Built-in Self Defense Mechanism

Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Sayalah anjingnya, sayalah kafilahnya.πŸ˜›

Yup, yup, walaupun tempo hari saya sendiri yang ngedumel karena pembahasan tentang agama di blogosfer (dan di ‘rumah’ saya sendiri) sudah overdosis, kali ini saya akan tetap menulis tentang hal yang sama. Saya memang sudah kecanduan, dan tidak ada yang bisa menghalangi saya kecuali pacar saya… Dan saya tidak punya pacar.

Oks, oks, kembali ke goa[1].

“Akal manusia ada batasnya. Tidak akan bisa meraih Tuhan dan agama. Oleh sebab itu, sebaiknya jangan berpikir terlalu jauh— sebab setan-setan akan dengan mudah membelokkan akal yang terbatas itu, dan menjebak kita untuk berpaling dari jalan yang benar.”

Ho, jangan pura-pura tidak tahu. Anda pasti familiar dengan sentimen seperti itu. Atas nama sentimen yang sama pula blogosfer di sekitar sini sempat menjadi panas awal tahun ini.πŸ˜›

Sejatinya, doktrin di atas adalah embodimen dari paham fideisme. Paham bahwa akal tidak akan bisa dipakai untuk menjangkau Tuhan. Walaupun menurut saya pribadi konsep ini bisa saja sejalan dengan freethought, pada prakteknya memang sang konsep lebih sering diperbudak oleh dogma. Memang, dengan konsep seperti itu, se-absurd apapun dogmanya, umat memang akan tetap tunduk dan taat. Singkatnya sih, statemen di atas adalah built-in self defense mechanism pada kebanyakan agama. Kalau ada seorang kafir yang argumennya terlalu susah dipatahkan, tinggal pakai fungsi di atas. Habis perkara.

Nah, lucunya, menurut pengamatan saya, atheisme sedikt banyak juga punya dogma seperti di atas.

ep 1/2: Happy Hour

Pertama, mari berkenalan dulu dengan atheisme.

Setahu saya, ada dua macam atheisme. Perbedaannya juga cukup mencolok. Pada dasarnya, atheisme tersusun dari kata-kata a-the(os)-isme; secara berurutan, bermakna kasar tidak-tuhan-paham. Dua jenis atheisme lewat sudut pandang saya bisa dipahami dari dua cara menggabungkan ketiga kata tersebut;

  1. A + the(os)ismeTidak + theisme. Bermakna sederhana; bukan seorang theis. Weak atheism/negative atheism. Menurut pemahaman saya, paham ini terombang-ambing di antara agnostisisme, apatheisme, dan ignostisisme.
  2. Athe(os) + isme
    Tidak tuhan + isme. Yang ini paham ke-tidak-Tuhan-an. Strong atheism/positive atheism. Paham ini mendoktrin bahwa yang namanya Tuhan itu memang tidak ada.

Perbedaannya adalah, atheisme pertama (weak atheism/atheisme lemah) adalah paham yang “tidak percaya bahwa Tuhan itu ada”, sedang yang kedua (strong atheism/atheisme kuat) adalah paham yang “percaya bahwa tuhan itu tidak ada”. Kedengarannya sih memang agak ambigu, tapi berbeda, lho.πŸ™‚ Atheisme lemah hanyalah keadaan di mana kepercayaan akan eksistensi Tuhan itu tidak ada (yang tidak ada itu kepercayaannya). Atheism kuat adalah keadaan di mana yang ada adalah kepercayaan sebaliknya (i. e. Tuhan tidak eksis).

Kalau masih sulit membedakannya, ada baiknya kalau saya memberikan contoh. Nah, contoh seorang atheis lemah adalah bayi yang baru lahir. Contoh seorang atheis kuat adalah Richard Dawkins, Sam Harris, atau Christopher Hitchens.πŸ™‚ Sudah paham bedanya? Kalau menggunakan logika komputer, menurut saya bisa diumpamakan bahwa dalam konteks ‘percaya akan eksistensi Tuhan’, seorang theis memiliki variabel true, seorang atheis kuat memiliki variabel false, dan seorang atheis lemah memiliki variabel NULL.

