Fuasa

Salah satu setan yang katanya disekap selama bulan fuasa,
tengah meronta-ronta dengan seksinya.
[1]


Assalamualaikum, wr. wb.

Sengaja saya lepaskan salam Yahudi kebanggaan saya untuk sementara, demi bertoleransi pada umat yang mungkin sedikit alergi terhadap Yahudi. Sebagai gantinya, saya memakai sapaan khas bangsa Arab yang telah akrab dipergunakan — dengan alasan yang saya sendiri kurang begitu paham.

Selamat datang di bulan fuasa. Bulan yang digadang-gadangkan sebagai sarangnya pengampunan, bulan yang canggih, modern, elegan, bonafid, haibat, dan bermartabat[2]. Walau, sebenarnya pada prakteknya tidak lebih dari sekadar diet massal. Pertanda dari umat yang belum begitu meresapi esensi ajaran sang ratu rasul.

* * *

Ritual diet massal fuasa ini sendiri baru sanggup saya jalankan sewaktu saya masih berwujud seekor bocah ingusan yang baru enam tahun terlahir ke atas dunia. Pada waktu itu kebetulan saya sanggup berfuasa secara sempurna, 30 hari durasinya. Yaa, setidaknya lewat kriteria umum, yaitu berdiet. Soal kontrol emosi, ego, dan sebagainya, saya tidak ingat apakah saya waktu itu melaksanakannya dengan baik.

Fuasa saya juga begitu-begitu saja. Tiada bedanya dengan fuasa anda-anda semua. Lha prosedur bakunya sudah ada, je.

  1. Pagi-pagi buta, saya dipaksa membuka mata. Lalu makan seperti babi. Lahap tanpa adab. Terlebih manakala yang terserak di atas meja ialah benda lezat sebangsa tauco kering atau rendang Padang yang dikawinkan dengan telur mata sapi. Semakin nikmat panganan yang disajikan, semakin barbarlah saya.
  2. Tatkala perut sudah terisi, yang dilakukan adalah menonton televisi. Ternyata setelah dipikir-pikir, tidak semua yang disiarkan itu adalah sampah. Beberapa cukup nikmat disaksikan, sembari menunggu bunyi sirine mengerikan itu bernyanyi. Menandakan bahwa umat sudah diharamkan untuk menenggak air, mengunyah roti, dan melakukan kegiatan serupa.
  3. Ketika pagi tiba, biasanya suasana hati sedang sentosa. Sewaktu saya masih bocah, pemerintah meliburkan para budak-budak sekolah pelajar dari penyiksaan rutin yang biasanya mereka dapatkan. Memang itu berarti bulan fuasa adalah bulan yang tidak produktif, tapi karena dekrit yang satu ini konon langsung dimuntahkan dari mulut sang Maha Maha, maka tiada suara sumbang yang terdengar.
  4. Apakah yang selanjutnya saya lakukan? Ialah bermain. Bulan fuasa ialah ajang menyelesaikan sebutir RPG yang berkwalitet, memperkaya pikiran, dan menjaga tingkah laku. Hal ini dilakukan dengan cara mengurung diri bersama game-game yang sakti mandraguna itu (seingat saya dua di antaranya adalah Disgaea dan FFT). Tentunya jikalau muadzin setempat mulai membentak-bentak seluruh kampung untuk menyembah-nyembah Tuhan pada waktu Dzuhur dan Ashar, saya akan menghentikan perbuatan saya yang tidak Islami itu. Hal ini untuk menjaga kehalalan ibadah RPG-RPG laknat tersebut.
  5. Demikianlah sampai bedug yang menyertai adzan maghrib bertalu-talu. Kemudian saya akan kembali makan. Kali ini tidak seperti babi, sebab yang dikerjakan hanyalah makan sedikit, sebelum kemudian melakukan ritual sembahyang. Barulah setelah itu dilanjutkan dengan makan seperti babi.
  6. Agenda selanjutnya adalah bertamu ke rumah Tuhan. Masjid atawa mushalla, tiada bedanya. Walaupun saya sedikit miris mendengar bahwa Tuhan bisa dikandang-kandangkan seperti itu, saya tetap mengikuti shalat Tarawih. Saya dikenal sebagai bocah yang lumayan tidak lazim, sebab sedari benar-benar bocah sampai bertahun-tahun setelahnya, saya selalu mengikuti ritual orang Islam tersebut sampai selesai. Saya tidak pernah main-main. Konon hanya saya sajalah bocah ingusan yang tiada pernah absen dari barisan jamaah. Ketika shaf shalat hanya tersisa sebaris di pertengahan Ramadhan, saya shalat, walau hanya bersama-sama pengurus masjid dan warga tua yang memang kerjaannya hanya sujud-sujud di atas sajadah.

Sepulangnya dari sana, siklus pun berlanjut.

(Sengaja saya tidak menyinggung soal buku amalan Ramadhan siswa yang hipokrit itu.)

