In God We Trust

kekuatan sebuah prinsip
“Tujuan saya adalah memiliki pendirian yang kuat,
yang bisa membuat saya tenang menghadapi maut.”

* * *

Halo, saya Geddoe. Mungkin anda sudah pernah mendengar nama saya. Atau malah lebih jauh lagi, pernah berbincang dengan saya, atau kerap membaca tulisan-tulisan saya. Boleh jadi anda tidak setuju dengan pandangan-pandangan saya — atau menganggap saya kurang ajar, sok tahu, lancang, brengsek, dan seterusnya. Atau malah sebaliknya, anda sudah menjadi penggemar menganggap tulisan saya layak baca dan agak sedikit bermutu.

Nah, biasanya saya tidak memaksa siapapun untuk membaca tulisan saya — kali ini pun tidak. Namun mungkin sekali ini saya sangat berharap anda meluangkan waktu untuk membaca. Tidak peduli apakah anda itu termasuk barisan yang suka melaknat saya maupun pengagum berat saya yang tidak.

Dengan tulisan ini, setelah tertunda sekitar setengah bulan lebih, saya membulatkan keputusan saya untuk ‘pensiun’.

.

.

.

* * *

Bagian 1 : Saya sudah puas

Selama hidup saya, terutama pada enam bulan terakhir, saya sudah melihat sendiri kenyataannya; betapa dalam permasalahan agama terdapat banyak sekali perbedaan interpretasi yang berbuntut kontroversi tidak berujung. Dalam prosesnya, boleh dibilang saya cukup menderita — pusing, mual, susah tidur, stress berat, dan tentunya bingung sebingung-bingungnya. Jawaban (dan ketenangan) sendiri baru saya peroleh beberapa minggu belakangan. Saya sudah dapat menentukan posisi saya, dan menetapkan prinsip hidup saya. Alhamdulillah🙂 Namun saya tidak akan menjelaskan seperti apa posisi saya saat ini, sebab selain karena hal itu akan terlalu sukar untuk dijelaskan secara singkat dan saya lebih memilih menjadikannya masalah pribadi, topik tersebut tidak relevan dengan tulisan kali ini.

Tidak lama setelah saya menemukan ‘jawaban’ itu, Wadehel, seorang dari banyak orang yang saya anggap guru saya, mengumumkan ‘kematiannya’. Saya, tentu saja, terkejut.

Pada saat malam di mana Wadehel tewas tersebut, saya sendiri sudah menghasilkan sejumlah tulisan yang berbau agama. Kebanyakan bernada satir, ironi, dan terkadang meledek, walau beberapa bernada serius. Hasilnya, walau tak sesering Wadehel, saya pun mulai terbiasa dikutuk-kutuk. Kutukannya pun biasanya bernada menakutkan, skalanya membahayakan, dan bernada seolah-olah benar-benar pasti akan terkabul.

Ah, bagaimana rasanya dikutuk? Mungkin saja anda-anda yang belum pernah merasakan kutukan berbau agamis pernah bertanya-tanya, bagaimana kira-kira rasanya ketika ada makhluk tanpa url yang menyusup ke fasilitas komentar kita, ber-ad hominem ria, lalu mengeluarkan kutukan-kutukan yang sangat tidak enak didengar?🙂 Jujur saja, rasanya tidak terlalu enak, namun lama-lama toh saya terbiasa juga.

Pada malam di mana saya mendengar masalah kematian Wadehel itu, saya kemudian berpikir ulang. Sebenarnya untuk tujuan apa saya biasanya menulis hal-hal yang isinya bisa menyulut kontroversi? Untuk kemaslahatan umatkah? Untuk berjihadkah? Sebagian dari niat saya memang sejujurnya berkata begitu, namun pada akhirnya sebagian besar saya niatkan sebagai pelampiasan kegundahan saya.

