Manusia Saiya Super

Beberapa revolusi palsu telah dideklarasikan, namun baru inilah revolusi yang sejati. Tidak diperlukan air mata, darah atau dramatisasi lainnya. Tidak perlu meditasi di kegelapan atau terjebak dalam meja bundar para pemikir itu. Cukup rasa malu yang sederhana saja.

kerja!
“Bekerja. Bekerja. Bekerja.”

Tidak ada peluru di dada, peluru di kepala, atau peluru berlumur darah di meja operasi. Yang ada hanya rasa malu yang sederhana saja. Bisa dikatakan akumulatif, di mana pada awalnya tidak cukup impulsif untuk melawan stagnansi, namun kali ini cukup signifikan untuk menyisakan jejak dan meledakkan revolusi. Berawal dari rasa malu yang sederhana saja.

Keluh kesah, sudah tidak dibutuhkan lagi. Surga pemikiran itu, tidak mesti ditempuh dengan hanya tidak berkata-kata. Menyemir sepatu, menembakkan meriam, atau bungee jumping pun adalah teman kita. Mengerti? Kalau tidak mengerti, kita berhak merasa malu. Rasa malu yang sederhana saja.

* * *

Yang pasti, dibalik tirai itu tidak boleh ada matahari, kecuali jubah kita sudah berganti. Di wadah itu, pengusir sang adik dari kematian sudah mesti mengepul. Pakaian sang adik dari kematian itu sudah terlipat. Kalau tidak, kita seharusnya merasa malu, walau rasa malu itu sederhana saja.

Kemudian ketika satu dari empat orang itu sudah berbicara, semestinya kita tidak menutup mata. Kebijakan yang mereka muntahkan, semestinya dapat kita cerna. Seharusnya kita sudah berjaya. Kalau tidak, sepatutnya rasa malu mulai terbit dari hati kita. Kali ini, tidak bisa ditebus dengan rasa malu yang sederhana saja.

Ketika kembali ke sini, semestinya kita berpeluh sembari tertawa! Semestinya kita berkarya! Semestinya tiap tarikan napas itu sangat berharga! Kenapa malah melakukan ini dan itu? Kenapa tidak mengukir makna? Lalu bulatan raksasa yang menyala digantikan dengan yang pucat. Jangan menjadi orang tak berguna. Jadilah orang yang bestari dan bijaksana! Merasa malulah! Malu yang luar biasa. Jangan malu yang sederhana saja.

Lalu, dunia ini tidak sebodoh itu. Mereka perlu beberapa dasawarsa untuk berpikir. Seratus hari tidak cukup. Redam dan berpikirlah dengan perlahan. Buang pangeran ragu-ragu itu. Ambil keputusan. Dengan keberanian. Jalan ini bisa bercabang sampai tiga ruas. Kalau ternyata buntu, kita sudah tidak ada dimana pun untuk melihat kebuntuannya. Kalau meluncur ke bawah, para malaikat bergitar dan jutaan martir ada menunggu kita. Mungkin ada yang berdarah serupa dengan darah kita. Dan kita bisa beradaptasi. Hadapi dengan jantan, seperti laki-laki. Dan kalau ternyata jalan ini menanjak, maka kita bisa tertawa terbahak-bahak. Memang kebuntuan itu adalah hilangnya identitas kita, namun bukankah seharusnya yang kita berlindung di bawahnya itu sangat luas sekali? Ada banyak cara ke sana. Ikuti saja. Tidak perlu berjalan dengan kedua tangan. Dan pilihannya hanya dua; kubah itu atau tidak sama sekali. Kubah itu bisa pecah, namun bukankah itu cuma pikiran kita saja? Mari racuni diri sendiri — garis yang kita tarik ini sangat lurus. Tuhan akan mengerti. Kita sekarang hanya kurang tertawa saja. Terlalu sering berkencan dengan pemikiran dan pemikiran dan pemikiran sendiri. Temui mereka! Tapi bukankah itu meracuni diri sendiri? Diam! Bukankah sang pangeran ragu-ragu sudah kita habisi nyawanya? Sebenarnya garis ini lurus, namun bajingan itu sudah meretakkan kacamata kita! Dan kita masih ingin melihat malaikat bersayap di surga. Pokok permasalahannya adalah kekasih kita tadi. Pemikiran kita yang sudah dijadikan sebuah jubah kebesaran oleh bajingan itu. Sekarang mari perbesar apa yang seharusnya kita perbesar. Perlebar apa yang seharusnya kita perlebar. Ayo, bayar semua utang kita. Ambil hak kita. Ukir pahatan baru dan jadilah pemahat seperti yang kita impikan. Mata kita yang sudah ditutupi bajingan itu mungkin tidak mampu melihat ke sana, tapi waktu bisa membantu. Sekarang berhenti berpuisi, sebab revolusi ini tidak membutuhkan kata-kata. Keheningan itulah mantra untuk melihat masa depan kita di lembaran-lembaran itu. Untuk menarik garis lurus. Sekarang mulailah dari rasa malu. Rasa malu yang sederhana saja.

Dan nanti kita bisa melihat dua jenis malaikat sekaligus, mungkin setelah beberapa ribu tahun.

In God We Trust. RosenQueen, company.

