Surga dan Kepekaan Sosial

surga euy~

“Nah, katakanlah anda sudah mencapai surga,
berikut 70,000 bidadari semok yang legendaris itu. Lalu?”

Saya mempunyai satu pertanyaan besar;

Surga akan dihuni oleh orang-orang yang tidak peka.
Orang-orang tidak peka tidak pantas masuk di surga.
Jadi? Paradoks๐Ÿ˜•

Iya. Ketika anda, yang (insya Allah saya doakan deh) seorang ahli surga, sedang dibuai kenikmatan surgawi — dikelilingi nikmat di sisi Tuhan, akankah anda berpikir tentang nasib orang-orang yang sedang disiksa di neraka?

Kalau anda bisa tetap cuek menikmati surga, berarti anda tidak peka.
Kalau anda tidak peka, kok anda bisa masuk surga?๐Ÿ˜›

Karena beruntung? Atau karena Tuhan sendiri kurang bijak memilih ahli-ahli surga?

Atau anda tetap merasa iba?

Lho, sekarang coba bayangkan anda ke surga cuma sendiri saja. Istri/suami anda ternyata dicemplungkan ke neraka. Orang tua anda juga. Anak anda juga. Teman-teman anda. Apa anda tidak jadi risih dan risau?๐Ÿ˜•

Mending kalau ternyata mereka cuma sementara saja di neraka (temporary dip). Kalau begitu, mungkin setelah beberapa ratus ribu tahun anda bisa lega — dapat menikmati surga bersama keluarga dan kerabat.

Kalau mereka kebagian jatah ‘menikmati’ neraka dalam waktu yang tak terbatas?

Saya memikirkan ini sudah agak lama, tapi tertarik kembali belakangan setelah mendengar quote John Persone, seorang bishop Swedia — yang mempertanyakan hal yang sama;

“If you love your neighbors as yourself, yes, even if you have just a little bit of human love and are not solely a selfish wretch, how could you have a single happy moment in heaven, knowing that contemporaneously with your blessed estate continues the endless torment and agony of innumerable millions of the accursed?

John Persone”

Oke, mari dirangkum.

Intinya, apa anda tidak kepikiran akan nasib orang-orang di neraka? Tidak merasa kasihan?

  • Kalau anda merasa kasihan, berarti anda akan merasa sedih. Berarti surga juga menyimpan kesedihan. Jadi, surga bukan kenikmatan murni.
  • Kalau anda tidak merasa kasihan, anda manusia macam apa, sih? Kok, bisa-bisanya masuk surga?๐Ÿ˜†

Saya sendiri sejak saat itu mulai membayangkan kemungkinan kalau surga itu adalah dosis narkoba yang paling ultimate. Bentuk nge-fly paling sempurna. Seisi penghuni bakal merasa nikmat terus-menerus. Teler. Mabok. Cuma itu jalan yang bisa saya pikirkan untuk menghindari paradoks di atas๐Ÿ˜† Konsep ini pernah saya adukan ke Pak Bebek… Beliau cuma ketawa๐Ÿ˜›

Jadi, ada tanggapan lain?๐Ÿ˜‰

In God We Trust. RosenQueen, company.

130 thoughts on “Surga dan Kepekaan Sosial

  1. *jewer gara gara pake gambar itu*

    ganti gambarnya,, ganti,,!! Shan In udah mimisan tuh,,๐Ÿ˜†

    eh,, eh,, ga bisa minta sama Tuhan buat ngajak orang yang kita sayang ke surga juga ya?? kan surganya luas,,
    (kalo bisa,, bakal kosong juga nerakanya ya,,)

  2. Eh, I think gambaran neraka sebagai kolam sulfur panas dan api yang menyala-nyala (dengan penjaga2 yang membawa garpu gede) itu cuma metafor. From my religious standpoint, orang-orang dengan kehendak bebasnya memilih untuk mengalami neraka (since apparently not everyone enjoy the state of unity with God :P) Kalo menggunakan pandangan itu, gw gak melihat kenapa gw akan kasihan. They love being in hell rather than in heaven๐Ÿ˜€

  3. @cc Ma

    papi mimisan kalau ngebayangin bapau [digaplok papi]

    Kalo kita udah enak ngapain mikirin orang laen? Menuh2in pikiran๐Ÿ˜†

    are…? Bukannya definisi surga sama neraka itu begini

    Surga
    Keadaan dimana orang merasa sangat senang/bahagia/nikmat, dll, dst

    Neraka
    Keadaan dimana orang merasa sangat sedih/kecewa/sengsara

    OOT lagi : papi, liat gambar itu… Aku boleh balik ke H?๐Ÿ˜† ?

  4. hmmm … kayanya sebagian penghuni surga bakal cuex tuh … soalnya kan –yg aku tahu– kebanyakan para pencari surga itu anti-sosial …๐Ÿ™‚

  5. Ngeributin surga lagi …
    *leng geleng geleng geleng geleng geleng geleng
    leng geleng geleng kaya ayam lagi meleng*

  6. Ingat kutipan salah satu penduduk s0 atau Einarc, “If dog is not in heaven, I’ll go to wherever it is.”

    Sorta like that lah.

  7. Emang surga itu dimana ya Ged?

    Di selangkangan? di fikiran? di wordpress? apa dimana ya?

