Kode Etik

pandangan mesti bijak~

Sampurasun…🙂

Beberapa hari belakangan, sewaktu saya tengah khusyuk bergentayangan di sekitar information superhighway, perhatian saya sempat tertuju ke sejumlah tulisan-tulisan yang menurut saya sedikit lucu, norak, serta terlihat agak panik, walau masih manusiawi juga. Jadinya, ya, saya menyempatkan diri untuk menghentikan kegiatan saya waktu itu (yaitu mencari retakan-retakan software haram serta komik-komik mesum) dan berkonsentrasi membaca tulisan-tulisan tersebut😛

Lhooo?

Nah. Rupanya beberapa tulisan yang saya baca itu mengkritik kebebasan berpendapat. He? Kenapa begitu? Apa jadinya masyarakat kalau berpendapat saja diwanti-wanti? Kenapa disuruh mingkem? Apa mungkin mas-mas/mbak-mbak di atas adalah pengagum sistem politik ultraopresif a la the Party dalam novel 1984?

Yaaa, mungkin nggak sampai separah itu. Yang ditulis cuma kecaman kritik tentang adanya tulisan-tulisan yang dianggap menyesatkan. Iya, ‘menyesatkan’ di sana memang dimaksudkan dalam konteks religi. Tulisan-tulisan seperti ini konon tersebar di seluruh penjuru blogosfer. Mas-mas/mbak-mbak ini misuh-misuh, katanya; ‘Kalau nggak punya kompetensi dalam menulis tetek bengek dan cengkok-cengkok agama, jangan nulis! Mingkem aja!’. Astaganaga! Hwarakadah! Asamalakata! Sebegitu alerginya kah mas-mas/mbak-mbak ini dengan tulisan-tulisan dekonstruktif!?😕 Nggak, nggak. Mungking nggak. Kalau menurut intuisi saya yang nggak terlalu tajam ini sih, sebenarnya ini cuma masalah sederhana saja; nggak biasa menerima perbedaan pendapat. Apalagi kebetulan topik cerocosannya lumayan sensitif; agama, bung! Konon, agama itu ‘kan raja segala topik!😀

Nah, daripada ikutan misuh-misuh, lebih baik kita adakan analisis kasus. Apa yang terjadi? Kenapa bisa terjadi? Membahayakankah? Bagaimana solusinya?:mrgreen:

* * *

Apa yang terjadi;

  • Setelah membaca beberapa tulisan-tulisan yang mencoba ‘membahas agama dari sisi lain’, ada sebagian pihak yang merasa gerah. ‘Gerah’ di sana maksudnya merasa nggak sreg dengan materi yang disajikan penulis. Kenafa demikian? Ya, tentunya karena pandangan penulis berbeda dengan pandangan mereka🙂
  • Nah, kemudian muncul kritikan. Mas-mas/mbak-mbak yang mengkritik ini menuntut supaya yang membuat tulisan-tulisan dekonstruktif tadi tutup mulut dan menghentikan hobi gila mereka.
  • Mas-mas/mbak-mbak yang bersangkutan juga mempertanyakan kredibilitas para penulis. Syaikh nggak, ustadz nggak, nabi nggak, malaikat nggak, Tuhan jelas nggak mungkin, aktivis dakwah nggak, ayatullah juga nggak. Jangan-jangan juga nggak berafiliasi dengan ADK, Rohis, dan komplotan-komplotannya– kok berani-beraninya ngomongin agama, sih? Hak veto dalam konteks agama ‘kan sudah direservasi untuk kaum tertentu saja! Rakyat jelata silakan merayap di tanah!
  • Nggak lupa, sebagai bentuk dari pelaksanaan etika kritik, beberapa tulisan protes di atas juga menyisipkan saran dan nasihat supaya para penulis dekonstruktif tadi bertobat. Kembali mengikuti jalan yang lurus dan merayap di tanah like the commoners they are.

Ya, yang jelas memang, walaupun manusiawi, with all due respect, saya mesti bilang kalau sentimen di atas nggak mewarisi semangat ilmiah😕 Tapi yang terkontaminasi dengan sentimen yang -menurut saya nih- agak nggak membangun itu, jangan berkecil hati dulu. Bisa diobati, kok😉 Soalnya saya dulu juga sempat kena kanker ideologi seperti itu.

Kenapa bisa begitu?