* * *

Bagi saya waktu itu, fuasa itu kultural. Kenikmatannya hanya sebatas itu. Ditambah dengan diet. Ditambah lagi dengan Idul Fitri, yang kenikmatannya juga hanya kultural. Tidak ada suatu apapun yang spiritual. Semuanya seperti kosong, kalau diukur dengan standar pemikiran saya sekarang. Cuma budaya. Tiada pengembangan diri.

Baru sekitar setahun-dua tahun lalu lah saya mulai menambahkan porsi pengembangan spiritual pada fuasa. Dimulai dengan prinsip-prinsip sederhana seperti mengharamkan memencet klakson pada sepeda motor. Cukup berat di kala macet— ketika sudah naik pitam, dan tangan sudah gatal untuk membunyikan klakson. Sepele, tapi rasanya itu lebih baik daripada cuma berdiet massal.

Fuasa kali ini pun, saya tidak terlalu peduli dengan tetek bengek seperti mengharamkan makanan selama matahari ada di luar jendela. Ada baiknya, mungkin saya menghindari banyak bicara, menghindari banyak bacot, ngedumel, ngomong jorok, marah-marah, dan hal-hal yang lebih jelas juntrungannya. Kalau cuma numpang berdiet thok, namun hatinya masih busuk, buat apa? Debat kusir— masalah mahdzab lah, Ratu Adil lah, ini lah, itu lah, sampai semuanya memenuhi hati dengan benci, buat apa?

Maka dari itu, target pribadi fuasa kali ini adalah menghindari berdebat dengan pihak-pihak yang berseberangan pendapat dengan saya. Oknum-oknum yang mau meruntuhkan NKRI, yang mau memusnahkan agama lain dari muka bumi, yang bengis-bengis, akan saya biarkan dulu. Saya berniat menghapuskan rasa benci dari diri, selama sebulan. Juga saya akan berusaha supaya sok ramah tamah dengan siapa saja. Pokoknya hal-hal yang ada di luar perkara makan atau tidak makan.

* * *

[1] Surprise. Rintangan fuasa. Maaf kalau anda terganggu.๐Ÿ˜†
[2] Meminjam istilah mas Pramur.

In God We Trust. RosenQueen, company.

213 thoughts on “Fuasa

  1. Uhuk-uhuk ternyata seven deadly sins tuh di-bondage macam itu ya… Pantas tambah beringas setelah idul fitri nanti :))

  2. @ rozenesia
    Saya memang kecenderungannya ke sana, tuh…๐Ÿ˜†

    @ oddworld
    Kalau buka puasa dilepas, nggak, ya?๐Ÿ˜†

    @ Fajar
    Hee, kenapa?๐Ÿ˜•
    Wah, nemunya cuma yang lagi begitu, tuh.๐Ÿ˜›

  3. Weh, gambarnya.๐Ÿ˜ฏ

    mister, harusnya gambar itu berjudul : menu berbuka puasa๐Ÿ˜†

    Ah, bagus deh. Kebetulan pas submit nih komen udah waktunya buka.
    Jadi udah ga batal.๐Ÿ˜†

  4. tapi u got the point: puasa bukan sekedar diet masal.
    dan 1 lagi (ngutip kata2 temen saya), bulan puasa jgn jadi ajang buat menjilat Tuhan

  5. *lihat gambar*

    Masya Allah, akhi…๐Ÿ˜ฏ

    Turunkan gambar laknat™ itu. Jika tidak… Sesungguhnya puasamu hanyalah mendapat lapar dan haus sahaja™.๐Ÿ˜†

    Dimulai dengan prinsip-prinsip sederhana seperti mengharamkan memencet klakson pada sepeda motor. Cukup berat di kala macet…

    Yup, tepat sekali. Jangan lupa disertai menahan diri dari ecchi dan kawan-kawannya ya.๐Ÿ˜‰

    (Sengaja saya tidak menyinggung soal buku amalan Ramadhan siswa yang hipokrit itu.)

    Eh, ada gunanya juga lho. Mempererat silaturahmi sama tetangga pas sama-sama nguber khatib. Priceless tuh.๐Ÿ˜†

  6. BTW, saya baca post ini pas udah malem lho.๐Ÿ™‚

    Alasan buat bisa menatap dalam-dalam gambar godaan itu ya?๐Ÿ˜†

    Baidewei, saya bacanya pagi, lho. (tetap aja ga ngaruh)

  7. gambar, gambar itu lhoo๐Ÿ˜†
    (semuanya kok ngomelin gambarnya?)

    kampusku kejam, tetap kuliah sampe siang-sore tanfa ampfun๐Ÿ˜ฅ

    *meratapi nasib*

  8. Benarkah setan di sekap di bulan ini? kalau benar, lalu kenapa masih ada kejahatan kebatilan kebusukan penindasan… berarti selama ini kita cuma mengkambinghitamkan setan… asal kejahatan adalah dari dalam diri kita sendiri tanpa campur tangan setan.

