Saran-saran yang Menyebalkan

gunyu~ gunyu~
“Bukan begitu, anda tidak mengerti persoalannya…”

Ini masalah diskusi, baik di dunia nyata maupun maya. Ada kalanya, ketika seseorang meminta masukan tentang dilema yang dihadapi, seseorang akan menawarkan apa yang saya sebut sebagai saran yang menyebalkan.

Kenapa ‘menyebalkan’? Karena tidak menyelesaikan masalah. Nyampah.

Ah, begini. Sebenarnya sudah sejak bertahun-tahun lalu saya tidak menyukai saran yang jenis ini, namun tidak pernah saya jadikan tulisan. Tetapi belakangan, sewaktu berwisata ke pondok mas Joe, saya menemukan beberapa butir saran-saran yang menyebalkan itu. Jadi? Ya saya tulis. Mumpung otak lagi nyambung.

Seperti apakan saran yang menyebalkan itu? Apa ciri-cirinya?

Saran yang menyebalkan bagi saya adalah saran yang menutup mata akan ‘ganjalan’ yang ada — yang sok mempermudah persoalan.

Contohnya begini;

X : Mana yang lebih baik, belajar sendiri tapi nilainya D atau nyontek tapi dapat nilai A?
Y: Lebih baik yang belajar sendiri tapi nilainya A!

Itu kalau buat saya jangkrik, namanya. Semprul.

Yang begini ini juga sering saya temui dalam berbagai perbincangan; mulai dari masalah jilbab, syariat, sampai sekolah, kuliah, atau segala aspek kehidupan lainnya.

Bagusan mana, jilbaban tapi bangsat atau nggak berjilbab tapi berhati mulia?
Bagusan jilbaban tapi berhati mulia!

Bagusan mana, istri cantik tapi mata duitan atau istri jelek tapi irit?
bagusan istri cantik tapi irit!

Bagusan mana, syariat Islam resmi tapi moralnya korup atau hukum sekuler tapi moralnya Islami?
Bagusan syariat Islam resmi tapi moralnya Islami!

Bagusan mana, lagu yang iramanya bagus tapi liriknya jelek atau yang iramanya sedang tapi liriknya keren?
Bagusan yang iramanya bagus tapi liriknya keren!

Halah… ~(-_-~)(~-_-)~

Kalau pada dilema itu ‘kan, masing-masing pilihan ada kelebihan dan kekurangannya. Makanya milihnya susah. Ada suatu ganjalan yang membuat pilihan sempurna tidak mungkin diwujudkan — mestinya yang memberi feedback itu mengerti. Saya ulangi, dilema itu terjadi karena pilihan sempurna tidak mungkin diwujudkan, oleh karena itu, yang seharusnya dilakukan adalah mengamati pilihan-pilihan yang ada dan melihat mana yang lebih baik. Ini dunia, bung. Bukan utopia.

Sekarang bayangkan terdapat sebuah pertanyaan di ujian nasional anda, manakah yang lebih besar, 23 atau 32? Secara logis tentunya kita membandingkan nilai keduanya; 23 bernilai 8, sedangkan 32 bernilai 9. Oleh sebab itu 32-lah yang lebih besar. Nah, bagaimana kalau ada seorang bangsat murid yang menjawab bahwa yang lebih besar adalah 33?😆 Tidak bisa, itu di luar konteks. Siapapun tahu kalau 33 itu memang lebih besar, tapi pilihan kita dibatasi antara 23 dan 32 saja. Jangan ngeyel dan memilih pilihan yang tidak didukung oleh situasi dan kondisi, itu tidak dewasa.

(Ah, sebenarnya soal sesepele itu mustahil ada di ujian nasional, tapi persetanlah:mrgreen: )

Jadi, ahem, kalau anda ingin memberi masukan, berilah masukan yang MEMECAHKAN MASALAH, jangan yang MENYEBALKAN!😉

In God We Trust. RosenQueen, company.

