Tinggi Hati

Jadi, ceritanya saya sedang memainkan ulang Tales of Eternia, seperti yang saya umumkan beberapa hari yang lalu. Pola bermainnya sih angin-anginan, tapi kalau sudah main, biasanya serius, sampai berjam-jam.

Ahem.

krimsup dari Inferia

Ha, sebenarnya bukan hendak membicarakan itu…😛 Masalahnya, sewaktu memainkan bagian-bagian awalnya, saya merasa seperti disindir. Seperti ditampar. Mungkin bukan maksud tim developer untuk menghina saya, tapi tetap saja saya merasa tersindir.

Tersindir, karena tiba-tiba semuanya jadi seperti kritik satir!

VI. Ready

Efek tamparan yang saya sebutkan di atas muncul ketika saya tiba di Inferia Capital. Kota yang besar, tokonya banyak, dan harga yang ditawarkan pun lumayan miring. Bahkan ada teaternya, yang menyajikan cerita menarik, walau harga tiketnya bisa dibilang keterlaluan.

Kota ini adalah ibukota Inferia, sehingga boleh dikatakan merupakan miniatur dari keseluruhan negara. Nah, negara ini mempunyai ‘negara tetangga’; Celestia. Sayangnya hubungan keduanya tidak terlalu akrab — buktinya sudah lebih dari dua puluh abad tidak terjadi kontak sama sekali. Itu berarti sudah dua ribu tahun, lho. Lama sekali, ‘kan? Ha, jadi hubungan kedua ‘negara’ inilah yang menarik…

Apanya? Yaitu bagaimana para penduduk Inferia memandang saudara jauhnya. Bagaimana mereka beropini tentang seperti apa kaum Celestia itu; cenderung ke arah negatif. padahal, seperti yang saya katakan, tidak ada kontak di antara mereka dengan penduduk Celestia selama dua ribu tahun. Tsuudzon di mana-mana. Tidak obyektif tentu. Hanya berdasarkan kabar burung, cerita-cerita kuno, konjektur, gosip, atau malah propaganda.

  1. Di jalanan kota saya bertemu seorang kakek tua, yang bersedia mengobrol dengan saya tentang Celestia. Yang dia katakan pada saya cukup mengerikan; konon penduduk Celestia berbulu lebat seperti hewan, berintelejensi rendah, hobi makan orang, dan barbar. Deskripsinya sih jelas deskripsi monster. Bikin bergidik.Nyatanya setelah saya tiba di Celestia (dengan ajaib) tidak lama setelah itu, orangnya biasa-biasa saja; perbedaannya paling hanya warna kulit yang sedikit gelap saja. Itupun tidak terlalu kontras — mirip perbedaan kulit bule dan sawo matang.
  2. Berdasarkan hasil berkeliaran di seluruh penjuru kota, impresi yang saya dapatkan adalah bahwa penduduk cenderung mendewakan sang raja. Raja dipuji tanpa berbuat sesuatu apapun; rakyat begitu maklum akan ketatnya pengawasan sang raja, rakyat tidak pernah mempertanyakan keputusan sang raja, bahkan ada rakyat yang menganggap bahwa raja kedudukannya ada di atas Tuhan.Salah seorang dari anggota rombongan yang kebetulan berasal dari Celestia terheran-heran melihatnya. Celetukannya menusuk; “Di Celestia, tidak ada yang diistimewakan, semuanya sama rata.”
  3. Rombongan party pun kembali mencoba melakukan usaha mereka; melaporkan bahwa sebuah bencana alam besar akan terjadi. Salah seorang anggota party yang merupakan seorang astronom pun sudah menyiapkan hitungan matematis dari teorinya. Karena tidak bisa masuk ke istana (yang dihuni sang ‘maha suci’), mereka memutuskan untuk masuk ke biara. Eeh, sindrom Galileo! Ternyata teori yang disampaikan sang astronom telah melanggar apa yang tertulis dalam kitab suci (dalam pemahaman mereka, tentunya). Walhasil, seisi party dijebloskan ke hotel prodeo.
  4. Setelah bernegosiasi, akhirnya pahlawan-pahlawan kita dilepaskan. Kepala astronomi negara memutuskan bahwa teori bencana itu benar. Apa yang terjadi selanjutnya? Sang raja yang pintar memerintahkan rakyat untuk siaga perang. Apa pasal? Ha, ternyata menurut logika sang raja (dan mungkin seisi kerajaan), kaum Celestia-lah yang cari gara-gara. Pasti, sebab mereka memang begundal dan pukimak semua. Sambil mengutuk-ngutuk, mereka pun siaga perang.Anggota rombongan yang berasal dari Celestia tadi cuma bisa mengurut dada. Sebab dia tahu, justru kaum Celestia mengutuskan pergi ke Inferia demi mengajak mereka bekerja sama menghentikan bencana tersebut.
  5. Yang terakhir ini agak lucu. Ternyata penduduk Inferia percaya bahwa para bajingan-bajingan di Celestia itu betul-betul dungu; dan peradaban mereka kalah jauh dengan Inferia. Ketika saya sampai di Celestia, yang saya dapati adalah negara hi-tech khas fiksi ilmiah, kontras dengan peradaban medieval di Inferia.

