Bersainslah Secara Kaffah

Saya terkadang takjub.

Seyogyanya, kalau anda itu memang mau bersains, mau memanfaatkan barang-barang hasil sains, ya mestinya secara kaffah. Secara keseluruhan, begitu. Jangan setengah-setengah. Kesannya anda itu main-main, tidak serius, dan tidak menghargai.

Memang, tidak ada yang memaksa anda mengamalkan dan memanfaatkan sains, tapi sekalinya memutuskan berbuat demikian, anda mestinya konsisten, dong. Kaffah, dong. Keseluruhan, dong.

Kok ada yang berani-beraninya cuma mengamalkannya sebagian-sebagian saja? Mengimani sebagian ajarannya saja, sisanya ngeyel mau mengimani ajaran yang lain? Bahwasanya manusia bersaudara dengan kecoa, dan alam semesta wujudnya seperti terompet?

Kenapa? Tidak terima? Hei, serahkanlah segara urusan pada ahlinya! Anda itu siapa? Berapa tahun meneliti makhluk hidup? Hmm? Mayoritas ilmuwan yang merupakan ahli-ahli sains sudah sepakat berijtihad bahwasanya nenek moyang saya dan anda adalah sama dengan nenek moyang sigung. Kok anda berani-beraninya melawan? Ngomong pakai ilmunya, bung. Kalau tidak diam. Diam adalah hikmah.™

Bersains tidak dipaksa, tapi begitu masuk, harus kaffah!

Ya! Kalau tidak mau, keluar saja dari sains! Lepaskan telepon seluler, komputer, dan televisi dari kehidupan anda! Termasuk juga pakaian, tempat tinggal, dan makanan hasil pemprosesan! Silakan tinggal di hutan yang belum terjamah sains, dan cari makan sendiri. Oh, tentunya tidak boleh pula bercocok tanam atau membuat pakaian sendiri. Itu termasuk produk peradaban.

.

.

.

.

.

Hehehe, sayangnya kalau saya benar-benar bilang begitu pada seseorang, beliau akan segera protes. Ya protesnya sehat-sehat saja. Saya setuju, sebab saya memang sedang bercanda.🙂 Ya, memang para ahli-ahli sains bisa salah. Kita pun tidak perlu menjadi profesor peraih nobel untuk membantah teori yang sudah berdiri kokoh. Tinggal serahkan pembelaannya untuk di-peer review. Kalau meyakinkan, anda seorang maling ikan asin pun, teori anda akan diakui.

Namun yang tetap saya heran adalah, kenapa sikap kritis itu cuma ada sewaktu sains yang menjadi subyek pembicaraannya.🙂

Silakan ganti kata sains di atas menjadi agama dan ilmuwan menjadi ulama. Entah kenapa segalanya jadi sah. Ijtihad ulama tentang poligami, dress code, dan tata ibadah tiba-tiba menjadi tabu dibantah. Tiba-tiba, wajar rasanya bahwa untuk menjadi syaikh sebelum memprotes para ulama. Kalau profesor-profesor sekelas Gould dan Dawkins sekalipun bersedia mendengarkan teori maling ikan asin, para ulama, rasanya enggan mendengarkan santri biasa.

Jadi ya, tidak salah sih kalau anda mau meragukan para ilmuwan. Malah bagus kalau anda bisa mematahkan teori mereka. Berarti anda sudah membantu umat manusia untuk maju lebih jauh! (BTW, contrary to popular belief, yang masuk penjara kemarin itu tidak bisa mematahkannya). Tapi kenapa lantas gentar mematahkan teori para ulama? Apa ulama dan doktrin itu lebih kebal kesalahan? Ya buat saya pribadi sih tidak. Menghapal ayat-ayat dan merapal mantra pujian sepanjang hari tidak membutuhkan kecakapan seperti orang yang mampu membangun Voyager 1. Tapi itu ya pendapat pribadi saja.🙂

Yang saya mau bilang ya singkat saja;

Kalau anda berani meragukan pendapat ilmiah yang sudah lulus melewati berbagai tes, teori evolusi misalnya, ya mesti siap juga meragukan doktrin-doktrin yang anda anut. Kalau dengan sekte Ahmadiyyah atau JIL saja masih berdarah dingin, kok kayaknya belum pantas anda itu menolak teori ilmiah. Tidak konsisten.🙂

“Kalau kalian benar, tunjukkan buktinya.”
Quran 2:111

.

