Hidayatullah.com Mengadu Domba Umat?

Berita ini saya tahunya dari Gunawan, yang siang ini menghubungi saya sembari tertawa miris. Perkaranya adalah Harun Yahya, seorang penulis tentang teori penciptaan versi Islam yang dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.

Walau saya sendiri sebenarnya tidak terlalu ambil pusing dengan berita ini (toh ini bukan kali pertama beliau masuk hotel prodeo), yang membuat saya (dan Gunawan) terperanjat adalah ketika berita tersebut dimuat di situs Hidayatullah.com.

Berita tersebut bisa dilihat di [sini].

Jangan langsung mempercayai berita yang tertulis di situ!

Saya tidak tahu apakah ini disengajakan atau murni kekhilafan pengurus Hidayatullah, tapi yang tertulis di situ jelas bias, penuh fallacy, didasarkan atas bulverisme, tidak profesional, dan banyak dipenuhi berita-berita salah kaprah.

Perhatikan, di berita versi Hidayatullah tertulis;

Penindasan terhadap para ilmuwan dan intelektual yang berani mengungkap kekeliruan ilmiah teori evolusi Darwin, dan berbagai sisi gelap teori itu tidak hanya berlaku di Amerika Serikat. Untuk kesekian kalinya, Adnan Oktar, dengan nama pena Harun Yahya, diganjar pengadilan Turki 3 tahun penjara, lantaran mengemukakan kebenaran bahwa teori evolusi Darwin tidaklah ilmiah.

Apa sebenarnya maksud Hidayatullah? Menggiring umat supaya membenci pemerintahan Turki? Hanya dalam paragraf pembuka saja sudah ada dua tuduhan tidak berdasar dan informasi palsu yang tertulis.

Pertama, menurut sumber-sumber internasional (yang jelas mutu jurnalismenya ada di atas Hidayatullah), Harun Yahya tidak dijatuhi hukuman karena pandangannya atas teori evolusi. Yang dipermasalahkan adalah tindak-tanduk organisasi binaannya yang memang seringkali dikaitkan dengan cult thinking, surat kaleng, dan sumber dana yang tidak jelas. Hidayatullah, sebaliknya, mengklaim bahwa beliau dimasukkan ke dalam bui karena ‘meruntuhkan teori evolusi’. Ini jelas merupakan fitnah, yang menempatkan pemerintahan Turki sebagai penindas intelektual. Padahal, melihat agenda Uni Eropa Turki, mustahil mereka mau mengekang kebebasan pendapat seperti ini.

Sekali lagi, apa maksud Hidayatullah? Apa untuk menggambarkan Harun Yahya sebagai martir yang dipenjara karena diskriminasi agama?

Kedua, perhatikan kalimat; “Penindasan terhadap para ilmuwan dan intelektual yang berani mengungkap kekeliruan ilmiah teori evolusi Darwin, dan berbagai sisi gelap teori itu tidak hanya berlaku di Amerika Serikat“. Ini menggelikan, sebab justru di Amerika Serikat, yang mengajarkan teori evolusi justru ditindas dan diintimidasi oleh pendukung teori penciptaan. Keluhan para guru yang terbuang ini didokumentasikan, dan bisa disaksikan, dalam salah satu cuplikan program The Root of All Evil? keluaran tahun 2006 di [sini] dan di [sini].๐Ÿ™‚

Siapa menindas siapa?๐Ÿ˜‰

Berita selanjutnya dari Hidayatullah terus berkembang dari asumsi-asumsi seperti di atas;

Lebih dari itu, tindakan penyusupan agen rahasia Freemasonry pun dilakukan demi membungkam kegiatan Harun Yahya.

Bisa ditebak, media massa pro evolusi memanfaatkan peristiwa ini untuk melakukan pembunuhan karakter Harun Yahya untuk kesekian kalinya dengan berbagai tuduhan negatif, tak terkecuali situs rujukan seperti wikipedia.

Kenapa penuh dengan teori konspirasi dan fitnah-fitnah bombastis? Pertama, lagi-lagi Freemasonry. Kalau memang rahasia, kenapa media sekecil Hidayatullah bisa mengetahuinya? Hebat betul. Dilanjutkan pula dengan memfitnah media massa dan Wikipedia, yang katanya bersekongkol menjatuhkan nama Harun Yahya. Ada bukti tidak?

Dan seterusnya, jika artikel tersebut dibaca, yang didapat adalah kesimpulan sebagai berikut;

Harun Yahya dengan gagah berani, seperti seorang martir, membongkar kebohongan konspirasi internasional. Namun sialnya, kemudian dunia bersekongkol memenjarakan beliau.

Membesar-besarkan kasus sederhana yang sebenarnya hanyalah;

Harun Yahya, terlepas dari apakah hipotesis-hipotesis dalam buku-bukunya itu salah atau benar, dihukum penjara karena suatu tindakan kriminal (yang tidak ada hubungannya dengan ajarannya). Gagasan-gagasannya sendiri, sampai saat ini belum bisa diterima oleh kalangan sains. Lagi-lagi, terlepas dari apakah benar atau tidak.

See? Tidak perlu mendemonisasi siapa-siapa.๐Ÿ™‚

Yang patut dipertanyakan adalah, sekali lagi untuk kesekian kali, apa maksud Hidayatullah? Analogi kasus ini seperti ini;

Seorang ustadz dipenjarakan akibat mencuri sepeda motor. Kemudian yang muncul di surat kabar adalah bahwa beliau dipenjarakan karena beliau adalah seorang ustadz. Jelas bersifat adu domba.

Hidayatullah? Halo? Bisa diperbaiki beritanya?

Kalau tidak, mungkin belum pantas menyandang nama “Hidayatullah”.๐Ÿ˜‰

421 thoughts on “Hidayatullah.com Mengadu Domba Umat?

  1. Komplit, masbro. Komplit.๐Ÿ˜€

    Hidayatullah boleh saja anti teori evolusi, melihat dengan banyak artikel yang mengarah ke arah itu. Tapi soal memelintir berita, ini malah memperburuk citranya sebagai media online.๐Ÿ˜€

  2. @ Rudolf Gunawan

    Yup. Sejauh yang saya baca, artikel di Hidayatullah banyak yang seperti ini; tidak memenuhi standar jurnalisme, setidaknya kalau dibandingkan dengan media yang lebih mapan. Isinya terlalu tendensius, berbau teori konspirasi, tidak seperti media profesional.๐Ÿ™‚

    Memelintir realita, jelas tabu dalam berberita.๐Ÿ˜‰

    @ herman saksono

    Setubuh, juragan.๐Ÿ˜€

  3. Ya semoga tidak banyak yang seperti itu.๐Ÿ™‚ Yang saya takutkan adalah digiringnya opini publik. Gimmick politik “kaum tertindas” ini ‘kan ampuh sekali.๐Ÿ˜€

  4. Kalau tidak, mungkin belum pantas menyandang nama โ€œHidayatullahโ€.

    Ini bukannya jatah nabi bro?

  5. Yup. Yang dikhawatirkan adalah orang yang membaca berita tersebut, tidak mengecek kebenarannya, tempel selebarannya di sepenjuru masjid, dan semakin memperburuk tendensi untuk berprasangka buruk di masyarakat.

    Ini bukannya jatah nabi bro?

    Wah ndak tahu, masbro. Toh itu media bernama Hidayatullah?๐Ÿ˜•

  6. Ah, kenapa saya selalu ketinggalan berita! Hidayatullah itu bukan lembaga pers, Mas Geddoe, tapi lembaga dakwah. Komitmen mereka bukan kepada kebenaran dan publik, tapi Allah dan “orang-orang yang beriman”. Itu sebabnya, mereka bisa berbohong, karena mereka memang tidak berpihak pada kebenaran, tapi kepada Allah.๐Ÿ˜€

  7. Owalah, baru aja saya juga ikutan posting, ternyata udah ada pembahasannya di sini… *geleng-geleng*

    Dan setuju dengan Dana, kelihatannya bakal banyak Front Pembela Harun Yahya yang akan begitu terinspirasi membaca berita tersebut. Di inbox saya ada tiga e-mail serupa yang sudah co-pas dari berita di Hidayatullah.com ituh.:mrgreen:

  8. mungkin beritanya akan lain seandeinya si Adnan Oktar aliyas Harun Yahya itu ndak seagama sama hidayatullahdotcom *ini fallacy bukan sih?๐Ÿ˜€ *

  9. @ Kopral Geddoe

    Gimmick politik โ€œkaum tertindasโ€ ini โ€˜kan ampuh sekali.๐Ÿ˜€

    Lha, iya. Bahkan bisa mengantar dua orang (yang tadinya biasa-biasa saja) ke kursi RI-1.๐Ÿ˜›

  10. Tambahan kenapa teori konspirasi Hidayatullah menjadi lebih sulit diterima:
    1. Partai yang berkuasa di Turki sekarang itu berideologi Islam, jadi buat apa mereka menangkap Harun Yahya karena dia mendukung teori kreatonisme
    2. Masyarakat Turki banyak yang Islam dan mendukung teori kreatonisme, tapi enggak ada berita kalau ada demo disana (AFAIK)

    Tapi zaman sekarang informasi apapun mesti diperiksa dahulu.