Lalu? Yaah, kok saya jadi ingat dengan umat saya, ya?

Kalau dicocok-cocokkan…

  1. Umat saya yang saya cintai ini ‘kan memang terkadang suka menggosipkan bangsa-bangsa lain. Baratlah, Israel lah, Yahudi lah, Amerika lah… Kalau memang ceritanya benar sih ya nggak apa-apa. Itu berarti ‘kan melek politik. Tapi kadang yang dijadikan dasar malah hoax, atau cuma cerita-cerita iseng. Padahal di Quran sendiri sudah diwanti-wanti, kalau dapat berita, cek dulu kebenarannya, jangan main cap shahih mentang-mentang beritanya menjelek-jelekkan musuh. Kebanyakan tidak mengetahui bahwa banyak ‘musuh’ yang bersimpati dan ramah pada mereka. Atau mungkin tahu, dan malah menuduh mereka berpura-pura🙄
  2. Umat saya juga terkadang terlalu mengkultuskan golongan. Yang jenggotnya panjang, yang punya jabatan tinggi di bidang keagamaan, tiba-tiba jadi imun terhadap kesalahan. Argumen rasional dimatikan. Konon yang awam seperti saya cuma bisa diam dan merenungkan celoteh-celoteh mereka yang kadang-kadang bengis dan irasional.
  3. Naah, malah kadang-kadang, umat saya ini juga konservatif. Tekstual. Kalau fakta dan penafsiran kitab suci berseberangan, bukan penafsirannya yang diperbaiki, melainkan faktanya yang dituduh hasil konspirasi. Yang melawan diasingkan, dianggap sebagai musuh.
  4. Satu lagi yang parah, tsuudzon-nya nggak ketulungan. Apa-apa yang salah, selalu menyalahkan musuh. Pergaulan bebas di kalangan remaja dikatakan sebagai strategi musuh-musuh untuk menghancurkan umat. Ini itu dituding sebagai konspirasi musuh. Apa-apa konspirasi musuh. Sedikit-sedikit konspirasi musuh. Buktinya ya kadang nggak komplit, yang ada cuma fanatisme golongan. Dikritik juga kadang nggak mau, malah yang kasih kritik dituding sebagai musuh.
  5. Yang paling menyedihkan, umat ini ternyata nggak ada apa-apanya. Umat yang kegeeran. Hobinya berkoar-koar, kalau seisi dunia berusaha menghancurkan umat, karena umat itu ‘singa yang sedang tertidur’. Padahal kalau dipikir-pikir, musuh-musuh itu seharusnya nggak se-kurang kerjaan itu. Umat lupa, kalau umat yang sekarang tidaklah berharga untuk dihancurkan. Yang dikonspirasikan untuk dijatuhkan itu singa yang kuat, yang berkuasa, yang bijaksana. Bukan singa pemalas yang tidur dan nggak bangun-bangun lagi. Logikanya, ngapain Brazil dan Italia berkonspirasi mencegah Indonesia lolos ke putaran final Piala Dunia? Bukannya malah lucu kalau Ivan Kolev berkelit kalau alasan kenapa Indonesia gagal ke putaran final Piala Dunia nanti adalah karena “Brazil dan Italia berkonspirasi mencegah kami ke putaran final Piala Dunia!”…?