Nah. Kenyataannya, menurut saya batas di antara dua macam atheisme ini seringkali terkaburkan. Perbedaannya bukan hanya pada burden of proof[2], namun juga pada basis. Yang satu berbasiskan agnostisisme, dan yang satunya berbasiskan dogma. Misalnya, mbah Dawkins sendiri sempat bersabda dengan sinis, ketika menyinggung masalah fanatisme fundamentalis agama;

“…why would anyone go to war for the sake of an absence of a belief?”

Ini adalah sentimen yang populer. Yang ditekankan adalah bahwa kepercayaan-lah yang mampu menjadi bahan bakar ekstremisme. Absensi sebuah kepercayaan, tidak memiliki bahaya seperti itu (yep, propaganda tentang imunitas atheisme terhadap ekstremisme). Ini adalah salah satu aspek yang sebenarnya saya kurang sukai dari beberapa penulis atheis— konsep ‘absensi sebuah kepercayaan’ adalah atribut milik atheisme lemah. Atheisme kuat yang mendogma bahwa “Tuhan itu tidak ada”, tidak memiliki privilege itu.πŸ˜• Sebab, atheisme kuat juga merupakan bentuk kepercayaan. Kepercayaan bahwa Tuhan itu tidak eksis. Dan memang benar, pernyataan itu merupakan salah satu blunder Dawkins. Stalin pernah bertempur atas nama atheisme— ia pernah membantai para biarawan di Rusia… Hanya karena mereka adalah biarawan. Protes ini sendiri diutarakan dengan cerdas oleh Andrew Brown.

Jadi, terdapat perbedaan-perbedaan substansial antara atheisme lemah dan atheisme kuat. Apabila kita perhatikan lebih dekat, atheisme lemah memiliki basis agnostik dan cenderung tidak dogmatik dalam memahami teologi. Corak ignostisisme dalam paham ini, misalnya, tidak memiliki kepercayaan theistik hanya karena adanya pemahaman bahwa kepercayaan akan Tuhan tidak membawa perubahan apa-apa (misalnya, kalaupun Tuhan ada, tidak ada afterlife, dst.). Atheisme kuat, di sisi lain, berlandaskan atas dogma. Dogma bahwa Tuhan itu tidak ada.

Perhatikan. Ada dogma. Dan di mana ada dogma… Maka ada…

Built-in self defense mechanism!πŸ˜€

ep 2/2:Hangover

Saya kira atheisme yang paling stereotip di saat ini adalah atheisme dogmatik dengan corak materialis. Berbasis sains. Atheisme jenis ini menganggap bahwa;

“Konsep Tuhan muncul untuk membantu manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan sains (teori god of the gaps). Dan seiring dengan perkembangan sains, maka gap yang ada akan hilang sama sekali. Teori evolusi berhasil menjadi crane untuk menjelaskan fenomena biologis, dan seterusnya mulai membahayakan teologi kultural. Selanjutnya tinggal menunggu crane yang mampu menjelaskan fenomena fisika, untuk memusnahkan sisanya (a.k.a. teologi natural). Sains pasti akan mampu mengungkapkan misteri time zero. Kalaupun masih ada gap yang menyisakan ruang untuk Tuhan, sains bisa dipastikan akan menutupnya, cepat atau lambat.”

Oh?

Sebenarnya ironis sekali kalau atheisme yang terlahir dari oposisi terhadap dogma sampai harus bergantung pada dogma yang lain, dan bahkan mulai mengadopsi teknik escape to the future. Seperti halnya dengan agama, terlepas dari apakah paham yang dijual itu benar atau salah, bergantung pada dogma (dan built-in self defense system) adalah antiklimatik buat atheisme. Sejujurnya saya sedikit kecewa ketika membaca pembelaan mentah dan dogmatik Dawkins tentang gap yang masih ada pada sains. Sama kecewanya seperti ketika saya membaca karya apologis anti-Dawkins-nya Keith Ward (yang sama mentahnya) di awal Ramadhan ini.[3]

