Kapal Teseus

Saya ingat pernah mengunjungi Kuil Paviliun Emas di Kyoto ketika mengunjungi Jepang. Waktu itu saya terkesan dengan keadaan bangunannya yang tetap awet walau sudah sangat tua; kuil ini sudah ada sejak abad keempat belas. Namun menurut pemandu, sebenarnya kuil itu tidak bisa dikatakan awet, karena nyatanya sudah pernah terbakar dan lalu dipugar. Dalam seratus tahun terakhir kejadian semacam itu bahkan sudah terjadi dua kali.

Lalu saya tanya; “Jadi ini bukan bangunan aslinya?”

“Lho, tentu saja asli,” katanya, agak terkejut.

“Bukannya sudah pernah terbakar habis?”

“Ya.”

“Dua kali?”

“Berkali-kali.”

“Lalu dipugar…”

“Jelas. Ini bangunan bersejarah. Tentu diperbaiki.”

“Dengan material-material baru?”

“Ya iya lah. Yang lama ‘kan terbakar habis?”

“Jadi ya ini bukan bangunan yang sama dong?”

“Lhoo, ya jelas sama…”

Saya akui, bahwa pernyataan tersebut adalah sesuatu yang rasional, namun berangkat dari premis yang tidak biasa. Premisnya adalah, gagasan dari sebuah bangunan, tujuannya, desainnya, semuanya tidak tergantikan dan merupakai esensi dari bangunan yang bersangkutan. ‘Tujuan’ sebuah bangunan adalah untuk ‘bertahan hidup’. Kayunya yang lapuk akan diganti apabila sudah waktunya. Terlalu memusingkan material awalnya, yang cuma merupakan ‘cinderamata dari masa lalu’, bisa dibilang adalah suatu kegagalan dalam memahami bangunan tersebut secata keseluruhan.

Douglas Adams, Last Chance to See

Paradoks kapal Teseus adalah masalah yang sangat menarik. Paradoks ini sangat mirip dengan paradoks kapak Washington, yang rasanya bisa menjelaskannya dengan lebih baik:

Ini kapak Washington. Mata kapaknya sudah diganti tiga kali, dan gagangnya juga, dua kali, jadi, apa ini masih kapak Washington?

Versi kapal Teseus menambahkan masalah baru:

Kalau setiap bagian kapal Teseus telah diganti, apa ia masih kapal Teseus yang asli? Lebih jauh lagi, apabila setiap bagian kapal yang telah rusak dikumpulkan dan dibuatkan kapal, kapal yang mana yang merupakan kapal Teseus yang asli?

Intinya ini adalah masalah identitas. Saya tidak pernah baca buku-buku filsafat yang berat (seperti Mas Fertob misalnya), jadi saya juga tidak terlalu paham solusinya. Douglas Adams akan berpendapat bahwa kapak Washington yang sekarang masih berupa kapak Washington yang asli, dan kapal Teseus yang asli adalah yang sudah direparasi. Pandangan yang konon bercorak Aristotelian.

Masalah ini rasanya paling pelik kalau diaplikasikan pada digitalisasi kesadaran. Kalau kesadaran kita di-upload ke komputer, apa itu kita, atau hanya kopiannya saja?πŸ˜†

Sayang Adams sudah meninggal dan saya tidak tahu apa beliau pernah membahas ini (my bet being he did). Anda sendiri bagaimana?πŸ™‚

25 thoughts on “Kapal Teseus

  1. Bahasanya kok aneh…
    maksudnya…
    Saat kita lahir, dan berkembang, sel-sel tubuh mati dan diganti dengan sel-sel yang baru. Berarti kan, selama kita hidup, kita selalu berubah dari waktu ke waktu. Sel-sel tubuh kita beda dengan saat kita lahir.

    Jadi inget filmnya 6th Day (yang arnold itu), tentang manusia yang berusaha mencapai keabadian dengan transfer kesadaran ke kloningnya.

    Eniwei… Douglas Adam itu yang nulis buku Hitchiker Guide to Galaxy yang aneh itu ya?

    Dan yang terkenal dengan angka togel 42.

  2. Soal sel-sel and whatnots, ya, argumen seperti itu juga membuat berpikir. Tapi mungkin kali ini mungkin dibatasi oleh kesadaran?πŸ™‚

    Eniwei… Douglas Adam itu yang nulis buku Hitchiker Guide to Galaxy yang aneh itu ya?

    Dan yang terkenal dengan angka togel 42.

