Lotere Berhadiah Surga

Sepanjang hidup saya, sejauh apa yang saya pahami, saya rasa di dunia ini — dari kolong jembatan di Jakarta sampai kebun-kebun di Amerika Selatan, dari perapian-perapian di musim dingin yang menusuk di Eropa Utara sampai kuil-kuil antik di negeri Sakura, manusia saling mengajarkan bahwa surga adalah hadiah lotere.

you reap what you sow, or more, or else!

“Dalam pemikiran saya, seseorang seharusnya menerima sesuai dengan apa yang dikerjakannya.
Tidak bisa kurang, namun bisa saja lebih!”

Neraka pun demikian. Yang terlempar di neraka adalah orang-orang dengan nomor lotere yang kalah undian. Sedikit sekali nilai moral yang ada berperan dalam kasus penjeblosan seorang anak manusia ke kubangan neraka.

Sekitar sembilan tahun lalu, ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, kelas empat tepatnya, guru saya pernah menyebutkan bahwa agama di dunia ini ialah terdiri dari lima macam agama. Jelas sekali, bias iklim teologi di Indonesia. Saya yang masih ingusan waktu itu, memprotes dengan menyebutkan beberapa padanan agama lain, seingat saya waktu itu saya menyebutkan Sikhisme. Teman-teman saya, termasuk guru saya, terkesan bingung dan tidak menerima masukan saya tersebut. Respon dari guru saya adalah; bahwa Sikhisme adalah sebuah aliran. Saya hanya mengiyakan saja. Bertahun-tahun selanjutnya, saya akhirnya paham sepenuhnya kalau itu tidak benar. Sikhisme adalah agama seutuhnya.

Ketika saya mengingat kejadian itu lagi belakangan ini, saya kemudian mengerti bahwa suatu kepercayaan di mata masyarakat awam adalah suatu yang terkotak-kotak. Se-terkotak-kotak-nya.

Proses pengotakan itu sendiri, disponsori oleh budaya dan stereotip umum yang berlaku secara nyaris universal, bahkan memungkinkan untuk dibuatkan algoritmanya;

  1. Ketika seseorang percaya akan adanya Tuhan, ia akan dipaksakan untuk masuk ke dalam suatu golongan agama besar tertentu. Implikasi logisnya adalah bahwa apabila seseorang tidak termasuk pada golongan-golongan besar tersebut, maka ia adalah seorang atheis.
  2. Ketika seseorang sudah berada dalam golongan besar, ia akan didoktrinkan bahwa dalam golongan tersebut hanya ada satu jalur saja. Implikasi logisnya, kalau seseorang mengaku sebagai muslim, namun pemahamannya berbeda dengan paham yang lebih mapan, maka ia akan tergolong pada satu pengotakan baru. ‘Sesat’.
  3. Kesimpulannya? Jumlah ‘jenis’ orientasi religius seseorang adalah Jumlah agama besar + 2. Jelasnya begini; misalnya di Indonesia, terdapat enam kepercayaan besar; Buddhisme, Hinduisme, Islam, Katolik, Konfusianisme, dan Protestanisme, maka seseorang di Indonesia hanya mungkin tergolong dari 6 + 2 = 8 jenis. Kalau dia bukan seorang Buddhis, Hindi, Muslim, Katolik, Konfusianis, atau Protestan, maka pastilah dia seorang Atheis atau orang yang sesat.

Sampai beberapa tahun lalu, saya pun menganggap bahwa beragama adalah sesederhana itu. Konflik paling parah waktu itu hanyalah sekadar hari Idul Fitri versi Muhammadiyah dan NU yang berbeda satu hari. Soal yang pelik, seperti bagaimana agama Islam yang sudah pecah menjadi lebih dari 190 pemahaman besar, saya tidak tahu.

* * *

Frontman Audioslave, Chris Cornell pernah berkata, bahwa single kedua mereka, “Like A Stone”, terinspirasi dari pengalaman spiritualnya sewaktu mencari Tuhan dengan cara alternatif selain pendekatan agama-agama mainstream. Pada waktu itu saya berpikir, Cornell sudah gila. Atau mencari sensasi.