Walau ironis, saya sebenarnya bisa mengerti. Semakin suatu paham mendekati kepastian, pasti akan semakin sulit untuk diterima. Sebab dunia tidaklah pasti. Saat itu, diperlukan sesuatu untuk menjaga dogma yang ada, dan self defense mechanism pun pastinya akan muncul. Pada akhirnya, atheisme positif tetaplah kepercayaan yang dogmatik. Apabila kita teliti dua sentimen populer berikut, dari seorang theis dan atheis yang sama-sama dogmatik, akan terlihat persamaannya;

“Akal manusia terbatas. Walaupun menurut akal anda [insert a religion here] itu salah, tidak berarti anda benar. Akal anda saja yang tidak mampu mencapainya. Tahukah anda bahwa setan selalu berusaha menyesatkan manusia? Bisa jadi keraguan anda itu adalah hasil tipu muslihatnya.”

“Akal manusia tidak selamanya sejalan dengan fakta sains. Walaupun menurut akal anda atheisme itu salah, tidak berarti anda benar. Tahukah anda bahwa sebongkah marmer memiliki lebih banyak ruang kosong daripada ruang yang ada isinya? Sains terkadang melampaui akal manusia. Dan itu belum termasuk masalah fisika kuantum.”

Now basically they’re just some classy ways to say;

“If you think it’s not the way I told you it is, then, it’s just your imagination.”

Even atheists can never escape skepticism!😈

.

.

.

Footnotes:
[1] Courtesy of the late (though seemingly reborn) Wadehel.
[2] Burden of proof. Atheis kuat memiliki kewajiban untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada, namun tidak demikian halnya dengan atheis lemah.
[3] Ekspresi mbak kasirnya (yang sepertinya lumayan religius itu) sewaktu saya menunjukkan buku yang saya beli, benar-benar priceless.πŸ˜†

In God We Trust. RosenQueen, company.

51 thoughts on “Built-in Self Defense Mechanism

  1. heheh.. so wich one are you in?

    btw, mungkin expresi yg sama saat saya beli bible, ensiklopidia2 tematik islam, dan buku ttg buddha. Dan ya.. mbak kasirnya berjilbab tampak religius.

  2. Saya? Nggak tahu juga… Saya bingung, pastinya.πŸ˜†

    Yep. Memang mbak kasirnya memang berjilbab tampak religius. Mungkin di dalam hatinya tercengang, Dajjal mana yang lancang mempertanyakan agama di bulan Romadlonβ„’?πŸ™„

    Eniwei, saya nggak punya kartu kredit.πŸ˜› Kartu diskon buat resto sushi yang udah nggak berlaku lagi, sih, ada.πŸ˜›

  3. [OOT]

    dan tidak ada yang bisa menghalangi saya kecuali pacar saya… Dan saya tidak punya pacar.

    makanya cari pacar…πŸ™„

  4. Nah, ini baru karya Geddoe yang bikin saya gak usah nanya-nanya lagi.

    Bagus Ged. Kita sama-sama tahu bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Tentu saja dalam konteks fuzzy logic. Yang ada hanya agak pasti, hampir pasti, dan hampir tidak pasti.

    Tapi, jika anda menyeretnya ke null atau nil, saya lebih suka menyeretnya ke true atau false. Maklum, saya lebih suka Java ketimbang ruby. Boolean gak bisa dikasih null. Hehehehe…

    Di situlah kita beda.

  5. @ cK
    Sssh.😐

    @ fauzan.sa
    Huhuhu, menyeramkan, memang, betapa tidak ada yang pasti di dunia ini…😦

    “The secret of happiness is to face the fact that the world is horrible, horrible, horrible.”

    Bertrand Russell

    Quote favorit saat ini.πŸ˜€

    Maklum, saya lebih suka Java ketimbang ruby. Boolean gak bisa dikasih null. Hehehehe…

    Berarti mas ini suka dikotomi palsu, dong?

    *dilempar bakiak*

  6. Hmm, gimana ya? Gak gitu kok.

    Soalnya saya percaya kebenaran itu antara 0 dan satu. Null itu bukan konsep saya tentang kebenaran. saya lebih suka menyebutnya, kemungkinannya 50% benar.

