Tuhan Tidak Pernah Dicintai

Suzumiya. One of the more pleasant conceptions of God.

* * *

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengikuti sebuah diskusi yang diadakan di sebuah forum. Topik yang disediakan saat itu adalah tentang Al-Qiyadah, sebuah topik yang memang kurang familiar bagi saya; seseorang yang sedang berdomisili di luar Indonesia. Respon peserta-peserta diskusi sebenarnya senada dengan respon-respon yang saya temui di lain tempat, yaitu lebih mirip celaan dan tertawaan ketimbang keluhan dan rintihan.

Tapi ada yang menarik.

Yang menarik adalah reaksi yang timbul setelah salah satu peserta membawa-bawa nama Jaringan Islam Liberal (JIL). Menurut perserta tersebut, bukan hanya cult eksentrik semacam Al-Qiyadah yang mesti diwaspadai, namun juga gerakan-gerakan sayap kiri seperti JIL. Kebanyakan member yang ada memang mengamini sentimen tersebut— namun saya memilih untuk mempertanyakannya. Tentunya bukan persoalan setuju atau tidak setuju, melainkan jalan pemikiran yang cenderung sempit dan tidak menghargai perbedaan. Jadi, saya pun nyeletuk, mengapa tidak ada toleransi terhadap JIL? Bukankah kalau mereka memang sebegitu terkutuknya, Tuhan yang Maha Kuasa itu akan mengadili mereka nantinya?

Ternyata sambutan akan gagasan pluralis saya itu tidak terlalu bagus. Menurut kebanyakan member yang mengikuti diskusi, JIL terlalu ‘berbahaya’. Dalihnya adalah karena gerakan liberalisme a la JIL berpotensi ‘merusak Islam’. Ayat-ayat pun mulai berseliweran, dan bahasa yang dipergunakan pun semakin khas para saudagar agama— fallacious dan puitis (a la padang pasir tentunya). Tendensi fundamental yang menurut saya sangat mengejutkan untuk ditemui di sebuah forum yang berbasiskan pop culture.

Ada tiga pemikiran unik yang saya temui;

  1. “JIL ‘jelas-jelas’ sudah menyalahi kitab suci.”
    Ini yang paling umum. Sebenarnya saya kurang begitu paham perkara apa yang ‘jelas’ dalam belantara agama, namun demikianlah sentimen yang ada.๐Ÿ˜€
  2. “JIL adalah agen CIA yang dibentuk untuk menghancurkan Islam dari dalam.”
    Oh please.
  3. “JIL, atau Al-Qiyadah, sebaiknya jangan memakai nama Islam. Bikin saja agama sendiri.”
    Sedikit mengingatkan saya pada tulisan Pak Shodiq di [sini]. Menurut mereka, Islam hanyalah milik mereka. Wujudnya sudah tetap, dan tidak boleh diganggu gugat.

Ah, tapi saya tidak akan membicarakan JIL.๐Ÿ™‚ Yang menurut saya menarik adalah bahwa dengan diskusi singkat yang saya ikuti di atas, saya semakin berpikir bahwa pada hakikatnya Tuhan tidak pernah dicintai. Tuhan hanyalah suatu konsepsi imajiner yang dibentuk dan kemudian dieksploitasi. Saya tidak mengatakan bahwa Tuhan tidak wujud, namun konsepsi Tuhan selalu dibentuk secara mandiri oleh masing-masing individu. Hal ini menjadikan agama sebagai tidak lain proyek paling egois yang pernah ada. Tuhan tidak pernah dicintai. Ia hanya dieksploitasi.

Pada Dasarnya, Kita Hanya Tidak Ingin Berubah

Oke, agama dan sifat keras kepala memang terlalu sering berdampingan, tapi mungkin ada baiknya kita membahas ini lagi. Pertama, saya sangat kebingungan dengan bagaimana para peserta diskusi waktu itu menganggap Al-Qiyadah dan JIL sudah ‘jelas’ sesat. Penggunaan konsep ‘jelas’ di sini sangat membuat saya keberatan. Tidak pernahkah melihat dari sudut pandang lain? Ada alasan kenapa sebagian orang memilih berafiliasi dengan JIL atau Al-Qiyadah; apakah mereka dengan sengaja memasuki yang ‘jelas-jelas sesat’? Apa mereka dengan sengaja menyesatkan diri? Boleh saja menganggap orang lain sesat, nyaris semua orang di dunia melakukannya. Tapi tidak ada yang namanya ‘jelas-jelas sesat’. Oh, dan silakan coba baca buku yang kemarin saya review. Ada pelajaran tentang sudut pandang di sana, ketika Eddie Maintenance mengunjungi surga level pertama.

Kedua, selain kecenderungan menganggap remeh pendapat lain, saya melihat adanya kemampuan bertoleransi yang buruk. Ayolah, membubarkan suatu aliran secara paksa?๐Ÿ˜ Seperti yang saya katakan, kalau kepercayaan mereka memang keliru, bukankah konon sudah tersedia hukuman? Dalih yang dipakai adalah ‘menjaga keaslian ajaran agama’. Oke, bisa saja niatnya memang semulia itu. Tapi, mungkinkah ada motif lain? Perlu kita ingat bahwa bigotry ini jauh lebih lemah apabila sudah berhadapan dengan agama resmi lain. Saya kira, umat Islam fundamental, misalnya, umumnya jauh lebih bisa bertoleransi dengan umat Kristiani ketimbang Islam liberal. Padahal, posisi keduanya sebenarnya tidaklah berbeda di mata sang pengamat; sesama penghuni neraka. Kenapa?

Di sinilah hipotesis saya bermula; alasannya sederhana. Karena pada dasarnya kita tidak ingin salah, dan tidak ingin berubah. Agama, yang biasanya bertindak sebagai agen salvation, secara otomatis menyuntikkan para penganutnya sebuah sikap negatif; yaitu kecenderungan untuk bersikap defensif akan doktrin yang mereka anut.

Oleh sebab itulah penganut agama paling tidak bisa menerima ajaran yang mereka terima saat ini dipersalahkan. Keberadaan kaum liberal dan cult seperti Al-Qiyadah adalah embodimen adanya ketidaksetujuan itu. Di sinilah umat menjadi sangat defensif dan tidak toleran. Agama, terutama agama Abrahamik, adalah dikotomi raksasa antara benar dan salah; sebuah ideologi yang biasanya dipahami sebagai pemikiran tanpa area abu-abu. Dikotomi inilah yang menyebabkan pemahaman berbeda yang semakin ‘dekat’, semakin mengerikan. Sebab, seperti yang saya katakan, agama jarang menyisakan area abu-abu. Sikap kasar terhadap penganut agama yang nyeleneh seperti ini, menurut saya adalah refleksi sikap paranoid yang ada pada umat. Karena para minoritas yang eksentrik ini bisa dikatakan mewakili kemungkinan gagal yang lebih ‘nyaris mendekati keberhasilan’. Kegagalan yang lebih menyakitkan. Karena minoritas yang eksentrik ini mewakili komplikasi kepercayaan; entitas yang menambah rumit permainan Tuhan. Dengan memakai gagasan ini, keinginan supaya JIL dan Al-Qiyadah membentuk agama baru menjadi sangat bisa dipahami.