Atau, benarkah bahwa pendekatan religius semestinya tidak terkungkung pengotakan-pengotakan yang dibentuk oleh stereotip-stereotip sosial?

Saya punya sebuah contoh yang sempurna. Saya lupa di mana, tapi saya pernah mendengar sepotong pendapat yang sumbang dari seseorang di SongMeanings.net. Bunyinya kira-kira begini;

“Agama-agama selalu bertengkar, berperang, dan menumpahkan darah satu sama lain. Karena itulah, saya adalah seorang atheis.”

Sorry, sire, you’re either a poseur or just plain stupid. Jadi, mungkin menurut mas/mbak yang berkomentar di atas, karena ia tidak cocok dengan interpretasi populer agama-agama besar, solusinya adalah menjadi seorang atheis. Saran saya, jangan berkomentar seperti itu di depan wajah Voltaire atau Einstein, misalnya. Itu adalah dikotomi palsu!

* * *

Jadi, posisi religius seseorang saya rasa sudah dibonsaikan. Sudah terkotak-kotak. Padahal, interpretasi dari teks-teks suci tentunya potensial (dan sangat mungkin) untuk berbeda. Belum lagi apabila dikaitkan dengan pemahaman teologi natural seseorang.

Bagi masyarakat awam, saya rasa hanya ada dua jenis manusia; theis dan atheis — golongan pertama akan dijatah lewat agama. Bagaimana dengan agnostisisme? Deisme? Atau malah yang semacam Omnitheisme atau Distheisme? Dan masih banyak lagi pendekatan religius lainnya. Semuanya bisa disintesiskan dengan masing-masing agama. Ini yang saya kira ideal. Theisme yang kritis.

Tapi manusia ingin berjalan bersama-sama. Memiliki pendirian teologi yang mandiri tentunya kerap kali dinilai terlalu beresiko. Konformitas? Yah, itu tidak sepenuhnya salah. Manusiawi.

Namun dengan hal itu, akan sedikit sulit untuk menyangkal bahwa surga adalah hadiah lotere. Orang yang terlahir di lingkungan agama yang ‘benar’ sudah menarik lotere yang menang — kecuali kalau dia cukup bodoh untuk mengganti agamanya (baca: kehilangan kartu loterenya).

* * *

Lalu di mana posisi saya saat ini?

Islam sunni? Islam moderat? Islam liberal? Islam Mu’tazili? Atau malah agnostik? Seorang sufi? Atau malah seorang deis?

Wallahualam — Untuk menjelaskan suatu posisi dalam pemahaman akan masalah teologi, diperlukan waktu yang lama – serta tulisan yang sangat panjang. Kalau ternyata dengan pemahaman saya ini saya bisa dimasukkan ke dalam surga, saya bersyukur. Kalau ke neraka, apa boleh dikata?😉

In God We Trust. RosenQueen, company.

45 thoughts on “Lotere Berhadiah Surga

  1. PERTAMAX!!! (mengamankan posisi)

    Wah, soal posisi-posisian saya, tauk ah gelap…

    Kalau dikotak-kotakin terus lama-lama jadi sarung….hehehehe…

  2. bingung ya,,

    kadang kadang kalo cape ngeliat antar/sesama agama saling bunuh bunuhan,, jadi ilfil,, salah satu caranya jadi ateis aja ya,,?? -ga deng-

    Ma,, sementara jalanin dulu aja apapun itu,, dan tetep berjalan,,

    Geddoe, pilihan posisinya kurang banyak tuh,,😉

  3. kadang kadang kalo cape ngeliat antar/sesama agama saling bunuh bunuhan,, jadi ilfil,, salah satu caranya jadi ateis aja ya,,?? -ga deng-

    Ini yang saya katakan sebagai dikotomi palsu. Pada kajian teologi, setahu saya agama hanyalah salah satu media dalam menyembah Tuhan. Ada banyak sekali orang yang menyembah Tuhan tanpa agama. So, kalau mbak ilfil terhadap agama, bisa menjadi seperti itu…😛

