John Moore: Science is Not Philosophy

Beberapa waktu lalu ada yang merespon tulisan saya dengan tanggapan seperti ini;

Numpang posting ya..

Kalau mau lihat film dokumenter tentang saintis yang dipecat gara-gara tidak percaya teori evolusi (umumnya para ahli DNA), coba lihat di situs ini, http://www.expelledthemovie.com

Saya tidak tahu kalau dagelan Expelled ini ternyata sampai ke Indonesia, tapi yang jelas film tersebut telah menjadi kontroversi tersendiri di Amerika Serikat— responnya sangat negatif dan film Ben Stein tersebut dicap sebagai propaganda, kecuali oleh kalangan Kristen garis keras (ya, ini berarti yang tidak garis keras juga ikut mengkritik).

Kebetulan saya menemukan tulisan yang cerdas dan berimbang mengenai masalah ini di National Post.๐Ÿ™‚ Ditulis oleh John Moore, kolom singkat ini menjelaskan alasan dibalik tanggapan ‘dingin’ sains atas gerakan ID-nya Ben Stein. Moore juga mengkritik mindset teori konspirasi yang dianut Ben Stein dan pendukungnya, tetap dengan berimbang dan tanpa mendukung
‘sains ateistik’ yang dimusuhi oleh Stein.

.

.

.

.

.

Science is not philosophy
John Moore, National Post

http://www.nationalpost.com/opinion/story.html?id=607100&p=1

You have to admire the integrity of conspiracy theories. They’re great Mobius strips of self-contained false reasoning and evidence able to contort to meet any external challenge to the perfection of their closed loops. Sept. 11 deniers will insist a lack of plane wreckage on the apron of the Pentagon is proof the building was struck by a missile. Show them a photograph of an engine lying on the lawn and they’ll exclaim “Aha! That was planted!”

And so it is with the conspiracy laid out in the new movie Expelled: No Intelligence Allowed hosted by the droll economist/actor/game show host/Republican Ben Stein. Expelled posits that the entire scientific establishment is enslaved to the theory of evolution, and in order to protect the Darwinian temple it engages in an ongoing campaign to crush all challenges to its “religion.” The principal victim of this rearguard action is the would-be challenging theory called Intelligent Design (ID).

ID is often referred to as Creationism light. In fact it’s more Creationism in drag. Though its proponents claim scientific neutrality, they are usually overtly religious people affiliated with overtly religious institutions. They have written essays and books about why ID is science. And yet when all the sophistry is boiled down, the theory amounts to “living things are complicated. Some-one must have made them.”

It may be a sublime idea worthy of religious and philosophical contemplation, but it fails to meet the definition of science. It can’t be proven and it can’t be tested. Complaining that science won’t take ID seriously is like grieving the fact that mathematicians won’t consider a flower pot to be a number.

The denial of the imprimatur of science on ID is the source of its proponents’ assumed victimhood and the wellspring from which most of Ben Stein’s movie draws its inspiration. We’re introduced to a half-dozen individuals whom he contends were “destroyed” for promoting ID. A deeper probe into their cases reveals that far from wide-eyed innocents most of them set out to stir up trouble.

Professor Richard Sternberg is famous for having ensured the first ever publication of an Intelligent Design paper in a scientific journal. He claims he was fired and defamed in retaliation. The evidence reveals Sternberg is an active promoter of ID, the paper had no business being in the journal and he was never fired. He and other proponents of ID did get a lot of nasty e-mail. Welcome to the modern world. Mother Theresa got hate mail.

Journalist Pamela Winnick tells Stein, “If you give any credence to Intelligent Design, you are finished as a journalist.” Winnick says she was sacked from the Pittsburgh Post-Gazette over a news item that gave favourable treatment to ID in 2000. In fact she continued to publish in the Gazette and is found in the pages of respected newspapers to this day. She also wrote and had published a book titled, A Jealous God: Science’s Crusade Against Religion.