    Btw, Turki masuk EU atau enggak benar2 pertanyaan politis. Selama masalah Siprus masih ada, rasanya enggak mungkin.

  11. [teori konspirasi]

    1. Karena diam-diam isi partai itu sudah digerogoti penganut Freemasonry dan Kabbalah, jadi bisa melobi.
    2. Pastinya ramai, tapi berita sudah dimanipulasi oleh Reuters, BBC, CNN, ABC, FOX, dan sebagainya.

    [/teori konspirasi]
    ๐Ÿ˜†

  12. @ Kopral Geddoe

    Siapa itu? Sebut nama, dong.๐Ÿ˜›

    No. It’ll be just too… blasphemlicious… to do that.๐Ÿ˜›

    @ Nenda Fadhilah

    1. Intervensi Zionis

    2. Zionis memanipulasi pers dan media

    [/sarcasm]

    As if…๐Ÿ˜†

  13. Honestly, saya melihat Hidayatullah itu 15-20 sama Sabili. Tendensius, emosional, terlalu berpaku pada dogma “You’re wrong… You’re wrong… You’re wrong… THEREFORE YOU ARE WRONG!”๐Ÿ˜†

    Ah, ini kan sudah awak duga dari sejak si Adnan Oktar (yg ngerasa cuma dia berhak punya nama Harun Yahya + Adnan Oktar itu) ditendang ke penjara, Ged:mrgreen:

    @ sora9n

    Lha, iya. Bahkan bisa mengantar dua orang (yang tadinya biasa-biasa saja) ke kursi RI-1.๐Ÿ˜›

    ๐Ÿ˜†

    Kasus Tuan Susilo Bambang Yudhoyono waktu diblow-up tertindas oleh Megawati itu? Efektif toh ngantar dia karena rasa “simpati.. kasian tertindas…”๐Ÿ˜†

    sekarang dia yg nindas. syalan!

    *sebut nama terus*:mrgreen:

  14. Apa maksud Hidayatullah dengan semua tulisannya itu…?

    Dari dulu juga alasannya sama. Klasik. Untuk memisahkan antara yang haq dan yang batil. Memperjelas antara yang benar dan sesat. Amar ma’ruf nahi mungkar . Bukan begitu Prall…?:mrgreen:

    “sepertinya jauh lebih sulit mengingkari fakta ilmiah sains daripada mengimani doktrin agama”
    *ini berlaku bagi orang sesat lho… :lol:*

    “Adalah sebuah kewajiban untuk mengimani semua doktrin agama dan menafikan semua hal yang tidak selaras termasuk itu nalar dan rasio. Alasannya sudah jelas.landasan iman itu hati bukan akal ”
    *ini berlaku bagi mereka yg ingin beriman secara kapah.๐Ÿ˜€ *

    silahkan saja pilih mau jadi orang sesat atau beriman.๐Ÿ˜†

  15. KONSPIRASI … KONSPIRASI …

    nah itu pasti pemerentah Turki berkonspirasi memenjarakan harus yahya agar umat indonesia (?) terpecah belah…

  16. @ alexยฎ

    Memang sudah diduga.๐Ÿ™‚

    Wah, dengan brutal menyebut ‘nama-nama terlarang’…๐Ÿ˜†

    @ Ambrose

    Ya, itu dia. Kalau memang diimani dengan hati, gunakanlah hati. Tidak perlu membuat sains-sains palsu.๐Ÿ˜€

    Tapi itu rasanya tidak berhubungan dengan entry ini, deh.๐Ÿ™‚

    @ k0meng

    Jangan nyampah, lho, mas/mbak.๐Ÿ˜›

    @ NdaruAlqaz
    ๐Ÿ˜†

  17. Sebentar, sebentar… Itu judulnya kayaknya salah deh Ged. Bukannya mengadu-domba, Hidayatullah.com justru berusaha agar umat Islam bersatu padu melawan zionisme dan kaum ateis kafir pemuja evolusi. Ingat, sekali-kali mereka tidak akan senang sebelum engkau mengikuti agama mereka๐Ÿ˜€

    Btw, ada yang mau ambil domain laknatullah.com gak? Keren tuh buat bikin wadehel-style full-scale attack on religious idiotism extremism๐Ÿ™„

  18. @ Catshade

    Oh ya! Media sejenis itu memanglah tukang bikin bersatu-padu. Tak pernah kenal lelah mereka itu bikin isu-isu yang membuat kepaduan umat.๐Ÿ˜†

    Ya, sebenarnya media massa jadi corong utk persatuan dan kesatuan tidak masalah. Selama beritanya ndak mlintir dengan bablas begitu. Tapi kalo persatuan dan kesatuannya itu malah menciptakan benturan yg merusak tatanan yang lebih besar, ya itu yang susahnya.

    Masalah lawan-melawan sih ndak apa-apa itu. Sudah jamak dalam sejarah dunia kalo pertentangan selalu ada. Well, saya sendiri dalam skala kecil, anti-zionisme:mrgreen:

    Tapi kalo ngutip gaya ngomong SBY, “Kita… harussh… berusaha… untukh balance dalam menchermati dan bertindhak dengan eleghan dan inthelektuil…”

    *komentar OOT ra mutu*๐Ÿ˜†

  19. @ Catshade

    Btw, ada yang mau ambil domain laknatullah.com gak? Keren tuh buat bikin wadehel-style full-scale attack on religious idiotism extremism๐Ÿ™„

    Yup, lengkap dengan full-scale sumpah-serapah, ancaman neraka, dan juga resiko disalahpahaminya segala.๐Ÿ˜›

    *dari namanya aja udah ‘menjurus’*๐Ÿ˜†

  20. @ Catshade

    Sebentar, sebentarโ€ฆ Itu judulnya kayaknya salah deh Ged. Bukannya mengadu-domba, Hidayatullah.com justru berusaha agar umat Islam bersatu padu melawan zionisme dan kaum ateis kafir pemuja evolusi.

    Sepertinya musuh memang selalu diperlukan untuk membangun persatuan seperti ini?๐Ÿ˜› Kalau kebetulan musuhnya tidak ada, dapat dibuat sesuai selera.๐Ÿ˜›

    Ingat, sekali-kali mereka tidak akan senang sebelum engkau mengikuti agama mereka๐Ÿ˜€

    Setuju. Entah kenapa aforisme yang satu itu cuma berjalan satu arah.:mrgreen:

    Btw, ada yang mau ambil domain laknatullah.com gak? Keren tuh buat bikin wadehel-style full-scale attack on religious idiotism extremism๐Ÿ™„

    Curiously, http://laknatullah.wordpress.com/ existed at some point.๐Ÿ˜›

    @ alexยฎ

    Lalu kapan tho media seperti itu itu dibredel?๐Ÿ˜•

    @ sora9n

    Hohoho! Saya sendiri sudah tidak terlalu tertarik menyatir.๐Ÿ™‚

    @ Rudolf Gunawan

  21. Begitulah indonesia,,
    orangnya suka mengadu domba dan mudah percaya,๐Ÿ˜€
    dan kalo udah percaya, marah, lalu anarkis,

    Parahnya sampai2 guru agamaku cerita kalau Harun Yahya dipenjara gara2 menentang teori evolusi tersebut๐Ÿ˜€

  22. dari awal saya gak sreg sama hidayatullah, baik itu versi online maupun versi cetak, ya karena isinya seperti begini ini… udah gitu umat kita sndiri masih jauh dari kata ‘kritis’, suka banget menelan mentah2 informasi yang diterima, ujung2nya gampang banget di adu domba, ditipu dsb..

  23. @ inovsiji

    Wah, sampai segitunya kah?๐Ÿ˜•

    @ sandynata

    Yup, dari dulu saya juga sedikit skeptis dengan media seperti Hidayatullah, Sabili, dan kawan-kawannya. Seperti yang dikatakan masbro Inovsiji di atas, informasi itu, salah satu contohnya, telah ditelan mentah-mentah oleh seorang guru yang menyebarkannya ke murid-muridnya. Ini ‘kan berbahaya.๐Ÿ˜•

  24. btw, memlintir berita itu ada seninya loh. setiap wartawan, setidaknya sekali dalam karir mereka, pasti pernah memlintir berita. alasannya; satu, wartawan diharuskan untuk melaporkan berita, padahal berita tidak harus selalu ada. jadi, kadang-kadang, yah, mereka ‘membuat” berita. kedua, berita itu pada dasarnya ada dalam sebuah konteks; berita itu gak cuma harus “benar-benar terjadi” dan “aktual”, ia juga harus “meaningful”. itu sebabnya, gak semua pristiwa jadi berita. dalam upaya pemberian makna inilah, proses pemlintiran itu terjadi. tentu setiap wartawan, penulis dan media masa punya level keahlian yang berbeda-beda dalam “memlintir” berita. ada yang sangat amatir, seperti Hidayatullah dan Sabili, dan ada yang sangat lihai, seperti IHT, NYT, Reuters, AP, dan, yah, mungkin Kompas.