Tuhan Tidak Pernah Dicintai

Menariknya, sisi agama yang dipermasalahkan sangat jarang bersangkutan dengan Tuhan. Yang diributkan selalu tetek bengeknya; jilbab lah, masalah pacaran lah, tata cara ritual lah, tidak pernah bersangkutan langsung dengan Tuhan. Semuanya perkara yurisprudensi. Tandanya apa? Tuhan tidak pernah dipermasalahkan.

Kalau seandainya Tuhan adalah prioritas, tentunya yang seperti itu hanyalah permasalahan sepele. Yang penting rajin menyembah-nyembah Beliau, bagaimanapun caranya. Semestinya yang dijadikan parameter adalah cinta terhadap Tuhan; baik itu yang ada di masjid, gereja, atau apapun. Tapi kenyataanya Tuhan ternyata tidak pernah terlalu diperhitungkan. Di sini agama tereduksi sebagai hanya proyek menyelamatkan diri sendiri. Suatu egoisme dan kepengecutan manusia-manusia yang terkencing-kencing membayangkan suatu tempat yang bernama neraka.

Mengapa umat begitu terobsesi mengetahui jawaban apakah pacaran itu dihalalkan atau tidak? Mengapa begitu ingin tahu apakah Bunda Teresa layak masuk surga atau tidak? Karena sejak awal Tuhan bukanlah prioritas. Ia mungkin tidak pernah dicintai. Tuhan adalah komoditas yang paling menarik untuk diperkosa dan dieksploitasi. Saya kira pemahaman agama yang ada saat ini bukanlah tentang Tuhan. Hanyalah permasalahan halal-haram. Implikasinya, hanyalah masalah surga-neraka. Agama yang tersaji saat ini adalah proyek egoisme yang oportunis. Tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Tuhan atau kemanusiaan. Agama diikuti karena umatnya menginginkan keselamatan. Sesederhana itu. Tidak ada teologi kompleks a la Rumi. Hanya proyek demi kepentingan pribadi.

Saya jadi tertarik untuk menyorot Deisme. Wujud (mainstream) Deisme bisa dikatakan merupakan wujud iman yang paling ikhlas dan humanis. Para penganutnya setahu saya umumnya tidak berdoa; dalam artian meminta pertolongan Tuhan. Mereka tidak merasa Tuhan punya kewajiban apapun untuk menolong organisme rendah seperti manusia. Namun mereka selalu memberi homage pada Tuhan— berterima kasih pada-Nya, dan menyebut nama-Nya. Mereka juga umumnya tidak percaya dengan konsep afterlife. Jadi, mereka boleh dikatakan tidak mengambil manfaat apapun secara langsung dari Tuhan. Tidak ada intervensi, tidak ada keabadian di surga. Kebalikan dari praktek agama oportunis yang ada.

Naah, saya pernah menyinggung tentang kebijakan ‘tanpa doa’ deistik ini pada diskusi dalam forum yang saya sebutkan di atas. Hasilnya ide tersebut ditertawakan. “That’s his job!”, katanya. Nah, ‘kan. Jadi, jangan menyalahkan saya kalau saya akhirnya berkesimpulan kalau agama memang hanyalah proyek oportunis-egois.๐Ÿ˜‰

In God We Trust. RosenQueen, company.

130 thoughts on “Tuhan Tidak Pernah Dicintai

  1. Maka-nya aku lebih percaya dengan hubungan vertikal-ku dan cinta-ku dengan Tuhan daripada hubungan horizontal-ku dengan agama-ku Ged, dan itu lebih baik…

    kecenderungan untuk bersikap defensif akan doktrin yang mereka anut.

    sebuah kesalahan Ged yang belum disadari oleh mereka, ya, konsep yang selalu meng-atas nama-kan kebenaran doktrin agama lebih dari Tuhan itu sendiri.

  2. Agama adalah egoisme? Saya lebih cenderung menjawab YA!

    Sebagaimana yg dinyanyikan Ahmad Dhani + Alm. Chrisye: Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepadanya?๐Ÿ˜›

  3. menurut saya, surga neraka *kalau ada* juga merupakan transit saja.. sebab tidak ada yg kekal kecuali Tuhan itu sendiri khan?, maka tujuan ultimate tetap ke Tuhan, Seperti kata2 yg sering kita sebut saat melihat orang meningga, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” sesungguhnya yg berasal dari Tuhan akan kembali ke Tuhan”
    btw, welcome back to battlefield kopral๐Ÿ˜€

  4. @ warnetubuntu

    sebab tidak ada yg kekal kecuali Tuhan itu sendiri khan?

    Tidak ada yang kekal? Jadi ingat, belakangan ini saya berpikir, mas. Ternyata saya ini memang result-oriented. Walau lenyap dari dunia terdengar menyedihkan, tiba-tiba saya tersadar kalau kekekalan justru lebih menakutkan.๐Ÿ˜ Saya jadi ingat dengan tokoh-tokoh immortal fiksi yang menghabiskan bertahun-tahun demi menemukan cara untuk mati, misalnya Van Hohenheim (FMA) atau Zasalamel (Soulcalibur).๐Ÿ™‚

    btw, welcome back to battlefield kopral๐Ÿ˜€

    Yes, sir.๐Ÿ˜›

    @ extremusmilitis
    Benar. Saya kira keshalihan hanyalah apple-polishing terhadap Tuhan. Pada dasarnya, manusia hanyalah memanfaatkan Tuhan itu juga kalau Dia ada.๐Ÿ˜›

    Salah satu kelemahan agama adalah menyediakan kesempatan itu; untuk menjadikan agama sebagai kamuflase. Ilusinya seperti mencintai, tunduk, dan taat kepada Tuhan. Di dalamnya, bisa jadi hanya takut pada neraka.๐Ÿ˜†

    @ Tito
    Ah, lagu Alm. Chrisye. Saya juga langsung berpikir ke sana, mas.:mrgreen:

    Btw, kalau itu ditanyakan pada orang seperti Jefferson, ia akan menjawab ‘ya’. Karena setahu saya memang walaupun ia sangat religius, tidak percaya dengan surga atau neraka.๐Ÿ˜‰

    Dia hanya merasa berhutang budi.๐Ÿ™‚

    @ cK
    Ya iya, betul. Yang itu lebih penting.๐Ÿ˜›
    Btw, tumben nggak dapet pertamax.๐Ÿ˜€

  5. belajar dari masalah al qiyadah, aku sarankan jangan kau proklamirkan dulu agama barumu ged!

    terlalu riskan soale, kecuali kalo kamu dah bosen ngeliat maria ozawa tentunya hehe:mrgreen:

  6. ck ck ck….
    artikel yang jempolan, salut deh

    Ungkapan “kenyataanya Tuhan ternyata tidak pernah terlalu diperhitungkan” bagus sekali. Aku jadi merasa tersindir, eh, tersadarkan. Gitu…

    Oh ya, Kopral, makasih atas link-nya ke artikelku. Boleh minta buatkan link lagi, nggak? Soalnya, Kopral bikin link ke artikel yg membuatku “terjebak rayuan maut”. Jadi, menurutku, alangkah adilnya bila pada postingan ini Kopral juga membuatkan link ke http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/05/terjebak-rayuan-maut/

    Trims….