The natural reaction of any reasonable person to these persecutions (were they true) is “this is terrible. Why doesn’t anyone do anything to help these people?” Which brings us to the closing of the conspiracy loop. Expelled maintains the containment of ID is the concerted action of scientists, academic journals, the courts and the media. Yes, this column is further proof of the conspiracy.

Expelled is at its most risible when it tries to establish a direct line from Darwin to eugenics and genocide. Stein quotes from a passage in Darwin’s writing that appears to endorse the notion that for a species to thrive the infirm must be culled. He omits the part where Darwin insists this would be “evil” and that man’s care for the weak is “the noblest part of our nature.” When I asked Stein about this on my radio show he deadpanned, “If any Darwin fans are listening and we have misquoted him we are sorry … we don’t mean to diss Darwin.”

The core of the religious complaint against evolution rests on a false syllogism: Darwin leads automatically to atheism which leads to a world without moral order; therefore science is the enemy of God.

It’s a maddening false supposition because while scientists are free to believe in God (and an estimated 40% do) science itself remains neutral. Expelled cribs from the Michael Moore school of documentary film making, masking advocacy journalism as neutral storytelling deviously transforming science’s neutrality into hostility.

It is often observed that just because you’re paranoid doesn’t mean everyone isn’t out to get you. It is equally true that when everyone insists you are wrong about something it doesn’t necessarily mean they’re engaged in an elaborate conspiracy. You could just be wrong.

.

.

.

.

.

Expelled adalah opini yang diberi topeng film dokumenter, suatu tren yang mulai berkembang sejak munculnya film-film Michael Moore. Orang-orang yang diklaim oleh Stein telah dipecat dari pekerjaannya karena menolak teori evolusi pun, entah kenapa ternyata masih bisa ditemukan bekerja di tempat kerja masing-masing tanpa masalah apapun (seperti Profesor Sternberg dan Pamela Winnick). Dan kalaupun mereka benar-benar dipecat pun, saya kira itu tidak relevan.

ID berikut segala ide-ide yang berkorelasi dengannya; seperti Tuhan dan agama, memang tidaklah mendapat tempat di sains. Ini bukan berarti sains tidak mengakui Tuhan atau apa, tapi karena sains bukanlah filsafat. Metafisika adalah domain filsafat, ia bukan sesuatu yang mesti diurus oleh sains.

Moore mengakui bahwa ID, Tuhan, dan agama adalah topik filsafat yang menarik dan terus diberikan perhatian sejak lahirnya filsafat sampai detik ini, namun sains tidak punya tempat untuk itu. “Protes karena sains tidak menanggapi ID dengan serius, adalah mirip dengan mengeluh karena matematika tidak menganggap pot bunga sebagai angka“, menurut Moore.

Worldview adalah sesuatu yang dibangun melalui pengamatan akan realita, yang kemudian dicarikan kesimpulannya. ‘Pengamatan’ bisa diwakili oleh sains, namun ‘penarikan kesimpulan’ adalah suatu aplikasi filsafat. Saya kira semuanya mesti diletakkan pada tempatnya; biarkan sains berkembang dengan obyektif dan sesuai epistemologinya, dan biarkan pandangan-pandangan metafisika berjalan di jalur filsafat, sebagaimana mestinya.

Kalau sains berkesimpulan bahwa bumi tercipta 4,5 milyar tahun silam dan manusia modern terlahir sekitar 130.000 tahun yang lalu, maka itulah hasil pengamatan akan realita yang ada. Penafsirannya bagaimana, itu tergantung filosofi Anda. Misalnya Anda beriman pada Alkitab dan/atau Al-Qur’an, yang menyatakan bahwa jarak antara kedua peristiwa tersebut hanyalah beberapa hari saja. Anda bisa saja memutuskan bahwa teks tersebut mesti dipahami secara figuratif, atau ‘hari’ di sisi Tuhan berbeda dengan ‘hari’ di sisi manusia. Secara filsafat ya sah-sah saja. Tapi itu sudah di luar domain sains. Kalau ngomel-ngomel menuduh sains berbohong dan berkonspirasi, ya, rasanya tidak bijak.