  25. Lihat komen gentole ini, saya jadi inget sebuah pernyataan dalam komik kunimitsu:

    Bahwa wartawan bersikap netral itu omong kosong. Yang ada adalah wartawan yang telah menentukan keberpihakannya, lalu menulis dari sudut pandang tersebut

    Begitu kira kira sabdanya. Kalo ingin lihat lebih menyeluruh, maka belilah komiknya. *malah promosi*


  26. AYO LAH KITA MERAMEKAN KOMUNITAS “Axxyc.com”

    (Komunitas Indo, ngak perlu register)

  27. @mas dana
    iyah, kutipan itu saya kira benar. istilah netralitas itu problematis, bukan hanya bagi wartawan sebenarnya, tapi ilmuwan juga, bukan begitu mas sora? *nyari masalah*๐Ÿ˜€

    menurut saya yang menjadi persoalan adalah kekhawatiran mas geddoe bahwa arah dari pemberitaan ini adalah sesuatu yang tidak baik, misalnya untuk mengadu domba, memfitnah, memprovokasi, memukul genderang jihad. hal itu mungkin saja, tentu, karena entah kenapa kita berasumsi bahwa mayoritas umat islam, teutama yang membaca Hidayatullah, adalah “uncritical readers”.

    pertanyaannya, seperti yang saya tanyakan di blog mas gunawan, apakah koran lokal, seperti republika, menulis berita itu? kalo ada, kan ada perbandingannya. sulit bagi pembaca berita untuk memverifikasi kebenaran, tetapi mereka bisa membandingkan laporan yang sama dari media-media yang berbeda. kompas, the jakarta post dan tempo, sepertinya tidak menulis berita itu. harun yahya kayaknya udah gak “news worthy” buat media-media itu.

  28. Segala sesuatu yang menyangkut teori evolusi ini rasanya selalu berbuntut panjang…
    Apalagi kalau ditambah bumbu-bumbu lain, seperti SARA dan teori konspirasi.

    *Sedih*

  29. @ gentole

    btw, memlintir berita itu ada seninya loh.

    Jangankan memelintir. Lha memotong berita aja ada seninya kok.๐Ÿ˜€

    istilah netralitas itu problematis, bukan hanya bagi wartawan sebenarnya, tapi ilmuwan juga, bukan begitu mas sora? *nyari masalah*๐Ÿ˜€

    Kok jadi saya? ^^;

    Yaah, segala sesuatu adalah netral; tinggal terserah orangnya saja bagaimana mau menyemangati hal tersebut. Kalo terlalu bersemangat, jadinya nggak netral lagi.:mrgreen:

    Terlalu bersemangat sama agama bikin gak netral dan merendahkan evolusi; terlalu bersemangat sama sains bikin gak netral dan merendahkan agama… dan terlalu bersemangat sama sensasi bikin gak netral dan merugikan kualitas berita aslinya. Utamanya dalam kasus HY ini.๐Ÿ˜€

  30. Pingback: Teori Konspirasi? « OMG! Opinions - Uncensored

  31. @ gentole (1)

    Yup. Mengenyampingkan masalah ‘bikin-bikin berita’, memang berita tidak selalu murni berisikan informasi; ada selipan opini yang seringkali muncul di situ. Kalau menurut saya, profesionalisme salah satunya datang dari sini, bagaimana membuatnya se-informasi mungkin. Bayarannya, berita bisa terdengar datar. Bagaimana bisa meramu berita yang enak dibaca tanpa menyelipkan opini, itulah yang susah dipelajari.๐Ÿ™‚

    @ dana

    Komik apa itu tho? Kok saya belum pernah baca.๐Ÿ˜•

    @ indocoolz

    Hush, hush.๐Ÿ˜

    @ gentole (2)

    menurut saya yang menjadi persoalan adalah kekhawatiran mas geddoe bahwa arah dari pemberitaan ini adalah sesuatu yang tidak baik, misalnya untuk mengadu domba, memfitnah, memprovokasi, memukul genderang jihad.

    Ya, memang maksud saya seperti itu.๐Ÿ™‚

    hal itu mungkin saja, tentu, karena entah kenapa kita berasumsi bahwa mayoritas umat islam, teutama yang membaca Hidayatullah, adalah โ€œuncritical readersโ€.

    Hmm? Saya kira seandainya pembaca Hidayatullah itu “critical readers” sekalipun, kritik seperti ini tetap sah…๐Ÿ˜€

    Saya sendiri pernah memiliki beberapa teman yang mempergunjingkan gereja-gereja Indonesia dan “misi evangelisme di Aceh” beberapa tahun yang lalu, gara-gara informasi yang didapatkan dari Sabili dan kawan-kawan. Saya masih ingat rasa tidak enak yang luar biasa dengan teman-teman Kristen saya (yang tampaknya lumayan terperanjat) sewaktu itu.๐Ÿ˜•

    pertanyaannya, seperti yang saya tanyakan di blog mas gunawan, apakah koran lokal, seperti republika, menulis berita itu? kalo ada, kan ada perbandingannya. sulit bagi pembaca berita untuk memverifikasi kebenaran, tetapi mereka bisa membandingkan laporan yang sama dari media-media yang berbeda. kompas, the jakarta post dan tempo, sepertinya tidak menulis berita itu. harun yahya kayaknya udah gak โ€œnews worthyโ€ buat media-media itu.

    Saya juga menunggu adanya pembahasan seperti itu.๐Ÿ™‚ Tidak newsworthy? Saya tidak tahu juga apa kriteria yang dilakukan pers Indonesia, tapi menurut pengamatan saya dan beberapa teman, pengaruh beliau di Indonesia memang menyurut beberapa tahun belakangan. Mungkin berhubungan?

    @ ardianto

    Hohoho. Herannya, teori-teori lain seperti teori heliosentris, rasanya penolakannya tidak seramai ini, ya?๐Ÿ™‚

    @ sayasukanontonkeributan

    WP sekarang mungkin tidak sesensitif dulu, mas.:mrgreen:

    @ sora9n

    Setubuh.๐Ÿ™‚

  32. Pemberitaan di reuters memang tidak ada menyebutkan bahwa Adnan Oktar ditangkap karena menentang teori evolusi. Jadi mengenai pemberitaan Hidayatullah tersebut seharusnya media teresebut merujuk dimana dia mendapatkan berita itu..? apakah dari reuters atau sumber lain….?. Seharusnya artikel tersebut bukan masuk kategori berita, tetapi opini.

  33. Biasa, trefik… trefik…:mrgreen:

    Harun Yahya menyebut pemenjaraan dirinya diibaratkan kasus Nabi Yusuf AS.

    Ini sih beda konteks. Nabi Yusuf (AFAIK) dipenjara karena sang putri merasa dihina oleh beliau. Lagipula dia seorang nabi, bukan seorang HY. Seharusnya Hidayatullah paham hal ini.

    Btw, ada yang mau ambil domain laknatullah.com gak? Keren tuh buat bikin wadehel-style full-scale attack on religious idiotism extremism๐Ÿ™„

    *siap-siap akuisisi*

    Curiously, http://laknatullah.wordpress.com/ existed at some point.๐Ÿ˜›

    Siyal.๐Ÿ˜

  34. astaga ged….udah lama banget ga maen kesini. tyt masih idup lo ???!!!
    *jerit histeris seorang fans*

    entah kenapa media kayak gini disenengi banget sama kaum ibu-ibu, bapak-bapak, dijual bebas di stasiun dan lapak2 dan rumah sakit, AARRGGHHH !!!

    bahkan keluarga gw pun sempet percaya dengan isi-isi berita majalah kayak ginian. kl gw lagi di masjid kampus dan ada pembagian majalah kayak gini, sebisa mungkin gw filter biar infonya ga asal nyampe sama orang rumah.

    tp tyt ga semudah yg dikira. entah knp, mungkin nama2 islami (hidayatullah, suara qurani, dll) itu membuat persepsi pembaca berubah, memandang kredibilitas dr nama majalah.
    coba kl kompas yg memuat, malah dituduh yg engga2. bukannya dulu kompas sempet kena issu miring berkaitan dg agama???