95 thoughts on “Saran-saran yang Menyebalkan

  1. PERTAMAX!!!
    Kita selalu mempunyai pilihan dalam hidup ini…
    Tapi kalo ada pertanyaan yang membandingkan antara 2^4 dan 4^2, maka hasilnya akan sama saja😆

  2. setuju Geddoe,, kalo jadi do’a sih gapapa,, kalo jadi saran asal asalan aja,, bikin mangkel!

    *pengalaman pribadi*

    Ma ga dapet 5 teratas,,😥

    eh katanya mau bomb posting?

  3. Wahahah… Dilema yang menyebalkan memang…..hehehe…. Ya tapi mogimana lagi…. Orang Indo kan merasa hidup di Utopia…. Kalau udah liat dunia sebenarnya tutup mata…hehehe…..

  4. permisi bang, koq jadi ajang tendang menendang ya?
    diriku jadi lupa td mau komen apaan.. abis kebayang orang tendang2an. yang menang sapa yah?😛

  5. Klo menurut gue salahnya di pertanyaannya heuheuheueh..

    Gw untungnya jarang minta saran ..klo dilema gitu lebih sneneg ngitungin keuntungan dan kerugiannya😀

  6. wakakakak…lucu lo…

    ada lagi saran menyebalkan cerita lucu.
    mendingan mana, cowok ganteng tapi bego, ato jelek tapi tajir?

    jawabnya: yang ganteng pintar serta tajir
    kelaut aja deh yang jawab

  7. @ koecing
    Tendang menendang? Mana? He? Nggak ada, kok…🙄:mrgreen:

    @ chielicious
    Hehehe, kalau saya kerugiannya, mbak *hitler mode on*😛

    @ Death Berry Ille-Bellisima
    Saya serahkan pada kebijakan yang menerima feedback menyebalkan tersebut😀

    @ cK

  8. Iya, tentu saja, kalau memberi saran itu harus yang baik dan jangan malah yang membuat kondisi jdi makin rumit.

    nah, kalau untuk bercanda sih (nge junk), mm, tergantung kondisi juga.
    ada saatnya dimana kita harus betul2 serius dan memberi feedback yang sesuai dan tepat sasaran.

    ada juga saat dimana kita bisa ber junk ria untuk mencairkan suasana. kan gak enak juga kalau serius terus. dan kalau junk terus malah jadinya -seperti kata geddoe, menyebalkan🙂

    aduh, klo sya sepertinya feedbacknya jarang yang bermutu ya… @_@

  9. koq jadi ajang tendang menendang ya?
    … … … …😐

    dan kalau junk terus malah jadinya -seperti kata geddoe, menyebalkan🙂

    Kalo dianya nge-junk terus sih habisi aja pake Mumumyou Yakumu.

  10. @ Chika

    jawabnya: yang ganteng pintar serta tajir

    kurang,, kurang,,

    tambahin di akhirnya,,

    ,, yang suka sama Ma,,:mrgreen:

  11. Huahahaha…..

    bener..bener….. pilihan yang sempurna itu nggak ada!, bener-bener nggak ada.

    pilih mana hidup sengsara tapi masuk surga atau hidup kaya raya tapi masuk neraka

  12. walh2,, banyak banget pilihan didunia ini,,
    tapi kadang harus dipikir juga, jangan-jangan pertanyaannya yang nyampah (baca :retorik dan emang ga penting buat dijawab)😛

  13. @ peyek
    Jawaban menyebalkan, nih, Pak: Hidup kaya raya tapi masuk surga:mrgreen:

    @ saRe’
    Ah, betul! Saya juga berpikir begitu! Ada juga pertanyaan retorik yang menyebalkan!😛

  14. Geddoe nih ga seru jawabannya,,

    Jaman kecil bahagia, muda seru seruan, tua sukses dan kaya, mati masuk surga,,

    how cool is that!!!