Mungkin Mas Gentole lebih ahli membahas yang seperti ini. Bagaimana, mas? Apa rasanya manusia terlalu berkiblat ke sains dalam menentukan kebenaran, sehingga sains diobok-obok supaya sesuai dengan dogma tertentu?๐Ÿ™‚

19 thoughts on “John Moore: Science is Not Philosophy

  1. Ya rasanya tidak begitu juga.๐Ÿ˜•

    Filsafat itu setahu saya ‘kan cabang-cabangnya ada Metafisika, Etika, Estetika, Logika, dan Epistemologi. Yang normatif itu ya AFAIK umumnya mencakup etika saja (sebagian kecil dari filsafat).

    Sementara, empirisme sendiri adalah turunan dari epistemologi dan logika… CMIIW.

  2. Saya kira semuanya mesti diletakkan pada tempatnya; biarkan sains berkembang dengan obyektif dan sesuai epistemologinya, dan biarkan pandangan-pandangan metafisika berjalan di jalur filsafat, sebagaimana mestinya.

    Alangkah indahnya…๐Ÿ™‚

    Tentu saja akan sangat indah jika-andaikata-umpama-dan-misalkan bisa demikian๐Ÿ™„

    Tapi sejarah sendiri mencatat upaya bunuh-bunuhan karakter dari kedua-belah pihak. Agamawan yang membakar dan memaksa para saintis menelan racun, atau saintis yang menjadi sombong dengan keyakinan kebenaran sains-nya untuk menerabas keyakinan orang lain yang diklaim sebagai ilusi belaka. Menjadi aneh, jika mimpi dibolehkan tanpa perlu diberi kata “REALITA” utk dimiliki setiap orang, tapi keyakinan seperti iman bisa diusik-usik juga oleh the so-called scientist. Tidak semua, tentu saja. Sains begitu mulia utk digeneralisasi, tidak seperti agama belakangan ini.

    Anda bisa saja memutuskan bahwa teks tersebut mesti dipahami secara figuratif, atau โ€˜hariโ€™ di sisi Tuhan berbeda dengan โ€˜hariโ€™ di sisi manusia. Secara filsafat ya sah-sah saja. Tapi itu sudah di luar domain sains. Kalau ngomel-ngomel menuduh sains berbohong dan berkonspirasi, ya, rasanya tidak bijak.

    Ini saya setuju. Sama setujunya jika filsafat atau keyakinan personal juga tidak dituduh sebagai kebodohan, tidak ilmiah atau tidak-intelek jika tidak ambil pusing apakah Milky Way benar-benar ada, apakah Alpha Centauri benar 4,5 juta tahun cahaya atau cuma fatamorgana belaka. Mungkin karena berada di luar jangkauan kehidupan harian, atau karena, seperti kesimpulan kata Morpheus di The Matrix, “kenyataan cuma sinyal-sinyal listrik yang dihantarkan ke otakmu…”

    Eh, betewe… opini yang diberi topeng film dokumenter tersebut, apa memiliki poin utk dicap tidak valid?๐Ÿ˜•

    Saya melihat film demikian tak lebih dari gagasan. Dan gagasan memang dipersilakan utk dilengkapi fakta apapun, CMIIW

  3. Kalo guru ngaji saya dulu pernah bilang, bahwa seharusnya agama dan sains itu ada untuk saling melengkapi (komplemen), bukannya saling menjatuhkan (substitut).

    Beliau memberikan satu contoh, bahwa sains tidak (atau mungkin belum) bisa memberi tahu siapa nama manusia pertama, tapi agama memberi tahu bahwa dia bernama Adam..

    Begitulah..