  7. @ Agiek
    Hehehe, saya juga belum bosen melototi Azumi Kawashima.:mrgreen:

    @ korban fitnah
    Eh, kalau memang ingin begitu…๐Ÿ˜•
    Oke, trekbek sudah diluncurkan.๐Ÿ™‚

  8. Menariknya, sisi agama yang dipermasalahkan sangat jarang bersangkutan dengan Tuhan.

    habis kalo bukan itu apalagi yang mo dicari kesalahnya oleh manusia terhadap manusia lainnya…๐Ÿ˜ฏ

  9. Menariknya, sisi agama yang dipermasalahkan sangat jarang bersangkutan dengan Tuhan. Yang diributkan selalu tetek bengeknya; jilbab lah, masalah pacaran lah, tata cara ritual lah, tidak pernah bersangkutan langsung dengan Tuhan. Semuanya perkara yurisprudensi. Tandanya apa? Tuhan tidak pernah dipermasalahkan.

    Mungkin (mungkin lho) karena semua orang bisa bersepakat akan sifat-sifat Tuhan, tak peduli agamanya apa. Sehingga ini jadi konsep yang meresap dan tak dipertentangkan lagi.

    Sebaliknya, ritual dan yurisprudensi itu beda. Mereka harus ditafsirkan, dan beda penafsiran inilah yang nantinya justru bikin bentrok satu grup dengan yang lainnya.๐Ÿ˜

    Ternyata sambutan akan gagasan pluralis saya itu tidak terlalu bagus. Menurut kebanyakan member yang mengikuti diskusi, JIL terlalu โ€˜berbahayaโ€™. Dalihnya adalah karena gerakan liberalisme a la JIL berpotensi โ€˜merusak Islamโ€™.

    Masalahnya bukan liberalnya atau komunisnya atau apapun isme-nya. Kalau ajaran agama sampai rusak, itu berarti umat dan ulamanya yang bodoh.

    Agama kan berasal dari Tuhan. Masa sama isme bikinan manusia aja bisa sampai kalah, sih?๐Ÿ˜‰

    “An Excalibur doesn’t protect you if you can’t wield it well.”

    –Me

  10. Di dalamnya, bisa jadi hanya takut pada neraka.

    alangkah ironis ya๐Ÿ™„ , ketakutan ini, malah me-lahir-kan pemahaman lain yang justru tidak di-pahami oleh para bigot, dan bahkan bukan tidak mungkin semakin men-dekat-kan ke apa yang di-nama-kan neraka. Semoga saja tidak๐Ÿ™‚

  11. @ almascatie
    Nah, itu dia.๐Ÿ˜†

    @ sora9n

    Kalau ajaran agama sampai rusak, itu berarti umat dan ulamanya yang bodoh.

    Iya, kok, nggak ada yang memahami yang seperti ini, ya?๐Ÿ˜€ Apa karena memang ada naluri bersaing dalam pemahaman agama?๐Ÿ˜•

    @ extremusmilitis
    Hehehe, terlalu banyak kemungkinan, ya? Tapi itu open-mindedness, lho, mas. Sesuatu yang nggak ada pada para bigot (termasuk bigot sayap kiri juga).๐Ÿ˜€

  12. saya jadi bertanya, sanggupkan mereka hidup normal tanpa target surga, dan cuma beralaskan hukum aksi=reaksi ?? (baca karma)๐Ÿ˜€

  13. nice post…ngomongin agama lagi nih…
    saya teringat satu hadis qudsi, kalo ga salah Allah pernah ngomong gini nih “Aku ini berdasarkan prasangka hamba-Ku…”

  14. Saya jadi ingat dengan tokoh-tokoh immortal fiksi yang menghabiskan bertahun-tahun demi menemukan cara untuk mati, misalnya Van Hohenheim (FMA) atau Zasalamel (Soulcalibur).๐Ÿ™‚

    Makanya… immortalnya itu jangan kebangetan! Yang seperti Duncan Mc.Leod-nya Highlander juga udah boleh๐Ÿ˜›

    By the way, aku sendiri kurang cocok dengan JIL. Ada beberapa faktor utk itu, Ged:
    Bagaimana bisa kita bicara tentang dunia muslim dan kultur ketimuran yang menjadi akar dari tiga agama samawi, tapi dari jenisnya JIL malah menelaah hal tersebut dengan kecenderungan memfavoritkan pemikiran dari Barat.

    Aku tidak anti Barat atau pro Timur. Dikotomi antara dua hal tersebut akhirnya lebih sering cuma menjadi pertentangan geografis belaka.

    Tapi ketika Islam Liberal mencoba membangun pemikiran dunia Islam kembali dengan justru menjauh dari akar dunia Timur,dari khazanah pemikiran Timur, itu sama konyolnya dengan gerakan ala you-know-who™ yang membabat adat secara brutal dengan alasan kembali ke goa manhaj salaf, bid’ah™ en su un!

    Dalam hal tersebut, Islam Lib agaknya masih kalah dengan seorang Karen Amstrong yang ‘tidak bias’ dalam mempelajari agama.

    Oke. Learn everything: komunis, kapitalis, sosialis, pluralis, whatever… tapi plis deh… jangan terpaku takjub pada peradaban – sebutlah Eropa yang sering disanjung-sanjung Ulil – yang seolah-olah harus menjadi tolok ukur peradaban semua warga bumi๐Ÿ˜†

    Tapi ketidak-cocokan itu tidak boleh pula menjadi alasan utk halal-halalin darah atau dikit-dikit pengkafiran, kalo bagiku, Ged.
    Hidup dengan atheis pun tidak jadi masalah sebenarnya.๐Ÿ˜‰

    Bicara masalah mencintai Tuhan… susah ah. Mending belajar bagaimana mencintai manusia dulu, terutama kekasihmu๐Ÿ˜›

    @ sora9n

    Agama kan berasal dari Tuhan. Masa sama isme bikinan manusia aja bisa sampai kalah, sih?๐Ÿ˜‰

    Aha! Sepakat!
    Aku juga ngomong begitu di blognya Kang Agor. Takut kalah? Tanya kenapa?๐Ÿ˜€

  15. Ktika hasrat “mencapai” Tuhan itu ada, seringkali tak mudah menemukan jalannya. Kalau pun jalan itu ada, belum tentu kita mau dan mampu melaluinya. Saya pikir antara keinginan kita untuk bercinta dengan-NYA dengan upaya untuk mencapai cinta-NYA itu, adalah dua hal yg serangkai.
    Bolehkah saya mengatakan bahwa, tak mungkin kita mencapai cinta-NYA tanpa melalui jalan-NYA sendiri.
    Ibarat bercita2 tanpa usaha, tentu cinta dan jalan mendapatkannya, harus bersama2.