.

.

Link terkait:
Arti sebenarnya dari kata “teori” dalam “teori evolusi”.
Kenapa membunuh Tuhan dengan evolusi?

30 thoughts on “Bersainslah Secara Kaffah

  1. Kaffah? 😆

    Tulisan ini ndak boleh dibaca di Aceh ini. Bisa dibikin qanun baru😆

    *ketawa baca kata kaffah*

  2. Kalo pikiran liar saya bicara, Ged, ya…

    kenapa the so-called God itu tidak membentangkan semua secara faktual dan bisa diterima dalam pembuktian ilmiah? Apakah Dia juga memiliki hasrat sejenis masturbasi pikiran yang senang melihat permainan gontok-gontokan karena adu argumen di bumi? Semacam coli, mungkin? Kenapa semua mesti dibentang dengan “Satu saat akan Kami tunjukkan kebenaran Kami di penjuru bumi” secara step-by-step?
    🙄

    Ya.. Ya… saya bisa disikat habis kalo bicara begini. Bicara tentang hal yang absurd dan cuma dirasa oleh perasaan sendiri.😀

    Ah ya, bicara kaffah tadi: saya ndak pernah yakin ada yang kaffah apakah dalam Iman atau Sains 100%.

    Yang betul-betul kaffah dalam keyakinan sepertinya cuma orang mati, Ged:mrgreen:

  3. hmmm, meragukan agama taruhannya siksa nereka selamanya, abadi,

    lah meragukan sains…? malah bisa masuk surga bergelimang bidadari nan cantik siap pakai 😀

  4. @ alex®

    Yup… Saya sendiri mendukung teori-teori ilmiah dan tidak menyukai hukum-hukum puritan, namun ya berusaha supaya tetap berpikiran terbuka.🙂

    Masalahnya terkadang orang yang menolak teori yang ilmiah ini membebek buta pula pada syaikh-syaikhnya. Saya jadi merasa saya sudah dibodoh-bodohi.😛 Makanya saya tanyakan; kalau skeptis pada sains berani, mengapa pada doktrin tidak?🙂

    BTW kenapa dengan kata kaffah?:mrgreen:

    @ joyo (males login)

    Hohoho! Saya juga mengira begitu. Makanya saya dulu menulis kalau agama itu cuma perkara surga neraka.😀

  5. *lirik komen alex*
    Tuhan bisa sama dengan Babi bunting???? mungkin akibat pencitraan manusia itu sendiri… (oh saya lupa ternyata ada keterangan di sana)

    mantap Ged! tulisan yang bisa buat aku berpikir dua kali atau bahkan lebih untuk mendefinisikan kaffah …

  6. Wooo gak bisa bung!! agama itu beda ma sains!! agama itu datang dari langit!! sains datang dari manusia!! agama masalah hati!! sains masalah bukti!! jangan campur adukkan!! salah kaprah anda!!

    Titik gak pake koma!!

    cuma mau ngomong gitu, dari pada di duluin ma yang lain😆

  7. @ Mr.El-Adani

    Makasih, masbro. BTW masbro ini blognya di mana, ya?🙂

    @ Suluh

    Yayayaya, saya juga kadang mengharapkan komentar seperti itu. Seru soalnya.😆

  8. @ Mr.El-Adani

    Buset?!😯

    Wakakakaka… nanti jangan sampe beredar lagi di kampus ada mahasiswa dimurtadkan oknum kiri lho, Bal. Udah kenyang aku makan laknat begitu itu.

    Ndak ada rame lagi yang mau pecahin botol vs golok kaya taon dulu loh, Bal. Mau bikin lagi, he?😆

    @ Geddoe

    Yup… Saya sendiri mendukung teori-teori ilmiah dan tidak menyukai hukum-hukum puritan, namun ya berusaha supaya tetap berpikiran terbuka.

    Saya sendiri menyukai pembelajaran sains kontemporer, Ged. Setidaknya karena basic saya juga di bidang itu. Di fisika. Dalam artian, saya mempelajari, bukan menelan mentah-mentah atau menolak mentah-mentah.