    Ya, orang yang sama.πŸ˜†

  3. Hmmm… masalah ini sering diperdebatkan ketika psikologi, filsafat, dan fisika berusaha mencari titik temu.πŸ™‚

    Masalah utama dari itu biasanya adalah pertanyaan “apakah saya ?” dan “siapakah saya ?”. Apakah SAYA bisa disamakan dengan “kesadaran” atau sekedar “otak biologis”. Mungkin karena kesulitan mendefinisikan kata “saya” maka dalam beberapa pengertian psikologi, istilah-istilah seperti “self” dan “ego” langsung merujuk pada suatu kasus/masalah tertentu dan tidak dibiarkan menjelajah kemana-mana.

    Masalahnya, kalau dibiarkan kemana-mana nanti bisa lari pada istilah-istilah seperti existence, the problem of mind, p-zombie, digital-self, dll. Jadi makin rumit.πŸ™‚

    Saya pribadi tidak memandang manusia bisa disamakan [atau disetarakan] dengan sekedar sebuah angka digital {seperti PIN/Social Security Number}, identitas khusus, kesadaran, dll. Pertanyaan seperti, “Apakah kamu adalah orang yang sama jika…..”, adalah pertanyaan yang menyempitkan pengertian manusia dalam sebuah syarat “jika”.

    Mungkin bercorak Aristotelian.πŸ˜› Tapi lebih tepat kalau bercorak fenomenologi.

  4. menarik juga bila digunakan utk mendifinisikan ulang syariat islam. tapi sepertinya pendapat mainstream sudah memberi harga mati, bahwa syariat yang otentik dan final adalah syariat yang diterapkan 14 abad yang lampau. *sighs*

  5. bukankah itu tergantung definisi? misalnya statement ini:

    (a = 2, b = 3)
    a := a+b
    b := a-b
    a := a-b
    (a = 3, b = 2)

    *kalau Geddoe sih kasih aja programming, dijamin ngerti*:mrgreen:

    lho, mau nilai a dan b dituker, dibolak-balik, (lihat code-nya deh) dimutilasi atau diapain juga, a akan tetap jadi a. compilernya juga akan mempersepsikan demikian bung Geddoe.:mrgreen:

    jadi kalau kita define:

    kapalTeseus := new Kapal {a | atribut kapal}
    kapalTeseus2 := new Kapal {a | atribut kapal}

    tetap saja kapalTeseus cuma ada satu. walaupun ada yang sama, akhirnya akan jadi sebuah kapalTeseus yang lain lagi. mau maksa juga, compilernya nggak mau terima ada dua kapalTeseus yang beda!πŸ˜€

    yah, sekarang masalahnya di bagaimana mindset seseorang mau meng-compile masalah si kapal dan kapak ini. tapi memangnya ada compiler yang mau menerima dua buah benda berbeda dengan nama yang sama?

    *filosofi ala Computer Science*
    *hal gampang kok dibikin susah?*:mrgreen:

  6. @ goldfriend

    *kepala berputar-putar*

    Kalau menyangkut perkara kesadaran, IMO sebenarnya ada deus ex machina-nya, yaitu konsep ruh. Kalau ruh ternyata ada, kemungkinan ia akan menyelesaikan semua problem yang disebutkan. Selain daripada itu, akan menjadi sulit membedakan kesadaran dengan algoritma.πŸ˜• Kalau misalnya ada AI yang dapat menjalankan peran sebagai manusia secara sempurna, apakah itu kesadaran? Saya agak setuju dengan pandangan pesimis nihilistik bahwa kesadaran tidak bisa dites.πŸ˜›

    @ agiek masih saja training

    Kok jadi larinya ke situ?πŸ˜› BTW, ya tergantung juga. Penafsiran yang progresif itu ‘kan bukan ‘mengganti’, tapi meinterpretasikan ulang, soale.πŸ™‚

    @ yud1

    Wah, menarik. Tapi apa bisa begitu, ya?πŸ˜• Variabel itu ‘kan semacam kontainer buat nilai-nilai tertentu; kontainernya sendiri di sini tidak diganggu gugat, bukan?:mrgreen:

    Masalahnya di paradoks ini kontainer itu juga diganti-ganti.πŸ˜› Bagaimana kalau begini:

    //(mock programming language)
    //newKapal (nama, komponenA, komponenB, komponenC)
    //newKomponen (assign_id)
    //deleteKapal (kapal)
    //renameInstance (old, revised)

    kom_x = newKomponen (20);
    kom_y = newKomponen (21);
    kom_z = newKomponen (22);
    kom_q = newKomponen (30);
    kom_r = newKomponen (31);
    kom_s = newKomponen (32);
    kapal1 = newKapal (“Camar Raksasa”, kom_x, kom_y, kom_z);
    kapal2 = newKapal (“Kerajaan Laut”, kom_q, kom_r, kom_s);

    //aduk2

    deleteKapal (kapal1);
    kapal2.komponenA = kom_x;
    kapal2.komponenB = kom_y;
    kapal2.komponenC = kom_z;
    kapal2.nama = “Camar Raksasa”;

    renameInstance (kapal2, “kapal1” )

