Seni Dibodoh-bodohi

*Mukul-mukul panci*

Ahem. Kali ini saya akan menuturkan sebuah kisah, saudara-saudara. Pelik, pahit, lucu, tragis, melebur menjadi satu. Dapat dinikmati sebagai cerita, atau sebuah kritik sosial. Terserah anda. Pengalaman mengajarkan saya bahwa tafsiran dari satu bacaan bisa berbeda-beda.

Week... X3
“Membodoh-bodohi, dibodoh-bodohi, terbodoh-bodohi, semua ada seninya.”

Dalam kisah ini, terdapat tiga pelakon utama;

  1. Pak Ayyub (48)
    Pak Ayyub ialah seorang lelaki yang dikenal begitu alim. Sebenarnya pada masa-masa awal hidupnya, ia tidak dipanggil dengan nama Ayyub, melainkan Wisnu. Sebab, sang bapak berikut sang ibu yang melahirkannya memberikannya nama Wisnu. Ia, tentu saja, pada waktu nama itu diberikan padanya, belum bisa protes. Pada kelanjutan hidupnya, sejumlah orang berjanggut indah berhasil meyakinkan Wisnu muda bahwa namanya adalah jelek, dan sang orang tua telah salah memberi nama. Sebab menurut kaum berjanggut indah tersebut, Wisnu adalah nama berhala. Adapun sejak saat itu Wisnu dikenal dengan nama Abu Ayyub Al-Sabbariy. Karena cita-cita Wisnu adalah menjadi orang yang sabar, seperti nabi Ayyub a. s. Bedanya, kalau nabi Ayyub punya banyak anak, entah kenapa sampai sekarang pak Ayyub belum ada momongan.
  2. Bu Ayyub (31)
    Bu Ayyub, tentu saja, berarti istri dari Pak Ayyub. Sebab, tidak mungkin wanita bernama Ayyub🙂 Nah, anehnya, Bu Ayyub ini cantik, tidak serasi dengan suaminya. Masih muda, lagi. Tidak heran, goncangan rumah tangga Ayyub selalu datang dari Bu Ayyub. Pasalnya, banyak duda-duda kaya yang gemar menyantroni dan merayu-rayu Bu Ayyub ini.
  3. Noer (29)
    Seorang mahasiswa abadi. Jurusan apa, tidak penting. Noer lumayan sering membaca-baca masalah agama, namun karena pendapatnya berbeda dengan beberapa ‘tetua’, kaum berjanggut indah kerap menyapanya Abu Dajjal Al-Syaithani. Ia, tentunya tidak suka dipanggil demikian. Baginya, ia tetaplah Noer. Sialnya, beberapa anak di kompleks tempat tinggalnya mulai akrab menyapanya Dajjal.

Baiklah. Sudah siap?

.

.

.

Scene 1

Hari itu hari Kamis. Sedikit terik, tapi ada gerimis kecil. Pak Ayyub memilih duduk-duduk di depan teras rumahnya. Mulutnya komat-kamit, kemungkinan besar memuji sang Khalik tanpa henti. Ia masih memakai sarung bekas shalat Ashar beberapa menit yang lalu. Kopiahnya juga masih bertengger di atas kepala. Matanya sesekali tertutup, tapi mulutnya komat-kamit nonstop.

Tiba-tiba, Noer menghampiri Pak Ayyub, sembari tergopoh-gopoh. Orang tua itu pun menghentikan komat-kamitnya. Ia berdiri untuk menyambut Noer yang basah kuyup.

“Pak. Gawat, Pak.”, katanya sambil tersengal-sengal.

“Apanya yang gawat, Jal?”

“Bu Ayyub, Pak. Bu Ayyub!”

“Kenapa dengan Ibu?” sahut Pak Ayyub sambil mengelus-elus jenggotnya.

“Bu Ayyub tadi turun dari mobil sedannya juragan karet! Ini sudah yang kedua kalinya!”

Pak Ayyub terdiam. Ia mengelus jenggotnya sambil komat-kamit. Setelah selesai, ia tersenyum. Lalu menepuk-nepuk pundak Noer dengan bijak.

“Kamu masih muda, Jal. Masih hijau.”

