Goblok Teriak Goblok

Di kamar saya, ada TV.
Saya bosan.
TV saya nyalakan.
Klik.
Nyala.
HBO.

Oh, mungkin belum saatnya saya berpuisi lagi.πŸ˜†

Ahem. Nah, beberapa menit saja sebelum entry ini ditulis, film See No Evil ditayangkan di HBO. Sebuah film horor yang stereotip; menyajikan keberingasan seekor psikopat yang hobi membunuh akibat alasan traumatik. Kebetulan yang memerankan psikopat tersebut adalah tukang gebuk tersohor dari dagelan gulat WWE, Kane.

Apakah film ini bagus? Ya itu tergantung anda juga, bagi saya sih biasa-biasa saja. Cenderung jelek, malah.πŸ˜€ Saya saja nggak nonton sampai habis. Lha wong disambi internetan, je. Yang menarik adalah apa yang saya lakukan setelah menonton film itu, walaupun sebentar.

Apakah itu? Tentunya membuka RottenTomatoes-nya. Responnya ternyata sangat jelek; overall critics review-nya cuma seberat 7%. Nista, hina, dan nestapa.

*seruput teh hijau*

Walau saya sendiri nggak terlalu suka dengan film yang disebut, saya sempatkan untuk membuka-buka diskusi pada message board yang disediakan. Ternyata beberapa penonton ada yang memihak pada film bernilai tujuh persen ini.

evil23ky: it was a great movie friday the 13th and halloween could’t add up to this movie see no evil was the best horror film i have ever. usually when the critics say that a movie or any thing is bad more people will go see it. i dont care what they say it is the peoples say how the movies is.

i just hope they make a 2nd see no evil

Sebuah remark yang biasa. Tentunya seni adalah masalah selera. Siapapun boleh suka atau nggak suka. Tapi tunggu dulu, kemudian muncullah seorang member lain, menanggapi komentar si malang evil23ky;

alarson37: Several things to point out

1) It’s called a Shift key. It makes capital letters (the ones that are bigger than the other letters). Try using it sometime.

2) My cat has better grammer skills.

3) Yes, I did go see See No Evil on Friday, so I can tell you what I thought of the film. The 1st half (before the killing starts) seemed to take twice as long as it did, and was 3 times longer than necessary. It was a mess in terms of dialogue, and the scenes seemed to be shown in the wrong order, if they were trying to set up anything about the characters. The 2nd half of the film was at least somewhat interesting, in the manner of how the kids were removed from the plot (but how many times do you need to show someone’s eyes being removed? We’ll accept it as done after the 3rd time so you can do something else).

4) Considering he was dead enough to have a dog urinate on him, I don’t think there will be a sequal.

“2) My cat has better grammer skills.”πŸ˜† That was golden. Why don’t you look up at a dictionary and try to find out whether the word ‘grammer’ actually means something you were referring to? And don’t worry. There won’t be any sequals. Though I’m not sure what a sequal is. Perhaps you mean sequel?

*seruput teh hijau*

Goblok 1: Internet Bums
Saya sendiri, sejak dulu kurang sepaham dengan RottenTomatoes dan konco-konconya. Atau makhluk-makhluk sejenis. Saya kira seni adalah suatu yang sangat subyektif; terlalu naif untuk mencoba memonopoli penilaian. Seperti yang di kemukakan Shakespeare, di dunia ini nggak ada yang jelek atau bagus, semuanya adalah persepsi. Anehnya kritisi-kritisi yang nggak etis seperti ini makin lama makin dianggap keren oleh publik. Suatu sentimen yang cupet dan megalomaniak— atau kalau pakai istilah seorang Kopral Geddoe; aesthetical bigotry.

Dan itu ada di mana saja. Di segala bidang. Kritik seringkali terlalu dibesar-besarkan, terdapat kesengajaan untuk menembus batas proporsi tanpa motif yang jelas. Sebuah intuisi senikah? Saya melihatnya sebagai nggak lebih dari kesenangan sadomasokhis yang didapat dari merasa bebas menghujat… and get away with it.πŸ˜› Selain itu, terlihat ada upaya egois untuk menginstitusikan sebuah opini, membentuk sebuah lembaga yang opininya (ingin dianggap) lebih autoritatif dari opini-opini lain. Ambisi untuk menjajah sebuah kultur.

