Pakdé

Jadi begini. Baru-baru ini Gunawan turun gunung, dan oleh-olehnya adalah gaya menulis yang tiba-tiba menua. Coba saja lihat tulisan-tulisan anyarnya; misalnya “Hidup“, yang dirilis 5 Agustus lalu. Citra yang saya tangkap adalah mirip tulisan seorang pakdé kepala empat (atau lebih) yang merokok lewat pipa.

Pakdé kepala empat, merokok lewat pipa, suka baca sastra bawah tanah yang obscure, dan rajin mengirim tulisan ke media cetak. Gaya bicaranya usang, kuno, dan antik. Apalagi pakai istilah-istilah bahasa Jawa yang diitalisasi—betul-betul kental kesan pakdé-nya. Membaca blog beliau yang biasanya tidak terlalu usang (pernah dengan tekun membahas urusan selangkangan pula), saya jadi terkesima. Rasanya seperti membaca BloGombal.org atau ImanBrotoseno.com.

Ada apa dengan Gunawan?😯

Tapi, saya berpikir, yang begitu itu keren juga. Jadi, kalau saya tiba-tiba menulis seperti itu, kira-kira aneh, tidak?🙂

Tapi saya tidak bisa bahasa Jawa…

39 thoughts on “Pakdé

  1. Citra yang saya tangkap adalah mirip tulisan seorang pakdé kepala empat (atau lebih) yang merokok lewat pipa.

    …ah, perasaan nak Geddoe saja itu. saya nggak merasa kok.:mrgreen:

    btw, mungkin bisa juga bahasa jawa antik buat blogger Indonesia dipakai buat efek yang sama dengan bahasa Inggris archaic. siapa tahu?😀

  2. Gaya menulis itu, Kopral, adalah cerminan dari prisma yang kita pakai untuk memandang pelangi hidup. Bias cahaya yang sampai tadi pagi akan berbeda spektrumnya dengan yang tiba siang ini. Maka tak heran jika ciri bertutur akan berubah seiring dengan semakin senjanya usia kita. Kembali ke kearifan lokal adalah takdir yang dipilih Gunawan di ujung papan ketiknya. Mungkin, Kopral, anda perlu merenung sejenak; sampai di mana jalan hidup anda telah ditempuh, sebelum memutuskan untuk menyesuaikan prisma itu.

    *mengelus janggut, memantik pipa, dan menerawang ke arah kolam pemandian wanita ikan koi*

  3. @ yud1

    Entah, ya, kesan yang saya dapat sih begitu.😕

    Saya tidak tahu analoginya dalam bahasa Inggris—rasanya tidak mungkin dibandingkan dengan bahasa Inggris obsolete, tapi lebih mirip wacana yang memakai banyak loanword Jerman dan Perancis (yang juga diitalisasi).

    @ dana

    Kira-kira apa yang terjadi di waktu pertapaannya?

    @ p4ndu_454kura®

    Javanish?

    @ Catshade

    Oke, kalau Anda sedang berusaha meniru kepakdéan yang dibicarakan, Anda lumayan berhasil.

    Tapi kan lebih baik kalau tidak pakai referensi pemandian.

  4. geddoe, thanks for visiting my site. your input and comments are highly appreciated.
    menyoal ‘pakde’, rasanya oke juga baca gaya penulisan begini sekali dua. biar serasa bijaksana(bijaksini).

    salam kenal.

  5. Rasanya seperti membaca BloGombal.org atau ImanBrotoseno.com.

    Ada apa dengan Gunawan?😯

    Sampai mengkhawatirkan begitu, masbro? Perhatian sekali…😛

    [/karakterAsinan]

  6. Gunawan itu tulisannya bagus. Ada banyak aforismenya. Tapi saya tidak bisa membayangkan Anda menulis dengan gaya dia. Kalo saya lihat, dan rasakan, tulisan Mas Gunawan itu reflektif, setidaknya di beberapa post yang saya baca (gak tau kalo yang dulu-dulu), sementara Anda cenderung argumentatif.

    Tulisan-tulisan yang reflektif kayak gitu, yang berasa emosinya, yang sepertinya ambigu dan “indecisive” itu sepertinya gak cocok sama kau Ged. Kalo ditanya apakah aneh? Kayaknya iyah bakal aneh.:mrgreen:

    Tapi gak apalah, esai-esai Bertrand Russel rasanya masih sama sampai dia tua. Masih terasa segar. Masih argumentatif. Beda sama Camus dan pemikir Perancis lainnya, yang kerjanya nongkrong di kafe seharian, dari muda sampe tua, tulisannya yah kayak gitu gayanya.

  7. @ aRuL

    Ya gaya menulis seperti itu ‘kan relatif unik, jadi kalau ada yang mengubah gaya menulisnya ke arah itu saya akan menyadari.🙂

    @ dinysays

    Makasih, Mbak (Bu?).🙂 Mungkin kadang-kadang saya bakal coba menulis seperti itu, kalau sedang pakai gaya reflektif (sesuai komentar Mas Gentole).

    @ sora9n

    Ya maksudnya ingin tahu apa yang membuat seseorang mampu menulis seperti itu, kira-kira terpengaruh dari apa…😆

    @ gentole

    tulisan Mas Gunawan itu reflektif, setidaknya di beberapa post yang saya baca (gak tau kalo yang dulu-dulu), sementara Anda cenderung argumentatif.