Berdasarkan pengamatan pribadi, yang didasari oleh kisah sejati pengalaman pribadi, saya bisa rumuskan bahwa beberapa penyebab munculnya sentimen negatif tersebut adalah antara lain;

  • Belum terbiasa bergentayangan dalam jaringan bebas a la Web 2.0.
    Wahai dunia, jaringan Web 2.0 nyaris nggak punya norma-norma, kecuali norma yang berkaitan dengan kredibilitas dan public image dari service providernya😉 Jadi ya mesti beradaptasi. Kasus ini mirip-mirip kasus di mana bocah tipikal spoiled brat manja yang berasal dari keluarga bonafit, terdampar di tengah-tengah scene garage rock dan punk, di mana makhluk-makhluk keren dengan kehidupan keras bergentayangan. Bisa jadi si bocah bisa jantungan mendengar kata-kata kotor, sumpah serapah, dan candaan-candaan mesum yang (mungkin) kerap dipraktekkan teman-teman barunya. Tapi mau diapakan lagi? Bottom line-nya, jangan naif lah, kawan! Nggak semua orang di dunia itu tipe santun yang air mukanya berbunga-bunga setiap saat!
  • Termakan indoktrinasi.
    Sudah betul-betul haqqul yakin bahwa pemahamannya paling benar. Lha, ya boleh-boleh saja yakin, tapi seyakin-yakinnya anda, toh masih homo sapiens juga. Volume otak anda juga ukurannya nggak jauh beda dengan otak kebanyakan orang, ‘kan? Kalau anda yang salah, bagaimana? Kecuali ya kalau arogansi intelektual anda sudah menyumbat naluri diskusi dan memakruhkan pemikiran kritis.
  • Nggak biasa menerima pendapat yang berbeda.
    Maaf, nih, tapi setahu saya ‘kan pengetahuan rata-rata manusia itu agak cupet. Jarang ‘kan ada manusia yang polymath? Setahu saya, dalam masalah religi saja, dunia ini nggak sepakat, kok. Hei, dunia, umat manusia di bumi ini pemahaman religiusnya berbeda-beda, lho. Masa yang begitu saja anda nggak tahu?😕 Yang anda lakukan pada yang kolom agama pada KTP-nya beda dengan anda, kalau boleh tahu, apa, sih? Kalau anda semprot mereka dengan argumen bahwa pemahaman mereka ngawur dan bau neraka semua, ya mungkin anda perlu bunuh diri saja. Biar cepat masuk surga sendiri dan nggak mengganggu ketentraman dunia. Tapi anda rasanya nggak begitu, ‘kan? Nah, itu berarti anda bisa menerima perbedaan pendapat dengan baik, ‘kan? Kenapa pakai standar ganda dalam pemahaman antar dan intern beragama?
  • Menganggap remeh kebenaran.
    Bisa jadi pasien-pasien kanker ideologi ini mengalami sindrom meremehkan kebenaran. Yaa, kalau 2 + 2, penduduk dusun terpencil juga yakin kalau jawabannya 4. Tapi kalau pertanyaan-pertanyaan yang lebih abstrak, jangan menganggap remeh ritual mencarinya. Susah, je. Anda mesti ingat betul; hanya karena anda yakin sesuatu itu benar, nggak berarti lantas jadi pasti benar. Mungkin bagi anda (contoh, nih) Tuhan itu pasti ada. Sudah jelas. Yang bilang nggak ada, bodoh. Dungu. Moron. Idiot. Goblok. Gemblung. Telek kebo. Asu. Buat anda yang berpikir seperti itu, anda mesti BANGUN. Untuk pertanyaan sederhana barusan saja, banyak jenius-jenius (yang kemungkinan besar, harga otaknya lebih mahal dari otak anda) yang bertentangan pendapat. Edison, misalnya, nggak percaya akan adanya personal God seperti yang kita agung-agungkan. Kurang pintar apa lagi beliau? Lebih dari seribu penemuan ilmiah sudah beliau wujudkan. Anda sendiri sudah bikin apa? Bukan berarti saya menganggap Edison lebih tinggi kastanya dari anda, cuma mengingatkan bahwa ada seorang yang posisinya perlu diperhitungkan, yang pendapatnya beda dengan anda. Di lain pihak, jenius lain, seperti Ben Franklin, percaya akan adanya Tuhan. Jawaban akan pertanyaan non-eksakta itu sangat abstrak dan subyektif. Anda (dan saya, dan semua homo sapiens di muka bumi ini) mesti belajar untuk mempercayai pendapat anda sambil tetap berusaha mengkonfirmasikan kebenarannya. Bukan ditelan bulat-bulat kayak pil diare.
  • Self-deception
    Saya kok yakin faktor self-deception punya andil besar, ya? Jelas, wong manusia sangat rawan akan self-deception. Ketika merasa ideologi pribadinya terancam, otak manusia akan bekerja untuk menipu dirinya sendiri, dengan cara membuang pemikiran kritis mereka. Caranya bisa dengan mendiskreditkan ide yang membahayakan kondisi kognitif otak tadi. Bisa jadi dengan menertawakan dan menganggap remeh (ridicule) gagasan baru tersebut. Misalnya, kalau seorang penganut agama A menjumpai tulisan yang menyatakan bahwa agama A adalah salah, maka bisa jadi ia akan bereaksi;