  15. Heeeh…😎

    Sayangnya, jawaban2 model gini inilah yang sering saya dapet dari beberapa ADK maupun aktivis dakwah pas SMA…

    -gakRealistisEuy😦

    -ah, maaf, tidak bermaksud OOT dan SARA lho-🙂

  16. @ Kopral Geddoe

    Ah, betul! Saya juga berpikir begitu! Ada juga pertanyaan retorik yang menyebalkan!😛

    Contoh langsung:

    “eh, bener nggak sih tampang ente itu seimut Ayu Tsukimiya?”😛

    (pengalaman pribadi, nanya itu ke mbak yang pakai avatar tsb.😛 )

    Jawab ya, berarti narsis. Jawab tidak, berarti mengakui bahwa…🙄
    😀

  17. saya juga ga SARA lho.
    tapi memang sebel dengan jawaban seperti itu, apalagi jawabnya pake pasang tampang serius, ditambah dengan dalil “semua orang kan pengen yang terbaik”.

    bah! ya pengennya sih gitu, tapi kalo realitanya nggak ada, mau apa coba?

  18. ‘terbaik’ gitu bahasanya,,😆

    kayanya jawaban gitu disimpen dalem ati aja deh ya,,
    ato skalian ga usah ditanya aja dari awal,,?😕

  19. @ Rizma
    Itu tagline lamanya mas Farid, lho😀

    @ sora9n
    Hehehe, motivasi tulisan ini memang agama, sih, mas. Tapi karena sudah ada prinsip In God We Trust kemarin ya jadi diredam lalu dibungkus-bungkus biar nggak eksplisit😛

    Btw mas Sora ini keseringan ngomongin mbak Hiruta ah🙄

    @ joesatch
    Wuih, bener. Sampai gemes. Saya kalau menghadapi homo sapiens kayak gitu rasanya pengen nonjok-nonjok😆

  20. Itu tagline lamanya mas Farid, lho😀

    walah,, serius??

    perlu sembah sujud mohon ampun dulu ama Farid nih,,

    Geddoe, sebenernya kenapa pertanyaan kaya gitu suka dikeluarin sih? padahal kan kemungkinan bakal dijawab ga penting gitu lumayan gede,,

    dan emang ada jawaban yang memuaskan? (maksudnya ga nyebelin,,)

    ‘ga tau’ diitung nyebelin ga?

  21. @cK
    minjem istilahnya Geddoe, “Ini dunia, bung. Bukan utopia.”

    hohoho ….
    hidup “cowok jelek” !!!😀

  22. @ Geddoe

    tau deh-nya buat pertanyaan yang mana Geddoe?

    @ watonist

    hidup “cowok jelek” !!!😀

    walaah,,~~

  23. Masalahnya di dunia ini ga ada yang sempurna

    Setiap manusia pasti mempunyai pilihan, baik itu pilihan yang menguntungkan maupun yang merugikan.
    Kalau dia memilih selain pilihan yang ada, maka dia merupakan orang yang pesimis. Kenapa begitu? Hal itu dikarenakan dia tidak berani mengambil resiko dan takut bahwa pilihannya tadi akan menghancurkannya.

    Bukankah orang yang sukses adalah orang yang menganggap batu di depannya sebagai batu loncatan?😉

  24. @ watonist
    Hidup cowok jelek? Wah, saya didiskriminasikan, dong?😉

    *kabur*

    @ Rizma
    Pertanyaan retorik…?😕

    @ Kang Hasan
    Itu dia masalahnya, kang😀

    @ p4ndu_Falen45
    *terpana, Pandu tiba-tiba berkata sangat serius*
    He-eh, bener🙂

  25. Jawaban lebih menyebalkan : diem aja deh, ga usah mikir, ga usah komen,,
    haha
    *melambaikan bendera putih tanda kedamaian* “:lol:

  26. Pingback: “yah, namanya juga MANUSIA,.” so what..???!! « […it’s just saRa…]

  27. Yang lebih mengesalkan lagi ketika jawabannya menyerang pribadi dan sekalian memberi label.

    Anda itu kan kristen, anda itu kan muslim, anda itu kan atheis, anda itu kan ……

    *sigh, mangnya dia dukun sakti mandraguna*

  28. @ saRe’
    Nggak terlalu menyebalkan, tuh😛

    @ danalingga
    Itu istilahnya apa, ya? Guilty by association kalau nggak salah. Termasuk logika cacat, sih, tapi kalau dianya ngotot kesannya ‘kan jadi ‘bener’😆

  29. Ah iya… jawabannya itu menggemaskan, tapi agak dipicu sama gaya ngeset pertanyaan itu sendiri kayanya, ga serius minta saran tapi lebih cenderung mencari pembenaran… (menurut saya sih😛 )
    Misalnya,
    A : Eh, kenapa baru sekarang ngerjain laporannya?
    B : Lebih baik mana saya ngerjain laporannya sehari sebelum kumpul besok, daripada saya ga ngerjain laporan sama sekali?

    B ga minta saran si A, meskipun dia pakai kata `lebih baik mana` dalam pernyataan dia. Cuma cari pembenaran aja, bahwa cara dia ngebut semalam itu adalah `benar` adanya…
    A juga boleh jawab ga kalah nyebelinnya,”Lebih baik ga dikebut H-1 dan tetap nyerahin laporan besoknya”:mrgreen:

    jadinya ya begitu, pertanyaannya dipaskan dengan baik, jadinya peluang keluarnya jawaban menyebalkan bisa ditutup😛

    @ Sora9n
    Kenapa contohnya harus itu? Enggak nyambung sama pembahasan, ini kan lagi bahas saran-saran yang nyebelin. Ah benarlah itu, ada pertanyaan retorik yang menyebalkan😛

  30. Kan seperti kata bung Nasruddin….

    Anda bisa benar anda bisa benar dan anda berdua bisa benar…

    Tapi kalau saya dikasih jawaban menyebalkan, balasan saya yang paling logis mungkin:

    “Saya suruh gundulin hutan Amazon pake gunting kuku baru tau rasa…”

    atau

    “Saya suruh niupin kincir angin di Belanda baru tau rasa kamu”

  31. kalau ada yang mengatakan, “aku haus…” lalu kujawab “nanti kalau kusarankan kau minum, pada saat kau haus lagi kusarankan lagi kau minum…” nanti kau katakan saranku menyebalkan…, sekarang terserah kau saja, mau minum keq atau engga, terserah saja…, tapi aku yakin kau pasti haus lagi…, dan aku diam-diam nyumpahin kau…menyebalkan….!!!!

  32. Intinya pengorbanan …
    Saat terpaut diantara dua pilihan, maka hanya 2 yang boleh dipilih, ga ada pilihan ke 3. Benar ga gitu ..
    Ato istilah lain : Jangan terlalu naif …!!
    🙂 salam kenal🙂

  33. Aku hanya ngeliat terlalu banyak yg sebenarnya menyebalkan, namun sebenarnya engga bisa kita tolak, bayangkan jika hal-hal yg menyebalkan itu yg kita pupuk, maka isi yg ada pada kita hanya hal-hal yg menyebalkan…padahal…menyebalkan…!!!!

  34. Pingback: Menjawab Pertanyaan yang Tidak perlu Dijawab « Chaos_Region.html

  35. Wah, saya sedang belajar masalah logika nih, kayaknya nyambung juga sama artikel ini. Mohon dicerahkan dong Kopral?

    Analog nggak contoh-contoh anda tadi dengan kalimat seperti ini:

    “Apakah anda sudah berhenti mencuri?”
    “Ikut saya atau ikut teroris.”

    Kalo yang atas dijawab ya, berarti yang jawab ngaku pencuri. Kalo dijawab tidak, tetep aja dia ngaku pencuri. Kalo yang bawah, berarti nggak ada gerakan nonblok dong? Masak kayak gitu?