  9. Fuasa kali ini pun, saya tidak terlalu peduli dengan tetek bengek seperti mengharamkan makanan selama matahari ada di luar jendela.

    Justru lebih sulit menahan emosi kalau sedang lapar loh. Kebutuhan manusia kan bertahan hidup yang secara fisik dipenuhi dengan makan makanan. Orang lapar itu cenderung sulit menahan emosi, karena pikirannya dipenuhi dengan pemenuhan kebutuhan dasar yaitu makan.

    Kalau pake istilah main game, makan dengan cara biasa sambil menahan emosi itu level easy sementara melapar karena puasa sambil menahan emosi itu level hard.

    Selain itu, puasa (dalam konteks menahan lapar) baik untuk terapi kesehatan. Makannya juga yang bener, sahurnya jangan kebanyakan bukanya juga. Terapi kesehatan sekarang ada tuh yang pake metode puasa.

  10. Tapi apakah fair kalau bulan fuasa semua rumah makan dan kedai kopi diharuskan tutup?? Kebablasankah ide keparat itu?? Bukankah tercium kesan pemaksaan doktrin dan pelanggaran HAM??(koreksi saya kalau salah)
    Kalau ga ada lagi yg jual makanan, dimanakah letak seni godaannya??
    Contohlah kota Medan/Jakarta, puasa sih puasa.. yg jual makanan berjibun, itu baru namanya puasa menahan lapar…
    Walikota anda terlalu munafik bung…๐Ÿ˜‰

  11. @ asukowe
    mas logikanya gini:
    kalo mas diajarin nulis, ya mas akan berusaha nulis terus…….apalagi kalau sudah pintar nulis….
    bawaannya pengen nulis……terus
    gitu juga kalau terbiasa berbuat jahat. kapanpun akan terbiasa berbuat jahat walaupun bulan puasa. ’cause setan telah mengajari selama 11 bulan sebelumnya tentang kejahatan jadi karena bulan puasa cuma sebulan orang yang terbiasa berbuat jahat tidak bisa berhenti seketika. pengennya njahatin orang……terus….
    gitu aja kok repot……..

  12. Semalam (sehari sebelum puasa) tepatnya sesudah adzan subuh, aku bermimpi bertemu Umar bin Khattab. Dalam mimpiku โ€˜sahabat masa laluโ€™ itu menganjurkanku untuk makan dengan porsi jumbo(dia tahu aku sosok yang kurus), belum sempat menelan ludah keburu musuh datang meminta โ€˜jemputanโ€™, akupun diperintahkan bergegas meninggalkan makanan.

    Sampai saat terjaga aku sempatkan berfikir sejenak, iya kalau Umar sudah pasti banyak musuhnya, lah orang macamku siapa pula yang mau memusuhiku. Boleh dibilang temanku terhitung banyak, dari yang root radical bertampang kriminal (bau terminal) sampai model ikhwan masjidan bercelana cingkrang, dari yang bernama Nyoman sampai yang punya nama Nur Ramadhan. Dari sini pencarian musuhku berhenti, sengaja kuhentikan karena memang tak kutemukan baik dalam bentuk konkrit sosok tak berteman yang selalu saja ada kecenderungan untuk melawan maupun dalam wujud makanan.

    Selera makanku kembali terangsang kala teringat menu makanan dalam mimpi tersebut. Pikirku jangan-jangan ini adalah musuh yang hilang saat aku kesulitan menemukan atau musuh yang datang tanpa diundang. Makanan absurd dalam mimpi telah berubah menjadi musuh yang paling bernyali, datang ke alam maya sebagai penggoda dan selalu ada di alam nyata sebagai penyaji godaan.

    Aku tak habis pikir, musuhku cuma seporsi makanan! kukunyah dan kutelan lalu aku muntahkan lewat mulut bawahku (bukan anorexia bulimia). Tidak, yang demikian bukanlah musuh tapi media permusuhan (belum sempat kuteruskan, keburu aku ditraktir teman 30 tusuk sate kambing) antara aku dan keinginan-keinginan perutku, antara lidah dan pencernaan, antara jiwa dan jasad yang menyiksa.

    โ€˜ah, biarlah perut bicara dengan bahasanyaโ€™ terucap lagi kalimat yang sama yang pernah kutulis tahunan yang lalu di tembok kamar kos2an, toh orang bisa sahid gara-gara perutnya sakit, lagian ini sudah akan mulai puasa yang merupakan jedah kerja alat cerna. Shuumu tashihu, hadits lemah yng gak pernah aku mentahrijnya tak menjadikanku lemah untuk mempercayainya bahwa aku selalu kuat untuk puasa (baca; aku selalu sehat dikala puasa) sampai aku dilemahkan datangnya waktu taโ€™jil hanya oleh semangkok kolak pisang atau sekotak nasi kiriman dari orang kaya serakah pahala, dobel ganjaran! to feel the hungry is to feed the hungry atau feeling the hungry by feeding the hungry, oalah orang pintar menyiasati puasa.