    Masalahnya terkadang orang yang menolak teori yang ilmiah ini membebek buta pula pada syaikh-syaikhnya. Saya jadi merasa saya sudah dibodoh-bodohi.

    Dibodoh-bodohi?
    Bisa dimengerti. Dalam hal lain saya sendiri bukan tidak jadi korban dibodoh-bodohi karena teori dan wacana yang berbeda. Ndak sains saja, Ged. Karena saya cenderung aktif di bidang sosial, bicara konsep ideologi saja misalnya. Antara sosialisme Islam vs Kekhalifahan yang bersandar pada legenda negara Madinah itu. Susah sekali beradu argumen dan menyadarkan bahwa ini bukan zaman dimana perang berlangsung berhadapan di padang terbuka lagi😆

    Ya. Perasaan itu lebih mengganggu daripada dikafir-kafiri. Been there done that:mrgreen:

    Makanya saya tanyakan; kalau skeptis pada sains berani, mengapa pada doktrin tidak?

    Nah… utk ini mungkin saya berbeda. Doktrin dari ulama saya masih mempertanyakan. Tapi tentang ikrar seperti tauhid yang urusannya keimanan dengan Tuhan, bisa disebut saya dalam posisi pause saat ini. Ada yang lebih fokus untuk dibumikan lebih dahulu konsepnya daripada sekedar atribut ketuhanan. Kalo kata Ali bin Abi Thalib sih (anggap saja seperti saya kutip Garcia Lorca ini), “Antara kefakiran dan ular, bunuh kemiskinan terlebih dulu.”

    Dalam artian, urusan sosial – IMHO – mesti diberesi dulu sebelum menanjak pada urusan ilahiah. Karena dua borok bernama miskin dan bodoh itu pada akhirnya cuma menghasilkan umat yang ikut-ikutan. Umat yang menebus kekesalan atas miskin dan bodoh karena miskin itu pada perjuangan yang dilabel jihad termasuk dalam hal wacana😀

    BTW kenapa dengan kata kaffah?

    ….

    Kata itu absurd sekali. Mengingatkan ambiguitas kaffah di syariat Islam di sini.😆

    Beneran lho, bagi saya kaffah = konsisten. Dan tetap saya percaya, tidak ada yang lebih konsisten selain orang yang sudah mati.

    Apakah seorang Nietzsche yang cerdas dan membunuh Tuhan dengan sosok manusia supernya namun kemudian goyah dan diam-diam tetap membutuhkan pengisi kekosongan di hati ataukah agamawan yang cerdas dalam doktrin ketaatan tapi tetap buka surfing bokep di warnet, kekonsistenan 100% itu tidak ada:mrgreen:

    *jadi ngakak sendiri ingat langganan jadi khatib kepergok flesdisnya berisi bokep di rental teman*😆😆

  9. Secara keseluruhan, begitu. Jangan setengah-setengah. Kesannya anda itu main-main, tidak serius, dan tidak menghargai.

    [curhat mode]

    Mengutip dengan sedikit tidak sama (tapi esensinya mirip) dengan omongannya mas Catshade,

    “Apa? Big Bang? Ooh, itu sudah pernah dibicarakan di kitab agama saya lho. Coba lihat ayat ini…”

    “Kegelapan tiga lapis rahim itu sudah dijelaskan jauh sebelum ilmuwan modern mengakuinya!”

    “Gejala alam X ini menunjukkan kebesaran Tuhan. Lihat betapa rapinya Dia menciptakan…”

    Dan orang-orang yang sama menyatakan menolak evolusi dengan alasan2 “membunuh Tuhan”, “manusia asalnya dari monyet”, dan lain sebagainya. Padahal baca buku evolusi pun belum pernah selain dari yang mengkritiknya (i.e. HY and company). >_>

    Belajar evolusi kok dari yang kontra. Belajar Kristen kok dari buku menolak Kristen.