    Ah, ya, saya sedang mencari-cari apa yang salah, dan ternyata itu jawabannya.😀 Ya, elemen yang ada dengan aura pakdé itu ternyata elemen reflektif dan atmosferik. Tulisan saya sendiri kebanyakan lebih argumentatif.

    Case closed, lah.:mrgreen:

    Tapi gak apalah, esai-esai Bertrand Russel rasanya masih sama sampai dia tua. Masih terasa segar.

    Saya suka gaya menulis Russell, efisien dan tidak bertele-tele. Mungkin memang sebaiknya berkiblat ke situ saja.😆

  8. @ Fikar

    Heh? Fans…?😆

    @ ManusiaSuper

    Saya malah lebih penasaran ke sumber dari mana dia berguru bahasa antik seperti itu.

    @ Nazieb

    Wah, tidak perlu jadi semelankolis itu, ah.:mrgreen:

    @ Nenda Fadhilah

    Hohoho, jadi penasaran reaksi ybs ketika berkunjung ke entri ini.🙂

  9. Hmm… Kata “pakdé” itu ternyata pake intonasi kedua (naik) di bahasa China ya?

    Jadi kepikiran lagi… Dari dulu aku berpendapat bahwa seharusnya di bahasa Indonesia ada e dan é untuk membedakan dua suara yang sekarang dicover sama huruf “e”.

    Btw kalau nggak bisa bahasa Jawa bikin aja neologisme sendiri tapi yang etimologinya bisa dijelaskan🙂. Toh yang penting jadinya sama-sama kriptik.

  10. entah kenapa terkadang saya merasa, bahasa jawa halus itu terkesan elegan:mrgreen:
    BTW, Geddoe, be your self aja😉

  11. @ Agro Rachmatullah

    Sulit dipercaya kalau bahasa Indonesia pakai diakritik seperti itu, jadi keren juga.🙂

    Tapi bukankah ejaan kita sekarang malah cenderung mengerdilkan pilihan aksara? Seperti huruf “x” yang semuanya sudah dipangkas dan digantikan oleh “-ks”.

    @ Snowie

    Betul juga.😀

    BTW, “elegan” itu AFAIK makna aslinya adalah “efisien” deh. Misalnya “solusi elegan” pada matematika. Sekarang kayaknya sudah sinonim dengan “keren”, ya.😕

  12. BTW, “elegan” itu AFAIK makna aslinya adalah “efisien” deh. Misalnya “solusi elegan” pada matematika. Sekarang kayaknya sudah sinonim dengan “keren”, ya.😕

    Elegan itu sinonim dengan keren in a sense, keren yang klasik dan high class.

  13. :: G
    Sebenarnya saya jadi merasa bersalah dengan budaya asli sendiri lho😛
    Abis, emang bahasa “daerah saya” nggak punya tingkatan strata sih:mrgreen: *berubah bangga*😛

    :: Nenda Fadhilah

    bener banget, sesuai dengan apa yang saya maksud dengan “elegan” itu sendiri🙂

  14. @ Nenda Fadhilah | Snowie

    Dari Wikipedia sih,

    “Elegance is the attribute of being unusually effective and simple.”

    “The proof of a mathematical theorem is considered to have mathematical elegance if it is surprisingly simple…”

    “…a computer program or algorithm is elegant if it uses a small amount of intuitive code to great effect.”

    Jadi bagaimana kata ini sampai pada definisi elegan as in “ningrat” dan “berkelas”, saya juga nggak begitu tahu.

    Kemungkinan sih dari mode, ya? Mungkin dari komentar-komentar desainer yang memuji suatu busana yang “elegan”. Maksudnya si desainer sih ya itu, sederhana namun bagus. Tapi mungkin pembacanya menganggap itu hanya sinonim yang keren dari “bagus”?

    Cuma hipotesis, saya bukan ahli bahasa.

  15. Kemungkinan sih dari mode, ya? Mungkin dari komentar-komentar desainer yang memuji suatu busana yang “elegan”. Maksudnya si desainer sih ya itu, sederhana namun bagus. Tapi mungkin pembacanya menganggap itu hanya sinonim yang keren dari “bagus”?

    Cuma hipotesis, saya bukan ahli bahasa.

    Kalau dari Online Etymology Dictionary sih artinya gini:

    elegant Look up elegant at Dictionary.com
    c.1485, from M.Fr. élégant, from L. elegantem (nom. elegans) “choice, fine, tasteful,” prp. of eligere “select with care, choose.” Elegans was originally a term of reproach, “dainty, fastidious;” the notion of “tastefully refined” emerged in classical L.

  16. Entahlah… saya rasa itu karena dia keseringan menghirup udara Bandung

    Lho kok? Kamu kira gara-gara kamu ya?😆

    digoreng pakai sambal teri*

    …hmnn, sedikit bisa juga sih karena itu.

  17. bukan menua sepertinya, tapi menjadi lebih bijak…😀

    dan itu pasti karna CINTA… karna hanya cinta yg bisa meruntuhkn segalanya, dan membentuk manusia menjadi pribadi yang brbeda dari sebelumnya

Comments are closed.