Noer, yang semangkin terbiasa disapa Dajjal, terpana. Ada yang salah di sini, pikirnya. Kenapa Pak Ayyub malah senyum? Mestinya dia masygul kalau-kalau istrinya ternyata mulai rutin dicolek-colek sang juragan karet…?

Pak Ayyub malah senyum penuh wibawa, “Kamu ada bukti? Ada foto, misalnya?”

“Ya elah, Pak. Ke kampus saja saya jalan kaki. Mosok saya ke mana-mana bawa kamera? Duit dari mana?”

Pak Ayyub ketawa. “Saksi lain, ada?”

“Waduh, pak. Nggak ada.”

Pak Ayyub ketawa lagi. Noer mulai agak panas, merasa diremehkan. Pundak Noer pun ditepuk-tepuk lagi oleh Pak Ayyub, sambil membacakan ayat Al-Qur’an beserta hadits yang melarang mengikuti kata-kata orang banyak. Diteruskan dengan beberapa ancaman neraka yang sebenarnya sudah tidak relevan dengan topik.

Noer pun hanya bisa terdiam, sembari menyaksikan Pak Ayyub melangkah ke dalam rumah, penuh wibawa.

Scene 2

Hari itu hari Jumat. Sudah malam, dan ramai dengan bebunyian jangkrik. Pak Ayyub ada di depan teras, berdiri seperti patung dengan mulut yang masih rajin berkomat-kamit.

“Pak Ayyub! Gawat, Pak, gawat!”

Orang tua itu menoleh ke arah teriakan yang di dengarnya barusan. Noer, dengan kemeja lusuh, jeans sobek-sobek, dan sendal jepit kusam merk Nike, berlari-lari panik ke arahnya, lalu dengan segera menyambar tangannya.

“Ikut saya Pak! Ayo, sekarang!”, seru sang mahasiswa kere tersebut. Seluruh badannya basah oleh peluh.

Pak Ayyub bergeming. Ia tersenyum penuh wibawa. Sesaat setelah ia mulai membacakan ayat-ayat dalam bahasa Arab, Noer langsung menyahut, “Ikut dulu deh, Pak! Sok kerennya belakangan!”. Lalu ia pun sukses dengan semena-mena menarik sang bapak sampai beberapa ratus meter.

Bisa diduga, Pak Ayyub tersengal-sengal, mandi keringat, dan sesak napas selayaknya hendak sakratul maut. Ia pun nyaris tumbang dan terkapar di aspal kalau saja Noer tidak menyangga berat badannya yang kurus kerempeng itu. Noer lalu membawa orang tua di pangkuannya bersembunyi di balik gerobak bakso.

“Nah, bangun Pak, lihat tuh. Lihat.” bisik Noer.

“Astaghfirullah aladziim, ada apa, Jaaal!? Appaaa…!?” Teriak Pak Ayyub, namun mulutnya segera disumpal oleh Noer. “Jangan berisik, Pak, nanti ketahuan! Lihat tuh, Bu Ayyub, sama juragan karet. Mesra-mesraan.”

Pak Ayyub pun melihat ke arah telunjuk Noer. Benar adanya. Bu Ayyub (tanpa kerudung seperti biasanya) ketawa-ketiwi dengan sang juragan karet. Acapkali jemari sang juragan mampir di pipi Bu Ayyub, yang lalu tersipu-sipu sambil ketawa centil. Noer sampai melotot.

Anehnya, Pak Ayyub malah tetap senyum, sambil mengatur napas. “Pulang, yuk, Jal.”

“He? Udahan, Pak? Nggak negur Bu Ayyub? Itu di depan mata, Pak! Saya nggak bohong, tho?”

Pak Ayyub ketawa lagi. Lalu berdehem. Dan mulai berceramah, “Bapak percaya sama Ibu. Ibu itu orangnya baik. Selalu menjaga diri. Setia sama bapak.”

“Lha, itu, barusan kita lihat pakai mata kepala kita…”

“Mungkin juragan karet itu saudara jauhnya…”, bela Pak Ayyub.

“Saudara jauh bukan muhrim tho?”

“Kalau begitu, saudara dekat…”

“Kalau saudara dekat, mestinya sudah tahu dari dulu atuh, Pak!”