    Ini tentu beda dengan pertanyaan atau pernyataan seperti ini:

    “Eh, Geddoe itu masih hidup atau sudah mati sih?”

    “Eh, Geddoe itu umurnya di bawah 20 atau di atasnya sih?”

    Saya kutip satu lagi kalimat anda:

    “Mana yang lebih baik, belajar sendiri tapi dapat D atau nyontek tapi dapat A?”

    Nah, ini kayaknya beda dengan dua contoh yang paling atas. Karena ada kata-kata “lebih baik”. Dan nggak ada hubungannya sama logika. Karena logika berurusan dengan benar, sedangkan kata-kata baik itu masalah etika. Pertanyaan utama etika khan, “What is Good?”

    OK, kita perhatikan lagi contoh-contoh anda yang lain.

    “Bagusan mana, jilbaban tapi bangsat atau nggak berjilbab tapi berhati mulia?
    Bagusan jilbaban tapi berhati mulia!

    Bagusan mana, istri cantik tapi mata duitan atau istri jelek tapi irit?
    bagusan istri cantik tapi irit!

    Bagusan mana, syariat Islam resmi tapi moralnya korup atau hukum sekuler tapi moralnya Islami?
    Bagusan syariat Islam resmi tapi moralnya Islami!

    Bagusan mana, lagu yang iramanya bagus tapi liriknya jelek atau yang iramanya sedang tapi liriknya keren?
    Bagusan yang iramanya bagus tapi liriknya keren!”

    Hmm, kalimat-kalimat tersebut memang hampir menyerupai false dilemma, tapi nggak jadi karena ada kata-kata “bagusan mana”. Tapi, saya secara subjektif menyatakan, orang yang nggak cermat bisa misleading sama pernyataan-pernyataan itu. Seolah-olah orang harus memilih di antara dua itu. Dan, yang kadang bikin sebal juga, kalimat-kalimat seperti ini dipakai untuk justifikasi atas tindakan-tindakan yang tidak benar. Misalnya saja:

    1. Tidak mau memakai jilbab.
    2. Tidak mau menggunakan syari’at Islam
    3. Tidak mau belajar sendiri untuk menghadapi ujian

    dan, contoh-contoh yang lain lagi.

    Syariat Islam itu kewajiban, sedangkan mempunyai moral yang bagus itu juga kewajiban. Jadi, dua-duanya harus dilakukan. Dan, bagi manusia yang penting khan usahanya untuk mencapai kedua hal itu? Wajar saja jika dia mulai dari yang termudah. Wajar saja jika dalam usahanya itu dia masih sering melakukan kesalahan-kesalahan masa lalu.

    Misalnya saja, seorang perempuan yang baru mulai menyadari pentingnya Islam sebagai agamanya. Wajar saja jika dia mulai dari berjilbab, karena itu adalah yang termudah. Wajar pula jika setelah berjilbab mungkin dia masih pake kata-kata kotor, karena mengubah bahasa itu tidak mudah. Wajar juga jika kadang-kadang dia masih sering ngerumpi, lagi-lagi karena mengubah akhlaq itu tidak mudah.

    Yang penting adalah usaha untuk melakukan yang terbaik. Dan, jika dia menyepelekan syari’at yang mudah, maka tetap saja dia menyepelekan perintah Allah. Jadi, jangan pakai kata-kata seperti itu untuk melegitimasi agama Moral anda. Karena bagi seorang muslim, yang merupakan akhlaq terutama adalah akhlaq kepada Allah, setelah itu kepada Rasulullah, kepada sesama manusia, terakhir kepada makhluq-makhluq yang lain. Berjilbab ataupun syari’at Islam yang lain adalah akhlaq juga, bagi seorang muslim.

