Ngéyél

Sudah mengetahui tentang SKB 3 Menteri? Pada intinya, artikel ini menegaskan bahwa sekte Ahmadiyah tidak dibenarkan berkembang di Indonesia. Tidak dibubarkan, memang, hanya tidak dibenarkan berkembang. Bisa dikatakan membunuh perlahan.

Dukungan terhadap sentimen anti-Ahmadiyah sendiri cukup kuat. Alasannya bermacam-macam. Ada yang mengakunya hendak menjaga kemurnian agama sendiri, ada yang menyatakan bahwa kasusnya adalah penodaan agama, dan sebagainya.

Yang jelas, bagaimanapun justifikasinya, hak beragama penganut Ahmadiyah telah dilumpuhkan. Organisasi sekaliber Human Rights Watch (HRW) pun turut prihatin. Ya jelas. Mereka ‘kan bergerak untuk menjamin hak-hak asasi manusia. Yang begini ini, ‘kan, memang pelanggaran hak asasi manusia?😛 Pada dasarnya ‘kan ini penindasan. Cuma diberikan pembenaran yang mentereng.:mrgreen:

Ah, jadi, protes HRW itu bisa dilihat di [sini].

Sebenarnya walau kasus ini sudah dikecam HRW sekalipun, ya saya tetap pesimis. Tebakan saya, respon yang akan datang adalah yang seperti ini;

  1. HRW adalah organisasi barat™. Berbasis di Amerika Serikat pula. Atas dasar tersebut, maka HRW akan dianggap sebagai alat dari Amerika Serikat untuk mengaduk-aduk situasi politis di Indonesia. Kalau sampai mereka bisa melobi pemerintah, maka pemerintah pun dianggap sebagai pengecut karena tunduk pada Amerika dan antek-anteknya™.
  2. Asas HAM yang dipakai HRW berbasis pada pemikiran humanis modern. Tidak berbasis ketimuran™. Jadi aplikasinya hanyalah kebebasan yang kebablasan™.
  3. HRW itu bukan organisasi Islam. Tidak perlu mengurusi urusan internal umat.

Ada yang mau menambahkan? Respon seperti ini gampang ditebak memang.

Kalau menurut saya sih, pada intinya hanya generasi biasa yang membentuk bangsa sombong dan bermental penjajah. Bertingkah seenak udel, dan ngéyél kalau dinasihati. Ngéyél, dan gemar ngêlés.

Kita tidak suka dinasihati dan mengakui ulah kita. Apalagi yang menasihati itu orang yang tidak kita sukai, bukan?🙂

25 thoughts on “Ngéyél

  1. “When the Nazis came for the communists,
    I remained silent;
    I was not a communist.

    “When they locked up the social democrats,
    I remained silent;
    I was not a social democrat.

    “When they came for the trade unionists,
    I did not speak out;
    I was not a trade unionist.

    “When they came for the Jews,
    I remained silent;
    I wasn’t a Jew.

    “When they came for me,
    there was no one left to speak out.”

    — Martin Niemöller

  2. Indonesia enggak ratifikasi protokol ICCPR pertama yang berfungsi mengakomodasi komplain individu ke HRC. Kalau diratifikasi, orang2 Ahmadiyah bisa komplain ke HRC menuntut hak beragama mereka.

    Yaah, pemerintah memang sulit mencari jalan tengah dalam menangani masalah ini.

  3. Catch 22 buat pemerintah; begini salah, begitu salah.

    SKB itu 100 persen konyol, sama dengan SKB sebelumnya yang mengatur masalah tempat ibadah. Saya pun mulai berpikir, mungkin karena memang saya bukan mereka yang anti-Ahmadiyah sehingga saya tidak tahu betapa sakitnya perasaan mereka karena “Islam telah dibajak”.

    Oh, negara ini…

    *sigh*

  4. Tadi pagi di Metro seorang Bupati (Mataram kalo gak salah) mengancam akan mengusir penganut Ahmadiyah.
    Jadi bingung bagian mana dari SKB ini yang menyatakan atau bisa dijadikan pembenaran kalo aksi semacam ini bener terjadi. Apa Bupati ini bisa didakwa sebagai provokator kalo sampai muncul aksi anarkis model gini?

  5. Kalau usulku sih ya nurut usulnya manusia2 bijak itu sajah…
    Menyatakan ahmadiyah sebagai agama baru, biar ndak meresahkan agama yang sudah ada.

    Tapi rasanya agak gimana gitu…
    Bikin agama baru di Indonesia caranya gimana toh?

  6. HRW itu bukan organisasi Islam. Tidak perlu mengurusi urusan internal umat.

    kalau masih mau islam dianggap sebagai agama untuk manusia, silakan diselesaikan secara kemanusiaan.