Semuanya kena getahnya; film, musik, seni rupa, kuliner, semuanya. Semuanya berusaha mengobyektifkan yang subyektif. Oleh sebab itu saya nggak suka dengan yang namanya 100 Greatest Artist of All Time, atau konsep-konsep sejenis. Siapa yang menentukan? Pakar? Pakar apa? Nggak ada kepakaran dalam sesuatu yang subyektif. Setiap stimulus yang diterima oleh otak akan mengubah cara otak berpikir, menghasilkan penilaian yang beragam. Perubahan cara persepsi itu sendiri sama sekali bukan menuju arah yang lebih baik atau lebih buruk. Oleh sebab itu ‘kepakaran’ itu nggak bermakna apa-apa.

Tapi jangan salah, ada beberapa kualitas yang memang dapat dinilai secara (mendekati) obyektif. Misalnya, kualitas animasi pada film, profisiensi permainan dan kompleksitas lirik dalam musik, atau detail dalam seni rupa. Namun saya rasa secara keseluruhan, terlalu banyak subyektivitas dalam menilai sebuah karya seni. Oleh sebab itu, respek saya kira sangat esensial. Ini yang membuat saya sedikit kesal; adanya kecenderungan untuk sok jual mahal dan merendahkan respek atas nama ‘cita rasa seni’. Buat saya itu telek kebo, yang ada cuma arogansi semu.πŸ˜†

Naah, rasa gemas itu biasanya semakin menjadi-jadi apabila mengunjungi sarang-sarang troll seni. Misalnya, Last.fm (untuk musik), RottenTomatoes (untuk film), atau YouTube (untuk semuanya). Contohnya ya seperti baginda alarson37 di atas. Preman-preman net yang asal nyablak, kadang nge-leet, kasar, dan nggak menebar respek sama sekali. Bisa dibilang sisi gelap kebebasan informasi, di mana semua orang (yang nggak semuanya beradab) punya hak bicara yang sama. Lha, selera kok diperdebatkan. Mana bisa ketemu? Kalau masih diperdebatkan, mungkin kita masih punya bakat goblok…?

Goblok 2: Goblok Itself
Btw, iseng-iseng, saya buka halaman goblok di Wikipedia Indonesia. Masih berupa stub. Akan saya kutip untuk anda-anda semua;

Goblok adalah sebuah kata yg artinya Bodoh atau Tolol. Biasanya dipergunakan sebagai ekspresi kemarahan terhadap kebodohan/ketololan seseorang dengan sangat. Contoh: “Goblok lu!!, gitu aja gak bisa”.

Walaupun demikian, penggunaan kata ini lebih menunjukkan ketidak mampuan orang yang mengatakannya akibat tidak dapat mengendalikan emosinya.

*diakses 15 November 2007, 1:16 UTC+8*

Err, kayaknya itu artikel perlu diurus, deh. Kayaknya ‘nggak ensiklopedia’, tuh. Terutama kalimat penutupnya.

Goblok 3 (update): Saya Goblok
Karena setelah dipikir-pikir, tulisan ini sedikit sekali hubungannya dengan konsep goblok.😦
(Mungkin karena saya terpesona dengan takaran goblok a la ‘sok nggak goblok’-nya baginda alarson37 itu…)

Sekian dan terima kasih.πŸ˜›

In God We Trust. RosenQueen, company.

99 thoughts on “Goblok Teriak Goblok

  1. memang biasanya orang goblok tuh gak ngerasa dirinya gobok. mungkin karena kegoblokannya jadi dia gak tahu gimana itu goblok. DASAR GOBLOK!!!

  2. Lha, selera kok diperdebatkan. Mana bisa ketemu? Kalau masih diperdebatkan, mungkin kita masih punya bakat goblok…?

    Benar SobatπŸ˜€
    Tak pernah ada kacamata yang sama untuk selera ini.
    dan Jujur Goblog itu adalah bakat, yang bersimaharajalela ada ga kata ini? meski laten, dalam diri saya terutama:mrgreen:

  3. Orang yang mengaku pintar terkadang malah tidak pintar. Sebaliknya, orang yang pintar justru merasa tidak pintar sama sekali.