    Saya gak suka bakiak. Saya lebih suka bakpia.πŸ˜€

  7. hebat..

    *sigh* banyak yg belum saya pahami kecuali jika saya sederhanakan ato manusiawikan sepenak-e udelku.

    tp benarkah itu benar yg sebenar-benarnya..?

    *tenggak heinekken dingin*

  8. Lha? Memangnya perlu jadi benar? Perasaan dari dulu ‘menjadi benar’ itu bikin repot saja…πŸ˜›

    *ga nenggak apa-apa, lagi sok puasa + ga ada duit*

  9. ga usah pusing2 dah… biarlah kebenaran itu relatif, yg penting kalo kita merasa benar jgn memaksakan benar-nya kita ke orang lain… sudah cukuplah itu… walaupun konteksnya adalah agama sekalipun.

    jadi intinya kalo sudah kita beritahu, dianya masih ngotot ya terserah, kita gak usah sampe naik darah dan menganjing2kan dia. Yg penting peranan kita yg seharusnya sudah kita mainkan (yaitu memberitahu). Supaya kalo sudah diatas sana kita tidak ditegur oleh Dia “kenapa gak kamu kasi tau?” πŸ™‚

  10. haaaah *keluar asep*πŸ™„

    otak dan akal manusia emang paling pakem!!πŸ˜›
    […kalo dipake lho ya…]

    termasuk OOT??

  11. *liat komen Agiek*

    ah, saya percaya ada kebenaran hakiki/sejati. tapi kalau saya “percaya” berarti ada “dogma”, dan jika ada dogma berarti….:mrgreen:

    btw, NULL itu apa sih ? *gaptek*

    Ini yg terkadang membuat saya sedikit “aneh”, terkadang keraguan dan pencarian kebenaran selalu berujung pada dogma. Dan kalau sudah berhenti di dogma, kita nggak bisa kemana-mana lagi alias mentok disitu. Stagnan. Diam.

    Ini sudah seperti menjadi kecenderungan sifat manusia : mencari penegasan dan pegangan. Selalu saja ada sesuatu yang dipegang dengan teguh, dan pegangan itu terkadang berwujud dogma dan doktrin. Orang hampir tidak mungkin membiarkan dirinya terombang-ambing dalam keraguan dan keadaan tanpa pegangan.

    Tapi saya juga ragu sama manusia yang tidak berpegang pada sesuatu. Apakah mungkin ? Apakah keraguan dan skeptis tidak mempunyai ujung ? Apakah skeptis dalam ranah pemikiran dan pengetahuan menyalahi kodrat [damn, kayaknya istilahnya nggak cocok] manusia yang mencari pegangan ?

    sudah dulu, nanti dilanjutin lagi…πŸ™‚

  12. [2] Burden of proof. Atheis kuat memiliki kewajiban untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada, namun tidak demikian halnya dengan atheis lemah.

    Kenapa tidak ada? Bukankah dia tidak percaya kalau Tuhan itu ada.

  13. Tambahan buat komentar sebelumnya.
    Mau percaya atau tidak percaya bukannya ada alasan untuk hal tersebut. Terkecuali tidak peduli ada atau tidak, tidak perlu ada alasan untuk hal tersebut.

  14. Walau ironis, saya sebenarnya bisa mengerti. Semakin suatu paham mendekati kepastian, pasti akan semakin sulit untuk diterima. Sebab dunia tidaklah pasti. Saat itu, diperlukan sesuatu untuk menjaga dogma yang ada, dan self defense mechanism pun pastinya akan muncul.

    Jadi inget prinsip ketidak pastian heisenberg di fisika quantum, jika suatu pengukuran momentum semakin akurat, maka di lain sisi, pengukuran posisi akan semakin tidak akuratπŸ™‚ , bahkan di fisika, ilmu alam yang paling dianggap “pasti” -pun memiliki prinsip itu loh.. fungsi gelombang, paralel universe, string theory, merupakan contoh cabang ilmu fisika yang sangat mistis ini.. saya pernah setahun menyia2kan waktu mengambil matakuliah mekanika quantum ini.. tapi sampai sekarang masih blom ngerti2 jugaπŸ˜€