Pak Ayyub terdiam. Kehabisan alibi.

“Mungkin…” lanjut lidah tuanya.

“Mungkin kenapa lagi, Pak?”

“Mungkin yang di sana itu cuma orang yang mirip sama Ibu.”

“Masya Allah, Pak. Sedekat ini, mah, jelas. Itu istri bapak. Bajunya sama sama yang dipakai ibu sewaktu pergi ke surau tadi.”, ucap Noer sambil geleng-geleng.

“Ya, mungkin bajunya sama.”

“Wadoh, maksa, Pak. Kalau ada yang semirip itu sama ibu, kampung kita sudah geger dari dulu. Itu ibu. Bangun, Pak!”

Kemudian Pak Ayyub tersenyum dengan begitu manisnya. Wajahnya seakan bercahaya. Dengan pandangan mata penuh wibawa, ia bersabda.

“Jangan terlalu mendewakan pikiran. Yang penting itu hati. Kalau hati sudah percaya, mau bagaimanapun, tetap percaya.”

Mendengarnya, Noer meneteskan air mata. Menangis, lantaran gemas. “La ilaa ha illallah… Pak. Itu sudah jelas, buktinya, Pak. Kurang apa lagi? Pakai otak, Pak…”

Namun, wajah Pak Ayyub masih bercahaya. “Setan selalu ada untuk menyesatkan kita. Menyesatkan pikiran kita. Jangan mengikuti rasa curiga, itu hawa nafsu. Pakai hati. Coba percaya. Insya Allah, akan selalu tenang.”

Dan Noer pun menyerah. Matanya memerah. Frustrasi.

Scene 3

Hari itu hari Sabtu. Masih pagi, daun-daun masih basah. Pak Ayyub ada di surau, duduk di pojok sambil bersila. Seperti biasa, dengan tetap berkomat-kamit. Di sebelahnya, sejumlah kaum berjanggut indah sedang berbincang-bincang.

Abu Dajjal Al-Syaithani kemudian ngeloyor masuk ke dalam surau. Pandangan beberapa bapak-bapak dengan janggut indah itu tertuju ke arahnya. Lalu ke arah kaos oblongnya yang bergambarkan Stone Cold Steve Austin. Kemudian mereka berkomat kamit. Dari gerak bibirnya, kemungkinan besar berbunyi Audzubillahiminassyaithaanirrajim.

Noer, sang Abu Dajjal, pun mulai membongkar-bongkar sudut surau yang berisi buku-buku, dan mulai membaca sambil bersungut-sungut. Beberapa saat berselang, Pak Ayyub menghentikan ritual komat-kamitnya dan mendekat ke arah Noer.

“Assalamualaikum, Jal. Apa saya bilang, yang penting kita mesti percaya. Lihat, Alhamdulillah, kekhawatiranmu tidak terbukti!”, sapa Pak Ayyub, berseri-seri.

“Waalaikum salam…” sahut Noer, sembari meletakkan bukunya. “Lha? Maksud bapak?”

Pay Ayyub mengangguk mantap. “Istri saya nggak main serong, kok.”

Noer semakin tidak mengerti. Ia cuma menggaruk-garuk kepalanya, yang sebenarnya tidak gatal.

“Kemarin saya tanyakan istri saya sehabis pulang dari surau,” lanjut Pak Ayyub sambil duduk. “Katanya, dia selalu ada di surau, Jal. Dia nggak ketemu sama si juragan karet!”

Noer menepuk dahinya sendiri. “Ya iyalah, Pak. Kalau bapak nanya sama ibu, ibunya pasti bohong…”

Pak Ayyub lalu tertawa. Noer mulai merasa tidak enak. Pak Ayyub seringkali tertawa tidak pada tempatnya.

“Pemikirannya sederhana saja, ‘kan, Jal. Bapak percaya sama ibu. Ibu bilang dia nggak ketemu sama juragan karet. Ya berarti selesai, masalahnya. Kita cuma salah sangka.”

“Ya, masalahnya sekarang sama ibu itu sudah nggak bisa main percaya saja, Pak.”

“Lho, kenapa begitu?”