  4. Jangankan yang dikemas dengan gaya dokumenter. Lha wong di buku Harun Yahya, seorang Stephen Jay Gould (no less!:mrgreen: ) aja pendapatnya bisa dimutilasi sedemikian rupa, kok. Sehingga beliau jadi terkesan sebagai ilmuwan kontra-evolusi.๐Ÿ˜†

    Oh dear.๐Ÿ˜†

    BTW, jadi inget sama draft postingan lama.๐Ÿ˜›

     
    The Creationists’ Deceit:

    1. Ad verecundiam pada ilmuwan pengkritik evolusi
    (HY did this all the time)

    2. Mutilasi pendapat
    (Jay Gould gitu lho?๐Ÿ˜ฏ )

    3. “Ini terlalu rumit dan indah. Pasti Tuhan yang menciptakan!”
    (Padahal apa salahnya kalau Tuhan menciptakan dengan proses, dan evolusi sebagai mekanismenya?๐Ÿ™„ )

    4. Teori konspirasi
    (Zionis campur komunis campur ateis… kenapa gak dicampur sama kreasionis bigotis™ saja sekalian? :lol:)

    5. “Evolusi masih bertahan karena para ilmuwannya tidak mau mengakui kegagalannya!”
    (Yeah, bagian mana yang gagal? Argumen saja masih compang-camping.๐Ÿ™„ )

    6. Menantang orang yang pro-evolusi dengan bertanya: “sudah pernah baca Origin of Species?” “Sudah baca buku ilmuwan seperti Dr. Behe, Dr. Denton, etc., etc. ?”
    (Padahal sendirinya belum pernah baca. Begitu dijawab “sudah” — eh, malah nggak dilanjutin. >_> )

    7.Sains membunuh Tuhan
    (lah, itu postingan di atas ngomong apaan?๐Ÿ˜† )

    Sebenarnya masih ada beberapa lagi, tapi kayaknya tujuh dulu deh. Sebab katanya ‘7’ itu angka kesukaan Tuhan; jadi saya rasa para kreasionis zealot itu boleh bangga karena melaksanakan tujuh butir Creationists’ Deceit.๐Ÿ˜†

    *ketawa miris*

  5. Saya nggak terlalu setuju kalau dikatakan sains itu BUKAN filsafat. Penegasan pada kata BUKAN.๐Ÿ™‚ Seakan-akan menarik sebuah garis tegas bahwa sains dan filsafat itu benar-benar berada di dua dunia yang berbeda.

    Psdahal tidak seperti itu, kalau kita merujuk pada Sejarah Filsafat, salah satunya pernah ditulis oleh Mbah Bertrand. Sains dan semua cabang-cabang keilmuan berinduk pada filsafat. Filsafat yang memberikan landasan epsitemologi, empirisisme [pengalaman dan pengamatan], logika dan kesalahan logika, rasionalisme [penalaran], common-sense, etika, dan lain-lain.

    Semua hal itu [epistemologi, logika, dll] menjadi amunisi bagi sains untuk mengembangkan dirinya pada banyak jalur. Kalau kita meneliti sesuatu, maka amunisi-amunisi itulah yang dipakai. Dan amunisi itu berkembang dalam ranah filsafat dengan segala dinamikanya dan perbedaan pendapatnya.

    Misalnya tentang epistemologi. Bukan menjadi masalah tentang pengetahuan yang dipertanyakan tetapi “bagaimana sampai kita tahu bahwa…..”. Itulah yang membuat metode penelitian berkembang di dunia sains. Bagaimana kamu tahu tentang sesuatu, apa patokannya, apa ukurannya, apakah bisa dipertanggungjawabkan, bagaimana menilainya dan mengujinya. Itu semua domain filsafat yang kemudian dipakai dan diterapkan dalam sains.

    Inti dari filsafat adalah “mempertanyakan” dan bukan mencari jawaban. Sains-lah yang salah satunya mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan manusia, bahkan yang tidak terbayangkan sekalipun. Lalu apakah jawaban yang diberikan itu benar atau salah, sudah disediakan pula alat ujinya : logika, empirik, epistemologi, dll.