    “Bah, tulisan apa itu!? Nggak ilmiah, yang nulisnya juga identitasnya nggak jelas. Kayaknya banyak errornya lagi. Buat apa dibaca sampai habis? Buang-buang waktu! Sampah, ah!”

    Yah, itulah self-deception yang legendaris tersebut. Jangan khawatir, kalau anda mempraktekkannya, anda nggak sakit. Semua manusia berbuat hal yang sama, kok.

Solusi dan terapi

Perlu ditekankan bahwa, saya nggak melarang anda berpendapat. Mau nggak setuju juga boleh, kok. Mau mengatai mereka pukimak semua juga nggak dilarang. Kalau anda mau main santet, mungkin baru saya agak keberatan😛

Saya cuma minta anda bersikap lebih elegan. Dewasa. Berkepala dingin. Kalau anda mau merefute suatu sentimen, anda berikan alasan yang memadai, dan tanpa ad hominem. Hargai yang berseberangan pendapat dengan anda. Memang susah, wong saya sendiri juga belum fasih melaksanakannya. Cuma ya memang mesti dicoba, dan diusahakan.

Kalau mau direcap, usul saya sih sederhana;

  • Kalau anda nggak setuju, sebaiknya sertakan alasan logis anda. Jelaskan dengan panjang lebar. Tanpa merendahkan dan menghujat, tentu. Ingat, anda harus menyanggah TEORI-nya, bukan si penulis, kredibilitasnya, ataupun pribadinya. Seorang nabi pun bisa berpendapat salah, dan seorang bajingan pun bisa berpendapat benar.
  • Kalau nggak mampu menyertakan alasan, atau karena suatu pertimbangan anda memilih untuk nggak berdebat, anda cukup nyatakan anda nggak setuju, dengan ramah tentunya. Nggak perlu melolong dan teriak-teriak penuh rasa benci.
  • Sewaktu anda berdebat, anda introspeksi dulu; anda ini sedang mencari kebenaran ataukah membela diri? Indikasinya tentu kesediaan mengubah pendirian setelah diskusi berakhir. Kalau sejak awal nggak ada kesiapan mengubah pendirian, lebih baik anda ikut opsi kedua; cukup nyatakan pendapat dengan ramah dan nggak usah repot-repot diskusi. Ini penting😕
  • Nah, seandainya setelah berdebat pun nggak ada titik temu, anda mesti sepakat untuk nggak sepakat. Hargai saja pendapat orang yang berlainan tersebut. Toh kalau pendapat orang tersebut bagi anda memang segitu nggak masuk akalnya, maka ia nggak bakal mampu menyesatkan banyak umat; jadi anda nggak perlu waswas😉

Konklusi

Demikianlah, pandangan seorang bajingan saya menyoal fenomena ‘mengkritik kebebasan pendapat’ tersebut. Ingat, kalau pendapat yang anda pegang itu memang logis, pasti bisa dikonfirmasikan. Dan itulah yang mesti anda lakukan; kalau anda percaya sesuatu, mesti terus dikonformasikan– kalau ternyata nggak valid, ya buang saja pemikiran tersebut. Begitulah metodenya, kalau anda berminat mencari kebenaran😉

Sekadar catatan akhir, aturan di atas sebenarnya nggak universal. Soalnya ada pengecualiannya, je. Yaitu yang sudah merasa MAHA BENAR dan MAHA MENGETAHUI. Saya ulangi, yang merasa MAHA BENAR dan MAHA MENGETAHUI, boleh-boleh saja nggak mematuhi etika-etika seperti yang saya jabarkan🙂

Shalom aleichem, dan selamat berpendapat:mrgreen:

*kembali ke belantara mata kuliah networking😐 *

In God We Trust. RosenQueen, company.

57 thoughts on “Kode Etik

  1. Demi kebebasan berpendapat, biarkan yang suka koment macam gitu diberi tempat saja. Ibarat kata “Jangan yang pro demokrasi membungkam yang anti demokrasi demi demokrasi”. Apa bedanya dengan orde baru dong?