  35. @ restlessangel

    Saya juga miris, mbak. Kayaknya kok majalah semacam ini ndak mencerminkan umat yang toleran, gitu. Banyak prasangka. Kenapa bisa laris begitu, ya? Apa karena tidak adanya alternatif bacaan ‘Islami’ yang tidak bersumber dari redaksi yang agak bigoted?๐Ÿ™‚

  36. sekalinya ada bacaan islami, ketika saya baca, walah, tyt kapitalisme dibalut dg baju agama. see, majalah2 perempuan islmai macam noor etc. buseettt ga beda dg femina dkk. menempatkan perempuan sbg alat/obyek iklan. teuteup aja.

    sebeanrnya ada majalah2 islami bagus, tp entah msh beredar ato enggak. duluuu, pas saya smp, bapak sempet beli majalah2 internal ttg kajian tasawwuf. adeeem banget. tp kayaknya skrg ga ketemu lg.

    iya nih, kenapa yg gituan laris ya ?? jgn2, bawah sadar, yg demen sama majalah gituan, merasa cocok dan dianggap menyuarakan isi hatinya…..

  37. @Sora9n

    Jangankan memelintir. Lha memotong berita aja ada seninya kok.

    Memotong berita itu bagian dari seni memlintir.๐Ÿ˜€

    Bagaimana bisa meramu berita yang enak dibaca tanpa menyelipkan opini, itulah yang susah dipelajari.

    Kalo dibaca pelan-pelan, semua berita pasti ada opininya. Menentukan kalimat pertama dalam berita [disebut ‘lead’] saja itu sudah sebentuk opini. Belum lagi masalah pilihan kata. Penggunaan istilah-istilah seperti, misalnya, “hardliners”, “moderate”, “fundamentalist”, “rebel”, “fighters”, “survivors”, victims” atau kata benda yang berfungsi sebagai kata sifat itu pasti “opiniated”, karena sangat tergantung dari, meminjam istilah filsuf hermeneutik Gadamer, “historical horizon” atau wawasan si penulis/wartawan. Kesan pembaca pada satu berita yang sama gak harus sama, kan?

    Masalahnya ada di kadar opini itu, seberapa jauh opini si wartawan itu mendistorsi realitas. Tapi, menurut saya, jangan pernah berpikir bahwa apa yang ditulis di koran itu benar-benar berkorespondensi dengan realitas atau “peristiwa”, apalagi bila sang wartawan sudah menawarkan penjelasan lewat sebuah “narasi yang utuh”. Lumpur Lapindo, misalnya, pertanyaan mengapanya itu rentan pemlintiran.

    Mungkin berhubungan?

    Kayaknya iya.

    Apa karena tidak adanya alternatif bacaan โ€˜Islamiโ€™ yang tidak bersumber dari redaksi yang agak bigoted?

    ADA. Namanya majalah Madina. Majalah ini diterbitin Yayasan Paramadina. Pimrednya Ade Armando. Majalah ini baru terbit beberapa edisi saja. Lumayanlah. Majalah Ummat atau Panjimas udah gak ada, gak jelas rimbanya. Nah, majalah ini cukup melegakan. Gak maksud iklan yah, cuma mau menginformasikan saja.

  38. @ restlessangel

    Ya mungkin karena materi filosofis, seperti halnya agama, tidak pas untuk dikaji secara berkala dalam bentuk majalah. Kalau cuma menggemakan kasih sayang, misalnya, ya isi majalahnya jadi itu-itu melulu.๐Ÿ˜›

    Makanya dikasih bumbu… Kekerasan, tribalisme, atau teori konspirasi, supaya laku.:mrgreen:

  39. @ gentole

    Madina, ya? Saya belum pernah baca.๐Ÿ˜›

    Tapi penerbitnya itu mungkin sudah dibleklis? Secara sangat dekat dengan kajian yang lebih tidak tradisional?:mrgreen:

    Ya semoga majalah seperti itu lebih banyak.๐Ÿ™‚

  40. @Kopral
    Sori. Baru aja googling. Pimrednya Farid Gaban, bukan Ade Armando. Emang baru dikit, kan terbitnya baru awal tahun ini.

  41. @Joe

    Perangnya ada di Myquran tuh bro. Lumayan seru. Banyak betbaran kata-kata kera dan monyet.๐Ÿ˜†

  42. wah wah saya baru baca nih
    melihat komen Mas Dana soal komiknya, kayaknya Netralitas itu memang selalu problematis tetapi saya rasa bisa saja kan ada๐Ÿ™‚
    Salam aja ah

  43. bukan cuma ttg anti-evolusi Darwin.
    tapi juga ttg meragukan kebenaran holocaust…

    bingung juga dg teori konspirasi.

    [promosi mode]
    jadi inget lagu-lagunya Muse di album “Black Holes and Revelations”:mrgreen:
    [/promosi mode]

    tapi, Hidayatullah memang pemberitaannya dari dulu ada yang kayaknya salah.

  44. Halo broer, yang sampeyan bahas ini isi hidayatullah apa teori darwinnya. Menurut gue justru judul posting ini yang ngawur.

  45. restlessangel,
    …sebeanrnya ada majalah2 islami bagus, tp entah msh beredar ato enggak.

    ada nih, namanya lagziz, majalah yang didapat dari kita menjadi donatur lagziz, terbitnya bulanan, isinya cukup baik, menenangkan, jarang sekali ada ‘gosip murahan’, lebih mendidik dan memberi contoh..

  46. @Joe

    Weleh, mo ngebukin toh.๐Ÿ˜›

    Saya kasihan apa pemilik blog jika dilink ke sini. Wong logikanya banyak yang pada macet.

  47. @ ant

    lha, antum itu sebenernya baca isi tulisan di sini ndak? kok masing bingung nanyain postingan ini mbahas apa? dibaca dululah, oom. baru kemudian ngaku bingung…

    *eh, padahal harusnya kalo udah baca ga perlu bingung lagi ya*

  48. Majalah Medina juga bermasalah.
    Terlampir adalah posting saya di milis ISNET :

    from : Harry Sufehmi
    to mus-lim@milis.isnet.org
    date Fri, May 2, 2008 at 12:51 PM
    subject Re: [Mus-lim] Fw: Preman berjubah, Pemerintah dan Ahmadiyah

    2008/5/2 Ummu Fatima
    > —– Original Message —–
    > From: adenina@cbn.net.id
    > Sent: Thursday, May 01, 2008 8:05 PM
    > Subject: [sd-islam] Preman berjubah, Pemerintah dan Ahmadiyah
    >
    >
    > Sekadar berbagi, tulisan saya mengenai Ahmadiyah.
    >
    > ade armando
    > Majalah Madina

    Saya rasa tidak perlu dikomentari mengenai fakta berbagai ekstrimis yang dikutip, yang menarik bagi saya adalah paragraf-paragraf berikut
    ini :

    > Ensiklopedi Islam yang disusun Prof. Dr. Azyumardi
    > Azra saja jelas-jelas menulis Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam.

    Jadi relevansinya apa?

    Ade Armando protes bahwa fatwa MUI dijadikan rujukan oleh para ektrimis untuk membredel Ahmadiyah. Tapi disini ybs juga membenarkan Ahmadiyah dengan “fatwa” Azyumardi Azra. Sama saja.

    Mendingan dianalisa sendiri saja. Dengan kritis tapinya, bukan cuma dengan mengamini “press release” dari pihak-pihak yang terkait.

    > Kalau
    > Ahmadiyah memang sebuah aliran yang mengada-ada, masakan di dunia ada
    > puluhan juta umat Ahamdiyah?

    Ini adalah fallacy / kekeliruan logika yang cukup dasar. Jumlah besar = benar ?
    Naif sekali.

    > Semua penganut Ahmadiyah tidak percaya bahwa Ghulam Ahmad sejajar dengan
    > Nabi Muhammad dan rasul-rasul lainnya. Mereka hanya percaya bahwa 6-7 abad
    > setelah Nabi Muhamad wafat, Allah menununjuk seorang terpilih – yakni
    > Ghulam Ahmad – untuk memimpin umat Islam meraih kembali kejayaan Islam.

    Saya tidak tahu bahwa Ade Armando sudah mewawancara ***semua***
    penganut Ahmadiyah, ini adalah sesuatu yang luar biasa saya kira.

    Anyway, ada kawan saya yang bersaksi bahwa para penganut Ahmadiyah
    yang dia temui justru beranggapan sebaliknya, dan menganggap bahwa
    justru kita (penganut Islam / Sunni) yang sebenarnya sesat.

    Inti masalah Ahmadiyyah ini adalah pembajakan / penistaan agama (Islam).
    ***Bukan*** soal kebebasan beragama / HAM. Tapi memang opini publik
    sedang dengan SANGAT intens digiring ke arah itu.

    Diskusi seputar ini:
    http://wiryanto.wordpress.com/2008/04/17/jimly-soal-aliran-ahmadiyah/#comment-11978

    Mudah-mudahan kita bisa menghindar dari membalas ekstremisme dengan ekstremisme lagi.
    Terimakasih.