  15. Dan ketika kembali ke dogma maka di situlah muncul pemonopolian kebenaran, yakni aku yang benar, kau pasti salah, karena berbeda denganku.πŸ˜€

  16. Jadi apa bisa di-simpul-kan, agamis, non-agamis, bahkan atheis masih percaya dengan ketidak-pastian yang berujung ke fana-nya dunia ini. Bukan begitu Ged?
    semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita yang me-nafi-kan Dia

    *bingung bau-ku kok agak sedikit religius setelah baca postingan Geddoe kali ini*😈

  17. @ saRe’
    Saya nggak tahu juga…
    Btw jangan menambah polusi dengan asap…πŸ˜›

    @ fertob
    Saya pernah berpikir jadi pengembara, nggak menetap. Maksudnya skeptis melulu, tanpa dogma. Nyatanya ya susah. Yang ada bukannya tanpa rumah, melainkan pindah-pindah rumah.πŸ˜†

    @ joyo
    Itu ya dogma, mas. Mekanisme self defense-nya, ya ‘anjing penjaga’ dogma itu tadi.πŸ˜›

    @ Nenda Fadhilah
    Tidak. Bagi atheis lemah, yang tidak ada itu kepercayaan-nya. Kalau atheis kuat, bagi mereka yang tidak ada itu Tuhan-nya. Menurut pemahaman saya, atheis lemah itu menganggap Tuhan seperti fenomena teko-nya Russell. Ketiadaan Tuhan dari perspektif mereka lebih ke arah praktek, bukan prinsipil.

    @ kunderemp

    Oke Ddoe..
    kayaknya lo wajib punya calon istri buat mengalihkan lo dari hal2 semacam iniβ€¦πŸ˜›

    Kapan-kapan saya tanya ayah saya. Siapa tahu beliau dulu sempat trade-in gerobak okonomiyaki atau kerak telor dengan status fiancee anak penjaganya yang cantik.πŸ˜›

    and I’m agree with Ukkyou

    UKKYOU IS MINE. STAY AWAY.
    *pasang muka seram a la Tendo Soun*

    @ warnetubuntu
    Ampun, mas. Saya nggak ngerti fisika.😯
    Jadi, jadi, kesimpulannya seperti apa, ya?πŸ˜›

    @ calonorangtenarsedunia
    We move in circles
    Balanced all the while
    On a gleaming razor’s edge

    A perfect sphere
    Colliding with our fate
    This story ends where it began

    @ danalingga
    Makanya hidup itu susah.πŸ˜†
    *sulking dramatically*😦

    @ extremusmilitis
    Amiiin. Saya mah berdoa supaya semuanya happy ending sajalah…πŸ˜›

  18. Ampun, mas. Saya nggak ngerti fisika.
    Jadi, jadi, kesimpulannya seperti apa, ya?

    hehehe.. sorry komentarku ga nyambung yaπŸ™‚ , sebenernya saya ingin menyampaikan kalau di fisika ada suatu teori yang masih perlu “Tuhan”, bahkan sempat terjadi perdebatan seru antara Einstein dan Heisenberg ini.. sehingga muncul qoute yg terkenal itu “I cannot believe that God would choose to play dice with the universe.”, dengan teori quantum ini kejadian2 yg selama ini kita anggap “mistis” memungkinkan untuk terjadi, seperti satu elektron yg berada di dua tempat secara bersamaan (mungkin kyk kejadian seorang kyai yang berada didua tempat itu kali yaπŸ˜€ ), juga memungkinkan adanya paralel universe (kyk film the one dan the matrix ) dll dll.. sory kalau tambah bingung :p

  19. Maksudnya seperti god of the gaps begitu? Btw, teori kuantum ini kayaknya memang jadi harapan para addict fiksi ilmiah sejagad, ya?

