Umat Oh Umat

UPDATED

Iyaaa… Iyaaa… Saya juga tahu kok kalau kepercayaan situ dihina.
Kolom agama di KTP saya juga variabelnya masih sama kok sama situ…

Jadi, ceritanya, ada umat lain yang agak norak dan keblinger,
Lalu menghina-hina kitab sama ajaran situ…
Kalau situ marah ya wajar. Kalau senang ‘kan malah lucu.
Cuma, kok pakai balik menghina kepercayaannya dia, sih?

Kalau ada penganut agama situ yang blingsatan,
Terus meledakkan diri, membunuh orang banyak,
Ya wajar juga kalau orang mengaitkannya sama agama situ.
Situ lalu sewot. Cemberut.
Kata situ; “Itu yang salah orangnya! Bukan ajarannya! Jangan hina-hina ajarannya!”
“Ajaran kami ini benar! Cuma ada beberapa pengikutnya yang kampret!”

Lha sekalinya ada yang keblinger dengan agama berbeda,
Kenapa situ nggak mengambil kesimpulan yang sama?
Kenapa langsung vonis ajarannya,
Siapa tahu memang ada pengecualian…
Sama-sama kampret, seperti bom-bom manusia dari agama situ.

…Lha, kenapa muka situ jadi begitu?
Apa? Kita ini yang paling benar?
Jadi kewajiban toleransi dan anti-generalisasi itu nggak berlaku buat kita?

Ahahahaha…
Ini itu ujian, bung.
Seberapa lapang dada kita?
Umat selama ini arogan,
Melulu sok di-victimized.
Lalu, lalu…

He?

Apa?
Kafir? *nunjuk ke dada sendiri*
Jadi, saya ini kafir?
Situ kenapa? He? Jihad?

*terdengar beberapa suara takbir*



… Cuih. Bah.

.

.

.

.

.

UPDATE : p.s.
Ahem. Ada yang bilang kalau tulisan si ratu ‘menghina Islam’. Ohoho, tunggu dulu, memangnya kenapa? Padahal tulisan orang Islam yang menyerang akidah umat beragama lain lebih mudah ditemukan. Hasil blogwalking sebentar saja (benar-benar cuma sebentar), saya nemu lumayan banyak tulisan yang menusuk akidah umat lain; for the sake of simplicity, spesifiknya, umat kristiani. Bisa dipelototi sendiri; mulai dari [ini], [ini], atau kalau mau yang lebih gamblang menyatakan kalau umat lain itu ‘ngawur’, di [sini]. Kalau mau porsi yang lebih, silakan aduk-aduk blog mas Dewo di [sini], terutama di post yang [ini].:mrgreen:

Saya tidak menyerang siapa-siapa, hanya kecewa pada standar ganda yang diterapkan umat— merasa berhak bercuap-cuap menyerang kepercayaan orang lain, namun mencak-mencak dan main keroyok ketika kepercayaannya sendiri diusik. Kalau memang kepercayaan anda benar, anda bisa menertawakan para kafir™ itu di neraka esok hari. Mbok sabar sedikit kenapa?😛

Jadi, pesan saya buat yang katepenya Islam, jangan malu-maluin agama sendiri.😕

(Untungnya umat tidak se-sedenk itu untuk memodifikasi komen seperti sang ratu…)

.

.

.

.

.

In God We Trust. RosenQueen, company.

176 thoughts on “Umat Oh Umat

  1. Sabar, Ged. Saya juga marah kok.:mrgreen:

    Btw, Ratu Adil itu banyak, lho. Orang Islam juga banyak tuh Ratu Adilnya. Komen-komennya pun sama bagusnya.🙂

    Tembusan ?😕

    Saya lempar trekbek sembunyi tangan saja, tuh.😛

  2. Iya nih kopral, kok kalo lihat perkembangan komennya jadinya apa yang di tulis ratu tentang ajaran mata di balas denga mata memperoleh bukti.

    kenafa begitu ya?🙄

  3. eh…ini menjurus agama!
    saia kmaren baca postingannyan (yang dulu) si Ged katanya uda ga mo mbahas agama negh!!!???
    hayoo…
    hayooooo….
    ato ini bentuk amandemennya ya?

  4. *bolak-balik baca blognya ratu adil*
    hehe2x aku tahu sapa yang kau maksud ini ged..

    kebanyakan “umat ini” memang gemar memakai standar ganda hohoho2x🙂

    salut2, sentilan yang cerdas bro !!

  5. eye for an eye?

    aq barusan aja, belum ada 5 menit baca kata2 gandhi

    kalau mata dibalas dengan mata, akan bikin dunia penuh dengan orang buta

    ‘kebetulan’ yg lain lagi yg akhir-akhir ini gemar aq amati.

  6. Pingback: Apakah Islam itu Memaksa? « kang tutur’s weblog

  7. Persoalannya bukan di agama apa? Tapi hal ini hanya menjadi bukti bahwa berpikir radikal dalam beragama adalah pola alternatif yang masih menjadi pegangan bagi mayoritas penduduk di negeri ini.
    Berbeda berarti musuh…
    Mengeritik pola mereka berarti mencaci agama yang mereka anut…
    Selamat tinggal kewarasan beragama!

    *kabur aah*

    peace …

  8. *baca artikel human rights*

    Manusia emang beda2, maklumi sajalah. Pernah gw tulis, kan? Btw, gw berhasil enggak ikut ‘itu’.

  9. aha.. pembelaan diri yg tidak wajar heheheh seharusnya mereka ga hanya membawa agama sebagai tameng dan mengkambinghitamkan oknum hehehhehe menyedihkan memang berkoar2 tetapi tidak melakukan instropeksi :mrgreen:

  10. sepertinya saya menangkap sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekedar makna tersurat dalam tulisan diatas😉 *anggaplah intuisi*

    Logika brengsek-ku seperti ini :

    – Agama/Kepercayaan adalah cara yang dipakai manusia untuk mendapat makna hidup dan ketenangan hati dan jiwa
    – Manusia menganut agama
    – Manusia ribut, saling membenci, saling memfitnah, saling menjelekkan, dlsb

    Pertanyaan retorisnya ?

    Apa gunanya manusia beragama ?
    Apa agama tidak membawa perubahan pada manusia ?

    *tolong jangan jawab : jangan salahkan agama, salahkan manusianya*:mrgreen:

  11. Auman singa tidak membunuh rencana,

    Mengobrol tidak membuat nasi matang,

    Peganglah tali kendali dan tali itu akan menunjukkan keledainya

    Seorang bermata satu tidak berterima kasih kepada Tuhan

    sebelum ia melihat orang buta …

    Tuh bener kan?!😯

  12. @ferthoblades

    agama itu pegangan hidup katanya..

    jd perlu ada agama utk menenangkan hati dan jiwa.. perlu ada yg digantungi, butuh sebuah tujuan, yg konon utk mempertahankan jiwa dan hati tersebut.

    tapi.. itu cuma konsepnya, kalo hny agama, itu bisa dipahami n dimengerti dlm kurun waktu, tp kalo yg lain..

    “….”

    manusia takut kesendirian dan kehampaan.. meski hal itu jg enggan utk aq akui.

    jd ada yg mo nemenin aq ga?😀

  13. @atas saya
    iya, kamu kan pantas dihina. ngakunya bujangan ga taunya udah pny istri..tuh nenda fadhillah..

    @geddoe
    sabar, Nak..ga ada yg dipukul2 kan kali ini?