89 thoughts on “Manusia Saiya Super

  1. hehe… postnya kayaknya cuma memperpanjang-panjang sebuah kalimat….

    Mana paragraf terkahir saya pusing membacanya….

  2. nanya,, quote Arbeit macht frei itu yang jaman Nazi dulu bukan?? kayanya pernah liat di CSI *halahh,,*

    Artinya “Bekerja membawa kebebasan.”

    Sebenarnya bukan dari zaman Nazi, melainkan sudah merupakan pepatah Jerman sejak lama sebelumnya. Hanya saja, Nazi menggunakannya secara ekstensif di kamp-kamp konsentrasi.

  3. Huahahahahahahahahaha!

    *batuk-batuk*

    Maaf, post kali ini berupa katarsis dan purifikasi dengan pesan kriptik yang hanya bisa dipahami oleh saya sendiri🙂

    Arbeit macht frei… Reise… Reise…😛

  4. Ehm, permisi… kayaknya bakal panjang nih.😛

    *analisis tulisan Mr. Geddoe dimulai*

    *mohon maaf kalau banyak salah, tapi ini murni interpretasi pribadi*

    Kemudian ketika satu dari empat orang itu sudah berbicara, semestinya kita tidak menutup mata. Kebijakan yang mereka muntahkan, semestinya dapat kita cerna.

    …tunggu. Maksudnya ngomongin taklid? Taklid pada satu dari imam empat mazhab? (o_0)

    Seharusnya kita sudah berjaya. Kalau tidak, sepatutnya rasa malu mulai terbit dari hati kita.

    Kayaknya dekat dengan kenyataan nih. Jadi inget sama umat keGe-eRan yang merasa sebagai umat terbaik.😉

    Padahal,kalau bicara kenyataan…😦

    Kenapa malah melakukan ini dan itu? Kenapa tidak mengukir makna?

    Maksudnya terlalu mementingkan ibadah daripada hubungan horizontal? Ibnu Sina dan Ar-Razi sudah jadi masa lalu, rupanya.^^’

    Lalu bulatan raksasa yang menyala digantikan dengan yang pucat.

    Cahaya Ilahi yang mulia digantikan oleh pemikiran dangkal manusia… -tafsiran pribadi-😦

    Kalau meluncur ke bawah, para malaikat bergitar dan jutaan martir ada menunggu kita. Mungkin ada yang berdarah serupa dengan darah kita.

    Kayaknya Mas Geddoe lagi ngomongin pemartiran para revolusionis… sebangsanya Galileo, Copernicus dan Pastor Bruno.

    Atau lagi ngomongin korban ‘halal darah’ ? Yang darahnya sama-sama halal, maksudnya? ^^;

    Keluh kesah, sudah tidak dibutuhkan lagi. Surga pemikiran itu, tidak mesti ditempuh dengan hanya tidak berkata-kata.

    Aha!😀

    Terlalu sering berkencan dengan pemikiran dan pemikiran dan pemikiran sendiri. Temui mereka! Tapi bukankah itu meracuni diri sendiri?

    Hidup taklid buta… ^^v [/sarcasm]

    Diam! Bukankah sang pangeran ragu-ragu sudah kita habisi nyawanya? Sebenarnya garis ini lurus, namun bajingan itu sudah meretakkan kacamata kita! Dan kita masih ingin melihat malaikat bersayap di surga.

    Kalau kacamata saya retak, saya malah copot. Soalnya masih lebih baik tanpa kacamata, saya masih bisa baca nomor angkutan kota…

    (pengalaman pribadi, mata minus 3)

    Jangan menjadi orang tak berguna. Jadilah orang yang bestari dan bijaksana! Merasa malulah! Malu yang luar biasa. Jangan malu yang sederhana saja.

    Lagi mengkritik dogmatisme nih Mas? Mengkritik dogmatisme yang membuat kita terpecah dan terpuruk, sehingga kita sendiri malu jadi bagian dari umat ini?

    Pemikiran kita yang sudah dijadikan sebuah jubah kebesaran oleh bajingan itu. Sekarang mari perbesar apa yang seharusnya kita perbesar. Perlebar apa yang seharusnya kita perlebar. Ayo, bayar semua utang kita. Ambil hak kita. Ukir pahatan baru dan jadilah pemahat seperti yang kita impikan.

    Dan jadilah pelukis seperti yang kita impikan.^^’

    Perbesar hati, dan perlebar wawasan. Jangan biarkan pikiran kita dibatasi oleh sekat2 dogma, karena dogma yang mengendap tak bisa dibuktikan kebenarannya.

    Sekarang mulailah dari rasa malu. Rasa malu yang sederhana saja.

    BION, saya sudah merasakan hal ini sejak beberapa bulan lalu… -_-

    “Arbeicht mach frei”,

    Bekerja membawa kebebasan. Maksudnya mungkin kebebasan pikiran? Dari dogma dan twisted idealism atas nama agama, maksudnya.😉

    *apa saya betul?*

    Cuma, ada satu pertanyaan besar: Hubungannya “Manusia Saiya Super” sama semua ini apa?!?!?😀

    *analisis selesai*

    *mohon dibetulkan kalau banyak salah; atau malah melenceng jauh*🙂

  5. *ngakak guling-guling*

    Mengerikan, interpretasinya kok jadi jauh begitu, ya?