    yap kira2 seperti ituπŸ™‚ , saya lebih cenderung ke agnostic atau skeptis.., tetapi intinya adalah pada proses pencarian kebenaran itu.. contoh sederhananya adalah proses pencarian cara untuk “melihat” elektron (duh fisika lagi hehe), dari dulu sampai sekarang scientist belum bisa “melihat” elektron, tetapi, dari proses pencarian tersebut ditemukan teori atau alat2 lain yg berguna seperti listrik, microskop elektron, tv, internet dll dll.. tetapi saat kita berhenti berproses, saat itu juga semua penemuan itu akan ikut berhenti.. jadi teruslah berproses mencari Tuhan, mungkin kita tidak akan atau belum menemukan caranya.. tetapi saya yakin dari proses pencarian tersebut akan menghasilkan “sesuatu”, walaupun itu bukan ketemu dengan “Tuhan”πŸ™‚

  20. Pingback: Spiritual dan Agama « Sebuah Perjalanan

  21. mungkin adanya dogma tidak perlu disikapi dengan dogma bahwa “dogma selalu menimbulkan monopoli kebenaran”

    apa dogma punya status ya?
    biasanya dogma selalu diyakini benar
    mungkinkah ada dogma yang pasti salah
    *ya bukan dogma kalau pasti salahπŸ˜› *

    Mungkin dogma selalu ada
    Mungkin dogma memang gak perlu
    Tapi ini dogma juga kan

    Seandainya dogma selalu benar
    Maka yang benar akan menjadi tidak berharga
    bagaimana menurut anda?

  22. @atas
    dogmanya dogma? jadi ada dogma soal dogma? ato dogma untuk dogma?
    ______________
    ah ya, soal postingan ini…
    *mikir*
    .
    .
    *bzzttt*
    argghhh korsleto!!! otak saia nda bisa menamfungnya, tafi yang jelas, saia jadi lebih tau soal atheis, nda cuma atheis = komunis:mrgreen:
    thanx ged, nice posting!

  23. @ warnetubuntu
    Setubuh. Saya juga berpandangan seperti itu… Belajar saja dengan ikhlas, for the sake of itself, bukan mengharapkan apa-apa.πŸ˜€

    @ mardun
    Pada dasarnya, menurut saya, atheisme kuat tetap berusaha untuk memberikan pandangan di luar jangkauan ilmu pasti, seperti halnya agama. Sehingga pada akhirnya mesti menggunakan mekanisme dogmatik dalam melindungi teorinya tersebut.πŸ˜›

    @ secondprince
    Tentunya. Dogma yang menyangkut dogma biasanya selalu bersifat paradoks, dan pada akhirnya saya memilih. Dogma yang perlu dipakai untuk melawan dogma yang negatif menurut saya adalah dogma bahwa dogma itu perlu disikapi sebagai dogma.

    *kepala mulai berasap*

    @ hoek
    Duh, kalau yang menyamakan atheisme sama komunisme itu, ke laut aja deh.πŸ˜†

  24. oooooh, gitu ya *manggut manggut*

    bukannya seorang ateis justru biasanya selalu bersandar pada ilmu pasti?

  25. *mata uda pedes nih*

    ada surat pembaca di koran lokal jogja, yg bikin hati tergelitik.

    si penulis bingung soal arah kibla masjid2 di jogja yg katanya sebagian bsar ga valid. trus dia nanya sama yg berkepentingan. dia makin bingung lg. trus akhirnya, seorang tokoh agama senior di daerahnya, yg ‘katanya’ gak pernah sekolah, bilang : (kuranglebih, intinya aja,yg gw inget) itulah kl terlalu mengagungkan akal. kayak orang yahudi aja, disuruh nyari sapi aja kebanyakan tanya. (ngeyel, bhs jawa).

    well, waktu gw seumuran elo, kalo gw ‘debat’ ma kakak gw soal apa aja terutama nyetir mobil (critanya lg blajar), gw kan ‘ngeyel’ tuh. maksudnya yah, kl penjelasan situ masih ada yg ‘lemah’ boleh dong, kita sanggah. eh kakak gw lgsg dg serta merta bilang : yahudi lo, ngeyelan.

    otak gw lgsg memproses dan memaknai bhw ngeyel itu dosa, ga baik, laknat kalo sama dg yahudi.

    tp gw tetep gelisah, smp skrg, dg ayat itu. kenapa ya, cuman nanya2 lebih spesifik kok dipersepsikan jelek. bukannya nanya2 itu bagus, drpd salah ntar dua kali kerja. apa salahnya dg bertanya ??? kan bukan ‘ngeyel’ kepala batu.

    eh sori OOT, hbs mumpung inget.
    gimana tuh, Difo ?? (hehe, ikut2an panggil kamu Difo ya, pdhal belon resmi kenalan).