  14. waduh, aneh banget nih puisi…

    *mungkin karena ini bukan puisi*

    eh, suara dari mana tuh…

    mungkin memang benar agama kita memiliki banyak orang yang mengkampretkan diri…

  15. Assalamualaikum wr wb

    Jadi inget beberapa waktu yg lalu pas maen ke forum…emang susah kalo udh “narsis” di dalam beragama…:D:D:D

    Wassalam

  16. @fertobhades
    Pertanyaan retoris bagaimana bisa dijawab ?🙂
    Agama memang tidak membawa perubahan, kan di Al Quran disebut Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum bila kaum itu sendiri tidak berkeinginan untuk mengubah nasibnya.
    Agama bagi saya berhenti di titik itu, menyadarkan bahwa kita bisa mengubah nasib kita dengan perbuatan kita. Sementara orang-orang lain (dan mungkin diri saya sendiri) yang masih sleepwalking adalah sebuah “ujian, seberapa lapang dada kita” ?

  17. ratu adil emang bloon bin guoblok bin idiot yang cuman mencari sensasi tapi lebih bloon lagi kalo kita sampai terpancing. ini bisa kita ketahui karena dia sudah memikirkan strateginya. kita semua terpancing sama ulahnya yang bloon itu. namun kita sering memberi comment2 yang menghujat dia dan ini menunjukan bahwa dari awal dia telah menang………kita semua terpancing.

    dengan bukti2 yang teman2 kemukakan pada blog masing2, bukannya menyudutkan sang ratu adil, namun saya kira hanya sebagian yang mencemooh tindakan bodohnya tersebut. di sisi lain dia akan semakin terkenal dan mendapat simpati dari banyak orang. sehingga banyak juga yang akan mengunjungi blognya dan bisa saja dia semakin eksis…….betulllllllllll?

    menurut saya report as spam ajah…….siapa yang bisa nge-crack blognya biar tidak berkeliaran di internet……….
    ada yang mau?

  18. weks…mr.kopral tumben ngebahas “hal-hal” yang rada abnormal abstrak🙂

    tapi emang sih Ged, banyak “situ” yang masih ngelihat dari “teropong diri sendiri” tanpa melihat wacana di otak dan hati “sini”

    better to leave them alone, and find our own path…maybe ?
    *bingung pada diri sendiri*

  19. Wah… rupanya masih membahas efek dari Si Ratu itu ya?

    BTW, Band Ratu sudah bubar. Sekarang gantinya Dewi-Dewi. Kalau Radja dan Dewa 19 sih masih tetap exist. Demikian juga dengan Dewo. Halah… kok jadi ngelantur.

  20. walah Ged, gak usah diambil pusing atuh.
    mending sekarang ente siap-siap datengin kelurahan, minta dibuatin katepe yang agamanya tiap atu katepe atu agama, kan gampang😆

    *jingkat2 takut kedengaran geddoe*

  21. Islam adalah agama yang paling sering di hina, di hujat, di marjinalisasi, di bredel, di fitnah, di gosip, di intimidasi dan lain sebagainya.
    Tapi semakin Islam diperlakukan melalui tindakan-tindakan represi seperti di atas, maka Islam justru semakin mencuat dan membahana.
    Bahkan saat ini, Islam adalah agama primadona dunia abad ke-21. Hampir setiap hari media massa internasional menyebut nama agama ini. Sewaktu karikatur penghinaan asal Denmark keluar di media masa, maka buku sejarah Muhammad menjadi salah satu buku laris manis di Amazon dan B&N…
    Ini adalah fakta …!
    Jadi meskipun isu teroris ramai dibincangkan, tapi agama yang pertumbuhannya paling pesat di AS dan Eropa justru agama Islam.

    Kenafe? Kenafe?

    Karena sudah menjadi ketetapan Allah swt melalui Kemahatahuan-Nya bahwa “mereka berkehendak memadamkan (cahaya) agama Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan agamaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. 9: 32)

    Jadi, seperti Michael Jackson pernah berkoar-koar di akhir era rambut jambul, kemeja linting dan kerah nongak, maka kitapun mengatakan:

    “Just bit it … !”

    “Bit it … !”

    “Bit it … !” 😀

  22. Secara skeptis saya rasa ketertarikan akan Islam setelah 9/11 attack, London attack, Kartun-affair, dsb karena hal tsb menjadi sesuatu yang lain bagi bangsa Barat.Mereka terbiasa akan pandangan-pandangan kritis kepada agama yang ada disana (viva sekularisme🙂 ), termasuk pemaknaan ulang akan simbol-simbol religi (salib pada pertunjukkan musik Madonna dan Greenday, fim Last Temptation-nya Martin Scorcese, pernyataan “Beatles is bigger than Jesus Christ” dari John Lennon dsb). Sementara bagi sebagian umat muslim hal tsb adalah tabu untuk dibicarakan atau dikerjakan.
    Ketertarikan kepada hal eksotis semacam itu bisa bermuara pada banyak hal, ada yang tambah benci, ada yang jatuh cinta dan ada pula yang menempatkan Islam sebagai obyek penelitian yang dinamis.

  23. Buset, banyak amat replynya?😯

    @ Joerig™
    “Si dia” siapa, nih?😛

    @ Mihael Ellinsworth
    Nggak, trekbek tanpa link.

    @ danalingga
    Yah, kebanyakan orang beragama agaknya toleransinya belum semumpuni mas Dana, sih…🙂

    @ Magister of Chaos
    Nyalain lampunya, padawan…😛

    @ watonist
    Eh? Itu udah tergolong puwisi, ya?😕

    @ hoek
    Sekali-sekali, gusti…

    @ agiekpujo
    Kadang saya heran, apa standar ganda itu rukun Islam keenam, ya?😆

    @ irdix
    Yep. Gandhi; itu quotenya betul-betul bijak.😉

    @ peyek
    Sayangnya, kuliah saya sedang bangsat-bangsatnya sibuk-sibuknya, Pak.😦

    @ k*tutur
    Didoakan… Sambil diusahakan; diimbau, mas.🙂

    @ Nenda Fadhilah
    Tentunya berusaha memaklumi. Walaupun susah juga kalau satu arah.

    @ cK
    Nggak, ah. Siapa bilang? *jaim*😐

    @ almascatie
    Sebenarnya itu manusiawi, kok, mas– proses menenangkan diri sendiri.🙂

    @ fertobhades
    Iya, mas. Kalau yang saya baca dari bukunya Dawkins, sih, survey penelitian membuktikan kalau tidak ada perbedaan antara moral penganut agama dan para atheis. Kesimpulannya tentu pada masalah besar sejak dahulu kala; segala kebaikan yang diajarkan agama adalah universal, dan manusia tidak membutuhkan agama untuk menjadi baik; sebaliknya, agama justru membawa peraturan-peraturan tambahan yang selalu dikritisi selama ini (katakanlah poligami dkk).

    Meskipun begitu, benar, boleh saja Einstein berkata bahwa yang berbuat baik demi mendapat surga dan menghindari neraka adalah menyedihkan, tapi (sesuai titahnya Flew), tetap saja itu adalah kontrol sosial yang paling ampuh.😉

    Saya sendiri berpendapat, bahwa terlepas dari apakah agama itu benar atau salah, mudaratnya sangat besar. Walaupun, mungkin manfaatnya juga sangat besar.🙂

    *tolong jangan jawab : jangan salahkan agama, salahkan manusianya*:mrgreen:

    Mengutip mas Passya dulu, kalau ada manusia yang menyalahgunakan agama, berarti agama telah gagal mendidik mereka. Agama tidak bisa cuci tangan semudah itu.:mrgreen:

    @ Altair
    Kalau orang buta, berterima kasihnya setelah melihat menyaksikan apa?😛

    @ irdix
    Iya, mas. Kalau katanya mbah John Armstrong, agama itu laris karena hidup itu menakutkan.😆

    @ M Shodiq Mustika
    Wah, betul, pak. Ahli agama terkadang pandangannya tertutup…😦

    @ manusiasuper
    Nggak, mas…

    *kasih sesajen*

    @ calonorangtenarsedunia
    Untungnya, nggak, mbak.

