Balada Bocah Gemblung

(Terinspirasi dari tulisan Mas Sora di sini😀 )

Lady Virtuoso
“Jreeeeng… Jreeeeng… ~(-_-~)(~-_-)~”

.

.

.

Alkisah di suatu tempat di kolong jagat, terselip di belantara Nusantara, hiduplah seekor bocah manusia. Bocah ini memiliki sebuah pusaka berupa iPod 5G 80 GB, yang baru diterimanya dari sang ayah, secara gratis tentunya. Bagaimana cara sang ayah mendapatkan alat penukar demi menebus pusaka tersebut dari vendor terdekat, tidak akan dibahas di sini.

Pada awalnya, ia mengisi pusakanya tersebut dengan track-track yang mainstream, mulai dari Akon, Taylor Hicks sampai Gwen Stefani.

Namun, berdasarkan sebuah pencerahan yang dialaminya, ia menyadari bahwa apa yang didengarkannya itu adalah mainstream dan terlalu biasa. Ia ingin beda. Berangkat dari kesimpulan itu, konten pusakanya pun berpindah menjadi track-track yang dianggapnya ‘sayap kiri’ semacam Papa Roach, My Chemical Romance, Linkin Park, atau The Used. Ia puas, karena ia sudah menjadi minoritas. Beda. Tidak mainstream. Sepesial.

Tapi kisah sang bocah tidak berhenti sampai di situ. Ia kemudian mendengar bahwa ada pemahaman yang menyatakan kalau ‘mahdzab’-nya sekarang itu masih radio-friendly dan para aktor di belakangnya masihlah orang-orang kaya yang cengeng. Singkatnya, untuk kategori musik-musik ‘ganas’, yang didengarnya saat ini masih ‘mainstream’. Maka ia pun kembali murtad dan berkiblat ke musik yang lebih brutal. Nabi-nabinya pun berpindah menjadi makhluk-makhluk yang lebih sangar semacam Slipknot, Metallica, Megadeth, serta yang sebangsa System of A Down dan Judas Priest. Nah, nabi-nabi yang ini pengikutnya lebih sedikit. Lebih minoritas, dan pastinya tidak mainstream. Level up.

Oh, tunggu dulu. Masih ada wahyu selanjutnya — ternyata pahlawan-pahlawannya di atas masih merupakan orang kaya cengeng, walaupun wujudnya brutal dan sangar. Apa pasal? Oh, ternyata mereka mendapat honor yang tinggi dari MTv dan label rekaman mereka yang berupa korporat kapitalis raksasa. Sang bocah pun mengangguk-angguk, ia akhirnya paham cara menjadi beda dan melawan arus; membeli musik musisi-musisi yang berasal dari label minor namun berkualitas mumpuni. Ia pun memberontak sekali lagi. Kiblatnya sekarang lebih aneh, eksotis, terkadang politis, filosofis, dan berkelas; Opeth, Tiamat, Tool, Fugazi, Dream Theater, serta yang semacam Rage Against the Machine, Soulfly dan Minor Threat.

Namun maaf, revolusi belum selesai. Lama-lama, setelah sekian tahun, isi pusaka delapan puluh giga-nya itu semakin revolusioner. Tidak seorangpun mengenal musisi-musisi yang dikultuskannya waktu itu. Semuanya adalah musisi-musisi minor yang menolak publikasi. Struktur musiknya kompleks, kental, dan bercita rasa. Tidak satupun pernah terlihat batang hidungnya di MTv. Bahkan terkadang untuk mendengarkan lagunya, mesti berburu ke pelosok-pelosok yang menjual albumnya secara eksklusif. Sang bocah benar-benar sudah menjadi dewa musik — penikmat tingkat tinggi.

Akan tetapi, suatu ketika, sang bocah menyadari suatu premis yang menakutkan. Semua orang menyenangi musik! Ternyata sebagian besar manusia menyenangi musik. Menyenangi musik adalah suatu atribut mainstream!

Oleh sebab itu, semenjak saat turunnya wahyu di atas, sebagai orang yang beda, ia pun tidak pernah mendengarkan musik lagi. Pusaka delapan puluh giga itu pun terbengkalai:mrgreen:

.

.

.