    Selera makanku jadi hilang beberapa tahun terakhir ini, aku coba berpikir keras mengapa aku tak segembira menyambut puasa waktu kecil?, terasa puasa biasa-biasa saja, lapar-kenyang beda tipis jadinya. Tapi paling tidak telah kukenali permasalahannya, sebagaimana hukum yang selalu melompat seiring zaman dan tempatnya demikian juga halnya puasa. Yang jelas salah satu penyebabnya bukan karena maraknya taโ€™jil gratisan bermotif ganjaran yang tentunya tak sesegar sayur asem bikinan emak (belum sempat nyelesaikan paragraf ini, satu kotak berisi beberapa โ€˜apemโ€™ bahasa arabnya katanya โ€˜afwanโ€™, pisang dan lumpia kudapatkan, alhamdulillah/ ritual sesaji sambutan awal bulan puasa ditambah satu mangkok mie goreng buatan istri aku malah jadi kenyang tanpa musti/sebelum makan).

    Mimpi, makanan dan musuh yang datang

    Lewat mimpi seseorang dihadapkan pada tidak adanya pilihan, yaitu menyambut musuh meninggalkan makanan. Adalah mimpi yang tak perlu di taโ€™wili karena mimpi tak lebih kembang tidur sebab tak terpenuhinya keinginan, atau dari setan dan bisa jadi diberikan oleh penguasa alam. Dan bukankah makanan merupakan teman pereda rasa lapar dan musuh adalah teman yang mengingatkan? Coba bantu aku mendefinisikan bunga tidurku.

  13. @ Justice Bringer
    Silakan seruput tehnya. Saya akan menyeruput setannya saja.๐Ÿ˜›

    @ arya
    Benar sekali. Jangan jadi ajang poles-poles apel. Bijak.๐Ÿ™‚

    @ danalingga
    Jagalah mata… Jangan kau nodai…๐Ÿ˜†

    @ alex
    Puasa yang biasa-biasa saja, mas. Nggak ada kejadian heboh.๐Ÿ˜•

    @ sora9n

    Yup, tepat sekali. Jangan lupa disertai menahan diri dari ecchi dan kawan-kawannya ya.๐Ÿ˜‰

    Gaaah!๐Ÿ˜ก

    Eh, ada gunanya juga lho. Mempererat silaturahmi sama tetangga pas sama-sama nguber khatib. Priceless tuh.๐Ÿ˜†

    Jangan lupa dengan jasa menuliskan materi khotbah. Saya sering dimintai tolong, tuh.๐Ÿ˜†

    BTW, saya baca post ini pas udah malem lho.๐Ÿ™‚

    *modifikasi timestamp*

    @ abeeayang
    Kapan-kapan saya upload yang lebih keren lagi.๐Ÿ™‚

    *ngelap mimisan*

    @ peyek
    Apaan itu semuanya, pak?๐Ÿ˜ฏ

    @ rozenesia
    Nggak ngaruh? Wah, segera periksakan ke dokter terdekat… :}๐Ÿ˜†

    @ extremusmilitis
    Kami sama-sama setan… Dan saling mencintai…๐Ÿ˜†

    ~gaJelas~

    @ fertob
    Selera kita sama, mas.๐Ÿ˜†

    *cheers pakai Carlsberg wedang jeruk*

    @ saRe’
    Di sini pun demikian, mbak. Sama kejamnya.
    Biar nanti saya bom saja.

    @ Nenda Fadhilah
    Iya. Stok sedang kosong. Internetan cuma lewat kampus — mana bisa donlot NSFW?๐Ÿ˜

    Btw, makasih tips-tips puasanya.๐Ÿ˜›

    @ M Shodiq Mustika
    Wallahualam, pak.๐Ÿ˜€
    *sebenarnya itu gambar nggak nyambung, sih*

    @ manusiasuper
    Kalau dari Wikipe;

    Sawm (Arabic: ุตูˆู…) is an Arabic word for fasting regulated by Islamic jurisprudence. Contrary to popular (non-Islamic) belief, its observance by Muslims is not confined to the Islamic holy month of Ramadan. It is one of the Five Pillars of Islam.