    *maku-maku papan*

    @ almaidany
    *mati*

    @ yarza
    Pertanyaan besarnya tentu; sudah kampretkah kita?😛

    @ baliazura
    Silakan baca lagi kalau berminat…

    *sodorin teh susu*

    @ oddworld
    Betul, mas. Agama itu statis; dan bagi saya mesti diperlakukan sebagai sesuatu yang statis. Saya juga kok nggak yakin dengan konsep ujian-ujian tersebut, ya? Mungkin karena saya nggak percaya konsep divine intervention dan takdir…🙂

    Soal perhatian akan Islam, saya setuju dengan pandangan mas. Bagi peradaban barat, Islam adalah eksotis. Dan di sana, ya, agama bebas untuk dibicarakan (viva sekularisme juga🙂 ), oleh sebab itu menurut saya ini hanyalah fenomena budaya biasa.

    @ abeeayang
    Hahaha, btw, mas/mbak sudah membaca tulisannya sebagai seorang agnostik belum?😛 Membaca bahasan tentang agama secara obyektif itu, mesti lewat sudut pandang seorang agnostik, IMO.😉

    @ syafriadi
    Semuanya, mas.🙂

    @ tianzega
    Lha, tulisan-tulisan ber-tag ‘kesurupan’ saya, apa kurang abstrak?😛

    Yep, agama itu melulu masalah perspeksi, mas/mbak…

    @ Emanuel Setio Dewo

    Demikian juga dengan Dewo.

    *ngakak sampai orgasme*

    Ahem, ya, belum banyak yang bisa membahas kritik-kritik agama dengan bijak, mas. *ngelihat komen-komen di blognya mas Dewo*😛

    @ extremusmilitis
    Lha. Kalo agnostik, ignostik, deis, atheis, bisa dibikibn katepenya?😆

    @ 3M
    Tapi kalau di pop culture, kristianitas justru lebih sering dihujat, lho, mas.😛

  24. Ah, biarkan saja dia berkoar seperti itu. Dia hanya melihat Islam dari luarnya saja. Sama seperti AS yang menganggap Islam adalah agama yang mengajarkan peperangan.
    Tetapi nyatanya sekarang banyak orang AS yang tertarik dengan Islam dan mempelajarinya.😉

  25. Pada dasarnya, Ged, saya ini ndak akan se-ekstrim ekstrimis™ untuk membantai ‘dia’ karena pendapatnya. ‘Dia’ boleh berpendapat apa saja. Apapun! Bahkanyang kata orang blasphemy sekalipun. Tapi pendapat itu, sepanjang disediakan ruang diskusi – yang di blog disebut: komentar – tentu saja boleh disanggah, dikritisi, diakui… whatever.

    Cuummaaa… kalo pun ‘dia’ tidak setuju, tidak suka, tidak mau dengan komentar yang tidak sepaham, ya jangan dimanipulasi demikian. Hapus saja, habis perkara.

    Saya sih nggak akan teriak-teriak minta Tuhan membantainya malam ini, atau moga2 server dimana postingannya disimpan di wordpress, tiba-tiba meledak – mungkin atas nama kutukan atau murka-Nya. I dont care.

    Tapi.. *lagi-lagi* plis deh… ngedit komen itu cuma menunjukkan kerdilnya jiwa…

    *submit, sekalian pamer kalo udah balik:mrgreen: *

  26. @ matahari
    Huhuhu, jadi ingat takbiran sebelum lebaran, ya.😛

    @ extremusmilitis
    Tanggung, sebaiknya kolom itu dihapus saja…🙄

    @ alex
    Persis. Saya juga keberatannya cuma di situ, mas. Kalau dia mau berdakwah, ya silahken. Sejak dahulu kala, menjelek-jelekkan agama saingan memang materi wajib dakwah– semua orang juga tahu. Cuma kalau pakai mutilasi, apalagi modifikasi komentar, ya ini dia yang kampret.

    @ caplang™
    Bisa jadi, mas.😛

  27. @ caplang™

    akankah dia jadi musuh bersama dan pemersatu umat?😆

    Gejalanya udah nampak kok. Benar tuh. Dia jadi public enemy yang bikin manusia2 yang se-iman jadi nyatu walo mungkin cuma buat sementara

    *injak2 yang minta oleh2 dari jauh*

    @ geddoe

    Kalau dia mau berdakwah, ya silahken. Sejak dahulu kala, menjelek-jelekkan agama saingan memang materi wajib dakwah– semua orang juga tahu.

    Benar. Itu hal jamak. Dalam urusan agama atau politik sekali pun, menjelekkan ide orang lain, adalah biasa tapi mencari kejelekan diri sendiri, itu luar biasa.
    Memang kampretnya itu dlm hal mutilasi komentar. Dan itu yang bikin aku jengkel. Cuma itu!™
    Diluar itu, apapun ocehannya, silahkan. Dia boleh berkoar tentang ide buat nge-bom Ka’bah sekalipun, gak akan ngaruh mah bagi saya:mrgreen:

    Eh… komenku yang dabel diapus donk😐

  28. Gejalanya udah nampak kok. Benar tuh. Dia jadi public enemy yang bikin manusia2 yang se-iman jadi nyatu walo mungkin cuma buat sementara

    Bigots belum kelihatan…

    Benar. Itu hal jamak. Dalam urusan agama atau politik sekali pun, menjelekkan ide orang lain, adalah biasa tapi mencari kejelekan diri sendiri, itu luar biasa.

    Ini dia penyakitnya kaum mayoritas (apalagi yang hampir menembus 90%). Terbiasa dengan mencarut-marut agama orang, namun kebakaran jenggot (no pun intended) kalau agama sendiri yang diinjak-injak. Marah ya wajar, cuma ya mbok dewasa.😛

    Memang kampretnya itu dlm hal mutilasi komentar. Dan itu yang bikin aku jengkel. Cuma itu!™

    Betuuul, cuma itu™! Kalau nggak pakai modifikasi komentar, saya mah santai-santai saja nonton umat kebakaran jenggot.😆

    Eh… komenku yang dabel diapus donk😐

    Youkai.

  29. Bigots belum kelihatan…

    Ahahaha… benar juga, Ged. Aku belum liat aksi para bigots dan despot yang biasanya front paling depan (iya nggak sih?) dalam hal beginian.
    Pengen juga liat tanggapan dari mereka tentang 17 alasan tidak meninggalkan Islam, yang lengkap dengan kutipan dalil dan fatwa ter-apdet.

    Mestinya ada tuh dalil-dalil berlabel naqli dan aqli untuk membantah. Atau setidaknya satu fatwa terkuat: ANDA TELAH TERSESAT™

    Ini dia penyakitnya kaum mayoritas (apalagi yang hampir menembus 90%). Terbiasa dengan mencarut-marut agama orang, namun kebakaran jenggot (no pun intended) kalau agama sendiri yang diinjak-injak. Marah ya wajar, cuma ya mbok dewasa.😛

    Ho ho… jujur saja, ndak ada orang yang imannya statik all the time. Ada grafik turun naik. Coba saja sesekali nimbang dan berpikir dari sisi lain saat mengalami degradasi Iman: kalo saya meninggalkan Islam, alasan apa yang terbaik?