    Kalau begitu bagaimana?πŸ˜•

    Sebenarnya ya tergantung persepsi sendiri juga. “Sama” itu maunya sejauh apa, sih?πŸ˜› Kalau dalam sense yang paling ketat ya pensil saya juga bukan pensil yang sama lagi kalau saya refill. Atau kaos bolong yang ditambal, bukan kaos yang 100% sama lagi.πŸ˜› Tapi kita juga bisa melihat dari segi motif, seperti Pak Adams di atas. Misalnya kuil tersebut; karena pemugaran itu juga termasuk bagian dari sejarah, maka dari sudut pandang ahli sejarah mungkin kuil itu ya 100% masih Kuil Paviliun Emas, tapi karena materialnya berbeda, maka dari sudut pandang ahli bangunan sudah jadi bangunan yang berbeda dari 700 tahun yang lalu.πŸ˜›

    Yang rumit yaaa… Mengaplikasikannya ke kesadaran.:mrgreen:

    @ gentole

    *kembali mengerjakan tetek bengek kuliah*

  7. yang komen di sini berbobot semua ya.. jadi saya masih boleh nyampah disini nggak??
    *sumpah mbaca post nya..*

  8. Wah, pusing juga yaβ„’

    Mungkin lebih enak kalo ditambahi New sama Old..
    Kapal Teseus yang dibikin baru dikasih nama New Teseus, trus yang dibangun dari bagian-bagian yang rusak diberi nama Old Teseus..

    *ndak pernah baca buku filsafat:mrgreen:

  9. @ ulan

    Aah, cuma pseudo-intelektualβ„’ saja ini…:mrgreen:

    *ditimpuk para komentator*

    @ Nazieb

    Kalau kapal Teseus yang tanpa embel-embelβ„’ yang mana?πŸ˜›

  10. Hmmm.. ya berarti yang Old itu saja yang ndak usah dikasih embel-embel..

    Secaraβ„’ kan seluruh komponennya masih aseli..
    :mrgreen:

  11. Berarti masbro berbeda sudut pandang dengan Aristoteles, Douglas Adams, atau mas yud1 di atas.πŸ˜›

    Hayo, ada yang juga menganut aliran ini?πŸ˜›

  12. Berarti masbro berbeda sudut pandang dengan Aristoteles, Douglas Adams, atau mas yud1 di atas.πŸ˜›

    eh.. jangan pakai ‘mas’. nama saya ‘yud1’.:mrgreen:

    ::

    Masalahnya di paradoks ini kontainer itu juga diganti-ganti.πŸ˜› Bagaimana kalau begini:

    […]

    Kalau begitu bagaimana?πŸ˜•

    memangnya ada compiler yang bisa ganti seenaknya kayak begitu?:mrgreen:

    btw, maksud saya di sini bahwa compiler dan mindset itu hal yang analog. misalnya Kuil Paviliun Emas di Kyoto:

    //Java-like pseudocode
    paviliunEmas := new Kuil {Kyoto, atribut, atribut, …}

    paviliunEmas.bakar()
    paviliunEmas.bongkar(komponenLamaA, komponenLamaB, …)
    paviliunEmas.renovate(komponenBaruA, komponenBaruB, …)

    tapi tetap saja entitas (objek) dari si paviliunEmas ya tetap begitu-begitu saja. masalahnya di sini, banyak dari kita malah bingung dengan substansi daripada definisi. dalam banyak hal sih berpikir secara substansial itu bagus, tapi dalam hal lain malah bisa bikin bingung sendiri.:mrgreen:

    Kalau dalam sense yang paling ketat ya pensil saya juga bukan pensil yang sama lagi kalau saya refill. Atau kaos bolong yang ditambal, bukan kaos yang 100% sama lagi.

    lho, memang nggak 100% sama, kan?:mrgreen:

    pensilGeddoe = new Pensil {refill, body, …}

    pensilGeddoe.setRefill(Replace, Color.RED)

    apakah pensilGeddoe sekarang sama dengan pensilGeddoe yang sebelumnya? beda! tapi apakah pensilGeddoe sekarang dan pensilGeddoe sebelumnya adalah objek yang sama? jelas sama!