Saya adalah orang yang peragu soal masalah-masalah religius. Silakan saja, anda boleh menyombongkan diri betapa tidak peragunya anda, dan betapa kokohnya iman anda. Tapi saya tidak akan bohong. Saya peragu. Saya ragu pada apa saja — kecuali ilmu pengetahuan yang tidak bersifat tentatif. Dan bagi saya satu-satunya elemen agama yang merupakan ilmu pengetahuan yang tidak bersifat tentatif adalah bahwa Tuhan itu ada dan Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana. Saya bisa saja ragu pada elemen lain dalam agama. Anda boleh menyombongkan diri sekali lagi🙂

Apa yang menyebabkan saya ragu? Ketika akal saya menarik kesimpulan yang berlawanan dengan apa yang dikatakan sebagian orang-orang suci di sekitar saya. Bagi saya, akal saya adalah kompas. Itulah pembeda bagi saya — kompas yang dihadiahkan Tuhan. Dan saya tidak percaya bahwa kompas hadiah Tuhan ini bisa rusak dan menyesatkan saya. Dalam pandangan saya, Tuhan itu Maha Ahli dalam membikin kompas. Jadi saya yakin, ada yang salah dengan kesimpulan yang ditarik orang-orang suci tersebut. Dari sanalah, saya mulai menulis.

Ketika tulisan itu dipublish dan terpampang di domain saya, siap untuk dibaca siapapun dan di manapun, saya merasa lega. Karena sebenarnya saya hanya ingin menulis. Itu saja. Saya tidak butuh komentar! Namun ketika berbagai feedback positif masuk, saya pun merasa senang, bahwa saya tidak sendiri. Ada yang sepaham dengan saya. Semua manusia butuh teman, bukan?

Naah, tapi komunitas blogosphere ini adalah komunitas majemuk. Sehingga, ada pula beberapa suara sumbang yang tersangkut di fasilitas komentar saya. Akibatnya? Kedamaian yang sudah saya dapat, musnah lagi. Ada rasa ragu-ragu lagi; Kenapa masih ada yang tidak setuju? Apa yang salah dengan kesimpulan yang saya buat?

Dan suara sumbang itu harus saya jawab. Selain karena saya bukan pengecut, saya merasa bahwa membiarkan suara sumbang itu berarti saya hanya lari dari masalah. Ha, kalau anda jeli, respon yang saya berikan belakangan sudah tidak terdengar seperti orang yang ragu-ragu lagi. Sebab, alhamdulillah, saya sudah menemukan pegangan😛

Sekarang, kesimpulannya.

Saya kira, menulis tulisan-tulisan dekonstruktif yang kritis memang sangat baik, dan merangsang umat untuk menjadi cerdas. Tapi, saya jamin, memajangnya di domain anda adalah penderitaan.

Kenapa?

Bayangkan saja seandainya terjadi lagi sebuah kontroversi yang menyatakan bahwa rambutan itu haram. Anda, sebagai penikmat rambutan, syok. Setelah berhari-hari tidak tidur karena beban pikiran yang disebabkan oleh fatwa tersebut, anda menemukan pembelaan yang rasional yang sempurna bahwa rambutan itu ternyata tidak haram. Lalu, anda menulis. Dan anda pun lega. Beberapa respon yang baik pun muncul. Umat pun tercerahkan.

Satu, dua, tiga bulan berlalu. Anda sudah tidak stres lagi memikirkan fatwa keharaman rambutan. Eeh, tidak disangka-sangka, seorang anonim datang melawan fatwa yang anda buat, lengkap dengan argumen panjang yang anda mesti jawab. Duri dalam daging, bukan?

Kalaupun anda bukan peragu seperti saya, anda masih akan dipusingkan oleh kewajiban menjawab bantahan sang anonim tadi. Itu pun kalau dia terima. Bagaimana kalau dia terus menerus meneror anda? Apalagi kalau anda peragu, seperti saya, bisa-bisa anda kembali waswas oleh keharaman rambutan. Seperti itulah kira-kira ilustrasinya.