    Kalo ada yang terasa menolak dari dalam diri sendiri alasan-alasan tersebut, tanyakan lagi: alasan apa yang terbaik untuk menolak alasan meninggalkan Islam.

    Maunya ya seperti itu. Setidaknya katakan saja itu langkah untuk counter-attack kalo kapan2 ada tanggapan ala you-know-who™ muncul ke permukaan.

    Iman memang masalah abstrak yang gak bisa diukur akal secara mutlak. Tapi beriman 100% tanpa keragu-raguan, akan membuat kita ndak beda sama supporter sepak bola yang marah kalo teamnya kalah…

    Betuuul, cuma itu™! Kalau nggak pakai modifikasi komentar, saya mah santai-santai saja nonton umat kebakaran jenggot.😆

    Idem. Lebih parah lagi, itu komen dibenturkan dengan komen orang lain. Meski belum tentu aku akan sependapat dengan orang yang komennya dibenturkan dengan komenku itu, tapi tindakan demikian tetap saja menyebalkan.

  30. Ahahaha… benar juga, Ged. Aku belum liat aksi para bigots dan despot yang biasanya front paling depan (iya nggak sih?) dalam hal beginian.

    Kayaknya nggak, deh. Bigots dan prodespots mana peduli dengan umat. Mau sejuta umat murtad juga, bagi mereka nggak masalah; wong sedari awal bagi mereka sejuta umat itu juga sudah sesat™, toh?😆

    Jadi, bagi mereka, sejuta ‘korban’ krestenisasi™ itu cuma ganti kereta menuju tujuan yang sama, i.e. neraka.🙄

    Idem. Lebih parah lagi, itu komen dibenturkan dengan komen orang lain. Meski belum tentu aku akan sependapat dengan orang yang komennya dibenturkan dengan komenku itu, tapi tindakan demikian tetap saja menyebalkan.

    Yup;

    “”Please remember that I have always supported the Right of every person to have their own opinion, even if that opinion is different than mine. Anyone who denies another person of this right, makes himself a slave to his own opinion, because he prevents himself from being able to change it.”

    Tom Paine

    Btw, saya ngutip orang kafir™ tuh, boleh nggak?🙄

  31. Kayaknya nggak, deh. Bigots dan prodespots mana peduli dengan umat. Mau sejuta umat murtad juga, bagi mereka nggak masalah; wong sedari awal bagi mereka sejuta umat itu juga sudah sesat™, toh?

    wahhh ga bener itu ged…. ga bener sekali kalo mereka ga peduli, yang benar mereka skarang lagi persiapan menghadapi bulan ramadhan nih, yah untuk sementara yg banyak ditinggalin dulu deh, urus pribadi dulu biar sendiri masok “sorga”.. ummat mah bisa nyusul sendiri2 to 😆

  32. @ geddoe

    Jadi, bagi mereka, sejuta ‘korban’ krestenisasi™ itu cuma ganti kereta menuju tujuan yang sama, i.e. neraka.🙄

    Ya. Umat memang kendaraan terbaik untuk pahala terbaik™

    “To me it seems pretty straightforward. There are two opinions one can have about freedom of speech, you’re for it or against it.”

    Tom Morello

    Saya juga ngutip Tom-lain-yang-juga-kafir™
    Gimana tuh?😐

    *teguk kopi pait*

  33. @ almascatie
    Amen, ameeen.😆

    @ Agiek
    Lha, memang saya masih belum menemukan argumen yang bisa mematahkan hipotesis itu, kok.😆

    @ alex
    Ya, kalau itu kayaknya bukan dikotomi palsu, deh. Memang antara pro dan kontra.😛

  34. Saya tidak menyerang siapa-siapa, hanya kecewa pada standar ganda yang diterapkan umat— merasa berhak bercuap-cuap menyerang kepercayaan orang lain, namun mencak-mencak dan main keroyok ketika kepercayaannya sendiri diusik.

    Demikianlah adanya…:|

    Kalau memang kepercayaan anda benar, anda bisa menertawakan para kafir™ itu di neraka esok hari. Mbok sabar sedikit kenapa?😛

    Iya. Padahal musim ‘kompetisi kesabaran’ yang bernama Ramadhan™ selalu datang tiap taun…

    *isep rokok, mumpung belum puasa*

  35. @ watonist
    Huhuhu, yang itu memang belum nemu, tuh, mas.😦

    @ alex
    *perbaiki format*

    Ngetik itu pelan-pelan tho, mas.😛

    Demikianlah adanya…:|

    Sejalan sama teori self-deception-nya Rob Trivers nggak ya?😛

    Iya. Padahal musim ‘kompetisi kesabaran’ yang bernama Ramadhan™ selalu datang tiap taun…

    Menahan kesabaran kayaknya jarang, tuh. Yang ada juga umat pada ngurusin badan.😆

    *isep rokok, mumpung belum puasa*

    Jadi kepikiran. Kalau ngerokok difatwa nggak membatalkan puasa, kira-kira sehari rokok di warung laris berapa kontainer karung kardus bungkus, ya?😆

  36. @ watonist
    Huhuhu, yang itu memang belum nemu, tuh, mas.

    berjalanlah ke dalam, kamu akan menemukannya🙂

    *katanya😆 *

    Jadi kepikiran. Kalau ngerokok difatwa nggak membatalkan puasa, kira-kira sehari rokok di warung laris berapa kontainer karung kardus bungkus, ya?

    sepertinya perusahaan rokok akan berlomba lomba bikin produk yang mampu menanggulangi lapar dan dahaga😆

  37. berjalanlah ke dalam, kamu akan menemukannya🙂

    *katanya😆 *

    Aih, ke dalam apaan?

    sepertinya perusahaan rokok akan berlomba lomba bikin produk yang mampu menanggulangi lapar dan dahaga😆

    Dan para bigots pun mulai berteriak bid’ah…😆

  38. Ngetik itu pelan-pelan tho, mas.😛

    Padahal sudah cukup pelan aku ngetiknya. Mungkin karena keterharuan religius seorang muslim sejati menyambut romadon sebentar lagi telat makan siang, jadi kurang konsen…

    Sejalan sama teori self-deception-nya Rob Trivers nggak ya?😛

    Agaknya mendekati. Cuma butuh penyesuaian dikit, sejalanlah sudah😐

    Menahan kesabaran kayaknya jarang, tuh. Yang ada juga umat pada ngurusin badan.😆

    Padahal udah kurus begini, masih juga belajar sabar. Tapi kok lebih sabaran daku ya dalam ngadepin yang beda pendapat

    Ah… tanpa atau dengan patwa, berapa banyak sih ngaruhnya? Puasa itu sendiri pada akhirnya juga dirayakan dengan kebulan asap rokok di pojokan2 kampung, kota dan dalam ruang tamu dalam ajang silaturahmi atau halal bi halal… 😆

    *isep rokok kedua*

  39. Padahal sudah cukup pelan aku ngetiknya. Mungkin karena keterharuan religius seorang muslim sejati menyambut romadon sebentar lagi telat makan siang, jadi kurang konsen…

    Ah… tanpa atau dengan patwa, berapa banyak sih ngaruhnya? Puasa itu sendiri pada akhirnya juga dirayakan dengan kebulan asap rokok di pojokan2 kampung, kota dan dalam ruang tamu dalam ajang silaturahmi atau halal bi halal…😆

    Jangan lupa ‘rokok’ yang diletupkan di jalan-jalan sehingga kerap kali mengagetkan pengendara motor yang akhirnya membelokkan motornya secara sempurna ke dalam selokan.😆

  40. Heleh Kopral, pake di update segala sih.😛

    Itulah kopral, terus terang dan terang terus kalo berdasarkan pengalaman sih memang umat di Indonesia ini sangat kental sekali standar gandanya. Terutama dalam memandang USA.😉

  41. @ geddoe

    Jangan lupa ‘rokok’ yang diletupkan di jalan-jalan sehingga kerap kali mengagetkan pengendara motor yang akhirnya membelokkan motornya secara sempurna ke dalam selokan.😆

    Petasan?
    Benda sialan yang katanya nambah syiar agama itu?!

