Menolak Teori Evolusi Adalah Menghina Tuhan

Judul yang sedikit seru, ya? Tapi itu bukan kata saya, lho.

Pertama-tama, memang, saya juga sudah capek dengan kontroversi yang satu ini. Teori evolusi versus doktrin agama. Adalah Mas Fertob yang saya salahkan karena memulai lagi tren ini.๐Ÿ˜› Menyambut kejadian ini, Mas Sora juga langsung menurunkan wangsit yang secara komprehensif membahas salah kaprah yang sering ditangkap oleh masyarakat tentang teori evolusi.๐Ÿ™‚

Seperti halnya mas Sora, pikiran saya langsung menuju bagaimana menyelesaikan semuanya, once and for all. Saya sudah muak dengan fallacy-fallacy yang dipakai. Terutama ketika saya lihat begitu gampangnya kaum yang menolak teori evolusi “menyampahkan” hasil-hasil penelitian Darwin. Menurut saya ini adalah kurang ajar.๐Ÿ˜• Seandainya Darwin, dan semua ilmuwan lainnya, keliru sekalipun, mereka adalah sekelompok manusia biasa yang dengan sungguh-sungguh memeras keringat demi kemajuan umat manusia. Apabila tidak menyetujui apa yang diajukan oleh biologi evolusioner, maka buatlah hipotesis tandingannya. Kalau sudah selesai, kirim ke komunitas ilmiah untuk di-peer review. Begitu caranya suatu teori bisa direvisi. Kalau hanya membaca sedikit, lalu menolak dengan arogan, mengatakannya sampah pula, maka itu adalah kurang ajar. Sekali lagi, kurang ajar.๐Ÿ™‚

Anda (atau orang-orang terdekat anda) pernah diimunisasi? Pernah berobat ke rumah sakit? Pernah pakai antibiotik? Lalu mengatakan penelitian ilmiah sampah pula? Untuk terakhir kalinya, kurang ajar.๐Ÿ˜†

Ahem.๐Ÿ˜›

Kembali ke topik, seperti yang saya katakan, judul tulisan ini lumayan provokatif. Anda menolak teori evolusi, berarti anda menghina Tuhan. Seperti yang saya katakan pula, itu bukan kata-kata saya.

Itu adalah kata-kata Theodosius Dobzhansky.

Theodosius Dobzhansky (1900-1975) adalah salah satu figur terpenting dalam ilmu biologi modern, dan, ia adalah seorang yang sangat religius. Pada tahun 1973, dua tahun sebelum kematiannya, ia menuliskan esai tersohor Nothing in Biology Makes Sense Except in the Light of Evolution. “Tanpa teori evolusi, biologi adalah ngawur.

Di esai inilah beliau menuliskan gagasan beliau tersebut. Menolak teori evolusi adalah menghina Tuhan. Saya tidak sereligius Dobzhansky, tapi saya melihat gagasan beliau ada benarnya.

Jadi, saya bela-belain menerjemahkan esai beliau tersebut dari pagi hari sampai siang ini.๐Ÿ™‚ Untuk Anda, supaya dibaca.

Beberapa yang saya ingatkan;

  1. Ini panjang. Sebaiknya bacalah sampai selesai, terserah apakah mau dibaca di tempat atau disimpan dulu untuk dibaca di lain waktu.๐Ÿ™‚
  2. Saya menambahkan beberapa hal dalam tulisan, seperti link keluar, dan beberapa elemen formatting seperti penebalan atau italisasi.

Yang hendak disampaikan oleh Almarhum Dobzhansky di sini adalah;

  1. Teori evolusi adalah benar adanya, dan ia tidak meniadakan Tuhan.
  2. Penolakan atas teori evolusi bukanlah berdasarkan pembelaan atas Tuhan, melainkan kesombongan manusia belaka. Sebab evolusi tidak membunuh Tuhan, melainkan membunuh martabat manusia. Teori evolusi tidak mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, namun menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk rendah yang bersaudara dengan kucing, udang, dan kutu air. Ini yang menyebabkan teori evolusi ditolak— ia menyakiti harga diri manusia.

    Lalu mulailah kita beramai-ramai menolaknya dengan memperalat Tuhan. Pura-puranya membela Tuhan, padahal sebenarnya membela harga diri, dan bahkan sebenarnya telah menghina Tuhan.

Silakan dibaca pelan-pelan. Selamat membaca.๐Ÿ™‚

*BTW ini bukan asal kopi dari tempat lain, lho, saya tulis sendiri huruf demi huruf.๐Ÿ˜› *

.

.

.

.

.

.

.

Biologi Tidak Akan Masuk Akal Kecuali Berkiblat Pada Teori Evolusi

Theodosius Dobzhansky

Pada tahun 1966, Syaikh Abul Aziz bin Baz menyarankan agar Raja Saudi Arabia menghentikan penyebaran sebuah gagasan menyesatkan yang menyebar di negerinya. Beliau menulis:

“Al-Qur’anul Kariim, ajaran Rasulullah yang mulia, suara para ilmuwan Muslim, dan fakta-fakta yang ada semuanya menyuarakan bahwa matahari berputar di sumbunya… dan bumi tidak bergerak dan tetap ada di posisinya. Inilah wahyu Allah pada makhluk-makhluk-Nya. Barangsiapa yang menyatakan sebaliknya ialah berbicara suatu dusta terhadap Tuhannya, kitabnya, dan nabinya.”

Syaikh Bin Baz lalu menyatakan bahwa teori Copernicus “hanyalah teori”, dan bukanlah “fakta”. Secara teknis, beliau benar. Sebuah teori bisa didukung oleh fakta-fakta yang tak terbantahkan, tapi setelah itu ia akan menjadi ‘teori yang terbukti’, tidak akan pernah menjadi ‘fakta’. Mungkin beliau lupa, bahwa era penjelajahan antariksa telah dimulai, sebelum ia mulai meminta pada Raja untuk menghentikan penyebaran ‘teori menyesatkan’ milik Copernicus. Bahwa bumi itu berbentuk bundar, sudah dilihat sendiri oleh para astronot, dan bahkan sudah disiarkan dan dapat dilihat oleh siapapun di televisi. Atau bisa saja sang Syaikh berdalih, bahwa para astronot hanya berhalusinasi saja, dan bumi memang datar adanya.

Model astronomi yang diajukan oleh Copernicus, seperti misalnya gagasan bahwa bumi mengelilingi matahari (dan bukan sebaliknya), belum pernah dipastikan melalui pengamatan langsung, seperti misalnya pada gagasan bahwa bumi itu bundar. Tapi, tetap saja komunitas ilmiah menerima model astronomi ini sebagai model yang akurat. Mengapa? Karena model ini memungkinkan banyak fakta-fakta sains untuk dijelaskan secara memuaskan— tanpa teori ini, fakta-fakta tersebut akan menjadi misterius, aneh, dan menjadi pertanyaan. Lalu mengapa kita semua menerima gagasan bahwa bumi itu bundar dan mengelilingi matahari? Bukankah gagasan ini “hanya teori”? Apa kita sedang menaklid buta pada otoritas sains? Tidak juga: kita mengikutinya karena apabila kita meluangkan waktu untuk mempelajarinya, teori ini ternyata sangat meyakinkan.

Sayangnya, Syaikh Bin Baz mungkin tidak meneliti bukti-bukti yang ada. Lebih disayangkan lagi, mungkin beliau begitu bias sehingga bukti macam apapun tidak akan meyakinkan beliau. Meyakinkan beliau untuk menerima teori ilmiah ini tampaknya hanya akan membuang-buang waktu. Baik Al-Qur’an, maupun Alkitab, tidak menolak teori Copernicus, dan Copernicus pun tidak menolak kitab-kitab ini. Kitab suci membahas sesuatu yang dianggap lebih penting: makna eksistensi manusia dan relasinya dengan Tuhan. Kitab suci ditulis dengan bahasa puitis yang indah, yang bisa diyakini oleh orang-orang yang hidup di mana kitab tersebut diturunkan (dan orang-orang sesudah mereka). Raja Saudi waktu itu tidak mengabulkan pintaan sang ulama. Sang Raja paham bahwa ada golongan yang tidak menyukai kemajuan pengetahuan, mungkin karena akan merugikan mereka. Pendidikan tidak semestinya dipakai untuk menyebarkan misinformasi.

Bumi bukanlah pusat semesta secara geometris, walau mungkin merupakan pusat spiritualnya. Ia hanyalah setitik debu di angkasa. Dan, bertentangan dengan perhitungan Uskup Ussher, alam semesta tidak diciptakan pada tahun 4004 SM. Perkiraan usia alam semesta menurut kosmologi modern memang hanya perkiraan kasar, namun terus bertambah akurat setiap penelitian, dengan metode-metode yang semakin canggih. Ada pendapat yang menyatakan bahwa alam semesta berusia sepuluh milyar tahun; beberapa berpendapat ia kekal dan abadi. Kehidupan di bumi lahir sekitar 3-5 milyar tahun silam; dan makhluk hidup yang menyerupai manusia muncul sekitar 2-4 juta tahun yang lalu. Usia bumi sendiri, berikut durasi era geologis dan paleontologis, serta umur nenek moyang manusia, sekarang diukur dengan bukti-bukti radiometris dari beberapa jenis elemen kimiawi di bebatuan.

Syaikh Bin Baz dan golongannya menolak bukti-bukti radiometris, karena itu “hanya teori”. Lalu apa alternatifnya? Beberapa menyatakan bahwa Tuhan menipu kita, dan menciptakan ilusi-ilusi yang akhirnya merusak teori para ahli geologi dan biologi. Tuhan membuat beberapa jenis batu dengan rasio isotop tertentu supaya sains salah memprediksi usia benda-benda di alam semesta. Bebatuan yang hanya berusia 6000 tahun, disulap oleh Tuhan supaya kelihatan berusia 2 milyar tahun atau 2 juta tahun. Salah seorang anti-evolusi pertama, P. H. Gosse, pernah menulis sebuah buku berjudul “Omphalos” (‘pusar’). Inti dari buku yang ‘luar biasa’ ini adalah Adam memiliki pusar, walaupun tidak punya ibu (fungsi pusar adalah untuk menyalurkan nutrisi ketika bayi berada dalam kandungan), dan fosil-fosil yang ditemukan dengan susah payah adalah benda palsu yang diletakkan oleh Tuhan di bebatuan— dalam arti Tuhan sengaja menipu ilmu pengetahuan. Rasanya mudah untuk menyimpulkan bahwa gagasan ini mengada-ada. Ini adalah penghinaan terhadap Tuhan, dengan menuduh-Nya menipu makhluk ciptaan-Nya.

Keragaman Makhluk Hidup

Keragaman yang ada pada makhluk hidup sangatlah menakjubkan dan sarat akan makna. Sekitar 1,500,000-2,000,000 spesies telah ditemukan dan dipelajari; yang belum ditemukan mungkin sama banyaknya. Keragaman ukuran, struktur, dan cara hidup masing-masing spesies, semuanya begitu agung. Begitu menggetarkan.

Beberapa contoh saja:

Virus yang menyebabkan penyakit mulut dan kuku berwujud bola dengan diameter yang hanya 8-12 mikrometer. Bandingkan dengan paus biru yang panjangnya mencapai 30 meter dengan bobot 135 ton. Virus-virus yang paling sederhana adalah berupa parasit yang terdapat di sel-sel organisme lain, mencuri DNA/RNA inangnya dalam jumlah yang amat sangat sedikit, dan menggunakannya untuk berkembang biak.

Apakah virus adalah makhluk hidup atau atau hanya zat kimia, sebenarnya adalah masalah opini dan definisi. Perbedaan opini dan definisi di sini sangat esensial. Ini bermakna bahwa batas antara ‘hidup’ dan ‘tidak hidup’ adalah sangat kabur. Lebih jauh lagi, apabila kita mengamati organisme-organisme yang lebih kompleks, kita akan menemui keluarga vertebrata, termasuk manusia. Otak manusia memiliki dua belas milyar neuron; sinapsis di antara neoron-neuron ini bisa mencapai jumlah yang ribuan kali lebih besar.