    Karena itu nggak ada kata-kata, “Mana yang lebih baik, sholat tapi koruptor, atau nggak sholat tapi jujur?”. Sholat adalah ibadah terpenting yang harus dilakukan seorang muslim, jadi itu harus dilakukan. Sedangkan jujur itu bukan kewajiban moral manusia kepada manusia yang lain saja, tapi juga kepada Allah. Dua-duanya wajib, sehingga dua-duanya dilakukan. Jangan jadikan alasan untuk hanya BOLEH memilih salah satu saja.

    “Mana yang lebih baik…” menunjukkan pertanyaan atas ukuran sesuatu. Dan pertanyaan itu nggak salah. Tapi, jika digunakan supaya orang membolehkan salah satu pernyataan saja (terutama jika dua-duanya menyangkut keharusan seseorang melakukan sesuatu), maka itu nggak jauh beda fungsinya sama false dilemma.

    Dan, itu jauh beda dengan contoh-contoh seperti ini:
    1. Mana yang lebih baik, Bakso yang enak tapi mahal atau murah tapi nggak enak?
    2. Mana yang lebih baik, belajar setiap hari satu jam, atau setiap 2 hari dua jam?
    3. Bagusan mana, lagu yang iramanya bagus tapi liriknya jelek atau yang iramanya sedang tapi liriknya keren?

    Karena kita pilih yang manapun, nggak ngefek bagi kita. Tidak ada kewajiban bagi kita untuk makan bakso enak atau beli bakso murah. Tidak ada kewajiban bagi kita untuk mendengarkan lagu berirama bagus atau menghayati lirik keren.

    Mas Geddoe, ditunggu tanggapannya nih. Ayo kita belajar sama-sama.

  36. Kelihatannya mas belum mengerti poin saya😛
    Berikut penjelasannya;

    Syariat Islam itu kewajiban, sedangkan mempunyai moral yang bagus itu juga kewajiban. Jadi, dua-duanya harus dilakukan. Dan, bagi manusia yang penting khan usahanya untuk mencapai kedua hal itu? Wajar saja jika dia mulai dari yang termudah. Wajar saja jika dalam usahanya itu dia masih sering melakukan kesalahan-kesalahan masa lalu.

    ‘Kewajiban’ di sini tetap saja optional, mas. Yang sekarang dipertanyakan ‘kan di antara kalau SALAH SATU KEWAJIBAN ITU DILEPAS, mana yang lebih baik? Tentu saja di antara dua pilihan yang ditawarkan itu TIDAK ADA yang terbaik. Pasti dua-duanya cacat. Makanya disebut dilema.

    (Tentunya konsekuensi melepas suatu kewajiban akan ditanggung sendiri, tapi itu BUKAN fokus permasalahan ini😉 )

    Simpel saja, yang membuat saya tidak sepaham dengan mas adalah mas mencari yang ‘terbaik’, sengangkan saya mencari yang ‘lebih baik’. Kenapa saya tidak mencari yang ‘terbaik’? Karena menurut pertanyaannya, yang ‘terbaik’ tidak memungkinkan untuk dilakukan🙂

    Karena kita pilih yang manapun, nggak ngefek bagi kita. Tidak ada kewajiban bagi kita untuk makan bakso enak atau beli bakso murah. Tidak ada kewajiban bagi kita untuk mendengarkan lagu berirama bagus atau menghayati lirik keren.

    Btw, sekadar renungan, masuk surga juga sebenarnya bukanlah kewajiban (Walau saya juga mau)😉

  37. Karena menurut pertanyaannya, yang ‘terbaik’ tidak memungkinkan untuk dilakukan🙂

    Manusia takkan bisa mencapai hingga taraf terbaik. Bahkan George Bush sendiri tidak akan bisa. Karena semua yang ter- itu tadi hanyalah dimiliki oleh sang pencipta manusia dan alam semesta.

  38. @ Jaya

    “Apakah anda sudah berhenti mencuri?”
    “Ikut saya atau ikut teroris.”