    Bah! Meski dulu waktu kanak-kanak aku pernah main yang begituan, tapi sejak SMA udah kesal liatnya.Entah syiar yang macam mana pula datang dari suara yang bikin orang gak tidur semalaman itu😡

  42. Quran[5:69] Surely, those who believe, those who are Jewish, the converts, and the Christians; any of them who (1) believe in GOD and (2) believe in the Last Day, and (3) lead a righteous life, have nothing to fear, nor will they grieve.

    berarti menurut alquran yang saya baca syarat muslim :
    1. Percaya kepada TUHAN
    2. Percaya Hari akhir ( percaya kalau alam semesta tidak kekal?? )
    3. Melakukan perbuatan baik,

    menurut alquran bisa disimpulkan siapa saja yang memenuhi syarat diatas maka bisa dikatakan dia adalah MUSLIM,

    “Apabila salah seorang berkata pada saudaranya “hai kafir”, maka tetaplah hal itu bagi salah seorangnya. (Shahih Bukhari Juz 4 hal 47)

    kesimpulannya jelas, jangan mudah menuduh seseorang kafir
    DISCLAIMER, saya bukan ahli agama

  43. Saya tetap tidak setuju dengan penghinaan agama, tapi kita jelas mendukung terjadinya dialog antar agama. Karena ia bisa menjadi jalan kita berkenalan antar masing-masing kepercayaan.

    Sebagian artikel pada blog-blog yang anda sebutkan, menurut saya memang ada yang tendensius dan mengarah kepada penghinaan. Tapi sebagiannya juga hanya ungkapan seputar pandangan masing-masing terhadap keyakinan yang lain.

    Intinya, membandingkan agama untuk tujuan mengklarifikasi keyakinan masing-masing atau untuk mempererat toleransi antara sesama umat beragama, asalkan mengikuti norma-norma kajian akademis, maka menurut saya hal itu sah-sah saja.

    Seorang Muslim yang membicarakan agama Kristen, tentu tidak berarti menghina ajaran Kristen dan juga sebaliknya. Begitu pula dengan agama-agama yang lain.

    Walaupun demikian, tak ada gading yang tak retak. Artinya, terkadang seorang pembahas yang lumayan baik pun suka bocor dikit😆 sehingga tendensi negatif itu tetap ada.

    Namun, setidaknya kita bisa menghargai usaha mereka.

    Adapun mengenai si Ratu, maka menurut saya, kajiannya bukan berpayungkan kepada kajian akademis.

    Walhasil, tidak semua tulisan perbandingan agama itu kajian akademis, sebagaimana tidak semua kajian perbandingan agama adalah penghinaan.

    Salam kenal. Maaf Kopral Geddoe, anda di M’sia yaa? Di mana? KL?

  44. Kok ada update ?

    Saya juga terkadang bingung dengan konsep dakwah/misi yang diusung oleh sebagian orang beragama. Mengapa berdakwah/misi dengan cara menyerang kepercayaan lain ? Mengapa tidak berdakwah/misi dengan mempromosikan kebaikan-kebaikan ajaran agamanya, tanpa perlu melihat kejelekan-kejelekan kepercayaan lain ?

    Itu dakwah/misi yang tidak cerdas otak dan tidak cerdas emosi.

    Orang lain yang menilai, pasti akan beranggapan : beginikah cara umat beragama menyiarkan agamanya, dengan cara menjelek-jelekan kepercayaan lain ?

    *sekali lagi jawabannya selalu klise : jangan salahkan agama, salahkan manusianya*

    Lalu kapan kepercayaan/agama yang dianut itu membuat seseorang menjadi bijak kalau caranya sendiri tidak bijak ?

    Itulah mungkin alternatif lain jawaban pertanyaan saya diatas :

    “Kalau agama tidak bisa membuat kamu jadi manusia baik, untuk apa beragama ? Mengapa tidak kamu tinggalkan saja agama itu dan memilih untuk tidak beragama, dan menjadi orang yang brengsek sekalian”

    Pertanyaannya lalu kembali lagi pada jargon-jargon bahwa beragama membuat seseorang bermoral dan beretika (menjadi orang baik). Benarkah ?

    Dalam hal ini saya setuju pada Dawkins. Tanpa agama pun, manusia punya hati nurani. Apakah dipakai atau tidak hati nurani itu, hal itu tidak bergantung pada agama yang dianutnya. Dan lebih jauh lagi, saya melihat kalau etika dan norma lebih universal daripada agama, karena etika berhubungan dengan hati nurani.

    Saya kutip lagunya Imagine, John Lennon :

    Imagine there’s no Heaven
    It’s easy if you try
    No hell below us
    Above us only sky
    Imagine all the people
    Living for today

    Apakah orang beragama hanya demi tujuan surga ?

    [joke mode ON]

    Jika itu tujuannya, surga itu akan datang dengan sendirinya buat mereka, tapi mereka akan kelelahan menyapu halaman surga yang luar biasa luasnya🙂

    [joke mode OFF]

    Apa yang dicari dari beragama, selain ketenangan jiwa dan batin serta keridhoan Tuhan ?

    Imagine there’s no countries
    It isn’t hard to do
    Nothing to kill or die for
    And no religion too
    Imagine all the people
    Living life in peace

    Untuk hal ini, Lennon mungkin sudah melangkah jauh dengan membayangkan bahwa agama bisa menjadi sumber konflik. Sejarah sebagai saksinya.

    Itu pertanyaan saya dari dulu, kalau beragama tidak membuat seseorang menjadi baik, buat apa beragama. Lebih baik menjadi kafir sekalian, toh sama saja tingkah lakunya. (dengan asumsi orang kafir tingkah lakunya bejat).

    ah, bingung… mau maen game lagi, nggak selesai-selesai juga…😉

    *sorry jadi curhat dan ngeblog disini*

  45. *setelah selesai menelusuri komen per komen*
    *antar geddoe en alex trus fertob*
    *mode serius: on*
    jadi ini kesimpulannya apa?

    #pertama
    kita melihat sang “Ratu” dari “Dia” sebagai manusia atau…melihat dari “Dia” dari agamanya? Terlepas dari ke”edan”annya ngapusin komen2

    #kedua
    Mungkin aku lebih setuju dengan melihat bahwa setiap doktrinisasi akan menghasilkan bigots (memakai istilah Geddoe) yang belum tentu paham apa itu agama, tapi hanya karena dididik dengan metode pembenaran sehingga mereka pun membenarkan dan merasa benar.

    #ketiga
    setiap pertentangan apakah harus menghasilkan hujatan? dan apakah setiap hujatan akan menghasilkan jawaban? aku pikir tidak. dan ketika kita “kebakaran jenggot” (meminjam lagi istilah Geddoe), siapa yang senang dan mencibir? kita, mereka, dia, kamu, atau siapa?
    dan setiap pertentangan pasti akan menimbulkan kerugian pada kedua belah pihak, itu aku yakin.