    *ngakak guling-guling lagi*

    Tapi saya nggak mau bahas banyak, ah, satu saja.

    Kemudian ketika satu dari empat orang itu sudah berbicara, semestinya kita tidak menutup mata. Kebijakan yang mereka muntahkan, semestinya dapat kita cerna

    Penafsiran yang indah, tapi sebenarnya ini adalah penggambaran bagaimana saya tidak mengerti tentang pelajaran yang diberikan keempat dosen saya😆 Biasanya kalau mereka menerangkan, saya menutup mata… Tidur…:mrgreen:

    Ah, penafsiran lainnya, malas, ah, panjang…😛

  6. Huaaa…

    (tapi cocok kan? salah sendiri ngasih tulisan multi-interpretasi😛 )

    Sebetulnya saya sempet kepikiran bahwa ini masalah kuliah… tapi, mengingat Mas Geddoe suka menyorot superstition, jadi saya kira lagi ngomongin itu…

    *ehem*

    *interpretasi soal kuliah*

    Bisa dikatakan akumulatif, di mana pada awalnya tidak cukup impulsif untuk melawan stagnansi, namun kali ini cukup signifikan untuk menyisakan jejak dan meledakkan revolusi. Berawal dari rasa malu yang sederhana saja.

    Ini artinya… Mas Geddoe tadinya males2an kan? Terlalu males buat belajar dan ngerjain tugas laknat. Tapi sekarang sadar bahwa revolusi harus dimulai…

    …rasa malu sudah memuncak…

    …karena baru dapet nilai UTS hancur.:mrgreen:

    *bang* (~_@)

    (kasih tau ya kalau salah)

  7. Untuk sora9an:
    Saya yakin Mr. Geddoe tidak bermaksud membicarakan hal-hal yang berbau agama dalam tulisan ini. Saya 100% positif bahwa tulisan ini hanya berhubungan dengan kelesuan hidupnya akhir-akhir ini. Seperti analisis saya di awal: May sickness.😛

  8. @ sora9n
    …Yang itu tentang proyek game amatir saya yang mandeg melulu…:mrgreen:

    Yah, itu semua refleksi dari semua hobi, pandangan hidup, agama, pandangan eskatologi, dan semua yang saya alami secara keseluruhan sih.

    Jangan dipikirkan deh mas, masalah orang nggak penting kayak saya ini:mrgreen:

    @ Scrooge McDuck
    Sebenarnya paragraf yang panjang itu tentang pandangan agama dan eskatologi saya, Pak…😕 Tapi saya tidak menyinggung politik agama kok😛

  9. @ Scrooge McDuck

    Hohoho! Ketidakseriusannya Mr. Geddoe sampai harus membawa2 urusan martir, malaikat, dan kebijaksanaan pikiran, lho…😛

    Btw, May Sickness itu apa? (o_0)”\

    Maaf nih, baru denger istilah itu sekarang.😛

    @ Mr. Geddoe

    …sumpah, nggak penting…😥

    Kirain ada sesuatu yang lebih berat daripada itu… -_-

    *penipuaaaann!!! penipuaaannn….!!!!😮 *

    *bakar Mr. Geddoe😈 *

  10. *berbicara dengan susah payah di tengah kobaran api*

    Lha, paragraf yang panjang itu memang tentang agama, kok…

    *tewas terbakar*

  11. *setelah Mr. Geddoe tewas terbakar*

    Lho, iya ya? Paragraf yang panjang itu ternyata memang ngomongin agama…

    Ah, sudahlah. Biar kita pelajari lagi lain waktu.

    *melangkah pergi disinari matahari sore, meninggalkan mayat Mr. Geddoe yang sudah tak berbentuk*
    😛

  12. @ sora9n
    *kembali ke asal setelah menggunakan bulu burung phoenix*

    Ah, baiklah. Sampai jumpa.

    *naik skuter kembali ke asrama*

    @ Scrooge McDuck
    Naturally. Di mana-mana begitu😛

  13. @ Mr. Geddoe

    Mana bisa pakai bulu burung Phoenix, ente kan udah abis meregang nyawa duluan…

    *pengarang cerita nggak mutu ini*:mrgreen:

  14. Lho, iya ya? Paragraf yang panjang itu ternyata memang ngomongin agama…

    Pak Geddoe emang pinter kalo masalah ginian.
    *Pinjem True Water Rune dari Chris, cast Mother Ocean ke Geddoe*
    Geddoe bangkit kembali sehat wal afiat
    *kemudian cast Heavenly Drops ke Sora9n, 1200 damage*

  15. @ p4ndu_454kura

    Nggak mempan, soalnya saya nggak main suikoden.😎

    Huehehe…:mrgreen:

    Mr. Geddoe

    Hlo, yang mulai nge-junk emangnya siapa? Kan Mas Geddoe sendiri yang mulai.

