Rasa yang Berbeda

Ada fenomena yang menarik. Apabila seorang (atau sekelompok) musisi sudah berkarir cukup panjang untuk mengukuhkan citra mereka, akan sangat susah untuk berputar dan mencoba sesuatu yang baru. Kalau sudah tenar sebagai pengusung salah satu jenis musik, sebaiknya jangan main-main dan coba-coba dengan rasa yang berbeda, sebab biasanya yang ditemui adalah kutukan dari berbagai penjuru.

Solusinya, adalah membangun side project. Di side project inilah para musisi yang sudah terkekang tersebut memuaskan nafsu artistiknya, terlepas dari beban-beban industri. Ini berlaku dari musisi bule macam Maynard Keenan sampai yang produk dalam negeri seperti Dewa Budjana.


Contoh idealisme yang gagal total

Duit

Saya sendiri kadang agak miris juga melihatnya. Soalnya bagi saya musik itu mestinya berpusat pada musiknya, bukan band-nya.๐Ÿ™‚ Kalau sudah bisa menelurkan sebuah masterpiece, ya bikin musik sampah pun setelah itu saya tidak terlalu peduli. Memang ada kekesalan seperti; “semestinya bisa membuat karya-karya bagus lainnya”, tapi rasanya terlalu trivial apabila ditukarkan dengan kebebasan si seniman. Kalau menurut saya sih, musisi itu sebaiknya memang sebaiknya coba sana-sini seenaknya. Kalau ada yang bagus, saya dengarkan, kalau tidak, ya tidak usah.๐Ÿ˜† Tapi ya kenyataanya tidak seindah itu. Kalau kata Ian Antono, terkadang mesti kompromi juga antara posisi musisi sebagai seniman dan sebagai profesi. Apalagi, katanya, kalau sudah tua. Sebab kok kayaknya bukan bapak yang baik kalau sibuk mengulik-ulik gitar dengan keras kepala namun anaknya tidak dapat disekolahkan.

Bukan duit

Tapi sebenarnya bukan itu yang saya keluhkan. Kalau pakai sistem side project mungkin aman-aman saja— Justru yang bikin bingung itu adalah kalau ternyata musisinya berani bereksperimen langsung dengan nama yang sudah tenar. Kadang karya-karya anak tiri itu jadi di-underappreciated. Ya memang secara marketing ini seringkali bukan keputusan yang terlalu bagus: salah pasar. Setelah sekian lama bermain dengan audiens A, eh, malah ganti ke materi yang cocoknya buat audiens B.๐Ÿ˜† Memang kadang maksudnya jelek; sengaja mengganti ke materi-materi yang lebih menjual supaya lebih laris (selling out), tapi kalau niatnya murni karena seninya, kasihan juga.

Beberapa karya ‘salah sasaran’ yang pernah saya dengar (dan tidak mendapat apresiasi yang proporsional๐Ÿ˜ฆ ) misalnya;

Semuanya remuk redam di pasaran.:mrgreen: Penggemar pun kebanyakan kecewa. Ya mau bagaimana lagi? Bad Religion yang punk rock tiba-tiba murtad ke prog, Metallica yang thrash jadi hard rock, dan Morello yang funk metal hijrah ke folk rock.๐Ÿ˜† Mungkin kalau materi itu dibawakan oleh musisi yang benar-benar baru, sambutannya tidak akan sedingin itu.

Memang beberapa musisi cukup berani, independen, dan berduit untuk berkarya dengan arah yang putar balik sesuka mereka (NIN, Radiohead), tapi tidak semuanya sebebas itu. Apalagi bila audiensnya cenderung elitis seperti audiens pop, metal, dan punk rock.

* * *

“There was a man who banged his head against the wall
He banged for 20 years, but the damn thing wouldn’t fall”

Bad Religion, “Chasing the Wild Goose
(Into the Unknown, 1983)

21 thoughts on “Rasa yang Berbeda

  1. Blog juga sama.
    Kalau penulis udah kadung kondang dengan genre tertentu “meleng” dikit, langsung diprotes pembaca.๐Ÿ˜€

  2. @ Nazieb

    Yang di Indonesia ya kayak proyek-proyek sampingan Dewa Budjana itu…?๐Ÿ˜•

    @ Pesut Amphibi

    St. Anger IMO kok jadi kayak Load tanpa solo, ya? Lagian riff-riff-nya ga sebagus Load, deh.๐Ÿ˜•

    @ itikkecil

    Yup… Pasar emang berisik…๐Ÿ˜†

    @ dnial

    Dan hit pun berkurang…:mrgreen:

  3. Bener juga. Ketika Queen merubah gaya albumnya menjadi album techno gaya eighties. Banyak yang protes. Lantas mereka kembali kepada gaya rock khas mereka.

    Tidak dapat dipungkiri bahwasanya ada suatu masa dimana semua musisi seolah kehilangan identitasnya lalu berpindah kiblat demi penjualan.

    Pada tahun akhir tahun 80’an dan awal 90’an hampir semua grup band rock bahkan penyanyi solo menggunakan gaya glam rock yang memadukan bunyi gitar dengan lengkingan vokal dan soaund keyboard.

    Pada tahapan selanjutnya kembali berbagai gaya merasuki pasaran. Sekarnag contohnya. Indonesia dilanda demam lagu lagu yang ngakunya rock padahal aslinya menye menye abis plus ngepop dengan lirik yang terkadang menjijikkan dikuping saya.

    Karena itulah saya bertahan pada Slank yang tidak terlalu banyak merubah cita rasa.

    Sebab kok kayaknya bukan bapak yang baik kalau sibuk mengulik-ulik gitar dengan keras kepala namun anaknya tidak dapat disekolahkan.

