Interrobang

Jadi begini, bayangkan, visualisasikan kalau anda sedang duduk-duduk di sebuah warung. Lontong sudah disantap, dan rokok sedang diisap dengan sentosanya. Di depan anda, kopi hitam pekat asapnya sedang mengepul-ngepul.

Nah, sewaktu mood sedang positif seperti itu, tiba-tiba datang seorang kampret. Silakan visualisasikan sang kampret versi anda ini seperti apa; bisa bocah ingusan yang air mukanya menyebalkan, oom-oom bewok yang bikin kepalan tangan gatal hendak melayangkan bogem mentah, atau orang dengan orientasi seksual yang berbeda dengan anda yang sering aktif meraba-raba bokong anda. Pastikan visualisasi sang kampret ini benar-benar kampret.

Lalu sang kampret pun berteriak. Menunjuk-nunjuk batang hidung anda. Tiada angin tiada hujan, meng-asu-kan anda. Jari tengah pun turut diacungkan. Lidah terjulur.

Hwalah! Terlepas dari apa alasannya meng-asu-kan anda, anda mungkin nggak suka diperlakukan kayak begitu. Walau asu dan anda itu bersaudara, yah, namanya juga manusia, selalu merasa lebih tampan dari sang asu. Ego terganggu, amarah pun menggebu-gebu.

Sekarang, bagaimanakah reaksi anda?

Reaksi yang religius wajar tentunya dengan meneriakkan kata; apa-kamu-bilang.

Di sini lah pertanyaannya. tanda baca apa yang mesti dipakai?
Beberapa alternatif yang tersedia;

  1. Pakai tanda tanya
    Kenapa: Karena ini adalah kalimat tanya, walau berbau retoris.
    Hasil: “Apa kamu bilang?”
    Kelebihan: Secara EYD, rasanya lebih tepat.
    Kekurangan: Amarahnya nggak terlalu berasa. Kalau diucapkan, memang pedas, tapi kalau ditulis, jadi kehilangan wibawa. Kayak perempuan saja!
  2. Pakai tanda seru
    Kenapa: Karena sedang kalap. Orang marah ‘kan teriak-teriak, tho?
    Hasil: “Apa kamu bilang!”
    Kelebihan: Terlihat jelas kalau anda sedang mencak-mencak.
    Kekurangan: Terdengar janggal. Ini ‘kan kalimat tanya.
  3. Pakai tanda tanya + tanda seru
    Kenapa: Karena satu saja nggak cukup.
    Hasil: “Apa kamu bilang?!”
    Kelebihan: Kerasa.
    Kekurangan: Dua tanda baca itu nggak dianjurkan dalam penulisan formal. Walau sebenarnya mau pakai poetic license boleh-boleh saja, sih.
  4. Pakai tanda seru + tanda tanya *editor’s choice*
    Kenapa: Karena satu saja nggak cukup.
    Hasil: “Apa kamu bilang!?”
    Kelebihan: Sama seperti opsi sebelumnya. Dan lebih rapi secara tipografi– saya suka yang ini.
    Kekurangan: Sama seperti di atas.
  5. Pakai tanda banyak-banyak
    Kenapa: Sudah kalap, kok masih mikirin EYD?
    Hasil: “Apa kamu bilang!!!!!???”, “Apa kamu bilang??????”, atau “Apa kamu bilang!!!!!??? !&%�%&%&!%&%”
    Kelebihan: Lebih kerasa.
    Kekurangan: Norak, dan terlihat nggak berpendidikan.

Seperti yang kita lihat di atas, nggak ada yang memenuhi kebutuhan dua pihak; yaitu kaidah penulisan formal dan emosi yang hendak disampaikan. Dibutuhkan tanda baca lebih dari satu untuk menyampaikannya secara sempurna. Dan itu ilegal!

Jangan khawatir. Jangan menangis. Perkenalkan interrobang.

interrobang

Potret seekor interrobang

Yah, memang interrobang nggak umum dipakai, nggak tersedia di kibor, dan nggak didukung oleh banyak aplikasi. Tapi ya itulah solusi formalnya. Interrobang adalah fusion dari tanda seru dan tanda tanya.

Tanda baca nggak jelas ini dibikin oleh Martin Speckter di tahun 1962. Tahun 1966 dirilis typeface yang ada interrobang-nya. Akhir 1960an-awal 1970an, interrobang bisa diakses dari kibor tertentu. Tapi ya karena jelek dan aneh nggak biasa digunakan, interrobang sampai saat ini belum diresmikan sebagai tanda baca standar. Microsoft sendiri hanya meletakkan interrobang pada set font Wingdings; walau akhirnya sukses jebol ke unicode.

Sekarang mari kita demonstrasikan kebolehannya;

“Apa kamu bilang‽”

Hmm. Nggak terlalu terasa. Ternyata memang nggak efektif.😕

Ahem. Jadi, tertarik memakai interrobang?😛

In God We Trust. RosenQueen, company.