    #keempat sekaligus yang terakhir
    kebenaran tiap kebenaran dari tiap agama, peng-islaman, peng-kristenan, peng-hinduan, pem-buddhaan, apakah itu sudah membuka jalan tol menuju surga, dan apakah ada yang menjamin bahwa satu agama apapun akan membuka pintu itu? aku yakin tidak

    aku tidak mau mengkritisi karena aku tidak tahu apakah aku bisa mengkritisi tapi aku mau mencari solusi, karena aku tahu solusi adalah jawaban yang tidak merugikan siapapun

    *mode serius: off*

    Lha, tulisan-tulisan ber-tag ‘kesurupan’ saya, apa kurang abstrak?😛

    Yep, agama itu melulu masalah perspeksi, mas/mbak…

    IMHO Ged. Abstrak bukanlah abstrak jika masih ada jawabannya, bukan begitu Ged?
    dan kayanya aku masih harus belajar dari affandi untuk bisa menjadi abstrak *OOT*:mrgreen:

    dan aku masih seperti yang dulu meskipun bukan pembohong😆

  46. Modifikasi komen Chickkeeen banget. Persetan dengan opini ngawurnya Ratu. Buat Ged, coba dirunut siapa yang memulai memojokkan agama tertentu? Bukan yang banyak komen yang salah tapi siapa yang mulai menjadi provokator.

  47. @ watonist
    Oks, oks, dilaksanakan.:mrgreen:

    @ Justice Bringer
    Norak, ah.😆

    @ danalingga
    US? Wakakakaka, nusuk banget tuh.😆

    @ alex
    Saya nggak pernah main petasan. Adanya main kembang api. Wujudnya lebih heboh, tapi nggak ada bunyinya.😛

    @ warnetubuntu
    Setahu saya ada dua ayat di Qur’an yang omnitheistik, 5:69 dan 2:62. Namun menurut ulama mainstream, hal ini diabrogasi oleh ayat-ayat lain seperti 3:85 dan 5:72 (buset, saya kok sampai hapal begitu, yak?😆 ).

    Ahem. Beberapa aliran seperti Submitter dan pecahan-pecahan Sufisme dan Syiah meyakini pemahaman omnitheistik ini, walau sebagian besar masyarakat Sunni menolaknya. Uniknya, beberapa studi sejarah sekuler menunjukkan bahwa ayat pro-pluralisme itu (dan sederet ayat-ayat damai lainnya) muncul dari Mekkah, ketika Rasul belum mendapatkan posisi politis yang tinggi. Konon ketika beliau sudah ‘kuat’, maka ayat-ayat yang eksklusiflah yang turun. Materi yang begini ini sudah jadi staple buat kritik pada Islam sejak zaman jebot.

    @ M3
    Iya, mas. Saya juga setuju sepenuhnya atas dialog antar kepercayaan– dari Islam, Kristianitas, sampai atheisme dan aliran Lia Eden. Saya mendukung, kok, cuma ya kadang ya itu, kurang lapang dada. Kalau kritik bisa berjalan damai secara dua arah, saya senang-senang saja, kok.

    Saya ada di Sunway, mas.🙂

    @ cK
    Itu namanya nyampah >_>

    @ manusiasuper
    Yang modifikasi komen? Amit-amit. Jiji, mas.😆

    @ fertob
    Agama diterima karena doktrin salvation-nya. Menurut saya sumbangsihnya pada etika dan moral sangat kecil, karena, seperti yang saya katakan, melulu menjual etika yang sebenarnya sudah universal, lengkap dengan aturan baru yang sebenarnya kontroversial. Jadi kalau suatu agama nggak menjanjikan afterlife dan divine intervention, saya yakin nggak bakal ada yang ‘beli’.

    Namun agama mampu mendatangkan rasa tenang dan nyaman. Kekuatan ini yang susah ditandingi, apalagi oleh atheisme yang cenderung nihilistik.

    Jadi kenapa manusia beragama? Karena tidak mau berjudi masalah afterlife…😛

    p. s. Kalau mas main Suikoden V, pastikan Rion nggak mampus di akhir cerita.:mrgreen:

    @ tianzega
    1. Kita lihat beliau sebagai junkie agama yang sudah melenceng. Setipe sama Imam Samudera dan konco-konconya.🙂
    2. Setubuh.
    3. Benar. Tapi sakit hati karena pertentangan tentu tidak bisa dihindari. Solusinya adalah membuang prinsip mata dibayar mata.🙂
    4. Lha, ya masing-masing meyakini kebenaran dari agamanya masing-masing, melebihi keyakinan bahwa 2+2=4.

    Btw, bikin tulisan tentang ke-abstrak-an, dong.😛

    @ De’Bawonos
    Saya sudah pernah komen di blognya mas Sandy, kalau di dalam hal ini nggak ada rules of engagement, mas/mbak. Soalnya dalam provokasi, korban juga merupakan pelaku (setidaknya itu prinsip pribadi saya).

    @ extremusmilitis
    Iya. Dasar kolom SARA.😆

  48. Pingback: Sebuah Perjalanan

  49. Setelah membaca komen saudara warnetubuntu saya ‘terantuk’ pada kalimat disclaimernya.
    Jadi berpikir mungkin baik ya kalau dalam semua kitab agama/kepercayaan/paham-paham/isme-isme disertakan disclaimer semacam itu yang berbunyi kira-kira : Ajaran dalam kitab ini harus dipelajari dengan hati-hati. Ada sebagian orang yang menggunakan ajaran yang terkandung di dalamnya untuk melakukan tindak kekerasan terhadap sesama manusia.Bla bla bla…
    Mirip sama disclaimer pemerintah di kotak rokok🙂

  50. @geddoe
    iya kita jarang berkaca, sebenarnya kita itu gimana dimata orang lain.
    salah satu sebab saya memilih nggak beragama tu ya karena ingin mengembangkan sikap empati yang tanpa batas.

    @oddworld
    cerdas🙂

  51. @ joyo
    Ha, saya jadi ingat jargon Ukhuwah Islamiyah yang selama ini justru terkesan menjauhkan manusia dari Ukhuwah Insaniyah…

    Sayang penganut agama kebanyakan bercorak bigot dan evangelistik…

    @ Justice Bringer
    Bener. Btw, kitab yang suci kok bisa disalahartikan, ya? Apa bedanya dengan buku biasa, dong?

    *racuni Pandu dengan freethinking*😆

  52. @geddoe,

    Setahu saya ada dua ayat di Qur’an yang omnitheistik, 5:69 dan 2:62. Namun menurut ulama mainstream, hal ini diabrogasi oleh ayat-ayat lain seperti 3:85 dan 5:72

    pendapat yang menarik,
    gimana jika saat baca alquran kita mau merevolusi pikiran kita dengan definisi berikut :
    1. islam/muslim = orang yang sesuai dengan 3 syarat tadi,
    2. kafir = orang yg tidak sesuai dgn 3 syarat tadi,
    tulisan ini cukup bagus dalam mendefinisikan kafir
    3. ahli kitab = pemuka agama ( termasuk ulama islam juga )
    4. Allah = Tuhan = GOD, saya lebih cenderung mengartikan Lailahaillallah dengan “Tidak ada sesembahan kecuali TUHAN”
    Dengan merubah sudut pandang tadi maka tidak ada abrogasi pada ayat 3:85 dan 5:72 hmm…

    @oddworld,

    Jadi berpikir mungkin baik ya kalau dalam semua kitab agama/kepercayaan/paham-paham/isme-isme disertakan disclaimer semacam itu yang berbunyi kira-kira : Ajaran dalam kitab ini harus dipelajari dengan hati-hati. Ada sebagian orang yang menggunakan ajaran yang terkandung di dalamnya untuk melakukan tindak kekerasan terhadap sesama manusia.Bla bla bla…

    dialquran ada kok disclaimer itu :
    Quran[3:7]