    Capek-capek saya mbahas kompromi a la theistic-evo, falsifiabilitas, sains bebas-nilai, dan menjelaskan bahwa Evolusi tak pernah benar-benar bisa slaying God — tapi teteeeep aja banyak dari mereka yang membigotkan™ diri. Jengkel saya.😐

    [/curhatMode]

  10. @ alex®

    Kok jadi panjang sekali?😆

    Saya juga bingung mau merespon apa, secara garis besar ya saya sependapat, soalnya.🙂

    BTW, sampaikan salam saya pada khatib itu.😆

    @ sora9n

    Yup. Been there, done that.🙂 Kesan “memperkosa” sains; tidak konsisten (kaffah™) dalam bersains. Tapi, bukankah semuanya sesuai dengan hipotesis yang pernah kita diskusikan?😛

    Masalahnya tidak sekompleks itu; pada dasarnya sederhana saja. Masyarakat cenderung enggan mengubah tatanan sosial dan intelektual yang ada.

    Itu sebabnya teori geosentris bisa diterima sedangkan teori evolusi tidak (BTW, heliosentrisme itu juga teori, lho. Begitu pula bumi berwujud bulat. Itulah sebegitu kuatnya posisi teori dalam sains). Sebab heliosentrisme tidak mengubah tatanan masyarakat yang ada.😛

    @ fall in love

    Siapa yang hidup lagi?🙂

  11. @ sora

    Dan orang-orang yang sama menyatakan menolak evolusi dengan alasan2 “membunuh Tuhan”, “manusia asalnya dari monyet”, dan lain sebagainya. Padahal baca buku evolusi pun belum pernah selain dari yang mengkritiknya (i.e. HY and company).

    Ada sekte dalam teori evolusi atau sebut saja ekses dari teori evolusi yang akhirnya “digunakan untuk membunuh Tuhan” itu merupakan fakta juga sebenarnya, Bro.

    Persepsi yang jadi masalahnya di sini. Karena di kalangan umum, yang mencuat itu adalah pandangan evolusi yang diboncengi ideologi, katakan saja sejenis Marxisme-Leninisme yang menihilkan agama, dan pada poin tertentu (dipandang) menihilkan keberadaan Tuhan.

    AFAIK, Darwin sendiri bukan seorang atheis, melainkan penganut Kristiani hingga kemudian menjadi agnostik. Jadi argumen membunuh Tuhan jika diarahkan pada seluruh konsep evolusi, memiliki celah kesalahan, memang.

    Saya sendiri tertarik dengan pandangan Darwin

    Darwin deliberated about the Christian meaning of mortality and came to think that the religious instinct had evolved with society.

    Apa yang ‘dibunuh’ olehnya melalui pernyataan itu adalah makna mortalitas dalam agama, bukan Tuhan itu sendiri.
    Sayangnya, ada dari kalangan pendukung teori evolusi, dan ini yang lebih mencuat di kalangan umum, MENAFIKAN Tuhan. Kita masih bisa menyepakati tentang evolusi-theistik, tapi seberapa banyak pandangan begini menyebar? Ini yang jadi masalah.

    Saya sendiri tidak memiliki keberatan kalo memang Tuhan campur tangan dan memilih jalur perkembangbiakan manusia memiliki akar yang sama dengan monyet. Itu urusannya Dia😆

    Yang mestinya dikritik itu keduanya, ya yang menolak evolusi secara total dan yang membawa evolusi untuk membumi-hanguskan agama dan kepercayaan secara total pula. Too bad, pangsa pasar begitu itu justru dimonopoli oleh Mr. Adnan Oktar tersebut selama ini, bukan? Ini yang saya sendiri kadang2 miris. Satu golongan mengorganisir begitu bagus pandangannya sehingga bisa menjadi hero bagi banyak orang, namun yang memiliki pandangan evolusi yang lebih masuk akal – maaf lho ini – cenderung lebih suka berdiskusi secara akademis dan lupa mengorganisir penyebaran pandangan ini. Benar tidak?😉

    Capek-capek saya mbahas kompromi a la theistic-evo, falsifiabilitas, sains bebas-nilai, dan menjelaskan bahwa Evolusi tak pernah benar-benar bisa slaying God — tapi teteeeep aja banyak dari mereka yang membigotkan™ diri. Jengkel saya.😐