Noer menghela napas. “Ibu bilang dia nggak ketemu, kita lihat pakai mata kepala sendiri kalau ibu itu ketemu sama juragan karet. Berarti ibu itu, maaf, bohong. Kalau seseorang sudah bohong, perkataannya mesti dicek dulu kebenarannya.”

“Jangan langsung menyalahkan ibunya dong, barangkali mata kita yang salah…”

“Astaganaga, Pak, dengar—”

Lagi, perkataan Noer dipotong tawa penuh wibawa Pak Ayyub, yang semakin lama semakin tidak pada tempatnya.

“Kamu itu terlalu banyak curiga, Jal. Terlalu menuhankan rasiomu. Hidup itu perlu pegangan yang kuat. Makanya, utamakan hati. Lihat dengan mata hati. Kamu masih muda, belum mengerti.”

“Tapi, Pak—”

“Ssst. Renungkan kata-kata saya. Belajar lagi.” katanya sambil tersenyum penuh wibawa.

Noer membatu. Ia ingin menangis lagi lantaran gemas meladeni sang orang tua, tapi ia malu.

Scene 4

Hari itu hari Rabu. Tengah malam yang hitam. Orang-orang berkumpul di rumah Pak Ayyub, yang telah berpulang. Kegegerannya merambah satu kampung. Semua orang pun berduka. Sementara beberapa kaum berjanggut indah sibuk berkomat-kamit, Noer hanya mampu berdiri di depan halaman rumah beliau bersama sejumlah temannya. Sambil merokok, memikirkan kenangan-kenangan bersama almarhum.

“Katanya Wak Ayyub meninggal minum racun pengerat,” sela salah seorang teman, sembari sibuk mengunyah bolu gulung.

Noer tidak menjawab, cuma mengangguk.

“Kok nggak kecium, ya. Baunya lumayan menyengat, lho,” gumam sang teman sambil meraih bolu yang lain.

“Dicampur ke kopi, ya, katanya?” sambung teman yang lain. Yang ini aktif mengunyah keripik singkong.

Teman yang melumat bolu tadi menyahut, “Kalau kata Bu Ayyub sih, salah campur apaaa, gitu.”

“Tapi kok Wak Ayyub nggak curiga sama sekali, ya, Jal? Baunya beda jauh tuh. Dosisnya ‘kan lumayan gede.”

Noer cuma tersenyum kecut.

“Agak mencurigakan juga, ya. Tadi Bu Ayyub dibawa ke kantor pulisi, lho,” gumam sang pelahap keripik.

“Diminta keterangan, katanya.”

“Sendiri?”

“Ditemani, sih. Sama laki-laki. Saudaranya mungkin.”

“Siapa? Kenal nggak, Jal? Dari tadi diam melulu.”

Noer pun tertawa. Ia mematikan rokoknya.

“Itu sih juragan karet kampung sebelah.”

.

.

.

Interpretasi diserahkan sepenuhnya pada pembaca:mrgreen:

.

.

.

“Those who can make you believe absurdities, can make you commit atrocities.”

Voltaire                                           

In God We Trust. RosenQueen, company.

93 thoughts on “Seni Dibodoh-bodohi

  1. Nice !!

    Horee pertamakalinya jadi pertama😄.

    Saya malah heran, apa ada yah di dunia nyata yg kayak begini ini =(.Kyknya ini cuman terjadi di Indonesia deh. Kasian yah =(. Btw Geddoe, kok kayaknya anda punya banyak sekali encounters sama pihak2 berjanggut indah ini yah, makanya hidup anda tidak tenang😄.

    Ignorance is a bliss, kalo liat ada nggak beres dikit mendingan kaboor (y).

  2. Numpang nimbrung nih Mas…
    Hehehe.. Ceritanya keren! Kalo ga salah tangkep, mirip dengan cerita saya tentang P, M, dan S dulu itu.

    Mas, jadi menurut Anda. Batas antara pemikiran rasional dan prasangka baik itu bagaimana? Saya juga masih bingung nih…

  3. Eh, iya, ya, mirip…😆
    Maaf, mas, bukannya nyontek, lho😦

    Batasnya? Lha, saya juga bingung. Makanya nulis. Yang perting uneg-uneg tersalurkan dulu:mrgreen:

  4. Numpang nimbrung nih Mas…
    Waduh, selisih 13 menit langsung dijawab! Hebat! Anda pantas menjadi moderator forum-forum besar Mas!!