    Salam,
    Harry

  49. sekalinya ada bacaan islami, ketika saya baca, walah, tyt kapitalisme dibalut dg baju agama. see, majalah2 perempuan islmai macam noor etc. buseettt ga beda dg femina dkk. menempatkan perempuan sbg alat/obyek iklan. teuteup aja.

    Kawan saya ada di bagian redaksi majalah Alia. Ketika saya silaturahmi, dia jelaskan bahwa dia membuat Alia dalam format yang agak “pop” dulu pada saat ini. Karena semuanya berproses – pada saat ini ya it yang disukai masyarakat.

    Perlahan2 dia mulai mengarahkan agar kemudian content Alia bisa mulai mengarah ke isi yang lebih mendidik.

    Sejauh ini kelihatannya perkembangannya cukup bagus. Ya mudah2an makin banyak yang seperti itu dan sukses.

  50. eh, gimana kalo yg di myquran digelandang ke sini aja. ada yang jadi membernya? tolong link-nya ini dimasukin ke situ, dunk. biar saya bisa nonton pembantaian di sini๐Ÿ˜ˆ

    Yang di MyQuran.org, selain yang ini, apa ada lagi ?

  51. Beberapa argumennya coba saya pertajam lagi ya :

    Padahal, melihat agenda Uni Eropa Turki, mustahil mereka mau mengekang kebebasan pendapat seperti ini.

    Tidak juga. Pemerintah Turki dulu terkenal sebagai rezim diktator, dan bisa melakukan apa saja.
    Saya sempat kenal baik dengan beberapa kawan Turki dan mendapat informasi soal ini. Untuk bisa masuk ke Uni Eropa, mereka mau melakukan apa saja (termasuk membabat pihak-pihak yang membahayakan agenda tsb)

    Tapi kalau dijelaskan bahwa pemerintah Turki yang *sekarang* tidak lagi demikian, dan lebih fair, nah itu saya kira lebih relevan jadinya.

    di Amerika Serikat, yang mengajarkan teori evolusi justru ditindas dan diintimidasi oleh pendukung teori penciptaan

    Saya kira kedua-duanya terjadi — ada evolutionist yang ditindas, dan ada juga creationist yang ditindas.

    Kalau memang rahasia, kenapa media sekecil Hidayatullah bisa mengetahuinya? Hebat betul.

    Logikanya agak ringkih – justru kadang media kecil yang bisa dengan bebas menyuarakan fakta apa adanya, karena terbebas dari business interest / bias lainnya yang mengekang media besar.

    Kadang ada istilah “rahasia umum” (oxymoron?) nah media besar kadang tidak mau membahas ini, namun media kecil bisa lebih leluasa membahasnya.

    Soal freemason, saya menyaksikan sendiri di Birmingham bahwa memang kelompok ini cukup eksklusif dan elit. Rata2 level senior manager di berbagai institusi adalah anggota kelompok ini.
    Nah, level dasar memang mungkin cuma sekedar club intelektual; memang menarik karena roster anggotanya, bagus & sangat menarik untuk membangun jaringan kenalan.

    Namun di level-level atas, itu mulai rahasia dan banyak yang tidak jelas. Dengan roster anggota yang sedemikian powerful, saya kira bisa saja mereka memperhatikan dan kemudian mengundang para anggota yang mereka anggap “potensial” untuk (istilahnya) di upgrade tingkat keanggotaannya. Dan dengan rahasia yang menutupi level2 atas keanggotaan freemasonry + power para anggotanya; apa saja menjadi bisa mereka lakukan.
    Ini salah satu skenario yang mungkin terjadi.

    OK mudah-mudahan di posting selanjutnya analisanya bisa makin baik lagi.

    Saya sendiri capai dengan berbagai artikel tendensius di berbagai media Islam. Tapi saya kira memang itu cerminan umat kita pada saat ini. Masih sangat emosional, dan kurang bisa rasional. Jadinya kadang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya / tidak adil = zalim.

    Mudah-mudahan situasi ini bisa semakin membaik. Perlu kontribusi dari kita semua untuk itu.
    Mari …

  52. @ secondprince

    Minimal mendekati bias titik nol, bukan?

    @ ghaniarasyidโ„ข

    [promosi mode]

    Saya lebih suka Origin of Symmetry.๐Ÿ˜›

    [/promosi mode]

    @ joesatch yang legendaris

    Tidak minat nimbrung di MyQuran?๐Ÿ˜›

    @ joyo (males login)
    ๐Ÿ˜†

    @ ant

    Hidayatullah. Kalau ada yang ngawur, silakan tuliskan. Akan saya jawab.

    @ sandynata

    …jarang sekali ada โ€˜gosip murahanโ€™…

    Berarti masih adakah?:mrgreen:
    Kok bangsa ini susah sekali melepaskan faktor yang satu itu, ya?๐Ÿ˜•

    @ dana

    Saya juga kadang malas kalau blog ini dilink ke forum atau sebaliknya. Seringkali bukan diskusi yang terjadi, tapi pisuhan.๐Ÿ˜›

    @ sitampandarimipaselatan

    Sabar, masbro. Kita tunggu respon beliau.๐Ÿ™‚

    @ sufehmi

    Jadi relevansinya apa?

    Ade Armando protes bahwa fatwa MUI dijadikan rujukan oleh para ektrimis untuk membredel Ahmadiyah. Tapi disini ybs juga membenarkan Ahmadiyah dengan โ€œfatwaโ€ Azyumardi Azra. Sama saja.

    Walau saya kadang bingung dengan ‘adu fatwa’ semacam ini, mungkin yang dimaksud adalah bahwa sentimen yang mem-pariah-kan Ahmadiyah itu sendiri bukanlah absolut, dan ada fatwa yang menyatakan berkebalikan.๐Ÿ™‚

    Ini adalah fallacy / kekeliruan logika yang cukup dasar. Jumlah besar = benar ?
    Naif sekali.

    Jelas jumlah besar tidak berarti benar (argumentum ad populum), tapi di sisi lain, mungkin bisa dipergunakan sebagai bukti bahwa Ahmadiyah sendiri adalah suatu aliran yang sudah established dan toleransi atas mereka tidak bisa disamakan dengan toleransi atas alirannya Lia Eden misalnya?

    Inti masalah Ahmadiyyah ini adalah pembajakan / penistaan agama (Islam).
    ***Bukan*** soal kebebasan beragama / HAM. Tapi memang opini publik
    sedang dengan SANGAT intens digiring ke arah itu.

    Saya sendiri melihat opini publik digiring ke arah “penistaan agama” tersebut.๐Ÿ˜•

    Mengenai “pembajakan agama”, bukankah generasi agama Abrahamik seringkali “membajak” satu sama lain? Kristen “membajak” Judaisme, Protestanisme “membajak” Katolik, Islam “membajak” Kristen, dan seterusnya? Walau, mungkin konsekuensi dari cara berpikir seperti ini adalah Ahmadiyah diberi embel-embel Islam Ahmadiyah, untuk membedakan dengan Islam Sunni. Pendapat pribadi saya pun seperti itu.

    Di sisi lain, saya agak sangsi; apakah dengan mengidentifikasikan identitas “Ahmadiyah” seperti itu, mereka tidak akan mengalami diskriminasi? Bagaimanapun, bangsa kita sedikit tribalis.

    * * *

    Tapi kalau dijelaskan bahwa pemerintah Turki yang *sekarang* tidak lagi demikian, dan lebih fair, nah itu saya kira lebih relevan jadinya.

    Yap.๐Ÿ™‚

    Saya kira kedua-duanya terjadi โ€” ada evolutionist yang ditindas, dan ada juga creationist yang ditindas.

    Tentu. Maaf kalau tulisan saya seolah-olah tidak berbunyi seperti itu.๐Ÿ™‚

    Logikanya agak ringkih – justru kadang media kecil yang bisa dengan bebas menyuarakan fakta apa adanya, karena terbebas dari business interest / bias lainnya yang mengekang media besar.

    Benar. Namun bukankah untuk disebarkan lewat penyuaraan “jujur” tersebut berita yang terkait mesti menjadi semacam rahasia umum (ya, memang oksimoron) terlebih dahulu?

    Di sini, sangat sulit membedakan antara “rahasia umum” dengan kabar burung dan urban legend tidak jelas. Masalahnya, klaim yang ada di Hidayatullah dan kawan-kawan, tidak terkesan seperti membicarakan rahasia umum atau urban legend. Mereka membahasnya seolah-olah kabar tersebut benar-benar pasti adanya.

    Soal freemason, saya menyaksikan sendiri di Birmingham bahwa memang kelompok ini cukup eksklusif dan elit. Rata2 level senior manager di berbagai institusi adalah anggota kelompok ini.

    Setahu saya kelompok ini adalah semacam fraternity yang cenderung deistik-pluralistik. Memang sangat tertutup, sehingga menjadi sasaran empuk untuk dijadikan rekan Illuminati di karya-karya fiksi— organisasi manipulatif yang memainkan politik global di belakang layar.

