separanoid dan seskeptis Derrida?πŸ˜€

    @ sora9n

    Tapi ujung-ujungnya memang reinterpretasi, bukan?

  27. Err.. kenapa tidak ada Nabi wanita?

    Sebab Tuhan itu pemalu.. Selalu gugup kalo ketemu wanita, makanya sampe sekarang Dia jadi Maha Jomblo..

    Hey, my God divinely impregnated a virgin woman, who became the most (albeit also the only) powerful female in any religion…so my God > your godπŸ˜›

    Btw, Saya menemukan artikel ini, rasanya lumayan menarik dan relevan dengan topik kita. It has Dawkins versus VaticanπŸ˜€

  28. @Kopral Geddoe
    Bisa mulai dari strukturalisme-nya Sausure, terus langsung aja baca Of Gramatology. Saya sih sekarang lagi asik sama Umberto Eco. Baru dapet bukunya yang “Kant and the Platypus.” Oh, ya, saya baru dapet kumpulan essainya Russel yang judulnya “In Praise of Idleness”. Terbitnya tahun 1935, tapi rasanya kayak baru terbit tahun kemarin.

    @Catshade
    Ini blasphemous ini. Heretic. Saya akan laporkan Anda ke para inquisitors!

  29. @ Catshade

    Lha…πŸ˜†

    BTW, makasih linknya. Saya bukmark dulu.πŸ™‚

    @ gentole

    Of Grammatology itu bukannya membacanya perlu pengetahuan-pengetahuan mendasar tentang karya-karya tulis orang lain terlebih dahulu? Saya ragu bakal nyambung.

  30. @catshade

    Hey, my God divinely impregnated a virgin woman, who became the most (albeit also the only) powerful female in any religion…so my God > your godπŸ˜›

    Do you forget Durga, the Hindu’s Goddess? Or Kwan Im? Or Hera, Greeks Goddess?
    Heck, they are more divine and powerful than Virgin Mary.
    Shame on you!

    @gentole

    Pendeknya, dengan segala hormat pada Mas Geddoe sebagai kader Bertrand Russel yang nati-fallacy, logika itu sudah by nature fallcious.

    If logic fails, where else human being can put their hope? Are we just human waiting for shinigami to take our lives?

    *menangis di pojokan*

  31. Do you forget Durga, the Hindu’s Goddess? Or Kwan Im? Or Hera, Greeks Goddess?

    What about the Invisible Pink Unicorn, Eris, and Haruhi Suzumiya?:mrgreen:

    If logic fails, where else human being can put their hope? Are we just human waiting for shinigami to take our lives?

    This is where a pragmatic approach should kick in. Choose the method in which the error margin is the lowest.:mrgreen:

  32. @Geddoe
    Lah, baca dulu kali bukunya, nanti jadi ketauan yang buku/pemikiran mana yang perlu dibaca lagi. Buku itu ibarat kritik sejarah filsafat. Emang ribet. Saya juga tidak tahu apakah saya mengerti. Kata pengantar dari penerjemahnya aja, Gayatri Spivak, udah intimidating. Garis besarnya sih soal bahasa.

  33. @ K. geddoe

    Tapi ujung-ujungnya memang reinterpretasi, bukan?

    Kalau katanya Pak GM sih…

    “Itu sebuah rahasia yang tak kunjung secara lengkap ditafsirkan. Kita di sini hanya mencoba.” (u_u)
    πŸ˜›

  34. @ sora9n

    Yup. Memang skeptisisme mesti dijaga, termasuk terhadap pemahaman sendiri.πŸ™‚

    @ CY

    Menurut saya memang fallacy.πŸ˜›

  35. Hmm, saya sih gak paham-paham bener soal logika. Cuma seorang “pendebat jalanan” aja yg belajar logika di pinggir-pinggir “jalan diskusi”

    Di antara yg saya tahu adalah kalo sesuatu tidak bisa dibuktikan keberadaannya, nggak usah dipikirin deh. Kalo pake belatinya Okem, malah kita harus bilang sesuatu itu nggak ada.

    Dalam kasusnya artikelnya si Rahmat, dia emang menggunakan fallacy.

    Kalo saya dia lebih cerdas dikit sih, harusnya dia mempertanyakan dan menghancurkan standar keadilan si wanita, daripada mengalihkan pertanyaan. Dengan mengalihkan pertanyaan, secara implisit dia sendiri setuju kalo Tuhan itu nggak adil.