    Itu tuh yang panjang banget di atas apaan? Panjang dan menipu, apa bukan junk tuh? Hah? HAh? HAH??😐

    *ehem*

    *oke, mari kita hentikan junk di blog ini mulai sekarang😛 *

  16. Lah, emang siapa yang mulai maen api sampe kebakar tadi? Hah?
    *ga jadi hidupin Mr.Geddoe, dihabisi lagi*
    *Berjalan meninggalkan tubuh Geddoe yang sudah tak bernyawa*

  17. @ p4ndu_454kura

    *ga jadi hidupin Mr.Geddoe, dihabisi lagi*
    *Berjalan meninggalkan tubuh Geddoe yang sudah tak bernyawa*

    Betul, payah Geddoe itu. Untung udah tewas lagi sekarang.

    *toss sama asakura*😛

    @ Mr. Geddoe

    Mari berhenti😛

    Umm, susahnya sih karena emang postingannya sendiri agak nge-junk Mas. Gimana mau komen yang nyambung… lah awal mulanya aja udah nggak jelas kok?😕

  18. *Ah, blog comment g bisa diedit.*

    Udah gw jelasin sih ke dia keadaannya.

  19. Bolehkan saya menganalisis juga, boleh kan?🙂

    [blockquote]Beberapa revolusi palsu telah dideklarasikan, namun baru inilah revolusi yang sejati. Tidak diperlukan air mata,

    darah atau dramatisasi lainnya. Tidak perlu meditasi di kegelapan atau terjebak dalam meja bundar para pemikir itu. Cukup

    rasa malu yang sederhana saja.

    kerja!
    “Bekerja. Bekerja. Bekerja.”

    Tidak ada peluru di dada, peluru di kepala, atau peluru berlumur darah di meja operasi. Yang ada hanya rasa malu yang

    sederhana saja. Bisa dikatakan akumulatif, di mana pada awalnya tidak cukup impulsif untuk melawan stagnansi, namun kali ini

    cukup signifikan untuk menyisakan jejak dan meledakkan revolusi. Berawal dari rasa malu yang sederhana saja.

    Keluh kesah, sudah tidak dibutuhkan lagi. Surga pemikiran itu, tidak mesti ditempuh dengan hanya tidak berkata-kata. Menyemir

    sepatu, menembakkan meriam, atau bungee jumping pun adalah teman kita. Mengerti? Kalau tidak mengerti, kita berhak merasa

    malu. Rasa malu yang sederhana saja.[/blockquote]

    Ya, ya. tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Terlalu rumit, atau terlalu simpel untuk dipahami. (halah, sok tahu.)

    ***

    [blockquote]Yang pasti, dibalik tirai itu tidak boleh ada matahari, kecuali jubah kita sudah berganti. Di wadah itu, pengusir

    sang adik dari kematian sudah mesti mengepul. Pakaian sang adik dari kematian itu sudah terlipat. Kalau tidak, kita

    seharusnya merasa malu, walau rasa malu itu sederhana saja.[/blockquote]

    Yang pasti, dibalik tirai pemikiran kita tidak boleh ada kebenaran sejati, kecuali kita sudah mereformasi jubah pikiran kita.

    Di ruang pikiran kita, sang pengusir kegelisahan, kesuntukan, kebosanan dan penderitaan kita (tak tahu karena apa) sudah ada.

    “Pakaian” kesuntukan, kebosanan, badai dalam diri itu juga sudah mereda. Kalau tidak, kita seharusnya merasa malu, walau rasa

    malu itu sederhana saja. (

  20. Bolehkan saya menganalisis juga, boleh kan?🙂

    Bagian 1 :::

    Beberapa revolusi palsu telah dideklarasikan, namun baru inilah revolusi yang sejati. Tidak diperlukan air mata,

    darah atau dramatisasi lainnya. Tidak perlu meditasi di kegelapan atau terjebak dalam meja bundar para pemikir itu. Cukup

    rasa malu yang sederhana saja.

    kerja!
    “Bekerja. Bekerja. Bekerja.”

    Tidak ada peluru di dada, peluru di kepala, atau peluru berlumur darah di meja operasi. Yang ada hanya rasa malu yang

    sederhana saja. Bisa dikatakan akumulatif, di mana pada awalnya tidak cukup impulsif untuk melawan stagnansi, namun kali ini

    cukup signifikan untuk menyisakan jejak dan meledakkan revolusi. Berawal dari rasa malu yang sederhana saja.

    Keluh kesah, sudah tidak dibutuhkan lagi. Surga pemikiran itu, tidak mesti ditempuh dengan hanya tidak berkata-kata. Menyemir

    sepatu, menembakkan meriam, atau bungee jumping pun adalah teman kita. Mengerti? Kalau tidak mengerti, kita berhak merasa

    malu. Rasa malu yang sederhana saja.

    Ya, ya. tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Terlalu rumit, atau terlalu simpel untuk dipahami. (halah, sok tahu.)

    ***

  21. Bagian 2 :::

    Yang pasti, dibalik tirai itu tidak boleh ada matahari, kecuali jubah kita sudah berganti. Di wadah itu, pengusirsang adik dari kematian sudah mesti mengepul. Pakaian sang adik dari kematian itu sudah terlipat. Kalau tidak, kita seharusnya merasa malu, walau rasa malu itu sederhana saja.