    Saya sendiri capai dengan berbagai artikel tendensius di berbagai media Islam. Tapi saya kira memang itu cerminan umat kita pada saat ini. Masih sangat emosional, dan kurang bisa rasional. Jadinya kadang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya / tidak adil = zalim.

    Kira-kira apakah penyebabnya?๐Ÿ™‚

    Mari โ€ฆ

    Mari juga.

  53. Jelas jumlah besar tidak berarti benar (argumentum ad populum), tapi di sisi lain, mungkin bisa dipergunakan sebagai bukti bahwa Ahmadiyah sendiri adalah suatu aliran yang sudah established dan toleransi atas mereka tidak bisa disamakan dengan toleransi atas alirannya Lia Eden misalnya?

    Kelihatannya saya bisa belajar soal logic dengan Anda๐Ÿ™‚ thanks (saya baru tahu istilah ilmiahnya tsb).

    Poin saya adalah majalah tersebut juga masih tetap menggunakan argumen-argumen yang tidak valid untuk membenarkan pendapatnya. Dan saya tidak respek dengan trik-trik seperti itu.
    Apalagi ketika ybs berlabel kebenaran; namun ternyata malah misleading.

    PLUS fakta bahwa ybs menelan mentah-mentah berbagai statement dari salah satu pihak.
    Ini sudah berlawanan dengan prinsip jurnalisme yang berimbang. Dan jelas tidak bisa dikategorikan sebagai investigative journalism (yang memang masih sangat jarang sih di Indonesia)

    Kesimpulannya tidak ada nilai plus majalah Medina, karena gayanya juga mirip / sama saja dengan Hidayatullah / Sabili.

    Mengenai โ€œpembajakan agamaโ€, bukankah generasi agama Abrahamik seringkali โ€œmembajakโ€ satu sama lain? Kristen โ€œmembajakโ€ Judaisme, Protestanisme โ€œmembajakโ€ Katolik, Islam โ€œmembajakโ€ Kristen, dan seterusnya? Walau, mungkin konsekuensi dari cara berpikir seperti ini adalah Ahmadiyah diberi embel-embel Islam Ahmadiyah, untuk membedakan dengan Islam Sunni. Pendapat pribadi saya pun seperti itu.

    Anda pernah mendengar Yahudi Kristen tidak ? Atau Islam Kristen ?๐Ÿ™‚

    Pada contoh-contoh kasus yang Anda sebutkan, jelas bahwa Yahudi berbeda dengan Kristen. Islam jelas berbeda dengan Katolik. (*)

    Pada kasus Ahmadiyah, mereka ingin dianggap sebagai Islam.
    Padahal posisinya ya seperti kasus yang Anda sebutkan tadi; Ahmadiyah berbeda dengan Islam.

    Di sisi lain, saya agak sangsi; apakah dengan mengidentifikasikan identitas โ€œAhmadiyahโ€ seperti itu, mereka tidak akan mengalami diskriminasi? Bagaimanapun, bangsa kita sedikit tribalis.

    Bisa diperkirakan akan terus konflik, karena masing-masing pihak merasa sebagai yang benar (Ahmadiyyah juga meyakini bahwa kami ini sesat), dan salah satu pihak merasa bahwa agamanya telah dibajak oleh salah satu yang lainnya.

    Di sini, sangat sulit membedakan antara โ€œrahasia umumโ€ dengan kabar burung dan urban legend tidak jelas. Masalahnya, klaim yang ada di Hidayatullah dan kawan-kawan, tidak terkesan seperti membicarakan rahasia umum atau urban legend. Mereka membahasnya seolah-olah kabar tersebut benar-benar pasti adanya.

    Saya kira juga demikian, beberapa kali saya temui artikel disitu sangat kurang kekritisannya dalam menelaah sesuatu yang belum jelas kepastiannya, dan cenderung mengasumsikan kebenarannya.
    (tapi supaya fair, media massa lainnya juga sering saya temukan melakukan ini. mungkin sih karena keterbatasan waktu / mengejar deadline)

    Soal rahasia umum itu baru satu contoh. Salah satu contoh nyata lainnya adalah membungkam fakta, dan mengangkat prasangka. Atau terang-terangan memfitnah.
    Contohnya terlalu banyak pada kasus War on Terror nya pak Koboi dunia kemarin ini.

    Atau contoh lokal; tahun lalu ada menteri yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan pro Rakyat.
    Sialnya, kebijakan tersebut mengancam beberapa business interest, yang punya akses ke media (shareholder, dst)

    Menteri tersebut diserang & difitnah habis-habisan di media massa.

    Menteri ybs kemudian melakukan press conference untuk mengklarifikasi berbagai tuduhan tersebut.
    Apa yang terjadi? Tidak ada media massa yang memuat press release ybs.

    Bahkan level menteri pun bisa dibunuh oleh media.

    Kini pak Menteri ybs sekarang sudah menjadi salah satu blogger Indonesia๐Ÿ™‚

    Kira-kira apakah penyebabnya?

    Apa memang karena sifat dasar manusia adalah emosional ?

    Saya baru mengalaminya beberapa hari yang lalu — saya diminta menjadi salah satu pembicara di acara Talkshow di event IGOS Summit 2.

    Salah satu pembicara selalu tidak menjawab pertanyaan dan malah nyasar berbicara soal lainnya. Ditanya peserta A yang jawabannya B, dia malah menjawab C sampai Z.
    Ditanya pertanyaan teknis, ybs malah menjelaskan (antara lain) achievement Pemda ybs dalam memakmurkan rakyatnya dengan budget yang minimal. Saya sampai ketiduran (!!) di depan sekian ratus peserta (!!!!).
    Untung tidak ngorok (sudah pernah terjadi !)๐Ÿ˜€

    Sedang ketiduran tersebut saya tersentak karena tiba-tiba aplaus bergemuruh dari hadirin. Hah, bingung saya… pertanyaannya kan belum terjawab ?
    Ternyata emosi hadirin sudah berhasil dikuasai oleh ybs, sehingga ybs dihadiahi dengan aplaus, sampai berkali-kali.

    Tidak itu saja, di beberapa review acara tersebut di beberapa blog / milis, juga banyak yang menyatakan sangat kagum dengan ybs.
    The mind boggles.

    Saya pribadi sih, di satu sisi, SANGAT berterimakasih kepada ybs. Ini adalah tambahan pelajaran yang berharga bagi saya : jangan selalu berbicara to the point. Ngecap sekali-sekali juga tidak apa.
    Ini ternyata preferensi kebanyakan orang๐Ÿ™‚

    (walaupun karena ini saya sudah lama sekali tidak menghadiri seminar — terlalu banyak yang hanya cuap-cuap namun content nya tidak ada / pepesan kosong)

    Oh well …๐Ÿ™‚

    (*) Kalau soal Protestan – Katolik saya kurang paham apakah perbedaan mereka adalah pada soal yang pokok (prinsipil), atau pada soal yang non-pokok.

  54. *gelar tiker*

    seneng juga liat dialog yang bermutu (baca:bukan debat kusir) antara dua generasi yang berbeda.

    Bloody Hell Genious Geddoe VS Mas Harry

    Lanjut juragan..๐Ÿ™‚

    @Mas Harry
    Btw, Si divo a.k.a geddoe itu baru akil baligh loh mas

    *kaburrr, sebelum diusir yang punya blog*

  55. Btw, Si divo a.k.a geddoe itu baru akil baligh loh mas

    Wah hebat dong. Umur segitu dulu saya baru bisa emosional doang. Belum bisa diskusi dengan rasional.

  56. btw; mudah-mudahan tidak terkesan bahwa saya asal menyerang para pengkritis Islam konservatif.

    Saya saat ini sedang dalam proses belajar untuk kritis kepada siapa saja. Termasuk kepada pihak konservatif juga

    Dan sepanjang proses tersebut saya kira saya banyak melanggar pakem / be politically incorrect.
    Mudah-mudahan bisa dimaklumi, karena tujuan saya bukan politically correctness, namun mencari kebenaran yang apa adanya (walaupun tidak populer)

    Terimakasih.

  57. @Mas Harry

    Majalah Medina juga bermasalah.

    Hmmm…apakah masalahnya separah Hidayatullah? Sori Ged, nimbrung yah, kan saya yang memberi tahu Majalah Madina itu.

    Ade Armando protes bahwa fatwa MUI dijadikan rujukan oleh para ektrimis untuk membredel Ahmadiyah. Tapi disini ybs juga membenarkan Ahmadiyah dengan โ€œfatwaโ€ Azyumardi Azra. Sama saja.