Beberapa organisme hidup di lingkungan yang sangat bervariasi. Contoh utamanya adalah manusia. Manusia tidak hanya merupakan satu-satunya spesies yang benar-benar kosmopolitan, tapi, dengan dibantu teknologi yang dibangunnya sendiri, mampu bertahan hidup di permukaan bulan dan hamparan antariksa. Sebaliknya, beberapa organisme sangatlah pemilih dan hanya bisa hidup di lingkungan tertentu. Contoh yang paling ekstrim adalah jamur Laboulbeniaceae, yang hanya bisa hidup apabila menumpang di atas sayap dari kumbang Aphenops cronei. Kumbang ini sendiri hanya ada di gua-gua batu kapur yang terletak di selatan Perancis. Lalu larva milik lalat Psilopa petrolei hanya berkembang di rongga-rongga penambangan minyak di California, tidak ada di manapun jua kecuali di sana. Spesies ini juga adalah satu-satunya yang mampu hidup dari mengkonsumsi minyak (dan mereka juga dapat berjalan di atasnya). Kemudian masih ada larva lalat jenis lain, Drosophila carciniphila, yang hanya berkembang di lorong-lorong syaraf yang ada di bawah tangan kecil urutan ketiga yang berada di sekitar mulut kepiting Geocarcinus ruricola. Kita tidak akan mendapatkan kepiting ini kecuali di beberapa pulau saja di Karibia.

Apa ada penjelasan yang memuaskan akan keragaman yang luar biasa ini? Dari mana pula datangnya makhluk-makhluk ajaib seperti jamur Laboulbenia, kumbang Aphenops cronei, lalat Psilopa petrolei dan Drosophila carciniphila, dan spesies-spesies lain yang tak terhitung jumlahnya? Satu-satunya jawaban yang memuaskan dunia sains adalah keragaman organis telah berevolusi, menyesuaikan diri dengan lingkungan-lingkungan yang beragam di atas planet bumi ini. Tidak ada satu spesies, sesempurna apapun, yang dapat memanfaatkan secara maksimal peluang yang ada untuk hidup— semuanya punya cara hidup sendiri-sendiri yang bergantung pada lingkungan. Ada banyak cara-cara hidup yang belum tersentuh oleh sains, tapi satu yang jelas: rendahnya keragaman, akan berakibat pada terbatasnya cara hidup dan berkembang. Proses evolusi berusaha mengisi kekosongan dengan terus mendorong spesies-spesies yang ada untuk memanfaatkan lebih banyak lagi elemen-elemen lingkungan. Mereka tidak melakukannya secara sadar. Lingkungan tidak memaksakan perubahan pada makhluk hidup, seperti yang dinyatakan oleh hipotesis Lamarck yang sudah tidak dipakai lagi itu. Intisari proses evolusi modern mungkin dapat dinyatakan sebagai berikut: Terdapat ‘tantangan’ pada lingkungan yang menyulitkan makhluk hidup. Makhluk hidup kemudian dapat meresponnya dengan beradaptasi secara genetis.

‘Tantangan’ tersebut berupa kekosongan ekologis; yaitu elemen lingkungan yang belum bisa dimanfaatkan oleh makhluk hidup, atau dapat pula berupa perubahan iklim. Seleksi alam bisa menyebabkan makhluk hidup beradaptasi dengan mengubah komposisi genetisnya. Dengan melakukan hal tersebut, makhluk hidup yang beradaptasi tadi dapat memanfaatkan ‘ruang kosong’ yang ada. Namun sebaliknya, makhluk hidup tersebut bisa saja ‘menolak’ untuk berubah! Setiap pilihan yang ‘dipilih’, bisa berhasil, dan bisa pula gagal. Apabila respon ini gagal, maka spesies tersebut akhirnya akan punah. Bukti-bukti yang ditemukan pada fosil-fosil menunjukkan bahwa kebanyakan proses evolusi berakhir pada poin ‘gagal’ tersebut, dan organisme-organisme yang ada saat ini adalah keturunan dari spesies-spesies minoritas. Anehnya ini tidak berarti keragaman berkurang, justru bertambah banyak. Mengapa? Hal ini berhasil dijelaskan oleh teori evolusi— yaitu minoritas yang ada berkembang menjadi semakin beragam. Sekarang bayangkan betapa anehnya apabila evolusi tidak terjadi. Tuhan membuat spesies-spesies secara berkala, dan membantai beberapa dari mereka secara berkala pula!

Perlu diingat bahwa seleksi alam bukanlah sesuatu yang dilaksanakan secara sadar oleh makhluk hidup. Suatu spesies bukannya berniat; “Ah, esok hari (atau sejuta tahun lagi) saya akan mencoba untuk tumbuh di tanah yang berbeda, atau mencoba hidup secara parasit di bagian tubuh yang lain dari jenis kepiting yang lain pula!” Tidak begitu. Hanya manusia yang dapat memilih secara sadar, ini sebabnya kita berada di puncak evolusi. Seleksi alam adalah proses yang buta namun kreatif— hanya itu caranya kenapa proses yang sama bisa menghasilkan spesies seperti manusia, namun bisa pula golongan terspesialisasi seperti jamur, kumbang, dan lalat yang disebutkan di atas.

Orang-orang yang anti-evolusi seringkali tidak memahami apa itu evolusi dan bagaimana ia bekerja. Golongan ini berpendapat bahwa semua spesies didesain secara langsung oleh Sang Pencipta, dan tidak berkembang hingga saat ini. Tapi, kalau benar demikian, mengapa sampai ada 2,000,000-3,000,000 spesies di muka bumi? Kalau evolusi benar terjadi, maka jumlah tersebut adalah normal. Sebaliknya, mengapa? Apa mungkin Tuhan sedang iseng ketika membuat Psilopa petrolei sebagai penghuni ladang minyak California, dan Drosophila sebagai makhluk yang hanya bisa hidup bila digendong para kepiting di beberapa pulau di Karibia? Semua ini bisa dipahami, bila Tuhan menciptakan dunia ini bukan secara seenaknya, melainkan dengan mekanisme dan algoritma indah yang dinamakan seleksi alam.

Adalah sangat keliru kalau evolusi dikatakan sebagai tandingan penciptaan. Saya adalah seorang yang mempercayai penciptaan. Saya juga mempercayai teori evolusi. Evolusi adalah cara Tuhan mencipta. “Penciptaan” bukanlah sesuatu yang terjadi pada tahun 4004 SM; ia adalah proses yang bermula sepuluh milyar tahun yang lalu, dan masih berlangsung hingga detik ini.

Keseragaman Makhluk Hidup

Dalam kehidupan, keseragamaan sama menakjubkannya dengan keragaman. Kebanyakan wujud kehidupan adalah serupa dalam banyak sisi. Keseragaman biologis ini sangat terlihat apabila kita mengamati dari segi dimensi biokimia. Dari virus sampai manusia, semua data diwariskan hanya melalui dua zat kimia: DNA dan RNA. Data ini dibentuk dari kode-kode yang begitu sederhananya— hanya ada empat “karakter” dalam DNA: adenin, guanin, timin, dan sitosin. Formula-formula yang menghasilkan spesies baru tidak pernah menambahkan karakter atau elemen baru. Hanya kombinasi yang baru.

Bukan hanya kode genetiknya yang universal, metode translasi dari barisan karakternya pun demikian. Hanya ada dua puluh asam amino yang kemudian mengukir jenis protein yang tak terbatas— protein-protein ini yang kemudian bakal membentuk nyaris semua makhluk hidup. Protein-protein berbeda ini dikodifikasi oleh satu sampai enam triplet nukleotida dari DNA dan RNA. Keseragaman ini bukan hanya dari zat kimia sampai protein, sebab sampai metabolisme selular makhluk hidup pun ternyata sangat serupa, bahkan yang dimiliki organisme yang sangat berbeda pun. Adenosin trifosfat, biotin, riboflavin, hemes, piridoksin, vitamin K dan B12, dan asam folik, semuanya ada di proses metabolisme manapun.

Keseragaman ini mengindikasikan bahwa semua makhluk hidup berhubungan dan bersumber dari hanya satu nenek moyang. Sebab ternyata makhluk hidup sekompleks apapun, semuanya membawa fitur-fitur makhluk purbakala (memang bisa saja ada lebih dari satu spesies leluhur, tapi hanya satu yang tersisa dan menurunkan kita semua). Bayangkan lagi apabila evolusi ternyata salah. Ini berarti semua spesies didesain satu per satu, bukan? Di sini para anti-evolusi telah menghina sains dan Tuhan sekaligus. Menghina Tuhan sebab secara tidak langsung menuduh Tuhan mendesain sedemikian rupa sehingga menyesatkan penelitian para ilmuwan yang bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh.

Perkembangan biologi molekuler beberapa tahun terakhir telah memungkinkan kita untuk memahami bagaimana organisme-organisme yang beragam bisa terlahir dari satu materi: protein yang terdiri dari hanya 20 macam asam amino dan dikodifikasi oleh empat nukleotida. Bagaimana? Metodenya ternyata sangat sederhana. Ingatlah bahwa pada bahasa Inggris, semua kata-kata, kalimat-kalimat, bab-bab, dan semua buku disusun hanya dari 26 huruf! Bahkan mereka bisa ditulis dengan kode Morse, yang cuma terdiri dari tiga karakter. Makna dalam bahasa ditentukan dari barisan karakternya— hal yang sama ada pada kode genetik.

Lebih jauh lagi, kita sudah dapat memperkirakan seberapa tinggi keseragaman biokimia yang ada pada makhluk hidup. Beberapa enzim dan protein adalah hampir universal dan mereka memiliki fungsi yang serupa pada makhluk hidup yang berbeda, yaitu dengan bekerja sebagai katalis pada reaksi kimia yang sama. Nah, apabila mereka diisolasikan dan struktur mereka bisa dirumuskan secara kimia, maka kita akan menemukan barisan asam amino tertentu, yang berbeda-beda tiap organisme.

Contohnya, ‘rantai alfa’ pada hemoglobin manusia adalah 100% sama dengan simpanse, namun berbeda dengan gorila. Itu pun yang berbeda hanya 1 dari 141 barisan! ‘Rantai alfa’ manusia ini pun berbeda dari spesies lainnya seperti sapi (17/141), kuda (18/141), keledai (20/141), kelinci (25/141), dan ikan gurami (71/141).

Sitokrom C adalah enzim penting yang ada di metabolisme sel aerobik, dimiliki oleh makhluk hidup mulai dari manusia sampai kapang. E. Margoliash, W. M. Fitch, dan beberapa ilmuwan lainnya pernah membandingkan barisan-barisan sitokrom C tersebut— dan semakin mencerahkan dunia sains dengan penemuan-penemuannya. Sitokrom C milik beberapa jenis mamalia memiliki perbedaan sebesar 2 sampai 17 asam amino antar sesamanya. Perbedaan sesama jenis burung pun memiliki angka yang sama, yaitu 2-17. Antara kelas-kelas vertebrata, 7-38. Kemudian, vertebrata dan serangga, 23-41. Dunia binatang apabila dibandingkan dengan funghi (seperti khamir dan kapang), berbeda sebanyak 56 sampai 72 asam amino. Fitch dan Margoliash menyebutnya “jarak mutasi minimal”.

Sudah disebutkan di atas bahwa asam amino yang berbeda dikodifikasi oleh beberapa jenis triplet nukleotida pada DNA; kode ini sekarang sudah berhasil diketahui. Ternyata kebanyakan mutasi dihasilkan lewat penukaran sebuah nukleotid di rantai DNA yang digantikan oleh protein lain. Jadi sekarang kita sudah bisa mengukur; berapa jumlah mutasi minimal yang diperlukan untuk mengubah sitokrom C suatu organisme menjadi sitokrom C organisme lain!