    Yang pasti, dibalik tirai pemikiran kita tidak boleh ada kebenaran sejati, kecuali kita sudah mereformasi jubah pikiran kita. Di ruang pikiran kita, sang pengusir kegelisahan, kesuntukan, kebosanan dan penderitaan kita (tak tahu karena apa) sudah ada. “Pakaian” kesuntukan, kebosanan, badai dalam diri itu juga sudah mereda. Kalau tidak, kita seharusnya merasa malu, walau rasa malu itu sederhana saja. (Kemudian ketika satu dari empat orang itu sudah berbicara, semestinya kita tidak menutup mata. Kebijakan yang mereka muntahkan, semestinya dapat kita cerna. Seharusnya kita sudah berjaya. Kalau tidak, sepatutnya rasa malu mulai terbit dari hati kita. Kali ini, tidak bisa ditebus dengan rasa malu yang sederhana saja.

    Tentang kuliah katanya? ah, yang ini dilewatkan saja😛

    Ketika kembali ke sini, semestinya kita berpeluh sembari tertawa! Semestinya kita berkarya! Semestinya tiap tarikan napas itu sangat berharga! Kenapa malah melakukan ini dan itu? Kenapa tidak mengukir makna? Lalu bulatan raksasa yang menyala digantikan dengan yang pucat. Jangan menjadi orang tak berguna. Jadilah orang yang bestari dan bijaksana!

    Ketika selesai menempuh pendidikan itu, kembali ke ruang pikiran kita semestinya kita berpeluh sembari tersenyum! Semestinya kita berkarya! Kenapa malah melakukan hal-hal yang tidak berguna??? Kenapa tidak mengukir makna? Lalu Pemikiran sesungguhnya, ide brilian itu ditutupi oleh kemalasan, kebosanan, tak ada kemauan untuk bekerja. Malas! Jangan menjadi orang tak berguna. Jadilah orang yang bestari dan bijaksana!

    Merasa malulah! Malu yang luar biasa. Jangan malu yang sederhana saja.

    Tak Mengerti……😦

    ***

  22. Bagian 3 :::

    Lalu, dunia ini tidak sebodoh itu. Mereka perlu beberapa dasawarsa untuk berpikir. Seratus hari tidak cukup. Redam dan berpikirlah dengan perlahan. Buang pangeran ragu-ragu itu. Ambil keputusan. Dengan keberanian. Jalan ini bisa bercabang sampai tiga ruas. Kalau ternyata buntu, kita sudah tidak ada dimana pun untuk melihat kebuntuannya.

    Dunia tidak akan mau menerima ide revolusi itu dengan tiba-tiba. Perlu waktu untuk diterima. Kalau kita diserang, redam dan tenangkan pikiran, berpikir jernih. Buang segala keraguan yang ada dalam diri, baik dari dalam maupun luar. Kalau ternyata jalan untuk menyampaikan ide itu buntu, kita sudah mati, tiada. (ini multitafsir bgt, red.)

    Kalau meluncur ke bawah, para malaikat bergitar dan jutaan martir ada menunggu kita. Mungkin ada yang berdarah serupa dengan darah kita. Dan kita bisa beradaptasi. Hadapi dengan jantan, seperti laki-laki.

    Kalau menyampaikan pikiran kita secara langsung, pasti ada Orang-orang yang tidak setuju dengan pemikiran kita, Langsung menghadang. Mungkin juga ada yang setuju dengan pemikiran kita. Dan kita bisa beradaptasi, hadapi dengan jantan, seperti laki-laki. ( Dan kalau ternyata jalan ini menanjak, maka kita bisa tertawa terbahak-bahak. Memang kebuntuan itu adalah hilangnya identitas kita, namun bukankah seharusnya yang kita berlindung di bawahnya itu sangat luas sekali? Ada banyak cara ke sana. Ikuti saja. Tidak perlu berjalan dengan kedua tangan.

    Kalau ternyata jalan untuk menyampaikan pikiran kita itu sulit, ‘menanjak’, tenang saja. Tertawalah, tak usah khawatir. Memang “”kebuntuan”” itu adalah satu tanda bahwa kita harus mencampurkan diri ke ummat untuk menghilangkan kebuntuan itu, tapi dengan begitu kita akan kehilangan identitas, tentu saja. Tetapi bukankah pemikiran kita luas sekali? Ada banyak cara untuk menyebarkannya, tidak harus dengan paksaan ke diri sendiri.

    Dan pilihannya hanya dua; kubah itu atau tidak sama sekali. Kubah itu bisa pecah, namun bukankah itu cuma pikiran kita saja?

    Pilihan ada dua; yaitu dogma itu atau tidak sama sekali. Dogma bisa hilang, namun bukankah itu adalah batas-batas yang diciptakan oleh kita sendiri?

    Mari racuni diri sendiri — garis yang kita tarik ini sangat lurus. Tuhan akan mengerti. Kita sekarang hanya kurang tertawa saja. Terlalu sering berkencan dengan pemikiran dan pemikiran dan pemikiran sendiri.

    Mari hancurkan batas-batas yang kita buat sendiri : Jalan yang kita tempuh ini sebenarnya sangat lurus. Tuhan tahu yang sebenarnya kita lakukan, jangan hiraukan pendapat orang lain. Kita sekarang hanya kurang membuka wawasan, Terlalu sering berkutat dengan pemikiran sendiri, dengan dibatasi dogma-dogma yang melekat pada diri kita sendiri.