  2. Tentu, saya sadar sepenuhnya, Kang. Inilah paradoks kebebasan berpendapat; ‘menentang kebebasan berpendapat’ itu juga kebebasan berpendapat, bukan?😛

    Ini bukan apa-apa, cuma imbauan dan harapan…🙂

  3. Yaa, kalau 2 + 2, penduduk dusun terpencil juga yakin kalau jawabannya 4.

    Mr. Geddoe…rupanya anda perlu ke kamar 101…sekarang.😀

    *siapin kandang tikus*

  4. @ irdix
    Lha, kok jadi segitu terobsesinya dengan kata yang satu itu?😛

    @ Count of Madness
    Yup yup~

    @ Mihael Ellisnworth
    Menuntut kebebasan yang beretika😛

  5. Rakyat jelata silakan merayap di tanah!

    😆 😆 😆

    teori self deception itu ya Difo,, kalo emang gitu sih mau digimanain lagi,,🙄

    eh komen pertama Difo itu maksudnya apa? ga ngerti,,

  6. Ahihihi… penyebab yang nomor satu kayanya paling potensial nyumbang peran ya. Jadinya langsung reaktif, merasa `ada sesuatu` yang mengancam, ada jiwa-jiwa yang harus diselamatkan… dan hal-hal lainnya,:mrgreen:

    Ini bagus Difo, mesti dibaca sama mereka-mereka yang masih ga siap dengan tulisan yang `enggak biasa`, siapa tahu jadi katalisator buat lebih openmind!😈🙂

    Pernah ketemu tulisan kaya gitu, cuma ga ingat lagi link-nya😛, nanti deh kalau sempat dicari lagi… *ga janji*:mrgreen:

  7. Hualah, ternyata kita sepemikiran… ^^

    IMO, itu kayaknya termasuk gejala gegar budaya, deh. Saya juga pertama kali sempet kaget pas baca blognya wadehel… malah baru seminggu-dua minggu kemudian saya mulai paham bahwa dia bikin satire.😛

  8. @ jejakpena
    Iya, kayaknya sih cuma syok aja. Saya juga dulu begitu, soale😛

    Eh, btw Mbak Ma udah ngasih banyak link, kayaknya udah cukup dulu, deh🙂

    @ sora9n
    Anda patut bersyukur karena sepemikiran dengan saya.

    Iya, makanya. Kemungkinan besar cuma syok, ya itu, geger budaya tadi. Semoga cepat hilang, deh😛

    *kembali menyantap mumonkan, sedang agak mabuk Zen😛 *

  9. @ Kopral Geddoe

    Saya udah mikir mau nulis soal itu sejak 3-4 hari yang lalu, kok…

    OOT — kayaknya ente ngefans sama Yuki Nagato banget, ya?😆

  10. kalau aku taunya hanya karena orang ga tau apa itu majas….makanya mengira majas personifikasi sebagai kenyataan…
    Do you get Waht I mean???
    *padahal aku juga ga ngerti apa itu majas majasan*😀

  11. @ sora9n
    He? Nulis apaan? Tulisan yang mirip? Yah, memang mungkin kita sama-sama kepancing, ya? ^^

    OOT – Pasti. Yuki Nagato, Minami Iwasaki, Rei Ayanami, yang expresionless begitu saya paling nggak tahan — langsung squee all over😳

    @ Neo Forty-Nine
    Maksudnya konsep metafor pada surga dan neraka? Bisa jadi, semua bisa terjadi. Ini hitung-hitungan berdasarkan pemahaman populer saja, kok🙂

  12. Kebebasan memang harusnya ada aturannya. Kalau nggak gitu anarki. Ada kode etik memang dalam perbloggingan maupun diskusi di Internet.

    Termasuk jangan nge-flame, berpikirlah liberal, mendinginkan isu sehari baru komen, dll.

    Tapi biasalah, orang indonesia baru kenal diskusi panas di internet.

  13. Untung saya orang biasa dan tulisannya juga biasa.

    btw, zennya dah nyampe mana kopral? Kalo bisa daftar link yang dah di lahap di tuliskan di blog ini, biar saya gampang mengikuti jejaknya.😀

  14. @ dnial
    Kayaknya memang cuma syok deh, geger budaya, kayak kata mas Sora. Beda pendapat bolehlah, cuma ngeflamenya yang jangan😦

    Btw yang masih ‘belum terbiasa’ begitu apa jadinya kalau dibawa ke FaithFreedom, ya? Pasti kebakaran jembut jenggot, tuh😛

    @ danalingga
    *sembah sujud*

    Lagi mendalami Mumonkan, guru. Kapan-kapan mungkin saya riviu😛

  15. Siapa anda yang berani-beraninya menuliskan kode etik buat perdebatan di dunia internet. Apakah anda nabi, malaikat, ustad, dlll ?