Tapi ya tentunya ini bukan generalisasi. Cuma nasihat pada yang mungkin kebetulan melampaui batas. Bukankah konon agama itu adalah nasihat?😛 Waspada boleh, tapi rasional. Omong besar boleh, tapi pakai aksi.

Yang tidak merasa termasuk pada golongan umat yang saya sebutkan, selamat. Yang termasuk, terkutuklah kalian semoga kembali ke jalan yang benar.

* * *

VII. Remove

*minum teh hijau*

.

.

.

Alkisah tersebutlah seorang pemuda yang bernama Abu. Almarhum ayahnya adalah seorang pengusaha yang mahsyur, harum namanya, dan berlimpah hartanya. Namun sejak semuanya diwariskan kepada Abu, semuanya perlahan-lahan hilang.

Abu sendiri hidup melarat. Yang dilakukannya saban hari hanyalah main karambol sambil bertelanjang dada di depan rumahnya. Setiapkali tetangganya, Judah, lewat di depan rumahnya, ia selalu mencibir. Betul, memang konon Judah bukanlah orang yang benar-benar baik, namun kadang perilaku Abu terlalu kelewatan; sampai ketika anak-anak dan keponakan Judah lewat di depan rumahnya pun, ia masih mencibir. Menurutnya, anak-anak balita Judah itu, semuanya sama saja dengan Judah. Bengis dan licik. Main pukul rata saja.

Tidak sampai di situ, Abu juga sinis terhadap beberapa rekan-rekan Judah, misalnya Sam dan Arthur. Betul, memang keduanya punya banyak jasa pada Abu, namun Abu tidak peduli. Semuanya jahanam. Semuanya.

Lama-kelamaan, Abu sinis kepada semua orang yang ada di sekelilingnya. Pada Juan, Frederick, dan bahkan akhirnya pada Huang, yang merupakan saudara dekatnya. Semuanya sama. Abu benar-benar paranoid.

Kenapa?

Menurut Abu, semua orang-orang kaya di atas sedang berkonspirasi untuk menjatuhkannya. Ia sesumbar, kalau seandainya ia mau berusaha sedikit saja, ia pasti akan jadi lebih kaya raya dari semua orang — dari Judah, Sam, Juan, Frederick, Huang, dari siapapun! “Aku adalah singa yang tertidur!”, teriaknya.

Namun walau sudah berkoar-koar begitu, Abu tidak kunjung bangun. Ia tetap main karambol di depan rumahnya. Kalau ada yang menginggung statusnya lagi, ia akan kembali berkhotbah tentang bagaimana ia adalah singa yang tertidur, dan kalau ia ingin, ia bisa saja jadi kaya raya.

Itulah Abu. Tinggi hati, tanpa modal sama sekali.

Lama-kelamaan, orang mulai mencibir. Abu hanya besar mulut. Abu, tentunya murka. Ia pun mulai membuka usaha. Namun usahanya mandeg; cara usahanya kuno. Terpaku cara-cara lama. Tidak mau berubah, sebab konon bertentangan dengan primbon-primbon ilmu perdagangan kuno yang ia anut. Hasilnya, usahanya tidak maju-maju. Yang berusaha mengkritik pun, ia tidak terima. Langsung disemprot. Padahal, konon, sebenarnya hanya cara Abu menafsirkan primbon-nya lah yang bermasalah. Primbon itu sendiri masih sakti dan cocok diterapkan pada zaman sekarang.

Dalam keadaan gawat pun, Abu ternayta tidak mau mendengar masukan orang lain. Ia tidak sudi bekerja sama dengan orang lain. Maunya semuanya sendiri. Ia yakin kalau ia bisa melakukan semuanya sendiri. Ia tidak butuh orang lain. Kalau ada yang menasihati, yang keluar adalah kembali khotbah-khotbah tentang singa yang tertidur.

Parahnya lagi, ia kemudian mengamuk-ngamuk sendiri. Ia menuding bahwa para konglomerat yang multimilyuner seperti Sam dan Judah telah menghambat usaha warung kecilnya. Mereka berkonspirasi menjatuhkan warungnya, katanya. Orang-orang tentu saja tertawa. Terhina, Abu kembali mendakwahi mereka –tentang singa tertidur tentunya– sambil menepuk dada, bangga.