  7. Saya berpikir, sebenarnya yang kurang dari bangsa ini adalah kemampuan berempati. Kurang mampu membayangkan seandainya SAYA di posisi MEREKA/DIA. Ini juga berpangkal pada sistem pendidikan yang mematikan daya khayal sejak anak-anak.

    Coba bayangkan, jika saya – seorang Muslim yang mengakui Muhammad itu benar utusan Tuhan yang terakhir dikirimkan ke bumi – hidup di suatu negara dengan mayoritas penduduk ahmadiyah, dan tiba-tiba saya dipaksa mengakui Mirza Gulam sebagai nabi, apa yang harus saya lakukan?

    Kesimpulan: Untung (!) saya tinggal di Indonesia…

  8. @ gentole

    Catch 22 memang. Pemerintah juga mesti berkompromi dengan para fundamentalis yang memang punya potensi memicu kekerasan lebih lanjut.

    Saya pun mulai berpikir, mungkin karena memang saya bukan mereka yang anti-Ahmadiyah sehingga saya tidak tahu betapa sakitnya perasaan mereka karena “Islam telah dibajak”.

    Saya pikir inti dari toleransi adalah merelakan sebagian hak-hak minor kita demi hak-hak orang lain yang sifatnya lebih fundamental? “Agama saya dibajak” tentunya tidak sebanding dengan “saya tidak diperbolehkan mengembangkan agama saya” bukan?😕

    @ Shinte Galeshka

    Bupati?😐

    Macam apa pula itu? Apa bupatinya juga seorang bigot? Atau cuma menyenangkan publik (yang bigot) supaya kursinya terjaga?

    Oh, dear, oh dear…😦

    @ ulan

    Lagu apakah? Yang Martin Niemöller itu?

    Itu sajak, kok.🙂

    @ dnial

    Saya juga cenderung berpendapat begitu. Minimal digolongkan sebagai Islam Ahmadiyah.🙂 Namun sepertinya ada yang keberatan Ahmadiyah memakai embel-embel Islam.😕

    Kalau mau pragmatis, sebaiknya tidak usah pakai embel-embel Islam dulu. Esensi didahului oleh eksistensi di atas label, bukan?🙂

    @ danalingga

    Tidak ada yang menang. Semuanya kalah.

    @ watonist

    Lha, kok sependapat?:mrgreen:

    @ ManusiaSuper

    Ya, mas. Alasan saya mendukung Ahmadiyah yang persis sama seperti itu.🙂

    Bayangkan apabila kita, ayah-ibu kita, adik-adik kita, diserbu tempat ibadahnya. Orang-orang yang membela kita babak belur dihantam orang yang memusuhi kita. Nabi kita dihina.😕

    Oleh sebab itulah, saya menolak mentalitas cênténg seperti yang dipraktekkan orang saat ini.

  9. Hidup Pemerintah…!!!😆

    Tapi tumben ManSup berkomentar bijak kali ini ya ? Saya heran lho….

    *lospokus*

    Saya sendiri berpendapat bahwa pemerintah seperti “tersandera” oleh tujuan dan cara yang diultimatumkan oleh para pendukung pemberangusan kebebasan beragama itu. Seharusnya bisa membuat sebuah terobosan dalam pemahaman keberagamaan di negeri ini. Tapi mungkin ini yang tidak akan terjadi lagi dalam sejarah Indonesia ini, seperti perdebatan tentang pasal Piagam Jakarta yang akhirnya hasilnya bernuansa pluralis.

    komentar ini terinspirasi dari [sini]

    Dan yang saya khawatirkan, akan muncul “unsur pemaksaan” dan “unsur kekuasaan” dalam mengartikan SKB itu, apalagi di daerah-daerah. Sementara SKB itu sendiri “banci” karena tidak tegas. Disatu sisi mencoba dan berusaha menghormati kebebasan berkeyakinan tiap orang tapi disisi yang lain menjaga supaya keyakinan itu ‘tidak menyimpang’.

    Sama seperti analogi ‘ekor ditarik tapi kepala diikat’.😐

  10. Yang saya khawatirkan ya, sama seperti tulisan yang di-link itu, membuat para fundamentalis merasa dituruti keinginannya. Hasilnya, mereka bisa lebih leluasa mengkafirkan kanan kiri.😕

  11. Yang jelas, bagaimanapun justifikasinya, hak beragama penganut Ahmadiyah telah dilumpuhkan

    Ini saya setuju.

    Dan bagi saya “memaksa” demikian adalah konyol. 1001 SKB bisa keluar, tapi apakah benar-benar bisa berubah dengan kerelaan sendiri?

