Kapten

Carvalho Reveals Dressing Room Heartache

Chelsea defender Ricardo Carvalho has admitted that the Blues dressing room was a sorry sight after last night’s cruel penalty loss at the hands of Manchester United and that captain John Terry was literally inconsolable.

After 120 minutes of an equally enthralling and energy-sapping battle of attrition in Moscow, the Blues were just a spot-kick away from glory, only for captain John Terry, of all people, to loose his footing at the most inopportune of times.

“There were a lot of tears in the dressing-room,” confessed Carvalho. “We couldn’t stop Terry crying.”

Chelsea assistant manager Henk ten Cate earlier revealed that Terry was not ever originally supposed to be one of the first five penalty takers, but was promoted up the order because of Didier Drogba’s expulsion.

Derek Wanner, Goal.com

Saya lebih suka kalau mereka kalah begitu saja. Kebobolan satu gol di babak pertama, lalu mencetak satu gol dan kebobolan satu gol lagi di babak kedua.

.

.

.

If you are first you are first. If you are second you are nothing.” – Bill Shankly

.

.

.

BTW, pemain terbaik di pertandingan itu tetap tiang gawang.πŸ˜†
What stopped Carlos Tevez‘s goal? Petr Cech.
What stopped Didier Drogba‘s goal? The post.

17 thoughts on “Kapten

  1. …that captain John Terry was literally inconsolable.

    When people got emotional over football stuffs, they usually say: “you don’t understand. This is football we talk about, where glory and despair intertwine™ ; where struggle manifests in sweat and tears™, blah-blah.”

    Those people, however, upon seeing others who got so indulged in other things aside — otaku-ism, celeb gossips, internet msgboard, alien talks to name some — would only say contemptingly, “Kid, get some life.”

    Yeah, right.πŸ™„

     
    Ps. FYI I respect the Chelsea capt. over taking the horribly-pressured PK — but IMO he shouldn’t be upset for long. Not like there won’t be CL next season, though.πŸ™‚

  2. Menurutku keren sekali kalau sampai menangis karena suatu hobi, soalnya nggak bisa kupikirkan bisa mencintai satu subjek sebesar itu.

    Asal bukan air mata buaya, ya.πŸ˜€

  3. @Sora

    When people got emotional over football stuffs, they usually say: β€œyou don’t understand. This is football we talk about, where glory and despair intertwineβ„’ ; where struggle manifests in sweat and tearsβ„’, blah-blah.”

    And they simply said that soccer is a religion.

    Yang penting MU yang menang *cuwek*

  4. @ Nenda Fadhilah

    And they simply said that soccer is a religion.

    Yang penting MU yang menang *cuwek*

    “Matters of religion football club should never be matters of controversy. We neither argue with a lover about his taste, nor condemn him, if we are just, for knowing so human a passion.” ~ George Santayana

    *Hidup Arsenal!!*πŸ˜†

  5. Wait a sec, Kopral. Bill Shankly ? That Bill Shankly ? Liverpool’s Bill Shankly ?

    Oke, lanjut….:mrgreen:

    Sebenarnya kambing hitam di pertandingan itu ada 2 : Wasit dan Anelka.πŸ˜† Wasit, karena dia memimpin dengan buruk, dan Joe Cole sekitar 3 kali dirugikan (mungkin dia punya sentimen pribadi sama J. Cole) dan Anelka, karena gagal menendang terakhir. Siapa yang mau menyalahkan seorang Captain seperti Terry ?πŸ™‚

  6. @ sora9n

    Mungkin psikologi massa? Terbawa suasana, begitu. Apalagi waktu itu gerimis mengundang, jadi mood bagus buat menangis tersedu-sedu.πŸ˜›

    BTW, iya, masih banyak kesempatan lain. Saya jadi lupa kalau Chelsea itu tim besar.πŸ˜†

    @ Raide

    Yah, namanya juga pekerjaan.πŸ™‚

    @ Nenda Fadhilah

    Religion?

    @ itikkecil

    Maksudnya first loser seperti apa; loser yang paling lumayan atau yang paling patut dikasihani?πŸ˜€

    @ dana

    Ya, ya, selamat.πŸ™‚

    *lempar tipi*

    @ sora9n

    *siul-siul, udah murtad*πŸ˜†

    @ ManusiaSuper

    Lha itu, kalau kata Bill Shankly sih nggak ada.πŸ™‚

    @ goldfriend

    THAT Bill Shankly.πŸ˜‰

    Yah, wasit memang bertingkah sedikit aneh, terutama di babak pertama.πŸ™‚ Tapi rasanya ya nggak segitunya, kok, mas.πŸ˜•