    Surga juga mungkin ga menerima orang orang yang suka mempertanyakan surga. Lho? ah tapi saya udah mesan tempat disurga kok

  8. @ cK
    ‘Kan berusaha menampilkan keindahan surga secara visual๐Ÿ˜†

    @ Lee
    *ngakak a la megalomaniak*

    @ Rizma
    Ngapain diganti? Nggak, ah!๐Ÿ˜ˆ

    Soal ngajak orang ke surga, tanya saja nanti ke Tuhan…๐Ÿ˜‰

    @ Catshade
    Sempurna. Persis. Bravo. Ini juga cara saya menafsirkan kitab suci saya. Semuanya metafor — surga dan neraka. Kalau kata Dr. Shabbir Ahmed, “As you sow, so will you reap.”. Kalau kata Sir Muhammad Iqbal, “People carry their own fire to hell.”๐Ÿ˜€

    Tuhan menurunkannya sebagai metafor, dan agama (sebagai budaya) melanjutkannya secara literal๐Ÿ˜‰

    @ Unknown
    Hoo, bisa jadi anda sangat sangat benar๐Ÿ˜‰

    @ Jurig
    Persis! Makanya mereka berlaku eksklusif selama di dunia, ya?๐Ÿ˜†

    @ danalingga
    Science remains agnostic๐Ÿ˜‰

    @ Fadli
    Ngecek bakal calon rumah kita-kita, mas… *amieeen*๐Ÿ˜€

    @ calupict
    Ya, itu baru namanya kepekaan sosial…

    @ Neo Forty-Nine
    Di mana? Entah, ya, mas…๐Ÿ˜•๐Ÿ˜†

  9. @ Catshade

    Kalo menggunakan pandangan itu, gw gak melihat kenapa gw akan kasihan. They love being in hell rather than in heaven

    jadi orang orang itu bakal menikmati ada di neraka ya??

  10. saya kira bukannya enggak peka.
    makanya, di dunia kan kita berkesempatan untk mengajak orang kepada kebaikan (amar ma’ruf nahyi munkar).
    dan jelas juga ada di Al Quran : jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. itu kan sangat peka. jangan membiarkan orang dalam kesesatan. ajaklah. tapi klo udah di ajak gak mempan, itu bukan hak kita yang menentukan.

    surga dan neraka itulah balasan atas apa yang kita lakukan di dunia, saat kita masih hidup.

  11. @ manusiasuper
    Ya maap, juragan…๐Ÿ˜•:mrgreen:

    @ Rizma
    Iya, mungkin pada masokhis… Bisa jadi, ‘kan?:mrgreen:

    @ mina mina
    Ya sebenarnya kebanyakan orang memang jawabnya begitu, mbak๐Ÿ˜€

    Tapi bagi saya tetap kesannya nanti di dunia berakhlak mulia, di akhirat egois luar biasa๐Ÿ˜‰

  12. Wah, surga…
    *sambil ngebayangin tentang bidadari di dalamnya*
    Jadi inget lagunya Chrisye
    Tapi itu kan merupakan ganjaran atas perbuatan mereka di dunia juga, kan?

  13. BTW, anda-anda semua kok begitu yakinnya kita masih berada di tempat yang namanya dunia. Jangan2 kita semua sekarang sebenarnya sudah ada di neraka๐Ÿ˜€

    *bagi2in pitchfork*

  14. Aha! Mas juga pernah berpikir begitu?๐Ÿ˜ฎ

    Iya, siapa tahu sekarang kita berada di neraka. Kita dulu pernah hidup, berlimang dosa, dan masuk neraka, yaitu dunia kita sekarang ini. Dunia yang tidak sempurna. Bandingkan dengan rekan-rekan kita yang pada masuk surga — yang yang penuh nikmat itu๐Ÿ˜‰

    Atau justru kita sudah ada di surga? Kita sudah pernah hidup, lulus tes, lalu masuk ke surga, yaitu dunia kita sekarang ini. Cukup indah bukan? Bandingkan dengan rekan-rekan kita yang pada masuk neraka — kolam sulfur panas itu๐Ÿ˜‰

    Kalau memang sudah di surga, saya suka ini. Untuk hidup kembali lebih menarik ketimbang bermalas-malasan sepanjang hari sambil duduk-duduk, minum anggur, dan bercumbu sama bidadari. Membosankan. Jenis surga yang saya harapkan, mirip-mirip seperti ini:mrgreen:

    *bagi-bagiin halo*

  15. BTW, anda-anda semua kok begitu yakinnya kita masih berada di tempat yang namanya dunia. Jangan2 kita semua sekarang sebenarnya sudah ada di neraka

    wah kalo kata Syech Siti Jenar sih kita ini sedang berada di alam kubur, alias alam kematian.:mrgreen:

  16. Ini hanya komentar saya apabila surga benar – benar seperti itu.

    Kalau surga, andai kata, benar – benar diisi oleh orang – orang yang ditulis seperti fatwanya ulama – ulama itu, apa adil tuh..?

    Kalau menurut saya sih, surga tidak separah itu. Hanya saja begitu banyak info berseliweran sana – sini, membuat pengertian surga sendiri menjadi bercabang – cabang. Ada yang bilang disana hanya ada bidadari, keluarga yang berdosa entah ditelantarkan kemana. Dan lain – lain.

    Jadi mungkin apabila peryataan surga seperti yang saya katakan itu benar adanya, pengaplikasian surga dan pengertian agama, juga Tuhan, juga tidak akan sebarbar sekarang.

  17. terbesit sesuatu setelah membaca postingan ini–

    mari, saRa kirim kurir untuk menyampaikan surat penuh pertanyaan dan ditujukan ke TUHAN,,

    TUHAN, apa kami bakal jadi tidak manusia lagi?
    Apa bakal berubah dan tidak ingat apa-apa lagi??
    Apakah tidak ingat apa-apa lagi itu salah satu hadiah untuk kami di surga????

    kemudian, tunggu aja kurirnya balik,.

    ~~~~*menunggu*~~~~

    balesan dari kurir (bukan dari TUHAN???):

    Tunggu aja sampe mati,, urusan dunia aja blom beres, belagu mau ngurus gimana ntar masuk surga,, sapa bilang ada nama kamu disitu????

    –begitulah kisah yang terbesit di kepala sara yang pertama dipakai setelah usm berakhir..:mrgreen:

  18. @ Rizma
    Pokoknya hidup. Terserah mau di dunia yang settingnya kayak gimana.