Ahem, saran saya, kalau anda-anda sekalian memilih musik, pilihlah dengan alasan yang lebih cerdas daripada sekadar ‘Tidak biasa’ atau ‘melawan arus’. Misalnya, cobalah pakai alasan yang cerdas seperti ‘liriknya bagus dan filosofis’, ‘bandnya bervisi sosial’, atau ‘teknik gitarnya tidak biasa’😛

Btw, kalau saya menyodorkan premis ‘bernapas lewat hidung adalah cara mainstream’, reaksi sang pemberontak di atas apa, ya?😆

* * *

p.s. Saat ini di playlist saya yang gado-gado ini ada Audioslave, Yasunori Mitsuda, Anti-Flag, Aya Hirano, Marilyn Manson, dan Rancid, among other things…🙂

In God We Trust. RosenQueen, company.

59 thoughts on “Balada Bocah Gemblung

  1. Taylor Hicks?? emang bagus apa?? -salah satu dari American Idol yang Ma ga suka-

    nganggur IPod-nya?? buat Ma ajah!!! Ma bersedia menampung kok,,😀

  2. wakaka… untung saya mementingkan kualitas lagu….dan selera….

    Dan saya punya kesenangan lagu lagu oldies (yang tua pengen merasa muda dengan dengerin lagu lagu anak muda.. ini anak muda pengen dengerin lagu kakek-kakek)….. Hayo… masih ada yang inget lagu lagu legendaris macam Let It Be Me, My Way, All I Have To Do Is Dream, atau Just The Two Of Us?? Yang muda kayaknya enggak deh….

  3. Walah, iPod sendiri udah jadi mainstream… harusnya dia buang sejak dulu tuh.😛

    Terus, kalau 100 tahun lagi HAM dan persamaan derajat jadi mainstream, si bocah gemblung ini bakal jadi penjahat dong??🙄

  4. orang yang serba post
    dikit dikit mengaku kaum post
    sampe akhirnya, semua orang mengaku kaum post
    mau ngapain lagi hayo?

  5. @ Master Li
    Yah, saya bukan penikmat J-Music. Saya tidak bisa bahasa Jepang dan saya tidak suka mendengarkan apa yang saya tidak paham artinya😕

    @ Ma!!!
    Saya sendiri masih mendengarkan Audioslep…😛

  6. Numpang nimbrung nih Mas…
    Saya memang suka musik, tapi semenjak mendapat hidayah, wahyu, serta bisikian dari surga, saya akhirnya hijrah. Semua lagu bajakan sirna dari HD tercinta. Tapi, saya masih senang dengar PVnya Laruku karena jelas kehalalannya.🙂

    Waktu masih bejat (sekarang juga sebenarnya masih bejat) dan belum kaffah berlinux, saya juga dengar gado2. J-music, Iwan Fals, Local Band, Opick, Raihan, Bob Marley, Musik Klasik (kebanyakan buat teman tidur), dll. Multiple personality syndrome…

  7. Tidak bisa begitu, kita mesti melawan kapitalisme dengan memperbanyak menkonsumsi bajakan…

    *dibakar massa*😆

    Musik klasik buat dibawa tidur? Wah, kalau saya biasanya pakai musik-musik terapi yang aneh-aneh, tuh😛

  8. Buat orang2 semacam itu, lebih baik mereka diberitahu begini: “Being alive is sooo mainstream…I mean, more than 6 billion people?! Ugh, dasar orang2 kaya yang cengeng…”

    Kalau cara itu sukses, saya yakin dunia akan menjadi (sedikit) lebih baik😀

  9. @ alex
    Buat saya sendiri sebenarnya musik nggak berpengaruh, tuh. Kalau ngantuk, pake Megadeth juga ketiduran. Kalau nggak ngantuk, dikasih barang-barang sleep therapy juga nggak mempan:mrgreen:

    Belum tuh, saya coba, ya😛 Makasih linknya🙂

    @ Catshade
    Betul, itu memang jurus pamungkasnya, mas😆

  10. Ngomon – ngomong musik, saya terbiasa didakwahi oleh Linkin Park dan Green Day, tapi akhir – akhir ini sering ‘mental’ ke daerah macam lagu Instrumental dan terperosok sampai kedalam subgenre Interactive Music. Padahal dulu diberi dakwah oleh J-Music juga…😕