    Back2topic. Nggak kok.. tulisan saya dicontek juga ga masalah.. Asal ehm.. transfernya entar dikirim ya? Hehehe.. becanda.

    Mas, mungkin saya salah mengerti soal semakin dan semangkin itu, soalnya referensi saya KBBI versi jadul. Iya nih. Kalau saya tahu nanti saya kasih info soal bedanya rasional dan prasangka baik ya? Aseli keren tulisannya!

  5. Walah,, sibuk sih sibuk,, sempet aja tapi bikin posting panjang gini,,

    Jadi inget Papa-Ma pernah bilang, “Su’udzon (tulisannya kalo salah maap ya,,) dalam keadaan normal itu salah, Husnuzon di keadaan abnormal itu konyol,,”🙂

    tapi, kalo dia ga ngerasa dibo’ongin (bener bener, dia cuma buat nenangin diri), dia ga bakal nyesel ga sih,,?? tapi dia udah meninggal ya,, ga bisa ditanyain nyesel apa ngga,,

  6. Noer sepertinya memang harus belajar lebih banyak lagi, Mr. Geddoe. Ia harusnya berbahagia dengan kepergian Wak Ayyub, karena sekarang Wak Ayyub pasti sedang berbahagia dengan 70000 perawan di surga sana.

    *ahem*

  7. eeee…..
    kemeja lusuh…celana jeans robek2…untung sendalnya bukan selop nike.
    kalo selop nike, badalaaa…bisa jadi aku banget😛
    kakakakakakakaka!

    belajar lagi, mas. jangan menuhankan akal!

  8. itu kenapa wadehel mode?? hmmppfff… kesannya kok melibatkan saya banget.

    Penyajian cerita mirip bangaip, tokohnya mirip joesatch, ceritanya mirip pramur? kenapa ditulisnya wadehel mode? Jangan bawa2 yang tidak perlu dong, ga ada unsur wadehelnya deh.

    btw, ini:
    -Tertawa tidak pada tempatnya
    -obral ancaman neraka yang garing n tidak relevan
    -yang penting yakin, pake hati jangan pake otak
    -gagal mikir
    Kok mengingatkan pada golongan tertentu ya?😛

    Ah, sudahlah, tar di hapus yaa

  9. wah…tragis banget ceritanya. heran, hari gini masih ada yang polos kayak gitu tapi ntar wak ayyub masuk sorga tuh. khan ga punya negatif thinking wekekekekk… sayangnya si bu ayyub ga ikut nemenin di sorga.😆

  10. @ wadehel
    *tersadar*

    Iya, ya. Tadinya memang mau niru-niru wadehel, tapi setelah jadi kok nggak ada unsur wadehelnya ya?😐 Dihapus deh, sesuai rikues.:P

    Mengingatkan pada golongan tertentu? Lha ‘kan saya bilang juga ini cuma analogi…:mrgreen:

    @ cK
    Yah, semoga surga masih menerima orang bodoh… Tapi kalau saya jadi Tuhan, saya kasih jatah di surga-surga bawah sih…😛

  11. Abu.:mrgreen:

    Tidak suudzon itu baik, lho. Tapi khusnudzon yang berlebihan itu agak aneh…Jadi menuhankan prasangka juga tidak baik.

    Bertuhankan akal nanti potensi jadi atheis. Lebih tidak baik lagi.

    Hahaha…membingungkan.

  12. wadehel mode jadi mukul mukul panci???

    gapapa,, beri kredit pada orang yang berbaik sangka, penurut, buta huruf dan lain lain,, kan surga juga gede buat semuanya,,

    *Paling yang liat aja yang gemes,,*

  13. @ Death Berry
    Saya malah tertarik sama yang menuhankan hati…😆

    @ Rizma Adlia
    Makanya saya bilang, yang gituan maunya dijatah surga-surga ekonomis yang agak-agak ke bawah😮

  14. kasian siih,, mungkin mereka susah lho proses menjadi orang yang berprasangka baik abis abisan, atau jadi penurut kaya apaan tau, atau juga yang menuhankan hati itu,, malah dikasi surga ekonomis,,

    eh,, kalo pake hati,, ga dianggep menuhankan hati kan?? (kok Ma jadi takut gini,,🙂 hehehe,,)