    #Paparan argumen pak kopral bagus deh…๐Ÿ˜€ belajar dari mana sih …๐Ÿ˜†

  16. ::salam hormat kopral, seandainya aku adalah laki-atau perempuan yang hendak dicintai dengan tulus, haruskah kupelet mereka supaya lebih cinta padaku…itumah gampang banget… kan ada romo gandul๐Ÿ˜† , tapi aku maunya dicintai dengan tulus…, jadi kubiarkan saja apa adanya, kuberikan gaji mereka bukan agar aku dicintai..itu karena mereka kerja…, betapa indahnya jika dicintai tanpa ini – itu…. cukup cinta saja….

  17. *ngomentarin gambarnya*

    Suzumiya. One of the more pleasant conceptions of God.

    Ah, Haruhi itu cuma anak kecil beruntung yang kelimpahan kekuatan mahabesar…๐Ÿ˜†

    Beda sama orang-orang yang meraih kekuasaan dengan darah dan keringatnya sendiri, e.g. Zero di Code Geass. Haruhi kan mak-gedebug, tau-tau ketiban omnipotence.๐Ÿ˜‰

    (kok jadi ngomongin Haruhi ya?๐Ÿ˜• )

  18. Pake kata ‘yurisprudensi’ akhirnya. Btw edisi terakhir Economist soal negara dan agama.

  19. “Mengapa umat begitu terobsesi mengetahui jawaban apakah pacaran itu dihalalkan atau tidak? Mengapa begitu ingin tahu apakah Bunda Teresa layak masuk surga atau tidak? Karena sejak awal Tuhan bukanlah prioritas”
    hummm…kalo mnurud saia sendiri, karena emang umat terlalu memikirkan hal-hal yang sefele sangadh…tafi ya sama aja sih, mereka ndak fernah njadiin Tuhan sebagai frioritas, mereka lebih cenderung untuk meribudkan soal haram-halal, kafir-muslim, de es be..
    ah ya, ternyatah dikau nabi deisme yah? *mnataf curiga*:mrgreen:
    ________
    OOT : saia masi ndak abis fikir, ko ya anak seumuran saia bisa mikir segitu hebadna…salute sangadh sama kamuh kawand! *terkagum-kagum*

  20. Pingback: Memanfaatkan Massa Sebagai Pembunuh Orang yang Dikambinghitamkan « [Chaos Region - Incorporated]

  21. Jangankan anda yang diluar sana, saya yang disini aja baru ngeh kalau ada heboh bagi-bagi cap sesat oleh MUI :)) *lama ga nonton gosip*

    Artikel bagus… Yang saya lihat juga begitu, tuhan selalu diperalat. Btw, kenapa ya orang-orang ini senang sekali mempermasalahkan syariat dan memperalat tuhan? Sebenarnya mereka itu melakukannya dengan sadar atau dibawah pengaruh hipnotis? Trus kenapa juga tuhan diam saja? *sambil melirik ke langit2*

  22. @ CY
    Saya nggak tahu, tapi saya sendiri sudah hidup tanpa ekspektasi egois itu.๐Ÿ˜€

    @ Laufi
    Dan tafsirannya adalah…?๐Ÿ™‚

    @ alex
    Saya sendiri juga membenci dikotomi barat dan timur, mas. Sangat benci. Terutama apabila dikotomi itu dipakai untuk mendemonisasi dunia barat.๐Ÿ˜‰

    Tapi ketika Islam Liberal mencoba membangun pemikiran dunia Islam kembali dengan justru menjauh dari akar dunia Timur,dari khazanah pemikiran Timur, itu sama konyolnya dengan gerakan ala you-know-whoโ„ข yang membabat adat secara brutal dengan alasan kembali ke goa manhaj salaf, bidโ€™ahโ„ข en su un!

    Tepat, menurut saya ajaran JIL memiliki persamaan dengan Wahhabisme; sama-sama nggak membumi. Terlalu bombastis, boleh dibilang terlalu menjurus ke titik ekstrim.๐Ÿ˜›

    Takut kalah? Tanya kenapa?๐Ÿ˜€

    Hehehe, makanya saya jadi curiga. Ini memang mau membela agama atau cuma paranoid?

    @ Herianto
    Sayangnya sangat sulit membedakan cinta pada Tuhan dengan cinta pada agama…๐Ÿ˜€

    @ zal
    Hehehe, setubuh…:mrgreen:

    @ sora9n
    But I figured that Zero wouldn’t be as sexy.๐Ÿ˜›

    @ caplangโ„ข
    *akhirnya ada juga yang ngomong begini:mrgreen: *
    Kalau menurut saya sih, yang namanya Tuhan semestinya nggak perlu apa-apa, mas. Termasuk cinta.๐Ÿ˜›

    @ hoek
    Iya, sih. Saya juga dapet kesan begitu. Yang diributin kadang keliwat sepele… Saya jadi miris…๐Ÿ˜ฆ

    Nabi? Wah, saya bukan nabi, brader…๐Ÿ˜†

    @ Nenda Fadhilah
    Heh? Economist itu apakah? Jurnal hukum??๐Ÿ˜•

    @ Guh

    Jangankan anda yang diluar sana, saya yang disini aja baru ngeh kalau ada heboh bagi-bagi cap sesat oleh MUI :)) *lama ga nonton gosip*

    Iya, mas. Kalau ada yang dibagi-bagi cap sesat, dan dihujat-hujat di koran dan internet.:mrgreen:

    Artikel bagusโ€ฆ Yang saya lihat juga begitu, tuhan selalu diperalat. Btw, kenapa ya orang-orang ini senang sekali mempermasalahkan syariat dan memperalat tuhan? Sebenarnya mereka itu melakukannya dengan sadar atau dibawah pengaruh hipnotis?

    Itu yang saya juga takjub. Alih-alih menyejahterakan sesama, banyak yang hobi sekali mempersalahkan orang. Mungkin karena semakin banyak orang yang berhasil dikafirkan, semakin merasa benar dan kebal dari kesalahan.๐Ÿ˜› Ulahnya juga bermacam-macam, dari mendandani wanita hitam kelam seperti ninja sampai mengamputasi tangan dan kaki seenaknya.๐Ÿ˜

    Jangan-jangan agama bikin bodoh, ya?๐Ÿ˜†

    Trus kenapa juga tuhan diam saja? *sambil melirik ke langit2*

    Mungkin karena memang Tuhan tidak berkewajiban mengintervensi hidup manusia. Manusia aja yang kegeeran.:mrgreen:

  23. hihii…
    topik yang banyak dibahas disini…
    kalau bisa pas balik kesini bawa ajaran sendiri…

    (0.o)

  24. Kok belum ada yang kontra sih.., apakah “mereka” sudah memvonis geddoe sesat sehingga situs ini masuk blacklist mereka? *gak seru ah..*, ataukah hal ini menunjukkan kalau komunitas internet secara perlahan tapi pasti semakin open minded ya..