Beberapa hasilnya adalah sebagai berikut:

Monyet

1

Ayam

18

Anjing 13 Penguin 18
Kuda 17 Kura-kura 19
Keledai 16 Ular derik 20
Babi 13 Tuna 31
Kelinci 12 Lalat 33
Kangguru 12 Ngengat 36
Bebek 17 Kapang 63
Merpati 16 Khamir 56

Harap diingat bahwa barisan asam amino dari beberapa jenis protein adalah berbeda-beda bahkan di dalam satu spesies. Perbedaan-perbedaan antara protein-protein di tingkat spesies, marga, suku, ordo, kelas, dan filum, semuanya tersusun atas elemen-elemen yang juga berbeda-beda tiap individu. Namun perbedaan ini hanya sebatas perbedaan kuantitatif, dan bukan kualitatif, sehingga proposisi di atas tetap merupakan proposisi yang sangat kuat dan terus berkembang.

Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa dalam barisan asam amino hemoglobin manusia terdapat lebih dari 100 varian, namun variasi yang ada hanya melibatkan substitusi sekitar satu buah asam amino— substitusi yang muncul karena mutasi genetik nenek moyang masing-masing individu itu sendiri. Kebanyakan mutasi cenderung merugikan, tapi cukup banyak pula yang netral, bahkan menguntungkan di lingkungan tertentu. Hemoglobin-hemoglobin mutan yang telah ditemukan terkadang hanya terjadi pada satu orang atau satu keluarga saja; namun terkadang sangat umum di daerah yang berbeda di muka bumi.

Coba cari penjelasan yang masuk akal atas fenomena di atas tanpa menggunakan teori evolusi. Semuanya pasti menjadi absurd dan tidak masuk akal.

Perbandingan Anatomi dan Embriologi

Keseragaman biokimia yang universal adalah bukti penciptaan melalui evolusi yang paling meyakinkan dan mutakhir, tapi ia bukanlah satu-satunya bukti. Perbandingan anatomi dan embriologi sudah menjadi bukti yang sangat kuat sejak dulu, dimulai dari penelitian Pierre Belon pada tahun 1555 di mana ia menemukan homologi kerangka pada manusia dan burung. Padahal kerangka manusia dan burung sangat berbeda. Bahkan penelitian lebih lanjut menemukan homologi pada seluruh kerangka dan organ vertebrata! Tidak sampai di situ, homologi pun ditemukan pada kerangka luar milik antropoda yang sekilas sangat berbeda— dari lobster, lalat, sampai kupu-kupu. Contoh-contoh yang ada sudah tidak terhitung lagi.

Begitu pula embrio. Embrio yang dimiliki binatang-binatang yang sangat berbeda wujudnya, ternyata amat sangat serupa. Satu abad yang lalu keseragaman ini disuarakan oleh beberapa ahli biologi (seperti Ernst Haeckel) untuk menyimpulkan bahwa embrio mengulangi proses evolusi spesiesnya, dengan “berevolusi” di dalam rahim. Berarti, embrio di dalam rahim melalui proses di mana ia berwujud tidak seperti spesiesnya, namun mulai dari berwujud seperti nenek moyangnya. Dengan kata lain, mereka memberi gagasan bahwa kita bisa ‘membaca’ perjalanan evolusioner spesies kita dengan memperhatikan kronologi embrio. Ini dinamakan hukum biogenetik, namun pada saat ini sudah tidak diterima secara utuh lagi. Walau demikian, inti penelitiannya di mana mereka menemukan keseragaman embrio tetap tidak terbantahkan lagi.

Kita semua tahu, berangas dan crustacea sama sekali tidak mirip. Tapi ternyata larva dari berangas mesti melewati fase menakjubkan di mana mereka berwujud nauplius yang bebas berenang di air. Di fase ini, mereka serupa sekali dengan seekor cyclops yang sejenis crustacea, nyaris tidak ada perbedaan sama sekali. Ini bermakna, mereka adalah bersaudara.

Bukti lain yang sangat terkenal adalah bahwa ternyata embrio manusia memiliki celah insang. Tentu, embrio manusia itu bukan ikan, dan insangnya pun tidak lengkap dan tidak pula berfungsi. Tapi kenapa ini bisa terjadi? Apakah karena manusia bersaudara jauh dengan bangsa ikan, ataukah Tuhan punya selera humor yang aneh?

Radiasi Adaptif: Lalat Hawaii

Ada sekitar 2,000 spesies lalat drosophilid di dunia secara keseluruhan. Seperempatnya ada di Hawaii, padahal ukuran arkipelago ini hanya sebesar New Jersey. Semua spesies yang ada di Hawaii tersebut, kecuali sebagian kecil (17 dari sekitar 500), adalah endemik— di seluruh dunia, hanya ada di Hawaii. Yang lebih menarik adalah, hampir seluruh spesies khas Hawaii ini bukannya menyebar merata di seluruh kepulauan: mereka hanya ada di pulau-pulau tertentu saja. Beberapa bahkan hanya ada di satu bagian saja pada satu pulau! Mengapa suatu spesies bisa sebegitu terspesialisasinya? Penjelasannya ada pada penelitian yang telah dilakukan H. L. Carson, H. T. Spieth, D. E. Hardy, dan kawan-kawan.

Jadi, kepulauan Hawaii adalah kepulauan gunung berapi; pulau-pulaunya bukanlah bagian dari benua apapun. Usia pulau-pulaunya tersebut bervariasi dari 5.6 sampai 0.7 juta tahun. Sebelum manusia bermukim di sana, sudah terdapat spesies-spesies lain yang sampai ke sana melalui udara atau cara lainnya. Salah satunya adalah satu spesies lalat drosophilid ini— mereka sampai ke Hawaii, dan ‘ditantang’ oleh lingkungan di sana. Oleh sebab itulah, terlahir berbagai macam spesies keturunannya yang menghadapi tantangan yang berbeda-beda (sebelum ada salah paham di sini, tentunya spesies-spesies lalat ini sangat serupa satu sama lainnya dan orang biasa tidak akan bisa membedakannya). Dari yang spesies yang paling besar sampai yang paling kecil jumlahnya, semuanya berasal-usul sama, dan mereka, apabila diamati, memiliki cara hidup yang unik. Misalnya, menjadi parasit di kepompong telur yang dimiliki laba-laba.

Pulau-pulau di Oseania yang lain, selain Hawaii, tidak ada yang kaya dengan lalat endemik seperti ini. Penjelasan yang masuk akal adalah, pada pulau-pulau yang lain, kekosongan ekologis yang ada telah terisi semuanya oleh drosophilid lainnya, sehingga evolusi tidak terjadi. Inilah penjelasan yang memuaskan di mata ilmu pengetahuan

Dari pandangan anti-evolusi, yang akan muncul adalah sebuah hipotesis alternatif: Suatu hari, Tuhan, karena sedang iseng, menciptakan lagi dan lagi variasi lalat di Hawaii, sampai akhirnya jumlahnya mencapai seperempat variasi lalat drosophilid di seluruh dunia.

Mana yang lebih masuk akal, saya serahkan pada pembaca.

Tingkat Kekuatan dan Penerimaan terhadap Teori Evolusi

Apabila dilihat dari sudut pandang teori evolusi, maka biologi mungkin adalah cabang sains yang paling memuaskan dan inspiratif. Sebaliknya apabila evolusi tidak diakui, maka ia akan menjadi tumpukan fakta-fakta trivial yang unik, misterius, tapi membingungkan dan aneh apabila dilihat secara kolektif.

Ini bukan berarti kita telah mengetahui semua tentang biologi dan evolusi. Ahli biologi manapun tahu bahwa ada jutaan pertanyaan yang masih belum terjawab; biologi masih sangat muda. Perbedaan pendapat dalam ilmu biologi sendiri adalah umum adanya, suatu tanda yang sehat dalam sains. Kesalahan yang dibuat oleh kaum anti-evolusi adalah menganggap teori evolusi sebagai kumpulan doktrin yang diimani oleh seluruh ahli biologi. Yang menyedihkan adalah ketika perbedaan pendapat itu dikutip sedemikian rupa untuk menciptakan ilusi seolah-olah perbedaan yang ada adalah begitu mendasar dan masih banyak ilmuwan yang menolak teori evolusi. Saya dan teman-teman saya sendiri sering menemui perkataan-perkataan kami dikutip sehingga berbunyi seolah-olah kami adalah penentang teori evolusi.

Saya akan membuat semuanya jelas; apa yang sudah terbukti dan tidak dapat diragukan lagi, dan apa yang masih jadi tanda tanya.

Bahwa evolusi telah dan masih terus terjadi sebagai proses yang ada di alam, hanya akan diragukan oleh mereka yang belum (atau tidak mau) meneliti bukti-bukti yang dudah dituliskan. Mungkin karena alasan-alasan emosional atau cuma keras kepala.

Sebaliknya, yang masih perlu dipelajari adalah,

Mekanisme apa yang menyebabkan evolusi?

Itulah pertanyaan yang masih perlu dijawab, dan sedang terus diusahakan oleh para ilmuwan. Pertanyaannya sedang terus dipelajari, dan hipotesis-hipotesisnya terus diklarifikasi.

Kesimpulannya,

Tidak ada alternatif ilmiah untuk teori evolusi. Tapi, sains terus berusaha membongkar asal-usul mekanisme evolusi ini.

Luar biasa bagaimana lebih dari seratus tahun yang lalu Darwin dapat memformulasikan dasar-dasar teori evolusi dengan materi yang begitu terbatas. Perkembangan genetika di abad ke-20, terutama genetika molekuler, telah berhasil menyajikan informasi-informasi yang esensial untuk mulai menyingkap misteri-misteri mekanisme seleksi alam. Masih banyak yang mesti dipelajari— sesuatu yang begitu dramatis dan inspiratif untuk para ilmuwan-ilmuwan yang bersungguh-sungguh mengabdi untuk umat manusia. Bayangkan; begitu banyak yang kita telah ketahui, dan masih ada banyak misteri yang ada!

Apakah fakta evolusi bertentangan dengan agama? Tidak. Adalah kekeliruan untuk menggunakan kitab suci sebagai sumber utama berkenaan dengan sains. Sebab kitab suci menggunakan bahasa simbol yang puitis, dan tidak bijak menerjemahkannya untuk sains. Hasilnya malah menghina Sang Pencipta: Tuhan dituduh sebagai tukang tipu yang menjebak ilmu pengetahuan.

Salah satu pemikir besar era kita, Pierre Teilhard de Chardin, pernah berkata;

“Apakah evolusi sebuah teori, sistem, atau hipotesis? Saya kira ia lebih menyerupai suatu kenyataan yang paling tinggi dibanding teori, sistem, atau hipotesis manapun. Semua teori, sistem, dan hipotesis mesti diukur menggunakan evolusi ini. Ia merupakan cahaya yang menerangi segala kebenaran, sebuah lintasan yang mesti dilalui setiap garis yang ada.”

“Inilah evolusi!”

Tentu, tidak semua ilmuwan, filsuf, dan ahli teologi sepakat dengan ajaran Teilhard, namun tidak diragukan lagi bahwa ia adalah orang yang sangat religius. Pandangannya tentang iman dan sains tidaklah sempit seperti yang ada dalam diri kebanyakan orang— keduanya sangat harmonis dalam dada Teilhard.

Teilhard adalah seorang yang mengimani “Penciptaan”, tapi ia adalah satu dari mereka yang menyadari bahwa “Penciptaan” adalah evolusi itu sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

Nah, sudah dibaca? Silakan direnungkan, dan saya berharap semoga Anda tidak tergolong orang yang menghina Tuhan.:mrgreen:

Salam.๐Ÿ˜›

66 thoughts on “Menolak Teori Evolusi Adalah Menghina Tuhan

  1. Kekekekeek…. terpicu komen kang kombor nih. Kang kombor emang komennya nyelekit gitu, tapi saya sih ndak terlalu ngambil pusinglah. Emang udah begitu logikaknya mo gimana lagi.