Saya sendiri waktu itu menduga bahwa masalah inilah yang menyebabkan Wadehel memutuskan untuk membunuh blognya. Isi blog beliau penuh dengan artikel-artikel dekonstruksi agama. Dan blog itu hidup — sewaktu-waktu siapapun bisa mulai memercikkan api. Kalau saya jadi Wadehel, mungkin saya sudah mematikannya sejak dulu. Saya tidak tenang apabila terus mencari ribut. Karena saya menulis hanya untuk menyatakan posisi saya pada dunia. Dan itu biasanya sudah dipikirkan masak-masak, didasarkan pada akal dan hati nurani. Rasanya tidak akan goyah hanya karena caci maki atau celetukan sumbang yang memang buat saya pribadi (maaf) jarang ada yang bermutu.

Sehari setelah Wadehel ‘tewas’, saya sendiri sudah berniat menyusun tulisan seperti ini. Lalu setelah itu, saya berniat pensiun menulis masalah-masalah agama secara eksplisit. Mungkin sekali-sekali saya masih akan menulis tulisan berbau agama, namun isinya akan lebih filosofis, umum, dan implisit, misalnya masalah surga dan lotere yang dipublikasikan awal Juni 2007 lalu. Tulisan tentang agama yang frontal, saya tidak akan menulis lagi. Selain karena saya sudah memiliki pegangan yang kokoh dan sudah bisa menerima perbedaan, dengan ‘jawaban’ yang ada sekarang ini, saya tidak merasa perlu mendebatkan apapun lagi. Kecuali ada sesuatu yang betul-betul gawat, tentunya😉

Namun sayangnya, niat saya itu tertunda. Karena O-Mai-Gat!.

* * *

Bagian 2 : Omaigat

Mungkin karena saya belumlah dewasa, saya sedikit naik pitam melihat ‘musuh-musuh’ Wadehel begitu mensyukuri ‘kepergiannya’. Mulailah muncul kekhawatiran egois saya — mesti ada pengganti fungsi Wadehel sebagai seorang satiris dan kritisi. Tapi saya sendiri tidak mau (dan tidak mampu) menanggungnya. Jadi saya waktu itu menunggu kalau-kalau ada yang berani memproklamirkan dirinya sebagai ‘nabi’ baru.

Tanggal 29 Mei, saya, berbekal celetukan mas Anto, mengakuisisi O-Mai-Gat!. Tujuannya sebenarnya adalah supaya siapapun bisa seperti Wadehel — dalam artian kritis dan mempergunakan moral dalam berdalil. Saya ingin ada suatu wadah bersama-sama untuk saling kritis. Menulis secara individu dalam wadah bersama. Maksudnya tentu bukan mengkopi Wadehel, yang berarti juga mengkopi berbagai tulisan tentang sistem operasi OpenSource dan berbagai materi yang agak porno😛 Spektrumnya juga bukan hanya agama, namun juga merintis kembali ‘pekerjaan sampingan’ Wadehel seperti masalah politik dan sosial. Masalah pungli, misalnya.

Karena saya sudah merintis, saya merasa wajib menulis. Dan saya menulis. Menulis tentang agama lagi. Eksplisit.

Kenapa?

Sebenarnya sederhana saja. Saya ingin memberi kesan pertama yang khas ‘Wadehel’. Merintis. Bahannya pun diolah dari draf-draf kuno blog sendiri yang belum dipublikasikan. Sayang sekali beberapa pembaca terkadang menerjemahkan tulisan saya yang dituliskan dengan setengah hati itu secara literal. Apa mungkin dipengaruhi dengan cara menulis saya yang terlalu hiperbola, saya tidak tahu. Kalau memang iya, saya minta maaf. Adapun maksud dari SEMUA tulisan saya di O-Mai-Gat! intinya hanyalah supaya mengedepankan moral. Mungkin saya belum terlalu mahir menuliskan apa yang ada dalam kepala saya (itu sering sekali dikeluhkan oleh guru-guru konseling saya🙂 ). Kesimpulan sementara saya, masalah di O-Mai-Gat! adalah bahwa penulis-penulisnya *mungkin* belum semahir Wadehel dalam menulis, sehingga sering disalahartikan. Saya lihat beberapa oknum menyebut redaksi dengan sebutan ‘mereka’ — unsur pengkotakan yang cukup kental. Sebenarnya oknum itu sendiri dapat mengirimkan tulisannya dan dimuat di blog tersebut, yang memang dimaksudkan sebagai warungnya opini. Kalau KafeMotor itu proyek keroyokan sepeda motor, O-Mai-Gat! itu proyek keroyokan opini.