    Saya pikir, tidak😐

    Sebuah ide, sebuah keyakinan, tak bisa diberangus dengan otot atau bahkan sejenis Supersemar sekalipun…

    ::::

    We are told to remember the idea, not the man, because a man can fail. He can be caught, he can be killed and forgotten, but 400 years later, an idea can still change the world. I’ve witnessed first hand the power of ideas, I’ve seen people kill in the name of them, and die defending them… but you cannot kiss an idea, cannot touch it, or hold it… ideas do not bleed, they do not feel pain, they do not love.
    [V for Vendetta]

  12. Yap. Yang dilakukan sekarang adalah menindas dengan seribu satu alasan. Memberangus orang karena paranoid, kalau-kalau ajarannya akan merusak ajaran kita.

    Ini tidak bisa dibantah.🙂

    Mirip-mirip dengan invasi Amerika Serikat ke timur tengah. Menindas karena paranoid, kalau-kalau ada WMD di sana.😆

    Tidak ada bedanya, euy.😛

  13. @ GoldFriend

    tumben ManSup berkomentar bijak kali ini ya ? Saya heran lho….😆

    MAKSOETT LOOEEE??? Selama ini saya komentar seperti apa memangnya? ha? ha? ha?

    Saya ini bijak kok! Bacaan saya kitab suci paling aseli! Rumah ibadah saya yang paling kenceng spikernya! Pemuka agama saya yang bajunya nyeret-nyeret di lantai paling panjang!

    Mau apa? ha? ha? ha?

    *dihajar Front Pembela Ferry Tobing*

  14. “When the Nazis came for the communists,

    Invoking Godwin’s Law in first comment?O_o

    Menurut saya, buru saja semua penganut ahmadiyah dan masukkan mereka ke Kamar 101 kamp konsentrasi rehabilitasi, biar mereka punya alibi untuk minta suaka politik ke negara lain.

  15. @ ManusiaSuper

    Sabar, masbro. Mungkin maksudnya, lebih bijak dari biasanya.😛

    @ Catshade

    Invoking Godwin’s Law in first comment?O_o

    He, betul juga.😯 *ga nyadar*

    Suaka politik? Wah, kok kayaknya semakin panjang, ya?😆

  16. Ya harap maklum.. Rakyat kan pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini, pemerintah itu cuma formalitas saja.. Kalau rakyat mau gini, ya pemerintah harus gini, ndak boleh gitu..

    Masalahnya adalah “rakyat” yang dimaksud itu adalah rakyat yang superior, yang punya massa paling banyak dan paling punya nyali buat mentung..

  17. Saya pikir inti dari toleransi adalah merelakan sebagian hak-hak minor kita demi hak-hak orang lain yang sifatnya lebih fundamental?

    Hmmm…begitu? Apa yang minor dan apa yang fundamental? Ini bisa jadi masalah lagi, menurutku. Saya lebih memilih win-win. Saya sih lebih suka “You scratch my back, I’ll scratch yours.” Dan, tentunya, filosofi “do not do unto others…” itu juga.

    “Agama saya dibajak” tentunya tidak sebanding dengan “saya tidak diperbolehkan mengembangkan agama saya” bukan?

    Kalo buat FPI sih sebanding.😀 Yah, ini sih klise, tapi pendidikan dan pertumbuhan ekonomi yang adil saya kira bisa menyelesaikan persoalan ini. And it takes time, of course.

  18. Hmmm…begitu? Apa yang minor dan apa yang fundamental? Ini bisa jadi masalah lagi, menurutku. Saya lebih memilih win-win. Saya sih lebih suka “You scratch my back, I’ll scratch yours.” Dan, tentunya, filosofi “do not do unto others…” itu juga.

    Ah, ya. Saya juga sependapat. Bagaimanapun, saya kira pada beberapa persoalan, kepentingan kedua pihak akan bertubrukan. Misalnya perkara “kami adalah Islam”-nya Ahmadiyah dan “jangan nodai agama kami”-nya Sunni. Tentunya dengan mengambil jalan tengah, maka mesti ada yang direlakan. Dalam perkara ini, mungkin keinginan Islam Sunni untuk menjadi the one and only.😕

    “Do not do unto others” itu saya rasa yang fundamental.🙂

    Kalo buat FPI sih sebanding.😀

    Saya juga bingung. Sebaiknya diapakan? Adakah win-win solution?

    Yah, ini sih klise, tapi pendidikan dan pertumbuhan ekonomi yang adil saya kira bisa menyelesaikan persoalan ini. And it takes time, of course.

    Sepakat.😛

  19. Pingback: Bloggers’ reaction to SKB Ahmadiyah « Shariah @ National Law

Comments are closed.