    apakah ini mirip kasus roy suryo?, pada awal2, banyak yg membela “beliau” tapi sekarang banyak yg sudah “terbuka” matanya terhadap kenyataan๐Ÿ™‚ *sorry OOT*

    btw,

    Ada dua pemikiran unik yang saya temui;
    1. โ€œJIL โ€˜jelas-jelasโ€™ sudah menyalahi kitab suci.โ€
    Ini yang paling umum. Sebenarnya saya kurang begitu paham perkara apa yang โ€˜jelasโ€™ dalam belantara agama, namun demikianlah sentimen yang ada.
    2. โ€œJIL adalah agen CIA yang dibentuk untuk menghancurkan Islam dari dalam.โ€
    Oh please.
    3. โ€œJIL, atau Al-Qiyadah, sebaiknya jangan memakai nama Islam. Bikin saja agama

    saya setuju, tapi.., kok ada tiga? atau pemikiran uniknya dua dari tiga ini?๐Ÿ˜›

    Ajaran saya untuk konsumsi pribadi, kokโ€ฆ

    gyahaha *ngakak guling2*.. konsumsi pribadi kok ditulis di blog๐Ÿ˜›

  25. hmmmm…. menarik juga, tapi jangan sampai ada pendoktrinisasian agama yang menyebabkan agama itu malah menyimpang, saya rasa tujuan hidup kita tetaplah menyembah pencipta kita, tujuan hidup kita adalah Tuhan

  26. @ warnetubuntu

    Kok belum ada yang kontra sih.., apakah โ€œmerekaโ€ sudah memvonis geddoe sesat sehingga situs ini masuk blacklist mereka? *gak seru ah..*, ataukah hal ini menunjukkan kalau komunitas internet secara perlahan tapi pasti semakin open minded ya..

    Open-minded? Semoga begitu, mas.๐Ÿ™‚

    Walau menurut saya, sedikit banyak, tulisan a la freethought memang tidak akan digubris kaum sayap kanan. Bagi mereka mungkin liberalisme menarik untuk diganyang, tapi tidak tulisan a la ‘onta domba tersesat’ semacam ini.๐Ÿ™‚

    saya setuju, tapi.., kok ada tiga?

    Ah, sudah diperbaiki, terima kasih.๐Ÿ˜€

    gyahaha *ngakak guling2*.. konsumsi pribadi kok ditulis di blog๐Ÿ˜›

    Namanya juga uneg-uneg.:mrgreen:

    @ wishisetyopratama
    Hmm? Kesannya kok nggak nyambung dengan topik?๐Ÿ™‚

  27. โ€œTuhan tidak pernah dicintaiโ€ (?)
    Tuhannya siapa ya?

    Em, saya jadi berpikir tentang diri saya sendiri. Alloh SWT telah begitu banyak memberikan nikmat yang tak terhingga sampai saat ini. Tapi saya malah tak pandai mensyukurinya. Saya merasa belum menjadi seorang muslim yang baik, yang bisa mencintai Alloh SWT di setiap detik napas kehidupan saya.

    Saya ingin belajar mencintai โ€“Nya. Meskipun Alloh SWT tidak bergantung pada apakah saya mencintai โ€“Nya atau tidak, tapi sayalah yang butuh untuk mencintai โ€“Nya.

    Dan saya yakin, generasi shalih terdahulu โ€“dan terlebih lagi para nabi dan rasul, mereka adalah manusia โ€“manusia luar biasa yang mencintai Rabb โ€“nya dengan sepenuh hati mereka.

  28. Saya jadi ingat dengan tokoh-tokoh immortal fiksi yang menghabiskan bertahun-tahun demi menemukan cara untuk mati, misalnya Van Hohenheim (FMA) atau Zasalamel (Soulcalibur).

    Menarik, ada yg memprediksi kalau sekitar 100-200 tahun lagi, immortal bukanlah sebuah mimpi, dengan ditemukan teknologi stem cell, SENS, cryonics, nanotechnology, cyborg, AI dll (silahkan googling dgn keyword tersebut).. umur manusia bisa mencapai ribuan tahun!.
    Implikasinya, kematian adalah pilihan (kalau bosan hidup bisa memilih mati๐Ÿ™‚ ), agama tidak dibutuhkan lagi, sebab selama ini diakui atau tidak, kita beragama karena alasan takut mati๐Ÿ™‚ , dll..
    implikasi sosialnya bisa macam2 silahkan lihat disini http://www.livescience.com/health/060522_immortality_social.html
    *sory jadi OOT paling2 yg dibaca komentar awal2๐Ÿ˜€ *

  29. Tuhan adalah komoditas yang paling menarik untuk diperkosa dan dieksploitasi.

    Wew๐Ÿ˜ฏ , diperkosa?

    Hah…

    Dasar Egois ya manusia-manusia sok suci itu…

  30. Salam kenal kopral.

    Menarik tulisannya. Tapi saya sendiri ga pernah ambil pusing tuh soal orang mau mencintai Tuhan atao tidak. Kebiasaan orang Indonesia yang mengaku penganut agama kan yang penting menonjolkan ritual agama yang mereka anut, biar dibilang beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Kalo saya sih lebih baik menyimak lagu-lagu Debu aja….

  31. @ andi
    Dan ada yang menganggap yang mengkritisi agamanya sendiri adalah kafirโ„ข.:mrgreen: Ini yang menyusahkan.

    Salam kenal juga.๐Ÿ˜›

    @ Nenda Fadhilah
    Ach so…๐Ÿ˜•

    @ eMina
    Kalau menurut ke-sotoy-an saya sih, (kalau memang Tuhan itu ada) cara mencintai-Nya adalah menggunakan otak semaksimal mungkin, mencintai diri sendiri, dan mencintai sesama makhluk hidup.:mrgreen: Soalnya, misalnya, saya lihat, ibu saya mencintai saya dengan membiarkan saya mencintai diri sendiri dan orang lain, bukannya dengan bersujud-sujud pada beliau.๐Ÿ˜›

    Tapi ya itu ke-sotoy-an saya aja.๐Ÿ˜€

    @ warnetubuntu
    Ini yang saya nggak suka. Jangan-jangan saya keburu mampus sebelum teknologi ini tersedia.๐Ÿ˜† Mungkin saya perlu menabung untuk masuk peti es dan diawetkan selama beberapa abad…๐Ÿ˜›

    Yah, saya memang nggak tertarik dengan keabadian, tapi kalau umur yang panjang, cukup bagus, sih…๐Ÿ˜€

    *btw, sudah dirapikan, mas๐Ÿ˜› *

    @ yarza
    Maap kalau pilihan katanya bombastis. Sisi seniman nyentrik saya lagi kumat.:mrgreen:

    @ simplyrosie
    Hehehe, memang sebaiknya berfokus pada amal-amal yang nyata, mas/mbak.๐Ÿ™‚

  32. jangan menyalahkan saya kalau saya akhirnya berkesimpulan kalau agama memang hanyalah proyek oportunis-egois.

    kenapa mayoritas umat beragama tuh egois? karena Tuhan (baca: konsep ketuhanan) mereka sangat egois.. kalo kita gak mo menganut agama yg DIA restui, gak mo nyembah dan muji DIA setiap hari, kita bakal dipanggang di neraka.