    Coba dia bilang gini:
    “Lha emang adil itu ukurannya apa? Adil itu apa sih? Kalo Allah Maha Adil, maka segala sesuatu ketetapan-Nya adalah adil. Wong manusia saja sudah ditetapkan oleh-Nya ‘sekalipun tidak akan bisa berbuat adil walaupun sangat ingin’. Manusia cuma bisa berusaha untuk tidak berniat berbuat tidak adil, atau berlebihan dalam berbuat ketidakadilan.”

    Mungkin akan ada yang bilang, ah itu khan analog dengan pernyataan:
    “Ah, manusia tidak akan bisa me-logika-kan Tuhan”

    Tapi, jelas itu beda. Jika pernyataan yg terakhir itu benar, maka manusia tidak bisa mengenal Tuhan dengan benar. Dengan begitu, pernyataan itu sendiri telah mendelegitimasi semua kepercayaan tentang Tuhan. Dengan begitu, jika Tuhan memang ada, maka jelas Dia cuma Tuhan yang suka main-main dengan ciptaannya. Disuruh nyembah, eh nggak dikasih alat untuk tahu Dia ada ato nggak. Kalo pake belati Okem, karena kita tidak mungkin tahu Tuhan itu ada ato nggak, maka anggap aja nggak ada.

    Tapi, dengan mendekonstruksi konsep adil, dan mengembalikannya pada keputusan-keputusan dan ketetapan-ketetapan Tuhan, maka kita telah menyelesaikan semua protes dan aturan aneh dari suatu agama.

    Tentang masalah analogi perahu, saya cuma setuju sebagian saja. Analogi bagaimanapun hanya berfungsi sebagai penjelas argumen utama, tidak boleh dipakai sebagai argumen itu sendiri. Karena itu, saya juga nggak setuju analogi menghargai wanita – porselen mahal. Terkait dengan analogi perahu, menurut saya itu hanya menghilangkan ketidakmungkinan keberadaan Tuhan. Tapi, lagi-lagi kita harus pake belati Okem. Sehingga, sesuatu yang mungkin ada tapi nggak ada buktinya buang aja dari pikiran.

    Saya sendiri punya pendapat pribadi tentang Tuhan. Dan, karena online cuma sekali sekali, saya masih terlalu malas untuk berdebat tentang asumsinya.

    Asumsi:
    Segala sesuatu yang bisa kita indera mempunyai penyebab.
    Konsekuensinya:
    Causa Prima. Penyebab utama untuk semua yang bisa kita indera. Causa Prima ini tidak bisa kita indera dan hanya bisa kita ketahui dengan inferensi. So, Causa Prima tidak perlu mempunyai penyebab yang lain.

    Tentu saja, jika diketahui bahwa segala sesuatu yang bisa kita indera (alam semesta) tidak membutuhkan penyebab, maka otomatis tidak ada Tuhan.

  36. Di antara yg saya tahu adalah kalo sesuatu tidak bisa dibuktikan keberadaannya, nggak usah dipikirin deh. Kalo pake belatinya Okem, malah kita harus bilang sesuatu itu nggak ada.

    Sebenarnya tidak demikian. Saya kira inti dari belati Ockham adalah menggambarkan probabilitas. Metode-metode ilmiah yang membangun peradaban kita memang tidak menyajikan kepastian—sesuatu yang mungkin tidak nyaman untuk studi teologis.

    Dan lagi, sebenarnya yang lebih parah itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan ketidakberadaannya (seperti tekonya Mbah Russell).

    Kalo saya dia lebih cerdas dikit sih, harusnya dia mempertanyakan dan menghancurkan standar keadilan si wanita, daripada mengalihkan pertanyaan. Dengan mengalihkan pertanyaan, secara implisit dia sendiri setuju kalo Tuhan itu nggak adil.

    Sepakat. Saya sendiri akan lebih tertarik mendengar argumentasinya tentang standar keadilan tersebut.

    […] dengan mendekonstruksi konsep adil, dan mengembalikannya pada keputusan-keputusan dan ketetapan-ketetapan Tuhan, maka kita telah menyelesaikan semua protes dan aturan aneh dari suatu agama.

    Selain itu, konsep keadilan dan permasalahan etika lainnya, seringkali berubah-ubah seiring dengan jiwa zaman. Jadi sebenarnya berpotensi menghasilkan argumen yang lebih baik.πŸ˜•

    Analogi bagaimanapun hanya berfungsi sebagai penjelas argumen utama, tidak boleh dipakai sebagai argumen itu sendiri. Karena itu, saya juga nggak setuju analogi menghargai wanita – porselen mahal.

    Betul, analogi seringkali malah menyesatkan. BTW, bagaimana dengan analogi donat?πŸ˜›

    Asumsi:
    Segala sesuatu yang bisa kita indera mempunyai penyebab.
    Konsekuensinya:
    Causa Prima. Penyebab utama untuk semua yang bisa kita indera. Causa Prima ini tidak bisa kita indera dan hanya bisa kita ketahui dengan inferensi. So, Causa Prima tidak perlu mempunyai penyebab yang lain.

