One Man Revolution (pt. 2)

Dakwah gelombang kedua… P

Tiga tetes banner — silakan dipajang kalau berminat, atau dibiarkan kalau tidak berminat. Toh keputusannya ada di tangan anda ;) Tapi kalau anda mau memajangnya, ya, saya lebih senang, apalagi semuanya. Bukan apa-apa, berarti ‘kan kemungkinan besar anda mempunyai pandangan yang sama dengan saya.

Long story short, lo and behold…

  1. Banner anti-ad hominem
    Berdiskusilah secara dewasa...

    Tentunya tidak perlu dijelaskan lagi. Seni diskusi kampungan ini kerap kali diterapkan oleh banyak orang — saya tidak terkecuali. Ad Hominem. Berargumen dengan cara menjatuhkan pihak yang didebat, bukan topiknya. Kampret, jelas. Makanya mesti dikampanyekan, syukur-syukur masyarakat menjadi terindoktrinasi dan tercuci otaknya untuk tidak ber-ad hominem-ria P

  2. Banner anti-hasty generalization
    Berhenti menggeneralisasi - dunia tidak sesederhana itu.

    Hasty generalization. Saya tidak perlu berkata banyak; silakan cek tulisan Mas Sora di sini untuk keterangan lebih lanjut )

  3. Banner separation of church and state
    Separation of church and state!

    Politis? Mungkin ) Banner ini merupakan manifestasi dukungan saya atas sekularisme — terpancing tulisan Mas Dana di sini ;) Dan ya, saya memang antek-antek sekuler™ dan liberal™ dan barat™ itu Saya yakin kalau segala urusan agama dan segala tetek bengeknya adalah urusan yang tidak bisa dicampuraduk dengan masalah politis dan kenegaraan. Dan saya memang tidak menyetujui adanya pemerintah syariat P Tadinya sih saya mau menuliskan argumennya, tapi karena terlalu malas tidak ingin memancing keributan, tidak jadi… Yang pasti sih akan memancing kekacauan dan ketidakadilan sosial. Dan pastinya rawan diambil alih oleh pihak yang memiliki paham terlalu ‘kanan’. Salah-salah nanti jadinya malah sebuah distopia ?

* * *

Baiklah, selamat menjarah — kalau berminat ;) In God We Trust. RosenQueen, company.

47 thoughts on “One Man Revolution (pt. 2)

  1. Wark-wark-wark… Comot nomer 3….. hehehe…. pokoke Sekularisme!!!

    Ama nomer 2 juga ah…hehe….

  2. @ Mihael Ellinsworth
    Apa pula itu?

    @ danalingga
    Kalau berminat, silakan…😛

    @ cK
    Siapa? Saya?😆

    @ p4ndu_Y4m4to
    So what, mate? So be it — no big deal, it is😛

    @ Fajar
    Blink udah mati, tuanku. Terimalah kenyataan… Mereka udah musuhan…😆

    @ Count of Madness
    Ohohoho!😛

  3. Yang dipisah kan cuma gereja dan negara, jadi mesjid masih boleh disatuin dong?😉

    Tegakkan ideologi Pancasila; demokratis dan sekuler!

    Btw, Pancasila yang menjadi dasar konstitusi negara kan mengakui adanya Tuhan yang Maha Esa (bisa dibilang paham monoteistik?). Lha, lalu apakah tidak adanya pemisahan (yang tegas) antara Tuhan dengan negara ini bisa dibilang sekuler juga? Meskipun bisa dimentahkan dengan argumen “Tuhan tidak sama dan sebangun dengan agama”, tapi rasanya orang-orang ateis bakal tetap merasa terdiskriminasi ^^; Negara, kalau mau, juga ‘berhak’ menekan mereka…

  4. Pingback: Manusia “Bayangan” « Pandu Gilas Anarkhi

  5. Frankly Difo, yang ketiga itu gw enggak setuju. Sampai derajat tertentu negara ‘membantu’ mengenforce urusan agama itu bisa diterima. Seperti dalam urusan perdata. Soalnya Hukum Islam itu ada yang berkaitan dengan urusan agama seperti perceraian (amit2), pernikahan, warisan, hibah, wakaf, dsb.

    Kalau ada unsur negara yang ikut mengatur urusan seperti itu dalam arti memasukannya ke dalam UU kan jadinya lebih legal aja daripada negara sendiri dan agama sendiri.

  6. @ Rizma
    Nggak usah juga nggak apa-apa😆

    @ cK

    @ Neo Forty-Nine
    Nggak ada paksaan, tho?😛

    @ Catshade
    Church di sini mewakili semua organisasi agama lah…😉

    Yaa, yang diakui agama ‘kan Tuhan. Kebanyakan atheis ‘kan percaya Tuhan juga, cuma mungkin bukan personal God…:mrgreen:

    Btw diskriminasi atheis dalam konteks one nation under God itu kalau nggak salah kasusnya Bush, Sr., ya?

    @ danalingga
    Bisa diculik kapan saja😀

    @ calupict
    Yang pasti kepentingan agama jangan sampai mengabrogasi hukum (sekuler) yang berlaku… Dengan batas-batas toleransi tentunya.

  7. Nah, batas2 ini yang mesti jelas. Gw so far masih enjoy dengan batasan yang ada di Indonesia walaupun memusingkan kalau sudah menyangkut pidana pelecehan agama.

    Btw, apa ini gara2 skeptisme ke organized religion?

  8. Kalau Indonesia masih mendingan, lah. Yang pasti agama itu sendiri dalam pemerintahan mesti diatur oleh sekularisme. Manifestasinya ya pemerintahan yang sekuler itu.

    Btw, apa ini gara2 skeptisme ke organized religion?

    Kemungkinan besar…

  9. Yaa, tapi sekularismenya itu sendiri jangan sampai bikin para pemeluk agama tidak bisa menjalankan agamanya sendiri. Yang kayak di Perancis itu. Semua hal ada plus minusnya.

  10. Ha! Akhirnya ada yang melihatnya! Silakan melihat-lihat, itulah hasil dari ‘negara di bawah agama’ yang digadang-gadangkan selama ini😛

  11. serreeem!!!! ga maau!!! tapi udah kejadian sih ya😥

    eh iya, laporan,, bannernya udah berhasil diculik dengan selamat! laporan selesai,,:mrgreen:

  12. @ Foltaire

    IMO, bagusan nggak pake scanlines… lebih clean gitu sih kesannya.😛

    (emangnya kenapa harus ditambahin?)😕

  13. Ged, minta banner yang anti Ad-Hominem juga, deh.
    Soalnya banyak yang praktek Ad-Hominem di blog saya, terutama di post “Pertempuran 10 November Surabaya on Game”.😦

Comments are closed.