    Dan karena Tuhan begitu egois, maka para penyembahnya-pun terinspirasi oleh-Nya.

    *cuma komentar yg asal2an tanpa referensi apapun kecuali referensi internal (yaitu otakku yg sangat terbatas)*

  33. Kata-kata mas sangat mirip dengan Dawkins;

    The God of the Old Testament is arguably the most unpleasant character in all fiction: jealous and proud of it; a petty, unjust, unforgiving control-freak, a vindictive, bloodthirsty ethnic cleanser, a misogynistic, homophobic, racist, infanticidal, genocidal, filicidal, pestilential, megalomaniacal, sado-masochistic, capriciously malevolent bully.

    Those of us schooled from infancy in his ways can become desensitized to their horror.

    Dan, kalau nggak sudi mengubah cara pandang ketuhanan, rasanya sikap egois itu akan terus ada.๐Ÿ˜›

  34. tau nih… lama lama.. liat kelakuan agama di indonesia..
    dari fpi, aksi menjadikan negara syarikat islam, terroris bali, hoax harun yahya, tindakan anarkis thd pengikut ‘aliran sesat’..

    =.=”

    ancur.. ancur…

  35. Welll, semua manusia boleh menafsirkan agama dengan logika mereka. Tapi hanya satu jawabannya….

    KemaTIAN…

    rasakan dan berargumenlah dengan munkar&nakir

  36. Ya, mau bagaimana lagi?

    Walaupun ada orang yang bilang kalau agama itu bebas,

    Tetap saja ada banyak orang yang ingin agamanya jadi paling eksis dan mulai memaksa orang lain masuk ke agama yang ia percayai dan membuat mereka menggunakan cara-cara yang ia gunakan.

    Bahkan dengan kekerasan…

    Padahal sudah ada ayat Al-Kafirun, gimana sih…

  37. Hehehe, Iya. Memang agama adalah ahlinya intimidasi, sih.๐Ÿ™‚

    Jangan lupa tambahkan ramuan politik-ekonomi biar lebih mumpuni๐Ÿ˜†

  38. @ yarza
    Yaa, berbaik sangka dululah, barangkali memang ingin berbagi surga dan bidadarinya.๐Ÿ˜›

    @ alex
    Dan bayonet pun tidak dibutuhkan lagi.๐Ÿ˜†

  39. Benar…
    Jadi tidak butuh bela-diri atau belati untuk jaga-jaga diserang.

    Yang kita butuhkan cuma ear-phone utk men-cuek-kan semua hujjah yang nanti jadi senjata pengganti tho, Ged?๐Ÿ˜†

  40. Kadang tak jelas… sampai batas mana manusia mereduksi kehendak Tuhan dan kehendak diri untuk menjadi Tuhan atau menjadi Nabi. Ada motif-motif solidaritas dan ekonomi, ada juga faktor lain dari faktor yang menjelajahi nurani dan bukan dari sumber aslinya. Ada juga faktor support untuk menyimpangkan karena faktor politik. Jadi memang tidak hitam putih, tapi juga ada pada batas-batas reduksi kesalehan dan ego…

  41. (jangan?) terlalu menganggap serius sesuatu yang ManMade.

    yg dimaksud dgn ManMade disini postingan ini atau agama? Secara logika, jika Tuhan maha kuasa, tidak ada benda apapun yang benar2 ManMade.., bisa jadi apa yg dituliskan geddoe ini merupakan wahyu ciptaan Tuhan juga khan?,
    *mendukung nabi geddoe*:mrgreen:

  42. Welll, semua manusia boleh menafsirkan agama dengan logika mereka. Tapi hanya satu jawabannyaโ€ฆ.

    KemaTIANโ€ฆ

    rasakan dan berargumenlah dengan munkar&nakir

    syeureum…๐Ÿ˜†

    kok anda tahu kalo disono bakal dialog ama munkar & nakir? abis dari sono yah?:mrgreen:

  43. @komen di atas
    Doktrin yang sering dicekokin ke kita kan memang seperti itu.๐Ÿ˜€

    *kabur sebelum ditangkep setan doktrin*:mrgreen:

  44. @ gembel

    Welll, semua manusia boleh menafsirkan agama dengan logika mereka. Tapi hanya satu jawabannyaโ€ฆ.

    KemaTIANโ€ฆ

    rasakan dan berargumenlah dengan munkar&nakir

    bigotry, bigotry, bigot all the way…๐Ÿ˜›

  45. @ alex
    Tapi mungkin tidak. Taliban kemana-mana bawa pedang dan pecut ‘kan? Untuk memecut yang musyrik-musyrik sepanjang jalan.๐Ÿ˜›

    @ agorsiloku

    Kadang tak jelasโ€ฆ sampai batas mana manusia mereduksi kehendak Tuhan

    Yaa, kehendak Tuhan ‘kan beda kepala, beda versi, pak.๐Ÿ™‚

    @ Jabizri
    Benar… Saya kayaknya mesti lebih menikmati hidup…๐Ÿ˜ฆ

    @ warnetubuntu
    Berarti ini tulisan suci…?
    *mulai agak megalomaniak*

    @ Tito

    A samurai once asked Zen Master Hakuin where he would go after he died. Hakuin answered ‘How am I supposed to know?’
    ‘How do you know? You’re a Zen master!’ exclaimed the samurai.
    ‘Yes, but not a dead one,’ Hakuin answered.

    :mrgreen:

    @ Agiek
    Yah, kalau saya bertemu mereka, semoga ya mereka nggak segalak yang diceritakan pada saya, mas.๐Ÿ˜ฆ

    @ sora9n
    Sssh! Kafirโ„ข kamu!:mrgreen:

  46. Tidak ada yang kekal? Jadi ingat, belakangan ini saya berpikir, mas. Ternyata saya ini memang result-oriented. Walau lenyap dari dunia terdengar menyedihkan, tiba-tiba saya tersadar kalau kekekalan justru lebih menakutkan.๐Ÿ˜ Saya jadi ingat dengan tokoh-tokoh immortal fiksi yang menghabiskan bertahun-tahun demi menemukan cara untuk mati, misalnya Van Hohenheim (FMA) atau Zasalamel (Soulcalibur).๐Ÿ™‚

    sekedar nambahin Luc nya suikoden bisa nggak…???

    *nggak mau ikut pembahasan agama ahh, iman saya kurang kuat, malu saya kalo harus ngomong macem-macem tentang agama*

  47. ya.. blog anda sangat mantap !
    God is the failure of humanity !

    cuma gw jd rada paranoid liat keadaan umat beragama indonesia.. kok jadi terkesan radical ya.. yang liberal aja diserang.. =.=”

  48. Depends. God is a vague conception, you see. Based upon the conceptions God can either be a deity, a savior, or even a delusion.๐Ÿ™‚

    Ah, memang, kebebasan berpendapat masih sangat dikekang di Indonesia. IMO.