Namun, bagaimanapun, perlahan-lahan, usaha Abu mulai berkembang. Karena terjepit keadaan, ia pun mulai bekerja sama dengan Judah dan Sam. Juga Huang, Juan, dan Frederick. Tentunya ia belum menjadi apa-apa. Jasanya baru sedikit saja. Apalagi ia terkadang tidak toleran. Ingin dibantu, tapi berat untuk membantu.

Anehnya, tiba-tiba, Abu, seorang pegawai rendahan, datang ke kantor direksi. Ia ingin jadi direktur.

Kontan saja seisi jaringan perusahaan kaget setengah mati. Tapi Abu bersikeras. Seisi perusahaan mesti bergerak dengan aturannya. Terang saja, orang-orang keberatan, menurut mereka sebaiknya Abu merintis jalan lebih jauh dulu, mengubah dunia dengan kontribusi positif, perlahan-lahan, sampai akhirnya meraih kekuasaan. Apalagi konon aturan yang dibawa Abu cukup dahsyat untuk dijadikan pegangan.

Namun Abu tidak peduli.

Di dalam pikirannya, mereka semua hanya orang bodoh. Ialah yang mesti berkuasa. Aturannya lah yang harus dijalankan.

.

.

.

*bunyi musik gamelan mengiringi*

*minum teh hijau lagi*

*menerawang*😕

* * *

Ah, tulisan ini disajikan dalam bentuk suite dua bagian, masing-masing bertitel VI. Ready dan VII. Remove. Yak, comotan dari The Root of All Evil-nya Dream Theater😉

‘Satu postingan dengan banyak isi’ a la movement ini menarik juga… Mungkin akan sering saya pakai😉

In God We Trust. RosenQueen, company.

38 thoughts on “Tinggi Hati

  1. Mr. Geddoe : “Mengenalkan Inferia kepada kaum jenggot”
    Tango : “Mengenalkan ayam pada iPod”

    Apalah bedanya ?

    *Ditimpuk*

    OK, Back to topic…

    —————-

    Hmm..benar – benar, kalau hipotesa ini diperkenalkan lewat khayalak luas, bisa – bisa semua kaget luar biasa.

    Masa ah ?

    Mungkin beberapa dari mereka hanya akan ngeloyor pergi, sisnya mencaci maki.

    Tapi tetap saja ini bagus.😀

  2. Pingback: Counter Culture « Chaos_Region.html

  3. Wui… hehe…. Pokoke saya save as ini artikel dan saya pajang di mading ah… hehe… biar digebukin anak DKM… hahaha…hehe…..

    paranoia.. paranoia…hehe….

    Teringat percakapan tadi sore..hehe

  4. jadi ingat waktu Hamas dan Fatah mule perang sendiri, ada sahabat yang nyletuk klo mereka di adu domba sama Judah dan Sam. huehehehe, saya nyengir, sambil bales nyletuk, lha kok mau di adu??? eh bener di adu gak to???

  5. *galang dukungan*

    Ayo, kita nominasikan “Tales of Eternia” sebagai “game paling kontemplatif” pilihan blogger WordPress Indonesia. Pasti banyak yang setuju deh.😆

    Btw, bener tuh. Soal ‘singa tidur’, biasanya umat bakal merujuk ke ‘prestasi’ uzur — terutama yang zaman Kordoba, Baghdad, Ibnu Sina, dkk. Benar-benar menerapkan prinsip berkaca pada masa lalu.:mrgreen:

    [OOT]

    Mas Geddoe main ToE versi Jepun? Gile kalau iya… ente hapal kanji, gitu? (o_0)”\

    [/OOT]

  6. *suara gamelan Forte*

    hoaduuuh, 3 kisah nih,,

    kisah 1 : Tales of Eternia itu yang ada Meredith, Keil itu bukan??? eh,, itu Tales of Destiny ya????
    hmmmm, memang benar adanya orang2 yang mencari tumbal,, ndak peduli sodara kita, atopun yang ngerasa bukan sodara,.
    (maksut???)