Setelah saya berpikir lagi, saya menyesal sudah menafikan prinsip saya, walau maksudnya rasanya tidak jelek. Ah, saya akan tetap menulis, namun akan tetap mengikuti komitmen saya untuk menghindari diskusi agama yang eksplisit.

Artinya? Mungkin saja saya malah akan rutin bikin komik sentilan seperti dulu lagi😛

* * *

Bagian 3 : Pensiun

Dalam pemikiran saya saat ini, ada banyak cara untuk menjadi ‘benar’. Ego untuk memaksakan kehendak itu menipis. Bagi saya sekarang, agama dan kepercayaan itu masalah pribadi. Kepercayaan saya akan sentimen ini sudah kokoh. Buat apa saya mendebat orang yang memprotes saya, kalau toh bagi saya orang tersebut bisa saja ‘benar’ dengan jalan yang berlawanan? Prinsip saya sekarang adalah menyerahkan perkara menilai manusia kepada Tuhan. Dan saya percaya bahwa Tuhan adalah yang Maha Bijaksana, lagi Maha Pengasih😛 Gontok-gontokan masalah agama, menurut saya sangat tidak perlu.

Kesimpulannya, saya sudah hampir kehabisan topik yang bisa didebat. Silakan beragama dengan cara masing-masing, jangan memaksa orang lain untuk ikut serta cara-cara kita. Bagi saya, itu prinsipnya. Hasil akhirnya, biar Yang Maha Kuasa yang menentukan. Kalau sudah begitu, ya, menulis yang kontroversial dan kembali ‘mencari musuh’ ya berarti mengkhianati prinsip saya di atas. Kalau tidak merasa sebegitu perlunya, kenapa cari gara-gara?

Oleh karena itulah saya ingin berhenti. Ingin pensiun.
Berhenti menulis tentang agama. Pensiun menulis tentang agama.

Oh, tidak. Saya masih akan aktif menulis. Bukan pensiun secara utuh. Jadi untuk para penggemar pengamat blog saya — seperti Mbak Ma dan Mbak Chika yang sampai pura-pura menangis mencegah kepensiunan saya, tidak usah khawatir😆

::
<<Maka dengan ini Kopral Geddoe resmi pensiun dari tulisan-tulisan dekonstruktif dan berbau kritik yang eksplisit ditujukan pada agama tertentu🙂 >>
::

Blog pribadi saya mungkin akan dipenuhi hal-hal tidak bermutu seperti biasa — minus pembahasan agama secara eksplisit tadi tentunya. Anime culture, game, fanart, sampai celoteh-celoteh bodoh lainnya😀

Sedangkan untuk O-Mai-Gat!, eh, semoga anda masih suka komik-komik sampah bikinan saya:mrgreen:

Wassalam.

p.s. ‘sumpah’-nya diedit sedikit…

In God We Trust. RosenQueen, company.

67 thoughts on “In God We Trust

  1. Dasar Geddoe bikin orang bingung aja,, sempet dikira mo ‘mati’ beneran tau,, dasar,,😦

    Ma suka tulisannya kok,, biar ga semuanya sependapat,,
    jadi,, kalo tiba tiba pengen bikin tentang topik ‘itu’ lagi,, kabarin ya,,🙂

    btw, apa apaan itu penggemar?? Ma aduin ke Chika lho,,😛

    bikin komik terus ya,,🙂

  2. @ Master Li
    Saya pernah bilang begitu…? *lupa*
    Ah, saya terlalu sering online sambil setengah tidur…😕

    @ Ma!!!
    Maafkan saya meresahkan para penggemar…

    Ya, mungkin untuk materi O-Mai-Gat! saya hanya akan membuat yonkoma lagi…🙂

  3. haduuhh….
    saya pikir pensiun beneran..bunuh blog beneran..ilang beneran..udah siap mau nangis syok..untung ga jadi..

    apapun yg dikau mau tulis, tulislah..yg jelas keep on writing. Speak ur mind, dude..