    *adhominem tinggak tinggi*

  2. saya sudah baca kecuali bagian hewan2 nya :D:D dan saya tidak menghina tuhan
    (menulis tuhan tanpa huruf kapital ngga termasuk menghina tho ?)

  3. Oh iya mengenai evolusinya. Saya jadi tidak merasakan pertentangn antara agama dengan evolusi adalah ketika saya sampai pada tahap menganggap bahwa penciptaan adam dan hawa itu adalah bentuk metafora saja untuk menerangkan kondisi manusia pada saat ajaran itu diturunkan. Dimana adam menunjukkan keilahian, dan hawa menunjukan nafsu.:mrgreen:

    Eh, tapi nggak boleh menafsirkan ajaran agama seenak sendiri ya?๐Ÿ™„

  4. @ dana (1)

    Ya sebenarnya banyak komentar yang seperti itu, ini semua rasa muak yang kolektif, kok.๐Ÿ™‚

    BTW itu ad hominem, akhi… Ga boleh… Dosa…๐Ÿ˜›

    @ funkshit

    Cepet banget mbacanya, mas? Ya, saya turut bahagia kalo mas ga termasuk yang menghina Tuhan…๐Ÿ˜›

    *halah, kapital doang— kalo fontnya lowercase semua gimana?*:mrgreen:

    @ dana

    Ya jelas tidak boleh. Menafsirkan itu tidak boleh pakai hawa nafsuโ„ข, semuanya ada asbabun nuzul-nya. Kalau tidak melacak sampai ke sana apa yang membuat mas menafsirkan dengan cara seperti itu, hah? Hah?๐Ÿ˜‰

  5. yoi…
    kita semua bersaudara!

    *peluk pohon dan monyet*๐Ÿ™‚

    *yg di atas agak ga serius*
    *yg di bawah agak serius (bedanya apa :p)*

    kan katanya Moby, kita semua terbuat dari bintang :p
    konon katanya inspirasi lagu ini dari fisika kuantum…
    “On a basic quantum level, all the matter in the universe is essentially made up of stardust,”
    (atau ini juga teori yang ditolak kreasionis?)

    hmmm…
    aku pribadi sih gak masalah dibandingin sama monyet.
    apa ya…karena imho pernyataan “i don’t want to be an ape” mirip dgn “aku ga mau kaya kamu, ranking kamu rendah, kamu goblok!”
    terdengar arogan๐Ÿ˜€

    salam kenal ya๐Ÿ™‚

  6. Beberapa hal:

    Teori evolusi adalah benar adanya, dan ia tidak meniadakan Tuhan.

    Benar atau tidak itu relatif. Bisa ya, bisa tidak. Mungkin sampai saat ini teori ini sudah mengalami kemajuan hingga bisa menambal patch yang dulu pernah bolong-bolong sesuai perkembangan peradaban manusia sendiri. Tapi untuk mendesakkan bahwa hal ini benar, terutama pada orang-orang yang lebih religius, agaknya seperti yang kamu bilang sendiri itu, Ged: Membosankan.

    Demikian membosankannya, karena yang satu kukuh dengan dogma berdasar manuskrip turun-temurun tanpa mau menggeluti sains, sementara yang dari kalangan sains dan pro-evolusi *maaf* lebih sering berkeliaran di menara gading dan cenderung congkak dengan menafikan minimnya pendidikan sains dimana-mana. IMHO, di negara ini misalnya.

    Saya tidak sepenuhnya percaya dengan teori evolusi dan juga memiliki keraguan bahwa kehidupan diciptakan dengan Sim Salabim begitu saja (meski saya yakin Tuhan mampu utk itu). Ndak ada seninya™ kalo bahasa lugasnya.

    Seperti juga menafikan Tuhan itu. Karena saya condong ke theistic evolution, saya sendiri menganggap proses apapun, tidak akan menafikan EKSISTENSI Tuhan itu sendiri. Tapi akan beda masalahnya, ketika Teori Evolusi ini justru dijadikan dasar utk pemikiran yang menafikan Tuhan. Jadinya bergeser, bukan urusan sains lagi, tapi sudah ke bidang lain: sos-pol, salah satunya.

    Penolakan atas teori evolusi bukanlah berdasarkan pembelaan atas Tuhan, melainkan kesombongan manusia belaka.

    Ini saya sependapat. Hampir semua yang saya tawarkan ide evolusi, bahkan theistic evolution sendiri, menolak karena “perasaan” martabatnya sebagai makhluk yang disujud-sembahi oleh malaikat jadi tercemari.

    Padahal, kisah tentang itu sendiri tidak dinyatakan sebagai kejadian ketika sudah di bumi. Tidak dinyatakan dalam bentuk fisik seperti yang ada sekarang. Ada yang malah berpendapat bahwa itu masih dala, bentuk ruh. Atau saya salah?

    Sebab evolusi tidak membunuh Tuhan, melainkan membunuh martabat manusia. Teori evolusi tidak mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, namun menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk rendah yang bersaudara dengan kucing, udang, dan kutu air. Ini yang menyebabkan teori evolusi ditolakโ€” ia menyakiti harga diri manusia.

    Ya, ini yang membuat teori evolusi ditolak. Bahkan bagi yang masih bisa menerima evolusi teistik seperti saya pun, mesti mencengir pahit juga, dan berapologia dengan kemungkinan lain bahwa “secara mukjizati” andaikata-umpama-dan-misalkan manusia tidak termasuk dalam rantai evolusi itu. Siapa tahu, bahwa Teori Evolusi pada akhirnya cuma menjelaskan tentang tumbuhan dan binatang, tapi tidak dengan manusia.๐Ÿ˜›

    *pengecualian yang agak memaksa memang*:mrgreen:

    Secara keseluruhan saya setuju dengan itu Mr. Dobzhansky. Sudah cukup lama ndak pernah dengar nama yang satu ini sejak hengkang dari kampus.

    Tapi ada yang saya tidak setujui, yaitu ketika Teori Evolusi bisa sama (atau lebih suci) dari agama, dan cuci-tangan ketika dijadikan pembenaran utk tindakan atau pemikiran yang mendasarkan pada teori tersebut.

    Sebut saja ide survival of the fittest-nya yang sering dimasukkan dalam khazanah pemikiran. Ekses sebuah teori dan agama ketika menjadi satu dogma tersendiri, sama-sama merusak ketika melenceng dari jalurnya. Jika dogma dalam agama bisa dicela karena ini, maka mestinya juga yang menyayangi Teori Evolusi bisa berlapang dada juga bahwa ada ekses demikian. Nggak bisa dinafikan dengan apologia yang sama yang dipakai para zealot.

    Ah sudahlah. Kalo ada yang masih menolak keseluruhan Teori Evolusi itu, fatwakan saja “Lakum kreasionikum wa evolusiniadin”. Bagimu kreasionisme-mu bagiku evolusionisme-ku.

    Ndak perlu dipaksa. Ntar bisa jadi kaya smoker-hatred atau ef-pi-ai:mrgreen:

  7. @ lambrtz

    Lho, kita belum kenalan secara resmi, ya?๐Ÿ˜›

    Ah, ya, saya kurang begitu paham, tapi ya semestinya iya, kita semua terbuat dari debu bintang. Bongkahan bintang -> sup primordial -> reaksi kimia pertama -> makhluk hidup bersel satu -> lama-lama jadi manusia, deh.๐Ÿ˜›

    Eh, BTW, dipikir-pikir, lebih keren bintang ya daripada tanah.:mrgreen:

    @ alexยฎ

    Tapi untuk mendesakkan bahwa hal ini benar, terutama pada orang-orang yang lebih religius, agaknya seperti yang kamu bilang sendiri itu, Ged: Membosankan.

    Ya, memang demikian. Saya akui itu. Saya cuma menegaskan posisi sains di sini, kok. Selain itu, kalimat itu sendiri dibuat sebagai intisari gagasan Dobzhansky.๐Ÿ™‚

    sementara yang dari kalangan sains dan pro-evolusi *maaf* lebih sering berkeliaran di menara gading

    Sepakat.๐Ÿ™‚ Masalahnya kembali ke pendidikan, mas.

    Ndak ada seninyaโ„ข kalo bahasa lugasnya.

    Benar, ini mirip seperti sistem tata surya, misalnya. ‘Kan Tuhan sebenarnya bisa saja bikin keran raksasa di langit dan selokan raksasa di bawah bumi untuk mengurus hujan, tapi toh pakai proses juga.

    Tuhan itu ‘kan mestinya bukan kayak tukang. Kalau pakai hipotesis Penciptaan, ya Beliau jadi semacam tukang, kerja satu-satu. Kalau Ia cerdas, maka yang dibikin adalah mesinnya, jadi tinggal bekerja dengan sendirinya.๐Ÿ˜†

    Tapi akan beda masalahnya, ketika Teori Evolusi ini justru dijadikan dasar utk pemikiran yang menafikan Tuhan.

    Tapi itu masalah yang lain lagi, ‘kan.๐Ÿ˜•

    Ini saya sependapat. Hampir semua yang saya tawarkan ide evolusi, bahkan theistic evolution sendiri, menolak karena โ€œperasaanโ€ martabatnya sebagai makhluk yang disujud-sembahi oleh malaikat jadi tercemari.

    Iya, bingo.:mrgreen:

    Ya, ini yang membuat teori evolusi ditolak. Bahkan bagi yang masih bisa menerima evolusi teistik seperti saya pun, mesti mencengir pahit juga

    Lha tapi menurut teori evolusi yang abiogenesis sekalipun ‘kan, kita ini terbuat dari serpihan bintang yang mengarungi angkasa sejak milyaran tahun, berputar menjelajahi galaksi seorang diri… Serpihan yang dulunya adalah satu dengan semua benda di alam semesta (hipotesis singularity), termasuk dengan black hole yang ada jutaan tahun cahaya jauhnya. Apa masih kurang romantis itu?๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜›

    Secara keseluruhan saya setuju dengan itu Mr. Dobzhansky. Sudah cukup lama ndak pernah dengar nama yang satu ini sejak hengkang dari kampus.

    Membawa kenangan lama kah?๐Ÿ˜†

    Sebut saja ide survival of the fittest-nya yang sering dimasukkan dalam khazanah pemikiran. Ekses sebuah teori dan agama ketika menjadi satu dogma tersendiri,

    Ah, saya kira mesti dibedakan antara sisi sainsnya dengan sisi ideologinya, masbro. Kalau evolusi itu terjadi, ya terjadi. Kalaupun nanti ada yang menjadikannya alasan untuk berbuat macam-macam, ya itu mesti dicegah, namun itu kasus yang lain lagi.๐Ÿ™‚

    Ah sudahlah. Kalo ada yang masih menolak keseluruhan Teori Evolusi itu, fatwakan saja โ€œLakum kreasionikum wa evolusiniadinโ€. Bagimu kreasionisme-mu bagiku evolusionisme-ku.