    Temui mereka! Tapi bukankah itu meracuni diri sendiri? Diam! Bukankah sang pangeran ragu-ragu sudah kita habisi nyawanya? Sebenarnya garis ini lurus, namun bajingan itu sudah meretakkan kacamata kita!

    Temui mereka! tapi bukankah itu menghancurkan batas-batas yang kita buat sendiri dogma-dogma yang sudah ditanamkan sejak dini?, dan bukankah kita merasa nyaman didalamnya? Diam! bukankah keraguan itu sudah kita habisi? Sebenarnya jalan kita lurus, namun “””Bajingan””” itu sudah meracuni pikiran kita, membuat batas-batas di dalamnya. Bebaskanlah pikiran kita, jangan buat sekat di dalamnya!

    Dan kita masih ingin melihat malaikat bersayap di surga. Pokok permasalahannya adalah kekasih kita tadi. Pemikiran kita yang sudah dijadikan sebuah jubah kebesaran oleh bajingan itu. Sekarang mari perbesar apa yang seharusnya kita perbesar. Perlebar apa yang seharusnya kita perlebar.

    Dan kita masih ingin ke jalan yang benar. Pokok permasalahannya adalah pikiran kita sendiri. Pemikiran kita sudah dijadikan jubah oleh bajingan itu. Sekarang mari perbesar pikiran dan batas-batas pemikiran kita, termasuk di dalamnya dogma-dogma yang tertanam. Ayo kita perlebar wawasan kita yang sudah bau apek itu, yang kuno itu. Pandanglah dari sisi yang lain, sudut pandang yang lain.

    Ayo, bayar semua utang kita. Ambil hak kita. Ukir pahatan baru dan jadilah pemahat seperti yang kita impikan. Mata kita yang sudah ditutupi bajingan itu mungkin tidak mampu melihat ke sana, tapi waktu bisa membantu. Sekarang berhenti berpuisi, sebab revolusi ini tidak membutuhkan kata-kata. Keheningan itulah mantra untuk melihat masa depan kita di lembaran-lembaran itu. Untuk menarik garis lurus.

    Dobrak semua sekat. Hancurkan batas. Buatlah pemikiran baru dan jadilah pencipta (??) seperti yang kita impikan (namun tak kesampaian). Sekat-sekat, batas dan dogma mungkin sudah ditanamkan ke diri kita, sehingga tidak berani mendobrak. Tapi waktu bisa membantu, waktu akan mengubah segalanya, tergantung niat kita. Sekarang berhenti berteori, berdebat, berdiskusi, debat kusir itu. Sebab revolusi tidak membutuhkan itu semua. Untuk kembali ke jalan itu, Bekerjalah, bekerja. Jangan cuma omong saja.

    Sekarang mulailah dari rasa malu. Rasa malu yang sederhana saja.

    ((( Waduh, terlalu sulit atau bahkan terlalu simpel untuk dicerna😛 )))

    Dan nanti kita bisa melihat dua jenis malaikat sekaligus, mungkin setelah beberapa ribu tahun.

    Dan nanti mungkin kita bisa melihat dua kebenaran sekaligus, mungkin setelah waktu yang sangat lama.

    ***

  23. Kesimpulan bagian 1&2 :::

    Kita harusnya merasa malu kepada orang-orang yang bekerja, (dalam artian sangat luas), membanting tulang, berusaha. Malulah!

    kita disini hanya memikirkan ide itu saja, tidak diimplementasikan? kenapa? Malas! tidak ada kemauan untuk berusaha!

    Ketika sudah ada ide hebat, malah tertutupi oleh kemalasan kita, keragu-raguan kita. Bunuh saja itu mereka!

    Ketika para dosen dan guru bicara, dengarkanlah, resapi! Dan ketika sudah kembali ke ruang pikiran kita, berkaryalah! buat

    sesuatu yang nyata, berguna! jangan cuma bicara!

    Ayo, bekerja! berbuatlah sesuatu!

    Jangan cuma diam saja, omong saja!

    ***

    Kesimpulan bagian 3 :

    tak ada. terlalu malas.🙂

    ***

    🙂

  24. Delapan komentar beruntun…😆

    Ah, begini, mas, saya sudah bilang ini cuma ajang katarsis dan purifikasi diri saja; saya memang tidak ingin membahasnya sebab sedikit rumit dan terlalu pribadi. Nggak salah sih mas coba menelaah, tapi jujur saja, beberapa bagian di atas jauh lebih simpel dari yang mas duga, dan sebaliknya, beberapa jauh lebih berat🙂

    Contoh masalah yang terlalu dibesar-besarkan;

    Yang pasti, dibalik tirai itu tidak boleh ada matahari, kecuali jubah kita sudah berganti.

    Nah, sebenarnya ini sederhana saja, saya sering bangun kesiangan dan mandi di siang hari, jadi intinya bertekad bangun bisa mandi pagi sebelum matahari terlalu tinggi:mrgreen:

    Contoh masalah yang lebih rumit, mungkin semua paragraf tentang agama itu — itu semua sudah mencakup teori konformitas, self-deception, dogma, maupun perdebatan sengit dengan kaum atheis🙂 Terlalu memusingkan, tidak usah dibahas.

    Wah, kok jadi panjang begini, ya…?