  15. @ Rizma Adlia
    Lha iya, kalau menurut saya, orang baik yang kerjanya cuma dzikir sampai punggungnya bengkok, itu surga-surga kelas bawah. Orang baik yang mati ditembak waktu demo, yang nyumbang bikin mesjid, yang jadi pejabat tanpa korupsi, itu yang di bagian-bagian atas😛

    @ Death Berry
    “Love is an emotional thing, and whatever is emotional is opposed to that true cold reason which I place above all things.”
    ———-Sherlock Holmes:mrgreen:

  16. Lha iya, kalau menurut saya, orang baik yang kerjanya cuma dzikir sampai punggungnya bengkok, itu surga-surga kelas bawah.

    Solanya kerjaan di dunianya ‘Minta – minta’. Begitu…?

  17. Menuhankan tuhan, bukan rasio, bukan juga kepercayaan berlebih… bukannya manusia memang dikasih rasio buat dipakai???

    Lagipula sehari2 sering berurusan sama calon2 “jenggot indah”…

    Ged, nama aliasnya Noer keren tuh…

  18. lagi lagi,, Ma masi mikir mereka tetep pantes dapet kredit dari ke-nurutannya, ke-kekeuh-annya, ke-apapun-nya itu,, itu tetep butuh faith dan cinta sama Allah juga kan buat bisa ngikutin ritual itu dengan konsisten,,

    Kemalasan,,? lumayan cape kok zikir kaya gitu,,

    bukan karena Ma mikir itu hal yang bakal Ma idolakan,, belajar, berjuang demi agama (dengan berbagai cara), bertahan menahan nafsu, ngasi kontribusi ke mayarakat itu bagus banget,, tapi,,

    jangan surga kelas bawah lah,, (Nawar,,🙂 )

  19. @ Tendo-soji
    Yang penting saya mau jadi orang baik saja ah. Buat apa janggut indah kalau mulut di atas janggut itu suka mengkafiri?😆

    Aliasnya… Mau pakai jadi username, tapi terlalu kontroversial ah…:mrgreen:

    @ Rizma Adlia
    Wah, kalau begitu, cara berpikir kita berbeda🙂 Buat saya, yang paling pantas buat yang begitu ya yang di bawah-bawah. Tetap surga ‘kan?:mrgreen:

  20. Interpretasi diserahkan sepenuhnya pada pembaca:mrgreen:

    hmm… hhh…
    pembaca selesai menginterpretasi…
    Kamu salah satu fenomena kompleksitas agaknya Geddhoe
    *lari*

    Eit, balik lagi, itu wadehel mode ON awalnya trus memang sengaja gak di-OFF-kan ya? Nah… nah… ini pak wadehel nya interupsi, Geddhoe 🙂

    *lanjut kabur*

  21. Tadinya mau gaya satir, tapi setelah jadi malah tersirat begitu. Makanya dihapus, selain karena rikues, karena memang nggak relevan lagi😆

  22. Hmm… Cerpen yang bagus.
    Cocok nih kalo dibaca sebagai pengntar tidur
    *lirik ke komen 15-30*
    Abu Geddoe?😕
    Jadi kamu pindah kewarganegaraan dari Harmonian ke Arabian ya? Ato jangan-jangan kamu jualan abu gosok di HSFDF?😛

  23. @ p4ndu_454kura
    Pengantar tidur?😕

    Sekarang nggak Abu lagi ‘kan?😛

    @ halludba72623
    Hah? Maksudnya?😐 Btw, sudah dilock, ya?🙂

    @ irdix
    Hehehehe:mrgreen:

    *makan roti tawar*

    *haup, haup…*

  24. Saya malah sempat ngakak melihat Abu Geddoe.

    *Jangan – jangan Geddoe sudah dicuci otaknya oleh Wahaby…?*

    *Jangan – jangan Geddoe dideportasi dari Bandar Sunway lalu memutuskan study di Arab…?*

    *Jangan – jangan Geddoe sudah mengikuti jejak komunitas Wahaby atau Safary Salafy…?*

  25. Pingback: Ngomong sendiri, mikir sendiri,, « Ma-Me-Ma,, Just being Me!!!!

  26. tapi… gimanapun tragis scene ini. Seorang suami, bagaimanapun dituntut tanggung jawabnya untuk menjaga isterinya. Apalagi untuk sekualitas Ayyub…

  27. Yak tafsiran gue…
    sebenarnya wak ayyub tuh udah tahu tapi sengaja gak mau bikin ribut. Makanya sengaja pura-pura bodoh untuk menenangkan abu dajjal.