    Ndak perlu dipaksa. Ntar bisa jadi kaya smoker-hatred atau ef-pi-ai:mrgreen:

    *bersulang dengan menyulut rokok*:mrgreen:

    Dah lama ndak ngerokok.๐Ÿ˜›

  8. @toean geddoe

    Lho, kita belum kenalan secara resmi, ya?๐Ÿ˜›

    eh…
    ga tau…
    maaf saya pelupa…
    maklum sudah tua (halah)
    yang jelas belum aku link di blogku…
    minta ijin ngelink๐Ÿ™‚

    Lha tapi menurut teori evolusi yang abiogenesis sekalipun โ€˜kan, kita ini terbuat dari serpihan bintang yang mengarungi angkasa sejak milyaran tahun, berputar menjelajahi galaksi seorang diriโ€ฆSerpihan yang dulunya adalah satu dengan semua benda di alam semesta (hipotesis singularity), termasuk dengan black hole yang ada jutaan tahun cahaya jauhnya. Apa masih kurang romantis itu?๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜›

    Glaciers melting in the dead of night
    And the superstars sucked into the supermassive…
    Supermassive black hole…
    huiiii…romantis sekali :”>

    btw niat banget ya nerjemahin artikel sepanjang itu๐Ÿ˜€

    oh ya, tadi kelupaan…
    tentang pandangan agama terhadap teori2 “duniawi”…
    (sori gak tau istilah yg lebih tepat)
    dulu aku dan beberapa temen pernah diskusi dgn frater yang membimbing kelompok kerohanianku di kampus. dia bilang begini :

    kalo waktu itu para nabi bilang kalo “bumi memutari matahari”, “bumi itu bulat”, dsb, mereka bakal digoblok2in sama orang2 :p
    dan pesan Tuhan ga jadi disampaikan๐Ÿ˜†

    terus, Kitab Suci bukan buku sejarah, bukan buku untuk diterjemahkan secara apa adanya (misalnya dengan menetapkan kalo alam semesta dibuat 4004 SM). Kitab suci lebih berupa tuntunan dan panduan hdup.

    (seingatku, dia bahkan juga bilang kalo) Adam dan Hawa bisa jadi bukan manusia beneran๐Ÿ˜€
    tapi cenderung merupakan hasil usaha manusia jaman dulu (Nabi Musa?) untuk menjelaskan sejarah dunianya…
    (untuk yg ini kayanya sangat kontroversial…aku tanyakan ke temen yg lain, pendapatnya beda)

    what do you think?
    cukup liberal?๐Ÿ˜€

    ya…cuma sharing๐Ÿ™‚

    @alexยฎ
    saya ikut nambahin ya

    Bagimu kreasionisme-mu bagiku evolusionisme-ku.
    Mari kita berlomba2 menjawab misteri alam semesta tanpa saling menghina.
    Biar Tuhan jadi wasit + jurinya :p
    Sepakat?

    *dirajam penganut paham “pokoknya”*

  9. minta ijin ngelink๐Ÿ™‚

    Silakan.๐Ÿ™‚

    Glaciers melting in the dead of night
    And the superstars sucked into the supermassiveโ€ฆ
    Supermassive black holeโ€ฆ
    huiiiiโ€ฆromantis sekali :โ€>

    ๐Ÿ˜†

    kalo waktu itu para nabi bilang kalo โ€œbumi memutari matahariโ€, โ€œbumi itu bulatโ€, dsb, mereka bakal digoblok2in sama orang2 :p
    dan pesan Tuhan ga jadi disampaikan๐Ÿ˜†

    Ya itu, bagaimana mau diikuti kalau di kitab tertulis seperti itu?๐Ÿ˜›

    Adam dan Hawa bisa jadi bukan manusia beneran๐Ÿ˜€

    […]

    what do you think?
    cukup liberal?๐Ÿ˜€

    Ya, dan saya suka bahasan-bahasan seperti itu.๐Ÿ˜›

    *dirajam penganut paham โ€œpokoknyaโ€*

    Aaaah, pokoknyaโ„ข kamuโ„ข salah!๐Ÿ˜›

    Huahahahahaha!๐Ÿ˜ˆ

    //gaJelas ()

  10. Deuh, iya panjang banget. *belum baca semua, cuma intro nya aja*

    mau di simpan aja dulu ah. Buat referensi๐Ÿ˜›

    BTW, G (english spelling), mungkin saya memang OON, and males, baca link, Selain mengenai monyet sebagai nenek moyang, yang bagian mana sih
    tentang teori Evolusi yang menentang keberadaan Tuhan?

    Bahkan, kalo saya pikir-pikir lagi,
    kalo berfikir secara mundur, yang berakhir bahwa segala sesuatu itu berasal dari satu, bisa jadi yang satu itu, Tuhan khan?
    Bukan berarti saya mau bilang kalo makhluk hidup berasal dari bagian “tubuh” tuhan.

    Maksudnya, kalo ada sesuatu yang bisa hadir dengan sendirinya, maka…

  11. Deuh, iya panjang banget. *belum baca semua, cuma intro nya aja*

    mau di simpan aja dulu ah. Buat referensi๐Ÿ˜›

    Bagus itu. Silakan.๐Ÿ™‚

    BTW, G (english spelling),

    Apa itu?๐Ÿ˜•

    Selain mengenai monyet sebagai nenek moyang, yang bagian mana sih
    tentang teori Evolusi yang menentang keberadaan Tuhan?

    Duh, monyet itu bukan nenek moyang manusia. Yang ada, nenek moyang manusia itu sama dengan monyet.

    Mari kita beranalogi, karena sepertinya mbak senang beranalogi:

    Pak Budi punya dua anak: Badu dan Ani.

    Maka yang benar: Badu dan Ani memiliki ayah yang sama, yaitu Budi.
    Atau terjemahannya: Manusia dan monyet memiliki nenek moyang yang sama, yaitu great ape.

    Yang ini salah: Manusia nenek moyangnya adalah monyet.
    Atau terjemahannya: Ayah Ani adalah Badu.
    ๐Ÿ˜†

    Mengerti?๐Ÿ˜›

    Bahkan, kalo saya pikir-pikir lagi,
    kalo berfikir secara mundur, yang berakhir bahwa segala sesuatu itu berasal dari satu, bisa jadi yang satu itu, Tuhan khan?

    Itu mirip filsafatnya Thomas Aquinas, mbak. Namanya argumen first cause. Masih satu saudara sama argumen primum movens.๐Ÿ˜›

    Tapi argumen ini dinyatakan sebagai paradoks oleh beberapa pemikir, sebab proposisinya dibantah oleh konklusinya sendiri…๐Ÿ™‚

    Ya pokoknya gitu, deh. Baca-baca aja kalo minat.:mrgreen:

    Bukan berarti saya mau bilang kalo makhluk hidup berasal dari bagian โ€œtubuhโ€ tuhan.

    Kalau itu namanya pantheisme. Bisa pula jadi pandeisme, atau, kalau “bagian tubuh” itu lepas secara permanen, panendeisme.๐Ÿ˜› Tapi teologi mainstream agama Abrahamik sendiri lebih menganggap bahwa Tuhan itu ‘di luar’ alam, jadi tidak mesti.

    Maksudnya, kalo ada sesuatu yang bisa hadir dengan sendirinya, makaโ€ฆ

    Konon ada lho yang bisa hadir dengan sendirinya. Di level atomik, banyak elektron-elektron yang muncul dengan sendirinya setiap waktu. Tidak ada materi pembuatnya, tidak tahu kenapa, tiba-tiba ada…๐Ÿ˜†

  12. Geddoe,

    Saya benar-benar banyak belajar dari para blogger seperti Anda yang sepertinya punya banyak waktu untuk menerjemahkan artikel-artikel panjang. Btw, anda bukannya lagi ujian?๐Ÿ˜€

    Kenapa sih kita tidak membiarkan orang berpikir bahwa evolusi itu salah, toh itu tidak kan mengubah kenyataan bahwa teori evolusi itu benar bila memang teori tersebut pada kenyataannya benar adanya. Bukankah penolak evolusi itu kebanyakan di luar komunitas ilmiah? Di jurusan biologi IPB, misalnya, semua dosennya saya kira menggunakan paradigma evolusi dalam penelitian mereka, meskipun lingkungan mereka sangat “hijau” secara ideologis.

    Mungkin yang perlu ditulis itu apa implikasinya bagi kehidupan/peradaban manusia seandainya penolakan terhadap evolusi persists. Menurut saya sih belum terlalu berbahaya. Masih jauh lebih berbahaya ef-pi-ai-isme.

    Saya indifferent soal beginian. When I die, it doesn’t matter whether life works through evolution or not. I’m just…dead.

  13. Kalau mau dibaca oleh shampir seluruh kalangan, rubahlah gaya tulisan diatas menjadi kurang baku. Soalnya kalau disandangkan dengan esai yang panjang itu, berat sekali.:mrgreen:

    ———

    Saya nggak menghina Tuhan, sehingga ajaran “penciptaan” dan “evolusi” sendiri, saya terima keduanya. Dalam artian lain, saya belum bersiap diri untuk berkomentar banyak disini.๐Ÿ˜€ Kalau Guh pernah bilang, ya, “semua hal di dunia ini benar tergantung siapa yang melihatnya”, kurang lebih seperti itulah.

    Jadi, saya duduk disini, menonton. Menunggu permainan.๐Ÿ˜€

  14. @ gentole

    Btw, anda bukannya lagi ujian?๐Ÿ˜€

    Ini namanya prokrastinasi.๐Ÿ˜›

    Kenapa sih kita tidak membiarkan orang berpikir bahwa evolusi itu salah, toh itu tidak kan mengubah kenyataan bahwa teori evolusi itu benar bila memang teori tersebut pada kenyataannya benar adanya. Bukankah penolak evolusi itu kebanyakan di luar komunitas ilmiah?

    Ah, benar. Sangat benar. Saya memang seringkali berpikir seperti itu. Saya kira tidak ada untungnya terlalu idealis dan berupaya ‘mendidik’. Terlalu soklah.

    Sebab, saya kira kebanyakan yang menolak teori evolusi dan sebagainya, hanya menolak sebatas wacana saja.๐Ÿ˜• Dalam hal ini, paham ini tidak membahayakan.

    Masalahnya adalah…

    Mungkin yang perlu ditulis itu apa implikasinya bagi kehidupan/peradaban manusia seandainya penolakan terhadap evolusi persists.

    Dor! Ini dia, betul sekali!๐Ÿ˜€ Kalau tidak salah ini adalah inti dari dua buku legendaris Carl Sagan. Keduanya belum saya khatamkan, dan saya berencana mereviewnya.๐Ÿ™‚

    Yang susah ya itu, masbro. Kalau sejauh ini sih tidak membahayakanlah. Yang menolak teori evolusi itu kebanyakan saya yakin orang yang cinta damai, dan malah jarang sekali membahas kontroversi teori yang dimaksud. Membicarakannya pun musiman saja. Tapi kalau ini bertahan dan berkembang, ‘kan susah. Apalagi muncul berbagai macam pseudosains; akhirnya saya tentu sedikit miris. Bagaimana jadinya kalau di masa depan ada dark ages lagi?

    Jadi yang saya lakukan sekarang hanyalah mencegah misinformasi dulu. Minimal saya ikut membantu, supaya orang tahu, evolusi itu tidak membahayakan iman mereka. Evolusi itu bukan teori yang dalam krisis. Supaya sains tidak dianggap seperti musuh. Tidak dianggap sebagai instansi yang sudah dibajak para zionis untuk menyebar ilmu palsu.

    Sejauh ini memang tidak berbahaya, tapi bagaimana kalau dibiarkan terus? Sejujurnya saya khawatir.

    * * *

    Mungkin saya akan menulis itu sewaktu-waktu, masbro. Hipotesis bahwa pada dasarnya kebanyakan kaum anti-evolusi hanya karbitan saja dan tidak membahayakan. Pragmatis memang, tapi itu masuk akal.

    Saya indifferent soal beginian. When I die, it doesnโ€™t matter whether life works through evolution or not. Iโ€™m justโ€ฆdead.

    Hahaha, so am I.๐Ÿ˜€ Tapi, tidak berminat mencoba peruntungan lewat cryonics?๐Ÿ˜›

    @ Mihael Ellinsworth

    Hohoho! Memang tulisan ini dimaksudkan untuk wacana serius, masbro.๐Ÿ™‚

    Silakan menonton dulu.๐Ÿ˜› Tapi, BTW, kalau saya bilang Perancis yang jadi juara resmi Piala Dunia 2006, kayaknya tidak bisa benar dari sudut manapun, deh.๐Ÿ™‚

  15. Uh, ada tulisan saya. Dan ada juga tulisan de Chardin.๐Ÿ™‚

    Saya terus terang belum baca tulisan si Dobzhansky ini. Ya…ya… mungkin lebih enak kalau dibaca edisi aslinya, karena saya yakin terjemahan diatas sudah “dipelintir” oleh si penerjemah.:mrgreen:

    *konspirasi*๐Ÿ˜†

    Saya memandang dari sudut yang lain.