33 thoughts on “Interrobang

  1. Cuman kerasa tanda tanyanya….
    Kalau pengen emosi terlihat jelas pakai kata pamungkas,, Apa kamu bilang, C****KKK!!!!!
    atau, “C****KKK, Apa kamu bilang?”😀

    *maaf disensor*

  2. Jadi begini, bayangkan, visualisasikan kalau anda sedang duduk-duduk di sebuah warung. Lontong sudah disantap, dan rokok sedang diisap dengan sentosanya. Di depan anda, kopi hitam pekat asapnya sedang mengepul-ngepul.

    ini gambaran gue banget sebelum bertobat dulu nih.😀

    Btw, tak coba dulu tipsnya deh :

    apa kamu bilang ?!

    *hem kok jadi aneh kalo di balik ya?*

  3. Kok namanya interrobang sih? Bukannya kalo mereka berfusion harusnya bernama questamation mark atau exclestion mark?😕

    *buka2 ulang kitab Dragon Ball*

    …Wait a sec. THAT’S IT. Kalau ingin menyampaikan emosi secara efisien dan efektif, maka tanda baca yang paling tepat adalah ASTERISK!

    Contoh: “Apa kamu bilang?” *gampar*

    Ingat, Tuhan memerintahkan kita untuk memberantas kemunkaran dengan tangan dahulu, baru dengan mulut😀

  4. @Catshade

    Ingat, Tuhan memerintahkan kita untuk memberantas kemunkaran dengan tangan dahulu, baru dengan mulut

    jadi maksudnya kita gampar dulu baru bilang “Apa kamu bilang ?!” ya :mrgreen:

  5. tiba-tiba datang seorang kampret.
    Lalu sang kampret pun berteriak. Menunjuk-nunjuk batang hidung anda. Tiada angin tiada hujan, meng-asu-kan anda. Jari tengah pun turut diacungkan. Lidah terjulur(mirip a…..ng)

    klo saya baca dari ilustrasinya sepertinya lebih menekankan pada tanda tanya, soalnya kita masih mikir nich orang siapa?waras ga?

  6. FTW?!

    Orang yang paling mengerikan itu teman kuliah saya, mungkin sama mengerikannya dengan orang yang dulu pernah ngejar2 Bebek.

  7. Sekilas kok jadi mirip lambang P*I yang menghadap ke arah yang berlawanan ?
    P*lu dan Ar*t… just curious🙂

  8. hehehe… demi memuaskan keinginan formal dan keinginan emosi (yang terlarang dalam bentuk formal) akhirnya dibuat tanda baca baru.

    tapi, btw stw, tanda baca dan alfabet dalam ekspresi tulisan sebenarnya sangat sulit menerjemahkan ekspresi lisan seseorang.

    *misalnya, saya nulis ini dalam keadaan marah, tapi nggak tau kan ?*:mrgreen:

  9. Kalau ditulis Interobang nya kelihatan seperti tanda tanya biasa ya…

    Kalau sudah seperti gambaran tadi, asu saja tidak cukup…
    Minimal seperti ini dong…

    Anj**g gob**k!!!!!

    kurang tanda tanya?

    An**ng Go**ok!!!!! Beneran gak?

    agak aneh…

    kenapa disensornya di tempat yang beda?
    terserah aku dong…😆

  10. Pingback: (To Stand out Against the Queen) - pt. 2 « Chaos Region

  11. @ Catshade
    J-jenius! Asterisk-lah yang kita butuhkan selama ini!😯

    @ CY
    Iya, nih, kayaknya urutannya mesti dibalik.:mrgreen:

    @ calonorangtenarsedunia
    Siap, laksanakan!

    *tabok tersangka pakai popor*

    @ baliazura
    Yah, cuma ilustrasi, mas…😛

    @ Nenda Fadhilah
    Ngapain ngejar-ngejar bebek?

    *pura-pura bloon*

    *padahal memang bloon*

    @ oddworld
    Makanya bagus untuk jadi logo parpol.😆

    @ fertobhades
    Intinya, persetan EYD!:mrgreen:

    @ yarza
    Itu masalahnya, mas/mbak, lebih berat ke tanda tanya, ya?

    @ p4ndu_Y4m4to

  12. *telat*😛

    Eh, sebetulnya penyampaian macem ini udah pernah dipakai, kok. Di komik Detektif Conan yang edisi belasan, kalo gak salah… tapi gak pake tanda baca ini. Mereka pakai “!?”

    Efeknya sama dengan bertanya sambil marah.😛

    Contoh:

    Jadi kamu pikir dia pelakunya!?

    Kayak gitu sih, IMO… (o_0)”\

  13. Ya itu juga semua orang kayaknya paham, deh, mas.😕

    Saya ‘kan mau memasyarakatkan tanda baca yang shahih™ ini, dari pada memakai dua tanda baca yang makruh…😛

Comments are closed.