    Pertama tulisan Ade Armando bukan karya jurnalisme, tapi opini. Kedua, saya kira Ade Armando bukan membenarkan Ahmadiyah dengan mengutip pendapat (bukan “fatwa” karena besar sekali perbedaannya, mas) Azyumardi Azra, tetapi memberikan satu pandangan bahwa ada sarjana Muslim yang memandang Ahmadiyah bagian dari Islam, sehingga fatwa MUI kehilangan kekuatan fatwanya karena bukan benar-benar ijmak atau konsensus ulama. Soal interview, jika Ade Armando belum mewawancarai semua orang Ahmadiyah, dan karenanya tidak kompeten untuk menilai Ahmadiyah, mengapa Anda dan media Islam lainnya cenderung mengatakan Ahmadiyah bukan Islam? Udah interview semua orang Ahmadiyah?

    Kesimpulannya tidak ada nilai plus majalah Medina, karena gayanya juga mirip / sama saja dengan Hidayatullah / Sabili

    Saya memang baru baca satu edisi. Tapi bisa lebih lengkap gak ngasih bukti-buktinya?

    Saya kira juga demikian, beberapa kali saya temui artikel disitu sangat kurang kekritisannya dalam menelaah sesuatu yang belum jelas kepastiannya, dan cenderung mengasumsikan kebenarannya.
    (tapi supaya fair, media massa lainnya juga sering saya temukan melakukan ini. mungkin sih karena keterbatasan waktu / mengejar deadline)

    Media memang terbatas. Mereka juga tidak bisa menyimpulkan apa2, apakah Ahmadiyah bagian dari Islam atau bukan, itu bukan domain mereka. Yang jelas media, sebagai penopang demokrasi, harus berpihak dan memperjuangkan kebebasan. Mungkin itu sebabnya, media terkesan membela Ahmadiyah.

  58. Media memang terbatas. Mereka juga tidak bisa menyimpulkan apa2, apakah Ahmadiyah bagian dari Islam atau bukan, itu bukan domain mereka. Yang jelas media, sebagai penopang demokrasi, harus berpihak dan memperjuangkan kebebasan. Mungkin itu sebabnya, media terkesan membela Ahmadiyah.

    Istilahnya, saya tidak setuju pendapatmu. Tapi akan saya perjuangkan kebebasan kamu berpendapat.

    Gitu kali ya?:mrgreen:

  59. @ sufehmi (1)

    Kesimpulannya tidak ada nilai plus majalah Medina, karena gayanya juga mirip / sama saja dengan Hidayatullah / Sabili.

    Yah, kalau dilihat dari segi positifnya, mungkin bisa untuk mengimbangi…๐Ÿ˜€

    Anda pernah mendengar Yahudi Kristen tidak ? Atau Islam Kristen ?๐Ÿ™‚

    Pada contoh-contoh kasus yang Anda sebutkan, jelas bahwa Yahudi berbeda dengan Kristen. Islam jelas berbeda dengan Katolik. (*)

    Pada kasus Ahmadiyah, mereka ingin dianggap sebagai Islam.
    Padahal posisinya ya seperti kasus yang Anda sebutkan tadi; Ahmadiyah berbeda dengan Islam.

    Pernah.

    Kristen Yahudi
    Yahudi Kristen

    “Yahudi” di sana maksudnya Judaisme, lho, bukan ras.

    Dan lagi… Bagaimana dengan Mormonisme?๐Ÿ™‚

    Bisa diperkirakan akan terus konflik, karena masing-masing pihak merasa sebagai yang benar (Ahmadiyyah juga meyakini bahwa kami ini sesat), dan salah satu pihak merasa bahwa agamanya telah dibajak oleh salah satu yang lainnya.

    Sepakat. Saya kira bisa jadi ini yang mendorong Ahmadiyah untuk menjadi sangat pragmatis.

    Apa memang karena sifat dasar manusia adalah emosional ?

    Emosional… dan tidak sepenuhnya rasional?๐Ÿ˜€

    @ Agiek

    *tabur garam*๐Ÿ˜:mrgreen:

    @ sufehmi (2)

    Saya saat ini sedang dalam proses belajar untuk kritis kepada siapa saja. Termasuk kepada pihak konservatif juga

    Otokritik selalu sehat, mas.๐Ÿ™‚

    Saya sendiri juga sedang protes ke segala penjuru.๐Ÿ˜›

    @ gentole

    Hmm, masuk akal juga. Saya sendiri menganggap pernyataan tersebut bukan untuk membenarkan bahwa Ahmadiyah adalah Islam, melainkan menunjukkan bahwa fatwa ke-pariah-an Ahmadiyah tidaklah universal dan absolut.

    Dan, ah, terima kasih linknya.๐Ÿ™‚

    @ dana

    Sepakat.:mrgreen:

  60. Berita beginian kalau dibaca (sebagian) orang-orang saya yakin akan langsung diserap tanpa ricek kebenaran. Wuah, menyedihkan.๐Ÿ˜ ‘Semangat’ kreasionisme kayaknya terlalu mendominasi pikiran sampai-sampai menyelewengkan berita.๐Ÿ˜›

    Btw, yang http://laknatullah.wordpress.com/ sudah dihapus ya. Kena ‘serangan’ dari ‘pihak tertentu’ kah?๐Ÿ˜›

  61. Pernah.

    Kristen Yahudi
    Yahudi Kristen

    โ€œYahudiโ€ di sana maksudnya Judaisme, lho, bukan ras.

    Tentang Jewish Christians (Kristen Yahudi), dari : http://en.wikipedia.org/wiki/Jewish_Christians

    Dulu:
    Jesus, his Twelve Apostles, the Elders, his family, and essentially all of his early followers were Jewish or Jewish Proselytes

    Sekarang :
    “Jewish Christians” is sometimes used as a contemporary term in respect of persons who are ethnically Jewish but who have become part of a “mainstream” Christian

    Tentang Messianic Jews (Yahudi Kristen) :
    Messianic Jews consider their primary identity to be “Jewish” and belief in Jesus to be the logical conclusion of their “Jewishness”

    Dan lagiโ€ฆ Bagaimana dengan Mormonisme?

    Jadi konflik :

    Upon learning about the practice, mainstream churches and political forces in the United States mounted a vigorous campaign to stamp it out. The United States Congress passed laws criminalizing the practice and dissolved polygamous families, disincorporated the LDS Church, and began seizing church property.

    Jewish groups vocally opposed the LDS practice of baptism for the dead on behalf of Jewish victims of the Holocaust and Jews in general.

    among non-Mormon Christians, more than six in ten said Mormonism and their own religion are very different and 57 respondents out of 1,461, 3.9%, associated Mormonism with the word “cult.”

  62. Pertama tulisan Ade Armando bukan karya jurnalisme, tapi opini.

    Saya kira Anda benar. Terimakasih untuk koreksinya.

    Kedua, saya kira Ade Armando bukan membenarkan Ahmadiyah dengan mengutip pendapat (bukan โ€œfatwaโ€ karena besar sekali perbedaannya, mas) Azyumardi Azra, tetapi memberikan satu pandangan bahwa ada sarjana Muslim yang memandang Ahmadiyah bagian dari Islam, sehingga fatwa MUI kehilangan kekuatan fatwanya karena bukan benar-benar ijmak atau konsensus ulama.

    Agak kontradiksi mas, di awal Anda sebut “pendapat”, namun kemudian Anda sebut ini jadi menganulir “fatwa”.

    Berarti sebenarnya pendapat tersebut juga dianggap selevel dengan fatwa, paling tidak oleh Ade Armando.

    Mengenai Ijmak / Konsensus, saya kira bukan berarti musti 100% semuanya sepakat. Yang lebih tepat adalah “mayoritas” ulama.

    Dan dalam kasus Ahmadiyyah, sudah sejak dulu mayoritas ulama sepakat bahwa Ahmadiyyah ==/== Islam.

    Soal interview, jika Ade Armando belum mewawancarai semua orang Ahmadiyah, dan karenanya tidak kompeten untuk menilai Ahmadiyah, mengapa Anda dan media Islam lainnya cenderung mengatakan Ahmadiyah bukan Islam? Udah interview semua orang Ahmadiyah?

    Sudah ada yang mengerjakannya untuk kita semua

    Saya memang baru baca satu edisi. Tapi bisa lebih lengkap gak ngasih bukti-buktinya?

    Terimakasih untuk requestnya. Nanti saya coba sempatkan waktu.

    Media memang terbatas. Mereka juga tidak bisa menyimpulkan apa2, apakah Ahmadiyah bagian dari Islam atau bukan, itu bukan domain mereka. Yang jelas media, sebagai penopang demokrasi, harus berpihak dan memperjuangkan kebebasan. Mungkin itu sebabnya, media terkesan membela Ahmadiyah.

    Bukannya karena bad news == good news == it sells ?๐Ÿ˜‰

    Maaf saya tidak percaya kepada statement “media == penopang demokrasi” jika stakeholders nya bias / bisa conflict of interest dengan rakyat .

  63. ccc

    Pernah.

    Kristen Yahudi
    Yahudi Kristen

    โ€œYahudiโ€ di sana maksudnya Judaisme, lho, bukan ras.