    Sejak ribuan tahun agama dan ilmu pengetahuan selalu berada di jalan yang berseberangan. Sulit kita menemukan sebuah titik temu antara kedua bidang itu. Hampir sama sulitnya dengan menemukan seorang ilmuwan yang religius atau seorang agamawan yang sekaligus ilmuwan.

    Dan potret berlututnya Galileo Galilei di depan Gereja Katolik menjadi potret nyata bahwa ada unsur “perkelahian” antara kedua hal ini.

    Agama, disatu sisi, sering salah menafsirkan dan memahami sebuah hasil penelitian science. Agama terlalu kaku (too rigid) untuk mengaku bahwa dirinya tidak mampu (atau belum mampu) menjelaskan fenomena-fenomena ciptaan Tuhan di dunia ini, karena memang agama tidak dalam posisi menjelaskan hal itu.

    Agama juga sering memandang hasil ilmu pengetahuan “berpotensi” merusak kepercayaan terhadap Tuhan. Bahkan ketika sebuah hasil science berusaha menjelaskan hal-hal yang masih misteri (ajaib) yang ada di kitab suci. Sebuah kekosongan penjelasan atas sesuatu, dlm pandangan agama, haruslah dan harus diterima dengan kepercayaan belaka dan tanpa usaha untuk mengeksplorasi lebih jauh.

    Ilmu pengetahuan, di sisi lain, terkadang terlalu muda untuk memahami bahwa sisi kepercayaan pun bisa diuji dalam sebuah syarat ketat keilmuan. Bahwa kepercayaan pun punya basis fakta, meskipun tidak seketat fakta dalam science.

    Science juga terkadang memandang bahwa menjadi seorang saintis adalah menjelaskan fenomena alam semesta apa adanya tanpa berusaha berpikir “kekuatan seperti apakah yang membuat sistem alam semesta ini begitu luar biasa”. Sebuah penjelasan sains yang mendetail bisa melupakan sebuah “kerangka besar” dibalik penjelasan detail tersebut.

    Saya rasa kedua bidang itu memang mempunyai kontribusi yang sama besar dalam menyikapi satu salah sangka yang hampir seumur dengan usia manusia di muka bumi ini.๐Ÿ™‚

    *sori, ntar lagi dilanjutkan*

  16. mungkin lebih enak kalau dibaca edisi aslinya, karena saya yakin terjemahan diatas sudah โ€œdipelintirโ€ oleh si penerjemah.:mrgreen:

    Ah, silakan. Versi aslinya bisa dibaca di [sini].๐Ÿ™‚

    Saya memandang dari sudut yang lain.

    Sejak ribuan tahun agama dan ilmu pengetahuan selalu berada di jalan yang berseberangan. Sulit kita menemukan sebuah titik temu antara kedua bidang itu.

    Sebenarnya pertentangan ini paling kentara pada metodologinya, mas. Seperti yang diceritakan di anekdot-anekdot:

    Sains: “Inilah evidence-evidence-nya! Kesimpulan apa yang bisa kita tarik?”

    Agama: “Inilah kesimpulannya! Evidence apa yang bisa kita temukan?”

    Metodologinya bertolak belakang. Jadi walau hasilnya sama, spirit-nya sangat berbeda.๐Ÿ˜•

    * * *

    Soal ‘rivalitas’ keduanya, ya, saya sependapat.๐Ÿ™‚

  17. @Goldfriend

    Hampir sama sulitnya dengan menemukan seorang ilmuwan yang religius atau seorang agamawan yang sekaligus ilmuwan.

    Yah, memang sulit. Mustahil, sih, menurut saya. Saya juga agak kaget kok Geddoe bikin postingan yang satu ini. Seolah-olah Geddoe ingin membuktikan bahwa sains dan agama itu kompatibel.

    Sebuah penjelasan sains yang mendetail bisa melupakan sebuah โ€œkerangka besarโ€ dibalik penjelasan detail tersebut.

    Sependapat.

    @Geddoe

    Sebenarnya pertentangan ini paling kentara pada metodologinya, mas.

    Menurut saya yang berbeda itu metodologi sekaligus asumsi dasarnya. Sains berpijak pada fakta dan matematika sementara agama berpijak pada sabda dan hermeneutika. Kesimpulannya jelas beda dong. Sains itu terus terang, brutal. Agama itu puitis, elusif.

    Pandangan saya memang agak defeatist, Ged, dan tidak akan membawa perdebatan ini kemana-mana. Itu karena saya pikir para saintislah yang nantinya akan menentukan nasib perseteruan antara agama dan sains. Agama itu statis, sementara sains bergerak maju. Sains, saya kira, akan sampai pada satu titik penemuan terakhir: apakah itu Tuhan atau Ketiadaan. Kecuali, dalam pandangan teistik saya, bila Tuhan bosan dan memutuskan kiamat dipercepat.๐Ÿ˜€

  18. @ Geddoe

    Saya cuma menegaskan posisi sains di sini, kok. Selain itu, kalimat itu sendiri dibuat sebagai intisari gagasan Dobzhansky.๐Ÿ™‚

    Dan saya setuju dengan intisari gagasan tersebut. Sains sendiri, apakah dalam bentuk Teori Evolusi atau Teori Heliosentris, saya yakini cuma sarana untuk mengenal Tuhan. Kalau Tuhan memang lebih hobi dengan gaya Sim Salabim, ndak adakan dikasi-Nya otak sama manusia๐Ÿ˜†

    Sepakat.๐Ÿ™‚ Masalahnya kembali ke pendidikan, mas.

    Masalahnya memang lebih sering di pendidikan itu sendiri. Habis gimana, Ged? Minat untuk melahap buku-buku sains tidaklah sebesar minat utk melahap fiksi bercampur sains kontemporer (peduli benar atau salah) yang dicampur dengan embel2 religi.

    Saya saja masi ingat kenapa dulu Contact-nya Carl Sagan saya dicibiri karena sudah dijudge sebagai novel yang tidak religius๐Ÿ˜†

    Ah, saya kira mesti dibedakan antara sisi sainsnya dengan sisi ideologinya, masbro. Kalau evolusi itu terjadi, ya terjadi.

    Hehehe… maunya begitu, Ged. Tapi, sayangnya… prasangka begitu sudah ada duluan. Salah satu yang bertanggung-jawab ya YM Harun Yahya itu, IMHO. Ditambah lagi coreten-coretan pemujaan di banyak buku-buku ideologi yang salah kaprah itu:mrgreen:

    Dan itu yang harus diluruskan. Kira-kira, seperti tuntutan utk meluruskan pemahaman agama sebagai alasan utk melakukan kekerasan lah. IMHO, sains dan agama sama-sama tidak bisa cuci-tangan begitu saja ketika disalah-gunakan๐Ÿ™‚

    Kalaupun nanti ada yang menjadikannya alasan untuk berbuat macam-macam, ya itu mesti dicegah, namun itu kasus yang lain lagi.๐Ÿ™‚

    Kasusnya memang kasus yang lain lagi. Tapi mesti dipikirkan ketika yang dihadapi adalah prejudice yang tak bisa memisahkan mana sains sebagai sains belaka, dan mana sains sebagai dalih pembenaran.

    Toh, kebanyakan yang menolak mentah-mentah Teori Evolusi itu kan – setidaknya di sekitar saya – bukanlah yang bergelut dalam bidang sains, atau katakanlah eksakta. Banyak yang sainsnya “sains nemu” di majalah atau bacaan yang mencampur-adukkan sains dan ilmu sosial seperti Sab**i atau Hid*******4h itu:mrgreen:

    Kecenderungannya, kalo cocok dgn dogma diambil atau dicocok-cocokkan, kalo dianggap ndak cocok, dicela. Padahal yang dicela itu belum sepenuhnya dimengerti:mrgreen:

    Lha iya! Masa orang spesialisasi ushuluddin, mbahas sains dari buku sejarah melulu. Matematika saja D๐Ÿ˜ก

  19. Adalah Mas Fertob yang saya salahkan karena memulai lagi tren ini.๐Ÿ˜›

    Bwakakak… itu memang salahnya beliau.๐Ÿ˜† Jelas-jelas di tagline post-nya ditulis,

    mengungkit kembali luka lama yang mungkin sudah tertutupโ„ข.

    ๐Ÿ˜†

    @ alex®

    Banyak yang sainsnya โ€œsains nemuโ€ di majalah atau bacaan yang mencampur-adukkan sains dan ilmu sosial seperti Sab**i atau Hid*******4h itu:mrgreen:

    Lha, itu. Orang-orang yang sama dengan yang belajar Kristen dari buku Ahmed Deedat.๐Ÿ™„

    Sejujurnya sih, saya sering bingung sama mereka2 ini. Kalau orang belajar Islam lewat karya orientalis, langsung saja dihina-hina. Padahal sendirinya? Belajar Kristen lewat buku Deedat. Belajar evolusi lewat buku Harun Yahya.

    Jelas aja gak ngerti inti masalahnya. Belajar kok dari sumber yang kontra.๐Ÿ˜›

  20. Alhamdulillah,
    almarhum Raja Faisal (walaupun aku tidak setuju dengan pandangan anti-semitisnya) cukup waras untuk menolak permintaan Syaikh Abul Aziz bin Baz. Di masa beliau pula, perempuan Arab Saudi diperbolehkan untuk sekolah.

    Berbeda dengan Arab Saudi sekarang di mana hak2 perempuan mulai dibatasi.

  21. Done!

    Great Job! *mengontak gramedia untuk menerbitkan terjemahan ini*

    Sekarang yang ada di benak saya adalah, dengan milyaran tahun persiapan alam semesta, jutaan tahun alogaritma rumit evolusi, ribuan tahun perkembangan otak dan teknologi yang lalu menempatkan makhluk bernama manusia pada tingkat tertinggi piramida makanan dan kehidupan, APA YANG HARUS DILAKUKAN MANUSIA DENGAN PENGHARGAAN TUHAN YANG SEDEMIKIAN RUPA?

    Just like what I’ve asked before

  22. @ gentole

    Saya juga agak kaget kok Geddoe bikin postingan yang satu ini. Seolah-olah Geddoe ingin membuktikan bahwa sains dan agama itu kompatibel.

    Tergantung bagaimana maksudnya dengan ‘kompatibel’, masbro. Menurut saya sih keduanya adalah himpunan yang overlap, tapi dengan barasumsi bahwa agama itu benar, semestinya tidak akan bertubrukan dengan ‘ajaran’ sains. Metodologi memang akan bertubrukan, tapi yang semacam teori evolusi, mestinya tidak.๐Ÿ˜•

    Menurut saya yang berbeda itu metodologi sekaligus asumsi dasarnya. Sains berpijak pada fakta dan matematika sementara agama berpijak pada sabda dan hermeneutika. Kesimpulannya jelas beda dong. Sains itu terus terang, brutal. Agama itu puitis, elusif.

    Saya setuju. Dan juga keduanya saling memandang dari segi yang berbeda. ‘Kebrutalan’ sains, dipandang oleh sains itu sendiri sebagai ‘kejujuran’, sementara buat agama mungkin sarat akan nihilisme. Sebaliknya, sifat elusif agama, oleh agama itu sendiri mungkin dipandang sebagai elemen spiritual, namun oleh sains dianggap sebagai infalsifiability.๐Ÿ™‚

    Pandangan saya memang agak defeatist, Ged, dan tidak akan membawa perdebatan ini kemana-mana. Itu karena saya pikir para saintislah yang nantinya akan menentukan nasib perseteruan antara agama dan sains. Agama itu statis, sementara sains bergerak maju.