    ๐Ÿ˜›

    @ asukowe
    Setuju. Setan bagi saya hanyalah metafor.๐Ÿ™‚

    @ sundoro
    Jangan khawatir, mas. Konon Tuhan itu maha adil. Mungkin kalau nggak sengaja pahalanya nggak dimutilasi.๐Ÿ˜›

    @ dobelden
    Nggak berkedip berapa lama ya, mas?๐Ÿ˜€

    @ CY
    Yang ini saya setuju. Biarkan saja yang berjualan tetap mengais rezeki, dan yang puasa tambah sulit puasanya; supaya pahalanya tambah gemuk.๐Ÿ˜›

    Kalau nggak salah mas asukowe ada menulis tentang hal ini…๐Ÿ™‚

    @ )’.'(
    *manggut-manggut*๐Ÿ˜ฏ

  14. met puasa kawand!
    maaph saia telat ngucapin met puasa kepada dikau…hikz T_T

    eh, btw, tuh gambar ko ya bisa bgitu? hmm…saia jadi tergoda,,,

  15. Memangnya kenapa? Itu ‘kan menampilkan keindahan artwork bikinan manusia. Kalau ada yang melihatnya, tentu ia jadi berpikir; kalau manusia saja bisa sebegini mahirnya, tentunya Tuhan lebih mahir lagi bukan? Oleh sebab itu, saya berharap setelah melihat gambar di atas, manusia menjadi lebih rajin berdzikir…

    GaHaHaHaHaHa!

  16. Iya. Stok sedang kosong. Internetan cuma lewat kampus โ€” mana bisa donlot NSFW?๐Ÿ˜

    Take it as bless in disguise. Kan biar lebih khusyuk puasa dan belajarnya. Kalau internet ada lebih kedistract kan.

  17. Wah, gawat. Ana malah jenis yang makin terangsang melihat yg terikat seperti itu. Kalo ngga salah, dalam kamus per-jav-an, namanya bondage. Namanya jg setan, makin diikat makin menggoda.
    Menurut Mr Geddoe, kalo dalam ceramahnya di masjid-masjid para ustadz menggunakan ilustrasi seperti itu, bakal efektif ngga ya?

  18. Justru lebih sulit menahan emosi kalau sedang lapar loh. Kebutuhan manusia kan bertahan hidup yang secara fisik dipenuhi dengan makan makanan. Orang lapar itu cenderung sulit menahan emosi, karena pikirannya dipenuhi dengan pemenuhan kebutuhan dasar yaitu makan.

    bukannya malahan puasa itu agar lebih gampang menahan emosi, soale jika lafar bakalan males marah marah. Mendingan hemat energi, gitu loh.:mrgreen:

  19. Ho ho ho, layak untuk di del.icio.us neh

    BTW, kalau makanmu seperti babi, sedangkan babi itu haram, maka darahmu jadi haram dong???

    @ Nenda Fadhilah
    Ini Nenda ya?

  20. Pingback: Tersandung Kerudung « radically poetic

  21. kafir.. kafir.. !!

    *met makan.. makan gulai kambing n satenya sambil nunggu adik selesai berenang pagi ini*

    fo buruan kesini.. ada lontong sayur.

    *dilempar ke kolam*

  22. makan seperti babi? lebih dari babi tuh
    manusia kan memang rakus .

    dibanding yang gak puasa ? mereka makan layaknya binatang yang ingin terus mengisi perutnya .

  23. Pingback: (Baru…) Beberapa Hari Berpuasa « Chaos Region

  24. Walau, sebenarnya pada prakteknya tidak lebih dari sekadar diet massal. Pertanda dari umat yang belum begitu meresapi esensi ajaran sang ratu rasul.

    —–
    laper bareng2 yuk…….* mata jelalatan!

  25. Untung bacanya pas sudah buka….hehehehehe….

    Eh, Ged… Udah dapet belum tuh Lontong …heheheheehhe……

  26. @ extremusmilitis
    Kami sama-sama setanโ€ฆ Dan saling mencintaiโ€ฆ๐Ÿ˜†

    wakakaka, enak di ente, gak enak di kami yang ngeliat, biking ngeres๐Ÿ˜†
    *celingak celinguk patah hati*:mrgreen:

  27. *liat gambar*

    Sayah ga napsu ama cewek..

    Tolong sediakan gambar setan cowok supaya lebih adil, Kopral..

  28. @ CY

    Tapi apakah fair kalau bulan fuasa semua rumah makan dan kedai kopi diharuskan tutup?? Kebablasankah ide keparat itu?? Bukankah tercium kesan pemaksaan doktrin dan pelanggaran HAM??(koreksi saya kalau salah)

    Soal fair bisa debatable tapi pelanggaran HAM rasanya tidak. Negara memang berhak merestriksi pelaksanaan HAM warganya dengan alasan yang masuk akal tentunya. Negara bisa kok melarang pelaksanaan ibadah demi keamanan.

  29. Pingback: Sebuah Perjalanan

  30. @ Nenda

    Soal fair bisa debatable tapi pelanggaran HAM rasanya tidak. Negara memang berhak merestriksi pelaksanaan HAM warganya dengan alasan yang masuk akal tentunya. Negara bisa kok melarang pelaksanaan ibadah demi keamanan.