    kisah 2 : tu abu perlu ke psikiater😆
    ga tau mo komen apa,, hehe

    *suara gamelan Largamente*:mrgreen:

  7. Link ke saya mana?? Inikan sedikit banyak terinspirasi dari tulisan saya

    @Game dan alur ceritanya

    Mending juga main GTA. bisa mencari pelacur, ngebunuh penjaga toko yang sebenarnya simpatik tapi dirampok oleh Vercetti dan Jhonson demi ngedapetin uangnya, ngebunuh manusia, membunuh preman yang suka malak dan ganggu, bahkan polisi polisi juga bisa dibabat. “Dor Dor Dor. Crottt. maka darahpun berceceran”. Ho Ho Ho…..nafsu binatang tepenuhi, waktu terlalui dengan sia sia tanpa terasa. “Eh, sudah pagi?”*bletak*

    @Abu, Judah, Sam, Arthur, Juan, Frederik,dan Huang

    Bilangin Abu, Judah, Sam, Arthur, Juan, Frederik,dan Huang sebenarnya punya saudara di sini. Sayang saudara saudaranya itu suka main dusta dustaan alias saling membohongi, meski kadang kadang suka pura pura saling bantu.

    Hasilnya? Si Abu yang goblok tapi sok pintar sering dikibulin oleh Judah dan Sam, meski Judah dan Sam sering pura pura bantu si Abu namun mereka justru sering ngadu domba si Abu yang goblok dungu dan tolol dengan saudara saudaranya macam Ali dan Syahid. Si Judah dan Sam tertawa riang sambil joged disco, Abu dan saudara saudaranya gontok gotokan sampai bunuh bunuhan. Harta si Abu yang sudah sedikit disedot nikmat oleh Judah dan Sam, trus dijual lagi ma si Abu dengan harga yang sama dengan yang ditawarkan oleh kapitalis kapitalis busuk tukang sedot duit rakyat bikin si Abu ngutang sama Sam.

    Intinya? Gimana sich caranya nyadarin si goblok dan tolol Abu agar dia bisa sadar kalau dia sebenarnya bisa lebih cerdas daripada jahanam jahanam yang lain? disuruh belajar malah mengkafirkan saudara. Disuruh damai malah bunuh saudara. disuruh mendekati tuhan malah ngebunuh tuhan. Kalo elu pada masih percaya tuhan, tunjukkin dong kelakuan umat percaya tuhan. Hoi Abu,bangun!!!!!! Ini bukan jamannya ribut soal gambar bernyawa atau manjanggin jenggot kambing elu tauk! Apa elu masih sibuk sms’an? Elu liat dong si Sam, sodara sodaranya banyak yang kaga percaya tuhan ato sekedar majang lambang tuhan di dinding, tapi mereka pada sukses (sukses ngibulin sodara sodara Abu yang memang goblok). Elu liat juga Judah yang tuhannya ajarannya bengis dan menjijikkan. Tapi mereka make otaknya buat ngibulin elu elu pada. Pake dong otak elu Abu Abu!

    ini generalisasi ya? Mbacot apaan sich aku? *Pulang, Bini nungguin*

    ‘komen ini sangat memungkinkan kena pending, kena ga ya??????’

  8. ahahahahaha,, Ma juga lagi maen PS!! Kangen maen PS!!😆
    hmm,, kayanya Ma juga udah pernah maen ini deh jaman dulu,,
    *tanya Sara, siapa tau dia inget*

    ehem,,

    eh iya, Ma sama gitu pikirannya sama Sarah,, coba kita ajak ke psikiater tuh,, paranoidnya udah sampe tahap yang parah kali,, tinggal tunggu self destructive-nya aja,, (apa udah ya??)😕

    Lagian kalo ga ada yang disalain kerasa banget kalo kita sendiri yang salah,, jadi mending narik narik orang lain buat disalahin,,😆

    *liat komen orang orang*

    Ahh,, ada nama Ma,,😀
    senneeng!!
    *joget joget*

  9. @ Count of Madness
    Yah, itu kebebasan pribadi🙄:mrgreen:

    @ joyo
    Lha, teori konspirasi itu menarik, tho? Walau yang paling ngawur sekalipun.