  4. Wakakaka….. Ngaget-ngatein aja……

    Saya sebenarnya,IMHO,lebih senang seperti ini……hehehe…..

    Kenapa?? Saya Blogwalking buat melepas kepenatan sengan hal-hal yang dapat membuat tersenyum dan tertawa, bukan dengan hal-hal yang bikin makin penat seperti komentar yang penuh “penganjingan” yang tentunya tak sedap dipandang…hehehe…..

  5. Wah, Ehm … tapi tak puas dengan alasan-alasan Geddoe,

    tapi kalo tujuannya pencerahan, kenapa berhenti?, dimana cari penawar atas racun yang dipaksakan masuk tiap hari? mau cari selamat sendiri? hehehehe

  6. Boleh dibilang kalau saya mau menghindari cekcok dengan orang, Pak. Saya nggak mau cari musuh. Mungkin memang sedikit egois.

    Intinya sih saya sudah betul-betul menerima perbedaan. Silakan beragama dengan cara sendiri-sendiri. Bukannya Tuhan itu Maha Lapang Dada? Atau Beliau cuma mau disembah dengan cara-cara tertentu yang betul-betul sempit ruang fleksibilitasnya? Saya percaya bahwa Tuhan itu Maha Bijaksana, jadi semestinya perbedaan itu bisa diterima.

    Tapi, iya, masalahnya ya kalau ada yang main maksa dan ngotot. Ini yang susah. Banyak yang kalau dikritik pelan-pelan jumawa, tapi kalau dikritik keras-keras malah ngambek dan teriak-teriak kafir. Jadi, ya, kalau pakai cara saya untuk menawar racun; pakai hati saja, Pak. Prinsipnya, mereka mau begitu ya silakan, tapi biarkan kita berbuat berbeda, begitu🙂

  7. hooo jadi ini ya???
    kirain mau haraikiri beneran😛
    btw siapa yang penggemar??? bukannya nak difo ini adalah fans saya???
    *kabooorrr…sebelum dibuang ke akismet*

  8. Duh Geddhoe, pas baca bagian awalnya bilang mau berhenti, pensiun, sangkakan mau sekalian dilemarikan ini blognya… (-_-)
    Jangan sampe ya😉
    Kaget … tapi hmm… untuk beberapa alasannya itu Geddhoe benar sih …

    Ya, biar Yang Maha Bijak saja sebaik-baik penilai ya😉

    btw, avatar yang ini personifikasi Geddhoe? whohoho…
    *mau komentar apa ya*😛
    Ah, keren kok … ^^;

  9. Ah, bahkan Big Boss-pun yang tadinya hakul yakin jadi pahlawan buat negaranya ternyata bisa berbalik jadi teroris (atau ‘teroris’, tergantung dari mana anda memandangnya). Jangan terlalu yakin dulu dengan pensiun anda, Saudara Geddoe…😀

  10. sempet mikir… nie orang mesti disuap-i dengan lontong sayur biar balik nulis.. sekarang ga jadi menyuap-i ah.. hihihi..

    *tenggorokan sakit*

  11. Buat yang muda-muda akan selalu lahir perdebatan baru… saya yakin itu… tanpa proses itu kok rasanya kurang afdhol… semoga istirahat dengan tenang dlam keyakinan anda…

  12. yang penting ga pensiun beneran … kan sayang coat of arms-nya, baru di-launching masa mau ditarik … hehehehe …😀

  13. He? Blockquote-ku yang tentang pensiun tulisan agama kemana?
    Yang ini nih:

    Maka dengan ini Kopral Geddoe resmi pensiun dari tulisan-tulisan yang eksplisit ditujukan pada agama🙂

  14. Kemana aja sih Geddoe??
    😥😥

    jangan lama lama ujiannya ya,,

    Ma sama Chika ga ada subjek jahilan,,😛

    Shan In juga ga ada sihh,,

    *kangen Geddoe sama Shan In*

  15. inikah yang geddoe maksud tulisan di akhir pekan itu?
    artikel yang panjang itu, untuk menjawab tuntas semua rasa penasaran saya?
    tapi kok saya tak menemukan jawabannya secara utuh ya….hanya sedikit saja.

    saya jadi bingung…..