    Tapi tentunya terserah kita juga:mrgreen:

  4. bebaskan imajinasi kita sampai dengan titik yang paling liar menurut kita. setelah itu kita akan tahu keberadaan Tuhan.

    dalam kasusku, keliaranku mengantarkanku pada Islam😀 Islam aliran apa? Ya Islam aja. Islam yang kayak diajarin Muhammad seperti pemahamanku. Kalopun dipaksa harus beraliran, biarlah Islam versiku ini aku namakan Satrianto’s Islam Custom Edition😛

  5. Jadi ingat isu awal OrBa, di mana ‘kaum minoritas’ serasa ‘dipaksa’ untuk memilih salah satu dari 5 agama yang kala itu diakui di negri ini. Tanya kenapa? Karena saat itu sedang gencar-gencarnya pembumihangusan PKI. Anehnya, komunisme dikaitkan dengan atheisme… gila bukan?

    Kaum minoritas yang meresa tertekan tentu saja terpaksa melepas kepercayaan konghucu, karena konghucu tidak diakui pemerintah sebagai agama. Baru setelah Reformasilah, konghucu dijadikan sebagai ‘agama konghucu’. Padahal di Tiongkok sana, konghucu adalah kepercayaan dan filsafat hidup… di Indonesia malah dijadikan ‘agama’…

  6. Kita kesampingkan dulu falsafah salah kaprah yang menyamaratakan komunisme dengan atheisme itu…

    Nah, entah kenapa di Indonesia ini agama menjadi sebegitu resminya. Betul itu, kenapa semua kepercayaan dibakukan menjadi agama? Kayaknya struktur pemikiran masyarakat sudah dibentuk dengan menjadikan agama yang baku sebagai satu-satunya pendekatan religius…😐

    Hapuskan kolom agama dari KTP, bagaimana?😀

  7. Ya, status beragama seakan-akan dijadikan tolak ukur derajat seseorang. He?

    Dalam banyak formulir pendaftaran, kolom “agama’ seakan-akan sangat penting. He?

    tul itu, kenapa semua kepercayaan dibakukan menjadi agama? Kayaknya struktur pemikiran masyarakat sudah dibentuk dengan menjadikan agama yang baku sebagai satu-satunya pendekatan religius…

    Inilah yang terjadi. Konghucu dijadikan ‘agama’ dengan dalih agar pemeluknya tidak dicap atheis. Lha? Lha?

  8. Tepat sasaran! Itu yang saya keluhkan! Kalau tidak ‘beragama’, konotasinya langsung ke ‘atheis’! Ini tidak tepat!

    Agama itu hanyalah salah satu alternatif pendekatan religius… Terlalu sedikit orang yang memahami hal ini.

  9. agamanya dibakukan jumlahnya biar gampang belajarnya di SD,,😛

    Ma baru tau juga lho,, -diajarin Geddoe- kalo orang bisa percaya sama tuhan tapi ga cocok sama pilihan agama yang ada,, -mungkin kalo dibahasa Ma, jadi ilfil??-

  10. kembali ke kritis,

    menurut anda apa yang ada dihadapan kita sekarang kurang kritis?

    bukankah yang kurang kritis itu hanyalah komunitas saja?😆

  11. Yang kurang kritis itu memang komunitasnya. Namun pemikiran suatu komunitas yang besar, bisa membentuk opini publik. Hasilnya, sifat kritis bisa jadi tidak terlalu umum…😕

  12. Jadi ingat tulisan lama (URL di namaku)….

    Agama sebenarnya cenderung ke komunitas sih…
    kalau sendirian, kayaknya jarang menyebut sebagai agama.

    Untuk soal agnotis…
    jadi ingat, aku pengen nulis tentang shabi’in (untuk kesekian kalinya) yang kaitannya dengan agnotis. (Dan memang ada yang menafsirkan shabi’in sebagai agnotis kalau di masa sekarang).

  13. Saya tidak menyetujui ‘pembakuan’ suatu agama atau bentuk kepercayaan apapun. Naskah-naskah kenegaraan awal RI pun terkesan berlandaskan Islam dan berat sebelah, bukan? Jadi sejak awal sistem yang hendak ditanamkan ke negara ini terkesan memang tidak lapang dada.