    IMO, yang dipertanyakan oleh Adams adalah mengenai hal yang kedua alih-alih yang pertama. tentu saja, di sini jawabannya adalah bahwa kuil tersebut adalah kuil yang sama!πŸ˜€

    Yang rumit yaaa… Mengaplikasikannya ke kesadaran.:mrgreen:

    analog, kalau pernah nonton EVA. ada banyak Ayanami Rei, tapi apakah semuanya adalah Ayanami Rei yang sama? sayangnya tidak. masing-masing saling independen satu sama lain. makanya bisa dibilang, mereka semua adalah entitas yang berbeda.:mrgreen:

    sisanya sesuai dengan konsep yang dibicarakan sebelumnya.πŸ˜‰

    *ngawur yang semakin serius*:mrgreen:

  13. 1 entitas aristotelian berbeda dalam waktu: aku detik ini bukan aku detik yang lalu bukan aku detik yang akan datang. Semuanya adalah aku dalam identitas berdetik detik. Aku unik tiap detiknya

    2 entitas aristotelian berbeda dalam ruang: aku diruang ini bukan aku diruang itu. aku disana bukan aku disini. aku sana aku sini.

    3 entitas aristotelian dalam kesamaan identitas: aku adalah aku. aku tak beruang dan tak berwaktu.

    Nah mengkombinasikan dari ketiganya akan muncul suatu paradox paradox yang menyertainya…

  14. Kamu lagi krisis identitas nih?
    Jadi inget adegan-adegan di film drama, kalau orang yang kita cintai sudah berubah drastis (entah karena hilang ingatan atau gimana) apakah kita akan tetap mencintainya?

    Kalau saya sih cenderung mencari esensi dari suatu hal (syarat suatu hal diberi nama demikian). Kalau Kapak Washington bukanlah kapak yang sama yang pernah dipegang oleh Washington, maka dia bukan kapak Washington. Karena esensi dari kapak tersebut adalah pernah dipergunakan oleh George Washington.
    Berbeda dengan kasus Kuil Paviliun Emas dimana keberadaannya tersebut tergantung pada keberadaan kuil dan lokasi (kecuali ada persetujuan untuk pemindahan). Jadi, mau direnovasi sesering apapun, namanya tetap sama.

    Btw, coba baca artikel di Stanford deh:
    http://plato.stanford.edu/entries/identity/

  15. Coba kombinasikan lagi dengan teori chaos, filsafat timur, parapsikologi, dll. Mungkin makin berputar-putar.πŸ™‚

    Nah, komentar Mas Suluh itu menyebutkan konsep Aristotelian tentang entitas “aku”. Aku yang terkungkung dalam konsep waktu dan ruang. Juga aku yang mematuhi hukum logika aristoteles (identitas, excluded middle, dll).

  16. *baca semua komen*

    *hebat, dari yang sudut pandang psikologi, filsafat, sampai computer-science juga ada* (6_9)

     

    Ah, begini. IMHO sih, mungkin yang terpenting di sini adalah preserving the spirit-nya. Jadi renovasi dan penambahan bahan bangunan baru itu fungsi utamanya adalah menjaga keutuhan spirit yang terkandung di benda aslinya.πŸ˜•

    E.g. pemugaran Candi Borobudur. Biarpun batu dan semennya baru, tapi tujuan utamanya adalah preserving nilai-nilai budaya di zaman Syailendra. Kurang lebih begitu sih IMO. ^^

  17. :: gentole

    *masih keder melihat komen yud1*

    jangan begitu, mas. saya cuma mahasiswa biasa merangkap programmer paruh waktu yang lagi stres kebanyakan kerjaan saja, kok.πŸ˜‰

    sumpah, saya nggak paham yang ribet-ribet. kalau yang seperti itu sih mending tanya Geddoe aja… beliau seharusnya punya pemahaman yang luar biasa, soalnya major-nya kan Computer Science di negeri jiran sana.:mrgreen:

    *summon Geddoe, terus kabur*

  18. *baca-baca*

    Hmm, jadi begini namanya Aristotelian? Konsep ke-aku-an ini jadi mengingatkan saya akan kutipan iseng saya, “Aku mati dan aku lahir kembali setiap sedetik yang lalu”. Rupanya ada konsep resminya ya.πŸ˜›

  19. @ yud1

    sumpah, saya nggak paham yang ribet-ribet. kalau yang seperti itu sih mending tanya Geddoe aja… beliau seharusnya punya pemahaman yang luar biasa, soalnya major-nya kan Computer Science di negeri jiran sana.:mrgreen:

    *ngakak sampai dagu copot*πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜†

    Hei, pitnah™ itu!:mrgreen:

  20. Jadi ingat teori relativitas Einstein, dimana bidang itu 3 dimensi (panjang, lebar, waktu) dan ruang itu 4 dimensi (panjang, lebar, tinggi, waktu). :3

  21. malah jadi inget sama temenku waktu dia putus cinta.

    “kalo ada cewe lain yang kayak dia, ya wajahnya, ya sifatnya, ya cara ngomongnya, ya semua2nya, kamu mau nggak?”

    eh, temenku njawab, “seberapapun samanya, tetep aja itu bukan dia.”

Comments are closed.