    *Merenungi komentar sendiri*

  4. *ngakak baca komen alarson37*

    Keren amat ceramahnya sampai ndak sadar bikin kesalahan.πŸ˜†

    Yeaaa, tergantung persepsi, ndak ada yang absolut to’?πŸ˜›

  5. @ dodo
    Hohoho! Jangan-jangan semua orang di dunia ini goblok?πŸ˜†

    @ kunderemp an-narkaulipsiy
    Nggak, kok. Aselinya begitu. Sumfah.πŸ˜›

    @ goop
    Betul, paman. Makanya saya nggak suka kalau ada institusi yang sok menjadikan opininya lebih ‘sah’ dari orang kebanyakan.πŸ˜€

    @ Jabizri
    Goblok itu ‘kan macam-macam. Nah, kalau gobloknya tipe asal nyablak dan merugikan orang lain, itu yang patut diberantas.:mrgreen:

    @ p4ndu_454kura
    Nggak selamanya, lho. Mr. Mourinho cukup jumawa dengan kejeniusannya, tuh.πŸ˜›

    @ rozenesia
    Iya, tapi tetap, itu komen baginda alarson 37 bikin ketawa miris.πŸ˜†

  6. Pertama, sok ceramah kudu pakai tata cara EYD ala enggres segala.πŸ˜†

    Kedua, eh, nyambung ke kucing. Ini beneran, boss? Piye to Jhon?πŸ˜†

    BTW, yang komen ini juga goblok kalau dilihat dari beberapa persepsi.πŸ˜†

  7. 2) My cat has better grammer skills.

    Kayaknya dia lupa nulis ini :

    even better than me.
    πŸ˜†

    Goblok ya… :think:

    Sudah jadi catch phrase ku tuh.

  8. Hmm… ada niat ngumpulin definisi ‘Gobly’ dari bermacam-macam manusia? *grins*

    Gw nyebut ‘goblok’ things seringnya jadi ‘gobly’. Arti sama tapi terdengar lebih asing.

  9. Nggak niat, mbak. Males.πŸ˜†

    Masalah goblok… Nggak tahu juga, saya jarang ngatain orang goblok, sih. Kalaupun mau nyerang, biasanya pakai ironi supaya lebih nancep (yang ini lebih imoral lagi).:mrgreen:

  10. lah “goblok” juga kan karya seni mas..,
    goblok juga kan masalah selera to mas..
    lha masak saya selera ama yang goblok-goblok kok enggak boleh…
    *yang enggak mbolehin ya siapa ya..*
    salam kenal…

  11. Jadi inget, dulu waktu saya baru gabung di situs anime-art yang saya jadi anggotanya. Waktu itu, di policy-nya ada tulisan kayak begini:

    All wallpapers must meet a certain degree of quality, to be unconditionally determined by the moderators. As such, wallpapers such as those that are overly simplistic, in black or white, are “filter-whore” works, or use screen shots are not permitted for submission.

    Tentu saja, kata yang dicetak tebal itu harus ada — karena standar kualitas karya seni sendiri sangat bervariasi untuk setiap orang.πŸ˜€

    BTW, sekarang kalimatnya udah dimodifikasi, sih. (o_0)”\

  12. Karena setelah dipikir-pikir, tulisan ini sedikit sekali hubungannya dengan konsep goblok.😦

    Makanya, ente itu goblok™…:mrgreen:

    *langsung kabur secepat kilat*

  13. @ wulan
    Yah, seperti yang saya bilang, ada kalanya goblok itu nggak sehat. Misalnya goblok yang menggoblokkan.πŸ˜›

    Salam.πŸ™‚

    @ sora9n
    Sekarang jadi seperti apa?πŸ˜›

    *tabur garam*😐

  14. @ Kopral Geddoe

    Sekarang sih jadi kayak gini:

    moderators reserve the right to delete any submission of low quality, even if these submissions otherwise conform to the Policy.