  26. @ mardun
    Setahu saya atheisme yang bersandar sepenuhnya pada ilmu pasti itu atheisme versi materialisme, mas. Memang atheisme yang populer saat ini adalah yang jenis ini. Atheisme a la Dawkins, Hitchens, dan kawan-kawan, semuanya memakai kendaraan ini.πŸ™‚

    Ada juga atheisme lain yang justru mistis dan spiritual. Misalnya Jainisme dan beberapa denominasi Buddhisme. CMIIW.πŸ˜›

    @ restlessangel
    Sentimen rasis begitu kayaknya memang masih hidup, deh, mbak. Kalau rasisme kaum kulit hitam dan Hispanik mulai berkurang, sentimen antisemit bakal hidup terus, karena konon disokong kitab suci.

    Dan saya nggak punya solusi soal itu, mbak. Maaf. Memang menyedihkan, dan sulit dihilangkan.😦

  27. yup, atheisme versi materialisme itu salah satunya.

    dalam filsafat ada juga yang macam-macam :

    atheisme versi idealisme (ide), yang menyanjung-nyanjung ide (pikiran) sebagai keseluruhan manusia dan menganggap Tuhan hanya sekedar ide.

    dan ada juga atheisme versi eksistensialisme, yang mengagung-agungkan manusia (penolakan atas materialisme & idealisme). dan akibat pengagungan manusia (eksistensi manusia) maka mereka menolak eksistensi Tuhan.

    di agama juga ada kecenderungan atheisme yang bertolak pada spiritualisme.

  28. sedih juga ya…..😦
    nanya langsung ma Gusti, nunggu mati dulu. kalo udah mati, ga bisa kasih tau yg masih hidup. kecuali kalo mo gw hantuin, hahaha

    aih, gw berbaik sangka aja deh sama DIA

  29. @ fertob
    Hmm… Setahu saya pernyataan eksplisit ‘Tuhan itu tidak nyata’ itu cuma kepunyaan versi materialisme. Lainnya ya lebih nyeleneh dan rumit seperti yang ditulis di atas. Itu betul, nggak, mas?πŸ˜•

    @ restlessangel
    Iya, benar. Saya setubuh…πŸ˜€

  30. Ternyata di bentara kompas minggu kemarin ada tulisan GM yang juga mengulas tentang argumen yang digunakan dalam kasus ini.
    Pendapat saya pemikiran GM menuju ke arah weak-atheism. Menurut kopral ?
    http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/06/Fokus/3886766.htm
    Kutipan dari artikel tsb :

    “Saya teringat Paul Tillich.

    Teolog Kristen itu menganggap theisme mereduksi hubungan manusia dan Tuhannya ke tingkat hubungan antara dua person, yang satu bersifat “ilahi”. Dari reduksi inilah lahir atheisme sebagai antitesis. Maka, ikhtiar Tillich ialah menggapai : Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam- theisme “

  31. Hmmm… a week atheist? Rupanya atheis ada juga ya, yang jadi atheis KTP, dikirain yang ada cuma Islam KTP aja! Huehehe…:mrgreen:

    Tapi kok ngapain juga ada atheis KTP? apa resikonya? Kalau Islam KTP ‘kan dipercayai resikonya ‘masuk neraka’, lha wong atheis kan nggak resikonya, wong menurut mereka nggak ada sorga nggak ada neraka jeeπŸ˜€

    Jadi ngapain juga dibeda2in toh hasilnya sama aja nantinya, nggak masuk ke mana2! Justru bagi mereka yang atheis harus menjaga persatuan dan kesatuan, betul ngga?:mrgreen:

  32. @ Geddoe :

    “Tuhan itu tidak nyata, <secara fisik”πŸ™‚ Yup, itu kebanyakan memang kepunyaan kaum materialisme. Karena inti pemahaman mereka adalah sesuatu yang secara fisik ada, nyata, dan real. Manusia tak lebih dari materi dan itulah keseluruhan manusia, dan dari konsep inilah mereka menolak Tuhan yang tidak hadir secara materi.