  16. Hfff…..

    Dalam pembahasan yang terkait teologi, jumlah komen saya di blog orang lain bisa 7-8 kali lebih banyak daripada tulisan saya tentang itu di blog sendiri.

    Anybody knows why?😉

    Kalau sudah begitu, ya, menulis yang kontroversial dan kembali ‘mencari musuh’ ya berarti mengkhianati prinsip saya di atas. Kalau tidak merasa sebegitu perlunya, kenapa cari gara-gara?

    Kalau pihak seberang yang nyari gara-gara gimana? (o_0)”\

  17. sepertinya ini bukan Kopral Geddoe….😉

    hehehe… Geddoe berganti warna, yang dulu hijau tua sekarang jadi hijau muda, tapi yang penting masih berwarna kan ?

    *kok nggak ada trackbacknya*

  18. Numpang nimbrung nih Mas…
    Saya juga berniat pensiun dini nih… Kok pikiran kita sama ya?
    Saya juga ga tahan nih, terlalu banyak dihujat membuat pikiran saya bimbang. Belum lagi pendapat2 miring. Saya sepakat dengan Anda. Saya juga akan berhenti menulis, sementara.

    Terima kasih atas inspirasinya, Sobat

  19. Oh, tidak. Saya masih akan aktif menulis. Bukan pensiun secara utuh. Jadi untuk para penggemar pengamat blog saya — seperti Mbak Ma dan Mbak Chika yang sampai pura-pura menangis mencegah kepensiunan saya, tidak usah khawatir

    Phewwwwwwww…..

    Leganya….
    Kukira trend bunuh diri akan mewabah di kalangan blogger.

  20. hoooo,,,
    kirain,, pensiun beneran,,
    kak ma bukan lagi menangis-nangis mencegah pensiunya Geddoe, malah sampe meronta-ronta tuh, mukul-mukul meja,.

    ga percaya??
    coba aja tanya sama orangnya sndiri😛 he he
    *run 4 ur life!!!!!*

  21. Ah tidaaaaaak. jangan pergi nak, kami masih membutuhkan dirimu untuk dihalalkan darahnya

  22. @ Sara

    Jangan dibilang bilang,, bikin malu ajah,,

    @ Chika

    kok ga nyaut nyaut ya dia,, ujiannya lama betul,,😥

  23. *baru pulang dari pertapaan*

    *terpana melihat komentar-komentar yang masuk*

    *nyeruput teh hijau, membalas satu-demi satu*

    @ manusiasuper
    Nah, iya, di situ masalahnya, mas. Hasil pertapaan saya itu ya bahwa ‘kebenaran’ itu tidak terkungkung di satu atau dua dimensi lagi. Sudah melebar. Saya sudah belajar menerima bahwa kedua pihak bisa saja benar, walaupun bertolak belakang. Kebenaran ternyata bisa saja mendua. Makanya nafsu mau ‘melibas yang salah’ itu jadi menipis…🙂

    @ Master Li
    You can kill the protester, but you can’t kill the protest😀

    @ Evy:mrgreen:

    @ Catshade
    Tentu! Nggak ada yang pasti. Tentunya, kalau ada sesuatu yang ‘gawat’, bisa saja pendirian saya berubah. Cuma ya kalau nggak ada yang ‘gawat’, maksudnya, kalau begini-begini saja keadaannya ya saya tetap pensiun🙂

    @ joesatch
    Maksudnya, mas?😛

    @ Xaliber von Reginhild
    Trekbek kok ditolak…? Ya nggaklah — silakan menrekbek:mrgreen:

    @ Irdix
    Jangan ingatkan soal lontong sayuuurrr…!!!👿

    @ Fadli
    Sabar, mas. Fokus saya sekarang sedang memburu sewa kamar. Saya mau digusur😀