    Nah, kalau melarang tempat prostitusi selama puasa, masuk akal nggak ? *tetapi setelah puasa dibuka lagi*๐Ÿ™‚

    Kalau melarang rumah makan buka selama bulan puasa, itu namanya menghilangkan mata pencaharian orang lain, dan ini bisa digolongkan pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat, lho…

  31. @ fertob

    Kalau melarang rumah makan buka selama bulan puasa, itu namanya menghilangkan mata pencaharian orang lain,

    Benar.
    Kenapa harus membatasi orang mencari rezeki dengan alasan ibadah kita?
    Seperti di Banda Aceh sini. Semua warung dan rumah makan tutup total. Lalu orang-orang pun makan sembunyi-sembunyi, sampai akhirnya ketangkap. Padahal mereka tidak melulu salah karena tidak berpuasa. Kenapa?

    Karena profesi mereka itu sudah masuk kategori diberi keringanan: kuli yang ngecor bangunan tinggi dengan upah kecil dan keringat yang melelahkan.
    Lagipula, agama tetap saja pada akhirnya adalah urusan personal. Kenapa dibatasi dengan peraturan-peraturan?

    Ini negara agama atau negara republik sebenarnya?๐Ÿ˜

  32. Republik Agama Indonesia?

    *sesuatu melintas di benak*

    Ahahaha… jadi ingat lelucon teman di sini. Katanya, NKRI itu bukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tapi Negara “Kok” Republik Indonesia..๐Ÿ˜†

  33. Nah, kalau melarang tempat prostitusi selama puasa, masuk akal nggak ? *tetapi setelah puasa dibuka lagi*๐Ÿ™‚

    Kalau melarang rumah makan buka selama bulan puasa, itu namanya menghilangkan mata pencaharian orang lain, dan ini bisa digolongkan pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat, lhoโ€ฆ

    Kalau ada yang merasa alasan penutupannya tidak masuk akal silakan ke pengadilan. Uji material aturannya ke MK kan bisa.

    Soal pembatasan mencari rezeki dengan HAM, bukankah setiap peraturan pemerintah itu dapat membatasi penikmatan HAM individu tertentu. Misalkan pembatasan free speech karena alasan keamanan. Enggak lucu kan kalau ada orang bikin prank di bandara bikin panik semua orang lalu dibebaskan gara-gara free speech.

    Pemerintah punya hak mengatur jalannya roda ekonomi demi stabilitas. Namun alasannya itu memang harus masuk akal sehingga seperti saya bilang, masih bisa diperdebatkan. Tiap pihak punya argumen masing-masing untuk mendukung posisinya.

    Kenapa harus membatasi orang mencari rezeki dengan alasan ibadah kita?
    Seperti di Banda Aceh sini. Semua warung dan rumah makan tutup total. Lalu orang-orang pun makan sembunyi-sembunyi, sampai akhirnya ketangkap. Padahal mereka tidak melulu salah karena tidak berpuasa. Kenapa?

    Banda Aceh urusannya udah beda. Udah ada hukum syariah dan itu bukan keahlian saya. Sebenarnya saya juga sebal kalau ditutup gara-gara puasa. Enggak boleh puasa tapi makan juga enggak bisa.

    Lagipula, agama tetap saja pada akhirnya adalah urusan personal. Kenapa dibatasi dengan peraturan-peraturan?

    Ini negara agama atau negara republik sebenarnya?๐Ÿ˜

    Negara bisa kok mencampuri urusan agama, lihat Pasal 18 ICCPR ( http://www.ohchr.org/english/law/ccpr.htm ). Indonesia kan negara yang masih mencampuri kehidupan beragama warganya. Lihat saja Pasal kesatu Pancasila dan adanya pidana penodaan agama di KUHP. Indonesia bukan negara sekuler abis seperti Turki.

  34. @Nendafadhilah

    Negara memang berhak merestriksi pelaksanaan HAM warganya dengan alasan yang masuk akal tentunya

    Masuk akalkah menutup semua warung dan rumah makan (yg sama artinya dgn melarang org makan), dimana yg namanya “makan/ngisi perut yg lapar” adalah termasuk Hak Asasi Manusia disamping kebebasan memilih Agamanya masing2 ???
    Dalam hal ini minimal sudah melanggar 2 HAM, belum lagi hak org lain mencari nafkah dll.
    ๐Ÿ˜€

  35. @Nenda fadhilah

    Kalau ada yang merasa alasan penutupannya tidak masuk akal silakan ke pengadilan. Uji material aturannya ke MK kan bisa

    Wah… kalo sudah bicara pengadilan susah deh. Kalo diluar negri saya berani fight ke pengadilan masalah begituan, tapi kalo di negara kita ini …. spechless dah.., mungkin anda lebih tau bagaimana pengadilan di sini.