    Dia-lah yang menurunkan Al Kitab [Al Qur’an] kepada kamu. Di antara [isi]nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (ayat yang terang) itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain [ayat-ayat] mutasyaabihaat (ayat yang berupa simbol). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran [daripadanya] melainkan orang-orang yang berakal.

    jadi, yang bisa mengambil pelajaran dari Alquran secara maksimal adalah orang yg berakal (pemikir, ilmuwan), orang yang bersih hatinya.. (agar tidak menimbulkan fitnah)

    Bener. Btw, kitab yang suci kok bisa disalahartikan, ya? Apa bedanya dengan buku biasa, dong?

    udah dikasih disclaimer diatas😀

    btw, saya suka menganalogikan kenapa dikitab suci, banyak penggambaran dengan cara pelambangan dan perumpamaan, misalkan perumpamaan surga, sebab untuk menggambarkan surga yang asli itu susah atau tidak memungkinkan dengan kapasitas otak kita saat ini, mirip susahnya mengajarkan fisika kuantum pada anak umur 2 tahun.. bahkan ada hadist klo ga salah bunyinya, “bentuk surga itu tidak pernah terpikirkan oleh pikiran, terdengar oleh telinga dan terlihat oleh mata, dan tidak pernah terbersit dalam hati”,

  53. @ Mihael Ellinsworth
    Jangan berkecil hati, pikirkanlah ide lain yang sama-sama revolusioner.😆

    @ warnetubuntu

    pendapat yang menarik,
    gimana jika saat baca alquran kita mau merevolusi pikiran kita dengan definisi berikut :
    1. islam/muslim = orang yang sesuai dengan 3 syarat tadi,
    2. kafir = orang yg tidak sesuai dgn 3 syarat tadi,
    tulisan ini cukup bagus dalam mendefinisikan kafir
    3. ahli kitab = pemuka agama ( termasuk ulama islam juga )
    4. Allah = Tuhan = GOD, saya lebih cenderung mengartikan Lailahaillallah dengan “Tidak ada sesembahan kecuali TUHAN”
    Dengan merubah sudut pandang tadi maka tidak ada abrogasi pada ayat 3:85 dan 5:72 hmm…

    Memang ada beberapa paham yang melihat Islam sebagai konsep, daripada agama formal. Artinya, Islam diarahkan pada suatu konsep tunggal bernama monotheisme. Jadi Islam = monotheisme. Identik dan ekuivalen. Konsekuensinya adalah seseorang bisa menjadi seorang Kristen dan Islam sekaligus (kecuali doktrin trinitas yang sepertinya memang secara literal dibantah lewat ayat 5:72).

    Jadi ini pelebaran sayap, mas. Maknanya diperluas. Memang berbau pluralisme, tapi setahu saya semua simpatisan humanisme di planet ini punya kecenderungan demikian.😉 Saya sendiri pernah tertarik dengan pemahaman yang ‘dalam’ seperti ini.

    Rintangannya tentu ada. Pada rumusan ini saya menemukan tiga masalah;
    1. Pemahaman ini dapat berbenturan dengan ritual. Memang beberapa kajian alternatif Al-Qur’an, seperti QXP-nya Dr. Shabbir Ahmed, mampu mengabolisi ritualisme sama sekali dari Al-Qur’an, menjadikannya agama yang 100% kompatibel dengan deisme dan freethinking (kecuali masalah revelasi dan problem of hell), namun dengan hal ini makna ritual-ritual yang ada pun menjadi ambigu; apakah suatu kewajiban atau hanyalah dianjurkan? Posisi Islam mainstream saat ini juga menjadi tidak jelas; penyimpangan ataukah alternatif?
    2. Pemahaman ini tidak didukung tradisi hadits. Namun tentunya kalau anda termasuk skeptis terhadap hadits, masalahnya bisa diredam.
    3. Nah, pemahaman ini sangat berlawanan dengan interpretasi mainstream. Seperti yang saya sebutkan, sekte Submitter dan Ahmadiyah menerima doktrin ahli kitab yang berada di surga; begitu pula beberapa cabang Syi’ah dan Sufisme. Bigotry Islam Sunni ‘kanan’ tentang masalah ini pun sebenarnya bagi saya sudah mencapai tahap menjijikkan, karena sudah terburu mengecap sesat sebelum mempertimbangkan kajian alternatifnya.

    Singkatnya, pemahaman omnitheistik di sini pun bukannya tanpa kendala.🙂

    Lagipula, saya sendiri belum bisa menemukan ayat yang menyatakan ada atheis di surga. Kalau belum ada pemahaman seperti itu, saya akan tetap skeptis.😛

    dialquran ada kok disclaimer itu :
    Quran[3:7]

    Mungkin maksud mas OddWorld itu supaya ditempelkan di halaman depan.:mrgreen:

    btw, saya suka menganalogikan kenapa dikitab suci, banyak penggambaran dengan cara pelambangan dan perumpamaan, misalkan perumpamaan surga, sebab untuk menggambarkan surga yang asli itu susah atau tidak memungkinkan dengan kapasitas otak kita saat ini, mirip susahnya mengajarkan fisika kuantum pada anak umur 2 tahun.. bahkan ada hadist klo ga salah bunyinya, “bentuk surga itu tidak pernah terpikirkan oleh pikiran, terdengar oleh telinga dan terlihat oleh mata, dan tidak pernah terbersit dalam hati”,

    Saya rasa konsep yang seperti ini yang membuat saya masih ‘menaruh harapan’ pada agama ini. Konsep afterlife yang abstrak membuatnya sedikit bergerak menjauhi paradoks-paradoks surga/neraka literal.

    Sayangnya, sepengetahuan saya, pemahaman yang seperti ini masih eksklusif dimiliki kubu liberal dan moderat yang punya tendensi ke ‘kiri’. Pihak konservatif masih keukeuh dengan konsep surga/neraka yang literal– penuh dengan paradoks.😛

  54. @geddoe,
    Wah tambah menarik nih diskusinya🙂

    1. Pemahaman ini dapat berbenturan dengan ritual.

    25 nabi yang disebutkan di Alquran, itu jelas2 dikatakan mereka muslim loh (males nyari ayatnya.. tapi ada banyak).. jadi bisa saya simpulkan, “muslim” saya ini adalah “muslim” dengan aturan Nabi Muhammad, analoginya, ada banyak jalan menuju ke Roma, tetapi saya mengikuti jalan Nabi Muhammad,
    untuk sampai ke Roma, tapi intinya adalah BERJALAN, banyak orang yang membangga-banggakan jalannya paling lurus, paling cepat dll dll, tetapi ternyata sama sekali mereka blom BERJALAN, jadi ya ga nyampe2😀 ,

    2. Pemahaman ini tidak didukung tradisi hadits. Namun tentunya kalau anda termasuk skeptis terhadap hadits, masalahnya bisa diredam.

    dengan adanya kenyataan bahwa ada hadist yang palsu, maka semua hadist harus di benchmark dengan Alqur’an itu sendiri, (dengan asumsi Alquran 100% benar)

    3. Nah, pemahaman ini sangat berlawanan dengan interpretasi mainstream.

    mainstream blom tentu benar, dulu mainstream mengatakan bumi itu datar, tapi nyatanya?