    😆

    Saya termasuk yang akan mem-bigotkan™ diri lho, jika teori evolusi dengan menisbikan Tuhan itu dicecarkan terus-menerus. Karena saya memiliki pemahaman bahwa evolusi itu pun tidak lepas dari campur tangan Tuhan.:mrgreen:

    Tapi, kembali lagi: evolusi-theistik itu belum menyebar luas, Sora. Udah kadung dipotong pasaran oleh sindikat Tuan Oktar itu, misalnya. Belum lagi ramuan dalil-dalil yang kemudian diracik oleh pemuka agama yang memandang bahwa umat lebih baik dibuat tetap bodoh.😆

    Sing sabar… ada jalannya masing-masing, ada zamannya masing-masing bakal dapat pencerahan😀

    @ Geddoe

    Sori, kepanjangan. Sekalian curcol juga soalnya mumpung belum hengkang dari WP😛

    Masalahnya tidak sekompleks itu; pada dasarnya sederhana saja. Masyarakat cenderung enggan mengubah tatanan sosial dan intelektual yang ada.

    Zona kenyamanan yang sudah terbentuk? Itu memang jadi masalah dalam hal apapun, Ged. Bukan sains saja. Hampir semua.

    Coba deh, dalam kondisi hari ini saja. Jika ide seperti Bazaar dan Cathedral diterapkan dalam ekonomi yang sekarang berlaku. Siapa yang akan merasa terusik? Yang sudah mapan juga. Tak terkecuali masyarakat yang merasa “Sudahlah… ini pun sudah lebih dari cukup”.

    Menjadi evangelis merupakan hak masing-masing. Apakah Sora dengn evolusi-theistiknya, Geddoe dengan sekuler-toleransi dan saya dengan ideologi sendiri. Tapi mayoritas umat dipegang dibawah kendali kejumudan yang seakan sudah menjadi kenyamanan sendiri bagi mereka.

    Menyalahkan mereka cuma akan membuat mereka reaktif, baik maju atau malah lari. Mungkin cara terbaik ya menyebarluaskan seluas mungkin kesadaran begitu, kalo perlu kepala-kepala para gembongnya itu yang di-hujjahkan lebih dulu.

    Dan untuk itu, bukan hal sederhana lho Ged. Butuh waktu dan butuh – suka tidak suka ini – bargaining kekuasaan😆

    Ya. Antara geosentris dan evolusi memiliki efek yang berbeda. Yang satu mungkin cuma merubah navigasi pelayaran, yang satu lagi bisa merubah navigasi sosial yang pada akhirnya menuntut tumbal kehidupan sosial juga. Ini sebabnya tidak banyak yang mau menerima ide-ide yang akan mencabut perasaan nyaman itu lho, Ged.🙂

  12. Waduh… lupa nutup quote-nya itu😦

    Betewe, baru nyadar saya ada kategori sosio-politik di sini:mrgreen:

  13. @ Kopral Geddoe

    Tapi, bukankah semuanya sesuai dengan hipotesis yang pernah kita diskusikan?😛

    Yeah, I know that. Makanya saya kasih tag [curhat mode] di atas sono. ^^V

    Masalahnya tidak sekompleks itu; pada dasarnya sederhana saja. Masyarakat cenderung enggan mengubah tatanan sosial dan intelektual yang ada.

    Natural, IMO. Oh well.😆

    Itu sebabnya teori geosentris bisa diterima sedangkan teori evolusi tidak (BTW, geosentrisme itu juga teori, lho. Begitu pula bumi berwujud bulat. Itulah sebegitu kuatnya posisi teori dalam sains). Sebab geosentrisme tidak mengubah tatanan masyarakat yang ada.😛

    Umm… “heliosentris”?😕 *curiga salah ketik*

    IMHO, kekhawatiran untuk mengubah tatanan masyarakat memang berperan besar. Tapi itu bukan harga mati…

    Mungkin bisa kita bayangkan:

    Seandainya seluruh dunia percaya pada flat-earth.

    Kemudian sebuah lembaga X mencoba melakukan penelitian. Bikin roket, foto bumi dari angkasa. Atau, kalau tidak, mengadakan perjalanan keliling samudra seperti Magelhans.