    Tapi itu juga bisa jadi masalah besar. Filsafat tidak mencari sebuah penjelasan tunggal. Jika ada banyak penjelasan [bahkan penjelasan filosofi atau bahkan metafisika] terhadap sesuatu fenomena, maka itu juga bisa dianggap penjelasan/jawaban. Asalkan ada unsur-unsur filsafat yang ada di dalamnya, seperti logis, terstruktur, dan radikal. Ketiga inilah ciri filsafat. Dan gara-gara itu teori Evolusi Darwin dan teori Relativitas Einstein bisa dikategorikan filsafat.๐Ÿ™‚

    Sementara sains tidak begitu. Sains membataskan dirinya pada hukum-hukum ilmiah yang disepakati. Suatu penjelasan masuk akal [dan telah terbukti] adalah sebuah penjelasan yang paling ilmiah [dlm istilah filsafat sering disebut paling memungkinkan/memuaskan] atas sebuah fenomena. Penjelasan itu akan dipakai selama tidak ada penjelasan lain yang mampu menjelaskan dengan lebih baik.

    Kata “kebenaran” mendapat interpretasi lain. “Kebenaran ilmiah” itu berbeda dengan “kebenaran Tuhan”, seperti kata agama. Dalam filsafat, kebenaran tidak diberikan definisi, karena kebenaran adalah sudut pandang terhadap sesuatu.

    *ah, kayaknya kepanjangan. ntar dilanjutin lagi.*

  6. lanjut….

    Nah, kalau sains dikatakan bukan bagian [anak] dari filsafat HANYA KARENA dia dibenturkan dengan metafisika, maka itu sama saja menegasikan peran filsafat dalam perkembangan sains.

    Ini hampir sama perumpamaannya dengan ilmu-ilmu murni dan ilmu terapan. Ilmu murni hanya meneliti sesuatu yang menjadi “dasar” dari ilmu. Apakah dasar ilmu itu dipakai untuk tujuan membunuh atau yang lain, itu bukan kepedulian ilmu murni.

    Filsafat memberikan banyak hal berharga bagi sains. Sains berkembang HANYA dan HANYA dalam filsafat. Bertanya adalah awal sains. Menncari jawaban adalah usahanya. Pengukurnya juga disediakan oleh filsafat.

    Jadi tidak terlalu tepat kalau yang dilawan adalah pemikiran-pemikiran metafisika [spekulatif] tapi yang ditembak adalah induknya sendiri. Lalu apakah sains bisa berjalan tanpa filsafat ? NEHI, kata film India.๐Ÿ˜†

  7. @ goldfriend

    IMHO sih, yang (aslinya) dimaksud sama Geddoe adalah “sains/ilmu alam beda domain dengan filsafat metafisik”. Jadi nggak beda juga sama pandangannya mas Fertob. ^^

    *salah milih diksi?*๐Ÿ™„

  8. @ alexยฎ

    Ya, itulah yang sekarang perlu dijembatani.๐Ÿ™‚ Semua saling berbenah lah.๐Ÿ˜€ Tapi kalau yang analogi Matrix itu sudah solipsisme, IMO. Sudah susah.๐Ÿ˜›

    Eh, beteweโ€ฆ opini yang diberi topeng film dokumenter tersebut, apa memiliki poin utk dicap tidak valid?๐Ÿ˜•

    Yang diprotes sih sebenarnya misinformasi; seperti memutilasi kata-kata, misalnya. Lalu klaim bahwa beberapa orang telah dipecat karena memprotes teori evolusi, ternyata tidak benar adanya. Belum lagi quote Stein yang “…science leads you to killing people.“.:mrgreen:

    Protesnya ke film ini sendiri ya bukannya minta dibredel atau apa, cuma kekhawatiran misinformasi saja.๐Ÿ™‚

    @ Nazieb

    Ya, sepertinya lebih indah seperti itu.๐Ÿ™‚

    @ sora9n

    Ya, itu…๐Ÿ˜†

    @ eMina

    Lha itu barusan komen?๐Ÿ˜›

    @ goldfriend

    Lhaaa, salah paham…^^’

    Maksudnya “sains itu bukan filsafat” itu ya seperti misalnya ada orang yang pergi ke perpustakaan lalu minta obat batuk, lalu diberitahu; “perpustakaan itu bukan apotek“.^^’