    Soal ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ misalnya. Lupakan dulu trinitas, karena pada doktrinnya trinitas juga suatu bentuk keesaan. Bagaimana dengan Hindu yang banyak mengandung aliran-aliran politheistik, atau Buddhisme yang sebaliknya malah sering dicap agama nontheistik (bahkan atheistik)?

    Dikotak-kotakkan.

    Btw soal shabi’in (Ini pada 2:62 bukan?), memang ada yang menafsirkan sebagai kaum agnostik. Sebab, setahu saya secara historis memang kaum ini kepercayaannya berganti-ganti. Penafsiran sebagai agnostik cukup beralasan, kok😀

    Tapi yang lebih menarik lagi sebenarnya maksud dari 2:62 yang kontroversial itu:mrgreen: Apakah Islam mendukung omnitheisme?😛

  14. kalo dah ngomongin agama berat yahh jadinya…..*menghela nafas*
    saya juga mgkin sperti geddoe, ga tau masuk kelmopk2 mana…yg penting berusaha spy tiap harinya bs jadi lebih baik,,,soalnya buat ng-realisasikan itu aja udh susah…

    “Intinya, kepercayaan itu kompleks. Tidak bisa dikotak-kotakkan.”
    apa berarti bulet ato segitiga? *ngawur buanget*
    he…🙂

  15. kalo dah ngomongin agama berat yahh jadinya…..*menghela nafas*
    saya juga mgkin sperti geddoe, ga tau masuk kelmopk2 mana…yg penting berusaha spy tiap harinya bs jadi lebih baik,,,soalnya buat ng-realisasikan itu aja udh susah…

    Yap🙂

    “Intinya, kepercayaan itu kompleks. Tidak bisa dikotak-kotakkan.”
    apa berarti bulet ato segitiga? *ngawur buanget*
    he…🙂

    Shapeless:mrgreen:

  16. Numpang nimbrung nih Mas…
    Hm.. Seperti biasa, terlihat bahwa Anda memang benar-benar menyelami teologi.🙂
    .
    Saya jadi tertarik bergabung, soal pendapat Om Siapaitunamanya “Agama-agama selalu bertengkar, berperang, dan menumpahkan darah satu sama lain. Karena itulah, saya adalah seorang atheis.”
    Nah, saya sempat punya pengalaman unik tentang ini. Waktu itu ketika saya SMA, seorang guru SMA saya menggambar sesuatu (kalau tidak salah lensa cembung) yang bila sekilas dipandang mirip dengan lambang salah satu partai. Teman saya tiba-tiba nyeletuk nama partai tersebut di depan Ibu guru. Bisa dibayangkan suasana kelas yang membosankan dan penuh dengan kemanyunan secara mendadak berubah agak hot. Bisa dibayangkan pula bahwa seorang teman saya, yang notabene masih SMA, sudah mahfum dengan arti “bersimpati” ke partai, walau belum pernah mencoblos.

    Mendengar celetukan teman saya, guru fisika saya langsung berkomentar “Ah, saya sudah skeptis dengan partai, janji2 melulu. Mending golput”. Mendengar itu, saya langsung teringat perkataan guru saya yang lain “Jika Anda golput, apa wujud dari tanggung jawab Anda terhadap negara?”. Tentu Anda tahu mata pelajaran yang diberikan guru tersebut bukan? Yup. PPKn.

    Memilih salah satu agama bukanlah berdasar pemikiran yang sedangkal semisal “kelahiran”, “kebetulan” atau kah sebab2 lain yang terkesan “sudah begitu dari sononya”. Seseorang bisa saja menjadi atheis, walau sudah ustad. Dan sebaliknya, seorang yang beranggapan Tuhan tak ada, bisa jadi pemuka agama.