  49. Konon™ kebutuhan akan tuhan itu adalah fitrah bagi manusia. Satu titik yang dicari terus-menerus, bahkan dengan cara membantah keberadaan-Nya sekali pun…

    Aneh juga ya? Bahkan yang atheis pun bisa ribut-ribut tentang Tuhan sementara di kesempatan lain mendeklarasikan bahwa Tuhan itu bullshit๐Ÿ˜†

    Padahal gampang saja toh? Kalo sudah menolak keberadaan Tuhan ya mesti istiqamah, jangan dipusingin lagi:mrgreen:

    Depends. God is a vague conception, you see. Based upon the conceptions God can either be a deity, a savior, or even a delusion.

    Benar.
    Eh, konsepsi ini kok agak erat dengan relativisme, Ged?๐Ÿ˜€

  50. Kadang.. pada satu saat.. saya bisa sangat yakin bahwa Tuhan itu ada.. tapi disaat lain, saya pernah ragu2 atau malah yakin bahwa Tuhan tidak ada.. apa mungkin ini yg disebut bahwa Tuhan itu maha terang, tapi juga maha tersembunyi? *pusing*, selama ini saya suka mempelajari berbagai konsep tentang Tuhan.. tetapi tidak ada satupun konsep yg berhasil meyakinkan saya untuk percaya atau sebaliknya..
    semakin saya mendekati yakin akan keberadaan Tuhan.. saat itulah muncul paradox2 yg menentangnya.. demikian sebaliknya.. saat saya mendekati yakin bahwa Tuhan tidak ada.. saat itu juga muncul paradox2 yg membuktikan sebaliknya juga๐Ÿ˜ฆ ,
    btw, ada saran gak?, kadang saya rindu kondisi saat masih anak2 dulu.. yg samasekali tidak mempedulikan hal tersebut.. apa enaknya gitu aja ya..:mrgreen:

  51. @ warnetubuntu

    Entahlah…. aku juga ndak punya cara utk ngelak dari hal itu. Pernah jadi agnostic-alike, dengan mempersetankan ritual ibadah. Tapi… apa yang didapat? Melarikan diri pada hidup dan menjadikan filsafat sebagai rumah baru? Itu kan agama juga ujung-ujungnya? Itu juga membentuk tuhan baru juga kan?๐Ÿ˜†

    Seperti komunisme-nya para kamerad di rusia era Lenin dan Stalin juga. Menolak mati-matian keberadaan Tuhan, keberadaan agama, tapi pada saat yang bersamaan resah dengan banyaknya orang – yang di mata mereka bisa jadi idiot – karena percaya pada Tuhan.

    Ujungnya? Mereka membentuk agama sendiri. Agama palsu kalo kata Cak Nur. Menolak kitab suci, tapi Das Kapital juga jadi kitabnya, apa bedanya?:mrgreen:

    Istiqamah saja. Kalo percaya ya percaya, kalo ndak percaya, ya tinggalkan. Jika agama dan tuhan adalah candu, cari candu lain. Mungkin bisa meniru perokok? Muak dengan Lucky Strike, pindah ke A Mild atau Djarum.

    Tapi yaaa… sama-sama candu™ juga kan akhirnya?๐Ÿ˜‰

  52. @ alex
    Ya konsep Tuhan itu ‘kan macam-macam. Nggak jelas yang mana yang resmi. Kalau Tuhan yang semacam Odin atau Eurynome, ya boleh dibilang memang nggak ada. Kalau yang semacam Jehovah, bisa dipertentangkan. Kalau yang Tuhan Einstenian yang digadang-gadangkan Hitchens dkk (i.e. personifikasi alam semesta), ya memang pasti ada. Jadi Tuhan yang mana dulu?๐Ÿ˜›

    Mungkin bisa meniru perokok? Muak dengan Lucky Strike, pindah ke A Mild atau Djarum.

    Nah, saya lagi nyoba berbagai rokok, nih. Mumpung masih muda, coba semuanya, baru memutuskan.๐Ÿ˜€

    @ warnetubuntu
    Yah, saya juga begitu.๐Ÿ˜›

    Suatu ketika saya pernah berpikir, bahwa sebenarnya Tuhan ada atau tidak, sebenarnya tidak membawa perubahan apapun pada cara hidup saya. Mungkin ini murni rasa ingin tahu, ya?:mrgreen:

    btw, ada saran gak?, kadang saya rindu kondisi saat masih anak2 dulu.. yg samasekali tidak mempedulikan hal tersebut.. apa enaknya gitu aja ya..:mrgreen:

    Memang, ignorance is bliss. Tapi kalau membayangkan, dengan kepolosan itu saya bisa terjebak bigotry, mengerikan juga. Sebab mungkin hanya dengan handicap ini saya bisa benar-benar menghargai kepercayaan orang lain?

  53. sebenarnya tidak membawa perubahan apapun pada cara hidup saya.

    Tapi blom tentu juga.. mengetahui banyak konsep ttg Tuhan sebenarnya menarik juga.. kadang saya merasa “berdosa” karena menggunakannya untuk kepentingan pribadi tergantung kebutuhan..:mrgreen:
    misalkan ada orang yg sedang ragu2 akan Tuhan karena mendapat “musibah”.. saya dengan berbagai dalil dan teori “percaya Tuhan” tersebut, bisa meyakinkan orang untuk tetap tabah *dan itu sangat bermanfaat bagi mereka…
    tetapi kadang ada juga kondisi dimana melihat orang dengan sombongnya menggunakan Tuhan untuk kepentingannya.. saya bisa berdebat dan memberikan teori2 yang memprovokasi pemikirannya ttg Tuhan.. sampai kadang mereka juga ikut “ragu2”:mrgreen:

  54. Persis, saya juga begitu.:mrgreen:

    Sebenarnya apabila pertanyaan akan eksistensi Tuhan dipertanyakan pada saya, jawabannya akan sangat tergantung dari identitas si penanya.:mrgreen:

  55. Wah, akhirnya di tulis juga tentang dialog nan indah itu ya kopral?:mrgreen:

    Tak cerna dulu, soale agak panjang nih.:mrgreen:

    *hiks, fadahal saya ada ide nulis tentang ini juga*

  56. @geddoe
    karena cara mencintai makhluk dan Tuhan itu berbeda. Jelas, cara mencintai ibu difo juga beda๐Ÿ˜€

    hm,apakah ini betul2 berasal dari perasaan difo yang paling jujur nih?

    karena kadang, manusia itu perlu membiarkan perasaannya menyeruak keluar. untuk mencari.
    DAN SEGALA PRODUK PEMIKIRAN MANUSIA ITU TIDAK AKAN PERNAH BISA MENCUKUPI UNTUK DI SEBUT SEBAGAI KEBENARAN..(Anis Matta)

