Killing in the Name

abraham dan isaac (atau ishmael dalam quran) Saya tidak terlalu ingat detil bagaimana caranya saya sampai ke link ini, yang pasti lumayan membuat berpikir.

* * *

Texas, 2003 — Deanna Laney (39) mengendap keluar kamar tidur pada pukul 23:30 di malam hari, kemudian menghabisi nyawa anak-anaknya. Joshua (8) dan Luke (6) tewas setelah dipukuli dengan bongkah-bongkah batu; sedang Aaron (1!) berhasil selamat walau terluka parah. Setelah itu, Laney menghubungi 911 untuk mengaku dan bertanggung jawab.

Pertanyaannya jelas. Kenapa?

Nah, ini yang membuat miris. Laney yang memang terkenal religius, ternyata melakukannya juga atas nama Tuhan. Rupanya ia ini mengaku mendapat wahyu a la Ibrahim a.s. Menurutnya, Tuhan mewahyukan bahwa kiamat sudah dekat, dan sebagai ‘orang terpilih’, ia (dan seorang wanita lain bernama Andrea Yates) mesti ‘membuktikan kesetiaannya pada Tuhan dengan menghabisi nyawa anak-anaknya’.

Lebih jauh lagi, ia menganggap bahwa ia mesti menghabisi nyawa mereka dengan metode yang sadis. Jadi ia membatalkan rencananya menghabisi mereka dengan cara menikam atau mencekik — karena metode yang memungkinkan mereka untuk mati dengan merasakan sedikit rasa sakit berarti belum mematuhi Tuhan sepenuhnya.

Yang betul-betul membuat saya gemas tentunya adalah bahwa Laney menganggap bahwa ia BENAR. Itu saja. Laney sendiri menderita. Ia benar-benar tersiksa ketika membunuhi anaknya. Jadi siapa yang salah? Sebab tidak ada yang diuntungkan atas insiden ini!

Sebenarnya kasus ini akhirnya menjadi rumit karena pembelaan yang mempertanyakan masalah kejiwaan Laney, dan berbagai persoalan lain, tapi saya tidak tertarik membahasnya lebih jauh. Cukup sampai di sini saja, sebab yang membuat saya tertarik adalah atmosfer monastisisme yang pekat di sini. Monastisisme percaya bahwa penderitaan adalah simbol dari ketaatan. Itu sebabnya banyak sekte keagamaan di dunia yang menekankan penderitaan sebagai bagian dari keshalihan. Buddhisme misalnya, yang jelas-jelas mempromosikan hal seperti ini. Ingat kasus Ram Bahadur Bomjon, sang Buddha baru? Bisa kita lihat betapa kurang gizinya bocah delapan belas tahun itu, bukan? Tentunya yang begini ini melebar ke paham asketisme — misalnya pengharaman seni pada berbagai aliran agama (setahu saya, contohnya adalah beberapa aliran Salafiyah dan kajian Deuteronomy pada Alkitab). Saya sendiri lebih tertarik pada pandangan Leopold Weiss bahwa Islam tidak mempromosikan asketisme. Mungkin karena inilah saya tidak sepenuhnya mendukung sufisme. Padahal sufisme minus monastisisme mungkin cukup ideal sebagai sumber referensi dan renungan😉 Sekarang mungkin saya masih berputar-putar di sekitar Islam, dengan suplemen Sufisme, Deisme, dan Omniteisme.

Ahem, kesimpulannya, kasus Bu Laney membuat saya miris. Titik:mrgreen:

In the afterlife, we’ll reap.
——— Audioslave, “Revelations”

In God We Trust. RosenQueen, company.

33 thoughts on “Killing in the Name

  1. Wah, kasus yang aneh.

    Saya kira penyebabnya adalah kefanatikan. Tapi kalau dibilang, misalnya, itu adalah benar – benar pesan dari Tuhan, saya belum tentu bisa percaya. Ah, saya tarik, saya tidak akan percaya.

  2. Buddhisme misalnya, yang jelas-jelas mempromosikan hal seperti ini.

    Sang Buddha berkata, hidup ini adalah penderitaan.🙂
    Lalu: Sumber penderitaan adalah nafsu.

    Bisa saudara tafsirkan…?

  3. Menyeramkan…
    Jadi ingat kasus mirip-mirip yang terjadi di Indonesia tahun lalu… bedanya yang di Indonesia motifnya enggak sampai masalah “wahyu” begini…

    Huff… tragis gini, ngulang lagilah, seram!!!