    Ternyata didapat bukti kuat, cold-hard evidence bahwa bumi berbentuk bulat dan tidak flat.

    Masyarakat pun, mau tak mau, terpaksa mengkaji ulang kepercayaan mereka selama ini.

    Konformitas memang tak bisa diabaikan di sini. Meskipun begitu, saya nggak yakin… bahwa manusia mau sengotot itu melakukan self-deception dalam kasus di atas.:mrgreen:

    well, mengecualikan aktivitas misinformasi dan pseudosains-berkedok-religius sih. Tapi itu cerita lain untuk saat ini.😉

  14. @ alex®

    Ada sekte dalam teori evolusi atau sebut saja ekses dari teori evolusi yang akhirnya “digunakan untuk membunuh Tuhan” itu merupakan fakta juga sebenarnya, Bro.

    Ya, memang kalau diambil ekstrimnya, ada kelompok yang kayak begitu. Sebagaimana mereka yang religius-zealot menyatakan bahwa “evolusi sama sekali tidak terjadi”. ^^

    Meskipun begitu, seperti yang sudah pernah saya tulis di postingan blog saya tempo dulu, itu adalah sains yang ‘diboncengi’ nilai oleh manusia. Atau ideologi, seperti mas Alex bilang.🙄 Padahal kalau mau diambil dasarnya banget, intinya nggak lebih dari:

    “This doesn’t prove that God doesn’t exist. Only that God is not necessary.”

    –Stephen Hawking

    Yang terjadi milyaran tahun lalu mustahil diverifikasi. Entah itu penciptaan oleh Tuhan, penyebaran bibit oleh alien, by-chance ala evolusi… atau malah manusia dari masa depan yang meletakkan bakal kehidupan di masa lalu!:mrgreen:

    Yang ribut, tentunya pihak-pihak yang ingin memaksakan “mesti ini yang benar!™”. Evolusi cuma salah satu penjelasan saja kok diantara yang banyak itu… dan itu pun belum tentu benar.😉

    Yang mestinya dikritik itu keduanya, ya yang menolak evolusi secara total dan yang membawa evolusi untuk membumi-hanguskan agama dan kepercayaan secara total pula.

    Nah!😀

  15. Misalnya Ged, selama ini saya berdoa, dan apa yang saya doakan itu sepertinya terkabul. Entah kebetulan atau tidak, saya tidak punya teorin dan bukti sahihnya. Hanya saja, saya mengalaminya sendiri. Untuk itu saya percaya point agama yang menyatakan Tuhan selalu mengabulkan doa, kita hanya perlu meminta dengan benar.

    Apakah saya termasuk orang yang tidak berpikir?

    maaf kalau sepertinya lepas dari inti posting, tapi yang terpikirkan ya itu, karena keyakinan agama sepertinya memang bisa dari beragam versi, mulai dari keyakinan yang berawal dari pertimbangan logika hingga keajaiban

  16. @ alex®

    Yup, Darwin sendiri adalah seorang agnostik. Sama dengan ilmuwan-ilmuwan seperti Einstein, Hawking, bahkan Dawkins. Menyoal penolakan terhadap teori evolusi itu sendiri, memang lebih kepada konservatisme intelektual ketimbang kritik akademis.

    Setahu saya kitab suci sendiri selama ini banyak dicerna secara metafora, bukan? Buktinya banyak yang mengklaim bukti-bukti astronomis seperti bentuk geometris bumi ada disebutkan di dalamnya. Dengan tafsir metaforik, tentunya.

    Padahal tentunya sangat gampang menerima teori evolusi kalau Tuhan memang maha kuasa. Berarti ini adalah kekuasaannya.:mrgreen:

    Serta, konservatisme intelektual itu sendiri memang sangat luas cakupannya. Tidak hanya perkara sains-agama, juga pada ide-ide liberalisme sosial, misalnya.🙂 Ini terlihat dari bagaimana beberapa waktu lalu banyak yang rela membunuh kebebasan informasi hanya karena ingin mempatroli situs-situs selangkangan.😀

    *) BTW, komennya sudah saya edit.😉

    @ sora9n

    Teori evolusi mengalami kesulitan yang lebih tinggi sebab orang awam seringkali termakan fallacy “saya tidak melihat buktinya”. Tidak seperti bentuk bumi yang seperti bola (“bulat pepat™”), cold hard evidence teori evolusi tidak bisa diabadikan dalam sesuatu bukti yang ‘jelas tanpa perlu berpikir’ seperti foto.