    *menerawang*

    @ danalingga
    Skrinsyut surga dan neraka dong mas, penasaran, nih:mrgreen:

    @ Death Berry, Inc.
    Benar. Deskripsi surga tidak dapat dijangkau manusia — yang ada di skriptur-skriptur itu hanyalah alegori. Sialnya, kaum-kaum kependetaan (dari agama manapun) mulai memelintir pengertian surga dan jadilah surga yang ‘duniawi’:mrgreen:

    @ saRe’
    Kalau kata Confucius sih…

    “How should I know anything about another world when I know so little of this?”

    Confucius

    Sepakat, deh๐Ÿ˜‰

  19. wew..pokoknya semua itu belum terjadi…
    tapi, saya sangat mempercayai agama saya.

    btweeeei…gambarnya kopral…. T___T
    kenapa harus anime kayk gitu… T_T
    *merinding

  20. Tentunya. Masih banyak misteri tentang Tuhan yang kita belum ketahui –makanya saya *kurang* sepaham dengan orang-orang yang sok kenal sok dekat dengan Tuhan๐Ÿ˜‰

    Eh? Gambar? Itu visualisasi bidadari surga, mbak:mrgreen:

  21. wew..pilsapat banget ya…๐Ÿ˜€
    sufistik? hm….ini bocah 17 tahun yang ‘revolusioner’

    bidadari? *mengelus dada
    ni bocah…. -_-

  22. sepakat dengan yang mana nih?? confusiusnya??? btw, confusius itu sapa?? hehe๐Ÿ˜› pernah denger,, tapi blom kenalan dengan pemikiran2nya,,๐Ÿ˜€

    *lirik 2 komen diatas sara*
    walah,, visualisasi bidadari yang menarik, terutama dipadu dengan isi postingannya,,๐Ÿ˜†
    membuka celah kepada mahkluk-mahkluk yang ingin mencela tanpa berpikir panjang,,
    padahal, kan kalo geddoe nulis, harus ada bumbu ‘cinta’๐Ÿ˜†

  23. @ mina mina
    Ya, bidadari๐Ÿ˜ˆ

    @ saRe’
    Confucius itu Socrates-nya dunia timur๐Ÿ˜›

    Ah, saya nggak akan melepas visualisasi di atas!๐Ÿ˜†

  24. benernya saya semi-bingung -_-

    katanya, kalo di surga itu ada 70k bidadari cantik yang menunggu kan?

    kalo buat perempuan, untunnya dimana? =_+

    emang lebih baik surga itu kayak gini, santai2… baca blog orang… SMSan…

    aduh, bener2 bahagia

    gak cuman main2 sama bidadari semok๐Ÿ˜› surga ko’ ga ada variasinya

    [neraka? yah… di saat gak ada uang, wah, neraka…]

  25. @ Dreamer
    Kalau saya boleh bikin surga sendiri, sih, surga itu paling bagusnya adalah hidup sekali lagi (di tempat yang lain tentunya๐Ÿ˜‰ ).

    Setuju, main-main sama bidadari, minum-minum anggur, duduk-duduk sepanjang hari… Mungkin setelah 70,000 tahun saya bakal merasa bosan๐Ÿ˜†

    @ danalingga
    Ditunggu, lho๐Ÿ˜†

  26. kalo kita di surga/neraka apakah bisa merasakan??kan hanya nyawa kita aja yg ke sana…sedangkan alat untuk merasa, mendengar, melihat dst ditinggal di dunia….

  27. Itu dia misteri Illahi-nya, mas๐Ÿ˜†

    Btw, nyawa itu beneran ada, ya? Kalau kata Voltaire sih, bakalan makan waktu lama buat sains supaya bisa memahami ‘nyawa’:mrgreen:

  28. @kump45

    Jika begitu apa gunanya bidadari nan semok itu?
    Terus di neraka juga nggak merasa dunk, atau di neraka ikut dengan tubuhnya?

  29. lho nyawa kan beneran ada….misalnya mobil sama sopirnya…kalo mobil ga ada sopirnya ga bisa jalan kan??hehe sama deh sama diri kita kalo ga ada nyawa….hehe^^

  30. @ danalingga
    Ya buat dimainin. Konon surga dan Tuhan yang membikinnya memang mempropagandakan group sex dan promicscuity :mrgreen:

    Sayangnya saya nggak percaya๐Ÿ™„
    Bidadari…? Gundik-gundik…? Duh, ampun, deh, medieval sekali itu pemikirannya๐Ÿ˜†

    @ kump45
    Wah, tapi menurut beberapa orang, sih, ‘nyawa’ itu cuma koordinasi otak dengan bagian-bagian tubuh manusia…๐Ÿ™„:mrgreen:

    Eh, tapi saya percaya sih sama nyawa. Entah kenapa๐Ÿ˜›

  31. nah itulah kecerdasan otak manusia sehingga sampeยฒ ga percaya adanya Tuhan….soalnya manusia tergolong makhluk mulia kan??

    gw pernah denger cerita tentang seorang profesor russia yg ga percaya adanya nyawa…trs di buktikan dg cara…orang sekarat dimasukkan dalam tabung yg tebalnya 10cm trus diberi saluran yg kaya selang berukuran besar di atasnya….ttp ketika orang yg sekarat itu meninggal, seketika juga tabung besar tersebut meledak….

    trs ada jg ada orang lagi berdoa trs diliat pake termograph ada gelombangยฒ yg muncul dari otak manusia secara bersambung…hehehe…gmn?
    ini sdh pernah diberitakan lho….