    *tertawa terbahak-bahak*

  25. Contoh masalah yang terlalu dibesar-besarkan;

    Yang pasti, dibalik tirai itu tidak boleh ada matahari, kecuali jubah kita sudah berganti.

    Nah, sebenarnya ini sederhana saja, saya sering bangun kesiangan dan mandi di siang hari, jadi intinya bertekad bangun bisa mandi pagi sebelum matahari terlalu tinggi:mrgreen:

    JIJIK!!!!😈

    *bakar Mr. Geddoe*

    KIRAIN MAKNANYA JAUH LEBIH PENTING!!!

    *bakar berulang2 demi mengungkapkan kekecewaan😈 *

  26. dialog interaktif, menarik disimak dan diikuti, nimbrung mister…..

    wah… anda benar, ini terlalu multi interpretasi untuk diterjemahkan dalam bahasa makhluk, sepertinya enak buwat dibaca terlalu panjang untuk dikomentari, tapi komentar diatas itu juga menarik untuk dibaca… ah lagi-lagi katarsis dan keragu-raguan saya untuk menilai

  27. God,, kayanya otak Ma lagi ga diset buat mikirin yang kaya beginian deh,, juga multi interpretasi itu,, jadi Ma ikutan irdix aja deh,,

    laper??

    *wah wah,, banyak yang ngefans ama Geddoe, ampe berpanjang panjang menelaah maksud posting ntah apa ntah ini,,*🙂

  28. Pingback: Telanjang « Korban Pembajakan

  29. kesimpulan…

    Mr.Geddoe sedang kelaparan..

    Bukannya sedang guling – guling ?

    Nah, sebenarnya ini sederhana saja, saya sering bangun kesiangan dan mandi di siang hari, jadi intinya bertekad bangun bisa mandi pagi sebelum matahari terlalu tinggi

    Jadi ini maksudnya….!?:mrgreen:

  30. @ Mr.Geddoe

    Mr.Geddoe sedang kelaparan..🙂

    Nih, ambil.
    *sambil memberikan sepotong roti ke Geddoe*

    Nah, sebenarnya ini sederhana saja, saya sering bangun kesiangan dan mandi di siang hari, jadi intinya bertekad bangun bisa mandi pagi sebelum matahari terlalu tinggi

    Udah sholat subuh belum?😀

  31. @ peyek
    Hehe, iseng saja, Pak🙂

    @ irdix | Rizma Adlia
    Lha? Kok jadi begitu kesimpulannya?

    @ Death Berry
    Hari ini, saya sudah berhasil bangun pagi😛

    @ p4ndu_454kura
    Biasanya sesudah shalat, tidur lagi sampai siang😆

  32. Berasa lama tak jenguk, (halaah…) bahkan dah ganti template ya?🙂

    Entry ni sempat bikin berkerut-kerut, serius banget… dan bahasanya ituh… ampun deh. Pas baca first tagnya, kesu***an… hi hi..udah agak-agak juga bakal “aneh” dari refleksi keadaan sebenarnya…
    Pantas aja tuh Sora dan Halludba sampai sebegitu seriusnya menganalisis, memang multi interpretasi ini, tapi entry juga komentarnya memang lucu dan seru mungkin karena balas-balasan gitu ya, apalagi pas di bagian Sora bakar-bakar Geddhoe, ck ck ck.. imajinasinya sampai sebegitunya ini….🙂

    Biasanya sesudah shalat, tidur lagi sampai siang

    Gak ada kuliah pagi ya? Betapa bahagianya… T_T

    Btw, mudah2an tekadnya untuk berkolaborasi dengan pagi bisa bertahan lama😛
    *cepat-cepat submit*

  33. kesimpulan…

    Mr.Geddoe sedang kelaparan..

    Betul, dia lagi butuh santapan rohani. Liat aja dari tadi ngakak guling-guling dan ketawa sendiri…

    Kasihan anak muda sekarang, berpikir terlalu berat sampai otaknya tak mampu menanganinya…

    *geleng-geleng kepala tanda prihatin*

  34. Kasihan anak muda sekarang, berpikir terlalu berat sampai otaknya tak mampu menanganinya…

    sora ngomong gitu,, kesannya udah tua banggeett,,🙂

    @Geddoe

    Ma ngikutin irdix doang,, udah bingung baca komen ampe kebawah bawah,, (ada bakar bakaran pula,, ckckck,,)

  35. @ Rizma Adlia

    Saya memang udah tua kok… sekarang umur saya 2/3 dari 30 tahun. Setengah umur saya dari sekarang, orang mungkin udah bakal nanyain saya soal pekerjaan mapan dan punya anak…

    Seperempat umur saya dari sekarang, orang bakal ngomporin saya soal pasangan hidup dan cari kerja. (-_0)

    (cape deh…)😦

    -saya memang udah tua kok😛 –

  36. @ jejakpena
    Wah, kalau ada kuliah pagi, tidurnya dilanjutkan di kampus, tuh😛

    @ Rizma Adlia | sora9n
    Iya, ya, padahal umur saya saya mas Sora sangat tipis bedanya lho *ngeluarin SIM tembak*:mrgreen:

  37. Sora,, Ma agak lambet kalo itung itungan,,

    itu maksudnya, umurnya skarang 20, ditanyain masalah mapan apa ngga itu umur 40???, dan ditanyain masalah merit umur 25?? CMIIW

    dan itu lumayan berlaku buat Ma juga ya,, tapi Ma +1

    @Geddoe

    masih minum kopi sambil ketawa ketawa sendiri??