  36. Masuk akalkah menutup semua warung dan rumah makan (yg sama artinya dgn melarang org makan), dimana yg namanya โ€œmakan/ngisi perut yg laparโ€ adalah termasuk Hak Asasi Manusia disamping kebebasan memilih Agamanya masing2 ???
    Dalam hal ini minimal sudah melanggar 2 HAM, belum lagi hak org lain mencari nafkah dll.
    ๐Ÿ˜€

    Pemerintah kan enggak melarang tidak makan sama sekali. Masih bisa bikin bekal trus makan *ngumpet2 sih*. Toko bahan makanan masih buka, jadi bisa masak. Supermarket/warung masih jual pengganjal perut juga, kan. *jadi lawyer pemerintah*

  37. Bleh. Secara hukum memang negara berhak membatasi HAM rakyat untuk alasan keamanan atau stabilitas. Yang perlu dipertanyakan, apakah kalau secara hukum itu sah, serta-merta itu langsung tidak menjadi pelanggaran HAM?

  38. Bleh. Secara hukum memang negara berhak membatasi HAM rakyat untuk alasan keamanan atau stabilitas. Yang perlu dipertanyakan, apakah kalau secara hukum itu sah, serta-merta itu langsung tidak menjadi pelanggaran HAM?

    Lho, tahu tidaknya itu pelanggaran HAM dari mana? Dari hukum yang berlaku kan.

    Silakan baca:
    ICCPR: http://www.ohchr.org/english/law/ccpr.htm
    ICESC: http://www.ohchr.org/english/law/cescr.htm

    Menjalankan ibadah puasa kan hak menjalankan agama yang harus dilindungi juga oleh negara enggak hanya hak orang lain untuk berjualan. Pemerintah berpikir, biar yang Muslim makin khusyuk puasa, maka godaan makanan dikurangi dengan menutup warung makan dsb.
    Lagipula enggak dilarang berjualan sama sekali, kan. Masih bisa jualan di sore sampai malam hari.

    Btw, dari tadi ngomong dilarang-larang segala macem, pelarangannya itu pake dasar apa? Peraturan Bupati/Walikota/Gubernur yang mana? Rasanya aneh nyebut melarang-larang tapi aturan pelarangannya itu sendiri tidak jelas.

  39. Waks, riplainya banyak amat?๐Ÿ˜ฏ

    @ Apret
    Kalau bishie, saya ya nggak tertarik. Saya ‘kan masih normal.๐Ÿ˜† Kecuali kalau androgynous mungkin.

    Selamat fuasa.๐Ÿ˜›

    @ caplangโ„ข
    Selamat fuasa.๐Ÿ™‚

    @ antogirangโ„ข
    Mari berbuka bersama…๐Ÿ˜›
    *siapin suntik gede*

    @ cK
    Calamari apaan?
    Btw, sayangnya kemarin saya buka puasanya memang kayak babiโ„ข.๐Ÿ˜ฆ

    blog info >>> report as mature๐Ÿ˜†

    Woooooooi!!!๐Ÿ˜ฏ

    @ mbelgedez
    Justru itu, mas. Jadi ‘buka’-nya ter’tutup’.๐Ÿ˜†

    @ NesiaWeek
    Iya, pak, fetish saya memang seabreg.๐Ÿ˜›
    Kalau yang begituan ada di masjid, saya sih suka-suka saja, tapi pasti bakal ada yang bakal datang berbobdong-bondong ke sana pakai parang, tuh…๐Ÿ˜†

    @ danalingga

    bukannya malahan puasa itu agar lebih gampang menahan emosi, soale jika lafar bakalan males marah marah. Mendingan hemat energi, gitu loh.:mrgreen:

    Lha, agama ‘kan intinya memang mempersulit…๐Ÿ˜†

    Btw, tagnya sudah diperbaiki.๐Ÿ™‚

    @ Amed
    Memang itu tujuan saya, mas. Supaya darah saya nggak halal lagi.๐Ÿ˜†

    Barusan ditelen Akismet, mas.๐Ÿ˜

    @ sikabayan
    He-eh. Bikin saya jadi lapar.โค

    @ Nott de Nutt
    Futari Ecchi terlalu lunak tuh…๐Ÿ˜†

    Ahem.

    Selamat sahur.๐Ÿ˜›

    @ Mrs. Neo Forty-Nine
    Yaah, kok ngomongin setannya semua, sih?๐Ÿ˜†

    @ irdix
    *terjun ke kolam, minum sepuasnya*

    @ Bachtiar
    Lha, manusia itu ‘kan memang sejenis binatang…๐Ÿ˜†

    @ Mihael Ellinsworth
    Hush, kamuโ„ข masih kecil.๐Ÿ˜๐Ÿ˜†

    @ diKo
    *ikutan jelalatan*

    @ Magister of Chaos
    Iya, nih. Mungkin besok saya mau berburu lontong.๐Ÿ™‚

    @ extremusmilitis
    Hohoho!