  32. Hehehe, nggak tahu juga, sih. Tapi saya sama atheis juga mah nggak ada masalah. Mau percaya apa juga silakan, nggak penting buat saya๐Ÿ˜‰

    He, ada percobaan-percobaan begituan, ya? Yakin bukan hoax? Soalnya kalau segitu meyakinkannya, mestinya sains udah geger sejak dulu๐Ÿ˜•๐Ÿ˜›

  33. pertanyaan saya yang ini gimana? Pertanyaan ini berangkat dari mas kump45 yang menyatakan kalo yang ke surga itu hanya nyawa kita, dan tentu saja ke neraka bukan? Nah di sebutkan juga alat perasa kita tidak ikut ke sana. Jadi :

    Jika begitu apa gunanya bidadari nan semok itu?
    Terus di neraka juga nggak merasa dunk, atau di neraka ikut dengan tubuhnya?

    Sebab toh tidak bisa dirasakan kan?๐Ÿ˜‰

  34. mgkn cerita itu dirahasiakan ato masih kalah dg pendapat lain kita jg tidak tahu….masalahnya profesor itu percaya ato ngga kita jg ga tau, misalnya ga percaya kan ceritanya ga berlanjut…nah kalo hoax ga tau lagi deh…hehehe..piss

    tentang atheis saya jg tidak bermasalah…soalnya itu tergantung pribadi masingยฒ dan sudah menyangkut privasi….hehehe…

  35. @ Geddoe

    dan kata kata Confucius itu berhasil bikin Ma speechless dan ngangguk sambil bilang,, “he eh ya,, he eh,,”
    Terbukti kalo Ma suka ga inget kalo wajar kita itu ga tau,, dan ga semua jawaban itu udah bisa kita dapet,,๐Ÿ˜›

    @ Sara sama Geddoe

    Visualisasi, eh,,
    *jewer Sara sama Geddoe*๐Ÿ˜†

  36. @ kump45
    Setuju. Makanya dakwah jangan maksa๐Ÿ˜‰

    @ Rizma
    Itu jadi prinsip dasar dulu, deh๐Ÿ˜†

    Btw, memangnya visualisasinya kenapa, sih? Kok, kontroversial begitu๐Ÿ˜•๐Ÿ˜†

  37. Moga moga Ma ga lupa lagi deh,,๐Ÿ™‚

    btw, masalah visualisasi itu,, ga kok,, cuma takut Shan In keabisan darah gara gara mimisan,,๐Ÿ˜†

  38. @ kump45
    Kalau sudah mahir, bikin tutorialnya di blog, ya๐Ÿ˜›

    @ Rizma
    Hohoho, kok, bisa mimisan? Kalau sudah ‘ahli’ biasanya nggak mimisan lagi๐Ÿ˜†

  39. kadang aku juga bingung, menurut orang2 yang mengaku ahli surga itu yang penting adalah ibadah yg bersifat habluminallah, klo diajak barengan bialngnya aku sih yang penting mulai dr diri sendiri ya sudah silahkan masuk surga sendiri… oh iya khan udah ada 70 ribu bidadari..
    ttg narkoba… ehmm kebanyakan dosis mati dong… klo ga dpt sakaw… apa iya surga kek gitu?

  40. Surga itu ada di selangkangan dan bisa dibeli…
    Coba tanya sama kupu-kupu malam di pinggir jalan, bisakah kamu membawaku ke surga mereka akan bertanya berapa duit kamu berani bayar?

  41. Surga akan dihuni oleh orang-orang yang tidak peka.
    Orang-orang tidak peka tidak pantas masuk di surga.
    Jadi? Paradoks๐Ÿ˜• (apa iya?)

    Neraka pasti dipenuhi oleh orang-orang yang berdosa.
    orang-orang dineraka pasti ingin sekali di pindahkan di
    surga. Pehuni neraka pasti sangat menyesal mengapa
    mereka bisa sampai tinggal di neraka. Dan mereka pasti
    menginginkan agar waktu dapat berputar kembali, hing-
    ga mereka dapat melakukan perbuatan baik di dunia.
    jadi? ini bukan paradoks..
    **
    Kalau Tuhan mau apa susahnya bagi Tuhan membuat seluruh manusia berbuat yang baik-baik aja. Apa susahnya pula bagi Tuhan untuk memasukan Smua manusia ke Surga (Tempat dimana manusia bisa bercinta sepuas-puasnya). Ga usahkan bagi Tuhan?! (Tuhan susah ga?).
    **
    Manusia pan sudah dikasih tahu. kalau berbuat dosa balesannya neraka. nah kalau berbuat baik ya Surga. jadi jangan nyalahin Tuhan dan para penghuni Surga, Kalau akhirnya masuk neraka. dah dibilangin bandel seih.
    Jadi? intinya adalah menyelamatkan ortu kita, adek-kakak, temen, pacar dari api neraka tuh bukan pas kita dah d surga. Tapi pas kita msh idup di dunia ini.

    NB: pada calon penghuni neraka, jangan bilang gw ga mencegah lo supaya kagak masuk neraka. ini mumpung gw msh idup nih gw ingetin. btw, dah dulu ya asem nih mulut ngoceh mulu.

  42. salam kenal ya.
    bocah ini baru saja membesuk blog mo yang interaktip. pas lagi lewat tertarik sama tulisan mu ini (ehem sebenarnya sama gambarnya ding..).
    tulisan mu penuh refleksi diri. pasti butuh waktu untuk berkontemplasi dulu ya sebelum berani bikin tulisan ini.
    aku sih ga berani komentar apa-apa pada tulisan mu itu *sambil geleng-geleng*.