    Aroma subyektivitasnya masih ada sih, tapi kayaknya lebih to the point yang dulu (IMO). (o_0)”\

    *tabur garam*😐

    Eeh, ini karena saya hetrik, atau karena isi komen saya yang kedua nih?:mrgreen:

  15. @ Abu Onta Al-Laknatullahhallalantayyiban
    Apa-apaan usernamemu?😯

    *bertobat*

    @ sora9n

    Aroma subyektivitasnya masih ada sih, tapi kayaknya lebih to the point yang dulu (IMO). (o_0)”\

    To the pointnya makin subyektif apa obyektif?πŸ˜•

    Eeh, ini karena saya hetrik, atau karena isi komen saya yang kedua nih?:mrgreen:

    *siul-siul*

  16. Bicara film horor sejenis itu, menurutku Ged, yang terbaik itu ya trilogy Saw. Bagus ceritanya, ndak melulu bunuh-bunuhan, tapi tentang menghargai hidupπŸ˜‰

    Seperti yang di kemukakan Shakespeare, di dunia ini nggak ada yang jelek atau bagus, semuanya adalah persepsi.

    Benar. Tidak ada yang jelek atau bagus dalam pengertian jelek absolut atau bagus absolut. Persepsi masing-masing yang menentukan. Dan jelas, persepsi masing-masing ini tidak boleh ada pemaksaan, apakah dengan cara menekan dengan keras atau merongrong dengan halus bahwa semua orang harus menerima.

    Walaupun demikian, penggunaan kata ini lebih menunjukkan ketidak mampuan orang yang mengatakannya akibat tidak dapat mengendalikan emosinya.

    Hehehe… meski bingung pengertian ‘nggak ensiklopedia’ itu yang gimana, tapi kalimat penutup itu memang ‘agak kurang beres’ juga di mataπŸ˜†

    Lha… ada yang ngucapin GOBLOK dengan wajah tenang dan tanpa emosi kokπŸ™„

    Preman-preman net yang asal nyablak, kadang nge-leet, kasar, dan nggak menebar respek sama sekali. Bisa dibilang sisi gelap kebebasan informasi, di mana semua orang (yang nggak semuanya beradab) punya hak bicara yang sama.

    Analogi preman bermotor di jalanan, Ged. Nggak semua pengendara motor beradab. Tapi semua pengendara motor yang punya otak pasti tahu apa yang namanya rambu dan lampu lalu-lintas. Hak bicara seperti hak berkendaraan: semua punya hak di jalan, tapi kalo nyenggol, wajar saja yang lain jadi marah atau uring-uringanπŸ˜€

  17. Wahaha, saya sering ketemu orang-orang sok pintar macam si alarson37 itu. Lebih mengesalkan lagi kalau ternyata yang ngoreksi itu orang yang pengetikannya lebih kacau daripada yang dikritik. Atau n00b sok jago dengan post banyak yang menyindir newbie dengan post sedikit yang sebenarnya lebih jago (macamnya di forum-forum modding).

    Makanya kalau saya bilang, di forum-forum itu orang cenderung menilai seseorang dari jumlah post dan avatarnya.πŸ˜›

    Soal halaman di Wikipedia Indo, memang betul masih banyak yang belum keurus. Mungkin kalau ditambah kata-kata sederhana dan sehari-hari bisa lebih lengkap. Atau istilah-istilah yang sebenarnya umum tapi masih perlu dicari artinya.
    *kesulitan waktu cari buat tugas*

  18. Walaupun seni itu masalah selera, ada titik dimana sesuatu seni itu secara objektif baik ataupun buruk.

  19. Dumbdumber
    Yang goblok yang menggoblokkan
    Keseriusan seseorang dalam menanggapi sebuah tulisan sering diwujudkan dalam ekspresi jujur spontan yang bisa jadi karena si pembaca merasa dilibatkan dan dipermainkan emosinya atau terlibat karena merasa memiliki pengetahuan yang sama (sama-sama tau ngapain ngasih tau) atau merasa lebih tahu.

    Dengan demikian, adalah wajar kalau tiba-tiba seseorang berkata menyimpulkan tentang si penulis yang ngawur bin goblok. Jujur, saya menyukai sarcasm lebih dari pada sekedar basa-basi pelembutan bahasa (euphemism) yang berujung pada pengerosian makna, semisal pelacur menjadi PSK atau penjara menjadi LP.

