Wejangan Mbah Russell, pt. 2

mbah russell

Bertrand Russell (1872-1970)

Renungan hari ini. Berbeda dengan yang kemarin, lho.

“The secret of happiness is to face the fact that the world is horrible, horrible, horrible.”

Bertrand Russell, the Passionate Sceptic (Allen and Unwin, 1957)

* * *

*manggut-manggut*

*tercerahkan*

*dada terasa lapang*

p.s.
Saya ingatkan kembali, mbah Russell itu orang agnostik kafir. Bisa jadi beberapa yang suci dari anda tidak sudi mengotori pikiran maha bening anda dengan wejangan pukimak sesat à la beliau.😛

In God We Trust. RosenQueen, company.

74 thoughts on “Wejangan Mbah Russell, pt. 2

  1. “The secret of happiness is to face the fact that the world is horrible, horrible, horrible.”

    *ngakak*

    Betul sekali. And that makes most idealists being unhappy all their life..😉

  2. Euh, pertamax ya? (o_0)”\

    *baru sadar*

    BTW,

    Saya ingatkan kembali, mbah Russell itu orang agnostik kafir. Bisa jadi beberapa yang suci dari anda tidak sudi mengotori pikiran maha bening anda dengan wejangan pukimak sesat à la beliau.😛

    Kayaknya kata-kata ini selalu muncul di setiap seri “Wejangan Mbah Russel”, ya?😕

  3. Betul sekali. <i.And that makes most idealists being unhappy all their life..😉

    Being unhappy for them isn’t a matter of choice. Nurunin standar dikit lah…😆

    Kayaknya kata-kata ini selalu muncul di setiap seri “Wejangan Mbah Russel”, ya?😕

    Memang mau dipakai di seri wejangan.😕

  4. pinginnya seeh kamu postingin wejangan mbah utsaimin, ato Syech Bin Baz, mbang. Pasti blogmu bakal seru tuh, karena bakal dikira situs humor kekekeke2x :mrgeen:

  5. “The secret of happiness is to face the fact that the world is horrible, horrible, horrible.”
    satu hal yang bisa saia ngerti dari quotes itu, mukanya mbah russel yang horrible, dan itu membuad saia bahagia…:mrgreen:

  6. Jadi inget kutipan Einstein:
    ..Only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle.The other is as though everything is a miracle. — Einstein

    *kupipes dari blog orang*

  7. The secret of happiness is feel happy.

    Hehehe, boleh beda dari mbah Russel khan? Happiness is independent thng.

  8. @ danalingga
    Iya, kurang lebih sih kayak begitu.😛

    @ fauzan.sa
    Rahasia kebahagiaan adalah merasa bahagia? Itu persis bunyi doktrin Zen, lho. Pernah baca Zen?:mrgreen:

  9. Kinda like,”Ignorence is a bliss”, huh?

    pernah denger di film,”It’s either you happy, or you’re right, but you can have it both”
    😀

  10. bos gimana sih cara membuat halaman tersambung kaya itu??? tampak depannya cm summary doank kan??
    thx.

  11. Wejangan mbah CY :
    the secret of happines is cuek…:mrgreen:

    Ahahaha…
    Benar… benar…
    Sampai sekarang aku sendiri merasa iri dengan orang yang bisa cuek begitu, bro😛

  12. @ warnetubuntu
    Biarin.😛

    @ CY | dnial | alex | irdix
    Kok, mirip sama wejangan a la saya?:mrgreen:
    Benar, itu…

    @ Didit Jawa
    Bisa dibaca di [sini].🙂

    @ p4ndu_454kura
    That’s because you’re cuek, padawan…😆
    I say don’t study religion if you wish to keep it that way.:mrgreen:

    @ mardun
    Nggak semuanya, mas. Cuma menerima kalau ‘ada yang jelek, ya wajar…’😆

  13. Mbak tidak memiliki hati suci dan bening.
    Namun, jika Russel mengatakan “Untuk merasa bahagia, maka kita harus mengadapi kenyataan bahwa dunia itu mengerikan. Mengerikan. Mengerikan”, menurut mbak, itu tidak selamanya tepat juga.
    Mengerikan nya sampe di bilang 3 kali. Apa sedemikian mengerikannya dunia ini? Seolah –olah begitu buruk. Terus apakah Russel (atau jika tidak, Bambang deh) bisa menjelaskan, mengerikannya seperti apa?
    Memang, kelihatannya apa yang diucapkan oleh Russel itu sangat realistis. Pada kenyataanya hidup memang tidak mudah. Semakin tua dunia ini –meskipun teknologi semakin canggih (yang notabene memberikan kemudahan pada manusia), tapi kelihatannya dunia semakin ‘mengerikan’. Banyak kejahatan, perang dimana –mana, manusia saling ‘membunuh’.
    Namun, seperti sudah pernah saya bilang di tulisannya Death Berry, saya teringat film Life is Beautiful” –nya Roberto Benigni. Mbak pikir itu bukan hal terlalu muluk dan terlalu berkhayal mengenai “Hidup itu indah”. Segala sesuatunya tidak boleh dipandang terlalu baik atau terlalu buruk. Sebab jika hidup dipandang “horrible”, maka justru kita akan selalu sinis dan pesimis dalam memandang hidup, dan karenanya justru kita tidak bahagia.
    Ungkapan yang lebih disukai mbak adalah “hidup itu tidak mudah. Hidup adalah perjuangan, segala sesuatunya harus diperjuangkan.”. karena dengan demikian, maka kita akan selalu punya dorongan untuk mengerluarkan segenap energi kita, demi kehidupan yang lebih baik. Terus berjuang, itu intinya. Seburuk apapun atau semengerikan apapun dunia ini. Karena ada hal –hal indah (sekecil apapun) yang kadang tidak kita sadari.