    Tentang Jewish Christians (Kristen Yahudi), dari : http://en.wikipedia.org/wiki/Jewish_Christians

    Dulu:
    Jesus, his Twelve Apostles, the Elders, his family, and essentially all of his early followers were Jewish or Jewish Proselytes

    Sekarang :
    “Jewish Christians” is sometimes used as a contemporary term in respect of persons who are ethnically Jewish but who have become part of a “mainstream” Christian

    Tentang Messianic Jews (Yahudi Kristen) :
    Messianic Jews consider their primary identity to be “Jewish” and belief in Jesus to be the logical conclusion of their “Jewishness”

    Dan lagiโ€ฆ Bagaimana dengan Mormonisme?

    Jadi konflik :

    Upon learning about the practice, mainstream churches and political forces in the United States mounted a vigorous campaign to stamp it out. The United States Congress passed laws criminalizing the practice and dissolved polygamous families, disincorporated the LDS Church, and began seizing church property.

    Jewish groups vocally opposed the LDS practice of baptism for the dead on behalf of Jewish victims of the Holocaust and Jews in general.

    among non-Mormon Christians, more than six in ten said Mormonism and their own religion are very different and 57 respondents out of 1,461, 3.9%, associated Mormonism with the word “cult.”

  64. @Sufehmi

    Agak kontradiksi mas, di awal Anda sebut โ€œpendapatโ€, namun kemudian Anda sebut ini jadi menganulir โ€œfatwaโ€.

    Fatwa itu dulu legally-binding karena terkait dengan masalah hukum dan dikeluarkan oleh seorang mufti atau ulama yang sangat disegani, jadi bukan sekedar pendapat. Saat ini, apalagi di negara hukum seperti Indoenesia, fatwa tidak mempunyai kekuatan hukum apa-apa; hanya satu bagian saja dari ekspresi Islam.

    Pendapat Azra bukan menganulir fatwa MUI, tetapi seperti yang saya bilang, membuat fatwa MUI kehilangan kekuatan “fatwa”-nya. Memang ada kebingungan di sini, dan pejabat pemerintah itu ignoramus. “Fatwa” ini kan konon mau dijadikan alasan bagi pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah. Ini aneh. Tidak ada satu alasan kuat untuk menjadikan MUI sebagai-sebagai satu-satunya jubir umat Islam apabila ada banyak ulama yang belum tentu sepaham dengan MUI. Saya yakin anda tidak akan selalu sepakat dengan MUI.

    Maaf saya tidak percaya kepada statement โ€œmedia == penopang demokrasiโ€ jika stakeholders nya bias / bisa conflict of interest dengan rakyat .

    Bolehlah skeptik. Saya juga tidak percaya media itu malaikat. Ada bisnis, ada politik, ada ideologi dll. dibalik berita. Tetapi kebebasan pers, percayalah, adalah syarat utama pemerintahan demokratis. Dan sebenarnya pers terikat oleh kode etik. Lagipula, pers yang tidak bisa imparsial tidak akan dipercaya masyarakat, dan karenanya cepat mati. There’s a reason why Kompas, Tempo and NYT survive; they try to keep the public’s trust.

  65. @ sufehmi

    Saya sendiri sebenarnya tidak peduli dengan Ahmadiyah. Hanya saja, ini adalah perkara kebebasan beragama (“pembajakan agama” itu menyinggung secara langsung masalah kebebasan beragama).

    Lagipula, bukankah ternyata memang ada Yahudi Kristen dan Kristen Yahudi? Respon anda bagaimana?๐Ÿ˜›

    @ 1000download

    Silakan.๐Ÿ™‚

    @ gentole

    Bukannya MUI sendiri memang sering dianggap sebagai semacam otoritas yang lebih tinggi dari pendapat lainnya? Saya rasa selalu ada bias seperti ini di masyarakat.

  66. Bukannya MUI sendiri memang sering dianggap sebagai semacam otoritas yang lebih tinggi dari pendapat lainnya? Saya rasa selalu ada bias seperti ini di masyarakat.

    Memang ada bias itu. Prihatin memang. MUI itu sebenarnya bentukkan Orde Baru untuk memuluskan kebijakan-kebijakan mereka yang nyrempet-nyrempet Islam. KB, misalnya.

    Yang bikin saya kesal, para fundamentalis pake standar ganda soal MUI. Misalnya HTI, mereka kan menganggap demokrasi itu sistem kufur. Kalo kita minta fatwa MUI soal itu dan MUI bilang demokrasi bukan sistem kufur, apakah HTI perlu dibubarin karena beda pendapat dengan MUI? Tanya juga MUI soal negara Islam, sistem khalifah, kekerasan dan percabangan teologis lainnya, gak bakal sama. MUI itu dari dulu emang dijadiin alat saja, yah oleh Soeharto, yah oleh bigot-bigot itu.

  67. โ€œFatwaโ€ ini kan konon mau dijadikan alasan bagi pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah

    Buat apa? Sudah jelas Ahmadiyyah/JAI melanggar perjanjian mereka (dengan pemerintah)

    Itu saja sudah cukup untuk menjadi alasan pemerintah untuk menindak mereka.

    Fatwa bisa saja dijadikan sebagai bahan pertimbangan, tapi bukan alasan.

    Atau, fatwa bisa saja dijadikan bukan untuk membubarkan, tapi sekedar untuk memerintahkan JAI agar berhenti membajak agama orang lain.

    Fatwa, di Indonesia ini, seperti yang Anda katakan sendiri, tidak punya kekuatan hukum.

    Pendapat Azra bukan menganulir fatwa MUI, tetapi seperti yang saya bilang, membuat fatwa MUI kehilangan kekuatan โ€œfatwaโ€-nya.

    Bagi saya pribadi, pendapat dari anggota kelompok yang sudah berkali-kali tertangkap basah menipu & mengecoh publik, secara logika, tidak punya kekuatan untuk menganulir / melemahkan fatwa; yang dikeluarkan oleh dewan ulama / ulama seperti HAMKA, yang interestnya hanyalah kemaslahatan umat.

    Tetapi kebebasan pers, percayalah, adalah syarat utama pemerintahan demokratis

    Pertanyaannya – apakah pemerintahan demokratis itu adalah yang diperlukan oleh kita ?

    Beberapa waktu yang lalu saya bertanya kepada beberapa kawan-kawan freethinker. Saya cukup terkejut ketika rata-rata mereka berpendapat bahwa yang terbaik bagi suatu masyarakat adalah “white dictator”; diktator yang fokus kepada kemaslahatan rakyatnya.

    Memang kita karena sudah terlalu banyak diserbu propaganda pro-demokrasi, tentu lazim jika sulit / tercengang mendengar ide tersebut.
    Tapi kawan-kawan tersebut tentu juga tidak asal berpendapat, mereka punya alasan untuk pendapat tersebut.

    Secara ringkas; pada sistim demokrasi, pemimpin yang baik bisa dilumpuhkan / dijatuhkan oleh lingkaran elit politik yang korup. Kalau Anda sempat agak dekat di lingkaran kekuasaan, ini bisa anda saksikan sendiri. Seperti yang sudah saya ceritakan, menteri pun bisa dibuat tidak berdaya untuk melakukan kebijakan2 yang pro rakyat.

    Diktator bisa beresiko juga menzalimi rakyatnya. Nah, disini counterbalance nya adalah rakyatnya sendiri. Jika rakyatnya aktif & tercerahkan (dan bukan cuma tipe sapi perahan yang bisa dicocok hidungnya dan ditarik kesana kesini), maka diktator pun tetap bisa terkontrol.

    Dan sebenarnya pers terikat oleh kode etik. Lagipula, pers yang tidak bisa imparsial tidak akan dipercaya masyarakat, dan karenanya cepat mati. Thereโ€™s a reason why Kompas, Tempo and NYT survive; they try to keep the publicโ€™s trust.

    Pada saat ini tidak perlu melakukan itu — cukup menjaga image / perception of trust, that’s it.

    http://harry.sufehmi.com/archives/2008-05-01-1644/

    Salah satu solusi masalah ini adalah mewajibkan media massa sebagai institusi non-profit (contoh: The Guardian) dan menandatangani pakta integritas — dan ada badan pengawas pers yang bisa mengaudit dan menindak para pelanggarnya.

  68. Lagipula, bukankah ternyata memang ada Yahudi Kristen dan Kristen Yahudi? Respon anda bagaimana?๐Ÿ˜›

    Saya sudah tulis reply saya panjang lebar, tapi kemudian tidak muncul๐Ÿ˜ฆ

    Pakai anti-spam apa sih ? Cuma ada 2 link padahal di komentar tersebut.

    Saya coba submit sampai sekitar 3 kali, tapi tetap tidak muncul juga.

    Barusan saya juga reply di posting “saya tidak tahu mau apa lagi”, dan juga tidak muncul. Wadehel?

Comments are closed.