    Dengan tanpa mengetahui maksud si penulis, dalam hal ini kebenaran kondisinya terkait dengan apa yang telah ditulis, atau niatan penulis yang pembaca sendiri belum tentu mengetahuinya, lebih-lebih permasalahan bahasa (ambiguity) dengan tetek bengek problematika pemahaman pembaca sinergis dengan pentium berapa otaknya (daya serapnya), sebenarnya pembaca tidak kehilangan haknya untuk terus menelusuri between selected line dan bukan on line dengan cara mengkaji mencerna untuk tidak berhenti pada kesimpulan asal-asalan yang malah berkesan bodoh. Pembaca juga mustinya dapat mengendalikan ketergesaan bacaan dan kemarahan (fast n’ furious reading) atau membaca sambil berakrobat (acrobat reader) yang kemungkinan bisa jatuh terjerembab di pedalaman ketidaktahuan (forest gump).

    Man, u not stoopid enough to say something stupid (bisa diterjemahkan)
    Mas, kamu enggak bodoh-bodoh amat kan untuk bisa bilang yang sedang baca ‘goblok’
    *escape from…..

  20. @ Xaliber von Reginhild

    *kesulitan waktu cari buat tugas*

    Woii… woii…
    Ini kalimat juga nggak ensiklopedia banget lho!

    *digebuk*:mrgreen:

  21. @ Kopral Geddoe

    To the pointnya makin subyektif apa obyektif?πŸ˜•

    Maksud saya, kalimatnya mereka yang dulu lebih to the point dalam menyatakan bahwa “seni itu subyektif”… makanya batas kualitas itu harus unconditionally determined by moderators. ^^

    *siul-siul*

    ………😎

    *apa kebanggaan diri Sang Kopral baru terusik, yaa…*:mrgreen:

    [/nyinyirMode=on]

  22. WWvzet… Fanggyr Mr alarson37 byar kuzadykan fenyemfvrna EYD
    (Wuzet…. Panggil Mr alarson37 biar kujadikan penyempurna EYD)

    Wuzet Dah…. Zamane mas,Zaman Edan…. Edyan….. Geheheheehhe….

    kalau tidak si Kucingnya kita jadikan Speaker of The House (untung bukan speaker of the computer), kan “grammer”nya bagus katanya…heheehe

    Sekali lagi Wuzeet dah…..

  23. @ alex

    Bicara film horor sejenis itu, menurutku Ged, yang terbaik itu ya trilogy Saw.

    Belum pernah lihat.😦

    Dan jelas, persepsi masing-masing ini tidak boleh ada pemaksaan, apakah dengan cara menekan dengan keras atau merongrong dengan halus bahwa semua orang harus menerima.

    Yang halus itu mungkin mirip dengan hal-hal semacam rock ‘n’ roll hall of fame?πŸ˜€

    Hehehe… meski bingung pengertian β€˜nggak ensiklopedia’ itu yang gimana, tapi kalimat penutup itu memang β€˜agak kurang beres’ juga di mata πŸ˜†

    Memang itu yang saya maksudkan.πŸ˜€

    Hak bicara seperti hak berkendaraan: semua punya hak di jalan, tapi kalo nyenggol, wajar saja yang lain jadi marah atau uring-uringanπŸ˜€

    Analogi yang menarik.:mrgreen:

    @ Xaliber von Reginhild
    Benar. Apalagi kalau n00b itu banyak… Punya pangkat pula.😐

    Soal halaman di Wikipedia Indo, memang betul masih banyak yang belum keurus.

    Hehehe, sayang saya terlalu malas (dan goblok) untuk mengerjakannya.πŸ˜›

    @ Nenda Fadhilah
    Itu juga sudah saya tuliskan, bukan?πŸ™‚

    @ )x(
    *baca*

    Ah, menarik.πŸ˜€

    @ sora9n
    Ach, so…πŸ˜›

    *apa kebanggaan diri Sang Kopral baru terusik, yaa…*:mrgreen:

    Ya, kadang kalau begitu bingung juga mau respon apa. Jadinya tabur garam ™ menjadi pamungkas.:mrgreen:

    @ danalingga
    Namanya juga goblok, mas. Sukar dinasihati.πŸ˜›

    @ qzink666
    Memangnya ada yang seperti itu?πŸ˜›

    @ Magister of Chaos
    Wuuuzzzeeet juga…:mrgreen:

  24. One thing to point out:

    β€œ2) My cat has better grammer skills.β€πŸ˜† That was golden. Why don’t you look up at a dictionary and try to find out whether the word β€˜grammer’ actually means something you were referring to? And don’t worry. There won’t be any sequals. Though I’m not sure what a sequal is. Perhaps you mean sequel?