    Misalnya, orang-orang yang cuap-cuap bahwa “spesies ini sudah berjuta-juta tahun tidak berubah… bla bla bla, saya baca di Harun Yahya… bla bla bla…”, seringkali mengabaikan fakta seperti; pisang di pedalaman berbeda bentuknya dengan pisang di pasar, binatang seperti poodle dapat dengan mudah dihybrid, .atau bahkan eksistensi hal seperti bakteri kebal antibiotik. Conveniently dismissing much evidence, aren’t we.🙄

    Seperti anekdot klasik;

    “Saya menolak untuk percaya bahwa rumput di halaman saya itu bertambah panjang. Bayangkan, rumput itu bertambah panjang dengan sendirinya. Tidak masuk akal! Maka saya perhatikan dan perhatikan terus rumput-rumput itu setiap hari. Tidak ada perubahan! Ya memang sekali beberapa minggu saya mesti potong rumput, tapi tetap saya tidak melihatnya sendiri!”

    😆

    *) BTW lagi, komennya sudah saya betulkan. Makasih sudah mengkoreksi.🙂

    @ ManusiaSuper

    Tergantung, masbro. Tidak berpikir ya tidak mungkin, ‘kan menarik kesimpulan seperti di contoh itu adalah contoh metode induksi.😀 Tentu ada tapinya. Bukti yang ada hanya cukup untuk diri sendiri, memang aplikasinya rasanya sah-sah saja dipakai untuk diri sendiri. Tapi tentu kalau hendak dipromosikan ke orang lain, perlu bukti yang lebih universal.🙂

    Misalnya nanti mas bertemu orang yang berpendapat sebaliknya. Katanya dia selalu berdoa, tapi tidak pernah mustajab. Lalu dia mengklaim bahwa Tuhan tidak pernah mengabulkan doa. Lalu dia mempromosikan kepercayaannya pada mas. Tentunya tidak cukup rasanya untuk langsung mempercayai dia, kalau buktinya hanya dari dirinya sendiri. Kalau menurut keyakinan masbro, bisa saja cara mintanya salah. Betul?😀

    Itu namanya witness argument BTW.🙂

    Mirip-mirip film-film silat. “Setiap orang mesti mencari jawabannya sendiri”.:mrgreen: *apa nyambung, ya?*

  17. Teori evolusi mengalami kesulitan yang lebih tinggi sebab orang awam seringkali termakan fallacy “saya tidak melihat buktinya”. Tidak seperti bentuk bumi yang seperti bola (”bulat pepat™”), cold hard evidence teori evolusi tidak bisa diabadikan dalam sesuatu bukti yang ‘jelas tanpa perlu berpikir’ seperti foto.

    Makanya, itu.:mrgreen:

    Konformitas jadi faktor besar di sini karena daerahnya relatif masih “abu-abu”. Dalam kasus udah tersedia cold-hard fact, masalah konformitas ini akan cenderung terminimalisir. IMHO, CMIIW. (o_0)”\

  18. Yup, selanjutnya tentu yang dilakukan adalah membesar-besarkan pandangan berlawanan, dan konon memunculkan ilusi bahwa teori evolusi ini posisinya lebih lemah daripada posisi sebenarnya.😕

    BTW, setelah teori evolusi sudah diterima masyarakat, entah kenapa saya yakin bahwa “ternyata kitab suci sudah memprediksikannya”.:mrgreen:

  19. @ Geddoe

    Setahu saya kitab suci sendiri selama ini banyak dicerna secara metafora, bukan? Buktinya banyak yang mengklaim bukti-bukti astronomis seperti bentuk geometris bumi ada disebutkan di dalamnya. Dengan tafsir metaforik, tentunya.