    Namun bukankah apabila dilihat dari sudut pandang yang paling materialistik sekalipun, agama adalah sesuatu yang bergerak? Tentunya anda tahu usaha-usaha mempelajari agama dengan berasumsi bahwa ia adalah murni produk antropologis? Kalau melalui asumsi ini saya kira agama juga sesuatu yang bergerak maju dan berevolusi (no pun intended). Agama zaman perunggu dahulu menyembah sapi emas. Kini ada tren new age.

    Dan apabila dilihat dari segi teistik, jelas ajaran agama bersifat timeless, bukan? Kalaupun tidak (terpisah melalui berbagai covenant, misalnya), bukankah berarti wahyu-wahyu akan terus diturunkan?

    @ alexยฎ

    Masalahnya memang lebih sering di pendidikan itu sendiri. Habis gimana, Ged? Minat untuk melahap buku-buku sains tidaklah sebesar minat utk melahap fiksi bercampur sains kontemporer (peduli benar atau salah) yang dicampur dengan embel2 religi.

    Makanya, mulai dari yang paling gampang dulu: jangan sampai muncul buku-buku sains yang klaimnya tidak jelas. Buku sains tentu kesannya lebih kuat daripada fiksi ilmiah, tho? Macam mesin waktu; kalau kita lihat di Doraemon tentu tak akan percaya, tapi kalau kita tonton di Discovery Channel, mungkin agak terpengaruh juga.๐Ÿ˜›

    Jadi ya itu, jangan sampai buku sains itu dibajak. Ya semacam Harun Yahya itu. Boleh dia cuap-cuap tentang sains versi dia, tak mungkin kita larang.๐Ÿ™‚ Tapi kalau sudah berbohong (“teori ini sudah tidak diakui lagi” ) tentu jadi seperti KRMTRSN ujung-ujungnya…

    Dan itu yang harus diluruskan. Kira-kira, seperti tuntutan utk meluruskan pemahaman agama sebagai alasan utk melakukan kekerasan lah. IMHO, sains dan agama sama-sama tidak bisa cuci-tangan begitu saja ketika disalah-gunakan๐Ÿ™‚

    Sepakat. Yang berpihak pada sains juga tidak dewasa bila ongkang-ongkang kaki lalu protes sana-sini kalau masyarakat ditipu.๐Ÿ˜›

    Toh, kebanyakan yang menolak mentah-mentah Teori Evolusi itu kan – setidaknya di sekitar saya – bukanlah yang bergelut dalam bidang sains, atau katakanlah eksakta. Banyak yang sainsnya โ€œsains nemuโ€ di majalah atau bacaan yang mencampur-adukkan sains dan ilmu sosial seperti Sab**i atau Hid*******4h itu:mrgreen:

    ๐Ÿ˜†

    Ya sebenarnya, mirip yang dibilang mas Gentole itu, orang seperti itu ya biasanya membahas sainsnya musiman saja. Maksudnya, ya tidak membahayakan siapa-siapa. Setelah itu ‘kan mereka tidak sampai bersemangat demo minta teori evolusi dihapuskan dari kurikulum, tho?

    Yang ditakutkan ya kalau lama-lama jadi besar masalah ini. Karena sudah banyak yang kontra evolusi, lobi supaya ini dihapuskan dari sekolah akhirnya dikabulkan, dan seterusnya, dan seterusnya.

    @ sora9n

    Lha, itu. Orang-orang yang sama dengan yang belajar Kristen dari buku Ahmed Deedat.๐Ÿ™„

    Sejujurnya sih, saya sering bingung sama mereka2 ini. Kalau orang belajar Islam lewat karya orientalis, langsung saja dihina-hina. Padahal sendirinya? Belajar Kristen lewat buku Deedat. Belajar evolusi lewat buku Harun Yahya.

    Jelas aja gak ngerti inti masalahnya. Belajar kok dari sumber yang kontra.๐Ÿ˜›

    Betul, betul.๐Ÿ˜›

    Ya lucu. Belajar Kristen, misalnya, ya mestinya lewat sumber Kristen. Supaya netral, imbangi dengan yang mengkritik Kristen. Lha ini belajar Kristen kok dari buku yang mengkritik Kristen thok, ya itu bukan belajar namanya, tapi cari pembenaran.๐Ÿ˜†

    Ini fenomena yang lumayan mengganggu, lho.๐Ÿ˜

    @ kunderemp

    Saya tidak begitu tahu dengan raja-raja di Saudi, tapi mungkin juga begitu. Kalau segregasi gender seperti larangan mengemudi untuk wanita itu, apa sudah ada sejak era beliau?๐Ÿ˜•

    @ ManusiaSuper

    Nah, itu dia. Dilihat dari sisi itu, malah jadi semakin agung jadinya.๐Ÿ˜›

    BTW, yang harus dilakukan, mungkin bisa dimulai dari menjaga benda bulat raksasa yang kita tinggali ini?๐Ÿ˜› [/algore]

  23. namanya teori msh bs dikembangin koq.itu aja yg bs aq bilang, krn aq jg nggak ngeh soal evolusi2-an๐Ÿ™‚

  24. Ini panjang. Sebaiknya bacalah sampai selesai, terserah apakah mau dibaca di tempat atau disimpan dulu untuk dibaca di lain waktu.๐Ÿ™‚

    *CTRL+S*
    Terhitung, saya menekan Page Down sebanyak 32 kali untuk sampai ke akhir post (belum termasuk komen).๐Ÿ˜†
    *simpen buat dibaca nanti*

  25. Teori evolusi untuk mahluk hidup dalam suatu kelompok gue akuin itu valid.

    Tapi untuk teori evolusi darwin gue anggep itu gak valid. MENOLAK dengan PASTI.

    Bukan apa-apa, gue pikir lebih enak jadi kera ketimbang jadi manusia -_-

  26. bravo ………. sy baru baca 1/4 nya, maaf posting komentar dulu, cuma ingin mengucapkan terima kasih karena dah susah payah menerjemahkan

  27. Satu per-satu..
    saat memperbolehkan perempuan bersekolah saja, raja Faisal ditentang banyak ulama.

    Aku tahu tentang beliau kebanyakan dari wikipedia walaupun yang pertama kali bikin aku penasaran tentang dia adalah Shabbir Ahmed dari Our Beacon yang mengatakan pernah jadi salah satu tim dokter kerajaan di masanya. Mungkin dia satu-satunya raja Arab Saudi yang dipandang Times layak jadi salah satu man of the year.

    Kutipan dari wiki
    “It was during this period as head of the Saudi government, that Faisal, though still not king, established his reputation as a reforming and modernizing figure.[1] He introduced education for women and girls despite the consternation of many conservatives in the religious establishment. To appease the objectors, however, he allowed the female educational curriculum to be written and overseen by members of the religious leadership, a policy which lasted long after Faisal’s death. It was also during this time that Faisal formally abolished slavery.

    In 1963, Faisal established the country’s first television station, though actual broadcasts would not begin for another two years.[8] As with many of his other policies, the move aroused strong objections from the religious and conservative sections of the country. Faisal assured them, however, that Islamic principles of modesty would be strictly observed, and made sure that the broadcasts contained a large amount of religious programming.”

    “………. Faisal also put down protests by Saudi workers employed by the international oil company, Aramco, in the Eastern Province, and banned the formation of labor unions in 1965. In compensation for these actions, however, Faisal introduced a far-reaching labor law with the aim of providing maximum job security for the Saudi workforce. He also introduced pension and social insurance programs for workers despite objections from some of the ulema.”

    Seingatku di Saudi lebih enak jadi wanita badui daripada wanita kota. Wanita Badui masih bisa mengendarai truk kontainer gede-gede..

    Coba deh cari di google dengan kata kunci
    “bedouin women national geographic truck driver 1986”
    Tuh foto sangat terkenal di antara kalangan “penista agama” hihihihihi..๐Ÿ˜›

  28. Rupanya Dr. Shabbir Ahmed menjadi anggota tim medis keluarga kerajaan itu di masa Raja Faisal?๐Ÿ˜›

    Hmm, ternyata memang Raja yang relatif sangat progresif. Jasa beliau yang saya paling ingat itu ya yang menyangkut televisi itu.๐Ÿ™‚

    Seingatku di Saudi lebih enak jadi wanita badui daripada wanita kota. Wanita Badui masih bisa mengendarai truk kontainer gede-gede..

    Coba deh cari di google dengan kata kunci
    โ€œbedouin women national geographic truck driver 1986โ€ณ
    Tuh foto sangat terkenal di antara kalangan โ€œpenista agamaโ€ hihihihihi..๐Ÿ˜›

    Hoo, foto yang ini…๐Ÿ˜› BTW kalau tidak salah belakangan ada semacam kontroversi di YouTube, seorang wanita (yang urban tentunya) nekat mengemudi dan menyiarkannya.๐Ÿ˜†

    Saya lupa di mana, mungkin mas tahu?๐Ÿ˜›

  29. Geddoe,

    Tentunya anda tahu usaha-usaha mempelajari agama dengan berasumsi bahwa ia adalah murni produk antropologis? Kalau melalui asumsi ini saya kira agama juga sesuatu yang bergerak maju dan berevolusi (no pun intended). Agama zaman perunggu dahulu menyembah sapi emas. Kini ada tren new age.

    Sejumlah antropolog, yang lebih cenderung ke sains, memang menggunakan paradigma evolusi dalam memahami agama, terutama sejarah dan perkembangannya. Tapi saya kurang sreg dengan pendekatan ini. Toh, sampai sekarang Yesus masih disebut “The Lamb of God”, dan umat Islam, juga Yahudi, masih menyembelih hewan sebagai “persembahan”. Dalam banyak hal, agama itu masih sangat purba (archaic). Apalagi setelah melihat FPI.๐Ÿ˜€ Antropolog biasanya menggunakan pendekatan fenomenologi — the study of structures of consciousness as experienced from the first-person point of view

    Saya cenderung membatasi agama dalam konflik agama-sains pada “organized religion”. Penyembah sapi emas saya kira tidak akan repot-repot membela paham bahwa bumi ini diciptakan selama enam hari atau bahwa Adam adalah manusia pertama.

    Yang dianggap bergerak “maju” mungkin penafsiran terhadap Firman/Logos dan simbol-simbol serta ritual agama lainnya karena tekanan jiwa zaman. Kitab suci bisa saja dibuat konformis terhadap jiwa zaman, termasuk kesimpulan2 sains. Jiwa zaman ini memang sangat powerful, sampai-sampai ada pendeta dan Muslim reformis yang “menghalalkan” homoseksualitas. Tapi tetep aja pijakannya kan Sabda Tuhan dalam Kitab Suci. Dan kitab suci ini secara tekstual tidak berubah sejak dikanonisasikan. Alkitab Ibrani, Perjanjian Baru dan al-Qur’an sudah menjadi korpus tertutup.

    Karen Armstrong dalam sejarah Tuhan memang seolah-olah berbicara tentang “evolusi” gagasan Tuhan/agama. Dan buat Dawkins dan Matt Ridley Tuhan/agama itu yah cuma “meme” yang seperti organisme, juga berevolusi. Tapiiiiii…saya kurang sreg dengan paham ini (ini fallacy bukan sih? hehe…) dan tidak berminat [mampu] membantahnya.

  30. Pertanyaan lanjutan:
    1. Apakah agama berevolusi?
    2. Apakah hanya tafsirnya yang berevolusi?

    Saya rasa.. pemahaman atas agama berevolusi, dan mirip dengan evolusi mahluk hidup, tidak berjalan linier.

    Dulu ada berbagai macam agama, lalu agama2 itu punah atau bersatu, atau bercabang menjadi agama yang kita kenal sekarang. Apakah benar demikian?

    Hmmm…. tapi itu butuh pembahasan serius lainnya. Dan cukup kontroversial karena menyangkut “rasa memiliki” dari penganut agama, dan ada sedikit rasa mangkel ketika dikatakan yahudi diganti dengan kristen, lalu diganti lagi dengan islam. Well, setidaknya ada pendapat demikian.