    Uh, I don’t see anything wrong with his grammar. Spelling, yes; But grammar? Why don’t you look up at a dictionary and try to find out whether the word β€˜grammar’ actually means something you were referring to?πŸ˜€

    *nitpicky mode: off*

    Soal selera dan seni, ntar komennya nyusul…>_>

  25. Oh ya, bukannya RottenTomatoes itu semacam agregator ya, jadi cuma mengumpulkan nilai2 dari reviewer2 lain, trus dirata2in. IF there’s one way to objectively measure an art’s quality, I guess that would be to ask lots and lots of people. Tentu bisa ada kritik tersendiri soal ini:
    (1) apakah bisa mengukur seni secara objektif dengan cara ini? atau paling mentok hanya sampe ‘subyektivitas massal’?
    (2) validkah? mungkin sebenarnya bukan kualitas yang diukur, tapi penerimaan/selera publik (which can render all indie music/film out there as ‘crap’)
    (3) Kalaupun itu memang selera publik, sahkah itu bila ditetapkan sebagai standar kualitas? ‘Objektif’kah? Kalaupun ya, apakah selera publik yang terdidik soal film atau berkecimpung di dalamnya (misal: profesor jurusan film, sejarawan film, pekerja film) bisa lebih ‘obyektif’ daripada selera publik awam sebagai konsumen?

    Dan terlepas dari masalah agregator di atas, ada pertanyaan ini: Ada gunanya nggak sih mencari/mengukur obyektivitas seni, kalau memang ada? Kenapa Beethoven Symphony no. 5 pantas dilestarikan di perpustakaan negara dan dikirim ke luar angkasa sebagai penanda kebudayaan manusia sementara Spice Girls’ Mama I Love You nggak? Apakah itu cuma snobbisme perpustakaan kongres AS dan NASA atau memang yang pertama itu punya sesuatu yang secara intrinsik lebih ‘berharga’ daripada yang kedua?

    Teman saya (seorang jago gambar) pernah bilang di forum bahwa nggak semua lukisan, film, musik, atau patung itu adalah ‘art’, termasuk karya2nya sendiri. Buat dia, definisi ‘art’ itu adalah sesuatu yang berat dan butuh teknik yang mumpuni. Unsur selera bagi dia kayaknya masalah belakangan. Kalau coret2an anak umur 5 tahun bisa dibilang seni atas nama selera, itu namanya merendahkan karya Michaelangelo. “If everything is art, then nothing is art.” Sounds elitist, but I tend to agree with him/her. Tentu saja, ini berarti kita semua harus kembali ke kotak pertama untuk berdebat ‘apakah seni itu’ sebelum membahas ‘subyektivitas seni’.

    Btw, rasanya gw agak goblok ya, membahas ngalor-ngidul (yang sebagian) kayaknya di luar topik. Sorry, I just want to rant out and vent off some steam…πŸ˜›

  26. @ almascatie
    Nggak tahu. Saya ‘kan goblok.πŸ˜›

    @ cK

    @ Catshade

    Uh, I don’t see anything wrong with his grammar.

    Ja. But considering that he has a cat that excels English grammar, you’d expect a much better wit.πŸ˜•

    Soal tomat busuk… Keberatan-keberatan saya persis dengan yang mas tulis.πŸ™‚ Ditambah dengan bahasa para reviewer yang terkadang terlalu hiperbola.πŸ˜†

    β€œIf everything is art, then nothing is art.”

    Ini dia yang dilematik, IMO. Di satu sisi sentimen ini terlalu benar… Contohnya tinggal menoleh ke MTv.:mrgreen: Hit-hit mainstream, yang beatnya itu-itu melulu dan liriknya juga monoton, memang terkesan nggak ada apa-apanya dengan proyek-proyek yang lebih low profile, namun luar biasa kompleksnya— kalau menurut saya, mungkin sebangsa Dream Theater (saya sendiri nggak terlalu suka, tapi saya bilang itu luar biasa bagus).πŸ˜€ Namun di sisi lain, ya itu tadi, kalau memang seni itu 100% subyektif, maka kualitas dua jenis seni di atas adalah setara?