  43. btw, pas baca latarbelakang dan latar depan blog ini aku jadi punya pertanyaan. kata-kata “IN GOD WE TRUST” keren. Pas dibalik layar kamu menyembah Tuhan yang mana nih. Tuhan yang mana nih? Allah (ini kalau dihubungkan dengan agama kamu), Jesus, Budha, Dewa-dewa, Faktor X (sebagaimana yang disebut Einsten untuk mendeskrispsikan Tuhan), atau jangan-jangan kamu hanya percaya bahwa hanya ada satu kekuatan besar yang meliputi semesta ini. titik!.
    Tentukan Tuhan. Menentukan Tuhan mu berarti kamu menentukan hukum/norma mana yang mengatur hidup mu. (atau mungkin juga tidak adak hukum yang mengatur hidup mu, ini dalam kasus kamu menegasikan Tuhan [baca:Atheis]). Kalau Tuhan Mu Jesus maka Hukum-Hukum Bible yang mengatur diri mu. Tapi Kalau Kamu merasa Bahwa Bible itu banyak bertentangan maka kamu dapat mengaku saja bahwa Tuhan mu adalah Allah. dan Itu berarti kau mengakui Hukum-hukum Qur’an mengatur hidup mu. ini berarti Kau akan dilarang makan babi, Berzina (dengan babi apalagi hehehe), kau juga dilarang berbuat cabul termasuk mendisplay kartun Jepang setengah Bugil (abis aku baru liat dodo doang). Kalau tidak merasa perlu terikat dengan Hukum/norma yang akan mengatur hidup mu maka kau menyangkal Tuhan. Dengan demikian kata-kata “In God We Trust” itu hanya slogan belaka (dengan kata lain bergabunglah bersama-sama orang-orang yang munafik).
    Tapi aku percaya Kata-kata itu bagi kamu adalah Hakikat. Sebab kamu dan aku percaya pada Tuhan. (walau mungkin berbeda). jadi? Siapa Tuhan Mu?

  44. @ ini abdi om
    Saya sarankan coba membaca masalah-masalah filosofis seperti paradoks neraka atau paradoks kejahatan๐Ÿ˜‰

    Atau mungkin jangan — kalau anda termasuk fobia berpikir๐Ÿ˜›

    @ Ruben ekor 9
    Hoo, header dan gambar-gambarnya menjual, ya?๐Ÿ˜†

    Bagi saya satu kesalahan paling fatal dalam merelasikan Tuhan dan agama adalah menganggap bahwa Tuhan-tuhan monotheistik adalah berbeda. Tuhan itu ya satu. Memilih antara ajaran Alkitab, Al-Qur’an, atau yang lainnya bukanlah memilih Tuhan. Melainkan memilih nabi๐Ÿ˜‰

    Nabi ataupun founder dari satu agama adalah (dan hanyalah) seorang juru interpretasi — menyembah Tuhan yang sama dengan cara yang berbeda. Pertanyaannya kemudian menyempit menjadi; “Tuhan itu sudi menerima disembah dengan cara yang mana?”๐Ÿ™‚

    Kita misalkan dengan agama-agama samawi. Semuanya menyembah Allah. Tuhan. God. YHWH. Tetragrammaton. Ar-Rahman. Apalah namanya. Sekarang tinggal memilih nabi. Kalau tidak memilih Jesus sebagai nabi, berarti otomatis menjadi seorang penganut Judaisme. Kalau memilih Jesus sebagai nabi, kita lihat dulu, mengakui Muhammad sebagai nabi apa tidak? Kalau iya, menjadi Muslim. Kalau tidak, menjadi Kristiani. Nah, kalau sudah menerima semuanya pun, mengakui teori Bahaullah apa tidak? Kalau ya, menjadi penganut Bahaisme. Kalau tidak, Muslim.

    Singkatnya, agama itu memilih nabi. Tuhan tetap sama๐Ÿ˜›

    Masalahnya interpretasi intra-agama sendiri tidak kalah rumit. Islam ada 190 golongan lebih. Kristiani bahkan lebih banyak. Setelah memilih nabi, anda mesti dituntut lagui memilih imam. Imam yang mana? Ustadz, pendeta, mullah, kyai, syaikh, klerik, pastor, dan teolog mana yang mau anda ikuti?๐Ÿ˜‰

    Saya tentunya tidak akan ikut campur, itu urusan pribadi anda.

    Btw di saat saya kebingungan mencari kebenaran, saya menerima ‘wahyu’ yang singkat, padat, dan menohok; “Memangnya perlu benar?”๐Ÿ˜† Namun tentunya itu hanya pendirian pribadi. Anda boleh ikut, bantah, cibir dalam hati, asal jangan dilarang.

    Salam kenal. Situ bikin blog, dong๐Ÿ˜‰

  45. Hai…. hai
    Ruben lagi nih. ^_^
    sory ya kaka. komen ku panjang-panjang. abis lom punya blog sendiri >_<. Gini nih. aku mo kasih kamu tips. Tips mencari Tuhan. Tips nya sederhana. Hanya butuh dua sikap dasar kita sebagai manusia. Sikap Jujur (untuk menerima apa yang kita temui selama proses pencarian) dan sikap berani (Berani setia kepada Tuhan setelah kita menemukanya). Contoh: Kalau di ujung pencarian ternyata nih, [ini kalau ternyata aja] yang kita temui itu adalah Allah, maka kita harus setia pada Hukum-hukum Allah termasuk setia mengamalkan Quran [jadi bukan mengamalkan pancasila whwakakaka..].
    Pencarian kita atas Tuhan adalah satu fase dimana kita menyangkal ketidakberadaan Tuhan (gampang dengannya kita telah paham kalau Atheis itu tidak mungkin). Kalau ada benih-benih keatheisan dalam diri, segera yakin diri bahwa Atheis adalah impossible atau bila tidak henti segera pencarian Tuhan, sebab pencarian akan sia-sia.
    Setelah sadar kalau tidak ada Atheis maka segara enyahkan semua konsep ketuhanan yang ada. Biarkan pikiran kita menjadi abstak sambil mencari-cari [dan bukan ditebak-tebak] siapa Tuhan itu? fase ini lupakan sementara kalau Tuhan adalah Jesus, Allah, Budha, dewa-dewa dilangit. setelah itu proses pencarian segera dapat dilakukan.
    Carannya: inventarisasi Tuhan-Tuhan yang ada dan konsep Ketuhanan yang ada (ini bisa juga nyari dibuku-buku atau internet). kemudian dari smua yang ada itu carilah Tuhanmu. Ada dua jalan (setidaknya) untuk menemukan Tuhan. Pertamax, cocok Tuhan-Tuhan dalam daftar dengan kategori Ketuhanan. misal Tuhan ga mungkin punya Anak. dalam daftar kita bisa lihat kalau Allah dan Budha memenuhi kategori ini. Cara pertama ini sebenarnya agak sulit. sebab kamu harus membuat kategori-kategori yang pas untuk menggambarkan sosok Tuhan. ini butuh Riset dan Perenungan puluhan Tahun. Namun demikian jangan berputus asa. masih ada jalan lain dalam mencari Tuhan yang dengan menge-eleminasi Tuhan-Tuhan yang ada dalam daftar. cara ini lebih mudah karena dengan akal sehat saja kamu dapat menemukan jawaban. Coba selidik Tuhan itu satu persatu. misalnya: Ada Tuhan Bapak, Tuhan anak dan Roh Kudus. lalu akal sehat kalian (kalau msh sehat) berkata wah Bagaimana Tuhan bisa berjumlah banyak, wah itu berarti Tuhan punya kepribadian yang banyak pula. Dengan melihat fakta semacam itu kamu dapat mencoret Tuhan ini dari daftar mu. Perlu diingat bahwa metode kedua ini sangat memerlukan akal sehat. kalau akal kalian ga sehat sebaiknya hati.
    setelah didapatkan Tuhan. maka Tuhan-Tuhan lain yang ada dalam daftar mu itu bukanlah Tuhan. Setelah itu kamu harus setia padanya.