  14. ER…itu kata -kata mbak itu banyak terpengaruhi wejangan mbah anis matta..

    semangat !!!!!!

  15. hidup ato dunia itu mengerikn krn sifatnya yg tdk kekal-Buddha lg deh, kl yg sy rasakan,sy ato tubuh sy tmsk emosi, hasrat jg pikiran sy tdk pernah puas.

  16. Ya, saya rasa yang perlu dilakukan adalah nggak berorientasi pada hasil lagi, ya? Maksudnya, selalu ingin semuanya, tapi nggak dapat pun nggak apa-apa.:mrgreen:

    Memang aneh, tapi saya pernah mengalami perasaan ke-enlightened semacam (walau hanya sebentar) “Ingin hidup selama-lamanya, tapi mati saat ini juga pun nggak apa-apa”.🙂

    Jadi itu mungkin.😛

  17. Bahagia lah saat ini ato at least jng lah menderita saat ini. Maka kelak saat mati nanti kita akan jd makhluk yg bahagia ato at least bkn makhluk yg mderita. Hehe teorinya gini.

  18. @bams-chan a.k.a difo a.k.a geddoe
    …he?
    ya terserah difo yang keren lah.
    pokoknya life is beautifuuuuul.. ^_^

  19. yup… pada dasarnya sama khan?

    kalo dibaca sekilas kayaknya kalimat itu pesimis padahal “kalo kita tahu gimana caranya menderita, kita akan bebas dari penderitaan” (dikutip dari Hymn of Jesus)

  20. “Yah, mungkin beberapa memang nggak rela menerima kalau hidup itu sengsara”

    Um? Apakah beberapa itu termasuk saya?😦
    ‘>_>

    Sebetulnya, bukannya “nggak rela menerima”, difo. Karena, walaupun tidak mau kita terima, toh hidup pilihannya tetap dua; yaitu antara senang dan sedih, sengsara dan bahagia.

    Saya hanya menanamkan sugesti dalam diri saja, bahwa jika kita menganggap hidup itu sengsara dan mengerikan, maka cara berpikir kita pun akan mengarah ke sana. Mengapa tak positif thinking saja dan enjoy your own life. Kadang, kita perlu sugesti juga untuk tetap semangat menghadapi masa depan.

    Nah, klo berpikir bahwa hidup itu sengsara, jangan –jangan nanti akan mengarah pada sebuah pikiran lain, “klo gitu, gak usah hidup sekalian. Toh, hidup itu begitu mengerikan dan sengsara”. Atau, “hidup ini bagaikan hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang akan menang”.

    Soalnya, cara berpikir seseorang itu akan berpengaruh pada pola hidupnya juga.

    Peace..:mrgreen:

  21. yah, ga apa -apa kok difo.
    maap ya, itu mimiknya jadi sampe kayak gitu..
    maap ya..

    tidak ada yang salah jika kita mempelajari berbagai ilmu dan cara berpikir seseorang. silakan mengadopsi dan ’embat’ itu ilmunya orang orang pinter itu.

    hanya saja, kita perlu punya filter, jangan ditelan semuanya. klo bahasa kerennya, diadopsi untuk memperkaya bahasa yang nyastra:mrgreen:

    he? apa ya maksudnya itu..

  22. eh, mbak terkesan memaksakan pendapat kah?
    Ato ngajak debat?
    Jangan –jangan iya…😦
    Habisnya, agak terprovokasi sih, he..
    Hm, katanya, banyak anak muda Indonesia yang terjangkiti “merasa telah menjadi pemikir” sesudah mempelajari konsep2 pemikiran seperti ini. Padahal masih jauh. Hehe, jangan terjebak ya, Difo.

    Tetap semangat !!!

  23. Pingback: Wejangan Mbah Tendou « sora-kun.weblog()

  24. Kalo kata orang Jawa, “Mikul dhuwur mendhem jero”

    Kalo memikul, pikullah yang tinggi, ketika harus memendam, pendamlah sedalam-dalamnya.

    Saya sendiri nggak tahu maknanya. WAKS! salah ambil wejangan.

    Yang bener, “Urip ki sing legowo”

    Hidup itu legowo (mmm… bisa menerima). Kayaknya ini deh.

    atau “Sing jembar segarane”

    Bisa memaafkan.

    Atau,…ah kebanyakan nanti.

    —————–
    As usual, comment ku selalu telat

  25. Lho iya!

    Justru Jawa memiliki banyak falsafah yang kaya akan nasehat yang baik untuk kehidupan. Cuman sayangnya, orang-orang Jawa tidak memiliki budaya mencatat. Semuanya turun-temurun melalui nasehat oral.

    Coba deh baca Umar Kayam’s “Mangan ora Mangan Kumpul”.

    O iya, tapi kalau Jawa itu seringnya nasehat dalam bentuk implisit.

  26. Waduh! agak sulit kalau di Internet. Kalau main ke daerah yang masih jawa banget kayak Bantul gitu sih bisa.

    Tapi coba deh ya kalau ketemu kukasih!

  27. Pingback: Wejangan Mbah Takuan Soho « Satori

  28. Pingback: ‘Teguran’ dari Sepotong Komik « sora-kun.weblog()

Comments are closed.