    *cium-cium setan yang lagi meronta-ronta*

    @ calonorangtenarsedunia
    Setan cowok mah banyak di televisi… Dari Saddam Hussain, GWB, Blair, ABB, dan seterusnya.๐Ÿ˜›

    @ A-isy
    Semangat juga…๐Ÿ˜›

    *akhirnya ada yang ga komenin gambar*

    @ Justice Bringer
    Huush, haloom, halooom!๐Ÿ˜†

    @ M3
    Selamat berjuang juga, mas.๐Ÿ™‚

    @ Nenda Fadhilah

    Kalau internet ada lebih kedistract kan.

    *bersungut-sungut*

    Soal fair bisa debatable tapi pelanggaran HAM rasanya tidak. Negara memang berhak merestriksi pelaksanaan HAM warganya dengan alasan yang masuk akal tentunya. Negara bisa kok melarang pelaksanaan ibadah demi keamanan.

    Hahaha! Jadi ingat God Delusion-nya Dawkins. Di situ dia bilang kalau agama seringkali mendapat privilege yang berlebihan dari negara dan rakyat.๐Ÿ˜‰

    @ fertob
    Kembali saya ingatkan masalah ‘privilege berlebihan’ yang diutarakan Dawkins.๐Ÿ™‚

    @ alex

    Lagipula, agama tetap saja pada akhirnya adalah urusan personal. Kenapa dibatasi dengan peraturan-peraturan?

    Ini negara agama atau negara republik sebenarnya?๐Ÿ˜

    Republik sok agamis…?๐Ÿ™„

    Sialnya, sekularisasi di Indonesia belumlah sempurna…๐Ÿ˜

    @ CY
    Makanya dukung sekularisasi, dong! 8)

    @ Scrooge McDuck
    Benar sekali. Hanya karena sesuatu itu legal, tidak berarti itu tidak melanggar HAM. Yang menarik di sini adalah bagaimana agama dipraktekkan di luar private sphere…

  40. @ Nenda fadhilah

    Lho, tahu tidaknya itu pelanggaran HAM dari mana? Dari hukum yang berlaku kan.

    Pelanggaran HAM tidak selamanya bisa dengan sempurna dirumuskan dengan hukum positif. Contoh kontroversialnya adalah larangan mengemudi bagi wanita di Arab Saudi.๐Ÿ˜

    Btw, dari tadi ngomong dilarang-larang segala macem, pelarangannya itu pake dasar apa? Peraturan Bupati/Walikota/Gubernur yang mana? Rasanya aneh nyebut melarang-larang tapi aturan pelarangannya itu sendiri tidak jelas.

    Duh, makin nyambung ke teorinya Dawkins, nih, IMO. Coba baca bukunya, deh, di situ dia menyatakan bahwa sentimen umum itu bisa ‘berkonspirasi’ memberikan privilege berlebihan pada agama.๐Ÿ˜€ Dan ya, dukungan itu tidak mesti formal.

  41. @ Nenda

    Pemerintah berpikir, biar yang Muslim makin khusyuk puasa, maka godaan makanan dikurangi dengan menutup warung makan dsb.
    Lagipula enggak dilarang berjualan sama sekali, kan. Masih bisa jualan di sore sampai malam hari.

    Aturannya benar-benar debatable. Puasa tahun lalu aku merasa sampai naik urat leher karena debatan begini di kampus.

    Begini:
    Aku pernah mencoba bikin penelitian untuk artikel dengan teman di sini, di kalangan warga non-muslim tionghoa yang masuk kelas menengah ke bawah di kawasan pecinan Banda Aceh. Dan tahu apa yang kami temui?

    Ada yang mesti jual petasan untuk nutup anggaran rumah tangganya! Dan itu pun kena lagi razia oleh aparat, dengan kutipan biaya keamanan.

    Berjualan pada sore hari? Langganan muslim yang berbuka puasa sudah dicegat oleh pedagang muslim yang menjamur di sepanjang jalan.

    Siapa yang nutup kerugian ekonomi mereka? Pemerintah?

    Ada yang bandingkan dengan kasus di Bali dengan Hari Raya Nyepi misalnya. Apa pantes? Ini sebulan, sedangkan di sana itu cuma satu-dua hari.๐Ÿ˜‰

    @ kopral geddoe

    sentimen umum itu bisa โ€˜berkonspirasiโ€™ memberikan privilege berlebihan pada agama.๐Ÿ˜€

    Benar, Ged. Benar…

    *manggut2*

  42. Ada yang mesti jual petasan untuk nutup anggaran rumah tangganya! Dan itu pun kena lagi razia oleh aparat, dengan kutipan biaya keamanan.

    Blogsome, tuh. Tulis aja.๐Ÿ˜ฏ

    Benar, Ged. Benarโ€ฆ

    *manggut2*

    Yang menyedihkan adalah, apakah aturna seperti itu memang sejalan dengan ajaran agama yang dikasih privilege?๐Ÿ˜‰

Comments are closed.