    Jadi maksudnya salah sasaran, gitu, mas. Intelligent design itu ‘kan gagasan filsafat, bukan sains (karena, misalnya, tidak falsifiable). Jadi, yang mendukung ID ini salah sasaran menawarkan gagasan ini ke komunitas sains, sebab semestinya ditawarkan ke komunitas filsafat (dan komunitas filsafat sudah menerima gagasan ini)… Begitu…๐Ÿ™‚

    Maaf jadi repot bikin mas menjelaskan panjang-panjang.๐Ÿ˜• Soal itu, tentu saya setuju.๐Ÿ™‚

    @ sora9n (2)

    Kurang tepat kayaknya.๐Ÿ˜ณ

  9. Saran saya buat para pendukung ID: Sebelum kalian berhadapan dengan pendukung teori evolusi, coba kalian ‘berdiskusi’ dulu antara ID Kristen dan ID Islam untuk mencapai kata sepakat…๐Ÿ˜€

    *bagi2in popcorn buat para penonton hujan darah ‘diskusi’*

  10. @ K. geddoe

    Hoo…

    Hwm, hwm. =3 *manggut2*

    @ Catshade

    Whaah, provokator, provokator!!๐Ÿ‘ฟ

    bagi2 popcorn pula. umat dilarang meniru perilaku kafir laknatullah™!! termasuk makan makanannya!!๐Ÿ˜ˆ

    [/sarcasm]

  11. Di mana ya aku bisa dapet filmnya?
    Kayanya “lucu” juga ini…
    Duit masuk ke kantong yg bikin gpp deh…
    Penting bisa tertawa :p

    btw btw…
    Pernah mempertimbangkan ambil S3 di Filsafat?๐Ÿ˜€

    *pingin bikin komen yang lebih serius tapi ga bisa*

    Ah kasih ini aja…

    “Global warming and tobacco’s link to cancer are junk science, but creationism should be taught in schools.”

    Aku baca dari

    http://www.stallman.org/republicanBeliefs.html

  12. Nambah lagi…

    Science leads you to killing people…

    hahahaha…
    lucu juga…

    I currently believe that what leads people to killing each other is the morally and ethically corrupt brain…
    Like…guns don’t kill people! People kill people!

    Sapa yang dulu bilang gitu ya? Ah iya…Jessiah, dari game Xenogears…

    eh…Jessiah = Jehovah + Messiah?

  13. @ Sora

    โ€œIni terlalu rumit dan indah. Pasti Tuhan yang menciptakan!โ€

    Yang ini fave-nya Ma,,๐Ÿ˜†

  14. Hahahaha… mungkin saya sedikit salah paham karena baca judulnya yang ternyata beda dengan isinya. seharusnya : Science is Philosophy, but…[silakan ditambahkan perkecualiannya].๐Ÿ™‚

    Tapi kadang-kadang saya suka mikir : “apakah ID itu memang pernah dipaksakan agar dapat diterima sebagai sebuah penjelasan ilmiah ?”

    Dengan alasan yang sama saya juga pernah mikir : “apakah evolusi pernah dipaksakan sebagai sebuah solusi atas kisah penciptaan yang ada di kitab suci ?”

    Masalahnya, ketika yang satu memasukkan ide-idenya kedalam domain yang lain, maka sudah jelas mendapatkan penolakan. Apalagi jika itu ditambah dengan adanya potensi “merusak” pada ide-ide itu. ID merusak keilmiahan sains sementara evolusi Darwinian merusak keimanan kepada Tuhan [dlm penafsiran harafiah].

  15. Salah satu yang diprotes dari Expelled adalah karena ‘editan’ wawancara sehingga misleading. Gosip-gosipnya, video ‘pria berpistol’ yang tersebar di Youtube juga merupakan editan dan aslinya ada di tangan polisi.

  16. Apa rasanya manusia terlalu berkiblat ke sains dalam menentukan kebenaran, sehingga sains diobok-obok supaya sesuai dengan dogma tertentu?