    Kayanya kalo bahasannya ini ada di blognya Sora ya?
    *teriak teriak panggil Sora*

    @ Geddoe

    Hmm,, tapi yang jadi masalah itu gara gara orang ngejawab pertanyaan itu segampangnya aja ga sih? (karena menurut Ma kalo itu sih semua juga tau,,) tapi ya Geddoe, biar kita tau kalo yang terbaik itu kayanya ga mungkin, Ma rasa kita tetep berusaha sebaik baiknya kan buat ngedapetin itu,,

    Jadi, dari yang antara pake jilbab tapi sifatnya ga beres, dan ga pake jilbab tapi berakhlak baik,, bergeser jadi pake jilbab dan sifatnya udah agak lumayan baik, dan mulai pake kerudung dan tetep berakhlak baik,,😀

  39. @ p4ndu_Falen45
    Ah, bukan, maksudnya tentu saya ‘terbaik’ menurut standar manusia🙂

    @ Rizma
    Memilihnya ‘yang lebih baik’ itu sebenarnya bisa saja dua-duanya jelek, tho?

    “Mana yang lebih baik, mati dicincang atau diracuni selagi tidur?”

    Dua-duanya jelek, tapi masih ada yang ‘lebih baik’, ‘kan?😉

  40. Memang saat pertanyaan diajukan, hanya ada 2 pilihan. Tapi fakta sebenarnya selalu ada lebih dari 2 pilihan yg bisa kita jalani, jadi ujung2nya kita bisa memberi feedback berupa solusi ketiga yg lebih manusiawi utk di jalani.
    misalnya:
    “pilih mana ibu yg mati atau ayah yg mati”
    bisa saja kita pilih kita aja yg mati utk menghindari diri kita memilih salah satu dilema diatas yg ujung2nya akan membuat dosa kita bertambah.
    Tapi, memilih itu memang sulit….

  41. Oh, bukan, ini bukan tentang false dilemma. Kebalikannya!😛

    False dilemma seperti itu ‘kan ‘tidak memilih yang bisa dipilih’,
    Kalau yang ini ‘memilih yang tidak bisa dipilih’🙂

  42. “Mana yang lebih baik, mati dicincang atau diracuni selagi tidur?”

    Heeh?? tapi kan yang ini jawabannya ga bisa digabung buat ngehasilin jawaban menyebalkan,,

    masa jadinya,, “mendingan diracunin terus dicincang”??😆

  43. karena sering kali pertanyaan yang diajukan juga menyebalkan. Bukan pertanyaan dilema tetapi pertanyaan yang direkayasa.

    Pilihan itu tidak selalu hanya 2: ekstrim kiri – kanan. Banyak pilihan di tengah2: misal belajar keras sendiri tapi dapat C, belajar kelompok intensif dapat B, nyontek dapet A, tidak belajar dapat F.

    Sama saja kalau ada cowo nanya: mending poligami atau selingkuh?
    Halah… ketauan kan tipe si penanya?
    Karena ada bejibun laki2 monogamis yang tidak selingkuh.

    kalau pertanyaan itu benar2 dilema, maka jawaban yg datang pun hampir pasti serius. Contoh: saya ambil pekerjaan ini tapi ada resiko mati, atau tidak saya ambil tapi saya sudah menganggur 5 thn?
    Kalau ini dijawab: ambil pekerjaan yg tidak beresiko mati.. itu baru saran yg menyebalkan.

  44. Pingback: Ritual Agama : gitu aja kok repot ??? « Sebuah Perjalanan

  45. Pingback: Popularitas atau Orisinalitas? « Deathlock

  46. Sudah lama yach… telat nich. . .
    Saya sebagai orang yagn sering mengeluarkan “saran yang menyebalkan” itu cuman bisa begini. . . .