    *sambil ngelus-ngelus jenggot*😉

    Kalau Kode Etik dari Yang Maha Baik itu seperti apa Kang Geddoe ?

  16. apa2an ini??
    artikel sampah!buang2 waktu!

    *heran sama orang yang masih ga bisa beda pendapat padahal perkembangan zaman terlalu maju*

    oia, usul buat yg ‘kaget’ dan ‘jengah’ ketika baca tulisan2 di internet yg mengganggu kenyamanannya sebagai ‘orang2 yg paling benar’: ga usah main internet

    gampang kan??kesian jantung tuh..

  17. Celakanya kriteria “logis” itu pun relatif, menurut si A logis, menurut si B belum tentu. Kalo menurut suara terbanyak, juga ga bisa dijadikan patokan, relatif juga (tergantung background suara terbanyak itu dan daerah asalnya).
    *pantesan Einstein rambutnya acak2an mikirin teori relativitas*
    *ngacak2 rambut juga*:mrgreen:

  18. Beragama, dikekang dogma-dogma ahli agama.
    Jadi Atheis, ndak mau, karena masih percaya Tuhan itu ada
    Jadi agnostik, gag ada tempat di KTP

    bener-bener wadehel deh ngadepin orang2 yang gak bisa nerima perbedaan ini.

    pengennya aku itu, mestinya agama dibikin hak cipta saja. Semacam copy right atau trademark. Biar jelas saja batasan-batasannya😛

    *just my gocap*

  19. Bebas berpendapat, dan mengeluarkan opini, tentu saja. Asal bisa dipertanggung jawabkan. Dan tentu saja dengan cara yang baik ^_^

  20. @ Geddoe

    Ah… hati saya masih muslim kok… mereka yang merasa lebih muslim dari saya saja yang sirik…

    *siul2*😛

  21. Pingback: Berlebihan ! « Chaos_Region.html

  22. yah … sebagian besar masalah dunia ini kan karena salah paham.
    sebenarnya nggak ada alasan kita untuk merasa tidak dipahami ketika kita sudah memahami orang lain, apa yang tanam … itu yang kita tuai, saya rasa ini masih berlaku.

    *mojok lagi🙂 *

  23. Cuek aja napa???? Memang agak bahaya sih bagi anak2 “bawah dua puluh tahun” alias belum dewasa. Tapi,….bagi orang yang ngerasa dah dewasa, so what gt lho! Toh tidak akan gampang terpengaruh kalo mang dah punya prinsip.

  24. Merasa dewasa tentunya berbeda dengan benar-benar dewasa😉

    Toh tidak akan gampang terpengaruh kalo mang dah punya prinsip.

    Sebenarnya prinsip saya adalah sebisa mungkin nggak berprinsip😉 Prinsip selalu mengalihkan kita dari kebenaran🙂

  25. gw ngk stuju cara berpikir lo. smua yg ada di dunia ini punya standar dasar untuk kebenaran, nah Tuhan memberikan standar kebenaran melalui kitab suciNya. skrg gw tanya sama lo kalau ada orang yg merusak nama baik keluarga lo tanpa dasar yang benar, lo marah ngk? gw yakin orang kayak lo ngk bakal marah meskipun keluarga lo diceritain jelek oleh seseorang, krn kalau lo marah berarti lo ngk menghargai kebebasan berpendapat donk. dan kalau dilihat dari cara berpikir lo, gw yakin lo ngk setuju para koruptor ditangkap karna yang menangkap merasa MAHA BENAR padahal apa dasarnya nuduh-nuduh orang.

  26. Catatan tambahan:

    Marah karena tidak setuju atas pendapat orang lain, itu tidak melanggar asas toleransi dan kebebasan berpendapat.

    Memukul dan menggebuk karena tidak setuju atas pendapat orang lain, itu baru melanggar asas toleransi, di samping hukum pidana yang berlaku di negara y.b.s.

  27. @ laguna | Catshade

    Maksud saya sudah digambarkan oleh Catshade.🙂

    Kalau tidak setuju dengan suatu pendapat, saya tidak melarang. Hanya ketidaksetujuannya digambarkan dengan pendapat pula, bukan gebuk-gebukan dan pembredelan.

  28. ga ada komentar untuk tulisan sesat yang menyinggung keimanan ini, saya cuma ingin berterimakasih pada Shelling Ford untuk link hentai nya.😀

Comments are closed.