    Wah, saya gak tau, sebenarnya. Saya terlalu sering megandalkan “perasaan”, sih. Tetapi saya kira ada penjelasan rasional/sejarah/sosiologis mengapa teori ID itu dimunculkan dan dijadikan ujung tombak yang tumpul untuk menggoyah teori evolusi. Memang menarik sih membahas latar belakang mengapa promotor ID itu muncul. Bukan teorinya, tapi orang-orangnya.

    Selainnya sepertinya saya idem dengan Mas Goldfriend and Alex.๐Ÿ˜€

    Tapi nanti lanjutlah…

    Lagi susah online.

  17. He..he ingat kronologis proses pemikiran peradaban. Dimulai dari :

    1.Mitos ..

    2.Sastra …

    3.Filsafat …

    4.Ilmu / Sains …

    Mitos selalu ada dalam dunia khayal, dunia penuh dongeng dewa-dewi,supranatural. Dan selalu diciptakan oleh budaya-budaya Indo Eropa, bahkan pengaruhnya sampai ke Indonesia lho … ingat Indonesia dipengaruhi oleh budaya Hindu selama 1000 tahun.

    Sastra juga bagian dari dongeng, kisah-kisah klasik. Ingat di Yunani kuno ada Homerus yang menciptakan karya2 Illiad, Oedipus, dan lain2. Di India kuno ada Rsi Viyasa, ada juga Rsi Valmiki yang menciptakan juga kisah Mahabrata,Ramayana.

    Filsafat ada dalam setiap kawasan dunia, di Yunani yang paling dominan ada Socrates (filsafat etika), Plato (filsafat idea/rasionalitas), Aristoteles (filsafat empirisme). DiCina ada Lao tze (Taoisme), Konghucu,Mengzchu. Di India ada Sidharta Gautama (Budha), Mahavira (Jainisme). Di Persia ada Zarahustra (Majusi).Masuk kedunia Eropa lewat St. Agustinus,St.Thomas Aquinas. Mempengaruhi Eropa dengan Zaman Renaissance-nya, dengan Humanisme-nya. Baru pada abad ke -19 filsafat Materialisme mulai mencuat, banyak tokoh2 yang pada awalnya aktivis Revolusi Perancis. Intinya menganut pada pemahaman Empirisme dan Positivisme, padahal semuanya masih bersifat HIPOTESIS.DiPerancis ada Voltaire, Diderot, Montesquie, Rousseau,akhir abad ke-18. Di Inggris ada Erasmus Darwin kakek Charles Darwin, sampai ke Charles Darwin lewat teori evolusinya yang TIDAK ILMIAH!!!,alias masih hipotesis dan masih melekat dengan unsur filsafat sangat jauh dengan sains. Pokoknya Charles Darwin, Karl Marx, Sigmund Freud adalah pengusung filsafat materialis yang mempengaruhi pemikiran manusia sampai dengan abad ke-21.

    Ingat disini ada urutan2nya, Revolusi Percetakan—Renaissance—Reformasi(Protestan)—Revolusi Perancis—Revolusi Industri—-Revolusi Media.

    Ilmu/Sains dimulai dari Copernicus, kemudian Galileo dengan FAKTA Heliosentris-nya. Fakta ini ditentang oleh Paus (Katolik) yang memang pada dasarnya antara Injil dan Sains sudah tidak bertemu. Dan disinilah muncul teori2 KONSPIRASI, pertentangan antara agamawan dan ilmuwan yang semakin berkepanjangan. Silahkan anda cari tahu sendiri…!. Ada Newton di Inggris dengan Gravitasi-nya, ada James Watt, Edison, Einstein, Planx dan Hubble dengan FAKTA Big-Bang-ya bahwa alam semesta muncul dari tiada menjadi ada dan mengada(mengembang). Dizaman sekarang ada Hawking yang menunjukkan ke-ilmiahan sains tentang persamaan orbit antara semesta atom dan semesta angkasa raya.

    Silahkan tarik kesimpulannya.

Comments are closed.