    1. Orang butuh saran karena dia sedang ada masalah. . Saran yang menyebalkan itu cuman muncul supaya bikin fresh.. masalah lebih terasa ringan jika kita bisa tertawa *Musti liat sikon tapi

    2. Saran itu muncul karena Kedua opsi yang diberikan tidak memuaskan. misalnya gini.. anda pengin nilai ujian anda 3 atao 3,01. Kita milih 9, itu karena pilihan yang diberikan nggaa ada yang baik.
    “Bagusan mana, istri cantik tapi mata duitan atau istri jelek tapi irit?
    bagusan istri cantik tapi irit!”
    Bukankah masih ada wanita lain di dunia.. kenapa harus membatasi dengan dua pilihan yang sama2 ngga baik jika masih ada pilihan lain diluar sana yang lebih baik.. yang cantik, irit, baik, penyayang, matanya bagus, kulitnya mulus, suaranya merdu dll😀

    Walaupun ngga ada yang sempurna, tapi seharusnya ada yang lebih baik

    *puanjang nyaaaa……..

  47. Betul, tapi maksud saya adalah kalau menawarkan pilihan yang nggak bisa dipilih.🙂 ‘Kan saya bilang;

    Ada suatu ganjalan yang membuat pilihan sempurna tidak mungkin diwujudkan

    Kalau pilihannya masih banyak, itu bukan saran yang menyebalkan.😛

  48. Saya masih ingat ketika di MI (SD) dulu. setiap ujuan, jawaban atas soal selalu, kalau tidak A ya B. Kita hanya milih satu dari kedua ilihan itu. Jawabnya bisa A, bisa juga B. tidak mungkin kita akan pilih dua-duanya. Ini namanya soal muliperchois, kalau tidak salah. Dan soal macam demikian pernah saya kritik karena membuat cara berfikir hitam dan putih.

    ketika saya sekolah di atasnya lagi, ada dua macam soal ujian. yang pertama, soal-soal yang jawabannya hapalan (menghapal buku pelajaran; yang kedua, soal-soal yang jawabanya adalah analisis kita.

    apakah soal-soal yang jawabannya “kalau tidak A, maka B” itu bagus?

    manakah soal yang jawabannya 1) hapalan, dengan 2)analisis, yang lebih bagus?

    Apakah kita akan menjawab, soal jawaban yang “kalau tidak A maka B” itu bagus karena sesuai dengan level anak-anak MI/SD?

    Apakah kita akan menjawab, misalnya, “soal jawab yang jawabannya hapalan” itu lebih baik dari soal yang membutuhkan jawaban “analisis”?


    Jawaban tentu tidak bisa hitam putih. tetapi ketika kita diminta untuk memilih satu dari dua pilihan yang kedua-duanya jelas tidak sempurna, lantas –seperti topik dalam postingan ini– kita mengambil 50% jawaban dari pilihan satu dan 50% mengambil dari jawaban pilihan kedua?

    Jika dalam kenyataan yang demikian, mengapa sampai demikian?

    Saya kira, jawabannya, “karena pengajaran logika di sekolah-sekolah kita di endonesia memang tidak selesai”..

    atau, salah metodenya, sepeti: “mengajari disiplin kok dengan baris-berbaris”?

  49. Yah, saya nggak ahli dalam pendidikan, kang.😀

    Rasanya soal-soal evaluasi yang ada, apalagi yang berbau ilmu pasti, nggak akan menimbulkan dilema seperti yang saya sebutkan di atas, deh.🙂 Walau memang sebenarnya pertanyaan yang berformat esai menurut saya lebih baik.😛

  50. Pingback: Lempar Masalah Sembunyi Solusi « all hail rozenesia™

  51. Pingback: (Lagi) Saran-saran yang Menyebalkan « rozenesia’s defloweration

  52. Pingback: GunawanRudy[dot]Com» Blog Archive » (Lagi) Saran-saran yang Menyebalkan

  53. @mrtajib
    tergantung sudut pandangnya.

    seperti gelas yg ada isinya air setengah.
    apakah gelas itu setengah penuh ?
    atau gelas itu setengah kosong ?

Comments are closed.