    Tentu saja, jika diketahui bahwa segala sesuatu yang bisa kita indera (alam semesta) tidak membutuhkan penyebab, maka otomatis tidak ada Tuhan.

    Argumen causa prima memang tergolong argumen yang compelling, tapi saya masih sedikit skeptis soal ini. Mengutip Mbah Russell, “If everything must have a cause, then God must have a cause. If there can be anything without a cause, it may just as well be the world as God.”

    Salam.πŸ™‚

  37. logika di belakang hak waris itu, karena di ajaran islam harta suami adalah bukan mutlak harta yg dipunyainya tetapi istri dan anaknya berhak atasnya pula, jd suami berkewajiban membelanjakan hartanya untuk istri dan anak2nya beda apabila si istri punya pendapatan, maka harta yang didapatkan 100% mutlak punya dirinya, mau dibelanjakan untuk keprluan keluarga atau tidak itu terserah dia

    so karena alasan itulah mengapa hak waris laki2 2 kali lebih banyak dari wanita

    kalo pertanyaan mengapa nabi tidak ada yg perempuan ?, sepengatahuan sy di Al-qur’an atau hadit’s tidak ada yang eksplisit meyatakan kalo nabi semuanya laki2 pun demikian sebaliknya (koreksi kalo salah)

    saya sebetulnya menyayangkan argumen pak Rahmat menyamakan wanita dengan kuda, kuda tidak pernah bertanya karena dia tidak punya akal ?, sedangkan kita semua manusia punya akal dan seyogyanya mencari tahu segala sesuatu bahkan kalo perlu sampai pergi ke langit sekalipun

    jd kalo ada sesuatu yg belum terbukti dalam dogma agama, sy lebih menyukai orang tsb meng-encourage penanya untuk mencoba menggali, meneliti dan membuktikan hal itu, drpd keingintahuannya di cut begitu saja, kalo memang sulit dibuktikan ya sudah tinggal kitanya mau mempercayai atau tidak, silahkan hak masing2 pribadi, bukankah pada akhirnya agama adalah soal kepercayaan ?, toh di dalam ajaran islam sendiri tidak ada pemaksaan dalam kepercayaan

    IMHO

  38. Terima kasih, jawaban seperti itu lebih beralasan dan memuaskan. Namun tentu masih bisa dipertanyakan karena tetap bias gender, sebab bisa saja disebutkan bahwa bagian yang besar adalah diperuntukkan pada anak yang ditugaskan mencari nafkah. Tapi seperti yang saya sebutkan, yang dipermasalahkan bukanlah hasilnya, melainkan prosesnya. Fallacy yang dipergunakan oleh Pak Rahmat.

    kalo memang sulit dibuktikan ya sudah tinggal kitanya mau mempercayai atau tidak, silahkan hak masing2 pribadi, bukankah pada akhirnya agama adalah soal kepercayaan ?, toh di dalam ajaran islam sendiri tidak ada pemaksaan dalam kepercayaan

    Sepakat.πŸ™‚

  39. Mengutip Mbah Russell, β€œIf everything must have a cause, then God must have a cause. If there can be anything without a cause, it may just as well be the world as God.”

    tapi jangan lupa, bahwa setiap rekursi selalu punya base case… atau setidaknya, dalam pemahaman yang diciptakan oleh manusia (baca: matematika dan logika). walaupun bisa juga bahwa sebenarnya tidak ada rekursi — kalimat kedua, dan selesailah masalah kita.:mrgreen:

    secara common sense sih, bukankah manusia memang hidup di dunia sebab dan akibat? dalam kehidupan sehari-hari, misalnya. kita hampir tidak bisa menemukan sesuatu yang tidak ada sebabnya, kan?

    misalnya ini: saya punya pensil -> pasti ada pohon yang ditebang -> pasti ada yang menanam pohon -> … -> semua ini Tuhan yang menciptakan! (yaaay!:mrgreen: )

    masalahnya, base case ini apa? tidak bisa diverifikasi, sayangnya. kalau mau dicoba sih paling jadinya begini:

    Tuhan ada yang menciptakan -> siapa yang menciptakan Tuhan? -> oh! Tuhan00! -> siapa yang menciptakan Tuhan00? -> oh! Celestial Being! -> siapa yang menciptakan Celestial Being? -> … (the list is endless, duh)

    pusing-pusing deh tuh mikirinnya.:mrgreen:

    btw, bukankah hal seperti inilah yang memberikan ruang untuk sesuatu yang bernama religi dalam kehidupan manusia?πŸ˜‰