    Dilema seorang seniman antara realita dan idelisme. Makanya terkadang , bahkan kebanyakan seniman. Mereka melacurkan diri dengan membiarkan karya mereka larut bersama selera pasar (dimana selera pasar sendiri menurut saya hanyalah rekayasa dan manipulasi dari keparat keparat kapitalis bernama produser).

  4. @ Manusia Super | The Rock

    Ya itu proyek-proyek sampingan, ‘kan?๐Ÿ˜•

    @ Agiek

    Hohoho, pasar musik dan politik ‘kan bisa ada irisannya.๐Ÿ™‚

    @ Mr. Fortynine

    Saya kira berkompromi dengan pasar itu manusiawi juga, kok. Kalau lagi perlu uang, silakan buat yang sepasaran-pasarannya, lalu setelah stabil, bikin lagi yang idealis. Intinya kalau mau berkarya itu ya sebebas-bebasnya lah. Suka-suka yang bikin.

    Yang masalah itu ya kalau waktu musisinya mau bikin yang ‘beda’ lalu dikritik karena ‘menyimpang’ dan sebagainya. Atau waktu musisinya mau beridealis ria, produser memaksa memasukkan lagu-lagu yang menjual.

    Singkatnya, musisi itu mestinya bebas; bebas dari label rekaman, dan juga dari audiensnya. ars gratia artis lah.:mrgreen:

  5. Saya ngga pernah merhatiin musisinya, tapi merhatiin musiknya. Makanya ngga punya musisi favorit tertentu.๐Ÿ˜›

    Apa hal ini bisa diibaratkan dalam blogosphere ya? Musisi sebagai blogger dan karyanya sebagai entri.๐Ÿ˜›

  6. *konservatif mode on*

    Musik kalo udah direproduksi secara masal udah bukan musik lagi. Udah gak mungkin idealis lagi. Musik yang bisa dianggap idealis itu musik yang ada di gedung pertunjukan. Musik itu ditulis dan diinterpretasikan oleh seniman, bukan direkam dan didistribusikan secara komersial. Tidak ada itu yang namanya album idealis.

    *konservatif mode off*

    Yah memang harusnya musisi bebas dari segalanya, termasuk penggemar. Dan saya kira betul, yang diliat itu karyanya, bukan musisinya.

  7. @ Xaliber von Reginhild

    Bisa diibaratkan seperti itu, tapi kesannya kok terlalu norak kalau ada hal seperti “blogger idola”.๐Ÿ˜†

    @ Catshade

    Ya. Satu hal yang saya tidak terlalu suka.๐Ÿ˜

    @ gentole

    [postmodernis]

    Ah, tapi properti “reproduksi massal” itu mestinya bisa diperlakukan sebagai properti seni lainnya. Jadi nilainya tidak seobyektif itu.

    ngomong apa ini?

    [/postmodernis]

    Setuju. Kadang yang digembar-gemborkan adalah kebebasan dari label rekaman, padahal seringkali audiens sama “otoriter”nya.๐Ÿ™‚

  8. Rasanya side project-nya Ian Antono kok lebih banyak daripada main project-nya ya…?๐Ÿ˜• (sambil mengingat koleksi God Bless & Gong 2000)

    BTW, banyak gak ya, karya “salah sasaran” yang dapat sambutan hangat?

    Sekarnag contohnya. Indonesia dilanda demam lagu lagu yang ngakunya rock padahal aslinya menye menye abis plus ngepop dengan lirik yang terkadang menjijikkan dikuping saya.

    Nah, ini dia, INI…!!! :mrgreen:

  9. Saya jadi diingatkan dengan ranah game, di mana lagi marak-maraknya sekuel, port, remake, dan rerelease. If it’s good, everybody wants more of that similar goodness, not something completely different…

  10. @ Nenda Fadhilah

    Ya, persis. Ini saya tidak begitu suka, sebab cenderung membelenggu senimannya sendiri.

    @ jensen99

    Karya “salah sasaran” yang ternyata disambut hangat misalnya Kid A-nya Radiohead, IMHO.๐Ÿ™‚

    @ Catshade

    Makanya, ujung-ujungnya selera pasar. Kalau game pro sih saya mengerti. Bikinnya ‘kan ga murah. Tapi kalau musik kayaknya ga segitunya, deh. Kecuali mau dipasarkan global.

  11. Saya nggak peduli musisinya mau ganti aliran atau tidak, yang penting saya hanya mendengarkan musik yang saya suka. Dari sekitar 800 lagu anime di PC, playlist saya hanya berisi sekitar 250-300 lagu. Sisanya? Saya campakkan begitu saja.๐Ÿ˜ˆ

    Hidupku adalah musik. Musik warnai hidupku.
    *iklan sepeda motor๐Ÿ˜› *

    tapi kok kesannya terlalu norak kalau ada hal seperti “blogger idola”.๐Ÿ˜†

    Lha, itu kan yang membuat blogosphere jadi seru. Nggak jauh beda seperti dunia nyata dan segala aspeknya.๐Ÿ˜›

  12. Ada juga loh yg sukses di pada side project mereka, contohnya vokalis Circa Survive, Anthony Green, yg album solonya, Avalon, yg rilisnya tgl 5 Agustus 08 nanti byk ditunggu2 fans. Trus ada juga vokalis Coheed & Cambria dgn side projectnya The Prize Fighter Inferno yg bisa dibilang cukup sukses juga.

    Tp yg paling “parah” sih Dustin Kensrue, vokalis band alt. rock Thrice, dimana pada solo projectnya dia mengusung genre musik yg bener2 beda ama Thrice, yaitu folk mirip musiknya Bob Dylan. Tp yg ini ga tau sukses ato engga nya.

Comments are closed.