    *bingung*

    Itu pertanyaan yang susah dijawab. Seenggaknya oleh saya.πŸ™‚

    p.s. Ah. Mungkin bisa pakai prinsip seorang developer game (saya lupa yang mana) yang pernah saya dengar dulu?πŸ˜›

    “Jelek itu relatif. Bagus itu absolut.”

  27. @ Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny
    Subhallah. Alhamdulillah. Samiallahu limanhamidah.

    @ Jabizri
    Betul.πŸ™‚

    “The reasonable man adapts himself to the world.
    The unreasonable man adapts the world to himself.
    All progress depends upon the unreasonable man.”

    George Bernard Shaw

  28. β€œJelek itu relatif. Bagus itu absolut.”

    “Seni yang besar punya kemampuan untuk membuat orang kagum!”

    –Reiji Hirai
    Q.E.D. by Motohirou Katou

  29. Di Kamar saya, ada orang goblok.
    Tidur – tiduran.
    Gendut.
    Saya bosan.
    Pukul, banting tulang.

    ———————

    Hmmm….saya kurang suka kalau review atau pengamatan secara subyektif. Tapi, memang sulit. Saya sendiri masih suka subjektif.

  30. @ Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny
    Hidup juga…πŸ˜†

    @ Tito
    Eh, masa? Saya nyontek dari bukunya Paul Arden, sih.πŸ˜›

    @ sora9n
    Hohoho! Btw, Reiji Hirai itu yang mana, ya? *lupa*

    @ Mihael Ellinsworth
    Ya, nggak apa, asal subyektifnya nggak semprul, tho?πŸ˜‰

    @ antibatakislam
    Blog lu di mana? Ga ada linknya.πŸ˜•

    @ myresource
    Saya terlalu goblok untuk tahu…:mrgreen:

  31. <b.@ Kopral Geddoe

    Dia itu pemain cello yang jadi penjahat di nomor berapaaaa… gitu *lupa* . Tokoh yang cuman sekali muncul sih. (o_0)”\

    BTW, ente baca juga toh? ^^;;

  32. Nyari2 darwin nyangkut disini, saya pikir sedang membicarakan MUI. Ternyata…
    Setelah membacanya dalam lindungan wudlu, saya jadi merasa cerdas, agung dan luar biasa.

    *kadargoblokdalamdarahterlalutinggi

  33. Wah, mungkin kali ya? *penyakit skip2 kambuh*

    Btw, apa nulis gara-gara The Island?

    Lho, emang Last.Fm emangnya kenapa? Saya make itu cuma biar tahu lagu apa yang paling sering diputer di Lietzenberg.

  34. Orang goblok tidak tau klo dirinya goblok. . orang pintar tau klo dirinya tidak goblok. …

    Tapi klo misalnya si alarson itu beneran salah ketik gimana ?
    kurnag tleiti bukna berrati golbok kna?

    *sengaja salah ketik

  35. Pingback: Ternyata Itu Candu!? « BLoG GiRanG

  36. Pingback: Kisah si Tom dan si Jerry « Deathlock

  37. @ sora9n
    Yang ngumpetin mayat di lemari?πŸ˜•
    Tagnya kapan-kapan aja diperbaiki, ya? Fakir benwit, nih.😦

    @ CY
    Perlu dibikin kuesioner?:mrgreen:

    @ Guh

    saya pikir sedang membicarakan MUI.

    *ngakak sampai rahang lepas*

    @ Nenda Fadhilah

    Wah, mungkin kali ya? *penyakit skip2 kambuh*

    Btw, apa nulis gara-gara The Island?

    Itu juga udah saya tulis.πŸ˜†

    Lho, emang Last.Fm emangnya kenapa?