    @ sora9n

    Ayo, kita nominasikan “Tales of Eternia” sebagai “game paling kontemplatif” pilihan blogger WordPress Indonesia. Pasti banyak yang setuju deh.😆

    Iya, ceritanya secara eksplisit sih agak dangkal, tapi kayaknya unsur tersiratnya keren, lho. Pandangan satir akan berbagai permasalahan sosial…

    Atau itu cuma interpretasi saya saja, ya?😆

    Mas Geddoe main ToE versi Jepun? Gile kalau iya… ente hapal kanji, gitu? (o_0)”\

    Nggak, krimsupnya cuma dapat yang itu😛

    Btw, kayaknya ente melanggar sumpah deh. Tulisan ini kan bernuansa kritik eksplisit terhadap suatu agama tertentu.😆

    Eh, iya, ya… Yaah, apa boleh buat, lah😀

    @ saRe’
    Iya, yang itu:mrgreen:

    @ Neo Forty-Nine
    Ah, iya.

    ———
    Bagian kedua terinspirasi dari sini:mrgreen:
    ———

    Btw, kena pending emang, URL-nya kebanyakan😆

    @ danalingga
    Catch-22, tuh. Kalau nggak ‘paranoid’, ya ‘goblok’😆

    @ adine
    Minum teh hijau dulu, mas/mbak🙂

    @ Shelling Ford | dnial
    Ada, tentu. Kasetnya sudah langka, silakan buru ISO-nya🙂

    @ Rizma

    tinggal tunggu self destructive-nya aja,, (apa udah ya??)😕

    Sudah. Self-destruct atas nama Tuhan di jalan-jalan, sambil ngebunuh banyak orang sekaligus.

    @ tiar
    Mau diapakan lagi? Dimutilasi supaya pendek?😕😆

  10. @ manusiasuper
    Mungkin ada. Hidup itu mesti melompat-lompat terus, raih tempat yang lebih tinggi…

    *ngawur*

    @ pink
    Tentu, dengan senang hati😛

  11. penduduk cenderung mendewakan sang raja. Raja dipuji tanpa berbuat sesuatu apapun; rakyat begitu maklum akan ketatnya pengawasan sang raja, rakyat tidak pernah mempertanyakan keputusan sang raja, bahkan ada rakyat yang menganggap bahwa raja kedudukannya ada di atas Tuhan

    mister gimana peranan raja? dan ayah si abu, jangan-jangan mereka mewarisi dari leluhurnya

  12. errr… kok seperti nyindir umat Islam ya? uppps, maaf, itu pasti perasaan saya saja. Andai saya beragama kristen atau hindu atau budha atau apapun, pasti.. eh.. mungkin saya juga akan merasa kalau agama dan umat saya disindir habis-habisan.

    Jadi gimana dong biar pada bangun? Apa dengan sindiran mereka bisa tersadar?

    Atau biarkan saja? ga usah dipikirin, kalau memang mau hancur ya biar saja hancur. Memang semua yang lahir akan mati toh? Mungkin sudah terlalu basi, udah waktunya😛

    Emang anda siapa kok mau menyadarkan? Emang saya siapa kok komentar disini? Emang jenderal failure itu siapa kok iseng baca-baca harddisk saya? *numpang mabux*

  13. Yah, ini juga cuma rant doang, mas. Solusinya ya belum dipikirin:mrgreen:

    Saya juga nggak terlalu berniat memperbaiki umat… Bagusan memperbaiki diri dulu. Hahaha!😛

  14. Pingback: Beginikah Cerminan Umat Terbaik? « Generasi Biru

  15. pengen curhat nee…
    Ry, buka situs nee coz pengen da kasih saran ato apa lah
    yang jelas hari nee Ry sedih BGT
    krn akhir2 nee Ry disindir ma Temen RY yg dulu sahabat Ry ndiri..
    Liat wajahNa ja Ry sampai ketakutan
    takut kalo disindir…
    giamana cara mengatasi perasaan takut tu..
    N gimana cara menghadapi Dy
    Hati RY dah Trauma
    Gak mw cari masalah ma Dy tp tetep ja
    stp Ry ngomong ato melakukan pa ja dpt sindiran dr Dy
    Ry dah capek nangis terus
    paling2 Ry nangis dalam hati…
    Bantu Ry…

Comments are closed.