  38. @ Rizma Adlia

    Kalau mapan biasanya 30, kan udah waktunya menikah… pasti dikejar2 sama calon mertua kan soal itu…

    Masalah married umur 25? Hohoho, bahkan dari sekarang pun saya udah ‘disumpahin’ sama ibu saya — supaya dapet istri yang “sabar dan baik banget, soalnya kamu itu tukang makan ati”…
    😛

  39. “Setengah umur saya dari sekarang” itu 30??

    “Seperempat umur saya dari sekarang” jadi??

    Maap!! matematika Ma ga cantik nilainya,,

    “soalnya kamu itu tukang makan ati”
    hehehehehe,, :))

    kenapa jadi Ma nanyain angka angka yang berhubungan dengan umurr!!!!!!!! ngomong sendiri,, sensi sendiri,,, hhuhh,,

  40. @ Mr. Geddoe

    Salah yang punya blog dong. Yang mulai dengan postingan junk ultra-nggak-mutu kan dia…🙄

    @ Rizma Adlia

    Umur saya 20, setengahnya berarti 10. Nah, setengah umur saya dari sekarang berarti umur saya = (20 +10), sama dengan 30.

    Seperempatnya 20 kan 5, jadi seperempat umur saya dari sekarang ya 20 + 5, 25 tahun….^^’

    Gitu deh.😉

    @ p4ndu_454kura

    Salah Mr. Geddoe…😎

    (jadi bukan salah saya, soalnya dia yang mulai junk dari awal😛 )

  41. @ sora9

    Umur saya 20, setengahnya berarti 10. Nah, setengah umur saya dari sekarang berarti umur saya = (20 +10), sama dengan 30.

    Seperempatnya 20 kan 5, jadi seperempat umur saya dari sekarang ya 20 + 5, 25 tahun….^^’

    Gitu deh.😉

    @__@😕
    Trus gimana nih dengan nasib para bangsa saiya yang terkatung-katung di post ini?

  42. @ p4ndu_454kura

    Sejauh saya baca dari penjelasannya yang punya blog, nggak ada istilah “bangsa saiya” disebut-sebut di sini… kecuali mungkin di judulnya, yaitu “manusia saiya super”.

    Heuu~… terus ini post sebetulnya ngomongin apa dong?? (-_-)’

    -udah kelewat OOT nih sekarang-

  43. ini adalah katarsis mas geddoe sendiri. oke, saya ngerti.

    tapi apa arti dari kalimat-kalimat iniiiiii!?????????????

    Cukup rasa malu yang sederhana saja.

    Berawal dari rasa malu yang sederhana saja.

    Kalau tidak mengerti, kita berhak merasa malu. Rasa malu yang sederhana saja.

    Kalau tidak, sepatutnya rasa malu mulai terbit dari hati kita. Kali ini, tidak bisa ditebus dengan rasa malu yang sederhana saja.

    Jangan menjadi orang tak berguna. Jadilah orang yang bestari dan bijaksana! Merasa malulah! Malu yang luar biasa. Jangan malu yang sederhana saja.

    Sekarang mulailah dari rasa malu. Rasa malu yang sederhana saja.

    Apa?🙂

  44. Waaaa Arbeit Macht Frei ini kata2 yg ada di depan Dachau Concentration Camp di Munich Germany ^o^ (kemaren baru liat). Prisoners disuruh kerja biar bebas (tapi sampe mati ngga bebas2).

    Haduh kirain postingan ttg Nazi dan manusia saiya super, ga taunya postingan filosofis, huhuhu

    *mulai membaca ulang untuk ketiga kali X(*

  45. berat dan dalam, tapi bikin penasaran hingga harus baca berulang2, gimana bikinnya ya? nice posting anyway…

  46. @ antobilang
    Masih lama itu mah…😛

    @ Death Berry
    Kawin? Mungkin tahun depan. Dengan Hayley Williams😆
    *dibakar massa*

    @ Apret
    Hahaha, ada lagi orang kurang beruntung yang terjebak dalam post nggak mutu ini…:mrgreen:

    Nggak usah dibaca, mbak…😛

    @ Jabrizi
    Keseharian memang harus aneh!! 8)

    @ passya
    Nice posting? Akhirnya ada juga yang bilang begitu…:mrgreen:

  47. @ Mr. Geddoe

    Nice posting? Akhirnya ada juga yang bilang begitu…:mrgreen:

    Taruhan, penjelasan di balik tulisannya belum dibaca.:mrgreen:

    Btw, dah turun gunung nih Mas?😉

  48. Pingback: Seni Dibodoh-bodohi « RosenQueen Company

  49. Comment pertama saya di blognya mas geddoe nih. Jadi tertarik sama karakter ‘pangeran yang ragu’ di tulisan mas. Ini siapa ya mas ? Inner demon kah ?

  50. Pingback: Gear 3rd « RosenQueen Company

  51. Pingback: Terima kasih, wordpress… « Siwi’s Personal Website

Comments are closed.