    Buat saya sih nggak ada kambing hitam. Cuma, be fair lah; kemenangan Man United lebih ke arah keberuntungan (walau bukannya nggak pantas lho ya). Tendangan-tendangan Chelsea yang membentur tiang, diuntungkan secara tidak langsung oleh wasit, dan onggok lumpur sial di dekat kaki John Terry.:mrgreen:

    So, Man United pantas-pantas saja menang, tapi kok kayaknya Chelsea itu nggak pantas kalah.πŸ˜‰

  7. Tahun 1999, MU juga sedikit beruntung dengan 2 gol ajaib pada masa injury time. Tahun 2008 lebih beruntung lagi dengan adu pinalti ajaib. Saya jadi nggak tau, apakah keberuntungan atau keajaiban yang membuat MU juara Liga Champion.πŸ˜‰

    Untung saya nggak taruhan kemarin. Saya sebenarnya lebih menjagokan Chelsea, tapi firasat mengatakan MU yang juara.

    Satu lagi yang tetap terpelihara di LC Eropa : Juara LC selalu dari klub yang SUDAH pernah juara sebelumnya. Arsenal, Monaco, Chelsea, dll belum bisa meruntuhkan tabu itu sejak 1997 ketika Borussia Dortmund juara LC Eropa dengan mengalahkan Juventus.

  8. Keberuntungan dan keajaiban bukankah bedanya tipis saja?πŸ™‚ Saya sendiri menjagokan Chelsea, dan sempat termangu melihat terpelesetnya sang Kapten.

    Satu lagi yang tetap terpelihara di LC Eropa : Juara LC selalu dari klub yang SUDAH pernah juara sebelumnya.

    Yah, minimal FC Porto (yang waktu itu ditukangi the Special One), walaupun sudah pernah juara, tetap memberi angin segar, bukan? Saya sendiri tetap akan senang kalau Nottingham Forest juara beberapa tahun ke depan, misalnya.πŸ˜†

    Justru yang lebih parah adalah liga Inggris sendiri; yang melulu didominasi the Big Four itu. Memang belum semonoton liga Perancis yang juara hampir sewindu terakhir tim satu itu melulu, tapi tetap membosankan, mengingat liga Italia yang semakin dinamis (Juventus yang sempat degradasi, AC Milan yang terseok-seok, sampai AC Parma yang akhirnya lengser dari divisi utama).

    Dan tentunya tidak sedinamis Liga Indonesia. Tahun ini juara, besoknya degradasi (atau sebaliknya), tidaklah terlalu aneh.πŸ˜†

  9. Terus terang saya menjadi penggemar MU sejati awalnya karena keajaiban waktu 1999 itu. Sebelumnya sih saya sekedar suka akan permaninan mereka yang atraktif.

    Ah, betapa ternyata keajaiban itu telah mengisi sesuatu.

  10. @ dana

    Ah, betapa ternyata keajaiban itu telah mengisi sesuatu.

    Huah!😯

    Ternyata, dalam memilih agama klub sepakbola, ada juga yang dipengaruhi oleh keajaiban (mukjizat). Benar-benar analog ini…πŸ˜†

    *agama dan sepakbola maksudnya*πŸ˜‰

  11. Gak tahu juga, walau bukan penggila chealse… sedih juga liat chealse kalah… bener bener sedih.. ampe tv langsung kumatiin waktu tendangan anelka gagal…

  12. Saya ndak liat pertandingannya, cuman sempat liat PK-nya aja.😦

    Saya sendiri menjagokan Chelsea, dan sempat termangu melihat terpelesetnya sang Kapten.

    Setelah bersorak dan tereak-tereak kaya orang gila setelah tendangan CR7 gagal, saya cuman bisa melongo liat Terry kepeleset.

    Saya sendiri tetap akan senang kalau Nottingham Forest juara beberapa tahun ke depan, misalnya.πŸ˜†

    Itu kalau ada pemain titisan sekaliber Roy Keane yang muncul lagi.πŸ˜›
    @ goldfriend

    Untung saya nggak taruhan kemarin. Saya sebenarnya lebih menjagokan Chelsea, tapi firasat mengatakan MU yang juara.

    Saya kehilangan uang 5000 gara-gara Anelka.
    *nyari kambing putih*
    Taruhan kelas bawah, eh?πŸ˜†

  13. Saya sendiri tetap akan senang kalau Nottingham Forest juara beberapa tahun ke depan, misalnya.πŸ˜†

    Yah, seperti yang pernah mereka lakukan di tahun 1979 & 1980 di Piala Champions Eropa dengan si manager jenius Brian Clough. Juga dengan pemain-pemain hebat seperti Peter Shilton, Viv Anderson, dan Martin O’Neill. Sayang, sejarah manis itu entah kapan akan berulang.πŸ˜†

    Saya malah lebih senang kalau Wigan Athletic atau Sunderland yang juara LC Eropa.πŸ˜‰

Comments are closed.