    “ini seperti para Bangsawan Quraisy (dimana mereka faham sekali soal bahasa al Quran): Mereka berusaha membubuh Muhammad bukan karena mereka benci pada pemuda itu. Melainkan Mereka itu takut pada apa yang dibawa Muhammad. Apa yang dibawa Muhammad adalah Kebenaran, dimana kebenaran itu akan membawa pada konsekuensi”

    “Hanya ada dua kondisi dimana seseorang mengkritisi agamanya. yakni: saat orang itu memang kurang akan ilmu agamanya atau karena sebab yang kedua, karena ia takut berkonsekuensi pada ajaran agamanya (semisal dia takut untuk tidak berzina dengan kekasihnya atau sekedar karena ia takut dikatakan tidak demorat)”

  46. @ Ruben ekor 9

    Wah, kelihatannya anda juga memandang surga sebagai lotere, ya?๐Ÿ˜‰

    Gini nih. aku mo kasih kamu tips. Tips mencari Tuhan.

    Terima kasih, tapi saya tidak butuh mencari Tuhan. Tuhan ada di mana-mana, dan cuma satu. Tidak perlu dipilih-pilih, tidak perlu dicari-cari๐Ÿ˜› Saya tidak merasa perlu menyembah Tuhan kalau ternyata Beliau sendiri doyan ngumpet dan perlu dicari-cari dulu๐Ÿ˜†

    Ini menurut saya, lho:mrgreen:

    โ€œHanya ada dua kondisi dimana seseorang mengkritisi agamanya. yakni: saat orang itu memang kurang akan ilmu agamanya atau karena sebab yang kedua, karena ia takut berkonsekuensi pada ajaran agamanya (semisal dia takut untuk tidak berzina dengan kekasihnya atau sekedar karena ia takut dikatakan tidak demorat)โ€

    Di antara dua pilihan di atas, kok tidak ada yang menyatakan kalau agama yang dianutnya ternyata salah? Kalau begitu semua agama benar, dong? Atau premis ini hanya terkungkung pada agama-agama tertentu?๐Ÿ˜‰

    Saya sendiri, mendapat impresi kalau anda melewatkan satu proses dalam mencari kebenaran. Mungkin metode anda adalah;
    1. Mengkonfirmasi adanya Tuhan.
    2. Mencari agama.

    Metode yang saya anjurkan adalah;
    1. Mengkonfirmasi adanya Tuhan.
    2. Mengkonfirmasi prinsip-prinsip agama secara general.
    3. Mencari agama.

    Silakan direnungkan sendiri๐Ÿ˜‰

    *minum*

    @ danalingga
    Jangan berdiri, silakan duduk di sofa๐Ÿ˜›

  47. IBA itu pasti. Namanya manusia. Kalo kamu percaya Tuhan, kamu harusnya juga percaya bahwa nabi2 agama kamu (yang masuk surga, absolutely) selalu menangis mengingat betapa banyak orang di neraka.

    Kamu atau saya kan gatau keadaan disitu gimana. saya pernah denger suatu cerita sih, jadi si penghuni surga itu meminta kepada Tuhan, supaya manusia-minimal kerabat mereka-yang di neraka- bisa ikut ke surga jg. Tapi, ya manusia sudah ditimbang(dihisab), keputusan sudah diambil, gak bisa diganggu gugat. Tuhan bilang “Saya sudah adil”.

  48. wah kaka Kopral mang cerdas.๐Ÿ™‚
    Premis itu memang salah (karena sengaja dibikin salah). Kesengajaan itu memang membuat sebuah ruang refleksi bahwa agama memang mungkin salah. Atau jangan memang ga ada yg benar?? (ini nanya loch bukan nuduh)

    ” Metode yang saya anjurkan adalah;
    1. Mengkonfirmasi adanya Tuhan.
    2. Mengkonfirmasi prinsip-prinsip agama secara general.
    3. Mencari agama.”

    btw, kenapa menganjurkan mencari agama? Apakah ada kesanggupan bagi ku dan kamu menemukan agama yang benar?

    sory ya klo bikin hari mu buruk hari ini. maafkan adek mu ini kaka.