  40. ^

    masalahnya, base case ini apa? tidak bisa diverifikasi, sayangnya. kalau mau dicoba sih paling jadinya begini:

    Tuhan ada yang menciptakan -> siapa yang menciptakan Tuhan? -> oh! Tuhan00! -> siapa yang menciptakan Tuhan00? -> oh! Celestial Being! -> siapa yang menciptakan Celestial Being? -> … (the list is endless, duh)

    pusing-pusing deh tuh mikirinnya.:mrgreen:

    *copy paste dari komen sebelumnya*

    Kalau katanya Pak GM sih…

    β€œItu sebuah rahasia yang tak kunjung secara lengkap ditafsirkan. Kita di sini hanya mencoba.” (u_u)

    *surprisingly relevant*πŸ˜†

  41. @ yud1

    Betul, karena kasusnya adalah infinite regress, maka susah untuk diperiksa lebih jauh. Secara sains memang masih ada pisau Ockham untuk cut the middleman dan sedikit mengurangi kemungkinan Tuhan, namun secara filsafat saya kira semuanya masih tetap kabur (Maha Kabur?:mrgreen: ).

    Sebenarnya ada alternatifnya, yaitu mempertanyakan konsep waktu itu sendiri; mirip Hawking (?) yang menyatakan bahwa mempertanyakan waktu sebelum Big Bang adalah seperti mempertanyakan apa yang lebih utara dari Kutub Utara. Yang lebih menarik adalah kalau mengingat bahwa ada gagasan bahwa tidak semua kejadian memerlukan sebab—katanya (saya ndak paham fisika, je) anomali ini jamak terjadi pada level atomik.

    Itu penjelasan out of the box yang ateistiknya. Yang teistiknya tentu lebih sederhana; asumsikan saja bahwa regress-nya diterminasikan pada Tuhan.πŸ™‚

    Mana yang benar? Mana saya tahu? ^^;;

    @ sora9n

    Saya sih setuju-setuju saja, sebab tergolong indifferent soal pertanyaan metafisis. Mari kita bersama-sama mencari jawabannya.πŸ™‚

    Cumaaa, dalam prosesnya, tolong yang namanya bom, terorisme, sikap anti-sains, dan sebangsanya itu jangan dipake. Itu saja.:mrgreen:

  42. ah ya…rada OOT tp sdkt nyambung. curhat aja ttg masalah teman.
    jd ttg warisan itu, dimana bagian perempuan lbh dikit drpd laki2. nah implemenasinya tyt ga semudah itu. ketika anak2 sudah beranak cucu, pembagian warisan jd rumit banget, dan walhasil bisa jadi, single mother dengan bbrp anak, hanya mendapatkan sedikit bagian dibanding ponakan laki2 yang masih single.

    dimana keadilan?? keadilan versi siapa ??

  43. @restlessangel
    Umm, disini siapa yang meninggal dulu? Soalnya posisi menentukan jumlah warisan. Dan lagipula seinget saya, keponakan pewaris itu jatahnya lebih kecil daripada anak.

    Tapi ada pertimbangan lain juga sih, kan cucu2nya ini bisa dapet warisan dari bapaknya dan (seharusnya) kalau bapaknya masih hidup, tugas bapaknya ini untuk membiayai anak2nya tersebut.

    Kalau yang meninggal bapaknya si ibu, bisa pake alternatif dimana pemberi warisan menghibahkan beberapa bagian hartanya sebelum meninggal untuk menjamin hidup cucu2nya.

    Mesti per kasus sih untuk melihat apakah sesuatu hal itu adil atau tidak. Jadi tolong diperjelas masalahnya seperti apa.πŸ™‚

  44. @restlessangel:

    Saya rasa keadilan Ilahi (for that particular God, of course) di sini akan terjadi ketika ada seorang laki-laki yang mau memperistri (tak masalah kalau yang kedua, ketiga, atau keempat) si single mother (saya asumsikan dia janda…karena kalau dia beranak di luar nikah, she’s damned in mostly-eternal hellfire!) untuk mengangkat harkat hidupnya dan anak-anaknyaπŸ˜€

  45. @ nenda :
    iya…tau kok. tll rumit dan personal utk dishare disini. tp pd waktu itu, sempet difloorkan alternatif, mo pake hukum islam ato hukum nasional. dan tyt memancing kekisruhan..😦

  46. saya kasian sama yang menerima email dari si RS.. sama yang kemudian meneruskannya.. terlebih lagi sama yang menggunakannya sebagai pembenaran.

Comments are closed.