    Kalau ia terus terang, takutnya abu dajjal emosi dan menghajar istrinya. Lagipula wak ayyub tidak ingin nama istrinya tercemar.

    Jadi,
    sebenarnya, tanpa sepengetahuan abu dajjal, wak ayyub menegur istrinya. Makanya akhirnya si istri dan juragan karet berusaha meracuninya. Padahal selama ini kan baek-baek aja.

    Lalu soal racun pengerat,
    bisa saja dipaksa menelan. Kan hasil visum belum keluar.

    Sudah ah…
    kok pada menggosip begini..
    jadi malu..
    hi hi hi hi hi……

    — Abu Kunderemp An-Narkolepsy

  28. @ halludba72623
    Kalau begitu, diam dan duduk manis saja. Konon itu hikmah, lho😛

    @ agorsiloku
    Tapi, Pak Ayyub pantas masuk surga, ‘kan…?😦

    @ kunderemp
    Wah, husnudzon-nya dahsyat amat, mas?:mrgreen:
    He? Ada yang narkolepsi di sini?😛

  29. Kayaknya saya tau maksud aslinya Mas Geddoe di sini…

    “Ya akhi… janganlah mendewa-dewakan akal!! Ikutilah keyakinan. Ikutilah kata hati!!”

    Quote bu Evy:

    Wah hmmm…jenggot2 begitu ya cara mikirnya…hmmmm… so sad…berdecak2

    -bang- o+\ (-_@)

  30. Sekuel? Apa nantinya si Noer bikin blog ya? Terus ada konfrontasi antara dia dan…

    [ah sudahlah. Jadi basbang😛 ]

  31. prasangka membuat yang muda jadi sulit dan yang gampang jadi rumit yang indah jadi penyakit dan yang manis jadi pahit marilah kita hindari prasangka jelek se jauh-jauhnya agar batin kita jadi sehat

  32. tuhh,, dibilangin ga boleh berprasangka jelek,,

    tapi kalo orang yang ngebikin kita jadi berprasangka jelek dengan tindakannya,, orang itu ga kenapa kenapa ya??

  33. @ kunderemp
    Ups, ujian sudah dekat. Mungkin kapan-kapan:mrgreen:

    @ fadelan
    …?😕
    Sudah baca, mas/mbak?😛

    @ Rizma Adlia
    Kalau nggak niat, nggak apa-apa kayaknya…

    @ Jabizri
    Hohoho!😀

  34. Kaya bu Ayyub itu tuh contohnya,,

    dia kan bikin si Noer mikir negatif,, dan ternyata bener,,

    kalo kata orang,, biar gimana Noer itu su’udzon,, tapi bukannya salah ibu itu juga memperlihatkan hal hal yang bikin orang jadi mikir kaya gitu,, (selain selingkuhnya dia itu,,)

  35. Pingback: Seni menghajar Komentar « Chaos_Region.html

  36. Pingback: Ngomong sendiri, mikir sendiri,, « Ma-Me-Ma,, Just being Me!!!!

  37. Pingback: Adil « OMG! Opinions - Uncensored

  38. saya ingin mengatakan pak ayyub itu bodoh tapi saya sudah terlalu berempati sama dia. semoga amal kebaikannya diterima di sisi Allah. hehehehe…:D

  39. salam kenal…..

    Noer=Geddoe, is it correct?
    Inspiring euy…..Wak Ayyub, naif, ironis, tragis…..

  40. @dekisugi

    Salah toh? mohon maap….itulah mengapa saya tulis salam kenal….coz blom kenal

  41. Pingback: Ini Blog Saya » Blog Archive » Nge-Blog ternyata menarik juga ...

Comments are closed.