    Ya, memang. Cuma kelemahannya, dan yang nggak saya sukai itu, kemalasan untuk ‘sedikit berani bereksperimen’. Jadinya, pembuktian yang dilakukan oleh “umat lain” dijarah utk menjadi argumen pembenaran “umat lain” pula. Ini yang saya ndak setuju. Belum lagi benturan antara yang konvesional dengan yang moderat dalam mendefinisikan tafsiran metaforik itu sendiri.

    Padahal tentunya sangat gampang menerima teori evolusi kalau Tuhan memang maha kuasa. Berarti ini adalah kekuasaannya.:mrgreen:

    Karena kemahakuasaan yang saya yakini itulah maka saya enggan menolak secara frontal satu teori. Semuanya cuma kemungkinan dengan persentase kebenaran yang relatif jadinya😆

    @ dana
    😆

    Karena persepsi kaffah yang berbeda-beda itulah maka menyeragamkan pemikiran sampai saat ini masih (dan selamanya akan MASIH) menjadi utopia belaka😆

    Bukankah persepsi dan argumentasi yang berbeda-beda yang membuat gairah untuk memperdebatkan satu ide, satu konsep, satu teori itu menjadi lebih merangsang? Bagaimana kalo suatu saat semuanya terdefinisikan dan disepakati sebagai kebenaran mutlak? Semua akan jadi monoton dan wordpress akan berisi BOTD yang dikutuki keseragamannya itu😆

    *putar mp3 siul2*:mrgreen:

  20. @alex

    Iya juga sih. Jadi ternyata memang ketidakberagaman itu ternyata ada gunanya juga. Dan keinginan untuk menyeragamkan juga ada gunanya. Gunanya yaitu tadi, buat di adu argumentasinya. Syukur-syukur banyak hikmah yang dapat dipetik.

  21. Terkait dengan postingan:

    Yah, saya juga kadang gemes kepada orang yang seolah tidak berani mengkritisi pendapat para ulama. Tapi jika saya paksakan untuk dia berani mengkritisi para ulama, bukankah hal itu juga salah ya?

    *bingung*

  22. Memakan mentah-mentah suatu subjek (entah sains, agama, filosofi, doktrin politik) sepertinya adalah kesalahan manusia yang terus terulang. Metode ini tidak reliable. Jadi kita harus bergantung pada apa?

    Common sense: yang mentah dimasak dulu. Tapi seberapa reliable sih common sense itu? Apa bisa dilatih seperti belajar masak?😀

  23. *nggak pokus*

    Hmmmm… apakah saya perlu memotret 2 buku karya Darwin dan ditampilin di blog ya ? Sekalian dengan halaman-halaman robek karena sering dibolak-balik secara brutal.:mrgreen:

    Memang nggak membuktikan apa-apa, tapi setidaknya saya bisa menjadi fanatik dgn mengatakan, “heh, saya kan sudah baca bukunya Darwin. Dan ini ada beberapa ‘ayat’ dimana Darwin membunuh Tuhan, menyamakan manusia dengan monyet, menegasikan kisah penciptaan, dll”.😆

    *sambil memelintir ayat-ayat Darwin*
    *memangnya cuma kitab suci saja yang bisa dipelintir ayat-ayatnya ?*😆

    Saya skeptis terhadap semua hal. Terhadap diri sendiri saya juga skeptis. Apalagi terhadap yang punya blog ini.:mrgreen:

    Komen soal tulisan ntar aja nyusul….

  24. Lalu pak Kopral,
    apakah post ini mendukung makna bahwa kaffah adalah sekedar memasukkan unsur yang dikaffahkan itu (misal agama) ke setiap bagian yg harus diliputinya (misal segala aspek di kehidupan) ?

    Saya juga seakan menangkap hal lain bahwa pak Kopral seperti hendak “mendekatkan” makna kaffah ke sekedar istilah konsistensi saja.
    Apa saya salah tangkap ya ?😆


    Sorry yg ini OOT :
    Mungkin karena cukup lama gak nulis di blog, sepertinya postingan pak Kopral kali ini penjabarannya tidak seperti biasa. Kualat hiatus kali. He he… ma’af sok tahu. Baru penilaian sekilas saja. Soalnya sistematika penjabaran gagasan di blog ini sering bagus.
    Kali ini kurang. Ho ho ho… kok kayak komentar juri di Indonesian IDOL aja.😉

Comments are closed.