    Konsep idealisme yang paling terkenal adalah idealisme Cartesian (Descartes) “cogito, ergo sum”. Semua berawal dan berakhir dalam tataran ide, pikiran, konsep. Keraguan descartes juga berawal dari ide, dan berakhir dlm “ergo sum” alias aku ada. Ide adalah keseluruhan dan Tuhan juga hanya sebentuk ide/konsep yang “dibikin” oleh manusia.

    Sementara kaum eksistensialis menolak konsep materi dan ide sebagai keseluruhan. Mereka mempromosikan “Eksistens” (Heidegger) sebagai keseluruhan. Dan penekanan pada eksistenz membuat eksistensi Tuhan menjadi tiada, karena semua diukur dari manusia sebagai eksistenz.

    @ Oddworld :

    Menarik tulisan bung GM. Dia berangkat dari beberapa konsep theisme.atheisme dan menariknya kedalam konsep “Ada”.

    Sepertinya memang aneh, ketika kita menghadirkan konsep “Ada” sementara Tuhan mengatasi sesuatu yang “ada”. Dasein Heidegger dan Being-in-itself Sartre mendapat persepsi baru disitu, atau lebih tepatnya dimentahkan.

    Tuhan yang mengatasi/melampaui “ada” adalah Tuhan yang “tanpa eksistensi dan tanpa esensi” karena Dia melampaui semua eksistensi dan esensi. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa penjelasan yang memuaskan utk hal itu.

    Dan Tuhan yang melampaui “ada” bisa juga berarti “Tuhan yang tidak harus/perlu Ada”. Tuhan yang Maha Ada juga adalah Tuhan yang Maha Tak Ada. Saya juga tidak bisa membayangkan seperti apa pemahaman yang memuaskan.

    Betul, Atheisme dan theisme sering mengalami kesulitan berbahasa. Bahasa tidak mampu menjangkau sesuatu yang kita sebut Tuhan. Maka konsep Tillich sepertinya menjadi relevan, “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam- theisme”.

    Bisa jadi Bung GM adalah seorang weak-atheism, tapi bisa juga dia sedang membangung “sesuatu” yang baru dalam pengertian kita tentang Tuhan.

    *sorry kalau jadi ngeblog*
    *biar makin pusing menjelas lebaran*πŸ˜‰

  33. @ Yari NK
    Mas Yari kayaknya nggak paham, deh.πŸ˜›

    1. Atheisme lemah dan kuat perbedaannya prinsipal, mas, bukan praktek. Boleh dikatakan itu adalah ‘agama’ yang sama sekali berbeda. Jadi bukan masalah ‘alim’-tidak ‘alim’-nya.:mrgreen:

    2. Atheisme tidak mengenal surga dan neraka? Wah, bagaimana dengan atheisme a la Jainisme dan Buddhisme? Atheisme tanpa afterlife itu biasanya atheisme materialistik.πŸ˜€

    @ fertob
    *manggut-manggut*

    Hmm, btw setahu saya jarang ada filsuf yang mendedikasikan pemikiran mereka ke satu worldview saja, tuh. Biasanya nyebar.:mrgreen:

    Btw lagi, tulisan GM belum saya baca.😦

  34. ooooo….. geto!:mrgreen:

    Maklum deh abis biasanya aku melihatnya secara fraktek bukan secara teoriπŸ˜›

    Lah, kok heran ya atheis tapinya kok ada teori2an segala ya? Ntar lama2 bikin kitab suci juga dong?πŸ˜€ Sekalian aja jadi ‘agama atheis organised!’ Hehehehe…πŸ˜€

  35. Pingback: Quote of the Day « Deathlock

  36. agama bukanlah suatu teori yang dapat dijangkau oleh akal dan logika.tetapi agama adalah sutu hal,yang apabila semakin kita yakin dan mempercayainya ,semakin terbuka pula mata hati kita untuk melihat dan merasakanya

Comments are closed.