    Ya, banyak bigot artistiknya juga.πŸ˜•

    @ almirza
    Go-Blog maksudnya?πŸ˜›

    @ Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny
    Iya, akhi!!! Allahuakbar!!!πŸ˜†

    @ syafriadi | yarza
    Ya… Ada di mana-mana.πŸ™‚

    @ warnetubuntu
    *ngakak*

    *manggut-manggut*

    *catet quote*

    @ hoek
    Maksut?πŸ˜›

    @ Funkshit
    Kalau ‘sadar saya goblok’ itu berarti goblok apa nggak?πŸ˜•
    Btw, mari kita doakan semoga alarson itu bener-bener salah ketik…

  38. Kalau ’sadar saya goblok’ itu berarti goblok apa nggak?

    brarti itu awal dari pandai… sebab orang goblok yg tidak tahu dirinya goblok ga akan pernah belajar.. apalagi orang goblok yg merasa pinter, ini yg paling susah.. kitapun bisa ditarik menjadi goblok sama orang goblok yg merasa pinter.. jadi inget quote dilbert.
    “Never argue with an idiot. They drag you down to their level, then beat you with experience.” β€”Dilbert

  39. baca quotenya warnetubuntu
    *berkaca*
    wah trik saya ketahuanπŸ˜›
    *ketawa guling-guling*

    btw… saya belum lihat filmnya, tapi sepertinya sosok Kane memang pantas jadi psikopat dehπŸ˜›

    lantas kalau menurut pak kopral, acara-acara seperti Academy Award atau Panasonic Award itu berguna nggak?

  40. Kalau sadar diri goblok awal dari pandai, trus kalau dah pandai gimana?

    Kalau dia tetap bilang dia goblok, kasihan dong yang lebih goblok…

    Kalau dia bilang dia pandai, sombong + goblok kan?

    Lalu kalau saya bilang saya pandai itu sadar diri atau kegoblokan?

    Kalau saya bilang saya goblok itu sadar diri atau kepandaian?

    Kalau saya punya teman goblok yang membuat saya merasa pandai (karena dia lebih goblok) itu namanya apa?

    Kalau…

    ah, sudahlah…

  41. @ mardun
    Itu juga saya bingung, mas. Ada baiknya, ada mudaratnya…πŸ˜•

    @ yarza
    Ini juga saya bingung… Mungkinkah keluar dari belenggu kegoblokan?😐

  42. @ Kopral Geddoe

    Yang ngumpetin mayat di lemari?πŸ˜•

    Yup, yup… yang mayatnya disimpan dalam laci, terus lacinya dimasukin ke lemari. ^^

  43. β€œTwo things are infinite: the universe and human stupidity; and I’m not sure about the the universe.” -Albert Einstein

    Weh, ternyata tanggapan sang maestro pengetahuan sama dengan tanggapan saya tentang universe.
    *Tos ama Einstein*

    β€œNever argue with an idiot. They drag you down to their level, then beat you with experience.” β€”Dilbert

    *Catet*
    *Minum teh*

    Yup, yup… yang mayatnya disimpan dalam laci, terus lacinya dimasukin ke lemari. ^^

    Sekarang malah bicara tentang mayat… -_-😐

  44. Pingback: Internet, Immaturity, and Stupidity « Deathlock

  45. Rotten Tomatoes = Friendster

    Kepopuleran seseuatu diliat dari jumlah testi yang masuk. Padahal ndak jarang isinya selalu ndak penting.
    Lah wong sepupu saya yang tetanggaan sama temennya aja masih komeng2an lewat EpEs. Ndak asik…

    Lah, kok saya samakan RT sama EpEs yagh??
    Haihh…
    Yayaya, saya goblok…

  46. Pingback: Sekolah? Buat Apa? « Deathlock

  47. Mau blog yang benar-benar goblog… kunjungi…
    goblog atau dianggap goblog,
    jenius atau merasa udah ga goblog..
    kalau ngerasa goblog harap kunjungi blok yang super goblog…my blog
    disana tidak ada tidak ada pencerahan untuk si goblog…
    cuma penyesat untuk yang tersesat…tempat menuangkan fikiran goblog…
    salam kenal…rekan semua SMOGA teRGugah.

  48. Pingback: Agh, Dasar Kambing! « Deathlock

  49. Pingback: Repost [2] : Hasrat, Diri, dan Moralitas « f e r t o b

  50. Pingback: Defensif « f e r t o b

  51. Pingback: Ahmad Ilham Santosa Β» Tom & Jery 2

Comments are closed.