    Lagipula, saya sendiri belum bisa menemukan ayat yang menyatakan ada atheis di surga. Kalau belum ada pemahaman seperti itu, saya akan tetap skeptis.

    Nabi Ibrahim adalah contoh nabi yang skeptis dan peneliti, dia dilahirkan dari ayah yang bukan penyembah Tuhan tapi penyembah patung(menurut saya ini adalah simbol tuhan kecil, tuhan2 kecil ini banyak, tidak hanya patung, tetapi bisa juga harta, tahta, dan wanita *biar berima*😀 ), Nabi Ibrahim ini pernah mencoba menyembah bintang, bulan dll dll.. Jadi bisa saya simpulkan, Jika Atheis tersebut mati pada saat proses pencarian Tuhan, maka bisa dikatakan mereka juga termasuk “Muslim”,

    Mungkin maksud mas OddWorld itu supaya ditempelkan di halaman depan.

    *ngakak guling-guling😀 *

    Sayangnya, sepengetahuan saya, pemahaman yang seperti ini masih eksklusif dimiliki kubu liberal dan moderat yang punya tendensi ke ‘kiri’. Pihak konservatif masih keukeuh dengan konsep surga/neraka yang literal– penuh dengan paradoks.

    Merevolusi pandangan yang sudah mengakar itu sangat susah, seperti merevolusi pemikiran bahwa Ubuntu lebih bagus dari Windows *ga ada hubungannya*😀

  55. 25 nabi yang disebutkan di Alquran, itu jelas2 dikatakan mereka muslim loh (males nyari ayatnya.. tapi ada banyak).. jadi bisa saya simpulkan, “muslim” saya ini adalah “muslim” dengan aturan Nabi Muhammad,

    Itu dia hipotesis saya bahwa syariat ‘resmi’ yang ada sekarang adalah alternatif. Walau sebenarnya dalam konotasi ‘muslim’ sendiri, dalam Al-Qur’an terdapat suatu ambiguitas, kalau nggak mau dibilang inkonsistensi; apakah Ibrahim, Musa, atau Muhammad, yang merupakan muslim yang pertama.

    dengan adanya kenyataan bahwa ada hadist yang palsu, maka semua hadist harus di benchmark dengan Alqur’an itu sendiri, (dengan asumsi Alquran 100% benar)

    Masalahnya pemahaman bahwa Al-Qur’an itu 100% asli sendiri merupakan pemahaman sirkular– klaim itu datang dari kitab itu sendiri, dan secara akal sehat saja, bisa jadi merupakan produk alterasi yang terjadi. Namun dengan asumsi demikian, memang cukup banyak hadits-hadits aneh yang dapat disortir.

    Kesulitannya adalah ketika posisi hadits dianggap sebagai suatu suplemen, dibandingkan dengan sesuatu dengan kemampuan abrogasi. Misalnya begini, dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa A = {p}, dan pada sebuah hadits dinyatakan bahwa A = {q}. Apabila hadits hanya dilihat sebagai kekuatan abrogatif, memang klaim A = {q} tersebut dapat dengan aman ditendang jauh-jauh. tapi bagaimana kalau hadits dianggap sebagai suplemen? Dengan demikian kesimpulannya adalah A = {p, q}. Hal seperti ini yang menyulut kontroversi-kontroversi seperti kontroversi jilbab.

    mainstream blom tentu benar, dulu mainstream mengatakan bumi itu datar, tapi nyatanya?

    Saya tidak menyatakan salah, tapi sulit diterapkan dan dikembangkan. Sifat bawaan revealed religion adalah statik akan dogma yang *katanya* ineran itu.

    Jadi bisa saya simpulkan, Jika Atheis tersebut mati pada saat proses pencarian Tuhan, maka bisa dikatakan mereka juga termasuk “Muslim”,

    Sejauh pengetahuan saya, kebanyakan atheis adalah atheis negatif , dalam artian mereka bukannya mengklaim bahwa Tuhan itu tidak ada, melainkan sekadar memilih untuk tidak memeluk pemahaman ketuhanan manapun. Singkatnya apatis. Tendensinya tentu ke arah agnostik. Memang serupa dengan konsep di atas.

    Tapi, ajaran Islam yang ada masih menekankan iman di atas pekerjaan. Tanpa pemahaman esoterik, sulit menjustifikasi ajaran seperti ini.

    *ngakak guling-guling😀 *

    Itu bijak, lho, menurut saya.:mrgreen:

    Merevolusi pandangan yang sudah mengakar itu sangat susah, seperti merevolusi pemikiran bahwa Ubuntu lebih bagus dari Windows *ga ada hubungannya*😀

    Kalau masalah beginian, kayaknya lebih ke arah kompatibilitas dengan peranti-peranti pendukungnya, deh.😛

    Lagian lebtob™ saya crash waktu nginstall itu Ubuntu.😦

  56. Contohnya masalah ambiguitas takdir di AlQur’an, disebutkan bahwa ada 3 ayat yang ambigu,
    1. Tidak ada daun yang jatuh kecuali atas sepengetahuan dan izin Tuhan,
    2. Tuhan tidak merubah nasib suatu kaum, jikalau mereka tidak merubah nasibnya sendiri,
    3. Manusia boleh punya rencana, tetapi rencana Tuhan jauh lebih kuat,
    (Maaf tidak sempat mencari ayatnya, mo sholat tarawih)
    Jika logikanya mengatakan ketiga2nya benar, kemungkinan ada 2 yaitu logika “dan” atau logika “atau”, karena ketiga3nya bertolak belakang, hanya logika “atau” yang mungkin,
    takdir pertama adalah ilmu eksakta, seperti fisika, saya bisa meramalkan kapan terjadi gerhana matahari, kapan sebuah benda itu jatuh ketanah dll dll.. semuanya eksak,
    Takdir yang kedua adalah ilmu probabilitas, kita bisa meningkatkan sebuah probabilitas jika kita ada usaha,
    takdir yang ketiga, pendekatan probabilitas yang paling mendekati pasti pun, ada kemungkinan untuk gagal atau salah, disinilah “tangan Tuhan” bertindak, yaitu faktor keberuntungan..

    btw, lagi ngetik cepet2 karena mo tarawih, jadi blom bisa mengomentari komentar yang terakhir tadi😀,

    klo menjalankan puasa, met puasa ramadan ya, mohon maaf lahir dan batin🙂

  57. Memang ada beberapa paham yang melihat Islam sebagai konsep, daripada agama formal. Artinya, Islam diarahkan pada suatu konsep tunggal bernama monotheisme. Jadi Islam = monotheisme. Identik dan ekuivalen. Konsekuensinya adalah seseorang bisa menjadi seorang Kristen dan Islam sekaligus (kecuali doktrin trinitas yang sepertinya memang secara literal dibantah lewat ayat 5:72).

    Saya agak tertarik dengan pernyataan yang ini, terutama yang di tebelin. Yuk, didiskusikan.

    Akan saya mulai dengan sebuah pendapat bahwa yang di larang itu sebenarnya adalah mentigakan Tuhan. Atau secara lebih universal adalah suatu kegiatan musyrik alias menyekutukan Tuhan. Nah pertanyaan anehnya adalah:

    1. tapi apakah trinitas berarti serta merta mentigakan Tuhan seperti yang dimaksud dengan ayat tersebut?
    2. apakah trinitas juga sebenarnya ada berbagai macam?
    3. Jika berbagai macam maka sepertinya trinitas tidak bisa langsung serta merta dianggap mentigakan Tuha bukan?
    4. Apakah sebenarnya motivasi atau maksud ketika seseorang itu menyebut yesus Tuhan
    5. dll lagi

Comments are closed.