  49. @ altodes
    Hehehe, kalau saya nggak percaya bagaimana? Kafir kah?๐Ÿ˜‰

    @ Rubah ekor 9
    Agama nggak ada yang benar? Saya nggak tahu, yang mana yang benar, yang mana yang salah, yang mana yang aseli, yang mana yang palesu. Saya juga nggak terlalu minat nyari — buang-buang waktu. Pastinya susah, soalnya sudah ribuan tahun diperdebatkan, belum ketemu titik temunya๐Ÿ˜› Jangan percaya sama evangelis agama manapun yang mempermudah semuanya dan menjual-jual ‘satu buku yang bisa meruntuhkan agama A’ atau ‘tulisan yang membuktikan kebenaran agama B’๐Ÿ˜†

    Saya mah beragama warisan orang tua saya saja. Yang *kebetulan* memang paling logis. Sayangnya wujud logisnya ini tidak diterima banyak kalangan:mrgreen:

    Merusak mood? Nggak juga. Perbincangan ini malah jadi hal yang paling menarik hari ini *ngelirik tetek-bengek kuliah yang bikin depresi*

    Btw ada komennya yang kesubmit prematur, ya? Didelet yah๐Ÿ˜›

    @ danalingga
    Apa sih yang agama ngga bisa salah?๐Ÿ˜‰

  50. Hmm…
    Kopral Geddoe:

    Untuk hidup kembali lebih menarik ketimbang bermalas-malasan sepanjang hari sambil duduk-duduk, minum anggur, dan bercumbu sama bidadari. Membosankan.

    Ah, ini yang sempat jadi pikiran saya beberapa waktu lalu. Karena cerita surga yang seperti ini, yang mengatakan yang ada hanya bersantai dan ‘menikmati hidup’, sampai-sampai saya sempat menyimpulkan bahwa hidup itu pointless.

    Saya pikir nantinya surga hanya akan membosankan, yang terjadi hanyalah ‘kedamaian’ tanpa akhir, tanpa konflik, dan yang ada hanya bersantai. Lebih gila lagi, saya setelah membaca ini jadi terpikir bahwa jangan-jangan nanti di surga orang akan mengalami semacam yang namanya cuci otak, jadi hanya melakukan hal-hal yang seakan-akan sudah terjadwal. Yang mungkin karena itu penghuni surga jadi orang ‘yang tidak peka’.

    …atau mungkin ini karena pengetahuan agama saya yang masih kurang.๐Ÿ˜

    Btw maaf kalau ngga boleh ngelink ke blog sendiri.๐Ÿ˜›

  51. Difo, Ma baru abis ngobrol sama temen Ma,, jadi ini yang Ma tulisin pendapat dia,,

    kita ga bisa bilang orang itu ga peka pada saat dia sendiri ga dalam waktu untuk bisa peka,, maksudnya itu,, kalo kita lagi seneng (bener bener dalam state seneng), apa kita mikir masalah orang lain gimana? kita mulai peduli saat masa seneng kita selesai, dan masalahnya, di surga itu (mungkin) kita dalam state seneng yang lama,, jadi (kalo di penjelasan temen Ma, itu kaya periode refrakter, saat di mana sel saraf kita ga bisa nerima impuls) kita ga sempet buat mikir itu,, tapi kalo itu artinya ga peka, jadi,, iya,, ga peka,,

    terus masalah di surga itu kita bakal bosen, menurut dia di sana itu level kebahagiaannya itu ga bisa diukur lagi, ada ayat yang bilang kalo kebahagiaan itu kebahagiaan yang bahkan belum pernah dirasa oleh hati (Ma ga nanya ayatnya tapi) jadi, dalam bahasa dia,,

    “Nanti itu kayanya ada yang namanya manusia jenis baru”
    “yang bahagia terus dan ga bosen bosen?”
    “Iya,,”

    gitu Difo,,๐Ÿ˜€

  52. Ada banyak konsep tentang Tuhan.

    btw, Buddha itu kayaknya nggak pernah memproklamasikan diri sebagai Tuhan. Bahkan agama Buddha itu kayaknya agnostik (atau malah atheis ya?) karena tidak menunjuk satu tuhanpun untuk disembah, dan mendorong manusia untuk mencari boddhi, dan menjadi Buddha.

    Bener g sih? Kalau aku mbaca buku tentang Buddha atau Siddartha Gautama gitu sih kesimpulanku.

    Nah lanjut masalah konsep tentang Tuhan dan agama.
    Agama itu untuk apa? Kalau menurutku agama adalah organisasi tempat orang bertumbuh dan saling menajamkan pengenalan mereka tentang Tuhan dan iman mereka. Ada ritual penyucian diri, berbuat baik, dan bersekutu dengan umat seiman, itu bertujuan untuk menguatkan iman.

    Haruskah kita masuk surga? Ya, coz the other option doesn’t seem so nice.

    Trus haruskah kita iba pada mereka yang masuk neraka? Kayaknya telat deh…. Harusnya kita iba pada calon penghuni neraka, dan menunjukkan jalan yang benar.

    Agama mana yang benar? Ada banyak agama di dunia, masih belum termasuk so called new age, yang beberapa alirannya mengajarkan bahwa kitalah tuhan itu. Yang benar? Ya yang kamu anut, atau yang aku anut, atau yang dia anut. Itu masih open problem. Mungkin setiap agama membawa pecahan kebenaran yang pada akhirnya kita bisa melihat kebenaran yang utuh dari sana.

    Jadi ada berapa Tuhan? Mana ku tahu…

    Kenapa milih agama yang sekarang? Nasib, keluarga, pengalaman pribadi, pencarian pribadi, dan yang terakhir aku masih suka daging babi.

    @geddoe
    Wahyu yang menohok itu pertanyaan terbuka atau pernyataan retoris?