    Ged, kalau orang seperti di atas itu ada, bilang kepada mereka, “Makan lewat mulut itu terlalu mainstream.” Niscaya besok – besok mereka akan lebih kreatif lagi dengan memasukkannya lewat hidung.:mrgreen:

  11. Ngomon – ngomong musik, saya terbiasa didakwahi oleh Linkin Park dan Green Day, tapi akhir – akhir ini sering ‘mental’ ke daerah macam lagu Instrumental dan terperosok sampai kedalam subgenre Interactive Music. Padahal dulu diberi dakwah oleh J-Music juga…😕

    Bagus, ‘kan, bervariasi?😛

    Ged, kalau orang seperti di atas itu ada, bilang kepada mereka, “Makan lewat mulut itu terlalu mainstream.” Niscaya besok – besok mereka akan lebih kreatif lagi dengan memasukkannya lewat hidung.:mrgreen:

    Makan itu mainstream! Mereka semestinya tidak usah makan!😆

  12. Hidup itu mainstream, apa dia mau matek?
    Lha terus, matek itu sendiri juga mainstream, terus dia mau apa?
    Setuju ama Catshade

  13. Muse donk! Trus Panic! at the Disco, Avenged Sevenfold, Good Charlotte, The Killers. Wah…lagu nina bobo saya tuh kalo ga Muse ya lagu2 yang disebut diatas. Geddoe!!! Bagi iPod nya!!!😈

  14. nih bukan anak kecil…
    geddoe la roka itukan, terjemahan: udah gede dan ngorokan

    khhhoohoohooo

    pahlawanku tetap kurt

    q dah balik ke nasyid, belum sampe sana ya😛

    agama itu candu
    musik itu candu
    wanita itu candu
    ketenaran itu candu

    tapi cuma sedikit pecandu kematian

    la..la..la..la..la..

    na..na..na..na..na..na..

  15. wuihh … untung saya masih berkesimpulan bahwa “tidak semua orang adalah manusia”😀

  16. Klo gw sieh yang penting anak2 bennya ganteng! mwehehehhe..gak denk..

    emang klo pake alesan musikal itu lebih pintar yah ? hi3

    klo gitu..gw suka the Gazette !.. gitarisnya mangstab..basisnya jago fisan..dan membernya ganteng2!..gw suka Mew !!.. drum linenya unik ..dan gw ngepens ama Jonas..

    Gak enaknya klo suka sama ben2 ‘aneh’ ini..nyari cd asli mereka susahnya setengah idup.. fu3~

  17. haha,,
    bocah pembelot itu maunya apaan sih??
    klo mau beda sendiri, sekalian aja jalan ngesot pake punggung, makan pake kaki, dan tidur sambil olahraga,,
    ga mainstream kan???😀

    J-music kan (beberapa) bagus,, mari, mari dengarkan,
    hehe😛

  18. Waks… semua album2 Rage Against The Machine, Slipknot milikku terhapus di komputer yang lama. Yang ada sekarang adalah lagu-lagu-nya Steven dan Coconutz Trees (aku suka Serenada-nya), Cinta Dua Benua (karya temanku dari UQ Indonesian Student Association), Gie, lagu-lagu Trisutji Kamal (piano)..

    kalau mau ditambah kaset sih, masih ada lagu2 Vanessa Mae dan soundtrack The Matrix yang pertama.

    Aku ingin nyanyikan lagu
    Bagi kaum-kaum yang terbuang
    Kehilangan semangat juang
    Terlena dalam mimpi panjang
    …. Di tengah hidup yang bimbang

  19. @ saRa
    Hahaha… Btw, kalau hidup sambil bernapas itu kayaknya mainstream, ya?😉:mrgreen:

    @ kunderemp al-Naurkalipsy
    OST Matrix pertama ada Rage Against the Machine-nya bukan?🙂

  20. Pingback: Stratifikasi Sosial Dengan Musik? « Deathlock

  21. ya ampun!!
    itu tulisannya “GEMBLUNG” ya??
    saRa dari pertama baca, sampe ngasih komen pertama, kebacanya “GELEMBUNG” lho,,
    makanya, koq rasanya ga nyambung, apaan itu Bocah Gelembung???
    hahaha😆 bodoh sekali saya,,

  22. Pingback: Bercinta Dengan Saudara Sendiri « Parking Area

  23. Pingback: JFL Pt 2 « Deathlock

Comments are closed.