  57. saya kadang kadang setuju dengan ide JIL, tapi kadang kadang saya juga gerah dg tulisan tulisannya yang mungkin akan memeperkeruh suasana, walau mungkin niatnya bagus, tapi sebaiknya penyampaian dan cara nya agak diperhalus

    kata orang java ” Kenek iwake, tapi ojok sampe buthek Banyune”

    secara personal, juga kadang ga diperlihatkan secara kukuh oleh (maaf) anggota JIL, bahwa mereka membawa perubahan, ketika hal hal yang syari aja ditinggalkan dengan enteng [contohnya dengan santai menunda sholat wajib ketika sudah masuk waktunya..untuk sekedar meneruskan diskusi/ simposium,)]

    no offense lho ini, n maaf bila OOT

  58. @ eMina
    Yah, buat saya, sih, cinta itu universal. Jadi nggak ada perbedaan substansial antara kasih Tuhan dan manusia. Mungkin mindset kita berbeda.๐Ÿ™‚

    @ masdhenk
    Saya kira JIL lebih memilih untuk menomorduakan ritualisme. Saya pribadi menganggap pemahaman seperti itu bukannya tidak beralasan, namun memang terlalu ekstrim untuk diterapkan; setidaknya saat ini.๐Ÿ˜€

  59. Sudah membaca sejak komentar ke-20-an, tapi sampai sekarang, males mengklik tombol “Kirim Komentar”, entah kenapa.

    Karena tidak ada yang ingin aku komentari.๐Ÿ˜†

    (lha? kenapa komentar ini terkirim?)

    Do I love religion God? I don’t know, but I think so.๐Ÿ™„

  60. Hal ini menjadikan agama sebagai tidak lain proyek paling egois yang pernah ada. Tuhan tidak pernah dicintai. Ia hanya dieksploitasi.

    kutipan ini menarik sekali… melihat fenomena masyarkat “agamanis” yang terkesan tidak mau berubah.. baik tafsir atas segala prilaku budayanya…

    jadi benarkah agama itu egois????

  61. @ kurtubi
    Tergantung, pak. Saya tidak tahu sifat agama secara hakikat, namun pada prakteknya saat ini, memang menurut pendapat saya tereduksi menjadi proyek egois.๐Ÿ™‚

    @ Agiek
    *classified information*:mrgreen:

  62. Halluuu ! Kesasar kesini ..
    Merasa menemukan teman sepemikiran ..
    Salam Kenal yaaa …

    Udah capek rasanya mendengar berita ‘ribut2’ terus tiap hari ..

    Lama2 kalo tak pikir2 mereka2 yang slalu menunjuk jidatnya sebagai orang beragama (yang paling benar tentyunya) kok jadi “merasa” lebih pintar dan merasa lebih tahu daripada Tuhan-nya sendiri ya ..

    Kasihan Tuhan kalo udah kaya gini ini .. hiks hiks๐Ÿ˜ฆ *prihatin sambil ndlosor*

  63. Ah, salam kenal juga, mbak.๐Ÿ™‚

    Btw perlu bikin kontes a la blasphemy challenge RRS nggak ya? “Siapa berani sebut dirinya mungkin masih kafir?”:mrgreen:

  64. Pingback: Mengapa Mahasiswa Harus Mendukung Fundamentalisme Islam « OMG! Opinions - Uncensored

  65. *akhirnya setelah baca semua*

    1. Makanya ada kecendrungan orang yang mementingkan Tuhan jadi agak tidak mementingkan syariat (aturan) lembaga agama.

    2. Tuhan itu merupakan suruhan dari manusia untuk memenuhi harapannya.๐Ÿ˜†

    Komentarnya 2 aja duluw.

  66. Nah, saya lagi nyoba berbagai rokok, nih. Mumpung masih muda, coba semuanya, baru memutuskan.๐Ÿ˜€

    Wah… jadi tuhan = rokok donk?๐Ÿ˜†
    Tapi itu bukan kamu duluan yang bilang lho, Ged. Kemaren itu mr. taufik ismail si penyair ketuhanan juga menyamakan rokok dengan tuhan..

    Nah lho! Nah lho!
    Kalian sama-sama sesat™

    *sulut rokok*
    *pasang niat: dikau rokok tiada lain hanyalah kenikmatan duniawi belaka*
    :mrgreen:

    Ya… mumpung muda, ndak salah Ged. Kita kan sama-sama masih muda ini๐Ÿ™„
    Sebagai pengalaman saja… mana tau nanti Geddoe macam Jeffrey Lang itu…

  67. – Saya selalu tertarik dengan pernyataan : “prima kausa itu menjadi objek pelengkap dan penderita” (maafkeun otak kotor saya tidak cukup untuk mengingat siapa yang bilang)๐Ÿ˜ฆ

    – Saya juga selalu tertarik pada Rumi, dan alang-alang yang rindu pada rumpunnya, juga laron yang silau pada cahaya dan lebur bersama api. (maafkeun lupa lagi dari sebuah buku tentang Maulana Rumi)๐Ÿ˜ฆ

    – Tertarik pula saya pada Rabiah yang akan membakar neraka dan menyiram surga, sehingga hanya karena cinta semua gerak. (dari mana ya saya baca ini??)๐Ÿ˜ฆ

    – Mereka yang mengharapkan surga dan takut neraka, mereka ini lebih parah lagi karena hubungannya dengan Tuhan adalah hubungan dagang (nah kalo ini saya inget, Ronggowarsito dalam Wedhatama)

    ::Kesimpulannya, saya pelupa:: ah maaf OOT

    ______________________________________________
    OOT yang masih berlanjut :
    Selepas mie bid’ah, bambang soebiawak, dan artikel boso linggis yang saya ga ngerti๐Ÿ˜ฆ mantra kau semakin ampuh sobat, Syaluth:mrgreen:

  68. Hehehe, itu semua pemikiran sufistik, CMIIW.:mrgreen: Menarik, sayangnya nggak direstui oleh ulama-ulama budak ritual.:mrgreen: Kalau nggak salah saya pernah baca, entah dari blog Abu yang mana, kalau iman itu nggak sah kalau hanya dengan cinta, mesti dengan rasa takut, dan seterusnya. Benar atau nggak, saya nggak tahu juga.๐Ÿ˜›

    Btw, mantra apa, ya?๐Ÿ˜€

  69. Pingback: Sampai Jumpa di MAHSYAR « wak AbduLSomad

  70. Ah saya selalu telat kasih komen disini.

    Ternyata hukum kelembaman massa berlaku juga pada manusia bahkan pada sistem2/konsep2 ciptaan manusia, sekali diam engan untuk bergerak, sekali bergerak enggan untuk diam. Kita memang nggak bisa lpas dari hukum alam, coz tiada tuhan selain alam๐Ÿ™‚

    Ah semoga semua makhluk bahagia๐Ÿ™‚

  71. @ almirza
    Yah, asal dibaca, saya sudah senang.๐Ÿ™‚

    @ joyo
    Benar. Manusia memang cenderung untuk mempertahankan apa yang sudah ada. Inersia.๐Ÿ˜›

    Ja. Semoga semua makhluk bahagia.๐Ÿ˜€

Comments are closed.