    *makan popcorn di kursi VIP*

  53. @ Xaliber von Reginhild
    He-eh. Surga itu membosankan… Mungkin pada beberapa ribu tahun pertama kita akan merasa puas. Namun melewatkan waktu yang tak terbatas? Hmm…๐Ÿ™‚

    Ah, nggak apa, silakan beriklan sesukanya, asal relevan๐Ÿ˜›

    @ Rizma | danalingga
    Ya, mungkin saja. Penjelasan seperti itu lumayan masuk akal…
    Mungkin saya akan berpendapat mirip seperti itu untuk saat ini, sampai memperoleh jawaban yang lebih memuaskan๐Ÿ˜‰

    @ dnial
    Wah, ya, dari tadi kayaknya ada yang luput saya utarakan, rupanya ini. Yup. Buddhisme setahu saya memang berbau agnostik. Mereka fokus ke perkembangan dan perbaikan diri, ketimbang ‘servis’ kepada Tuhan๐Ÿ˜€

    Haruskah kita masuk surga? Ya, coz the other option doesnโ€™t seem so nice.

    Tepat. Saya pernah menulis di sini kalau surga hanyalah pelarian dari neraka๐Ÿ˜›

    Kenapa milih agama yang sekarang? Nasib, keluarga, pengalaman pribadi, pencarian pribadi, dan yang terakhir aku masih suka daging babi.

    Agama secara ilmiah memang bersifat random dan sangat bias. Saya pernah baca artikel yang lumayan mencerahkan di sini tentang hal tersebut.

    Wahyu yang menohok itu pertanyaan terbuka atau pernyataan retoris?

    Kabur. Kayaknya retoris, deh๐Ÿ˜‰

    Makasih masukannya, mas/mbak๐Ÿ™‚

  54. salam kenal
    bagus ya tulisannya buat jadi pikiran
    tapi saya tidak sependapat dengan pernyataan “Tuhan itu ya satu. Memilih antara ajaran Alkitab, Al-Qurโ€™an, atau yang lainnya bukanlah memilih Tuhan. Melainkan memilih nabi”
    Kenabian itu ditetapkan oleh Tuhan, tentu saja Tuhan yang satu, Melalui Kenabian itulah Tuhan menyampaikan apa yang disebut Prinsip Ketuhanan dan aturan hidup yang implementasinya menjadi apa yang disebut agama. Tuhan yang satu akan mengajarkan manusia tentang “Ketuhanan” melalui para Nabi UtusanNya. Jadi semua yang benar Nabi akan mengajarkan tentang “Ketuhanan ” yang sama

  55. @ walau badai menghadang
    He?๐Ÿ˜›

    @ J Algar
    Ah, yang saya maksudkan adalah nabi menurut catatan sejarah dan budaya yang ada. Jesus, misalnya, bisa menjadi seorang Yeshua yang merupakan nabi palsu (Judaisme), Kristus yang merupakan son of God (Kristianitas), atau Isa yang merupakan seorang rasul (Islam)๐Ÿ˜›

    Maaf kalau ambigu, ya๐Ÿ˜€ Terima kasih sudah diingatkan๐Ÿ™‚

  56. @ danalingga
    Kayaknya menarik๐Ÿ˜›

    Jadi 70,000 bidadari itu sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan, ‘kan?

    @ Rizma
    Bagus, sih. Hemat api, nggak perlu dibakar udah neraka๐Ÿ˜›
    Dan neraka memang sebenarnya nggak perlu bakar-bakaran, tho?

  57. Kan surga itu tempat fave bagi tiap orangnya,, kalo orangnya mau punya 70,000 bidadari sampe2 jadi harapan dari sekarang, bisa juga tho,,?๐Ÿ˜†

    walah,, hemat energi hemat biaya,,๐Ÿ™‚

  58. Pingback: Iblis Yang Cantik nan aduhai « Sebuah Perjalanan

  59. Benarkah? Atau malah jangan2 di surga Tuhan menghapus kesedihan? Seolah kotak pandora tidak dibuka?

    *Duh, Nas! Pikiran buruk trus campur aduk… Istighfar…

  60. Rasanya kalau menjadi emotionless tanpa kesedihan dan lantas mengabaikan nasib orang-orang terdekatnya di neraka, tidaklah berhati mulia… Menurut saya…๐Ÿ˜•

    Ah, masalah afterlife kita serahkan saja pada Tuhan๐Ÿ˜›

  61. gimana perasaanmu kalau di dunia kamu orang yang beriman. Tapi, selalu diinjak2 dan dihina, disiksa, dicaci, dimaki oleh si X. (sadis amat)^^

    Lalu pada akhirnya, kamu masuk surga dan si X masuk neraka. Bagaimana perasaanmu terhadap si X..?? (pertanyaan bodoh^^)

    Hmm..pasti kamu menjawabnya dengan cerdas deh…^^

  62. Yaa, mungkin pada beberapa ratus tahun pertama saya senang, si bangsat pukimak itu digoreng selama-lamanya di neraka. Tapi setelah beberapa abad kayaknya bakal muncul rasa iba…

    Tunggu. Kalau pada awalnya kita merasa senang, berarti kita bengis dan pendendam — apa bisa masuk surga?๐Ÿ˜›

  63. yaa..kalau gitu anda tak bisa masuk surga…^^’

    bagaimana kalau gini :

    seseorang yang masuk surga itu merasa iba, kepekaan sosialnya membumbung tinggi, tapi mereka bisa apa..? semua sudah jatuh diatas ketentuan. ketentuan mutlak sang maha penguasa. Munculah rasa iba itu, rasa sedih itu, rasa kasihan itu. walaupun tak akan berguna.

    Darah dibalas dengan Darah….(halah..yang ini di lempar ke sampah aza..^^)

    walah…ada apa ini..?? akuw ngomong kayak gini..??^^

  64. Pingback: iblis yang cantik « alfaroby

  65. hmm..bagaimana kalau mereka baru akan mau masuk surga saja…belum masuk surga…?? (halah..maksa)

    Menurutkuw ada proses disana, yang pikiran manusia yang seperti pasir di pantai ini tidak akan bisa mencapainya… (benarkah itu..??^^)

  66. eh…maksudkuw sebutir pasir di pantai dink…^^ kalau pasir di pantai kegedean yah…^^

Comments are closed.