    Kalau kita lihat, sebenarnya agama itu simpel. Bahkan kata guru ngaji saya, orang atheis pun sebenarnya punya Tuhan. Siapa Tuhan para atheis? Egonya sendiri. Orang atheis cenderung hidup tanpa juntrungan, kalau boleh dibilang tak bertujuan sama sekali. Kata Ayah saya, “luntang lantung”…

    Kalau memang kebenaran itu memang tak bisa diambil dari sisi eksternal, mengapa tak menggunakan hal mutlak yang pasti dimiliki manusia? Yup. Akal. Seatheis-atheisnya orang atheis, pastilah dari lubuk hatinya yang paling dalam, menginginkan kepastian setelah kematiannya. Banyak kok contohnya…🙂 CMIIW

  17. He? Saya tidak sedang membicarakan atheisme, tapi pengorganisasian dan pembakuan agama. Bagaimana pendapat dan interpretasi agama secara umum dibakukan sebagai satu-satunya pendekatan pada Tuhan🙂

    Saya sendiri tidak menganut paham atheisme. Saya sudah membaca tulisan-tulisan para atheis dan argumennya masih saya anggap lemah.

    Ini hanya tentang pendirian saya bahwa ‘tidak beragama bukan berarti atheis — orang yang tidak beragama ternyata punya pendekatan religius yang unik’. Ini yang saya dapati pada individu-individu seperti Voltaire, Jefferson, dan tentunya Franklin😀

  18. Numpang nimbrung nih Mas…
    Saya nggak menganggap Anda atheis kok?🙂 Maap kalo saya salah tangkap.
    Cuma mau menanggapi bagian yang di quote aja..🙂

  19. Pingback: In God We Trust « RosenQueen Company

  20. Pingback: Gimana caranya untuk memulai belajar,, « Ma-Me-Ma,, Just being Me!!!!

  21. Argumen problem of hell, mas. Ini argumen yang betul-betul mengganggu saya. Menurut isi kepala saya ini jelas kejam, dan saya mutlak mewajibkan diri saya untuk mempercayai bahwa INTERPRETASI mainstream agama-agama pada saat ini adalah tidak tepat. Apalagi setelah saya mendengar justifikasi-justifikasi ulama, antar agama, mulai dari tempat konsultasi syariah saya (nama disensor, hehe😛 ) sampai quote-quote santo sekelas St. Augustine atau St. Francis Xavier.

    He? Menang lotere? Haha, semoga kita semua menang lotere:mrgreen:

  22. Pingback: Operation Deicide? « RosenQueen Company

  23. Pingback: Surga dan Kepekaan Sosial « RosenQueen Company

  24. Bukankah salah satu sifat Tuhan adalah Maha Adil?

    Maha Adil tidak akan membiarkan perlakuan sama terhadap orang yang dilahirkan di keluarga “benar” dengan orang yang dilahirkan di keluarga “salah”.

    Dengan akal saja kita sudah tahu bahwa Tuhan melampaui semua makhluk dan benda ciptaannya, termasuk waktu dan ruang. Jadi kenapa kita menganggap yang dilahirkan di keluarga “salah” akan masuk Neraka, dan yang “benar” masuk surga?

    Apakah seseorang yang lahir di Pulau terpencil di tengah lautan juga akan diadili sama dengan seseorang yang lahir di kota besar?

    Walaupun diceritakan bahwa sebelum lahir, setiap Jiwa sudah mengikat janji dengan Tuhan, keadaan itu menurut saya tidak akan menghapuskan sifat Tuhan yang Maha Adil

    saya sih menganggap Tuhan itu Mutlak. Lebih mutlak dari mutlak itu sendiri🙂

    .

    permisi🙂

  25. Tulisan ini mengkritik konsep berTuhan yang oversimplikatif. Pada interpretasi agama populer saat ini, Tuhan itu terkesan tidak adil — saya berpendapat bahwa hal itu berlawanan dengan sifat ketuhanan yang adil. Persis seperti yang mas/mbak tulis barusan😛

  26. Pingback: Proud of Being Agnostic (?) « sora-kun.weblog()

  27. Pingback: Mereka yang mulai duluan! « all hail rozenesia™

  28. Pingback: GunawanRudy[dot]Com» Blog Archive » Mereka yang mulai duluan!

Comments are closed.