    @ -tikabanget-
    Akuisisi, mbak😛

    @ Suluh
    Semoga ‘jawaban’ ini bisa tenang terus tanpa bisa dibantahkan🙂

    @ p4ndu_Falen45

    @ nur
    Tentunya. Saya tidak melanggar prinsip itu. Dengan lebih mengedepankan prinsip kemanusiaan tentunya🙂

    @ Death Berry Ille-Bellisima
    Ya nggaklah, memangnya pegawai formal…?🙄

    @ Rizma
    Ai em bek…😆

    @ mina
    He-eh. Iya. Separuh artikelnya saya mutilasi, sih, soalnya banyak yang terlalu berupa katarsis…😦

    @ sora9n
    Saya rasanya juga kayak gitu, deh. ‘Kepancing’ kayaknya mas😕😛

    Kalau pihak seberang yang cari gara-gara, ya diantisipasi… Dengan cara-cara yang damai tentunya😛

    @ fertobhades
    Hehehe, yang penting sedapat mungkin jangan takut berubah…🙂
    Trekbek saya nyampe nggak mas?😛

    @ pramur
    Mas terinspirasi saya? Lha saya terinspirasi Wadehel. Wadehel terinspirasi siapa, ya? Hmm? Biar kita traktir beliau beramai-ramai😛

    @ danalingga
    Pesangonnya mungkin ketenangan jiwa…😆

    @ kunderemp an-Naurkalipsy
    Hehehe, nggak, soalnya *katanya, sih* bunuh diri dosa besar, ya?😛

    @ saRa
    Kok jadi vandalis begitu?o_O

    @ Fourtynine
    Bwahahahahaha! Tentu tidak!

    @ cK
    Siap, komandan.

    Btw, saya sudah pulang. Maaf, kemarin koneksi internet saya dicabut karena nunggak bayar sewaan:mrgreen:

  24. Btw, saya sudah pulang. Maaf, kemarin koneksi internet saya dicabut karena nunggak bayar sewaan

    Walaah… dikira kemana aja ga ada kabar berita…
    Hufff… syukurlah
    welcam bek ^_^

  25. Haa? sedikit jelek? Maksudnya?
    Itu kan mengkhawatirkan… -_-

    Maksudnya gini, dikirain Geddhoe sengaja abis nulis entry ini terus bertapa dan enggak mau nyentuh internet, rupanya enggak kaya gitu, ada masalah dunia nyata, akses internetnya yang ga jalan…

  26. jangan sering sering nunggak ya,,😛

    bikin Ma ga ada subjek buat digangguin,,

    Shan In udah ga bisa diganggu lagi,,😥

  27. @ jejakpena
    Hohoho, rupanya ada <strike>penggemar</strike> lagi yang khawatir…😆
    *dikeroyok massa*

    @ Rizma
    Lee? Hoo… Pertajam level gangguannya😛

  28. @ Kopral Geddhoe

    Hohoho, rupanya ada penggemar lagi yang khawatir…😆

    Senang hah?👿
    Bakar Geddhoe! *provokasi massa*

    -kayanya udah lama ga pakai kata-kata ini😛 *

  29. Pingback: Ketika Tuhan Telah Mati « Parking Area

  30. Pingback: Amandemen Sumpah « RosenQueen Company

  31. Anda tidak ragu pada “Ilmu Pengetahuan” ?

    Bagaimana dengan Richard Dawkin’s “The Strangeness of Science”?

  32. Hoo, kenapa tidak? Sains itu tentatif… Sangat tentatif… Bahkan ilmu pengetahuan pun sebenarnya belum bisa dijadikan parameter teologi. Semua di dunia ini nyaris tidak ada yang pasti — bahkan eksistensi pun (The Matrix mode😆 ).

    Makanya saya nggak tertarik mencari kebenaran, nggak bakal ketemu soalnya:mrgreen:

  33. Mantab…memang…gak akan ketemu nyari kebenaran.

    Wong pertanyaan “Siapa saya?” saja gak bisa dijawab…

    The Matrix yah…keren tuh konsepnya.

    Makasih mas.. saya banyak belajar.😉

Comments are closed.