  31. seperti biasa, saya selalu melongo tiap kali liat geddoe n sora bahas teori evolusi. btw, kalian ini bukannya sibuk mikirin mata kuliah yang ngulang, malah asik membela teori yang diusung oleh para kafir2 laknatullah itu. sesungguhnya kalian dalam kesesatan yang nyata. bertobatlah ya akhi:mrgreen:

  32. @naldo

    Bukan apa-apa, gue pikir lebih enak jadi kera ketimbang jadi manusia -_-

    karena kera tidak beragama dan tidak perlu repot2 mikir asal-usul dunia dan evolusi? :p

    *peace, joke*

    lagipula enakan jadi bintang laut yang ga pernah ngapa2in (patrick star :p)

  33. Namun perbedaan ini hanya sebatas perbedaan kuantitatif, dan bukan kuantitatif,

    kayaknya ada kesalahan terjemahan disitu… rada gak nyambung saya…

  34. @ gentole

    Ah, ya, maksud saya sebenarnya lebih kurang seperti itu; hanya saja saya menganggap interpretasi populer sebagai sesuatu yang sudah mewakili agama itu sendiri.๐Ÿ™‚

    Maaf, dengan ini saya ralat.๐Ÿ˜›

    Jadi, ya seperti itu. Penafsiran itu sendiri bisa bersifat progresif, bukan?๐Ÿ™‚

    @ dnial

    Kalau mengenai penafsiran, saya sepakat dengan ini. Terkadang ada saatnya penafsiran ini menyesuaikan diri dengan jiwa zaman/zeitgeist. Hal ini semakin jelas kalau pakai kacamata yang menganggap agama sebagai meme. Meme yang gagal berevolusi punah (Zeus anyone?), dan yang berhasil terus ada.๐Ÿ˜›

    Tapi itu kalau pakai kacamata yang lebih sekular. Kalau kacamata teistik, tetap mirip seperti itu, namun ada pengecualian, yaitu pada agama-agama yang benar-benar hasil wahyu dan bukan produk antropologis.๐Ÿ˜›

    @ ahmad

    Ah, Expelled the Movie-nya Ben Stein, ya?๐Ÿ™‚

    Setahu saya, film itu tidak ada bedanya dengan dokumenter bikinan Harun Yahya. Berisi teori konspirasi dan tuduhan-tuduhan tidak berdasar.

    Bahkan dari kubu teis (terutama Kristen) sendiri mengkritik pedas film ini. Sebaiknya kalau sudah menonton, klarifikasi ulang di internet atau sumber lain.๐Ÿ™‚

    @ lambrtz

    Hehehe, bisa jadi.

    Tapi orangutan katanya sudah mulai bisa berburu dengan senjata, lho.:mrgreen:

    @ Suluh

    Ah, maaf.๐Ÿ™‚ Sudah diperbaiki, terima kasih.๐Ÿ˜›

  35. Jadi teringat kasus penodaan Agama yang sedang marak๐Ÿ™‚ Mungkin sesuai dengan semangat post ini kita bisa menuntut orang-orang yang melakukan tuduhan dan hinaan tak berdasar pada teori evolusi sebagai penoda Agama juga ?๐Ÿ™‚

  36. Pingback: Saya Terdiam « RosenQueen, company.

  37. kungkin buku ini bisa menambah pengetahuan tentang evolusi. buku biology campbell edisi 7, unit 4 dan 5 tentang evolusi. bahasa inggris.

    hp://www.indowebster.com/biology_cambell_7ed_2005_unit_4_dan_5.html

  38. Pingback: John Moore: Science is Not Philosophy « RosenQueen, company.

  39. bla bla bla about earth spins or suns spins

    Just go to the space and see it for yourselves. lol.

    look out below!

    Tentu, tidak semua ilmuwan, filsuf, dan ahli teologi sepakat dengan ajaran Teilhard, namun tidak diragukan lagi bahwa ia adalah orang yang sangat religius. Pandangannya tentang iman dan sains tidaklah sempit seperti yang ada dalam diri kebanyakan orangโ€” keduanya sangat harmonis dalam dada Teilhard.

    But there is no doubt at all that Teilhard was a truly and deeply religious man and that Christianity was the cornerstone of his worldview. Moreover, in his worldview science and faith were not segregated in watertight compartments, as they are with so many people. They were harmoniously fitting parts of his worldview. Teilhard was a creationist, but one who understood that the Creation is realized in this world by means of evolution.

    Which is more longer? Hmm… ‘I see dead people…’

  40. @ DensS cessario

    And your point being…?

    Of course, some scientists, as well as some philosophers and theologians, disagree with some parts of Teilhard’s teachings; the acceptance of his worldview falls short of universal. But there is no doubt at all that Teilhard was a truly and deeply religious man and that Christianity was the cornerstone of his worldview. Moreover, in his worldview science and faith were not segregated in watertight compartments, as they are with so many people. They were harmoniously fitting parts of his worldview. Teilhard was a creationist, but one who understood that the Creation is realized in this world by means of evolution.

    And

    Tentu, tidak semua ilmuwan, filsuf, dan ahli teologi sepakat dengan ajaran Teilhard, namun tidak diragukan lagi bahwa ia adalah orang yang sangat religius. Pandangannya tentang iman dan sains tidaklah sempit seperti yang ada dalam diri kebanyakan orangโ€” keduanya sangat harmonis dalam dada Teilhard.

    Teilhard adalah seorang yang mengimani โ€œPenciptaanโ€, tapi ia adalah satu dari mereka yang menyadari bahwa โ€œPenciptaanโ€ adalah evolusi itu sendiri.

    You speak as if I intentionally change the translations. Thence my question; your point being…?

  41. nvm….

    You speak as if I intentionally change the translations.

    Not that… Really…

    It’s just I just find out that… nevermind… I’m losin my mind right here….

    *lemme think twice for awhile…*

  42. @ oddworld

    Mengkhawatirkan juga kalau itu terjadi.๐Ÿ™‚

    @ Amed

    Hehehe, jadi ingat kasus yang dulu, ya.:mrgreen:

    @ kucingliar

    Ah. Terima kasih.๐Ÿ˜€

    @ DensS cessario

    If you have arguments, state it properly so it can be answered properly.๐Ÿ˜•

  43. Permisi..numpang baca,saya beberapa kali sdh baca (maaf tdk permisi)saya kebetulan ketemu blog ini dari google,banyak tulisan yang menarik, mungkin saya akan beberapa kali berkunjung lagi (kalau boleh :-)) terima kasih sebelumnya

  44. Pingback: Trenyata Adam Tak Diusir dari Surga « Horocuxs

  45. Pingback: Just Try To Be a Blogrammer :: Spore - Game Yang Paling Dinantikan Tahun Ini ? :: June :: 2008

  46. Menarik sekali blognya. Pada dasarnya saya baru yakin dengan teori evolusi setelah kuliah, karena saya yakin Tuhan menciptakan dunia ini dengan Keindahan. Waktu SMA sama sekali ndak paham biologi.

    Bersyukurlah hidup di Indonesia, dimana kita masih bebas berpikir, berpendapat dan berargumen.

    Salam kenal

  47. A you fe give us the teachings of His Majesty,
    A we no want no devil philosophy
    Fighting against ism and skism…

    ..teori evolusi adalah konyol dan sama sekali bukan sains.!
    Tuhan Maha Kuasa…
    Darwin dkk…hanya iri dengan Tuhan…

    -Bless and Shine-

  48. mgkn comment2 yg lainnya sudah lumayan banyak dijawab oleh sora, tapi ada suatu pertanyaan (atau pernyataan?) yang lumayan menarik (walau lagi2 sudah terjawab sora menurut saya):
    “apakah agama berevolusi?”

    maka dengan yakin saya dapat menjawab: IYA

    lihat saja semua ciri2, modus, pesan, dan kultur agama2 yang ada dan yang pernah ada. It’s all been done…

    bagi yg tidak mengerti “meme” yg diutarakan sora, mgkn ada baiknya baca buku richard dawkins “the selfish gene”… seperti biasa om google dan mbah wikipedia bisa memberi cukup banyak info tentangnya…

    nil novum sub soli

    -w-
    (namasaya)[at]yahoo.com

  49. Saya sepakat, banyak variabel dalam penciptaan dan sifatnya akan reduksionistik jika kita abai terhadap faktor- faktor yang turut memformulasi proses penciptaan tadi. Bagaimanapun juga, dari 800 ayat yang sifatnya kauniyah, banyak hal tersembunyi ( implisi) mengenai proses penciptaan itu sendiri.

    Saya paham jika ruang dan waktu memang “diciptakan”, namun, kita sebaiknya memang belajar tekun untuk mengetahui “how to ” dari penciptaan tadi.

    Bukti- bukti di lapisan tanah memang menunjukkan banyak terjadi pergantian peradaban ( itu, mau didefinisikan evolusi juga ?). Dan, nampaknya manusia sekarang terlalu berpuas hati dengan mengatakan bahwa generasi sekarang adalah masa pencapaian tertinggi yang “belum pernah ada “. Saya kok nggak yakin, soalnya, masih banyak hal yang belum kita ketahui soal peradaban- peradaban yang lahir dan hilang secara misterius ( karena belum tahu kenapa maksud saya…)

    Yah, tetap “Iqra” dan belajar akan membuat kita sadar bahwa semesta ruang dan waktu berikut dimensi sangatlah besar, dan kita, kecil.

  50. Ya, teori2 yang dikemukakan oleh para ilmuan evolusi tersebut buat aku jadi pusing….
    yang pasti aku percaya yang satu ini….
    ALLAH SWT lah rab pencipta alam semesta dan seluruh isinya tanpa kecuali…

  51. Klo saya menolak teori evolusi…..
    Bagi yang masih percaya, baca bukunya Harun Yahya yang judulnya ” Runtuhnya Teori Evolusi” klo gak salah bukunya gratis di pakdenono

    Baca dulu klo memang masih percaya teori evolusi za ………

  52. Saya dah liat videonya harun yahya ttg evolusi, tp menurut saya benar2 nggak nyambung antara yg disajikan dgn teori Darwin yang sebenarnya, video tsb terkesan terlalu gegabah dan mengeneralisir dalam menyimpulkan teori Darwin.

    Izin nge-link Ged, buat di fb gw, sayang terjemahan bagus biar disebarluaskan.

  53. Kita gak perlu khawatir dengan teori Evolusinya Darwin atau yang lain. Suatu saat pasti ada yang mengoreksi,jika “salah”, tapi jika benar ya kita percaya saja… gitu aja repot..!

    Sama dengan teori tata surya, dulu C.Ptolomeos mangatakan Bumi ini adalah pusat dari tata surya, belakangan oleh Copernicus ,Galeleo dan Kepler di ralat yang bener adalah: Matahari pusat tata surya dan yang ini dipercayai banyak orang sampai sekarang. Tapi apa tidak mungkin teori ini suatu saat juga salah ?

    Jamam dulu dipercaya Bumi itu bentuknya “gepeng” terus diganti bentuknya “bulat” ee… ternyata teori fisika terbaru sekarang ini mulai meragukan “Jika Bumi ini bentuknya bulat” ya gak ?

    Itulah sebabnya kenapa teks Al Qur’an gak boleh ditulis memakai bahasa selain bahasa Arab..!. karena untuk menjaga keasliannya, lha mengenai tafsirnynya ? itu kan hasil kerja otak..!!! sangat…sangat… dan sangat mungkin salah..!!!

  54. Sudah bosan saya komen di blog atau thread tentang evolusi. Apalagi kalau yang koment mendasarkannya pada buku2 HY. Ketahuilah, bahwa buku2 HY adalah penipuan berkedok kitab suci. Ilmiah dihubung2kan dengan kitab suci. Itu PSEUDOSCIENCE namanya. Dan kalian pada ngikut aja alur pikir dia.

Comments are closed.