  4. sdjg dshkghisd *keriting

    Hmm, kasusnya memang aneh. Membunuh (anak sendiri) atas nama Tuhan? Memangnya dia Nabi Ibrahim? Membunuh atas nama Tuhan dalam konteks Jihad membela agama masih masuk akal. Tapi ini sih di luar logika.

    asketisme itu apa? lalu deisme dan omniteisme?

  5. what a tragic …

    aku rasa di kasus seperti ini … logika ngga bisa diperhitungkan, karena dipikir kaya gmn pun, akan berujung ke 2 kesimpulan,
    1. ibu tsb over-dosis tingkat kefanayikannya
    2. seperti yg kamu bilang, ibu tsb “sedikit” terganggu kejiwaanya.

    kadang manusia seringkali bertindak seakan-akan mengetahui kehendak Tuhan … “maksudnya apa ya ???”

  6. @ Master Li
    Eh…? Hidup tanpa nafsu == tidak menderita?
    @ jejakpena
    Mengerikan, ya? Pernah dengar yang lebih mengerikan?
    @ divineangel
    Menurutnya, dia menerima wahyu…
    Soal yang itu, wikipe sajalah
    @ jurig
    Kabarnya, pengacara ibu itu memang tadinya mengusahakan keringanan hukuman dengan menegaskan bahwa ibu itu kejiwaannya terganggu.
    @ manusiasuper
    Yap, Tuhan tidak mungkin memerintahkan kekejaman, bukan?

  7. *mikir*

    Memang kalau dipandang sekilas kelihatannya mustahil Tuhan memerintahkan kayak gitu. Tapi, kalau jadi ibu tsb… gimana caranya kita membedakan antara ‘wahyu’ dan halusinasi semata?

    Bahkan Nabi Ibrahim pun nggak tahu lho (pada awalnya) bahwa Ismail aslinya akan selamat.😕

    (mungkin itu juga sebabnya banyak klaim nabi palsu belakangan ini🙄 )

  8. Edyan….. teganya-teganya-teganya…..

    Ya, kalau udah menyangkut sudut pandang udah gak bisa komen….

    Semua merasa bener…

  9. Hmm.. mendengar membaca kasus ini jadi teringat tentang Magda Goebbels yang membunuh keenam anaknya dengan sianida. Kelihatannya tujuannya mirip, merasa ‘benar’ (agar tidak terpengaruh doktrin lain selain Naziisme), walaupun caranya agak berbeda (Magda membunuhnya ketika tidur).

  10. Pingback: Adolf dan Helga « RosenQueen Company

  11. Cerita yang tragis….

    Membuat saya jadi sering bertanya-tanya, apa itu fundamentalisme, fanatisisme, monastisisme, sufisme, dlsb. Tapi sepertinya saya mendapat kesimpulan kalau asketisme dan monastisisme akan menghasilkan tragedi diatas, benarkah ? Dari urutan cerita dan pembahasan dibawahnya sepertinya memang begitu.

    correct me if i’m wrong….🙂

  12. Kalau menurut pandangan saya, yang membuat pelik itu kalau seorang penganut asketisme/monastisisme/apalah itu membuat orang lain turut serta menderita bersamanya…🙂

  13. Pingback: Membuka Tirai Dengan Basa-Basi « Deathlock

  14. Saya tahu lah soal Ismail diganti. Yang saya singgung itu apa maksudnya dia bilang dapat wahyu membunuh anaknya??! Edan!

    Jelas ga sehat…

  15. @ divineangel
    Wallahualam, deh:mrgreen:

    @ kunderemp an-Narkaulipsy
    Secara normal, toleransi saya kepada orang mungkin sejauh toleransi orang tersebut kepada saya🙂

    Itu kalau sedang normal. Kalau saya sedang baik, bisa lebih — kalau sedang sewot, bisa kurang😛

  16. aku pikir (kalau masih boleh mikir), Ibrahim itu contoh buat kita kalo Tuhan ingin berkata, “Anak muda, Aku tidak akan memerintahkan untuk melakukan hal yang kejam.”

    Skenarionya memang sedikit menegangkan, sih. Yeah, Dia kan memang Sutradara Maha Handal. Biar penonton deg2an. Tapi klimaksnya, Ismail diganti.

  17. Sebenarnya pada beberapa tafsir Qur’an alternatif, skenario penyembelihan ini tidak ada sama sekali…😕 Saya sendiri ketika ditanya menyoal kebenaran kejadian ini, ya, Wallahualam saja…

Comments are closed.